Categories
Siroh

Mimpi yang benar, wahyu pertama kepada Nabi shollallahu alaihi wasallam

Mimpi Yang benar adalah seperti wahyu yang pertama turun kepada Nabi. Apakah makna mimpi yang benar itu? Berapa lama itu terjadinya? Apakah perbedaan mimpinya Nabi dengan mimpi kita?

Mimpi yang benar. Adalah berasal dari riwayat hadits ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha, beliau memulai dengan kalimat: “Yang paling pertama diperlihatkan kepada Rosulullah adalah bunga tidur yang baik. Awalnya beliau tidak melihat mimpi kecuali seperti fajar subuh yang menyingsing”. Dan di riwayat lain dari ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha bunga tidur tadi disifatkan dengan “yang benar

Di iktibar tadi ‘Aisyah memerikan bahwa awalmula wahyu adl tamsil akan “bunga tidur yang Rosulullah lihat di tidurnya”. Itu datang seperti fajar yang menyingsing. Artinya: “datang dgn terang jelas (tidak samar)”. Tidak ada pertentangan sama sekali akan apa yang dilihat. Ini adalah fase kehidupan yang dilewati Beliau sebelum bertemu Jibril di Gua Hira. Lama fase ini ada banyak pendapat. Paling banyaknya condong kepada enam (6) bulan. Terkait ini tidak dalil/petunjuk langsung. Tetapi perhitungan yg dikonstruksi dari hadits lain.

‘Aisyah berkata: “Yang pertama diperlihatkan kepada Rosulullah”. Maksud kata ini adalah “kabar berita yang sifatnya memprediksi” yang langsung terkait dengan wahyu. (arab : الإرهاصات “المباشرة” للوحي). Karena ada mimpi prediksi kenyataan lain di fase kehidupan Nabi, yang memaklumkan bahwa hidup Nabi tidak seperti manusia lainnya. Kejadian demi kejadian hidup Nabi banyak yang ajaib di luar kebiasaan anak Adam. Dan “mimpi prediksi kenyataan” itu menampakkan bahwa itu pasti akan terjadi di masa depan sebagaimana yang Nabi lihat.

Termasuk dari dari mimpi yang benar ini (yang terlihat kejadian di masa depan) -sebagai contoh- peristiwa “pembelahan dada”. Terjadi ketika beliau masih kanak-kanak di penyusuan Halimah. Peristiwa lainnya adalah batu yang memberi salam kepada beliau. Rosulullah bersabda : “Betul-betul aku bisa menunjukkan sebuah batu di Mekah yang dulu mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diberi wahyu. Sungguh aku tahu dia saat ini”. Dan juga sabda Rosulullah ke Khadijah : “Aku melihat binar cahaya, dan dengar bunyi, dan sekarang saya takut jikalah terjadi kelainan jiwa.” Lalu Khadijah menanggapi: “Tidak akan Allah melakukan itu kepadamu…wahai Abu ‘Abdillah…” Lalu ia datangi Waroqoh bin Naufal, ia ceritakan semua, berkatalah Waroqoh : “Bila cerita itu benar, sesungguhnya itu adalah Namus selayaknya Namus yang ditemui Musa. Andaikan beliau diberi wahyu (diutus sebagai Nabi) dan saya masih hidup, pasti aku akan membela beliau sekuat tenaga daya upaya, dan aku akan tolong beliau dan aku akan mengimani beliau”.

Kejadian ini merupakan tanda bahwa lelaki ini akan menerima perkara ajaib asing di masa depan di luar kelaziman manusia. Tapi, yang diinginkan dr ucapan ‘Aisyah: “hal pertama yang dinampakkan ke Rasulullah dari wahyu…” ini mulai masuk kepada aktivitas bersentuhan dengan wahyu. Dan bahwa: adanya mimpi yang benar/baik langsung bersentuhan dengan awalan turunnya Jibril ‘alaihis salam kepada Beliau. Sehingga mimpi yang benar ini dimasukkan ke dalam wahyu.

Keterkaitan antara mimpi yang benar dengan wahyu. Di sana ada keterkaitan yang tersambung langsung. Keduanya mengkabarkan peristiwa di masa depan. Dan mengkabarkan hal gaib. Oleh karena itu mimpi yang benar dikategorikan wahyu. Bahkan Rosulullah mengiktibar mimpi yang benar sebagai bagian dari kenabian. Mimpi di sini maksudnya mimpi yang umum, bukan yang diperlihatkan kepada para nabi saja. Rosulullah bersabda: “Wahai manusia , tidak ada yang tersisa dari berita gembira kenabian kecuali mimpi yang benar yang orang muslim melihatnya atau orang islam diperlihatkan itu”. Dan bersabda juga: “Penglihatan mimpi yang baik, dari lelaki yang shalih, adalah satu dari empat puluh enam (46) bentuk wahyu (arti: نُبٌوَّةٌ nubuwwah = (1) berita perkara gaib -lihat Mu’jam Al-Ghoniy)

Lama durasi periode mimpi yang benar ini. Poin ini hal yang para ulama sebutkan dengan enam bulan. Beliau shollallahu alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya , mimpi yang benar ini salah satu kepingan dari 46 kepingan nubuwwah. Lama periode kenabian adalah 23 tahun. Maka 1/46 dari 23 tahun adalah 6 bulan. Sehingga yang nampak awal-awal adanya mimpi ini adalah pada bulan Rabi’ul Awwal sebelum Beliau –shollallahu alaihi wasallam- bertemu Jibril di bulan Ramadhan di tahun yang sama.

Namun ada pendapat lain sebagaimana disebutkan oleh Al-Ustadz Ahmad Sabiq hafizhohullah bahwa mimpi yang benar ini berlangsung kira-kira ketika Nabi memasuki umur 37 tahun sampai turun wahyu di gua Hira.

Beda antara mimpi kita dengan mimpi nabi. Akan tetapi harus diingat bahwa mimpi Rosulullah berbeda dari mimpi kita dalam dua aspek:

Aspek pertama, SEMUA mimpi Rosulullah adalah benar. Tidak ada unsur yang kita sebut dengan “mimpi sia-sia” ( أضغاث الأحلام ). ‘Abdullah bin ‘Abbas berkata: “Mimpinya nabi adalah wahyu”.

Aspek kedua, SEMUA mimpi Rosulullah “jelas maksud maknanya”, atau sepertimana dimaklumkan ‘Aisyah: “Bagaikan fajar yang menyingsing”. Tidak ada pertentangan mengenai tafsir hadits tersebut. Bisajadi disifatkan dengan peristiwa spesifik akan terjadi 100% sesuai yang dilihat. Dan bisa jadi Rosulullah menjelaskan maksud spesifik akan mimpi tersebut yang tidak bisa diselewengkan ke mana-mana. Lain halnya dengan mimpi kita (karena banyak keambiguannya) butuh kepada penjelasan lagi dari ahli takwil mimpi. Kadang tafsirnya mencocoki kenyataan (tapi tidak sampai 100% cocok). Dan seringnya jauh panggang dari api.

Mimpi yang benar ini adalah penyiapan untuk Beliau. Juga bagi orang di sekitar beliau. Terkhusus individu yang mencintai beliau. Dan rasul percayai mereka. Sampai sampai beliau tidak segan menceritakan mimpinya. Terlebih-lebih yang paling utama -tanpa keraguan- adalah Khadijah rodhiyallahu ‘anha. Juga beliau menceritakan mimpi tersebut kepada Abu Bakar ash Shiddiq, Zaid bin Haritsah, atau yang lainnya dari sahabat Beliau, rodhiyallahu ‘anhum.

Penulis: Prof Dr Roghib As Surjaani