Categories
Mustholah Hadits

Terjemah Kata Pengantar-Sekilas Sejarah Ilmu Hadits. Taisir Mustholah Hadits (Dr. Mahmud Thohan)

Ilmu Mustholah Hadits - Taisir Mahmu Thohan
Ilmu Mustholah Hadits – Taisir Mahmu Thohan

Sekilas sejarah tentang kemunculan ilmu musthalah dan perkembangan perkembangannya yang berjalan melewati ilmu tersebut

Peneliti yang spesialis memberikan perhatian dan mendapati bahwasanya asas-asas dan rukun-rukun mendasar di dalam ilmu riwayat dan perpindahan khabar-khabar itu telah ada di dalam Al-Qur’an Alkitab al-Aziz dan Sunnah Nabawiyah.

Datang di dalam Al-Qur’an al-Karim firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala
يا ايها الذين امنوا ان جاءكم فاسق بنبا فتبينوا. سوره الحجرات ايه سته
Dan telah datang sebuah hadits dari sunnah Nabawiyah ucapan yang Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
قدر الله امرءا سمع منا شيئا فبلغه كما سمعه فرب مبلغ اوعى من سامع. رواه الترمذي في كتاب العلم حديث 2657 وقال عنه حسن صحيح.

Dan di dalam riwayat yang lainnya
هروب حامل فقه الى من هو افقه منه رب حامل فقه ليس بفقيه.
Oleh karena itu maka di dalam ayat yang mulia ini dan hadis yang mulia tersebut adalah awal mula kegiatan mentatsabbut dalam mengambil kabar-kabar, dan tata cara mencermatinya dengan memberikan perhatian terhadap kabar tersebut, menyimpan kabar tersebut, dan meneliti dalam menyampaikannya kepada orang yang lainnya.

Dan dengan motivasi mengikuti perintahnya Allahu taala dan rasulnya Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah para sahabat radhiallahu anhu telah senantiasa melakukan tatsabbut menyampaikan kabar dan di dalam menerima kabar
Dan apalagi jika mereka merasakan ragu terkait kejujuran orang yang menukilkan kabar tersebut.

Maka berpijak dari alasan tersebut maka nampak lah dalam memperhatikan kepada Istishna dan berharganya tersebut di dalam menerima kabar atau menolak kabar.

Den telah datang di dalam Muqaddimah Shahih Muslim dari Ibnu Sirin Beliau berkata,
لم يكونوا يسالون عن الاسنان فلما وقعت الفتنه قالوا, سموا لنا رجالكم, الى اهل السنه التي يؤخذ حديثهم, وانظر الى اهل البدع فلا يؤخذ حديثهم
Ibnu Sirin berkata dahulunya mereka tidak lah bertanya tentang sanad akan tetapi ketika munculnya fitnah (khawarij, syiah, dll) maka mereka pun berkata: “Sebutkan kepada kami nama orang-orang yang memberikan hadits kepada kalian” maka dilihat orangnya, jika ahlussunnah maka haditsnya diambil dan dilihat orangnya juga, jika ahli bid’ah maka haditsnya tidak diambil.

Dan beranjak dari hal tersebut (bahwasanya kabar itu tidak diterima kecuali setelah mengetahui sanadnya) maka hadirlah muncullah ilmu Al jarh wa ta’dil, dan pembahasan pembahasan tentang rawi-rawi, dan pembahasan mengetahui muttashil (tentang yang bersambung sampai ke Rasulullah) dan munqathi’ dari sanad sanad, dan tentang pengenalan terhadap cacat-cacat yang samar, dan nampak juga pembicaraan-pembicaraan terkait sebagian Rawi, akan tetapi (pembicaraan ttg rawi) itu hanya sedikit sekali, dikarenakan sedikitnya Rowi yang tercela di masa-masa awal perkara mustholah Hadits.

Kemudian para ulama pun memperluas dalam perkara ini hingga nampak pembahasan ilmu-ilmu yang banyak yang terkait dengan hadits dari sisi mencermati hadits (dhobt hadits) dan dari sisi tata cara mengambil hadits dan menyampaikan hadits, dari sisi mengetahui Nasikh dan mansukh, dan hadis ghorib, dan lainnya lagi. Hanya saja hal ini, dahulu, para ulama menyebarkan menukilkan ilmu tersebut hanya dari mulut ke mulut saja, secara lisan.

Kemudian perkara-perkara hadits pun semakin berkembang dan jadilah ilmu ini ditulis dan disimpan. Akan tetapi di tempat-tempat yang terpencar-pencar dari buku-buku yang masih bercampur dengan bidang ilmu lainnya, seperti ilmu ushul dan ilmu fiqih dan ilmu hadis (secara riwayat), contohnya buku Ar-Risalah dan buku Al-Umm keduanya adalah buku hasil karya Imam Syafi’i.

Hingga akhirnya ketika telah matangnya ilmu-ilmu tersebut dan telah tetap istilah-istilahnya dan disendirikanlah masing-masing bidang ilmu tersebut dari bidang ilmu yang lainnya, hal ini adalah terjadi pada abad ke-4 Hijriyah ulama menyendirikan ilmu mushthalah di kitab yang tersendiri juga, dan adapun yang pertama kali menyendirikan penulisan ilmu musthalah dia adalah Al-Qodhi Abu Muhammad Al Hasan Bin Abdurrahman Bin khallad Romahurmuziy, wafat pada tahun 360 Hijriyah, dalam bukunya yang berjudul المحدث الفاصل بين الراوي والواعي.

*Jika ada kritik saran perbaikan kami menerima dengan senang hati, denny0809@gmail.com.