Categories
Nuzulul Qur'an Ushul fi Tafsir

Hikmah dari Turunnya Al-Qur’an secara berangsur -Ushul Fit Tafsir 008

Berangkat dari terbaginya Al-Qur’an menjadi Makkiy dan Madaniy, telah menjadi jelas bahwa Al-Qur’an turun kepada Nabi secara berangsur. Dan karena turunnya dengan cara demikian, ada hikmah-hikmah yang banyak. Di antaranya:

  1. Mengkuatkan, mengokohkan hati nabi shollallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini diambil dari firman Allah:
    وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْاٰنُ جُمْلَةً وَّاحِدَةً ۛ كَذٰلِكَ ۛ لِنُثَبِّتَ بِهٖ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنٰهُ تَرْتِيْلًا – ٣٢
    Dan orang-orang kafir berkata, “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” (Yakni: demikianlah kami turunkan Al-Qur’an secara berangur) Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan dan benar). (Al-Furqon [25]:32).
    وَلَا يَأْتُوْنَكَ بِمَثَلٍ اِلَّا جِئْنٰكَ بِالْحَقِّ وَاَحْسَنَ تَفْسِيْرًا ۗ – ٣٣
    Dan mereka (orang-orang kafir itu) tidak datang kepadamu (membawa) sesuatu yang aneh, (dengan tujuan menghalangi manusia dari jalan Allah) melainkan Kami datangkan kepadamu yang benar dan penjelasan yang paling baik. (Al-Furqon [25]:33).
  2. Untuk mempermudah umat dalam menghafal Al-Qur’an, memahaminya, dan mengamalkan di atas petunjuknya. Di mana Nabi membacakan kepada sahabat sedikit demi sedikit. Hal ini berdasarkan ayat:
    وَقُرْاٰنًا فَرَقْنٰهُ لِتَقْرَاَهٗ عَلَى النَّاسِ عَلٰى مُكْثٍ وَّنَزَّلْنٰهُ تَنْزِيْلًا – ١٠٦
    Dan Al-Qur’an (Kami turunkan) berangsur-angsur agar engkau (Muhammad) membacakannya kepada manusia perlahan-lahan dan Kami menurunkannya secara bertahap. (Al-Isro [17]:106).
  3. Menggiatkan keinginan jiwa untuk menerima ayat-ayat yang turun dari Al-Qur’an dan mempraktekkannya. Disebabkan para sahabat merindukan, sangat rindu dan menimbulkan kerinduan akan turunnya ayat. Terlebih lagi di saat semakin kuat-besar kebutuhan akan diturunkannya ayat Al-Qur’an sebagaimana sangat butuhnya mereka kepada ayat misalnya terkait peristiwa ifk dan li’an.
  4. Bertahapnya proses pensyari’atan hingga sampai tahap final sempurna. Sebagaimana pada ayat pengharaman khamr yang mana di zaman itu manusia hidup dengannya dan terbiasa dengannya, dan tentu saja hal yang sangat berat bagi para sahabat untuk dihadapkan dengan larangan total secara tiba-tiba.
    Maka turun di keadaannya ini, yang pertama adalah ayat:
    ۞ يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِۗ قُلْ فِيْهِمَآ اِثْمٌ كَبِيْرٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِۖ وَاِثْمُهُمَآ اَكْبَرُ مِنْ نَّفْعِهِمَاۗ
    Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya.” (Al Baqoroh [2]:219).
    Dan di ayat ini ada persiapan bagi jiwa-jiwa untuk menerima pengharaman khamr karena sesungguhnya logika akal menuntut untuk tidak melakukan suatu yang dosanya lebih besar dari pahalanya.

    Kemudian turun ayat yang kedua:
    اَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَقْرَبُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْتُمْ سُكَارٰى حَتّٰى تَعْلَمُوْا مَا تَقُوْلُوْنَ وَلَا جُنُبًا ٤٣
    Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati salat ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan, dan jangan pula (kamu hampiri masjid ketika kamu) dalam keadaan junub (An-Nisa [4]:43).

    Maka di ayat ini ada bentuk latihan pembiasaan untuk meninggalkan khamr di sebagian waktu, yakni waktu sholat. (Faidah dari Al-Ustadz Ahmad Sabiq, Lc Mudir di Ponpes Al-Furqon Sedayu, hafizhohullah: mempertimbangan durasi mabuk dan waktu pulih kesadaran, maka bisa diketahui secara umum hanya bisa minum khamr selepas sholat Isya dan selepas sholat subuh).

    Kemudian turun ayat ketiga:
    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ – ٩٠
    Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung. (Al-Maidah [5]:90)

    اِنَّمَا يُرِيْدُ الشَّيْطٰنُ اَنْ يُّوْقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاۤءَ فِى الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَعَنِ الصَّلٰوةِ فَهَلْ اَنْتُمْ مُّنْتَهُوْنَ – ٩١
    Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan salat, maka tidakkah kamu mau berhenti? (Al-Maidah [5]:91).

    وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاحْذَرُوْا ۚفَاِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوْٓا اَنَّمَا عَلٰى رَسُوْلِنَا الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ – ٩٢
    Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul serta berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat) dengan jelas. (Al-Maidah [5]:92).

    Maka adalah dengan ayat terakhir ini sudah dilarang dari minum khamr secara total di seluruh waktu. Dan ini (pent: pelarangan total) setelah hati-hati sudah siap, kemudian sudah diberikan latihan melalui pelarangan minum di sebagian waktu.

Terjemah Ushul Fit Tafsir lis Syaikh ‘Utsaimin rohimahullah

Categories
Nuzulul Qur'an Terjemah Ushul fi Tafsir

Turunnya Al-Qur’an secara Ibtida’iy dan Sababiy -Ushul Fit Tafsir 04

Terkait turunnya Al-Qur’an terkelompokkan menjadi dua kelompok yang pertama, Ibtidaiy, yaitu ayat-ayat yang tidak diawali dengan sebab apapun yang menjadi alasan untuk turunnya ayat tersebut. Bentuk ini adalah mayoritas dari ayat-ayat Al-Qur’an diantaranya adalah Firman Allah:
ومنهم من عٰهد اللهَ لئِن ءَاتَـٰنا من فضله لنصّدّقنّ ولنكوننّ من الصٰلحين. (Pent: Ayat tentang nazar muqoyyad. Ada huruf qosam dan muqsam bihi yang dihapus, yakni asalnya: واللهِ لَنَصَدَّقَنَّ, dan di ayat ini ada tiga pen-taukid: (1) Lam taukid, (2) nun taukid, (3) lafazh qosam)

Ayat-ayat tersebut sesungguhnya dia turun secara ibtidaiy dalam menjelaskan menerangkan keadaan sebagian kaum munafikin. Adapun alasan yang masyhur (tentang asbabun nuzul ayat di atas) yang menyebutkan bahwa turunnya terkait kisah Tsa’labah bin Hathib dalam kisah yang panjang, banyak orang-orang yang menafsirkan dengan menyebutkan hal ini, para pemberi nasihat menyebar-nyebarkannya juga, sesungguhnya kisah tersebut adalah DHOIF tidak ada sisi benarnya sama sekali.

Jenis yang keduasababiy yaitu ayat-ayat yang turunnya dia didahului oleh sebab menuntut ayat itu turun. di antara sebab-sebab itu adalah:

  1. Pertanyaan yang Allah berikan jawabannya. Contoh: يسئلونك عن الأهلة قل هي مواقيت للناس والحج. (Pent: ketika ada pertanyaan ini Rosulullah tidak memberi jawaban. Dan Allah menurunkan ayat ini sebagai jawaban atas pertanyaan)
  2. Atau peristiwa yang terjadi yang memerlukan kepada penjelasan dan peringatan. Contoh: ولئن سألتهم ليقولن إنما كنا نخوض ونلعب.
    Dua ayat ini turun kepada seorang laki laki dari golongan munafik yang dia berkata pada Perang Tabuk di suatu majelis: “Kami tidak pernah melihat yang seperti  penghafal AlQuran kami yang lebih besar perutnya dan lebih dusta lidahnya dan paling pengecut waktu bertemu musuh” yang dia maksudkan adalah Rasulullah dan sahabat-sahabatnya. Maka langsung hal itu disampaikan kepada Rosulullah dan turunlah Al-Quran. Lalu langsung lelaki tadi datang meminta maaf kepada Nabi. Langsung Nabi menjawabnya: “أبالله وءايته ورسوله كنتم تستهزءون”
  3. Perbuatan yang muncul dan butuh untuk mengetahui hukumnya, contoh:
    قَد سَمعَ الله قَولَ الَتى تُجَادلُكَ في زَوجهَا وتَشتَكى إلَى الله والله يَسمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إنَّ الله سَميعٌ بَصير