Categories
Nuzulul Qur'an Ushul fi Tafsir

Hikmah dari Turunnya Al-Qur’an secara berangsur -Ushul Fit Tafsir 008

Berangkat dari terbaginya Al-Qur’an menjadi Makkiy dan Madaniy, telah menjadi jelas bahwa Al-Qur’an turun kepada Nabi secara berangsur. Dan karena turunnya dengan cara demikian, ada hikmah-hikmah yang banyak. Di antaranya:

  1. Mengkuatkan, mengokohkan hati nabi shollallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini diambil dari firman Allah:
    وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْاٰنُ جُمْلَةً وَّاحِدَةً ۛ كَذٰلِكَ ۛ لِنُثَبِّتَ بِهٖ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنٰهُ تَرْتِيْلًا – ٣٢
    Dan orang-orang kafir berkata, “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” (Yakni: demikianlah kami turunkan Al-Qur’an secara berangur) Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan dan benar). (Al-Furqon [25]:32).
    وَلَا يَأْتُوْنَكَ بِمَثَلٍ اِلَّا جِئْنٰكَ بِالْحَقِّ وَاَحْسَنَ تَفْسِيْرًا ۗ – ٣٣
    Dan mereka (orang-orang kafir itu) tidak datang kepadamu (membawa) sesuatu yang aneh, (dengan tujuan menghalangi manusia dari jalan Allah) melainkan Kami datangkan kepadamu yang benar dan penjelasan yang paling baik. (Al-Furqon [25]:33).
  2. Untuk mempermudah umat dalam menghafal Al-Qur’an, memahaminya, dan mengamalkan di atas petunjuknya. Di mana Nabi membacakan kepada sahabat sedikit demi sedikit. Hal ini berdasarkan ayat:
    وَقُرْاٰنًا فَرَقْنٰهُ لِتَقْرَاَهٗ عَلَى النَّاسِ عَلٰى مُكْثٍ وَّنَزَّلْنٰهُ تَنْزِيْلًا – ١٠٦
    Dan Al-Qur’an (Kami turunkan) berangsur-angsur agar engkau (Muhammad) membacakannya kepada manusia perlahan-lahan dan Kami menurunkannya secara bertahap. (Al-Isro [17]:106).
  3. Menggiatkan keinginan jiwa untuk menerima ayat-ayat yang turun dari Al-Qur’an dan mempraktekkannya. Disebabkan para sahabat merindukan, sangat rindu dan menimbulkan kerinduan akan turunnya ayat. Terlebih lagi di saat semakin kuat-besar kebutuhan akan diturunkannya ayat Al-Qur’an sebagaimana sangat butuhnya mereka kepada ayat misalnya terkait peristiwa ifk dan li’an.
  4. Bertahapnya proses pensyari’atan hingga sampai tahap final sempurna. Sebagaimana pada ayat pengharaman khamr yang mana di zaman itu manusia hidup dengannya dan terbiasa dengannya, dan tentu saja hal yang sangat berat bagi para sahabat untuk dihadapkan dengan larangan total secara tiba-tiba.
    Maka turun di keadaannya ini, yang pertama adalah ayat:
    ۞ يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِۗ قُلْ فِيْهِمَآ اِثْمٌ كَبِيْرٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِۖ وَاِثْمُهُمَآ اَكْبَرُ مِنْ نَّفْعِهِمَاۗ
    Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya.” (Al Baqoroh [2]:219).
    Dan di ayat ini ada persiapan bagi jiwa-jiwa untuk menerima pengharaman khamr karena sesungguhnya logika akal menuntut untuk tidak melakukan suatu yang dosanya lebih besar dari pahalanya.

    Kemudian turun ayat yang kedua:
    اَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَقْرَبُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْتُمْ سُكَارٰى حَتّٰى تَعْلَمُوْا مَا تَقُوْلُوْنَ وَلَا جُنُبًا ٤٣
    Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati salat ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan, dan jangan pula (kamu hampiri masjid ketika kamu) dalam keadaan junub (An-Nisa [4]:43).

    Maka di ayat ini ada bentuk latihan pembiasaan untuk meninggalkan khamr di sebagian waktu, yakni waktu sholat. (Faidah dari Al-Ustadz Ahmad Sabiq, Lc Mudir di Ponpes Al-Furqon Sedayu, hafizhohullah: mempertimbangan durasi mabuk dan waktu pulih kesadaran, maka bisa diketahui secara umum hanya bisa minum khamr selepas sholat Isya dan selepas sholat subuh).

    Kemudian turun ayat ketiga:
    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ – ٩٠
    Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung. (Al-Maidah [5]:90)

    اِنَّمَا يُرِيْدُ الشَّيْطٰنُ اَنْ يُّوْقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاۤءَ فِى الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَعَنِ الصَّلٰوةِ فَهَلْ اَنْتُمْ مُّنْتَهُوْنَ – ٩١
    Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan salat, maka tidakkah kamu mau berhenti? (Al-Maidah [5]:91).

    وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاحْذَرُوْا ۚفَاِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوْٓا اَنَّمَا عَلٰى رَسُوْلِنَا الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ – ٩٢
    Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul serta berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat) dengan jelas. (Al-Maidah [5]:92).

    Maka adalah dengan ayat terakhir ini sudah dilarang dari minum khamr secara total di seluruh waktu. Dan ini (pent: pelarangan total) setelah hati-hati sudah siap, kemudian sudah diberikan latihan melalui pelarangan minum di sebagian waktu.

Terjemah Ushul Fit Tafsir lis Syaikh ‘Utsaimin rohimahullah

Categories
Ushul fi Tafsir

Penulisan dan Pengumpulan Al-Qur’an -Ushul fit Tafsir 10

Penulisan Al-Qur’an dan pengumpulannya ada tiga tahapan:

  1. Tahapan yang pertama di masa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Dan pada saat itu Bersandar kepada hafalan lebih banyak daripada Bersandar kepada penulisan, hal itu disebabkan sangat kuatnya memori dan cepat menghafal dan sedikitnya orang-orang yang bisa menulis dan sedikitnya media untuk menulis. Oleh karena itu Al-Qur’an tidak dikumpulkan di satu mushaf, akan tetapi bahkan siapa saja yang mendengar satu ayat maka langsung dihafalkan atau dia tulis ayat tersebut di media apa saja yang mudah baginya media tersebut bisa berupa pelepah kurma atau tambalan kulit yang sudah disamak atau tanah liat yang dibakar atau potongan-potongan tulang bahunya hewan dan penghafal Al-Qur’an benar-benar banyak sekali.
    Di dalam Shahih Al-Bukhari pada kitab Al Jihad riwayat Hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu Anhu bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam mengirimkan 70 orang yang mereka dipanggil dengan (قُرّاء) para penghafal Al-Qur’an. Di tengah-tengah perjalanan orang-orang dari Bani Salim yakni kampung Ri’l dan kampung Dzakwan menghadang mereka di lokasi sumur Ma’unah kemudian mereka semua membunuh para utusan nabi. Di kalangan para sahabat selain mereka yang dibunuh tersebut masih banyak para penghafal Al-Qur’an seperti khalifah yang empat, Abdullah Bin Mas’ud, Salim Maula abu Hudzaifah, Ubay Bin Ka’ab dan Mu’adz Bin Jabal dan Zaid bin Tsabit dan Abi Darda radhiyallahu anhum.
  2. Di tahapan yang kedua di masa kepemimpinan Abu Bakar radhiallahu Anhu pada tahun ke-12 Hijriyah. Sebab dari penulisan dan pengumpulan Al-Qur’an adalah karena terbunuhnya pada Perang Yamamah sejumlah yang banyak dari penghafal Al-Qur’an. Di antara mereka yang terbunuh adalah Salim Maula abu hudzaifah, Ia adalah salah seorang yang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam memerintahkan manusia untuk mengambil Al-Qur’an darinya.

    Maka kemudian Abu Bakar radhiallahu anhum memberikan perintah untuk mengumpulkan Al-Qur’an dengan tujuan agar Al-Qur’an tidak hilang. Disebutkan di Shahih Al-Bukhari pada kitab tafsir bahwasanya Umar Bin Khattab memberikan masukan kepada Abu Bakar radhiallahu anhuma untuk mengumpulkan Al-Qur’an setelah selesainya Perang Yamamah.

    Kemudian saat itu Abu Bakar tawaqquf tidak mengambil keputusan karena enggan. Kemudian senantiasalah Umar terus mengulang-ulang permintaannya hingga Allah lapangkan hatinya. Kemudian Abu Bakar mengutus orang kepada Zaid Bin Tsabit sehingga Zaid datang kepada Abu Bakar saat itu ia bersama dengan umar Bin Khattab, kemudian Abu Bakar As Siddiq berkata kepada Zaid Bin Tsabit: “Sesungguhnya engkau adalah lelaki yang masih muda yang memiliki akal, kami tidak mencurigai engkau sedikitpun, dan juga engkau dahulunya senantiasa menulis Wahyu untuk Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Oleh karena itu cari-carilah Al-Qur’an dan kumpulkanlah Al-Qur’an”.

    Kemudian Zaid Bin Tsabit berkata maka aku pun mencari-cari Al-Qur’an aku kumpulkan dia dari pelepah korma, dari tanah liat yang dibakar, dan dari dada-dada manusia. kemudian lembaran-lembaran Alquran tersebut disimpan oleh Abu Bakar As Siddiq sampai waktu Allah mewafatkan beliau radhiallahu Anhu. Kemudian dilanjutkan oleh disimpan oleh Umar sepanjang hidupnya, kemudian disimpan oleh Hafsah bin Umar radhiallahu anhuma sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam hadis yang panjang.

    Dan benar-benar orang-orang Islam menyepakati Abu Bakar dalam keputusannya untuk mengumpulkan Alquran dan kaum muslimin menilai pengumpulan al-quran adalah dari amalan kebaikannya Abu Bakar sampai-sampai Ali bin Abi Tholib radhiyallahu Anhu berkata manusia yang paling besar pahalanya dalam perkara mushaf Alquran adalah Abu Bakar semoga Allah Allah merahmati Abu Bakar beliau orang pertama mengumpulkan kitabullah.

  3. Tahapan ketiga ini di di masa Amirul Mukminin Utsman bin Affan radhiallahu Anhu pada tahun 25 Hijriyah dan sebab pengumpulan di zaman Utsman bin Affan adalah berbeda-beda nya manusia perihal membaca Al-Qur’an sesuai dengan berbeda-beda nya lembaran Al-Qur’an yang ada di tahun-tahun sahabat radhiallahu anhum sehingga dikhawatirkan muncul fitnah Maka langsung Utsman bin Affan memerintahkan untuk lembaran-lembaran Al-Qur’an yang ada dikumpulkan di satu mushaf dengan alasan dengan tujuan agar manusia tidak berselisih lagi yang menyebabkan bisa mereka silang sengketa perkara Al-Qur’an yang kemudian menyebabkan perpecahan.

    Di dalam Shahih Bukhari Sebutkan hadis bahwasanya Hudzaifah bin al Yaman mendatangi Utsman bin Affan setelah dari perang pembukaan Armenia dan Azerbaijan, dan sungguh pada saat itu sudah mengalir perbedaan di antara kaum muslimin terkait bacaan Al-Qur’an maka Hudzaifah bin al-Yaman berkata: “Wahai Amirul Mukminin susullah kaum muslimin sebelum mereka semua pecah-pecah di dalam Al-Qur’an sebagaimana orang Yahudi dan Nasrani berpecah belah”. Maka Utsman bin Affan mengirimkan utusan kepada Hafshoh agar mengirimkan kepada Utsman mushaf, agar Usman menyalin kemudian beliau akan mengembalikan lagi kepada Hafsah. Kemudian Usman bin Affan memerintahkan Zaid Bin Tsabit bin Abdullah bin Zubair dan Said Bin Abdurrahman Abdul Haris bin Hisyam rodhiyallahuanhum kemudian mereka semua menyalin mushaf kepada beberapa mushaf.

    Zaid Bin Tsabit berasal dari golongan Anshor dan tiga sahabatnya yang lain adalah orang Quraisy. Berkatalah Usman kepada tiga orang yang berasal dari Quraisy: “Jika berselisih pendapat kalian dan Zaid bin Tsabit terkait sesuatu dalam Al-Qur’an maka Tulislah Al-Qur’an itu dengan lisannya Quraisy karena sesungguhnya Al-Qur’an turun dengan lisannya”. Lalu mereka berempat melakukan tugasnya sampai pekerjaan itu selesai. Usman mengembalikan lembaran-lembaran mushaf kepada Hafshoh, lalu Utsman bin Affan mengutus ke semua penjuru dengan mengirimkan mushaf yang sudah disalin dan Utsman bin Affan memberikan perintah agar Al-Qur’an yang selain yang baru dikirimkan itu untuk dibakar.

    Maka sungguh Usman melakukan itu radhiallahu Anhu setelah beliau bermusyawarah para sahabat radhiallahu anhum, sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Daud dari Ali radhiallahu Anhu, bahwasanya beliau berkata: “Demi Allah tidaklah Apa yang dilakukan dari perkara penyatuan mushaf kecuali atas persetujuan kami semua”.

    Dan beliau juga berkata: “Aku berpendapat agar kami mengumpulkan pada manusia diatas satu mushaf saja yang demikian itu sehingga tidak terjadi perbedaan dan perselisihan” dan kami katakan sungguh benar-benar bagus pandangan itu.”

    Dan berkata Mushab bin Sa’ad sebagaimana yang dikeluarkan oleh ibnu Abi Daud pada kitab Al-Mashahif: “Aku menyaksikan manusia-manusia sangat banyak, melimpah-limpah, sewaktu Utsman membakar mushaf-mushaf sehingga hal tersebut membuat manusia timbul rasa kagum bergembira”. Atau beliau mengucapkan: Tidak ada satupun dari mereka yang mengingkari. Kebijakan ini adalah terhitung kebaikan Amirul Mukminin Utsman rodhiyallahu anhu yang kaum muslimin bersepakat di atasnya. Dan juga ini jadi penyempurna dari kebijakan pengumpulannya Abu Bakar ash Shiddiq.

    Perbedaan antara pengumpulannya Usman dan pengumpulan Abu Bakar radhiallahu anhuma adalah tujuan dari pengumpulan Al-Qur’an pada zaman Abu Bakar adalah untuk mengikat Al-Qur’an semuanya ada satu mushaf sehingga tidak hilang satupun bukan untuk menggiring manusia pada penyatuan dalam satu mushaf hal itu disebabkan di zaman Abu Bakar belum muncul tanda-tanda adanya perselisihan dalam baca Al-Qur’an.

    Adapun tujuan pada masanya Utsman bin Affan radhiallahu anhu untuk mengikat Al-Qur’an semuanya pada satu mushaf dan membawa manusia untuk bersepakat di atas mushaf tersebut disebabkan adanya sinyalemen yang dikhawatirkan dari berbeda-bedanya cara membaca.

    Sungguh nampak keberhasilan dari penyatuan ini dari sisi terhasilkan maslahat yang besar untuk semua kaum muslimin berupa bersatunya umat sepakat dalam satu kalimat dan tercapainya terciptanya persahabatan, tercegahnya mafsadat yang sangat besar berupa perpecahan umat Islam dan berbeda bedanya kalimat dan tersebar-sebarnya kebencian dan permusuhan.

    Dan sungguhan keadaan tersebut tetap ada hingga sekarang mereka bersepakat diatas satu mushaf di antara kaum muslimin mutawatir di antara mereka orang-orang kecil dan besar menerima kesepakatan tersebut dan tangan-tangan para perusak tidak bisa mengganggu kesepakatan tersebut dan juga hawa-hawa nafsu orang-orang rusak tidak bisa menghapus kesepakatan tersebut maka hanya milik Allah-lah segala Pujian, robb-nya langit dan bumi dan semua semesta alam.

– Ushul fit Tafsir li Syaikh Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin.

Categories
Ushul fi Tafsir

Urutan Kalimat, Ayat dan Surat -Ushul Fit Tafsir 09

Pengurutan Al-Qur’an mencakup pembacaannya sambung menyambung sesuai apa yang tertulis di mushaf-mushaf dan terjaga di hafalan di dalam dada.

Ada tiga bentuk:

  1. Urutan katakata dari sisi keadaannya setiap kata itu sudah di tempatnya masing-masing di dalam ayat. Dan ini sudah tsabit dengan dalil nash dan ijma’. Tidak diketahui ada satupun yang menyelisihi akan harusnya urutan tersebut sebagaimana tidak ada yang menyelisihi keharaman menyelisihi ini. Sehingga tidak boleh seseorang membaca seperti ini: الله الحمد رب العالمين sebagai ganti dari ayat الحمد للَّهِ رب العٰلمين.
  2. Urutan ayatayat dari sisi keadaan semua ayat sudah ada tempatnya tertentu dalam surat dan hal ini hukumnya sudah pasti tidak ada kemungkinan lain berdasarkan dalil nash dan ijma dan hal ini hukumnya adalah wajib, haram hukumnya menyelisihi ketetapan ini. Sehingga tidak boleh seseorang membaca dengan urutan: مالك يوم الدين الرحمن الرحيم sebagai ganti dari urutan ayat: الرحمن الرحيم مالك يوم الدين. Di dalam Shahih Bukhari (Kitab Tafsir no 4530) ada kisah tentang Abdullah bin Zubair berkata kepada Utsman bin Affan radiallahu anhuma terkait firman Allah taala: “والذين يتوفون منكم ويذرون أزواجا وصية لأزواجهم متٰعا إلى الحول غير اخراج (Al-Baqoroh 240)” Abdullah bin Zubair berkata: “sesungguhnya ayat yang lain sudah menasakh ayat ini” yakni ayat “والذين يتوفون منكم ويذرون أزواجا يتربصن بأنفسهن أربعةبعه أشهر وعشرا (Al-Baqoroh 234)” (dan ayat ini diletakkan sebelumnya dalam urutan nomor ayat). Abdullah bin Zubair berkata: “maka mengapa kamu tulisnya seperti itu?” Maka Utsman menjawab: “wahai anak saudaraku tidak satupun aku mengubah-memindahkan apa pun ayat Al-Qur’an dari tempatnya.” Dan juga Al Imam Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’i dan At-Tirmidzi meriwayatkan hadits Utsman radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sering turun kepadanya surat-surat yang panjang banyak jumlah ayatnya dan keadaan beliau jika turun kepada-nya Wahyu maka beliau shalallahu alaihi wassalam memanggil sebagian orang penulis Al-Qur’an dan beliau berkata: “ضعوا هذه الآيات التي في السورة التي يذكر فيها كذا و كذا” yakni: Letakkan ayat-ayat ini di surat yang disebutkan di dalamnya demikian dan demikian”.
  3. Urutan suratsurat dari sisi keadaan semua surat sudah di tempatnya masing-masing di dalam mushaf. Dan pengurutan surat ini hukumnya tsabit berdasarkan ijtihad, sehingga hukumnya tidak wajib. Dan di Shohih Muslim dari Hudzaifah ibnul Yamaan radhiallahu ‘Anhu bahwasanya beliau melakukan sholat bersama Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam pada suatu malam lalu Nabi membaca surat Al-Baqarah kemudian An-Nisa kemudian Ali Imron. Dan Imam Al-Bukhari meriwayatkan dengan sanad muallaq dari Al-Ahnaf bahwasanya beliau membaca pada rakaat pertama dengan surat Al-Kahfi dan rakaat kedua dengan surat Yusuf atau Yunus. Dan disebutkan bahwasanya beliau yakni Al-Ahnaf melakukan salat subuh bersama Umar bin Khattab dengan kedua surat tersebut.

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Boleh membaca surat ini sebelum surat ini sebagaimana boleh juga dalam penulisan di mushaf. Oleh karena inilah ada beraneka macam bentuk penulisan-penulisan pada mushaf-mushafnya sahabat radhiallahu ‘anhum. Akan tetapi ketika mereka semua bersepakat di atas mushaf yang satu pada zaman Utsman radhiyallahu ‘anhu maka menjadi lah urutan yang kita lihat sekarang di Al-Qur’an adalah bagian dari sunnahnya Khulafa ar-Rasyidin. Dan sungguh al-Hadits sudah menunjukkan bahwasanya bagi khulafa ar-Rasyidin mereka memiliki sunnah yang wajib untuk diikuti oleh kaum muslimin.”

    Definisi:

    • Nash: adalah dalil yang tegas, tidak ada kemungkinan selainnya, tidak ada peluang/kemungkinan/probabilitas untuk diambil pemahaman selainnya.
    • Ijma’: adalah ketetapan para ahli ilmu, bisa jadi di kalangan sahabat atau ulama setelahnya. Konsekuensi dari ijma’ atau penukilan adanya ijma’ maka orang setelahnya TIDAK BOLEH membawakan hal yang berbeda dari apa yang di-ijma’-kan.
    • Ayat يَتَرَبَّصْنَ adalah jumlah khobariyyah dengan makna insyaiyyah.
    • Arti وَصِيَّةً hendaknya dia memberi wasiat.
    • Ibnu Taimiyyah adalah ulama sunnah yang lahir tahun 661 Hijriyah di Harraan bapaknya seorang Mufti dan kakeknya adalah Al-Imam Al-Allamah Majduddin Abul Barokat Abdussalam bin Abdillah dijuluki syaikhul Islam juga sebagaimana beliau. Beliau seorang yang menegakkan Sunnah, melawan kebidahan filsafat, ilmu Kalam, mantiq Yunani, tasawuf, penyembah kuburan, pejuang pemimpin perang bertahan dari serangan Tatar, seorang Zuhud, dermawan, dan pujian-pujian yang sangat tinggi dari ulama dimasanya dan setelahnya. Beliau adalah guru dari Ibnu Katsir, Adz-Dzahabi, Ibnul Qayyim, ibnu Abdil Hadi, dan banyak lainnya. Rohimahumullah.

    Terjemah Ushul fiqh Tafsir libni ‘Utsaimin

    Categories
    Terjemah Ushul fi Tafsir

    Hikmah Diturunkannya Al-Qur’an Secara Berangsur-angsur -Ushul Fit Tafsir 08

    Dari adanya pembagian Al-Qur’an kepada Makki dan Madani maka jelas difahami bahwasanya Al-Qur’an turun kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam secara sedikit demi sedikit berangsur-angsur. Dan dari turunnya Al-Qur’an di atas cara itu ada hikmah yang sangat banyak diantaranya:

    1. Mengkokohkan hati Nabi shallallahu alaihi wasallam. Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala: “وقال الذين كفروا لولا نزل عليه القرءان جملة واحدة كذلك لنثبت به فؤادك ورتلناه ترتيلا ولا يأتونك بمثل إلا جئْنٰك بالحق وأحسن تفسيرا”  Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.
    2. Untuk memudahkan orang-orang menghafal Al-Qur’an, memahaminya dan mengamalkan kandungannya. Hal ini karena Nabi membacakan kepada mereka sebagian demi sebagian berdasarkan firman Allah subhanahu wa Ta’ala: وقرءانا فرقناه لتقرأه على الناس على مكث ونزلناه تنزيلا Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.
    3. Menggiatkan, menggerakan semangat-semangat kaum muslimin untuk menerima hukum dan syariat Yang turun di dalam dari Al-Qur’an dan untuk melaksanakan dan merealisasikannya karena para kaum muslimin, para sahabat Nabi tumbuh rasa rindunya ingin mendengar, menunggu-nunggu diturunkannya ayat Al-Qur’an terlebih lagi di saat kebutuhan akan ayat Al-Qur’an semakin genting. Misal dari  keadaan ini adalah ketika para sahabat menunggu diturunkannya ayat pada peristiwa fitnah orang-orang munafik kepada Aisyah istri Nabi (ifk) dan juga pada peristiwa Lian.
    4. Suatu bentuk bertahapnya pada suatu persyariatan hingga sampai kepada tingkatan sempurna. Contohnya pada pengharaman khamr yang saat itu para manusia terbiasa dan khamr masoh menjadi bagian kehidupan sehari-harinya sehingga menjadi sebuah perkara yang sulit atas mereka jika berikan suatu pelarangan khamr dengan bentuk pelarangan secara total secara langsung. Oleh karena itu Allah menurunkan beberapa ayat hingga sempurna pelarangan khomr. Di keadaan pertama kalinya, firman Allah ta’ala: يسئلونك عن الخمر والميسر قل فيهما إثم كبير ومنٰفع للناس وإثمهما أكبر من نفعهما Maka pada ayat ini adalah persiapan jiwa-jiwa untuk menerima pengharaman khamr dari sisi  sesungguhnya akal manusia mengarahkan tidak membiasakan sesuatu yang dosanya itu lebih banyak daripada manfaatnya. Kemudian ayat yang kedua turun, firman Allah ta’ala: يأيها الذين ءامنوا لا تقربوا الصلوة وأنتم سكرى حتى تعلموا ما تقولون ولا جنبا Maka pada ayat ini ada bentuk ujian kepada para sahabat untuk meninggalkan khomr pada sebagian waktu yakni di waktu-waktu sholat. Kemudian turun ayat yang ketiga, yakni firman Allah ta’ala: يأيها الذين ءامنوا إنما الخمر والميسر والأنصاب والأزلٰم رجس من عمل الشيطٰن فاجتنبوه لعلكم تفلحون إنما يريد الشيطان أن يوقع بينكم العدٰوة والبغضاء في الخمر والميسر ويصدكم علن ذكر الله وعن الصلاوة فهل أنتم منتهون وادأطيعوا الله واطيعوا الرسول واحذروا فإن توليتم فاعلموا أنما على رسولنا البلاغ المبين
    Maka di dalam ayat ini kandungannya adalah larangan dari minum khamr secara total tanpa pengecualian. Dan ayat pelarangan secara total ini diturunkan setelah jiwa-jiwa manusia sudah siap menerimanya, kemudian telah diberikan ujian dengan pelarangan dari khomr pada sebagian waktu. Terjemah Ushul fi Tafsir Libni ‘Utsaimin rohimahullah
    Categories
    Terjemah Ushul fi Tafsir

    Makki dan Madani -Ushul Fit Tafsir 07

    Al-Qur’an turun kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam secara terpisah-pisah dalam kurun 23 tahun. Rasulullah kebanyakan menghabiskan waktunya di Mekkah. Allah subhanahu wa taala berfirman: “وقرانا فرقناه لتقراه على الناس على مكث ونزلناه تنزيلا (الإسراء ١٠٦)ض”. Oleh karena inilah para ulama –rohimahumullah- membuat pembagian Al-Qur’an menjadi dua: Makki dan Madani.

    • Makki adalah ayat-ayat yang turun kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam sebelum Nabi Muhammad melakukan hijrah ke Madinah.
    • Madani adalah ayat-ayat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam setelah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah.

    Dan dengan dasar pembagian tersebut maka firman Allah ta’ala “اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا (المائدة ٣)ض” masuk kategori ayat Madani meskipun dia diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam pada haji Wada’ di ‘Arafah.

    Di dalam shahih Bukhari dari Umar radhiallahu Anhu bahwasanya beliau berkata: “Benar-benar kami tahu apa hari tersebut dan di mana tempat yang diturunkannya ayat itu kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Sesungguhnya ayat itu turun di waktu Nabi Muhammad sedang berdiri di Arafah pada hari Jumat”.

    Pembagian Makki dan Madani ini bisa dibedakan dari sisi uslub dan isinya. Adapun dari sisi uslub maka:

    1. Cara kebanyakan ayat-ayat makki itu uslubnya sangat kuat, sangat tegas arah pembicaraannya hal itu karena mayoritas pihak yang diajak bicara adalah orang-orang yang mengingkari kerasulan Nabi dan orang-orang yang sombong. Tidaklah cocok untuk mereka kecuali ayat-ayat yang tegas dan kuat. Bacalah 2 surat berikut Al-Muddatssir dan Al-Qomar. Adapun ayat Madani maka mayoritas dari uslub cara penyampaiannya adalah lembut sekali dan ringan gaya bahasanya. hal ini dikarenakan mayoritas dari pihak-pihak yang diajak bicara diarahkan adalah orang-orang yang menerima kebenaran nan merendahkan diri dihadapan kebenaran. Bacalah surat Al-Maidah.
    2. Kemudian mayoritas dari ayat-ayat makki adalah ayat-ayat yang pendek dan sisi hujjahnya sangat kuat, hal itu dikarenakan mayoritas orang yang diajak bicara adalah orang-orang yang ingkar, sempit dadanya sehingga mereka pun diajak berbicara dengan cara yang keadaan mereka membutuhkannya bacalah surat At-Thur. Adapun Madani maka mayoritas di dalamnya adalah ayat-ayat yang panjang, disebutkan hukum-hukum agama secara pelan-pelan tanpa harus menyebutkan kuatnya argumentasi. Hal ini dikarenakan keadaan mereka mengarahkan untuk diberikan hal tersebut bacalah ayat-ayat tentang hutang pada surat Al-Baqarah.

    Adapun dari sisi tema atau topik pembicaraannya maka:

    1. Mayoritas dari ayat-ayat makki isinya adalah penetapan nilai-nilai tauhid dan aqidah yang lurus yang selamat lebih khusus lagi yang terkait dengan tauhid uluhiyah dan percaya kepada hari kebangkitan hal ini dikarenakan mayoritas dari orang yang diturunkan ayat tersebut adalah mengingkarinya. Adapun ayat-ayat madani secara umum di dalamnya berisi rincian-rincian ibadah dan muamalah karena orang-orang yang diajak berbicara mereka sudah kokoh tertanam di jiwa jiwa mereka tauhid dan aqidah yang benar sehingga mereka keadaannya butuh kepada perincian ibadah dan muamalah.
    2. Banyaknya penyebutan jihad dan hukum-hukumnya dan orang munafikin dan keadaan-keadaan orang munafik pada ayat Madani karena konsekuensi dari keadaannya periode Madani. Itu adalah karena di masa itu telah disyariatkan jihad dan nampaknya kemunafikan berbeda dari masa Makki.

    Terjemah Ushul fi Tafsir Libni ‘Utsaimin rohimahullah

    Categories
    Terjemah Ushul fi Tafsir

    Umumnya Lafaz dan Sebab Yang Khusus -Ushul Fit Tafsir 06

    Jika turun ayat Al-Qur’an dengan sebab yang khusus dan lafaz ayat tersebut adalah umum maka hukum dari ayat tersebut mencakup dengan sebabnya dan juga mencakup semua yang bisa dipahami dari lafaznya. Karena Al-Qur’an itu diturunkan sebagai sumber syariat secara umum untuk semua umat. Dan yang menjadi ibrah (yang dianggap) adalah keumuman lafaznya bukan khususnya sebab.

    Contoh dari lafaz umum dan sebab yang khusus adalah ayat tentang Li’an (Pent: Li’an adalah menuduh istri berzina, dia melihatnya, tetapi tidak memiliki saksi sebanyak empat orang), firman Allah subhanahu wa Ta’ala: “والذين يرمون أزواجهم ولم يكن لهم شهداء إلا أنفسهم (النور ٦)ض” sampai “إن كان من الصادقين (النور ٦-٩)ض”. Di dalam shahih Bukhari dari hadits Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma bahwasanya Hilal bin Umayyah menuduh isterinya berbuat serong (selingkuh) dengan Syarik bin Sahma’ di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apakah kamu punya bukti atau punggungmu dipukul?”(Pent: Maksudnya punggung kamu dicambuk). Maka dia berkata: “Demi Yang mengutusmu dengan Al-Haq sesungguhnya saya berkata jujur. Allah akan mewahyukan kepadamu yang menyelamatkan punggungku dari hukuman cambuk. Maka Jibril turun menyampaikan wahyu Allah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Dan merekalah yang menuduh para istrinya…. (An Nuur; 6-9). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membacanya hingga sampai bagian Jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar.

    Ayat ini diturunkan dengan sebab Hilal bin Umayyah mengadukan perbuatan serong dari istrinya akan tetapi hukum dari ayat ini juga mencakup kepada hilal dan selain hilal dengan dalil hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dari hadits Sahl bin Sa’ad radhiallahu anhu bahwa ‘Uwaimir Al-‘Ajlani datang kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam lalu berkata: “Wahai Rasulullah ada seorang laki-laki dia mendapati bersama istrinya seorang laki-laki apakah dia boleh membunuh laki-laki tersebut atau apa yang dia lakukan?” kemudian Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam menjawab: “Sesungguhnya Allah subhanahu wa Ta’ala sudah menurunkan Al-Qur’an tentang perkara kamu dan istri kamu ini”. Kemudian Nabi Muhammad shallallahu alaihi sallam memerintahkan mereka berdua melakukan saling laknat sebagaimana yang Allah sudah tentukan di kitabnya, kemudian mereka berdua pun saling melaknat sebagaimana di hadits yang muttafaqalaih.

    Mekap di peristiwa datangnya ‘Uwaimir itu Rasulullah memberikan hukum kepadanya dengan ayat yang sama yang diturunkan kepada hilal bin Umayyah. Menunjukkan bahwa hukum dari ayat tersebut adalah umum untuk semua kaum muslimin.

    Terjemah Ushul fi Tafsir Libni ‘Utsaimin rohimahullah

    Categories
    Terjemah Ushul fi Tafsir

    Faidah Mengetahui Asbabun Nuzul -Ushul Fit Tafsir 05

    Mengetahui sebab-sebab diturunkannya ayat Al-Qur’an itu penting sekali karena itu memberikan kita faidah-faidah yang sangat banyak. Diantaranya:

    1. Menerangkan bahwa Al-Qur’an turun dari sisi Allah ta’ala. Argumen ini dengan dasar bahwa (A) Nabi shollallahualaihi wa sallam ditanya tentang sesuatu kemudian beliau terkadang diam tidak memberikan jawaban hingga turun untuk perkara tersebut Wahyu. (B) Atau ada kesamaran pada suatu perkara yang terjadi sehingga Wahyu turun menghilangkan kesamaran tersebut. Contoh yang pertama firman Allah ta’ala: ويسئلونك عن الروح قل الروح من أمر ربي وما أوتيتم من العلم إلا قليلًا (الإسراء ٨٥) ض. Dan di dalam shahih Bukhari dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu bahwasanya ada satu orang laki-laki Yahudi berkata: “Wahai Abul Qosim apa itu ruh?” Kemudian Nabi diam. Pada lafazh lain: “lalu Nabi menahan”. Karena belum datang ayat apapun terkait itu. “Kemudian saya tahu bahwa beliau sedang diturunkan wahyu, lalu saya berdiri di tempatku. Maka tatkala telah turun Wahyu, nabi bersabda: يسئلونك عن الروح قل الروح من أمر ربي (الإسراء ٨٥)”ض. Contoh kedua, firman Allah: يقولون لئن رجعنا إلى المدينة ليخرجنّ الأعز منها الأذل (المنافقون ٨)ب. Dan di shohih Bukhori dari Zaid bin Arqam radhiallahu Anhu beliau mendengar Abdullah bin Ubay dedengkotnya kaum munafik berkata bahwa Abdullah bin Ubay memaksudkan dialah orang yang mulia sedangkan Rasul dan sahabatnya orang rendahan maka Zaid pun memberitakan hal tersebut kepada pamannya kemudian pamannya memberitahukan nabi kabar dari ubay tersebut lalu Nabi memanggil Zaid untuk memberitahu Zaid tentang apa yang beliau dapatkan dari pamannya. Kemudian Nabi mengutus orang kepada Abdullah bin Ubay dan para temannya untuk mengkonfirmasi berita ucapan tersebut (Pent: Hal ini menunjukkan disyariatkannya mencari kebenaran berita dan mengecek kebenarannya) akan tetapi orang-orang munafik berani bersumpah bahwa mereka tidak pernah mengucapkannya maka Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam membenarkan mereka dikarenakan mereka bersumpah atas nama Allah. Lalu Allah subhanahu wa Ta’Ala menurunkan wahyu yang membenarkan Zaid. Dengan turunnya ayat tersebut menjadi teranglah kenyataan yang ada di sisi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
    2. Menunjukkan perhatiannya Allah subhanahu wa Ta’ala kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam bentuk pembelaan Allah kepada nabi. Contoh atas hal ini adalah firman Allah ta’ala: وقال الذين كفروا لولا نزل عليه القرءان جملة واحدة كذلك لنثبت به فؤادك ورتلناه ترتبلا. Dan demikian juga ayat-ayat ‘ifk (kejadian orang munafik menuduh Aisyah berzina). Sesungguhnya tersebut adalah pembelaan kepada istri-istri Nabi dan membersihkan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dari segala lemparan kotoran yang pemfitnah itu hantamkan kepada Nabi.
    3. Penjelasan penjagaanya Allah kepada hamba-hambanya dari sisi melepaskan mereka dari kesulitan kesulitan, melenyapkan gundah gulana mereka. contohnya adalah ayat tayamum, diceritakan di hadits di Shahih Bukhori bahwasanya saat itu Aisyah radhiyallahu anha kehilangan  kalungnya dalamaan beliau sedang bersama nabi shallallahu alaihi wasallam di salah satu safarnya beliau. Atas kehilangan kalung tersebut Nabi Muhammad langsung mengupayakan pencarian kalung dan para sahabat Nabi ikut mencari hingga waktu subuh tidak berhasil menemukan kalung dan mereka belum sempat mencari air untuk berwudhu sholat subuh. Kemudian mereka semua pun mengadukan hal tersebut (perbuatannya Aisyah) kepada Abu Bakar (Pent: Dari ini menunjukkan bolehnya mengadukan seorang perempuan bersuami kepada selain suaminya, seperti ke bapaknya. Dan juga dalil bolehnya seorang bapak mencela anaknya yang sudah bersuami). Lalu turunlah ayat Al-Qur’an terkait tayamum. Lalu berkatalah Usaid bin Hudhoir radhiyallahuanhu: “ini bukanlah pertama kali barokahnya engkau wahai keluarga Abu Bakar”. 
    4. Memberikan pemahaman ayat dari arah yang benar. Contoh hal ini adalah firman Allah ta’ala: إن الصفا والمروة من شعائر الله فمن حج البيت أو اعتمر فلا جناح عليه أن يطوف بهما (البقرة ١٥٨)ض. Maksud ayat ini adalah Sai di antara dua bukit tersebut. Karena zahir dari firman Allah (فلا جناح عليه) puncak dari kegiatan haji adalah Sa’i di antara Shofa dan Marwah yang hukumnya adalah mubah. Disebutkan di shahih Bukhari dari ‘Ashim bin Sulaiman beliau berkata: Saya bertanya kepada Anas bin Malik radhiallahu Anhu tentang perkara Shafa dan Marwah lalu beliau berkata: “Dahulu kami memandang Sai di antara Shafa dan Marwah adalah salah satu kegiatan jahiliyah. Kemudian tatkala datang Islam kami menahan diri tidak melakukan sa’i. Oleh karena hal tersebut Allah subhanahu wa Ta’ala menurunkan firmannya (إن الصفا والمروة من شعائر الله sampai ujung ayat أن يطوف بهما) sehingga dengan turunnya ayat ini diketahui bahwa penegasian/penafian الجناح (salah, dosa) bukan untuk menjelaskan hukum asal dari sa’i (Pent: Dari Zahir ayat terpajang bahwa sa’i hukumnya hanya mubah. Maka dengan mengetahui perbuatan Nabi maka kita akan tahu bahwa sa’i adalah salah satu dari rukun haji). Akan tetapi itu untuk menafikan keengganan mereka dari melakukan sa’i, karena para sahabat menilai sa’i adalah perkara jahiliyah. Adapun hukum asal sa’i maka sudah terang dari firman Allah (من شعائر الله) yakni disyariatkan (mungkin sebagai rukun atau kewajiban atau Sunnah. Dan yang benar dia adalah rukun haji).

    Terjemah Ushul fi Tafsir Libni ‘Utsaimin rohimahullah

    Categories
    Nuzulul Qur'an Terjemah Ushul fi Tafsir

    Turunnya Al-Qur’an secara Ibtida’iy dan Sababiy -Ushul Fit Tafsir 04

    Terkait turunnya Al-Qur’an terkelompokkan menjadi dua kelompok yang pertama, Ibtidaiy, yaitu ayat-ayat yang tidak diawali dengan sebab apapun yang menjadi alasan untuk turunnya ayat tersebut. Bentuk ini adalah mayoritas dari ayat-ayat Al-Qur’an diantaranya adalah Firman Allah:
    ومنهم من عٰهد اللهَ لئِن ءَاتَـٰنا من فضله لنصّدّقنّ ولنكوننّ من الصٰلحين. (Pent: Ayat tentang nazar muqoyyad. Ada huruf qosam dan muqsam bihi yang dihapus, yakni asalnya: واللهِ لَنَصَدَّقَنَّ, dan di ayat ini ada tiga pen-taukid: (1) Lam taukid, (2) nun taukid, (3) lafazh qosam)

    Ayat-ayat tersebut sesungguhnya dia turun secara ibtidaiy dalam menjelaskan menerangkan keadaan sebagian kaum munafikin. Adapun alasan yang masyhur (tentang asbabun nuzul ayat di atas) yang menyebutkan bahwa turunnya terkait kisah Tsa’labah bin Hathib dalam kisah yang panjang, banyak orang-orang yang menafsirkan dengan menyebutkan hal ini, para pemberi nasihat menyebar-nyebarkannya juga, sesungguhnya kisah tersebut adalah DHOIF tidak ada sisi benarnya sama sekali.

    Jenis yang keduasababiy yaitu ayat-ayat yang turunnya dia didahului oleh sebab menuntut ayat itu turun. di antara sebab-sebab itu adalah:

    1. Pertanyaan yang Allah berikan jawabannya. Contoh: يسئلونك عن الأهلة قل هي مواقيت للناس والحج. (Pent: ketika ada pertanyaan ini Rosulullah tidak memberi jawaban. Dan Allah menurunkan ayat ini sebagai jawaban atas pertanyaan)
    2. Atau peristiwa yang terjadi yang memerlukan kepada penjelasan dan peringatan. Contoh: ولئن سألتهم ليقولن إنما كنا نخوض ونلعب.
      Dua ayat ini turun kepada seorang laki laki dari golongan munafik yang dia berkata pada Perang Tabuk di suatu majelis: “Kami tidak pernah melihat yang seperti  penghafal AlQuran kami yang lebih besar perutnya dan lebih dusta lidahnya dan paling pengecut waktu bertemu musuh” yang dia maksudkan adalah Rasulullah dan sahabat-sahabatnya. Maka langsung hal itu disampaikan kepada Rosulullah dan turunlah Al-Quran. Lalu langsung lelaki tadi datang meminta maaf kepada Nabi. Langsung Nabi menjawabnya: “أبالله وءايته ورسوله كنتم تستهزءون”
    3. Perbuatan yang muncul dan butuh untuk mengetahui hukumnya, contoh:
      قَد سَمعَ الله قَولَ الَتى تُجَادلُكَ في زَوجهَا وتَشتَكى إلَى الله والله يَسمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إنَّ الله سَميعٌ بَصير
    Categories
    Terjemah Ushul fi Tafsir

    Yang Paling Pertama Turun dari Al-Qur’an – Ushul fit Tafsir 03

    Secara mutlak yang pertama turun dari Al-Qur’an adalah lima ayat pertama dari surat Al-‘Alaq.

    ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ (١) خَلَقَ ٱلۡإِنسَـٰنَ مِنۡ عَلَقٍ (٢)ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ (٣) ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ (٤) عَلَّمَ ٱلۡإِنسَـٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ (٥) د

    Setelah itu wahyu terputus selama beberapa masa kemudian turun lima ayat pertama dari surat Al-Mudatsir:

    يَـٰٓأَيُّہَا ٱلۡمُدَّثِّرُ (١) قُمۡ فَأَنذِرۡ (٢) وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ (٣) وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ (٤) وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ (٥) ذ

    Di Shahihain hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang permulaan wahyu, beliau mengatakan: hingga Al-Haq mendatangi Nabi ketika beliau berada di Gua Hira malaikat Jibril menemuinya. Lalu berkata: Bacalah! Lalu Nabi berkata: Saya bukan orang yang membaca. (maksudnya saya tidak mengetahui bacaan).

    Kemudian beliau menyebutkan haditsnya (sampai tuntas) dan di dalamnya ada:
    “ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ” sampai firman-Nya: “عَلَّمَ ٱلۡإِنسَـٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ”.

    Dan di shahihain dari Jabir rodhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dan beliau bercerita tentang kekosongan dari turunnya wahyu: Ketika saya sedang berjalan tiba-tiba saya mendengar suatu suara dari langit… kemudian menyebutkan hadits dengan redaksi: “Kemudian Allah menurunkan: “يَـٰٓأَيُّہَا ٱلۡمُدَّثِّرُ” hingga “وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ”.

    Ada ayat-ayat yang dinamakan “yang pertama turun”, dan yang dimaksudkan adalah yang pertama turun dari sisi tertentu. Sehingga “awal kali” ini terikat. Contoh hadits Jabir rodhiyallahu ‘anhu di shahihain bahwasanya Abu Salamah bin Abdirrahman bertanya kepadanya: apakah dari Al-Qur’an yang turun? Lalu Jabir berkata: “يَـٰٓأَيُّہَا ٱلۡمُدَّثِّرُ”. Lalu Abu Salamah berkata: Saya diberi berita bahwa ia adalah: “ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ”. Lalu Jabir berkata: Saya tidak mengkabarkan kamu kecuali dengan apa yang Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallam- sabdakan. Beli bersabda: “جاورت في حراء فلما قضيت جواري هبطت…” lalu menyebutkan hadits di dalamnya ada redaksi “فأتيت خديجة فقلت: دثروني وصبوا علي ماء باردا, وأنزل علي (يا أيها المدثر) إلى قوله (والجز فاهجر) أ”

    Maka ini adalah kategori “awal” yang disebutkan Jabir dari sisi yang pertama turun setelah masa kekosongan wahyu, atau yang pertama turun dari status nabi sebagai Rasul. Karena ayat-ayat yang turun dari surat Iqro’ menetapkan kenabian Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam. Adapun ayat-ayat yang turun dari surat Al-Mudatsir menetapkan kerasulan pada ayat “قم فأنذر”. Dan oleh karena ini, para ulama berkata: Sesungguhnya Nabi shollallahu ‘alaihi di-nabi-kan dengan “إقرأ” dan di-rasul-kan dengan “المدّثّر”.

    Categories
    Pesantren Ushul fi Tafsir

    Nuzulul Qur’an -Ushul fit Tafsir 02

    ALQuran pertama kali turun kepada Rosulullah shollallahu alaihi wasallam pada malam lailatul qodar bulan ramadhan. Allah berfirman:

    • إنا أنزلناه في ليلة القدر (Al-Qodr:1)
    • إنا أنزلناه في ليلة مباركة إنا كنا نذرين. فيها يفرق كل أمر حكيم (Ad-Dukhan 3-4)
    • شهر رمضان الذي أنزل فيه القران هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان (Al-Baqoroh: 185)

    Waktu itu umurnya Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam adalah 40 tahun menurut pendapat yang masyhur di sisi ulama. Hal ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, Atho’ dan Sa’id bin Al-Musayyab dan selain mereka. Dan umur ini adalah titik tercapainya kedewasaan dan kesempurnaan akal dan sempurnanya kesadaran.

    Yang menurunkan Al-Quran dari Allah ta’ala ke Nabi Muhammad adalah Jibril salah satu malaikat yang paling dekat yang mulia. Allah berfirman tentang Al-Quran ini:

    وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ (١٩١) وَإِنَّهُ ۥ لَتَنزِيلُ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ (١٩٢) نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلۡأَمِينُ (١٩٣) عَلَىٰ قَلۡبِكَ لِتَكُونَ مِنَ ٱلۡمُنذِرِينَ (١٩٤) بِلِسَانٍ عَرَبِىٍّ۬ مُّبِينٍ۬ (١٩٥) (Asy-Syu’ara 191-195)

    ( 191 )   Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. ( 192 )   Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, ( 193 )   dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ( 194 )   ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, ( 195 )   dengan bahasa Arab yang jelas.
    Dan Malaikat Jibril itu memiliki sifat-sifat yang sangat bagus nan adi, berupa kemuliaan, kekuatan, kedekatan kepada Allah, kedudukan, penghormatan di antara malaikat, amanah, ihsan, kesucian yang dengannya menjadikan ia memenuhi syarat untuk menjadi utusan Allah membawa wahyu kepada rasul-Nya. Allah berfirman:
    إِنَّهُ ۥ لَقَوۡلُ رَسُولٍ۬ كَرِيمٍ۬ (١٩) ذِى قُوَّةٍ عِندَ ذِى ٱلۡعَرۡشِ مَكِينٍ۬ (٢٠) مُّطَاعٍ۬ ثَمَّ أَمِينٍ۬ (٢١)
    ( 19 )   sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), ( 20 )   yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, ( 21 )   yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya.
    Firman-Nya yang lain:
    عَلَّمَهُ ۥ شَدِيدُ ٱلۡقُوَىٰ (٥) ذُو مِرَّةٍ۬ فَٱسۡتَوَىٰ (٦) وَهُوَ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡأَعۡلَىٰ (٧)
    ( 5 )   yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. ( 6 )   yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. ( 7 )   sedang dia berada di ufuk yang tinggi.
    Dan firman-Nya yang lain:
    قُلۡ نَزَّلَهُ ۥ رُوحُ ٱلۡقُدُسِ مِن رَّبِّكَ بِٱلۡحَقِّ لِيُثَبِّتَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَهُدً۬ى وَبُشۡرَىٰ لِلۡمُسۡلِمِينَ (An-Nahl:102)
    Allah ta’ala sudah menerangkan kepada kita sifat-sifat Jibril yang turun membawa Al-Qur’an dari sisi Allah. Dan hal tersebut menunjukkan keagungannya Al-Qur’an dan juga perhatian-Nya Allah ta’ala kepada Al-Qur’an. Karena sesungguhnya Dia tidak akan mengutus suatu yang besar kecuali dengan perkara yang besar juga.