Categories
Adab dan Akhlak Aqidah Fiqih Pesantren

Permisalan Pohon Keimanan

Seringkali ketakwaan keimanan keislaman bahkan orang yang beriman kepada Allah di per misalkan dengan pohon. Contoh yang paling jelas adalah firman Allah ayatnya yang agung kalimat-kalimat yang tidak ada kedustaan sedikitpun di dalamnya nya Allah berfirman:

ضرب الله مثلا كلمة طيبة كشجرة طيبة أصلها ثابت وفرعها في السماء

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. (Q.S. Ibrohim:24)

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam pernah juga pada satu kesempatan bersama para sahabatnya beliau shallallahu alaihi wasallam bertanya melemparkan pertanyaan kepada mereka dengan permisalan pohon.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ فَحَدِّثُونِي مَا هِيَ فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي قَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ فَاسْتَحْيَيْتُ ثُمَّ قَالُوا حَدِّثْنَا مَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هِيَ النَّخْلَةُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya ada di antara pepohonan, satu pohon yang tidak gugur daunnya. Pohon ini seperti seorang muslim, maka sebutkanlah kepadaku apa pohon tersebut?” Lalu orang menerka-nerka pepohonan wadhi. Abdullah Berkata: “Lalu terbesit dalam diriku, pohon itu adalah pohon kurma, namun aku malu mengungkapkannya.” Kemudian mereka berkata: “Wahai Rasulullah beri tahukanlah kami pohon apa itu?” Lalu beliau menjawab: “ia adalah pohon kurma.”

Berikut ini adalah pembahasan Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Si’di rohimahullah dari kitab yang beliau tulis “Bahjatu Quluubil Abror wa Qurrotu Uyuunil Akhyaar”. Yang di dalamnya beliau menyebutkan permisalan keimanan dengan pohon, apa makanan dan minumnya, apa yang membuat dia tumbuh besar, apa yang membuat dia kebal dari hama.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: الصلوات الخمس والجمعة إلى الجمعة ورمضان إلى رمضان مكفرات لما بينهن ما اجتنبت الكبائر (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah -radhiallahu ‘Anhu- berkata Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda salat lima waktu dan salat Jum’at ke Jum’at selanjutnya dan puasa romadhon dan ramadhan selanjutnya, menggugurkan dosa-dosa yang terjadi di antara keduanya selama tidak melakukan dosa besar.

Syaikh As-Si’di rohimahullah memberikan penjelasan sangat indah… Simaklah…

Hadits ini menunjukkan kepada sangat besarnya keutamaan yang Allah miliki dan sangat pemurah nya Allah dengan memberikan kelebihan-kelebihan untuk ketiga ibadah yang disebutkan di hadits dan bahwasanya tiga ibadah yang disebutkan tersebut bagi mereka di sisi Allah ada kedudukan yang sangat tinggi dan juga buah yang dihasilkan dari amalan tersebut tidak mungkin bisa dihitung dan diperkirakan banyaknya.

Maka yang termasuk dari buah amalan tersebut adalah bahwasannya Allah menjadikan tiga ibadah tersebut yang disebutkan di hadits adalah sebagai (1) penyempurnaan bagi agama seorang hamba dan keislamannya dia. (2) Kemudian bahwasanya tiga amalan tersebut menjadi hal yang menumbuhkan keimanan dan (3) memberikan minum bagi pohon keimanan, karena sesungguhnya (4) Allah menumbuhkan pohon keimanan di hati hatinya orang beriman yang (5) besar pohon tersebut tergantung dengan kadar keimanan mereka. Dan Allah juga mentakdirkan dengan sifat Maha Lembutnya Allah, dan juga dari keutamaan –fadhl- yang Allah yang tidak bisa dihitung, Allah telah menetapkan / mentakdirkan kewajiban-kewajiban dan ibadah yang sunnah bagi hamba-Nya yang (6) dengan hamba itu melakukan kewajiban dan sunah tadi maka akan memberikan air, mengairi, memberikan irigasi untuk pohon keimanan di dalam hatinya dan (7) dengannya pohon itu menjadi semakin besar dan menjadi sehat (8) bisa menolak berbagai penyakit sehingga semakin menjadi sempurnalah pohon tersebut dan (9) di kemudian hari memberikan buah-buahan, panenan dari pohon keimanan tersebut setiap waktu, tentunya dengan izin yang menguasainya. dan Allah menjadikan dari melakukan kewajiban-kewajiban dan sunah sunah itu (10) akan mencegah atau meniadakan dari pohon-pohon itu penyakit apapun.

Dosa-dosa itu bahayanya sangatlah besar dan dosa itu dia bisa mengikis keimanan dan ini hal yang sudah diketahui.

Kewajiban-kewajiban yang tiga ini (yakni: (1) sholat lima waktu, (2) jumat, (3) ramadhan) jika seorang hamba menguranginya dengan menjauhi dosa-dosa yang besar maka Allah pasti akan ampuni dosa-dosa kecil hamba itu dan kesalahan-kesalahan yang pernah dia perbuat, dengan sebab melakukan tiga kewajiban tadi dan bahkan tiga amalan yang itu adalah salah satu dari perkara yang paling besar yang masuk ke dalam firman Allah ta’ala

إن الحسناتِ يذهبْن السيئاتِ (هود:١١٤)

Arti: Sesungguhnya perbuatan baik akan menghapus perbuatan jelek. (Q.S. Hud-114)

Hal yang semisal dengan itu sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan -dengan sifat Allah yang Maha Lembut- bahwasanya (seorang hamba) dia menjauhi dosa-dosa yang besar, maka itu menjadi sebab dari digugurkannya dosa-dosa yang kecil. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إن تجتنبواْ كبآئر ما تنهون عنه نكفر عنكم سيئاتكم وندخلكم مدخلًا كريمًا (النساء:٣١).

Adapun untuk dosa besar, maka tidak bisa tidak, pelakunya harus bertaubat agar diampuni. (Q.S. An-Nisaa:31)

Bisa diilmui dari hadis ini bahwasanya (1) semua nash yang didalamnya terdapat penjelasan akan amalan sholeh itumenghapuskan perbuatan-perbuatan jelek maka sesungguhnya yang dimaksudkan dari penghapusan amalan jelek itu cuma dosa kecil, karena ibadah-ibadah ini yang besar tadi jikalah dia tidak bisa menghapuskan dosa yang besar bagaimana pula dengan amalan sholeh lainnya yang kedudukannya di bawah tiga amalan di hadis itu.

Kemudian hadits ini secara terang jelas membagi dosa kepada dua pembagian yaitu (1) dosa-dosa besar dan (2) dosa-dosa kecil. Dan kita sudah tahu bahwa sangat banyak kalimat-kalimat dari ulama terkait apa perbedaan antara dosa kecil dengan dosa besar dan ucapan tersebut yang paling bagusnya adalah: bahwasanya dosa besar itu : (a) sesuatu yang berefek kepada hukuman di dunia atau (b) pelakunya diancam dengan hukuman di akhirat atau (c) pelaku dosa tersebut mendapat laknat atau perbuatan dosa tersebut berefek kepada murkanya Allah dan yang sejenisnya. Adapun dosa-dosa kecil adalah selain dari itu.

Atau bisa juga didefinisikan dosa-dosa besar adalah: dosa-dosa yang bentuk pengharamannya adalah pengharaman terhadap hal utama / hal inti (maqshud). Adapun dosa-dosa kecil adalah dosa yang diharamkan namun dengan bentuk pengharamannya itu terhadap perantara kepada dosa inti (washilah) yang sebelumnya. Dan wasilah itu seperti: (1) memandang kepada perempuan yang tidak boleh dilihat (2) atau bahkan ditambah dengan berduaan dengan perempuan asing yang bukan mahramnya. Adapun dosa besar itu contohnya (1) zina, ya perbuatan zina itu sendiri (bukan pendahuluan kepada sinarnya), atau seperti (2) riba fadhl ditambah riba nasi’ah dan dosa-dosa yang semisalnya.

Categories
Adab dan Akhlak Dakwah Orang tua Pesantren

Adab Da’i

Pada kitab Ithaful Qori li Syarhi Tsalatsatil Ushul, asy Syaikh ‘Ubaid bin ‘Abdillah bin Sulaiman al-Jabiri mengajarkan beberapa adab untuk orang yang mengajak kepada agama Allah:
(1) Keinginan yang kuat (Hirsh) agar manusia mendapat petunjuk ke jalan yang lurus.
(2) Lembut, pergaulan yang elok (Rifq), karena rifq tidaklah dia mensifati sesuatu pasti menjadi indah, dan jika hilang maka menjadi memalukan, menjatuhkan kehormatan orang tersebut.
(3) (Hikmah) Bijaksana di atas ilmu, menempatkan suatu sesuai tempatnya, sesuai dengan maqoshid asy-syari’ah.
(4) Al-Mau’izhoh Hasanah : Nasihat yang baik. Mengingatkan kepada akhlak yang baik, amalan soleh, ketakwaan. Apakah dengan mengingatkan nikmat-nikmat pahala-pahala surga, atau dengan ketakutan azab siksa neraka.
(5) Berdebat, mendebat kesalahan pihak lain dengan metode paling elok. Karena ada syubhat maka ambil cara yang paling dekat kepada tercapainya kebenaran dengan hal yg paling kuat dan menancap di sanubarinya.
(6) Al-Fiqh. Yakni keilmuan dia tentang apa pun yg perintah dan dilarang Allah dan Rasul-Nya.
(7) Menjelaskan Al-Haq untuk kebaikan manusia. Dan mendorong manusia untuk mengambil al-haq -di atas dalil-dalil.
(8) Tidak membawa jiwanya ke dalam penyesalan disebabkan orang tidak menyambut petunjuk Allah. Ini juga hal yang dilarang Allah kepada Nabi-Nya.
(9) Sedia menentang syubhat pengikut kebatilan dan pengikut hawa nafsu, membantahnya dengan uslub yg kuat, dan memperingatkan manusia agar berjauh-jauh dari mereka. Demikianlah yang Nabi shollallahu alaihi wasallam praktekkan.

Penerjemah : Wallahu a’lam jika ada kekeliruan tolong beritahu 🙏

Categories
Adab dan Akhlak Pesantren

Guruku menasihatiku

Untuk mengawali belajar dengan niat yang benar.

Untuk mengambil ilmu dengan penuh adab. Adab di hadapan guru dan begitupula adab di hadapan ilmu.

Untuk mengambil ilmu secara bertahap. Beliau memperingatkan agar tidak menyelisihi ini. Agar selamat dari kebodohan. Siapa yang ambil atas tanpa didahului dasar maka tidak akan paham yang tinggi. Dan tidak pula dapat yang rendahnya.

Arahan demi arahan ku terima, jazahumullah khairo, ku rasa kalian benar benar menginginkan kebaikan untuk ku. Beliau meluruskan cara belajar sisi yang lain :

  1. Awali dengan menghafal Al-Qur’an dan Sunnah jalani tanpa ada habisnya hingga maut menjemput.
  2. Ikutkan selanjutnya dengan menghafal mutun yg asasi di masing-masing bidang ilmu.
  3. Isi pengetahuan bidang ilmu yg ingin dikuasai secara rinci dan bidang2x lainnya Secara global jangan ditinggal.

Kemarin beliau menasihatkan bahwa Allah memilih hambaNya yang mana untuk mengemban dakwah agama ini. Kita tidak tahu siapa. Namun tidak mesti orang yang cerdas jenius, bisa saja pada orang yang mungkin lambat dalam belajarnya namun ternyata ia bertakwa, bersih hatinya, sungguh-sungguh , jujur ?

Categories
Orang tua Pesantren

Pondok Pesantren Lembaga Pendidikan Terbaik (blm selesai)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman di Al Quran surat az-zariyat ayat 56

وما خلقت الجن والانس الا ليعبدون

Yang artinya Tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka mengiba dahi saya Sehun Islam Ibnu Taimiyah mendefinisikan ibadah dengan penamaan untuk semua yang Allah cintai dan Ridho ucapan maupun perbuatan nampak maupun tersembunyi ayat diatas dengan susunan diawali penafian dan disusul dengan penetapan sehingga makna penekanan sangat tinggi sehingga harus lah anak keturunan Adam menjadikan ibadah kepada Allah sebagai prioritas utama dalam hidupnya kemudian sebagaimana ibadah adalah tujuan diciptakan manusia maka kita haruslah mengetahui apa dan bagaimana hakikat ibadah Hal apa yang Allah cintai dan ridhoi Bagaimana kapan di mana dan pertanyaan lainnya Syekh Abdurrahman Bin nashir as-sa’di menjelaskan dua hadits dan hadits Aisyah tentang amalan yang ditolak dua hadis ini masuk ke seluruh sendi agama Islam aqidah maupun fiqihnya yang nampaknya maupun tersembunyinya hadits tentang niat adalah timbangan amalan-amalan yang tersembunyi dan hadits Aisyah timbangan amalan yang nampak di keduanya terkandung ikhlas kepada yang diibadahi dan ikut kepada rasul yang keduanya adalah syarat maka siapa yang memenuhi itu maka itulah yang amalnya diterima demi merealisasikan itu semua jalannya adalah mempelajari ilmu nya Allah berfirman

فاعلم انه لا اله الا الله واستغفر لذنبك

Yang artinya maka ketahuilah bahwa tidak ada rok yang haq untuk disembah kecuali Allah dan Mintalah ampunan untuk semua dosamu di ayat tersebut Allah Azza wa Jalla memulai dengan kalimat perintah yang maknanya perintah untuk mempelajari Syekh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah berkata yang artinya ketahuilah Semoga Allah merahmati kamu bahwasanya wajib kepada semua muslim dan muslimah mempelajari tiga perkara ini dan mengamalkannya Kenapakah datang banyak perintah untuk belajar di al-quran hadis dan Ucapan salam hingga zaman ini hal itu adalah karena semua manusia dari lahir dalam keadaan bodoh Allah Azza wa Jalla berfirman

والله اخرجكم من بطون امهاتكم لا تعلمون شيئا وجعل لكم السمع والابصار والافئده لعلكم تشكرون

Halo mengeluarkan kalian semua dari perut ibumu ibumu dalam keadaan kalian tidak tahu apa-apa dan Allah ciptakan untuk kalian pendengaran penglihatan dan akal Agar kalian bersyukur Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam diperintahkan belajar ayat pertama yang turun

اقرا باسم ربك الذي خلق

Bacalah hal ini menunjukkan semua manusia mendapat ilmu dengan jalan belajar tidak ada pengecualian

Para pembaca yang Semoga Allah rahmati semuanya Setiap anak memiliki hak untuk diajarkan ilmu agama dan itu menjadi kewajiban atas orang tuanya Ibnul qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa Allah akan bertanya kepada orang tua untuk perihal hak hak anaknya sebelum Asia nak ditanya atas hak orang tuanya sebagaimana Bapak Ibu memiliki hak atas anaknya begitu juga anak memiliki hak atas orang tuanya Allah berfirman

Yang artinya Wahai orang-orang yang beriman Lindungilah diri kamu dan keluarga kamu dari api neraka Ali Bin Abi Thalib radhiallahu Anhu mentafsirkan ajari mereka ilmu agama ajarkan adab kepada mereka Ibnul qayyim rahimahullah berkata maka Kapan orang tua lalai dari mendidik anaknya apa yang bermanfaat untuk si anak mengabaikan tanpa ada perhatian berarti orang tua sudah berbuat jelek pada anak dengan kejelekan yang puncaknya kebanyakan anak itu datang kejelekannya dari sisi Bapak karena kelalaian mendidik di agama kewajiban dan sunnahnya orang tua menyia-nyiakan anak di usia kecil sampai-sampai anak itu tidak bisa memberi manfaat untuk dirinya sendiri dan tidak juga kau orang tuanya di umur dewasa hingga sang anak berkata Wahai Ayahku engkau tidak memberi aku ketika kecil maka aku tidak memberi hak mu ketika dewasa kau tidak peduli padaku di saat kecil sekarang saya tidak peduli padamu saat engkau sudah renta.

Pembaca yang Allah rahmati belajar ilmu agama adalah jalan nya orang Mulia Allah mengabadikan kisah Nabi Musa menuntut ilmu kepada Qadir Allah Azza wa Jalla berfirman

Syekh Muhammad bin Shalih Al utsaimin menjelaskan bahwa Musa Alaihissalam lebih utama dari Khidir akan tetapi beliau tetap belajar melembutkan dihadapan gurunya orang lainnya karena Qodir akan memberikan ilmu atau mengusahakan mengambil ilmu yang ia tidak tahu.

Jika kita sudah mengetahui kuota main belajar ilmu agama maka Kapan dan di manakah yang dimulai maka jawabannya dibagi dua secara hakikat belajar sejatinya anak mulai belajar sejak Ia memiliki pendengaran yakni sejak di dalam kandungan ibunya Adapun dari sisi persiapan maka lebih awal lagi yakni sejak Sang Bapak memilih calon ibu buat si anak oleh karena itulah Rasulullah memerintahkan untuk melihat kebaikan agama sebagai faktor utama dalam memilih atau menikahi wanita.

Seorang anak awal mula belajar adalah di rumah kepada bapaknya Ibunya dan lainnya dari anggota keluarga menghafal al-quran di kenalkan iman Islam kisah dari Alquran dan hadis demikian teladan generasi terdahulu hingga sekarang Imam Syafi’i kecil di didik ibunya hingga Alquran ketika berumur 7 tahun setelah baik ilmu dan hafalan al-qur’an kalau udah mulai belajar menulis dan belajar mencari ilmu di luar rumah kapan mulai belajar di luar rumah ini diperselisihkan umur minimalnya meriwayatkan bahwa Ahmad bin Rabah radhiallahu Anhu mulai memahami pengajaran Nabi waktu itu beliau 5 tahun.

Sekolah umum atau pesantren?

Berbicara mengenai pendidikan di luar rumah maka dalam konteks Indonesia secara umum terdapat dua model Madrasah pertama sekolah umum yang pengajarannya mengacu kepada kurikulum dari pemerintah kedua pesantren yang mengembangkan sendiri program belajarnya satu dengan yang lainnya berbeda ada kurang dan teknis pengajaran akan tetapi semua Pesantren sama pada lima hal yang menjadi ciri khasnya.

Kekhasan pesantren yang pertama adalah kumparan dan Kyai Ia adalah sosok yang biasanya selain pendiri pesantren yang memberi pengajaran agama pada masyarakat hampir semua Pesantren awalnya adalah majelis pelajaran agama rutin dilakukan di tengah masyarakat dan kemudian berkembang dari bawah ini kecil disebabkan kebutuhan yang benar seorang Kyai adalah pusat yang menata itu semua.

Kekhasan kedua adalah keberadaan masjid karena ini adalah tempat utama di mana salat jama’ah majelis pengajaran diselenggarakan bahkan di masjid pula murid tinggal ketika Pesantren malu memiliki asrama.

Kekerasan ketiga adalah adanya pondok atau asrama untuk menginap tempat tinggal santri yang datang dari tempat yang jauh atau dekat namun memilih hidup di asrama di asrama lah para pelajar belajar kemandirian bersosialisasi dan belajar mengulang hafalan dan pelajaran.

Kekhasan 4 pelajaran menggunakan kitab klasik berbahasa Arab dan yang kelima adalah santri yang 24jam hidupnya padat dengan kegiatan belajar dan mengamalkan ilmu sejak bangun subuh hingga tidur Isya.

Belajar di masjid adalah sesuai hadis yang diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi Abu Isa

(belum selesai)

Categories
Adab dan Akhlak Pesantren

Ilmu ada bertingkat-tingkat, jalur, dan urutan

Belajar ilmu agama adalah hal yang mulia sekali. Biasanya yang masuk ke dalam medan ini orang-orang yang menginginkan memperbaiki dirinya kemudian memperbaiki orang lain setelahnya. Ilmu ini adalah yang disifatkan sebagai warisan para nabi. Karena nabi tidak mewariskan uang. Dengan ilmu agama Allah angkat sebagian kaum dari lainnya. Dengan ilmu agama ini yang bersesuaian dengan petunjuk nabawiyyah lah Allah diibabadahi. Dari awal sampai ujungnya tidak ada aib di dalamnya. Dari awal sampai ujungnya mengandung keberkahan. Dari awal sampai ujungnya tidak bisa ditandingi oleh ilmu manapun.

Dengan sifat-sifat ilmu agama yang mewah tadi menjadi magnet yang luar biasa menarik bagi hamba-hamba Allah yang ingin mengambilnya. Mereka tahu bagaimana kedudukan pemilik ilmu tersebut dari kalangan sahabat Nabi, tabi’in, tabiut tabi’in yang mulia di dunia dan janji mulia di akhirat.

Akan tetapi mungkin penting untuk diulang-ulang nasihat ini, terutama lagi di zaman kita hidup atau sebagian lahir di zaman banyak hal instan, jalan pintas, akselerasi dan sebagainya. Mungkin tidak disadari nilai instan itu sudah masuk menjadi kebiasaan dan cara pandang biasa. Ditambah menjadi bias keberadaan tukang khutbah yang terkenal di media, jalan pintas. Seakan hal yang instan itu normal, standar, tidak ada yang aneh menyimpang.

Ibnu ‘Abdil Barr An-Namri Al-Qurthubi rohimahullah berkata:

طلب العلم درجات ومناقل ورتب، لا ينبغي تعديها، ومن تعدها جملة؛ فقد تعدى سبيل السلف -رحمهم الله- ومن تعدى سبيلهم عامدًا؛ ضل، ومن تعداه مُجتهدًا؛ زل

Menuntut ilmu itu bertingkat-tingkat, jalur, dan urutannya. Tidak sepantasnya keluar dari batasan itu. Siapa yang keluar dari batas seluruhnya maka dia keluar dari jalan salaf rohimahumullah, dan siapa yang melanggar keluar dari jalan itu sengaja, dia sesat, dan siapa yang keluar dari jalan itu berangkat dari ijtihadnya, dia pasti tergelincir.
Gambar ini hanyalah ilustrasi untuk memvisualkan apa itu مَنَاقِلٌ / jalur, bahkan ilmu bukanlah seperti barang yang dimasukkan ke dalam kardus.

Oleh karena itu jika kita renungkan wasiat dari Imam Ibnu Abdil Barr tersebut, tidak boleh seorang menuntut ilmu dengan semaunya karena tidak akan pernah mencapai tujuannya, bahkan dia tersesat atau tergelincir di tengah jalan tersebut. Siapa yang tidak kenal Ibnu Abdil Barr? Ia adalah imam besar, penulis kitab At-Tamhid dan Al-Istidzkar dua kitab fenomenal fantastis yang mengumpulkan ilmu yang kolosal, sangat banyak, ia mengumpulkan sanad-sanad sehingga tersambung riwayat Muwatho’ yang sanadnya dipaparkan tidak lengkap oleh Imam Malik, dan lainnya dari keagungan ulama robbani ini.

Kami mengetengahkan tentang ini bukan didasari hasil memata-matai orang lain. Akan tetapi ini berangkat dari suatu yang memang menimpa kami berupa ingin cepat melahap kitab-kitab yang lebih dan lebih. Ingin cepat-cepat menyelami lautan ilmu, ingin mengetahui rahasia-rahasia ilmu syari, kenikmatan yang ulama-ulama kita rasakan. Akan tetapi ternyata hal ini bukanlah jalan yang benar. Bahkan cara pandang yang berbahaya. Merugikan diri sendiri dan penyesalan di belakang hari. Jazahumullah khairo kepada para guru, kyai, dan masyayikh yang menasihati dan mengarahkan kami.

Bahkan jika kita pikirkan secara sederhana, tidak seharusnya kita berpikir untuk mengambil jalan pintas dalam ilmu syar’i. Bukan semata-mata untuk beradab di hadapan ilmu dan pemiliknya dan juga pemegangnya, meskipun itu semua hal yang sangat penting yang mempengaruhi berkah tidaknya ilmu yang kita pelajari. Akan tetapi ilmu ini adalah untuk diamalkan, untuk kemaslahatan diri kita sendiri. Secepat apapun, sebanyak apapun jalan pintas yang seorang tempuh selain pasti membuat dia salah jalan, itu juga pasti tidak akan pernah membuat dia mencapai ujungnya ilmu, karena ilmu ini lautan tak bertepi yang dalamnya tidak terdeteksi.

Categories
Maisyah Orang tua Pesantren

Pssttt… Seperti Inilah Pesantren Idaman!

Pesantren Tradisional Idaman?
Ini Dia Pesantren Idaman
Pesantren Modern Idaman?

Pesantren idaman adalah yang mengumpulkan kebaikan kenyamanan dari pesantren tradisional dan pesantren kekinian.

Sifat pesantren tradisional:

  • Birokrasi sangat minimalis.
  • Biaya relatif murah.
  • Tidak dibatasi umur.
  • Tidak mengenal istilah naik kelas.
  • Siswa lebih bebas karena tidak banyak peraturan.
  • Seleksi penerimaan murid relatif longgar.
  • Suasana adab dan khidmat kepada guru dan gotong royong.

Sifat pesantren kekinian:

  • Ada kurikulum sekolah baku.
  • Peraturan sekolah lebih detail dan memiliki psikolog dalam bentuk “Guru BK”.
  • Ada ujian yang sistematis dirancang bisa mengetahui kadar pemahaman murid.
  • Suasana dirancang untuk siswa maksimal berprestasi.
  • Lingkungan sekolah lebih ramah secara sosial dan indah secara fisik.
  • Pengajar profesional dan juga konsisten dievaluasi.
  • Fasilitas sekolah lengkap secara umum.

Akan tetapi, sayangnya, hal itu MEMANG MUNGKIN TERJADI akan tetapi sangat sulit untuk direalisasikan, di negara kita ini setidaknya. Tapi bukan berarti tidak ada, karena dari sekian puluh ribu sekolahan senegara pastinya ada yang MENDEKATI tipe sekolah idaman di atas, minimal orang mencari sekolah bagus fasilitas dan murah. Namun tidak beririsan dgn sifat lainnya.

Mungkin sekolah idaman tersebut kemungkinan besar berhasil anda temukan jika anda mencari sekolah di Kerajaan Arab Saudi di mana banyak alim ulamanya yang level tinggi, kemudian siswa yang umumnya niat untuk menuntut ilmu, dan dukungan penuh dari negara, dan tempat belajar yang di jantung peradaban islam.

Oleh karena sulitnya mencari sekolah idaman, maka cerdaslah anda sebagai orang tua, hal apa yang ingin ditanamkan kepada anak anda lalu cari dan analisa kekurangan yang menyertai sekolah tersebut, lalu jika anda sudah menemukan sekolah yang paling baik, pahamkanlah kepada anak hal tsb sembari siapkan kekuatan hati anak untuk menghadapi tantangan hidupnya di pesantren nanti.

Sesungguhnya, tidak ada jalan yang mulus ketika menempuh belajar agama, benar-benar membutuhkan keteguhan kesabaran dan di atas itu semua adalah taufiq dari Allah subhanahu wa ta’ala. Maka, dukunglah terus anak anda, berikan kalimat-kalimat penyemangat, besarkan hatinya terus dan terus, rawat cita-citanya dan bekali dengan sebaik mungkin hingga ia mencapai titik kemandirian.

Semoga Allah berikan taufiq-Nya kepada kita semua…. Aaamiiin…

Categories
Nahwu Pesantren

Penjelasan tentang Mubtada’ (berbagai sumber)

Syarah Al-Ajurumiyyah Syaikh Utsaimin

Mubtada’ adalah isim marfu yang kosong dari ‘amil-amil lafzhiyyah. Dan terbagi kepada dua zhahir (nampak) dan mudhmar.

Tanda yang zhahir adalah bagaimana definisi yang di atas (Isim marfu‘ yang kosong dari AmilAmil lafzhiyyah). Adapun yang mudhmar (berupa dhomir) ada 12 (أنا، نحن، أنتَ، أنتِ، أنتما، أنتم، انتنّ، هو، هي، هما، هم، هن).

Tuhfatul Wushobiyyah

Secara Bahasa: ما يبدأ به الكلام (Sesuatu yang memulai Kalam).

Secara istilah: Isim marfu’ yang kosong dari amil-amil lafzhiyyah.

Beberapa Mahfum Mukholafah dari definisi di atas:

  • Isim: berarti fi’il dan huruf tidak bisa menjadi mubtada’.
  • Kosong dari amil-amil lafzhiyyah: berarti fa’il dan yang bisa menggantikan fa’il tidak bisa menjadi mubtada’ (Alasannya adalah karena fa’il dan na-ibul fa’il memiliki amil yang lafzhiyyah yakni fi’il).

Contoh: العلم نافعٌ, والصلح خيرٌ.

Mubtadayang mudhmar

  1. أنا untuk mutakallim wahdah mudzakar maupun muannats. Contoh: أنا قائم
  2. نحن untuk mutakallim al-muazzhom nahfsahu atau Ma’arif ghoirihi. Contoh: نحن قائمون.
  3. أنتَ untuk mukhotob mufrod mudzakkar.
  4. أنتِ untuk mukhotob mufrod muannats.
  5. أنتما untuk mukhothobain mudzakar atau muannats.
  6. أنتُمْ untuk jama’ mudzakar mukhotobin.
  7. أنتُنَّ untuk jama’ muannats mukhotobat.
  8. هو untuk mufrod ghoib mudzakkar.
  9. هي untuk mufrodah ghoibah muannats.
  10. هما untuk mutsanna ghoib mudzakkar dan muannats. (Yang menjadi mubtada’ adalah huruf هـ)
  11. هُمْ untuk jama’ muannats mudzakar ghoib (Yang menjadi mubtada’ adalah huruf هـ).

Mubtada’ di semua contoh di atas adalah dhomir munfashil fi mahalli rof-‘in ‘alal ibtida’.

AlHulal AdzDzahabiyyah

Definisi:
عبارات عما اجتمع فيه ثلاثه امور الاول ان يكون اسم فخرج عن ذلك الفعل و الحرف و الثاني ان يكون مرفوعا فخرج بذلك المنصوب والمجرور بحرف الجر الاصلي الثالث ان يكون عاريا عن العوامل اللفظية و معنى هذا ان يكون خاليا عن العوامل اللفظية مثل الفعل ومثل (كان) واخواتها فان الاسم الواقع بعد الفعل يكون فاعلا او نائبا عن الفاعل على ماسبق، و الاسم الواقع بعد (كان) او احدى اخواتها يسمى اسم كان ولا يسمى مبتدأ.

Mubtada adalah suatu ungkapan tentang sesuatu yang terkumpul di dalamnya tiga hal. Yang pertama, dia adalah isim sehingga keluar darinya fi’il dan huruf. Yang kedua, dia keadaannya marfu‘ sehingga keluar darinya yang manshub dan majrur disebabkan huruf Jar yang asli. Yang ketiga, keadaan dia terbebas dari ‘amil lafzhi. Maknanya terbebas dari Amil lafdzi adalah seperti fiil , Kana (كان) wa akhwatuha, karena Isim yang terletak setelah fi’il di adalah Fa’il atau penggantinya, dan Isim yang terletak setelah kana atau salah satu saudaranya dinamakan Isim Kana dan tidak di namakan mubtada’.

  • Amil-amil lafzhiyyah ada banyak contohnya Kana wa akhwatuha, inna wa akhwatuha, zhonna waktu dari selain dari mereka.
  • Yang dimaksudkan dengan ‘amil adalah yang bisa memberikan pengaruh terhadap mubtada’ secara LAFAZ dan MAHALL nya.
Faidah Bagus!
  • Amil lafzhiyah lebih kuat dari Amil maknawiyah (lihat Syudzur adz-Dzahab, al-Kawakib)
  • أنتنَّ dirincikan: (أنْ) dhomir munfashil, (التَاء) huruf khithob (madzhab jumhur) lihat penjelasan Mughnil Labib milik Ibnu Hisyam (1/27), Syarhul Asymuni, Hasyiyah Ash-Shobbaan, dan Hasyiyah Al-Kafrowi (hal.90).

Mutammimah Al-Ajurumiyyah Tahqiq Malik bin Salim

Mubtada’ yang zhahir ada dua bagian

  1. Mubtada’ yang setelahnya Khobar (مبتدأ له خبر). Contoh: اللّه ربُّنا, محمدٌ رسول الله.
  2. Mubtada‘ yang setelahnya isim marfu’ yang menempati posisi Khobar (مبتدأ له مرفوع سدّ مسدّ الخبر) (Tahqiq: maksudnya Isim marfu’ adalah Fail atau naibul fail; maksud Sadda masaddal Khobar adalah dengan adanya dia menjadi tidak butuh menyebutkan Khobar). Dia adalah isim fa’il dan isim maf’ul jika didahului pe-nafyi atau peng-istifham (اسم الفاعل واسم المفعول إذا تقدم عليهما نفيٌ أو استفهام). Contoh:
  •  أقائمٌ زيدٌ؟ (Zaid: فاعل سد مسد الخبر).
  • , وما قائمٌ الزيدان
  • , هل مضروب العمران؟
  •  , ما مضروب العمران (Al-‘Umaroni: نائب الفاعل سد مسد الخبر).

Beberapa Hal Yang Membolehkan Mubtada’ Dalam Bentuk Isim Nakiroh.

  • Tahqiq: Karena Isim nakiroh itu majhul, dan hukum untuk Isim nakiroh adalah tidak memiliki faidah, secara umum.
  • Tahqiq: “hal yang membolehkan” artinya sebab yang membolehkan memulai kalimat dengan dia, dan sebab tersebut adalah: “memberikan faidah“.

Hukum asalnya mubtada’ adalah isim ma’rifah (Antonim nakiroh). Akan tetapi pada keadaan ini maka Mubtada’ boleh nakiroh.

  • Ada pe-nafyi atau peng-istifham mendahului mubtada’. Contoh: هَلْ رَجلٌ جالسٌ, dan أَ ءِلٰهٌ مع اللّه
  • Mubtada’-nya disifatkan. Contoh: ولعبدٌ مؤمنٌ خير
  • Mubtada’-nya dalam bentuk idhofah. Contoh: خمسُ صلواتٍ كتبهنّ اللّه.
  • Keadaan Khobar-nya muqoddam dan bentuknya zhorof atau jarmajrur. Contoh: عندك رجلٌ dan ولدينا مزيدٌ dan و علَىٰٓ أبصٰرهم غشٰوةٌ.

Terkadang mubtada’ berbentuk mashdar muawwal (susunan dari أنْ+فعل). Contoh: وأنْ تصومواْ خيرٌ لكم

Al-Qowa’id Al-Asaasiyyah

  • Mubtada’ harus ma’rifah karena untuk sesuatu yang diberikan hukum diatasnya maka harus diketahui agar hukum itu memberikan faedah dan juga dikarenakan bentuk pengkhabaran untuk sesuatu yang majhul adalah tidak memiliki faedah, pendengar akan tidak nyambung, dan tidak merasa bulat. Maka jika nakiroh itu bisa memberikan faedah maka boleh memulai kalam dengan nakiroh tadi. Yaitu jika nakiroh itu menunjukkan kepada sesuatu yang umum atau menunjukkan kepada sesuatu yang khusus.
  • Jika dia mengkhususkan maka nilainya dekat dengan ma’rifah. Contoh: Pensifatan secara lafzhi (contoh: عدوٌ عاقلٌ خيرٌ من صديقٍ جاهلٍ), Pensifatan secara taqdiri (contoh: ويلٌ أهون من ويلين maknanya ويلٌ واحدٌ أهون من ويلينِ), Idhofah secara lafzhi (contoh: حلية الأدب خير حليةٍ), idhofah ma’nawiyah (contoh: كلُّ يموت maknanya ٍكل واحد), tashghir (contoh: كتيِّبٌ هذَّبَ أخلاقيّ).
  • Jika dia meng-umum-kan maka dia mencakup semua elemen-elemen jenis sehingga menyerupai dengan -ألْ الجنسية-. Yaitu: Jika dia Isim syarat (contoh: من سلّ سيف البغيِ قتل به), Isim istifham (contoh: من فعل هذا؟), jika terletak setelah pe-nafyi atau peng-istifham, jika terletak setelah rubba (ربّ- (contoh: ربَّ عذرٍ أقبح من ذنبٍ), jika terletak setelah -كم الخبرية- (contoh: كم نصيحةٍ بذلناها), jika terletak setelah -فاء الجزاء- (contoh: إنْ ذهب عيرٌ فعيرٌ في الرباط).

Mubtada Wajib Diletakkan di Depan Khobar Pada Empat Tempat

  1. Mubtada sesuatu yang harus diletakkan di depan, seperti isim istifham dan isim syarat, maa ta’ajjub (ما التعجبية), kam al-khobariyyah (كم الخبرية), dhomir sya’n yang bersama lam ibtida (ضمير الشأن المقرون بلام الإبتداء), maushul yang khobar-nya diawali huruf fa, contoh: الذي ينجح أول التلاميذ فله جائزةٌ
  2. Jika mubtada’ memang terbatas hanya pada khobar-nya, contoh: إنما الحديد صلبٌ.
  3. Jika khobar-nya berbentuk jumlah filiyyah dengan fail-nya dhomir mustatir yg kembali ke mubtada’, contoh: الحق يعلو.
  4. Jika mubtada’dan khobar dua-duanya ma’rifah, contoh: كتابي رفيقي atau dua-duanya nakiroh yg setara takhsis dan ta’rif-nya, contoh: أكثر منك سنًّا أكثر منك تجربةً.

Khobar Wajib Diletakkan di Depan Mubtada’ Pada Empat Tempat

  1. Jika khobar termasuk lafazh-lafazh yang memiliki hak untuk diletakkan di depan. Contoh: أين كتابك؟, متى الإمتحان؟, كيف الخلاص؟.
  2. Jika khobar terbataskan dengan mubtada’ tersebut. Contoh: ما عادل إلا ربيِّ.
  3. Jika khobar adalah zhorof atau jarmajrur dan mubtada’-nya nakiroh tidak punya musawwigh. Contoh: عندك أدبٌ, للقادم دهشةٌ.
  4. Jika pada mubtada’ ada dhomir yang terkait ke khobar-nya, contoh: للعامل جزاء عمله.

Mubtada’ Wajib Dihapus Pada Lima Tempat

  1. Jika khobarnya adalah َبِئْس dan َنِعْم.
  2. Jika khobarnya adalah naat yang terputus dari matbu‘-nya. Misal dalam konteks rahm (رحم) contoh: رحمه اللّه عمرُ العادلُ maknanya رحمه الله عمرُ هو العادلُ. Atau dalam konteks celaan (ذمّ) contoh: ُأعوذ بالله من الشيطانِ الرجيم maksudnya: ُأعوذ بالله من الشيطانِ هو الرجيم. Atau contoh: تصدق على الفقيرِ المسكينُ maksudnya تصدق على الفقيرِ هو المسكينُ.
  3. Jika khobarnya mashdar marfu’ naa-iban manaabal fi’l. Contoh: صَبْرٌ جميلٌ yang artinya صَبْري صبرٌ جميلٌ.
  4. Jika jawab qosam adalah sadda masadda al-mubtada’. Contoh: فيْ ذِمتيْ لأفعلنَّ, dengan makna: فِيْ ذمتيْ يَمِيْنٌ.
  5. Setelah kata -لَا سِيّمَا- jika mustatsna bihi-nya marfu‘. Contoh: أكرم الزعماء لا سيّما سعدٌ , maksudnya: أكرم الزعماء لا سيّما هو سعدٌ.

Tempat Yang Khobar Wajib Dihapus

  1. Jika mubtada’ shorih dalam konteks sumpah. Contoh: أيمن الله لأنصفنّ المظلوم, maksudnya: أيمن الله يميني لأنصفنّ المظلوم.
  2. Mubtada datang setelah laulaa (لولا). Contoh: لولا الجندُ ما حافظت أمة على استقلالها, atau لولا النيلُ لكانت مصر فقرًا maksudnya: لولا النيل موجودٌ لكانت مصر فقرا.
  3. Jika mubtada’ ter-‘athof-kan ke Isim dengan huruf waw yang bermakna mushohabah. Contoh: كل إنسان وعملُه, maksudnya: كل إنسان وعملُه مقترنان.
  4. Jika mubtada’ adalah mashdar yang ter-idhofah-kan ke mamul-nya, atau jika mubtada’ adalah Isim tafdhil yang ter-idhofah-kan ke mashdar shorih atau ke mashdar muawwal yang diikuti dengan -حال سدت مسد الخبر- dan hal tersebut tidak bisa menjadi Khobar. Contoh: عهدي بك نبيها atau أكثرُ سفرٍ سليمٍ ماشيًا maksudnya: أكثرُ سفرٍ سليمٍ إذا كان ماشيا.
Categories
Pesantren Ushul fi Tafsir

Nuzulul Qur’an -Ushul fit Tafsir 02

ALQuran pertama kali turun kepada Rosulullah shollallahu alaihi wasallam pada malam lailatul qodar bulan ramadhan. Allah berfirman:

  • إنا أنزلناه في ليلة القدر (Al-Qodr:1)
  • إنا أنزلناه في ليلة مباركة إنا كنا نذرين. فيها يفرق كل أمر حكيم (Ad-Dukhan 3-4)
  • شهر رمضان الذي أنزل فيه القران هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان (Al-Baqoroh: 185)

Waktu itu umurnya Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam adalah 40 tahun menurut pendapat yang masyhur di sisi ulama. Hal ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, Atho’ dan Sa’id bin Al-Musayyab dan selain mereka. Dan umur ini adalah titik tercapainya kedewasaan dan kesempurnaan akal dan sempurnanya kesadaran.

Yang menurunkan Al-Quran dari Allah ta’ala ke Nabi Muhammad adalah Jibril salah satu malaikat yang paling dekat yang mulia. Allah berfirman tentang Al-Quran ini:

وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ (١٩١) وَإِنَّهُ ۥ لَتَنزِيلُ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ (١٩٢) نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلۡأَمِينُ (١٩٣) عَلَىٰ قَلۡبِكَ لِتَكُونَ مِنَ ٱلۡمُنذِرِينَ (١٩٤) بِلِسَانٍ عَرَبِىٍّ۬ مُّبِينٍ۬ (١٩٥) (Asy-Syu’ara 191-195)

( 191 )   Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. ( 192 )   Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, ( 193 )   dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ( 194 )   ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, ( 195 )   dengan bahasa Arab yang jelas.
Dan Malaikat Jibril itu memiliki sifat-sifat yang sangat bagus nan adi, berupa kemuliaan, kekuatan, kedekatan kepada Allah, kedudukan, penghormatan di antara malaikat, amanah, ihsan, kesucian yang dengannya menjadikan ia memenuhi syarat untuk menjadi utusan Allah membawa wahyu kepada rasul-Nya. Allah berfirman:
إِنَّهُ ۥ لَقَوۡلُ رَسُولٍ۬ كَرِيمٍ۬ (١٩) ذِى قُوَّةٍ عِندَ ذِى ٱلۡعَرۡشِ مَكِينٍ۬ (٢٠) مُّطَاعٍ۬ ثَمَّ أَمِينٍ۬ (٢١)
( 19 )   sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), ( 20 )   yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, ( 21 )   yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya.
Firman-Nya yang lain:
عَلَّمَهُ ۥ شَدِيدُ ٱلۡقُوَىٰ (٥) ذُو مِرَّةٍ۬ فَٱسۡتَوَىٰ (٦) وَهُوَ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡأَعۡلَىٰ (٧)
( 5 )   yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. ( 6 )   yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. ( 7 )   sedang dia berada di ufuk yang tinggi.
Dan firman-Nya yang lain:
قُلۡ نَزَّلَهُ ۥ رُوحُ ٱلۡقُدُسِ مِن رَّبِّكَ بِٱلۡحَقِّ لِيُثَبِّتَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَهُدً۬ى وَبُشۡرَىٰ لِلۡمُسۡلِمِينَ (An-Nahl:102)
Allah ta’ala sudah menerangkan kepada kita sifat-sifat Jibril yang turun membawa Al-Qur’an dari sisi Allah. Dan hal tersebut menunjukkan keagungannya Al-Qur’an dan juga perhatian-Nya Allah ta’ala kepada Al-Qur’an. Karena sesungguhnya Dia tidak akan mengutus suatu yang besar kecuali dengan perkara yang besar juga.
Categories
Pesantren Terjemah Ushul fi Tafsir

Al-Qur’an Al Karim – Ushul fit Tafsir 01

Al Quran secara bahasa adalah mashdar dari قرأ yang bermakna تَلَا atau bermakna جَمَعَ. Sebagaimana kamu mengucapkan قَرَأَ – قُرْءًا – قُرْآنًا , sebagaimana engkau mengucapkan غَفَرَ – غَفْرًا – غُفْرَانًا. Maka diatas makna yang pertama yaitu تَلا adalah mashdar yang memiliki makna Isim maf’ul yaitu bermakna مَتْلُوٌّ (yang dibaca). Sedangkan jika di atas makna yang kedua yaitu جَمَعَ maka dia keadaannya adalah mashdar yang bermakna Isim fa’il yaitu bermakna جَامِعٌ dinamakan demikian karena Al-Qur’an mengumpulkan berita-berita (pent: hari-hari yang telah berlalu) dan hukum-hukum.

Adapun Al-Qur’an  secara syariat Islam definisi adalah: Kalamullah ta’ala (pent: ini adalah aqidahnya ahlussunnah) yang diturunkan secara bertahap kepada utusan-Nya dan penutup para Nabi, Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam yang diawali dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri oleh surat An-Naas (pent: sebagaimana urutan ini adalah ijma’ Sahabat Nabi).

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
انا نحن نزلنا عليك القران تنزيلا.

Dan juga berfirman:
انا أنزلنه قرانا عربيا لعلكم تعقلون.

Dan Allah telah dan akan selalu menjaga Al-Qur’an  yang mulia ini dari semua jenis perubahan dan semua bentuk penambahan dan semua bentuk pengurangan dan semua bentuk penggantian. Allah –Subhanahu Wa Ta’ala– telah menjamin penjagaan Al-Qur’an  itu seraya berfirman:
انا نحن نزلنا الذكر وإنا له لحافظون.

Dikarenakan hal tersebutlah maka sudah berlalu abad demi abad yang sangat banyak dan tidak pernah mampu satupun dari musuh-musuh Allah untuk memberikan perubahan di dalamnya atau memberikan tambahan atau memberikan pengurangan atau melakukan penggantian-penggantian dari isi Al-Qur’an kecuali pasti Allah singkap tirai mereka itu dan membuka jelas apa yang mereka lakukan (pent: Allah bongkar aib dan urusan mereka) .

Dan Al-Qur’an, Allah memberikan sifat kepadanya dengan sifat-sifat yang sangat banyak, yang mana sifat-sifat tersebut menunjukkan kepada keagungannya dan keberkahannya dan kelengkapannya dan keberpengaruhanya dan bahwasanya Al-Qur’an itu adalah hakim (menghukumi, menghapus) semua kitab-kitab sebelumnya.

Allah –subhanahu wa ta’ala– berfirman:

  • ولقد اتيناك سبعا من المثاني والقرءان العظيم (pent: berkata Syaikh As-Si’di di kitab tafsirnya: maksudnya adalah surat-surat yang panjang Al Baqoroh, Ali Imran, An Nisa, Al Maidah, Al An’am, Al A’rof, Al Anfal dengan At Taubah. Dan ada yang mentafsirkan dia adalah surat Al Fatihah karena ada tujuh ayat. Dan pendapat yang pertama didasari karena banyaknya makna-makna tauhid dan ilmu ghoib dan hukum yang sangat agung. Dan pendapat yang kedua, makna sab’an matsani adalah tujuh ayat).
  • والقرءان المجيد
  • كتاب انزالنه اليك مبارك ليدبروا ايته وليتذكر اولوا الألبب (makna mubarok: di dalamnya kebaikan yang banyak dan ilmu yang deras tidak ada habisnya. Petunjuk untuk lepas dari kesesatan, dan penyembuh dari semua penyakit, dan cahaya yang bisa menerangi kegelapan, dan hukum yang para mukallaf mengambil hujjah dengannya. Berkata ibnul Qoyyim: Al-Qur’an adalah obat untuk sakit badan dan hati).
  • وهذا كتب أنزلنه اليك مبارك فاتبعوه واتقوا لعلكم ترحمون
  • انه لقرءان كريم
  • ان هذا القرءان يهدي للتي هي اقوم
  • لو انزلنا هذا القرءان على جبل لرايته خاشعا متصدعا من خشية الله وتلك الامثل نضربها للناس لعلهم يتفكرون
  • وإذا ما انزلت سورة فمنهم من يقول ايكم زادته هذه ايمانا فاما الذين امنوا فزادتهم ايمانا وهم يستبشرون. واما الذين في قلوبهم مرض فزادتهم رجسا الى رجسهم وماتوا وهم كافرون.
  • وأوحي الي هذا القرءان لانذركم به ومن بلغ
  • فلا تطع الكافرين وجاهدهم به جهادا كبيرا
  • ونزلنا عليك الكتاب تبينا لكل شيء وهدى ورحمة وبشرى للمسلمين
  • و انزلنا إليك الكتب بالحق مصدقا لما بين يديه من الكتب ومهيمنا عليه فاحكم بينهم بما انزل الله

Dan Al-Qur’an  Al-Karim adalah sumber dari syariat Islam yang mana seorang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam diutus dengan membawa syariat-syariat itu untuk semua manusia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

تبارك الذي نزل الفرقان على عبده ليكون للعالمين نذيرا.

Dan firman Allah:

الر كتب أنزلنه اليك لتخرج الناس من الظلمت الى النور باذن ربهم الى صرط العزيز الحميد. الله الذي له ما في السموت وما في الارض وويل للكافرين من عذاب شديد.

Dan sunnah nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam adalah sumber dari syariat islam juga sebagaimana hal tersebut ditetapkan oleh Al-Qur’an . Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

  • من يطع الرسول فقد اطاع الله ومن تولى فما ارسلناك عليهم حفيظا.
  • ومن يعص الله ورسوله فقد ضل ضلالا مبينا
  • وما ءاتكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا واتقوا
  • قل ان كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم والله غفور رحيم

Categories
Adab dan Akhlak Pesantren

Keistimewaan Belajar di Pesantren

fb113193a654999396a904ad85dd9668_920_420Pertama-tama definisi pesantren yang saya maksudkan adalah suatu lembaga pendidikan yang menjadikan mesjid sebagai poros pendidikannya, di mana tempat yang paling dominan adalah mesjid. Itu adalah tempat yang pertama ada untuk belajar dan juga tempat istirahat santri, dan juga tempat makan pada awalnya.

Kemudian juga yang dimaksudkan adalah lembaga yang kyai-sentris atau sudah fokus ke manajemen akan tetapi memiliki citra sangat lekat dengan figur kyai pendiri atau penerusnya.

H.M. Sulthon Masyhud dan Moh. Khusnurdilo, dalam buku Manajemen Pondok Pesantren, mengatakan bahwa di pesantren “Pendidikan agama dilakukan seutuhnya dalam segala aspek kehidupan, sehingga para kyai tidak hanya mencerdaskan para santrinya tetapi juga mendidik moral dan spiritual”.

Pernyataan di atas tidak berlebihan banyak sekali faktor yang memungkinkan pendidikan agama dilakukan seutuhnya.

  • Santri dan guru tinggal di satu lingkungan yang sama. Jika kita katakan di kelas hanya mengajarkan nilai akademis. Maka diluar kelas guru yang sama menjalankan peran pendidikannya.
  • Pelajaran bisa kapan saja dilakukan atau dijadwalkan. Sejak subuh hingga setela isya. Bahkan di pesantren kami kyainya sering membuka pelajaran di waktu sahur seperti jam 3 pagi jika beliau harus pergi pada siang harinya. Sehingga dengan pelajaran yang dijadwalkan hampir seharian, interaksi pengajaran dan pendidikan berjalan lebih lengkap, dan santri lebih lengkap juga peluang bertanya, mengimplementasikan ilmu yang diterima di kelas dengan praktik langsung dengan pengamatan gurunya juga di waktu-waktunya. Misalnya langsung praktek sholat subuh, zuhur, sampai isya. Praktik azan dan iqomah, praktek wudhu, praktek menjaga kebersihan, kedisiplinan, praktek sosialisasi dengan teman, bertoleransi, menjaga emosi, membalas gangguan atau bersabar, dsb.
  • Pelajaran agama yang diajarkan sangat banyak aspek dan mendetail. Pertama kalinya belajar bahasa arab, sambil ada pelajaran aqidah dan fiqih, kemudian setelah bagus bahasa arabnya menanjak ke pelajaran ushul fiqh, mustholah hadits, kaidah fiqh, ilmu tafsir Al-Qur’an dengan berbagai kitab rujukan sesuai tingkatannya.
  • Dengan tinggal di asrama, santri yang aktif sangat bisa untuk menggali pelajaran ke teman seumurannya sekelasnya atau belajar ke kakak kelasnya. Mungkin pelajaran yang belum difahami atau pelajaran di atasnya yang belum diajarkan di kelas namun ia ingin pelajari karena sudah bisa memahami. Atau langsung bertanya saja ke guru, di mesjid atau datang ke rumahnya.

Belajar di pesantren tidak hanya mengajar luarnya saja.  Tapi luar dalam, lahir batin. tidak hanya luarnya saja. Cara pandang kyai terhadap “anak nakal” adalah: “Mereka masuk ke sini karena nakal. Kalau dikeluarkan maka lebih nakal lagi”. Perlakuan kyai kepada mereka adalah mendoakan mereka agar bisa menjadi baik. Seperti ketika berdoa, maka ditambahkan khusushon kepada fulan…fulan…fulan.

  • Tidak berarti di luar pesantren tidak ada yang seperti ini. Akan tetapi ruh ini lebih kental di pesantren dengan peran kyainya. Karena Ia selalu punya jadwal mengajar entah di mesjid pelajaran untuk semua santri atau khusus di dalam kelas sesuai tingkatan muridnya, yang pada kesempatan tersebut kyai tidak hanya mengajarkan akan tetapi juga melihat bagaimana perkembangan si murid, atau masalah apa yang sedang terjadi, atau memberikan pertanyaan-pertanyaan ke murid yang ada. Jika bisa menjawab maka Alhamdulillah, jika tidak bisa maka akan keluar komentar berupa nasihat atau do’a (allahu yahdik) misalnya.

Di pesantren dilakukan pendidikan (tarbiyah). Bukan sekedar pengajaran (ta’lim). Sedangkan yang bisa mengubah perilaku hanyalah tarbiyah. Kalau ta’lim hanya memberikan informasi. Kalau hanya sekedar ta’lim maka komputer kita lebih pintar lagi (ditanya apa saja bisa menjawab).

Inilah sedikit yang ada bisa saya tuliskan. Jika ada tambahan insya Allah akan diisi ke sini. Barokallahufik.

Rev 2: 25/1/2019