Categories
Terjemah Ushul fi Tafsir

Hikmah Diturunkannya Al-Qur’an Secara Berangsur-angsur -Ushul Fit Tafsir 08

Dari adanya pembagian Al-Qur’an kepada Makki dan Madani maka jelas difahami bahwasanya Al-Qur’an turun kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam secara sedikit demi sedikit berangsur-angsur. Dan dari turunnya Al-Qur’an di atas cara itu ada hikmah yang sangat banyak diantaranya:

  1. Mengkokohkan hati Nabi shallallahu alaihi wasallam. Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala: “وقال الذين كفروا لولا نزل عليه القرءان جملة واحدة كذلك لنثبت به فؤادك ورتلناه ترتيلا ولا يأتونك بمثل إلا جئْنٰك بالحق وأحسن تفسيرا”  Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.
  2. Untuk memudahkan orang-orang menghafal Al-Qur’an, memahaminya dan mengamalkan kandungannya. Hal ini karena Nabi membacakan kepada mereka sebagian demi sebagian berdasarkan firman Allah subhanahu wa Ta’ala: وقرءانا فرقناه لتقرأه على الناس على مكث ونزلناه تنزيلا Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.
  3. Menggiatkan, menggerakan semangat-semangat kaum muslimin untuk menerima hukum dan syariat Yang turun di dalam dari Al-Qur’an dan untuk melaksanakan dan merealisasikannya karena para kaum muslimin, para sahabat Nabi tumbuh rasa rindunya ingin mendengar, menunggu-nunggu diturunkannya ayat Al-Qur’an terlebih lagi di saat kebutuhan akan ayat Al-Qur’an semakin genting. Misal dari  keadaan ini adalah ketika para sahabat menunggu diturunkannya ayat pada peristiwa fitnah orang-orang munafik kepada Aisyah istri Nabi (ifk) dan juga pada peristiwa Lian.
  4. Suatu bentuk bertahapnya pada suatu persyariatan hingga sampai kepada tingkatan sempurna. Contohnya pada pengharaman khamr yang saat itu para manusia terbiasa dan khamr masoh menjadi bagian kehidupan sehari-harinya sehingga menjadi sebuah perkara yang sulit atas mereka jika berikan suatu pelarangan khamr dengan bentuk pelarangan secara total secara langsung. Oleh karena itu Allah menurunkan beberapa ayat hingga sempurna pelarangan khomr. Di keadaan pertama kalinya, firman Allah ta’ala: يسئلونك عن الخمر والميسر قل فيهما إثم كبير ومنٰفع للناس وإثمهما أكبر من نفعهما Maka pada ayat ini adalah persiapan jiwa-jiwa untuk menerima pengharaman khamr dari sisi  sesungguhnya akal manusia mengarahkan tidak membiasakan sesuatu yang dosanya itu lebih banyak daripada manfaatnya. Kemudian ayat yang kedua turun, firman Allah ta’ala: يأيها الذين ءامنوا لا تقربوا الصلوة وأنتم سكرى حتى تعلموا ما تقولون ولا جنبا Maka pada ayat ini ada bentuk ujian kepada para sahabat untuk meninggalkan khomr pada sebagian waktu yakni di waktu-waktu sholat. Kemudian turun ayat yang ketiga, yakni firman Allah ta’ala: يأيها الذين ءامنوا إنما الخمر والميسر والأنصاب والأزلٰم رجس من عمل الشيطٰن فاجتنبوه لعلكم تفلحون إنما يريد الشيطان أن يوقع بينكم العدٰوة والبغضاء في الخمر والميسر ويصدكم علن ذكر الله وعن الصلاوة فهل أنتم منتهون وادأطيعوا الله واطيعوا الرسول واحذروا فإن توليتم فاعلموا أنما على رسولنا البلاغ المبين
Maka di dalam ayat ini kandungannya adalah larangan dari minum khamr secara total tanpa pengecualian. Dan ayat pelarangan secara total ini diturunkan setelah jiwa-jiwa manusia sudah siap menerimanya, kemudian telah diberikan ujian dengan pelarangan dari khomr pada sebagian waktu. Terjemah Ushul fi Tafsir Libni ‘Utsaimin rohimahullah
Categories
Resensi Kitab Terjemah

Resensi Pengantar Studi Ilmu Hadits

Judul terjemahan: Pengantar Studi Ilmu Hadits

  • Judul asli: Mabahits fii ‘Ulumil Hadits
  • Penulis: Syekh Manna Al-Qaththan
  • Penerjemah: Mifdhol Abdurrahman
  • Penyunting: Muhammad Ihsan
  • Penerbit: Pustaka Al-Kautsar
  • Halaman: 205 halaman
  • Kontak: 083110770955

Ni dia salah satu buku terjemahan yang best seller di bidang ilmu hadis, ditulis oleh seorang pakar asli di bidangnya dan kualitas terjemahannya baguuuus banget.

Penulis aslinya orang Mesir, nama lengkapnya adalah Manna Kholil Al- Qaththan lahir di desa Syansur daerah Manufiyah Mesir pada bulan Oktober tahun 1925 M. Beliau berasal dari keluarga kelas menengah yang relijius. Seperti umumnya anak-anak di Mesir, beliau di waktu kecilnya menghafal Qur’an di kuttab, lalu melanjutkan ke madrasah diniyyah di kampungnya, lalu lanjut lagi ke Ma’had Diniy Azhariy di kota Shibin Al-Kum, kemudian lanjut ke Universitas Al-Azhar di fakultas Ushuluddin, kemudian lanjut lagi untuk belajar ilmu keguruan sampe dapet ijazah ‘alimiyyah. Diantara guru-guru beliau yang utama adalah bapaknya sendiri Syekh Abdurrozzaq Afifi, Syekh Hasan Al-Banna, Syekh Muhammad Al-Bahi, Syekh Abdul Mutaal Saifun Nashr, Syekh Ali Syalabi, Syekh Muhammad Zaidan, dan Syekh Muhammad Yusuf Musa. Beliau juga terjun ke medan tempur Palestina tahun 1948 bersama pasukan Al-Ikhwan Al-Muslimin (ya beliau juga tokoh penting Al-Ikhwan). Kemudian beliau diminta Raja Abdul Aziz Aalu Suud untuk mengajar di Kerajaan Saudi Arabia. Beliau menempati posisi-posisi penting disana, yakni menjadi pendiri ma’had diniy di Ahsa, kemudian Qoshim, juga menjadi pejabat teras di Departemen Pendidikan disana, juga menjadi mustasyar khos di Kementerian Dalam Negeri KSA, juga mengajar di Universitas Imam Muhammad bin Suud Riyadh (dan jadi muassis, musyrif dan mudir pasca sarjana disana), juga jadi mudir Ma’had Aliy lil Qodlo di Riyadh, banyak sekali qodli dan ulama yang lahir dari didikan beliau. Beliau juga menjadi anggota Robithoh Alam Islami dan beberapa organisasi keulamaan lain. Beliau wafat pada tanggal 19 Juli 1999 di Riyadh, disholatkan di Masjid Ar-Rojihi daerah Ar-Robwah dan dimakamkan di daerah An-Nasim di Riyadh.

Buku ini adalah buku daras di perguruan tinggi, jadi tartibnya seperti umumnya buku daras perguruan tinggi modern, yaitu gaya bahasa yang simpel, ada tiap contoh per bahasan, tiap tema penting dibahas secara sapu jagad dan menyertakan saran-saran kitab untuk telaahan lebih lanjut.

Dibawah ini daftar isi bukunya:

Pengertian Hadits Nabawi

  • ·        Perhatian Terhadap Hadits
  • ·        Definisi Hadits
  • ·        Bentuk-Bentuk Periwayatan
  • ·        Perbedaan Antara Hadits Qudsi Dengan Al-Qur’an
  • ·        Perbedaan Antara Hadits Qudsi Dengan Hadits Nabawi

As-Sunnah dan Kedudukannya dalam Syariat Islam

  • ·        Kedudukan As-Sunnah Sebagai Hujjah Dalam Syari’at Islam
  • ·        Kedudukan As-Sunnah Dalam Dalil-Dalil Syari’at
  • ·        Syubhat-Syubhat dan Bantahannya

Penulisan Pembukuan Hadits Nabi

  • ·        Penulisan Hadits
  • ·        Pembukuan Hadits
  • ·        Metode Pembukuan Hadits dan Karya Terpopuler Di Bidang Itu

Ilmu Hadits: Pertumbuhan, Perkembangan dan Pengenalan Akan Keduanya

  • ·        Pertama: Dorongan Agama
  • ·        Kedua: Dorongan Sejarah
  • ·        Ketiga: Kritik Terhadap Riwayat

Ilmu Rijalul Hadits

  • ·        Kitab-Kitab Tentang Nama-Nama Sahabat Secara Khusus
  • ·        Penyusunan Berdasarkan Thabaqat (Generasi)

Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta’dil

  • ·        Pensyariatan Al-Jarh Wa At-Ta’dil
  • ·        Perkembangan Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta’dil
  • ·        Perbedaan dan Tingkatan Para Perawi
  • ·        Orang-Orang Yang Paling Masyhur Berbicara Mengenai Perawi
  • ·        Tingkatan-Tingkatan Al-Jarh Wa At-Ta’dil

Ilmu Gharib Al-Hadits

  • ·        Buku-Buku Yang Terkenal Dalam Bidang Ini

Ilmu ‘Ilal Hadits

  • ·        Buku Terkenal Dalam ‘Ilal Hadits
  • ·        Tempat-Tempat dimana Ilal Banyak Terdapat dan Contohnya

Ilmu Mukhtalaf dan Musykil Hadits

  • ·        Munculnya Ilmu Mukhtalaf dan Musykil Hadits
  • ·        Buku-Buku Yang Terkenal Dalam Ilmu Mukhtalaf dan Musykil Hadits
  • ·        Contoh dari Ilmu Ini, Dari Kitab Ta’wil Mukhtalaf Al-Hadits karya Ibnu Qutaibah

Ilmu Musthalah Hadits

  • ·        Pembagian Hadits Dilihat Dari Segi Sampainya Kepada kita
  • ·        Hadits Mutawatir
  • ·        Hadits Ahad
  • ·        Hadits Shahih
  • ·        Hadits Hasan
  • ·        Pembagian Khabar Yang Maqbul (Diterima) Yang Dapat Diamalkan dan Yang Tidak Dapat Diamalkan
  • ·        Apa Yang Harus Dilakukan Untuk Mendudukkan Dua Hadits Maqbul dan Mukhtalaf itu?
  • ·        Hadits Nasikh dan Mansukh
  • ·        Hadits Dhaif
  • ·        Mu’allaq
  • ·        Mursal
  • ·        Mu’dhal
  • ·        Munqathi
  • ·        Mudallas
  • ·        Mursal Khafi
  • ·        Hadits yang Mardud
  • ·        Maudhu
  • ·        Matruk
  • ·        Munkar
  • ·        Ma’ruf
  • ·        Mu’allal
  • ·        Mukhalafah Li Ats-Tsiqat
  • ·        Mudraj
  • ·        Maqlub
  • ·        Al-Mazid Fi Muttashil Al-Asanid
  • ·        Mudhtharib
  • ·        Mushahhaf
  • ·        Hadits Ayadz dan Mahfuzh
  • ·        Jahalah Ar-Rawi
  • ·        Bid’ah
  • ·        Su’ul Hifzh
  • ·        Pembagian Hadits Menurut Sandarannya
  • ·        Marfu
  • ·        Mauquf
  • ·        Maqthu
  • ·        Ziyadah Ats-Tsiqah
  • ·        Al-Mutabi dan As-Syahid serta Al-I’tibar

Jalan Menerima Hadits dan Bentuk Penyampaiannya

  • Perbedaan Antara Kalimat Mitsluhu dan Nahwuhu

Ilmu Takhrij dan Studi Sanad

  • ·        Metode Takhrij
  • ·        Studi Sanad Hadits

Sanad dan Hal-Hal Seputarnya

  • ·        Sanad ‘Aliy dan Nazil
  • ·        Hadits Mursal
  • ·        Riwayat Yang Tua Dari Yang Lebih Muda
  • ·        Riwayat Ayah Dari Anaknya
  • ·        Riwayat Anak Dari Bapaknya
  • ·        Mudabbaj Riwayat Teman Dekat (Al-Aqran)
  • ·        Sabiq dan Lahiq
  • ·        Mengenal Para Perawi
  • Muttafaq dan Muftaraq
  • Mu’talaf dan Mukhtalaf
  • Mutasyabih

Versi terjemah ini banyak dipake sebgai buku wajib di institusi pendidikan Islam di negara kita, mungkin sekolah anda salah satu satunya.

Buku ini sangat sesuai bagi anda yang mau memulai studi di bidang hadis.

Wassalam.

Sumber: Abu Abdullah Al Depoki al-mulaqqob bin Abi Tajir.

Categories
Terjemah Ushul fi Tafsir

Makki dan Madani -Ushul Fit Tafsir 07

Al-Qur’an turun kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam secara terpisah-pisah dalam kurun 23 tahun. Rasulullah kebanyakan menghabiskan waktunya di Mekkah. Allah subhanahu wa taala berfirman: “وقرانا فرقناه لتقراه على الناس على مكث ونزلناه تنزيلا (الإسراء ١٠٦)ض”. Oleh karena inilah para ulama –rohimahumullah- membuat pembagian Al-Qur’an menjadi dua: Makki dan Madani.

  • Makki adalah ayat-ayat yang turun kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam sebelum Nabi Muhammad melakukan hijrah ke Madinah.
  • Madani adalah ayat-ayat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam setelah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah.

Dan dengan dasar pembagian tersebut maka firman Allah ta’ala “اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا (المائدة ٣)ض” masuk kategori ayat Madani meskipun dia diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam pada haji Wada’ di ‘Arafah.

Di dalam shahih Bukhari dari Umar radhiallahu Anhu bahwasanya beliau berkata: “Benar-benar kami tahu apa hari tersebut dan di mana tempat yang diturunkannya ayat itu kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Sesungguhnya ayat itu turun di waktu Nabi Muhammad sedang berdiri di Arafah pada hari Jumat”.

Pembagian Makki dan Madani ini bisa dibedakan dari sisi uslub dan isinya. Adapun dari sisi uslub maka:

  1. Cara kebanyakan ayat-ayat makki itu uslubnya sangat kuat, sangat tegas arah pembicaraannya hal itu karena mayoritas pihak yang diajak bicara adalah orang-orang yang mengingkari kerasulan Nabi dan orang-orang yang sombong. Tidaklah cocok untuk mereka kecuali ayat-ayat yang tegas dan kuat. Bacalah 2 surat berikut Al-Muddatssir dan Al-Qomar. Adapun ayat Madani maka mayoritas dari uslub cara penyampaiannya adalah lembut sekali dan ringan gaya bahasanya. hal ini dikarenakan mayoritas dari pihak-pihak yang diajak bicara diarahkan adalah orang-orang yang menerima kebenaran nan merendahkan diri dihadapan kebenaran. Bacalah surat Al-Maidah.
  2. Kemudian mayoritas dari ayat-ayat makki adalah ayat-ayat yang pendek dan sisi hujjahnya sangat kuat, hal itu dikarenakan mayoritas orang yang diajak bicara adalah orang-orang yang ingkar, sempit dadanya sehingga mereka pun diajak berbicara dengan cara yang keadaan mereka membutuhkannya bacalah surat At-Thur. Adapun Madani maka mayoritas di dalamnya adalah ayat-ayat yang panjang, disebutkan hukum-hukum agama secara pelan-pelan tanpa harus menyebutkan kuatnya argumentasi. Hal ini dikarenakan keadaan mereka mengarahkan untuk diberikan hal tersebut bacalah ayat-ayat tentang hutang pada surat Al-Baqarah.

Adapun dari sisi tema atau topik pembicaraannya maka:

  1. Mayoritas dari ayat-ayat makki isinya adalah penetapan nilai-nilai tauhid dan aqidah yang lurus yang selamat lebih khusus lagi yang terkait dengan tauhid uluhiyah dan percaya kepada hari kebangkitan hal ini dikarenakan mayoritas dari orang yang diturunkan ayat tersebut adalah mengingkarinya. Adapun ayat-ayat madani secara umum di dalamnya berisi rincian-rincian ibadah dan muamalah karena orang-orang yang diajak berbicara mereka sudah kokoh tertanam di jiwa jiwa mereka tauhid dan aqidah yang benar sehingga mereka keadaannya butuh kepada perincian ibadah dan muamalah.
  2. Banyaknya penyebutan jihad dan hukum-hukumnya dan orang munafikin dan keadaan-keadaan orang munafik pada ayat Madani karena konsekuensi dari keadaannya periode Madani. Itu adalah karena di masa itu telah disyariatkan jihad dan nampaknya kemunafikan berbeda dari masa Makki.

Terjemah Ushul fi Tafsir Libni ‘Utsaimin rohimahullah

Categories
Terjemah Ushul fi Tafsir

Umumnya Lafaz dan Sebab Yang Khusus -Ushul Fit Tafsir 06

Jika turun ayat Al-Qur’an dengan sebab yang khusus dan lafaz ayat tersebut adalah umum maka hukum dari ayat tersebut mencakup dengan sebabnya dan juga mencakup semua yang bisa dipahami dari lafaznya. Karena Al-Qur’an itu diturunkan sebagai sumber syariat secara umum untuk semua umat. Dan yang menjadi ibrah (yang dianggap) adalah keumuman lafaznya bukan khususnya sebab.

Contoh dari lafaz umum dan sebab yang khusus adalah ayat tentang Li’an (Pent: Li’an adalah menuduh istri berzina, dia melihatnya, tetapi tidak memiliki saksi sebanyak empat orang), firman Allah subhanahu wa Ta’ala: “والذين يرمون أزواجهم ولم يكن لهم شهداء إلا أنفسهم (النور ٦)ض” sampai “إن كان من الصادقين (النور ٦-٩)ض”. Di dalam shahih Bukhari dari hadits Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma bahwasanya Hilal bin Umayyah menuduh isterinya berbuat serong (selingkuh) dengan Syarik bin Sahma’ di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apakah kamu punya bukti atau punggungmu dipukul?”(Pent: Maksudnya punggung kamu dicambuk). Maka dia berkata: “Demi Yang mengutusmu dengan Al-Haq sesungguhnya saya berkata jujur. Allah akan mewahyukan kepadamu yang menyelamatkan punggungku dari hukuman cambuk. Maka Jibril turun menyampaikan wahyu Allah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Dan merekalah yang menuduh para istrinya…. (An Nuur; 6-9). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membacanya hingga sampai bagian Jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar.

Ayat ini diturunkan dengan sebab Hilal bin Umayyah mengadukan perbuatan serong dari istrinya akan tetapi hukum dari ayat ini juga mencakup kepada hilal dan selain hilal dengan dalil hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dari hadits Sahl bin Sa’ad radhiallahu anhu bahwa ‘Uwaimir Al-‘Ajlani datang kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam lalu berkata: “Wahai Rasulullah ada seorang laki-laki dia mendapati bersama istrinya seorang laki-laki apakah dia boleh membunuh laki-laki tersebut atau apa yang dia lakukan?” kemudian Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam menjawab: “Sesungguhnya Allah subhanahu wa Ta’ala sudah menurunkan Al-Qur’an tentang perkara kamu dan istri kamu ini”. Kemudian Nabi Muhammad shallallahu alaihi sallam memerintahkan mereka berdua melakukan saling laknat sebagaimana yang Allah sudah tentukan di kitabnya, kemudian mereka berdua pun saling melaknat sebagaimana di hadits yang muttafaqalaih.

Mekap di peristiwa datangnya ‘Uwaimir itu Rasulullah memberikan hukum kepadanya dengan ayat yang sama yang diturunkan kepada hilal bin Umayyah. Menunjukkan bahwa hukum dari ayat tersebut adalah umum untuk semua kaum muslimin.

Terjemah Ushul fi Tafsir Libni ‘Utsaimin rohimahullah

Categories
Terjemah Ushul fi Tafsir

Faidah Mengetahui Asbabun Nuzul -Ushul Fit Tafsir 05

Mengetahui sebab-sebab diturunkannya ayat Al-Qur’an itu penting sekali karena itu memberikan kita faidah-faidah yang sangat banyak. Diantaranya:

  1. Menerangkan bahwa Al-Qur’an turun dari sisi Allah ta’ala. Argumen ini dengan dasar bahwa (A) Nabi shollallahualaihi wa sallam ditanya tentang sesuatu kemudian beliau terkadang diam tidak memberikan jawaban hingga turun untuk perkara tersebut Wahyu. (B) Atau ada kesamaran pada suatu perkara yang terjadi sehingga Wahyu turun menghilangkan kesamaran tersebut. Contoh yang pertama firman Allah ta’ala: ويسئلونك عن الروح قل الروح من أمر ربي وما أوتيتم من العلم إلا قليلًا (الإسراء ٨٥) ض. Dan di dalam shahih Bukhari dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu bahwasanya ada satu orang laki-laki Yahudi berkata: “Wahai Abul Qosim apa itu ruh?” Kemudian Nabi diam. Pada lafazh lain: “lalu Nabi menahan”. Karena belum datang ayat apapun terkait itu. “Kemudian saya tahu bahwa beliau sedang diturunkan wahyu, lalu saya berdiri di tempatku. Maka tatkala telah turun Wahyu, nabi bersabda: يسئلونك عن الروح قل الروح من أمر ربي (الإسراء ٨٥)”ض. Contoh kedua, firman Allah: يقولون لئن رجعنا إلى المدينة ليخرجنّ الأعز منها الأذل (المنافقون ٨)ب. Dan di shohih Bukhori dari Zaid bin Arqam radhiallahu Anhu beliau mendengar Abdullah bin Ubay dedengkotnya kaum munafik berkata bahwa Abdullah bin Ubay memaksudkan dialah orang yang mulia sedangkan Rasul dan sahabatnya orang rendahan maka Zaid pun memberitakan hal tersebut kepada pamannya kemudian pamannya memberitahukan nabi kabar dari ubay tersebut lalu Nabi memanggil Zaid untuk memberitahu Zaid tentang apa yang beliau dapatkan dari pamannya. Kemudian Nabi mengutus orang kepada Abdullah bin Ubay dan para temannya untuk mengkonfirmasi berita ucapan tersebut (Pent: Hal ini menunjukkan disyariatkannya mencari kebenaran berita dan mengecek kebenarannya) akan tetapi orang-orang munafik berani bersumpah bahwa mereka tidak pernah mengucapkannya maka Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam membenarkan mereka dikarenakan mereka bersumpah atas nama Allah. Lalu Allah subhanahu wa Ta’Ala menurunkan wahyu yang membenarkan Zaid. Dengan turunnya ayat tersebut menjadi teranglah kenyataan yang ada di sisi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
  2. Menunjukkan perhatiannya Allah subhanahu wa Ta’ala kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam bentuk pembelaan Allah kepada nabi. Contoh atas hal ini adalah firman Allah ta’ala: وقال الذين كفروا لولا نزل عليه القرءان جملة واحدة كذلك لنثبت به فؤادك ورتلناه ترتبلا. Dan demikian juga ayat-ayat ‘ifk (kejadian orang munafik menuduh Aisyah berzina). Sesungguhnya tersebut adalah pembelaan kepada istri-istri Nabi dan membersihkan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dari segala lemparan kotoran yang pemfitnah itu hantamkan kepada Nabi.
  3. Penjelasan penjagaanya Allah kepada hamba-hambanya dari sisi melepaskan mereka dari kesulitan kesulitan, melenyapkan gundah gulana mereka. contohnya adalah ayat tayamum, diceritakan di hadits di Shahih Bukhori bahwasanya saat itu Aisyah radhiyallahu anha kehilangan  kalungnya dalamaan beliau sedang bersama nabi shallallahu alaihi wasallam di salah satu safarnya beliau. Atas kehilangan kalung tersebut Nabi Muhammad langsung mengupayakan pencarian kalung dan para sahabat Nabi ikut mencari hingga waktu subuh tidak berhasil menemukan kalung dan mereka belum sempat mencari air untuk berwudhu sholat subuh. Kemudian mereka semua pun mengadukan hal tersebut (perbuatannya Aisyah) kepada Abu Bakar (Pent: Dari ini menunjukkan bolehnya mengadukan seorang perempuan bersuami kepada selain suaminya, seperti ke bapaknya. Dan juga dalil bolehnya seorang bapak mencela anaknya yang sudah bersuami). Lalu turunlah ayat Al-Qur’an terkait tayamum. Lalu berkatalah Usaid bin Hudhoir radhiyallahuanhu: “ini bukanlah pertama kali barokahnya engkau wahai keluarga Abu Bakar”. 
  4. Memberikan pemahaman ayat dari arah yang benar. Contoh hal ini adalah firman Allah ta’ala: إن الصفا والمروة من شعائر الله فمن حج البيت أو اعتمر فلا جناح عليه أن يطوف بهما (البقرة ١٥٨)ض. Maksud ayat ini adalah Sai di antara dua bukit tersebut. Karena zahir dari firman Allah (فلا جناح عليه) puncak dari kegiatan haji adalah Sa’i di antara Shofa dan Marwah yang hukumnya adalah mubah. Disebutkan di shahih Bukhari dari ‘Ashim bin Sulaiman beliau berkata: Saya bertanya kepada Anas bin Malik radhiallahu Anhu tentang perkara Shafa dan Marwah lalu beliau berkata: “Dahulu kami memandang Sai di antara Shafa dan Marwah adalah salah satu kegiatan jahiliyah. Kemudian tatkala datang Islam kami menahan diri tidak melakukan sa’i. Oleh karena hal tersebut Allah subhanahu wa Ta’ala menurunkan firmannya (إن الصفا والمروة من شعائر الله sampai ujung ayat أن يطوف بهما) sehingga dengan turunnya ayat ini diketahui bahwa penegasian/penafian الجناح (salah, dosa) bukan untuk menjelaskan hukum asal dari sa’i (Pent: Dari Zahir ayat terpajang bahwa sa’i hukumnya hanya mubah. Maka dengan mengetahui perbuatan Nabi maka kita akan tahu bahwa sa’i adalah salah satu dari rukun haji). Akan tetapi itu untuk menafikan keengganan mereka dari melakukan sa’i, karena para sahabat menilai sa’i adalah perkara jahiliyah. Adapun hukum asal sa’i maka sudah terang dari firman Allah (من شعائر الله) yakni disyariatkan (mungkin sebagai rukun atau kewajiban atau Sunnah. Dan yang benar dia adalah rukun haji).

Terjemah Ushul fi Tafsir Libni ‘Utsaimin rohimahullah

Categories
Nuzulul Qur'an Terjemah Ushul fi Tafsir

Turunnya Al-Qur’an secara Ibtida’iy dan Sababiy -Ushul Fit Tafsir 04

Terkait turunnya Al-Qur’an terkelompokkan menjadi dua kelompok yang pertama, Ibtidaiy, yaitu ayat-ayat yang tidak diawali dengan sebab apapun yang menjadi alasan untuk turunnya ayat tersebut. Bentuk ini adalah mayoritas dari ayat-ayat Al-Qur’an diantaranya adalah Firman Allah:
ومنهم من عٰهد اللهَ لئِن ءَاتَـٰنا من فضله لنصّدّقنّ ولنكوننّ من الصٰلحين. (Pent: Ayat tentang nazar muqoyyad. Ada huruf qosam dan muqsam bihi yang dihapus, yakni asalnya: واللهِ لَنَصَدَّقَنَّ, dan di ayat ini ada tiga pen-taukid: (1) Lam taukid, (2) nun taukid, (3) lafazh qosam)

Ayat-ayat tersebut sesungguhnya dia turun secara ibtidaiy dalam menjelaskan menerangkan keadaan sebagian kaum munafikin. Adapun alasan yang masyhur (tentang asbabun nuzul ayat di atas) yang menyebutkan bahwa turunnya terkait kisah Tsa’labah bin Hathib dalam kisah yang panjang, banyak orang-orang yang menafsirkan dengan menyebutkan hal ini, para pemberi nasihat menyebar-nyebarkannya juga, sesungguhnya kisah tersebut adalah DHOIF tidak ada sisi benarnya sama sekali.

Jenis yang keduasababiy yaitu ayat-ayat yang turunnya dia didahului oleh sebab menuntut ayat itu turun. di antara sebab-sebab itu adalah:

  1. Pertanyaan yang Allah berikan jawabannya. Contoh: يسئلونك عن الأهلة قل هي مواقيت للناس والحج. (Pent: ketika ada pertanyaan ini Rosulullah tidak memberi jawaban. Dan Allah menurunkan ayat ini sebagai jawaban atas pertanyaan)
  2. Atau peristiwa yang terjadi yang memerlukan kepada penjelasan dan peringatan. Contoh: ولئن سألتهم ليقولن إنما كنا نخوض ونلعب.
    Dua ayat ini turun kepada seorang laki laki dari golongan munafik yang dia berkata pada Perang Tabuk di suatu majelis: “Kami tidak pernah melihat yang seperti  penghafal AlQuran kami yang lebih besar perutnya dan lebih dusta lidahnya dan paling pengecut waktu bertemu musuh” yang dia maksudkan adalah Rasulullah dan sahabat-sahabatnya. Maka langsung hal itu disampaikan kepada Rosulullah dan turunlah Al-Quran. Lalu langsung lelaki tadi datang meminta maaf kepada Nabi. Langsung Nabi menjawabnya: “أبالله وءايته ورسوله كنتم تستهزءون”
  3. Perbuatan yang muncul dan butuh untuk mengetahui hukumnya, contoh:
    قَد سَمعَ الله قَولَ الَتى تُجَادلُكَ في زَوجهَا وتَشتَكى إلَى الله والله يَسمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إنَّ الله سَميعٌ بَصير
Categories
Terjemah Ushul fi Tafsir

Yang Paling Pertama Turun dari Al-Qur’an – Ushul fit Tafsir 03

Secara mutlak yang pertama turun dari Al-Qur’an adalah lima ayat pertama dari surat Al-‘Alaq.

ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ (١) خَلَقَ ٱلۡإِنسَـٰنَ مِنۡ عَلَقٍ (٢)ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ (٣) ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ (٤) عَلَّمَ ٱلۡإِنسَـٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ (٥) د

Setelah itu wahyu terputus selama beberapa masa kemudian turun lima ayat pertama dari surat Al-Mudatsir:

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلۡمُدَّثِّرُ (١) قُمۡ فَأَنذِرۡ (٢) وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ (٣) وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ (٤) وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ (٥) ذ

Di Shahihain hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang permulaan wahyu, beliau mengatakan: hingga Al-Haq mendatangi Nabi ketika beliau berada di Gua Hira malaikat Jibril menemuinya. Lalu berkata: Bacalah! Lalu Nabi berkata: Saya bukan orang yang membaca. (maksudnya saya tidak mengetahui bacaan).

Kemudian beliau menyebutkan haditsnya (sampai tuntas) dan di dalamnya ada:
“ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ” sampai firman-Nya: “عَلَّمَ ٱلۡإِنسَـٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ”.

Dan di shahihain dari Jabir rodhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dan beliau bercerita tentang kekosongan dari turunnya wahyu: Ketika saya sedang berjalan tiba-tiba saya mendengar suatu suara dari langit… kemudian menyebutkan hadits dengan redaksi: “Kemudian Allah menurunkan: “يَـٰٓأَيُّہَا ٱلۡمُدَّثِّرُ” hingga “وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ”.

Ada ayat-ayat yang dinamakan “yang pertama turun”, dan yang dimaksudkan adalah yang pertama turun dari sisi tertentu. Sehingga “awal kali” ini terikat. Contoh hadits Jabir rodhiyallahu ‘anhu di shahihain bahwasanya Abu Salamah bin Abdirrahman bertanya kepadanya: apakah dari Al-Qur’an yang turun? Lalu Jabir berkata: “يَـٰٓأَيُّہَا ٱلۡمُدَّثِّرُ”. Lalu Abu Salamah berkata: Saya diberi berita bahwa ia adalah: “ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ”. Lalu Jabir berkata: Saya tidak mengkabarkan kamu kecuali dengan apa yang Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallam- sabdakan. Beli bersabda: “جاورت في حراء فلما قضيت جواري هبطت…” lalu menyebutkan hadits di dalamnya ada redaksi “فأتيت خديجة فقلت: دثروني وصبوا علي ماء باردا, وأنزل علي (يا أيها المدثر) إلى قوله (والجز فاهجر) أ”

Maka ini adalah kategori “awal” yang disebutkan Jabir dari sisi yang pertama turun setelah masa kekosongan wahyu, atau yang pertama turun dari status nabi sebagai Rasul. Karena ayat-ayat yang turun dari surat Iqro’ menetapkan kenabian Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam. Adapun ayat-ayat yang turun dari surat Al-Mudatsir menetapkan kerasulan pada ayat “قم فأنذر”. Dan oleh karena ini, para ulama berkata: Sesungguhnya Nabi shollallahu ‘alaihi di-nabi-kan dengan “إقرأ” dan di-rasul-kan dengan “المدّثّر”.

Categories
Pesantren Terjemah Ushul fi Tafsir

Al-Qur’an Al Karim – Ushul fit Tafsir 01

Al Quran secara bahasa adalah mashdar dari قرأ yang bermakna تَلَا atau bermakna جَمَعَ. Sebagaimana kamu mengucapkan قَرَأَ – قُرْءًا – قُرْآنًا , sebagaimana engkau mengucapkan غَفَرَ – غَفْرًا – غُفْرَانًا. Maka diatas makna yang pertama yaitu تَلا adalah mashdar yang memiliki makna Isim maf’ul yaitu bermakna مَتْلُوٌّ (yang dibaca). Sedangkan jika di atas makna yang kedua yaitu جَمَعَ maka dia keadaannya adalah mashdar yang bermakna Isim fa’il yaitu bermakna جَامِعٌ dinamakan demikian karena Al-Qur’an mengumpulkan berita-berita (pent: hari-hari yang telah berlalu) dan hukum-hukum.

Adapun Al-Qur’an  secara syariat Islam definisi adalah: Kalamullah ta’ala (pent: ini adalah aqidahnya ahlussunnah) yang diturunkan secara bertahap kepada utusan-Nya dan penutup para Nabi, Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam yang diawali dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri oleh surat An-Naas (pent: sebagaimana urutan ini adalah ijma’ Sahabat Nabi).

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
انا نحن نزلنا عليك القران تنزيلا.

Dan juga berfirman:
انا أنزلنه قرانا عربيا لعلكم تعقلون.

Dan Allah telah dan akan selalu menjaga Al-Qur’an  yang mulia ini dari semua jenis perubahan dan semua bentuk penambahan dan semua bentuk pengurangan dan semua bentuk penggantian. Allah –Subhanahu Wa Ta’ala– telah menjamin penjagaan Al-Qur’an  itu seraya berfirman:
انا نحن نزلنا الذكر وإنا له لحافظون.

Dikarenakan hal tersebutlah maka sudah berlalu abad demi abad yang sangat banyak dan tidak pernah mampu satupun dari musuh-musuh Allah untuk memberikan perubahan di dalamnya atau memberikan tambahan atau memberikan pengurangan atau melakukan penggantian-penggantian dari isi Al-Qur’an kecuali pasti Allah singkap tirai mereka itu dan membuka jelas apa yang mereka lakukan (pent: Allah bongkar aib dan urusan mereka) .

Dan Al-Qur’an, Allah memberikan sifat kepadanya dengan sifat-sifat yang sangat banyak, yang mana sifat-sifat tersebut menunjukkan kepada keagungannya dan keberkahannya dan kelengkapannya dan keberpengaruhanya dan bahwasanya Al-Qur’an itu adalah hakim (menghukumi, menghapus) semua kitab-kitab sebelumnya.

Allah –subhanahu wa ta’ala– berfirman:

  • ولقد اتيناك سبعا من المثاني والقرءان العظيم (pent: berkata Syaikh As-Si’di di kitab tafsirnya: maksudnya adalah surat-surat yang panjang Al Baqoroh, Ali Imran, An Nisa, Al Maidah, Al An’am, Al A’rof, Al Anfal dengan At Taubah. Dan ada yang mentafsirkan dia adalah surat Al Fatihah karena ada tujuh ayat. Dan pendapat yang pertama didasari karena banyaknya makna-makna tauhid dan ilmu ghoib dan hukum yang sangat agung. Dan pendapat yang kedua, makna sab’an matsani adalah tujuh ayat).
  • والقرءان المجيد
  • كتاب انزالنه اليك مبارك ليدبروا ايته وليتذكر اولوا الألبب (makna mubarok: di dalamnya kebaikan yang banyak dan ilmu yang deras tidak ada habisnya. Petunjuk untuk lepas dari kesesatan, dan penyembuh dari semua penyakit, dan cahaya yang bisa menerangi kegelapan, dan hukum yang para mukallaf mengambil hujjah dengannya. Berkata ibnul Qoyyim: Al-Qur’an adalah obat untuk sakit badan dan hati).
  • وهذا كتب أنزلنه اليك مبارك فاتبعوه واتقوا لعلكم ترحمون
  • انه لقرءان كريم
  • ان هذا القرءان يهدي للتي هي اقوم
  • لو انزلنا هذا القرءان على جبل لرايته خاشعا متصدعا من خشية الله وتلك الامثل نضربها للناس لعلهم يتفكرون
  • وإذا ما انزلت سورة فمنهم من يقول ايكم زادته هذه ايمانا فاما الذين امنوا فزادتهم ايمانا وهم يستبشرون. واما الذين في قلوبهم مرض فزادتهم رجسا الى رجسهم وماتوا وهم كافرون.
  • وأوحي الي هذا القرءان لانذركم به ومن بلغ
  • فلا تطع الكافرين وجاهدهم به جهادا كبيرا
  • ونزلنا عليك الكتاب تبينا لكل شيء وهدى ورحمة وبشرى للمسلمين
  • و انزلنا إليك الكتب بالحق مصدقا لما بين يديه من الكتب ومهيمنا عليه فاحكم بينهم بما انزل الله

Dan Al-Qur’an  Al-Karim adalah sumber dari syariat Islam yang mana seorang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam diutus dengan membawa syariat-syariat itu untuk semua manusia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

تبارك الذي نزل الفرقان على عبده ليكون للعالمين نذيرا.

Dan firman Allah:

الر كتب أنزلنه اليك لتخرج الناس من الظلمت الى النور باذن ربهم الى صرط العزيز الحميد. الله الذي له ما في السموت وما في الارض وويل للكافرين من عذاب شديد.

Dan sunnah nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam adalah sumber dari syariat islam juga sebagaimana hal tersebut ditetapkan oleh Al-Qur’an . Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

  • من يطع الرسول فقد اطاع الله ومن تولى فما ارسلناك عليهم حفيظا.
  • ومن يعص الله ورسوله فقد ضل ضلالا مبينا
  • وما ءاتكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا واتقوا
  • قل ان كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم والله غفور رحيم

Categories
Terjemah

Hukum Thaharah, Air, Jenis-Jenis Air, Air Liur Manusia dan Hewan

Terjemah Kitabut Thoharoh Fiqih Muyassar -002

Hukum Thaharah dan air dan masalah-masalah di dalamnya.

A. Pengertian dari thoharoh dan penjelasan akan kepentingannya.

Pentingnya thoharoh dan pembagian pembagiannya. Thoharoh dia adalah kuncinya salat dan syarat yang paling ditekankan dari salat. Dan sebuah syarat pasti datangnya lebih dahulu daripada yang dipersyaratkannya.

Thaharah ada dua pembagian. Yang pertama thoharoh maknawiyah yaitu dia adalah thoharotul Qolbi (kesucian hati) dari kotoran kesyirikan dan kemaksiatan dan apa-apa. Thoharoh ini lebih penting daripada sekedar thoharotul badan (kesucian badan). Dan tidaklah mungkin bisa merealisasikan kesucian Badan Kebersihan badan bersamaan dengan adanya najis kesyirikan sebagaimana Allah berfirman : انما المشركون نجس.

Yang kedua adalah kesucian secara fisik (الطهارة الحسية). Akan datang perincian ucapan-ucapan di dalam pembagian ini di baris yang berikut nya.

Sejarah istilah thoharoh artinya adalah mengangkat hadats dan lenyapnya alkhabats. yang diinginkan dari terangkatnya hadats adalah: menghilangkan sifat yang menghalangi salat dengan mempergunakan air ke semua badan jika hadatsnya besar. Adapun jika hadatsnya kecil maka cukup dengan menyapukan air itu ke bagian bagian wudhu disertai dengan adanya niat. Jika tidak ditemukan air atau seorang lemah untuk terpapar air maka dia menggunakan benda-benda yang bisa menggantikan air yakni atturob (التراب) di atas sifat yang diperintahkan bersama sifat itu secara syar’i. Dan akan datang penyebutan sifat tersebut Insya Allah pada bab tayamum.

Adapun yang diinginkan dengan maksud lenyapnya khobats adalah hilangnya zat najis tersebut dari badan dan pakaian dan tempat.

Maka thoharoh hissiyah ada dua bentuk: suci dari hadats dan dikhususkan yang ada di badan dan suci dari khobats yang juga ada di badan pakaian dan tempat.

Hadats ada dua bentuk: hadats kecil dan dia adalah apa-apa yang wajib berwudhu dengan adanya dia dan hadats besar dan dia adalah bapa yang wajib dengannya mandi.

Sedangkan al-khobats di atasnya ada tiga bentuk: khobats yang wajib untuk dicuci/diguyur, khobats yang wajib untuk di percikkan air, dan khobats yang wajib untuk diusap saja.

Permasalahan yang kedua: Jenis air yang bisa menghasilkan thoharoh (status suci).

Thoharoh memerlukan kepada sesuatu yang dia bersuci dengannya. Najis dihilangkan dengan keberadaannya dan ada diangkat dengannya yakni air. Dan air yang thoharoh itu bisa berhasilkan adalah air yang suci (الماء الطهور) yaitu: air yang secara zatnya suci bersih yang bisa membuat suci bersih benda lainnya. Dan air itu adalah yang masih diatas bentuk asal dari penciptaannya. Maksudnya masih di atas sifat air yang Allah menciptakan dia di atas sifat tersebut Apakah air itu yang turun dari langit seperti hujan embun salju atau lelehan dari es. Maupun air yang mengalir di bumi seperti air sungai, mata air, air sumur, air laut.

Berdasarkan firman Allah: و ينزل عليكم من السماء ماء ليطهركم به. Dan firman Allah: وأنزلنا من السماء ماء طهورا. Dan berdasarkan hadits Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam: اللهم اغفر لي من خطاياي بالماء والثلج والبرد. Dan sabda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam mengenai air laut: هو الطهور ماؤه الحل ميتته. 

Dan tidak terhasilkan thoharoh dengan menggunakan cairan selain air. Contohnya cuka bensin sari buah dan jus sirup, dan zat lain yang semisalnya. Berdasarkan firman Allah ta’ala: فلن تجدوا ماء فتيمموا صعيدا طيبا. Seandainya thoharoh itu bisa tercapai dengan menggunakan bentuk cairan apapun selain air niscaya hasil proses olahan yang menggunakan air akan disebutkan. Dan tidak akan berpindah mode bersuci dengan debu.

Permasalahan ketiga: air jika ada najis mencampurinya.

Air itu jika ada benda najis yang mencampurinya dan kemudian mengubah salah satu dari sifat yang tiga (3) yaitu bau rasa dan warna, maka air itu bersifat najis dengan kesepakatan para ulama dan tidak diperbolehkan menggunakan air najis tersebut, dan Dengan demikian tidak akan mengangkat hadats dan tidak akan menghilangkan khobats, Apakah itu banyak atau sedikit. 

Adapun jika benda najis mencampuri air akan tetapi salah satu dari ketiga sifat tidak berubah maka jika airnya Banyak maka tidak bersifat najis dan dengan demikian thoharoh bisa tercapai didapatkan dengan menggunakan air tadi. Akan tetapi jika air itu sedikit maka sifatnya berubah jadi najis dengan demikian thoharah tidak bisa tercapai dengan menggunakan air tersebut.

Batasan dari banyak nya air adalah jika mencapai dua (2) qullah atau lebih. Sehingga ukuran dinamakan sedikit jika dibawa dari dua qullah.

Dalil untuk hal tersebut adalah Hadits dari Abu Sa’id al-Khudri -radhiallahu Anhu- Dia berkata Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: اذا بلغ الماء قلتين لم يحمل الخبث. 

Permasalahan yang ke-4: air itu jika ada benda yang suci mencampurinya.

Air itu jika ada zat yang suci bersih mencampurinya seperti daunan, sabun, odol, atau sidr dan Selain itu semua daripada jenis benda benda yang sifatnya bersih dan suci dan dia mencampurinya tidak sampai mendominasi air, maka pendapat yang benar bahwasanya air tersebut sifatnya suci bisa berthaharah dengan air itu, membersihkan hadats dan najis. Hal tersebut dikarenakan Allah berfirman:

 وإن كنتم مرضى أو على سفر أو جَآء أحد منكم من الغائط أو لٰمستم النساء فلم تجدوا ماء فتيمموا صعيدا طيبا فامسحوا بوجوهكم وأيديكم. 

Dengan demikian kata الماء di ayat tadi adalah nakiroh dalam konteks pe-nafi-an sehingga berfaedah umum semua jenis air. Tidak ada perbedaan di antara air yang murni dan yang telah tercampur.

Dan berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam kepada para wanita yang mengerjakan prosesi mandi jenazah untuk anaknya Nabi:

اغسلنها ثلاثا أوخمسا أو أكثر من ذلك إن رأيتنّا بماء أو سدر واجعلن في الأخرة كافورا أو شيئا من كافور. 

Permasalahan yang kelima: hukum air yang bekas dipakai  untuk bersuci (air mustamal).

Air mustamal dalam hal bab thoharoh itu adalah seperti air yang terpisah dari anggota anggota badan yang harus diwudhukan, hukumnya dia suci dan bisa mencucikan lainnya berdasarkan pendapat yang benar. Dia bisa mengangkat hadats dan menghilangkan najis dengan syarat selama di ayat tersebut tidak berubah dari dia salah satu dari tiga (3) sifat yaitu bau, rasa, dan warna.

Dan dalil yang menunjukkan kesuciannya adalah: أن النبي صلى الله عليه و سلم كان إذا توضأ كادوا يقتتلون على وضوئه.

Dan juga dikarenakan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Salam menyiramkan kepada Jabir dari air wudhunya jika Jabir sakit. Seandainya air bekas wudhu itu najis niscaya perbuatan Nabi tadi tidak boleh. Dan juga karena Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat-sahabatnya dan istri-istrinya dahulu mereka selalu berwudhu dari cangkir dan bejana dan mandi dari air di mangkuk besar. Dan tempat-tempat penampungan air yang seperti itu pastilah tidak mungkin terbebas dari percikkan bekas air wudhu. Dan berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam ke Abu Hurairah waktu itu dia keadaannya junub:

 إن المؤمن لا ينجس.

Oleh karena itu jika keadaannya seperti itu maka sesungguhnya air itu tidak hilang sifat sucinya semata-mata karena pengusapan air ke anggota wudhu.

Permasalahan ke 6: air liurnya manusia dan hewan ternak

Air liur adalah sesuatu yang tersisa di bejana setelah susu orang atau hewan meminum darinya. Manusia sifatnya adalah suci begitu juga air liurnya suci sama saja dia itu apakah muslim atau kafir dan demikian juga statusnya suci bagi orang yang junub dan yang haid. 

Dan sudah tsabit bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda (المؤمن لا ينجس). dan hadits lainnya dari Aisyah -radhiallahu ‘anha- bahwasanya Beliau pernah meminum dari gelas dalam keadaan dia haid kemudian Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam mengambil gelas tersebut lalu meletakkan mulutnya pada tempat mulut Aisyah minum. 

Adapun hewan-hewan yang tidak dimakan dagingnya seperti hewan buas dan keledai dan selain mereka maka yang benar adalah pendapat bahwa air liurnya suci tidak memberikan pengaruh kepada air dan lebih khusus lagi apalagi jika airnya itu sangat banyak.

Adapun jika airnya sedikit dan berubah dengan sebab hewan-hewan itu minum ke air tersebut maka status air tersebut menjadi najis.

Dalil yang menopang pendapat tersebut adalah hadits yang sudah berlalu yang di dalamnya ada perkataan, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ditanya tentang air dan apa saja yang bisa menggantikan air dari hewan-hewan dan juga binatang buas lalu Nabi Muhammad bersabda: 

إذا بلغ الماء قلتين لم يحمل الخبث

Jika air itu mencapai dua qullah maka khobats apapun tidak mempengaruhinya.

Dan sabda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam terkait kucing yang sudah minum dari gelas atau bejana:

إنها ليست بنجس إنما هي من الطوافين عليكم والطوافات

Sesungguhnya dia bukanlah najis hanya saja dia itu hewan yang selalu di sekitar mengelilingi kalian.

Dan juga disebabkan kucing itu jika kita harus bebas dari dia maka itu adalah masyaqqah secara keumumannya. Jika kita berpendapat akan kenajisan air liur kucing dan wajibnya mencuci apapun yang terkena air liur maka niscaya dalam melakukan hal tersebut ada sisi berat/masyaqqah. Sedangkan masyaqqoh itu dihilangkan dari umat ini.

Adapun tentang anjing maka dari Abu Hurairah radhiallahu Anhu bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

طهور إناء أحدكم إذا ولغ فيه الكلب أن يغسله سبع مرات أولاهن بالتراب

Status sucinya bejana salah satu dari kalian jika ada anjing menjilat ke dalamnya adalah dengan kamu mencuci bejana tersebut sebanyak tujuh (7) Kali yang pertama kalinya dengan menggunakan tanah.

Adapun babi maka kenajisannya, ke-khobats-annya, dan kotorannya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala sudah berfirman:

فإنه رِجس (Maka dia benar-benar kotor)

Categories
Fiqih Terjemah

Terjemah Al-Fiqh Al-Muyasar (Mazhab Hambali) -001

Awalan pertama semoga menjadi amal yang ikhlas untuk mengharapkan wajah Allah. Allahumma aamiin .