Categories
Bahrur Roiq Dakwah Orang tua

Tugas Rasul


(1) Yang paling utama, nomor satu adalah bahwa beliau adalah sebagai saksi. Apakah saksi yang memberikan bantuan ; meringankan ; pertolongan berpihak kepadanya disebabkan seorang hamba ketika di dunia selalu beramal soleh mengamalkan sunnah-sunnah beliau dan syariat Allah yang beliau diutus untuk itu, atau saksi yang memberatkan; menuntut dia; tidak memberikan jalan keluar dengan sebab dia meninggalkan ketaatan dan tidak melakukan ketaatan.
(2) Ia seorang yang banyak memberikan berita yang menggembirakan berupa pahala, surga dan nikmat-nikmatnya bagi siapa pun yang mentaati beliau . Dan ia orang yang banyak menyampaikan peringatan akan kepedihan siksa derita bagi siapa saja yang tidak mentaati beliau.
(3) Menghukumi di antara manusia. Menjadi pemutus perkara di antara orang yang berselisih.
(4) Mengajarkan manusia syariat-syariat Allah ‘azza wa jalla.

Sumber: Ithaful Qori Syarah Ats-Tsalatu Al-Ushul li Asy-Syaikh ‘Ubaid bin ‘Abdillah bin Sulaiman al-Jabiri hafizhohullah.

Ditulis:

Categories
Adab dan Akhlak Dakwah Orang tua Pesantren

Adab Da’i

Pada kitab Ithaful Qori li Syarhi Tsalatsatil Ushul, asy Syaikh ‘Ubaid bin ‘Abdillah bin Sulaiman al-Jabiri mengajarkan beberapa adab untuk orang yang mengajak kepada agama Allah:
(1) Keinginan yang kuat (Hirsh) agar manusia mendapat petunjuk ke jalan yang lurus.
(2) Lembut, pergaulan yang elok (Rifq), karena rifq tidaklah dia mensifati sesuatu pasti menjadi indah, dan jika hilang maka menjadi memalukan, menjatuhkan kehormatan orang tersebut.
(3) (Hikmah) Bijaksana di atas ilmu, menempatkan suatu sesuai tempatnya, sesuai dengan maqoshid asy-syari’ah.
(4) Al-Mau’izhoh Hasanah : Nasihat yang baik. Mengingatkan kepada akhlak yang baik, amalan soleh, ketakwaan. Apakah dengan mengingatkan nikmat-nikmat pahala-pahala surga, atau dengan ketakutan azab siksa neraka.
(5) Berdebat, mendebat kesalahan pihak lain dengan metode paling elok. Karena ada syubhat maka ambil cara yang paling dekat kepada tercapainya kebenaran dengan hal yg paling kuat dan menancap di sanubarinya.
(6) Al-Fiqh. Yakni keilmuan dia tentang apa pun yg perintah dan dilarang Allah dan Rasul-Nya.
(7) Menjelaskan Al-Haq untuk kebaikan manusia. Dan mendorong manusia untuk mengambil al-haq -di atas dalil-dalil.
(8) Tidak membawa jiwanya ke dalam penyesalan disebabkan orang tidak menyambut petunjuk Allah. Ini juga hal yang dilarang Allah kepada Nabi-Nya.
(9) Sedia menentang syubhat pengikut kebatilan dan pengikut hawa nafsu, membantahnya dengan uslub yg kuat, dan memperingatkan manusia agar berjauh-jauh dari mereka. Demikianlah yang Nabi shollallahu alaihi wasallam praktekkan.

Penerjemah : Wallahu a’lam jika ada kekeliruan tolong beritahu 🙏

Categories
Orang tua Pesantren

Pondok Pesantren Lembaga Pendidikan Terbaik (blm selesai)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman di Al Quran surat az-zariyat ayat 56

وما خلقت الجن والانس الا ليعبدون

Yang artinya Tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka mengiba dahi saya Sehun Islam Ibnu Taimiyah mendefinisikan ibadah dengan penamaan untuk semua yang Allah cintai dan Ridho ucapan maupun perbuatan nampak maupun tersembunyi ayat diatas dengan susunan diawali penafian dan disusul dengan penetapan sehingga makna penekanan sangat tinggi sehingga harus lah anak keturunan Adam menjadikan ibadah kepada Allah sebagai prioritas utama dalam hidupnya kemudian sebagaimana ibadah adalah tujuan diciptakan manusia maka kita haruslah mengetahui apa dan bagaimana hakikat ibadah Hal apa yang Allah cintai dan ridhoi Bagaimana kapan di mana dan pertanyaan lainnya Syekh Abdurrahman Bin nashir as-sa’di menjelaskan dua hadits dan hadits Aisyah tentang amalan yang ditolak dua hadis ini masuk ke seluruh sendi agama Islam aqidah maupun fiqihnya yang nampaknya maupun tersembunyinya hadits tentang niat adalah timbangan amalan-amalan yang tersembunyi dan hadits Aisyah timbangan amalan yang nampak di keduanya terkandung ikhlas kepada yang diibadahi dan ikut kepada rasul yang keduanya adalah syarat maka siapa yang memenuhi itu maka itulah yang amalnya diterima demi merealisasikan itu semua jalannya adalah mempelajari ilmu nya Allah berfirman

فاعلم انه لا اله الا الله واستغفر لذنبك

Yang artinya maka ketahuilah bahwa tidak ada rok yang haq untuk disembah kecuali Allah dan Mintalah ampunan untuk semua dosamu di ayat tersebut Allah Azza wa Jalla memulai dengan kalimat perintah yang maknanya perintah untuk mempelajari Syekh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah berkata yang artinya ketahuilah Semoga Allah merahmati kamu bahwasanya wajib kepada semua muslim dan muslimah mempelajari tiga perkara ini dan mengamalkannya Kenapakah datang banyak perintah untuk belajar di al-quran hadis dan Ucapan salam hingga zaman ini hal itu adalah karena semua manusia dari lahir dalam keadaan bodoh Allah Azza wa Jalla berfirman

والله اخرجكم من بطون امهاتكم لا تعلمون شيئا وجعل لكم السمع والابصار والافئده لعلكم تشكرون

Halo mengeluarkan kalian semua dari perut ibumu ibumu dalam keadaan kalian tidak tahu apa-apa dan Allah ciptakan untuk kalian pendengaran penglihatan dan akal Agar kalian bersyukur Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam diperintahkan belajar ayat pertama yang turun

اقرا باسم ربك الذي خلق

Bacalah hal ini menunjukkan semua manusia mendapat ilmu dengan jalan belajar tidak ada pengecualian

Para pembaca yang Semoga Allah rahmati semuanya Setiap anak memiliki hak untuk diajarkan ilmu agama dan itu menjadi kewajiban atas orang tuanya Ibnul qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa Allah akan bertanya kepada orang tua untuk perihal hak hak anaknya sebelum Asia nak ditanya atas hak orang tuanya sebagaimana Bapak Ibu memiliki hak atas anaknya begitu juga anak memiliki hak atas orang tuanya Allah berfirman

Yang artinya Wahai orang-orang yang beriman Lindungilah diri kamu dan keluarga kamu dari api neraka Ali Bin Abi Thalib radhiallahu Anhu mentafsirkan ajari mereka ilmu agama ajarkan adab kepada mereka Ibnul qayyim rahimahullah berkata maka Kapan orang tua lalai dari mendidik anaknya apa yang bermanfaat untuk si anak mengabaikan tanpa ada perhatian berarti orang tua sudah berbuat jelek pada anak dengan kejelekan yang puncaknya kebanyakan anak itu datang kejelekannya dari sisi Bapak karena kelalaian mendidik di agama kewajiban dan sunnahnya orang tua menyia-nyiakan anak di usia kecil sampai-sampai anak itu tidak bisa memberi manfaat untuk dirinya sendiri dan tidak juga kau orang tuanya di umur dewasa hingga sang anak berkata Wahai Ayahku engkau tidak memberi aku ketika kecil maka aku tidak memberi hak mu ketika dewasa kau tidak peduli padaku di saat kecil sekarang saya tidak peduli padamu saat engkau sudah renta.

Pembaca yang Allah rahmati belajar ilmu agama adalah jalan nya orang Mulia Allah mengabadikan kisah Nabi Musa menuntut ilmu kepada Qadir Allah Azza wa Jalla berfirman

Syekh Muhammad bin Shalih Al utsaimin menjelaskan bahwa Musa Alaihissalam lebih utama dari Khidir akan tetapi beliau tetap belajar melembutkan dihadapan gurunya orang lainnya karena Qodir akan memberikan ilmu atau mengusahakan mengambil ilmu yang ia tidak tahu.

Jika kita sudah mengetahui kuota main belajar ilmu agama maka Kapan dan di manakah yang dimulai maka jawabannya dibagi dua secara hakikat belajar sejatinya anak mulai belajar sejak Ia memiliki pendengaran yakni sejak di dalam kandungan ibunya Adapun dari sisi persiapan maka lebih awal lagi yakni sejak Sang Bapak memilih calon ibu buat si anak oleh karena itulah Rasulullah memerintahkan untuk melihat kebaikan agama sebagai faktor utama dalam memilih atau menikahi wanita.

Seorang anak awal mula belajar adalah di rumah kepada bapaknya Ibunya dan lainnya dari anggota keluarga menghafal al-quran di kenalkan iman Islam kisah dari Alquran dan hadis demikian teladan generasi terdahulu hingga sekarang Imam Syafi’i kecil di didik ibunya hingga Alquran ketika berumur 7 tahun setelah baik ilmu dan hafalan al-qur’an kalau udah mulai belajar menulis dan belajar mencari ilmu di luar rumah kapan mulai belajar di luar rumah ini diperselisihkan umur minimalnya meriwayatkan bahwa Ahmad bin Rabah radhiallahu Anhu mulai memahami pengajaran Nabi waktu itu beliau 5 tahun.

Sekolah umum atau pesantren?

Berbicara mengenai pendidikan di luar rumah maka dalam konteks Indonesia secara umum terdapat dua model Madrasah pertama sekolah umum yang pengajarannya mengacu kepada kurikulum dari pemerintah kedua pesantren yang mengembangkan sendiri program belajarnya satu dengan yang lainnya berbeda ada kurang dan teknis pengajaran akan tetapi semua Pesantren sama pada lima hal yang menjadi ciri khasnya.

Kekhasan pesantren yang pertama adalah kumparan dan Kyai Ia adalah sosok yang biasanya selain pendiri pesantren yang memberi pengajaran agama pada masyarakat hampir semua Pesantren awalnya adalah majelis pelajaran agama rutin dilakukan di tengah masyarakat dan kemudian berkembang dari bawah ini kecil disebabkan kebutuhan yang benar seorang Kyai adalah pusat yang menata itu semua.

Kekhasan kedua adalah keberadaan masjid karena ini adalah tempat utama di mana salat jama’ah majelis pengajaran diselenggarakan bahkan di masjid pula murid tinggal ketika Pesantren malu memiliki asrama.

Kekerasan ketiga adalah adanya pondok atau asrama untuk menginap tempat tinggal santri yang datang dari tempat yang jauh atau dekat namun memilih hidup di asrama di asrama lah para pelajar belajar kemandirian bersosialisasi dan belajar mengulang hafalan dan pelajaran.

Kekhasan 4 pelajaran menggunakan kitab klasik berbahasa Arab dan yang kelima adalah santri yang 24jam hidupnya padat dengan kegiatan belajar dan mengamalkan ilmu sejak bangun subuh hingga tidur Isya.

Belajar di masjid adalah sesuai hadis yang diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi Abu Isa

(belum selesai)

Categories
Maisyah Orang tua Pesantren

Pssttt… Seperti Inilah Pesantren Idaman!

Pesantren Tradisional Idaman?
Ini Dia Pesantren Idaman
Pesantren Modern Idaman?

Pesantren idaman adalah yang mengumpulkan kebaikan kenyamanan dari pesantren tradisional dan pesantren kekinian.

Sifat pesantren tradisional:

  • Birokrasi sangat minimalis.
  • Biaya relatif murah.
  • Tidak dibatasi umur.
  • Tidak mengenal istilah naik kelas.
  • Siswa lebih bebas karena tidak banyak peraturan.
  • Seleksi penerimaan murid relatif longgar.
  • Suasana adab dan khidmat kepada guru dan gotong royong.

Sifat pesantren kekinian:

  • Ada kurikulum sekolah baku.
  • Peraturan sekolah lebih detail dan memiliki psikolog dalam bentuk “Guru BK”.
  • Ada ujian yang sistematis dirancang bisa mengetahui kadar pemahaman murid.
  • Suasana dirancang untuk siswa maksimal berprestasi.
  • Lingkungan sekolah lebih ramah secara sosial dan indah secara fisik.
  • Pengajar profesional dan juga konsisten dievaluasi.
  • Fasilitas sekolah lengkap secara umum.

Akan tetapi, sayangnya, hal itu MEMANG MUNGKIN TERJADI akan tetapi sangat sulit untuk direalisasikan, di negara kita ini setidaknya. Tapi bukan berarti tidak ada, karena dari sekian puluh ribu sekolahan senegara pastinya ada yang MENDEKATI tipe sekolah idaman di atas, minimal orang mencari sekolah bagus fasilitas dan murah. Namun tidak beririsan dgn sifat lainnya.

Mungkin sekolah idaman tersebut kemungkinan besar berhasil anda temukan jika anda mencari sekolah di Kerajaan Arab Saudi di mana banyak alim ulamanya yang level tinggi, kemudian siswa yang umumnya niat untuk menuntut ilmu, dan dukungan penuh dari negara, dan tempat belajar yang di jantung peradaban islam.

Oleh karena sulitnya mencari sekolah idaman, maka cerdaslah anda sebagai orang tua, hal apa yang ingin ditanamkan kepada anak anda lalu cari dan analisa kekurangan yang menyertai sekolah tersebut, lalu jika anda sudah menemukan sekolah yang paling baik, pahamkanlah kepada anak hal tsb sembari siapkan kekuatan hati anak untuk menghadapi tantangan hidupnya di pesantren nanti.

Sesungguhnya, tidak ada jalan yang mulus ketika menempuh belajar agama, benar-benar membutuhkan keteguhan kesabaran dan di atas itu semua adalah taufiq dari Allah subhanahu wa ta’ala. Maka, dukunglah terus anak anda, berikan kalimat-kalimat penyemangat, besarkan hatinya terus dan terus, rawat cita-citanya dan bekali dengan sebaik mungkin hingga ia mencapai titik kemandirian.

Semoga Allah berikan taufiq-Nya kepada kita semua…. Aaamiiin…

Categories
Orang tua

Persiapan Agar Sukses di Bulan Ramadhan

  1. Hal paling utama sebagai bekal adalah belajar ilmu agama agar mengkuatkan ketakwaan kita kepada Allah. Baik, takwa yang seperti apa karena sejak kecil sudah berulang-ulang kita mendengar itu. Tabi’in yang mulia bernama Tholq bin Habib -rahimahullah- mendefinisikan ketakwaan dengan: “Anda melakukan keta’atan kepada Allah dengan cahaya Ilmu dari Allah dengan mengharapkan pahala Allah. Dan Anda meninggalkan durhaka kepada Allah di atas cahaya ilmu-Nya dikarenakan takut siksaan Allah”. Pondasi dari ketakwaan adalah ilmu yang berasal dari wahyu yakni Al-Qur’an dan Hadits yang maqbul. Kita tidak boleh mengikuti Nasrani yang mereka beribadah tapi tidak didasari dalil, karena mereka membuat-buat ibadah meski tidak disebutkan di kitab sucinya. Dan kita juga tidak boleh seperti Yahudi yang mana mereka enggan mengamalkan tuntunan agamanya meski mereka tahu, contohnya mereka tidak mau mengamalkan syariat rajam padahal tertulis di Taurat mereka.
  2. Hal nomor dua yang perlu kita persiapkan adalah, membiasakan sholat malam sebagaimana bulan ramadhan akan diisi dengan amalan tersebut. Dengan pembiasaan sholat malam mudah-mudahan menjadi sebab semangatnya kita menjalaninya di bulan tersebut.
  3. Membiasakan menjaga lisan. Karena menjaga lisan dari kata-kata yang buruk, kotor, tercela, keji adalah suatu yang dituntut untuk ditinggalkan terutama di bulan Ramadhan. Terdapat hadits shahih dari Nabi yang berbunyi: “Siapapun yang tidak meninggalkan ucapan yang sia-sia maka sesungguhnya Allah sama sekali tidak butuh kepada dia meninggalkan makan dan minumnya” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah).
  4. Mengajarkan atau mengajak anggota keluarga di rumah untuk bersiap menyambut rangkaian ibadah bulan Ramadhan. Tujuannya agar ada keharmonisan suasana, kekompakan satu keluarga dalam mengejar pahala ramadhan. Dengan adanya kesadaran bersama maka ibadah menjadi lebih mudah, tercipta berlomba-lomba dalam kebaikan, dan juga tentu saja kepala keluarga sudah seharusnya menghasung anggota keluarganya untuk taat kepada Allah kapanpun dan dimanapun
  5. Membenarkan kondisi hati kita. Ingat-ingat bahwa beribadah itu tujuannya hanya untuk Allah. Tidak boleh riya’ mengotorinya. Dan nomor dua ibadah harus sesuai petunjuk Nabi Muhammad. Jangan jadi seperti Nasrani yang beribadah semau pendetanya. Ingatlah bahwa: Ikhlas untuk Allah yang Maha Tinggi dan kesesuaian dengan petunjuk Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasaalam adalah dua tiang untuk tegaknya semua amalan shalih.

Penulis: Magang di Pesantren untuk DKM Nurul Hidayah, Komplek Reni Jaya Depok.

Categories
Orang tua

Persiapan Sebelum Ramadhan

Setiap orang tentu harus bersiap agar mampu meraih hasil maksimal pada segala hal. Apalagi yang diincar adalah pembebasan dari neraka di bulan ramadhan, diterima amal sholihnya dan dihapus segala dosanya, maka pasti persiapan untuk ini harus lebih optimal bahkan paling optimal yang ia bisa lakukan.

Ambil pelajaran dari sirah Nabi Muhammad. Sebagai persiapan menuju Ramadhan, Rasulullah memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Saya sama sekali belum pernah melihat rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dalam satu bulan sebanyak puasa yang beliau lakukan di bulan Sya’ban, di dalamnya beliau berpuasa sebulan penuh.” Dalam riwayat lain, “Beliau berpuasa di bulan Sya’ban, kecuali sedikit hari.” (HR. Muslim 1156).

Demikian juga dengan orang setelah Nabi Muhammad yang mengikuti sungguh-sungguh jalan beliau. Dengan sebab mereka tahu apa yang tersedia di bulan ramadhan berupa hikmah dan manfaat untuk akhirat, dilipatkan balasan kebaikan, hingga dibukanya pintu surga dan pembebasan dari neraka berikut cerita-cerita ajaib sebagian dari mereka.

Dikisahkan bahwa Mu’alla bin Al-Fadhl, salah satu ulama tabiu’ tabiin berkata, “Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan.

Jika benar kisah di atas maka memang sungguh kita tidak pernah meragukan ketakwaan para sahabat yang berada di level tertinggi umat para Nabi dan Rasul. Mereka adalah suatu umat yang paling jujur dalam beragama paling bersegera dalam kebaikan dan paling mencari kebaikan untuk akhiratnya. Ibnu Abi Mulaikah –ulama tabi’in rahimahullah— berkata, “Aku bertemu dengan 30 Sahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , mereka semua takut kalau-kalau ada nifak dalam dirinya”.

Sejujurnya kita seharusnya introspeksi seraya mengakui bahwa diri kita banyak kekurangan, aib, dan cacat. Akibat aib-aib tersebut –dan yang paling besarnya adalah kebodohan— kita malah menilai diri kita sudah bagus, baik, berhak masuk surga tidak khawatir adanya kemunafikan menimpa kita. Sehingga bagaimana tahun demi tahun, bahkan puluhan tahun berlalu namun kita belum pernah satu kalipun menyiapkan diri menyambut ramadhan seperti salaful umah (umat islam yang terdahulu). Kemudian dengan lugunya kita merasa bahwa amal ibadah ramadhan kita sangat optimal menyamai amalan para sahabat.

Sungguh itu –amalan yang optimal—tidak akan terjadi selamanya kalau kita tidak mempersiapkan diri. Sebagaimana tidak mungkin seorang menang dalam kompetisi olahraga jika dia tidak melakukan persiapan yang layak. Padahal olahaga itu cuma pekerjaan badan, sedangkan bulan ramadhan di dalamnya adalah amalan badan dan yang lebih besar lagi adalah amalan hati.

Pembaca Buletin Jum’at yang semoga Allah rahmati, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Hari ini adalah hari untuk bekerja dan tiada balasan. Dan esok adalah hari balasan tidak ada bekerja.”

Maka dalam konteks tersebut kita buat pendekatan pemahaman bahwasanya bulan ramadhan seperti periode kerja yang kerjanya ringan akan tetapi bayaran yang dijanjikan berlipat ganda. Bahkan apabila seseorang beramal ibadah bertepatan dengan lailatul qodar maka yang disebutkan di dalam hadits bahwa amal di waktu tersebut lebih baik daripada 1000 bulan.

Akan tetapi untuk bisa menjalani itu semua dengan sebaik-baiknya kita harus mempersiapkan sebelumnya. Bagaimanakah dan apakah persiapan yang harus dijalani? Mari baca tulisan di halaman belakang. Semoga Allah memberikan keberkahan kepada kita semua.

Penulis: Magang di Pesantren untuk Buletin Jum’at DKM Nurul Hidayah, Komplek Reni Jaya Depok.

Categories
Orang tua

Ramadhan Sebentar Lagi

Alhamdulillah robbil ‘alamin wa bihi nasta’in wa sholallahu ‘ala Muhammad. Kira-kira dua bulan dari sekarang yakni perkiraan tanggal 5 Mei dengan izin Allah kita semua akan masuk bulan suci Ramadhan, salah satu bulan haram dalam Islam. Allah -yang Maha Tinggi- berfirman:

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (At-Taubah:36).

Di dalam bulan Ramadhan Allah wajibkan salah satu rukun Islam yaitu puasa satu bulan. Allah -yang Maha Suci- berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (Al-Baqarah: 183).

Bulan Ramadhan adalah Bulan Rahmat dan Bulan Ampunan dan juga Bulan Ibadah. Dari sisi kita melakukan untuk Robb kita banyak ketaatan dan menjauhi larangan-Nya. Dan juga bukan sekedar menahan lapar dan minum, tetapi juga dari semua yang telah Allah haramkan dan menahan jiwa dari yang membuat Allah murka.

HUKUM PUASA RAMADHAN

Berdasarkan Al-Quran, Hadits, dan juga Ijma’ Ulama puasa ramadhan hukumnya adalah WAJIB untuk semua muslim yang sudah baligh, berakal, tidak memiliki uzur, dan punya kekuatan untuk berpuasa. Bahkan puasa ramadhan adalah rukun islam keempat, dengan bentuk menahan dari makan dan minum sejak munculnya fajr shodiq (awal waktu sholat subuh) sampai saat matahari terbenam (awal waktu sholat maghrib).

KEUTAMAAN PUASA RAMADHAN

Di dalamnya ada banyak keutamaan apakah untuk jiwa manusia, kesehatan, atau pendidikan:

  • Dibukanya pintu-pintu surga, dan bersamaa dengan itu ditutup pintu neraka, dan para setan dibelenggu.
  • Puasa di bulan ramadhan akan menggugurkan dosa jika meninggalkan dosa besar.
  • Pahala berumrah di bulan ramadhan dilipatgandakan. Karena telah datang riwayat dari Nabi bahwa itu sama dengan pahala haji.
  • Allah memilih Ramadhan sebagai waktu diturunkannya Al-Qur’an.
  • Terdapat Lailatul Qodar yang Al-Qur’an sebutkan ia lebih utama dari seribu bulan.
  • Bulan penuh kebaikan, bulannya Al-Qur’an menghafal maupun mempelajarinya.
  • Pahala amalan sholih dilipatgandakan. Sedekah paling bagus adalah sedekah yang dikeluarkan di bulan ini.
  • Allah berikan karunia kepada hamba-Nya dengan rahmat, pengampunan, dan pembebasan dari neraka. Lebih khusus lagi pada malam Lailatul Qodar.
  • Bulan kesabaran. Kaum muslimin mencegah dirinya dari syahwat dan untuk mereka balasan yang besar.
  • Doa orang yang berpuasa tidak ditolak.

Amal-amal yang disunnahkan

  • Banyak-banyak berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
  • Menyambung tali silaturahmi.
  • Melakukan umroh.
  • Menyegerakan buka puasa ketika terbenam matahari.
  • Berdo’a di saat berpuasa maupun ketika berbuka puasa.
  • Memperbanyak ibadah dan khususnya sholat.
  • Sholat malam yang mana adalah ibadah teragung yang kaum muslim mendekatkan diri kepada Allah. Dan salah satu bentuknya adalah Sholat tarawih.

SHOLAT TARAWIH

Sholat tarawih adalah sholat sunnah yang dikerjakan di bulan ramadhan yang mulia. Waktunya dimulai sejak lepas sholat isya sampai beberapa saat sebelum terbit fajar. Dan sholat tarawih ini hukumnya adalah sunnah muakkadah. Ini berdasarkan hadits dari Rasulullah yang diriwatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: Tidak pernah Nabi, di bulan ramadhan maupun selainnya, sholat malam lebih dari 11 rokaat. Beliau sholat 4 rokaat, jangan tanya keelokan dan panjangnya, kemudian sholat 4 rokaat, jangan tanya keelokan dan panjangnya, kemudian beliau sholat 3 roka’at. Lalu ‘Aisyah berkata: Saya berkata: Apakah engkau tidur sebelum berwitir? Beliau menjawab: “Wahai ‘Aisyah kedua mataku tidur namun tidak dengan hatiku”.

Adapun untuk jumlat roka’atnya, sholat tarawih bisa dikerjakan di rumah secara berjama’ah atau di mesjid, atau sendirian. Akan tetapi tidak tsabit berapa jumlah roka’atnya. Karena Rasulullah pernah sholat 11 roka’at dan tidak mengapa lebih dari itu atau kurang dari itu. Sehingga hal ini tidak seharusnya menjadi sebab perdebatan bahkan berbantah-bantahan di antara kaum muslimin.

Penulis: Magang di Pesantren untuk Buletin Jum’at Mesjid Nurul Hidayah Komplek Reni Jaya Depok.

Categories
Adab dan Akhlak Orang tua

Rangkuman 4-5 Kajian Terkait Pendidikan Anak

KH M Anwar Manshur – Lirboyo – Nasihat Untuk Santri Bermasyarakat

  1. Satu dengan yang lainnya saling membangun.
  2. Jangan sampai merasa menjadi orang yang baik sendiri.
  3. Orang yang tawadhu akan diangkat derajatnya, orang yang merasa tinggi maka akan allah rendahkan.
  4. Mumpung kita di pondok, maka sempurnakan yang kurang.
  5. Harus bisa berusaha menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat.
  6. Di masyarakat pasti kalian akan ditunjuk, mereka melihat kamu orang yang mampu.
  7. Bisa mengerjakan apa yang diminta ke kita.
  8. Mumpung di pondok, paling enak di pondok. Mau makan , makan, mau ngaji, ngaji.
  9. Segaal ada sebabnya. Kalau sebab diambil maka musabbabnya akan dapat.
  10. Di masyarakat udu ila sabili robbika bilhikmah wal mau’izhoh hasanah. Maka di pesantren belajar, musyawarah baik2 kalau ada masalah.
  11. Belajar tabayyun, Tanya dulu yang bersangkutan bagaimana yang terjadi sebenarnya. Kalau suuzon gak boleh, itu permainan dendam.
  12. Masyarakat kita butuh ketenangan, kita harus rukun. Maka kita di pondok ini latihan.
  13. Kamu di pondok ini latihan. Yang jadi pengurus latihan menyelesaikan tugas dengan baik. Jadi di pesantren ini tidak hanya ngaji saja.

Categories
Adab dan Akhlak Orang tua

Fenomena Orang Tua Kalah Dari Anaknya

Awal kali masuk sebagai pengurus sekolah tingkat dasar di salah satu sekolah dihadapkan dengan fakta yang menurut saya mengenaskan yaitu sekolah terkesan tidak berkutik di bawah keinginan santri atau sebaliknya di bawah keengganan santri. Sederhananya, pesantren bagaikan tidak banyak memiliki energi untuk menegakkan harkat martabatnya di depan santri yg bermasalah.

Beberapa bentuknya adalah:

  1. Santri seorang diri melakukan pelanggaran secara terang-terangan dan sekolah tidak (atau lambat sekali)  mengambil tindakan apa-apa.
  2. Santri bekerja sama dengan temannya melakukan pelanggaran secara terang-terangan dan sekolah tidak (atau lambat sekali) melakukan tindakan apa-apa.

Kini posisi saya ada di rumah saudara-saudara Saya (saat ini liburan idul Fitri kita sekeluarga pulang kampung 🙂 ) saya melihat fenomena yang mirip dgn paragraf di atas, yaitu sebagian orang tua seperti lemah di depan tanggung jawab mendidik anaknya. Entah apakah lemah intelektual, lemah harkat martabat, atau lainnya.

Bentuknya seperti:

  1. Orang tua memberikan anaknya fasilitas yang itu berpotensi besar merusak anaknya sendiri.
  2. Orang tua mengabaikan pendidikan agama secara detail kepada anaknya.
  3. Orang tua tidak mengkoreksi kesalahan yang dilakukan anaknya karena anak tidak tahu.
  4. Orang tua tidak mengkoreksi kesalahan yang dilakukan anaknya padahal anaknya sudah tahu itu salah.
  5. Orang tua tidak memerintahkan anaknya untuk melakukan ketaatan kepada Allah padahal anaknya perlu diajarkan hal tersebut.

Pertanyaan pertama, mengapa itu bisa terjadi? Menurut saya jawaban umum yang pertama adalah sang orang tua atau sekolah belum punya arah yang jelas, tujuan yang kuat, visi yang mengarahkan mau dikemanakan anak-anak (didik) nya. Kedua, mungkinkah sekolah dan orang tua tsb belum memahami apa hakikat dan peran keberadaan mereka.

Misalnya sekolah, maka patut ditanamkan bahwa sekolah itu bukan sekedar mengajar menanamkan ilmu ke dalam otak saja. Tapi ada unsur mendidik Budi pekerti dsj. Adapun orangtua maka si lelaki dan perempuan yg dalam ikatan suami istri peran mereka bukan sekedar “bikin anak” thok tetapi bercabang banyak kewajiban secara langsung ataupun tidak langsung karena hak si anak.

Dalam Islam hak anak setidaknya tiga, dipilihkan ibu yang baik, diberikan nama yang baik, diberikan pendidikan agama.

(insya Allah dilanjutkan)