Categories
Bahrur Roiq Dakwah Orang tua

Tugas Rasul


(1) Yang paling utama, nomor satu adalah bahwa beliau adalah sebagai saksi. Apakah saksi yang memberikan bantuan ; meringankan ; pertolongan berpihak kepadanya disebabkan seorang hamba ketika di dunia selalu beramal soleh mengamalkan sunnah-sunnah beliau dan syariat Allah yang beliau diutus untuk itu, atau saksi yang memberatkan; menuntut dia; tidak memberikan jalan keluar dengan sebab dia meninggalkan ketaatan dan tidak melakukan ketaatan.
(2) Ia seorang yang banyak memberikan berita yang menggembirakan berupa pahala, surga dan nikmat-nikmatnya bagi siapa pun yang mentaati beliau . Dan ia orang yang banyak menyampaikan peringatan akan kepedihan siksa derita bagi siapa saja yang tidak mentaati beliau.
(3) Menghukumi di antara manusia. Menjadi pemutus perkara di antara orang yang berselisih.
(4) Mengajarkan manusia syariat-syariat Allah ‘azza wa jalla.

Sumber: Ithaful Qori Syarah Ats-Tsalatu Al-Ushul li Asy-Syaikh ‘Ubaid bin ‘Abdillah bin Sulaiman al-Jabiri hafizhohullah.

Ditulis:

Categories
Adab dan Akhlak Bahrur Roiq

Obat Riya dan Cara Menyembuhkan Hati Darinya

Kita mengetahui bahwa riya adalah penghancur amalan sholeh. Dan sebab kebinasaan bagi pemimpin, pembesar, pejabat tinggi, dan pemegang tampuk pimpinan. Riya juga termasuk dari dosa-dosa besar yang mem-BINASA-kan. Dan yang seperti ini pensifatannya maka sangat layak untuk kita bergegas menggiring kesungguhan dalam rangka mengenyahkannya. Untuk menghilangkannya ada beberapa cara yang baik:

  • Memotong pokok, pangkal, asal dan akarnya, yaitu kecintaan menikmati pujian manusia, menyelamatkan diri dari pedihnya dicela manusia (seperti orang minder berprasangka kalau saya tidak kelihatan melakukan ibadah nanti akan distigma sebagai orang rusak, dst), dan tamak rakus pada apa-apa yang ada di tangan manusia. Karena tiga hal itulah yang menggerakan pelaku riya kepada riya-nya. Sehingga pengobatannya adalah hendaknya dia tahu bahaya, kerugian, dan kesengsaraan dari riya dan hal-hal yang luput terkait perbaikan hatinya dan apa-apa yang dia diharamkan pada saat itu berupa taufik dan terluputkannya perkara-perkara akhirat mulai dari kedudukan di sisi Allah ta’ala, dan hukuman yang harus ia hadapi, dan kebencian yang teramat sangat, dan kerendahan kehinaan yang sangat nampak. Bilamana, Kapan saja seorang hamba memikirkan dampak kehinaan tersebut dan dia bandingkan dengan apa yang mungkin dia capai dari upaya dia memperhamba dirinya ke orang laindan menghias-hiasi ibadah untuk orang lain dan ditukar dengan banyak hal yang tidak bisa dia raih di akhirat, dan gugurnya ganjaran amal baik, niscaya mudah untuknya memutus keinginan dari riya. Sebagaimana permisalan orang yang mengetahui bahwa madu sangat nikmat, akan tetapi ketika dia sadar adanya racun dicampurkan ke madu tersebut niscaya ia akan meninggalkan madu tersebut.
  • Cara kedua, menolak dan melawan riya ketika sedang ibadah. Perkara ini juga suatu keharusan untuk mempelajarinya. Karena siapa yang mencurahkan segala kemampuan dirinya dengan menebang tempat ditumbuhkannya riya, dan memutus kerakusan dan memandang rendah pujiannya manusia dan tercelanya itu maka sungguh setan tidak meninggalkan dia di tengah-tengah ibadahnya, bahkan akan terus memunculkan dalam pikirannya lintasan-lintasan riya, kemudian setelah terlintas di benaknya akan perhatian makhluk, maka orang ini akan berusaha mencegah pikiran dan hembusan setan tadi dengan berkata: “Memangnya ada urusan apa Kamu dengan makhluk lain? Entah mereka tahu ataupun tidak, akan tetapi pasti Allah Maha Mengetahui keadaan Kamu. Apa manfaatnya orang lain tahu?” Dan jika semakin bangkit keinginan dalam dada untuk merasakan pujian manusia, maka ingatlah apa yang tertancap kuat di hatinya dari arah penyakit-penyakitnya riya dan bagaimana riya akan menyeret kepada kemurkaan Allah dan kerugian dahsyat di akhirat.

Terjemah Al-Bahrur Roiq fiz Fuhdi war Roqoiq li Dr. Ahmad Farid.

Categories
Adab dan Akhlak Bahrur Roiq

Penjelasan Riya Yang Samar (Riya Khofiy)

Riya itu bisa dibagi dua, (1) Jaliy  – jelas/terang-terangan dan (2) Khofiy -tersembunyi. Adapun riya jaliy adalah riya yang dimunculkan di atas suatu amalan dan orang tersebut beribadah betul-betul karena riya saja. Kalaulah ia mengharapkan pahala akan tetapi ia (di atas niat) menampakkan ibadah tersebut (ke orang lain).

Adapun riya khofi, ia melakukan ibadah tanpa niat riya, bahkan dia menyembunyikan amalan tsb, dia harapkan wajah Allah dengannya, seperti orang yang biasa sholat tahajud setiap malam meskipun ada rasa berat. Tapi jika ada tamu bermalam di rumahnya, tiba-tiba dia menjadi giat dan terasa ringan sholat tahajudnya.

Dan juga termasuk dari riya khofiy seperti seorang hamba yang menyembunyikan amalan ketaatannya, akan tetapi bersamaan dengan itu jika dia lihat orang lain tiba-tiba dia ingin agar mereka menghampirinya dengan wajah berseri-seri dan penuh pemuliaan, dan agar mereka memuji dia, dan agar mereka tangkas memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, agar mereka memberikan keringanan kepadanya dalam transaksi jual beli, dan agar mereka meluaskan tempat untuknya maka apabila tempatnya sempit beratlah hati menerima keadaan tersebut.

Dan senantiasa orang-orang yang memurnikan ibadahnya kepada Allah mereka dalam keadaan takut dari riya yang khofiy ini, berusaha keras menyembunyikan ketaatan mereka, lebih kuat usaha ini dibanding orang-orang menyembunyikan perbuatan jelek nan keji.

Itu semua dilakukan dengan dasar mengharap agar amal sholih mereka benar-benar murni, sehingga Allah akan memberikan ganjaran balasan kepada mereka di hari kiamat disebabkan keikhlasan mereka. Disebabkan mereka tahu bahwasanya tidaklah diterima pada hari kiamat kecuali amalan yang ikhlas murni tidak bercampur kesyirikan apapun, dan mereka mengetahui akan sangat butuhnya dan fakirnya mereka nanti di hari kiamat.

*Al-Bahrur Roiq fiz Zuhdi war Roqoiq li Dr. Ahmad Farid.

Categories
Adab dan Akhlak Bahrur Roiq Qolbu

Beberapa Tujuan Manusia Melakukan Riya

Orang yang melakukan riya pasti memiliki tujuan, dan mayoritasnya terbataskan untuk menggapai suatu keadaan tertentu, atau kedudukan, atau tujuan lain yang semuanya memiliki derajat tingkatan berbeda.

Hal paling besar bahayanya dari tujuan mereka riya adalah untuk melanggengkan maksiat, seperti orang yang riya dengan ibadahnya demi dilihat sebagai orang yang bertakwa dan waro’, atau agar diidentifikasi sebagai orang yang amanah sehingga diberikan tanggungjawab tertentu, atau diberikan bagian dari harta. Maka golongan ini adalah yang paling besar kemurkaannya di sisi Allah. Karena mereka menjadikan ketaatan ke robbnya sebagai anak tangga untuk menggapai kemaksiatan mereka.

Yang kedua, tujuan mereka untuk meraih perbendaharaan dunia berupa harta, atau nikah, seperti orang yang memamerkan ilmu dan ibadah agar seseorang senang untuk menikahinya atau memberikan harta ke Ia. Hal ini adalah riya yang dilarang. Karena dia meminta perbendaharaan dunia dengan jalan ketaatan kepada Allah. Namun ini masih lebih ringan dari golongan yang pertama.

Yang ketiga, dia tidak memaksudkan perbendaharaan dunia, mendapatkan harta atau pernikahan, akan tetapi dia memamerkan ibadahnya dengan alasan takut orang meremehkan dia atau tidak dimasukkan ke golongan orang sangat khusus dan sangat zuhud sehingga cuma dinilai sebagai orang umum / kebanyakan.

  • Terjemah Al-Bahrur Roiq fiz Zuhdi war Roqoid li Dr. Ahmad Farid.
Categories
Adab dan Akhlak Bahrur Roiq Qolbu

Penyakit Riya

Dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits semua menunjukkan pengharaman riya dan pelakunya.

Allah berfirman: فويل للمصلين. الذين هم فس صلاتهم ساهون. الين هم يرآءون.
Dan Allah berfirman:فمن كان يرجوا لقاء ربه فليعمل عملا صالحا ولا يشرك بعبادة ربه أحدا.
Dan pada hadits qudsi Allah berfirman: أنا أغنى الشركاء عن الشرك من عمل عملا أشرك فيه معي غيري تركته وشركه.
Nabi bersabda: إن أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر. قالوا: وما الشرك الأصغر يا رسول الله؟ قال: الرياء, يقول الله عز وجل يوم القيامة إذا جازى العبد بأعمالهم: اذهبوا إلى الذين كنتم تراءون في الدنيا فانظروا هل تجدون عندهم الجزاء.

Abu Umamah Al Bahili melihat seorang laki-laki di masjid menangis di sujudnya. Lalu beliau berkata: “Dirimu, Dirimu, seandainya engkau melakukan ini dirumahmu..”

Secara bahasa kata riya (الرياء) berasal dari kata (الرؤية) penglihatan, dan asalnya adalah bermakna mengharapkan kedudukan di hati manusia dengan cara memperlihatkan sifat yang baik. Ada banyak hal yang bisa di-riya-kan yang itu semua disimpulkan pada lima hal yang manusia memperbagusnya: badan, pakaian, ujaran, perbuatan, keinginan untuk diikuti.

Adapun riya dengan badan seperti menunjukkan kurusnya tubuh, cairan lambung karena beratnya hari-hari dia dan dalamnya kesedihan di atas urusan agama dan sangat takutnya dengan akhirat.

Adapun riya dengan menunjukkan keadaannya dan bekas-bekas pakaian seperti rambut yang kumal, kepala yang tertunduk ketika berjalan, perangai ug dikesankan tenang, menyisakan bekas sujud di wajahnya, dia riya dengan itu semua.

Adapun riya dengan ucapan adalah dia menampakkan memberi nasihat, mengingatkan orang dari kesalahan, ujaran penuh hikmah, menampakkan jejak-jejak banyaknya dia memperhatikan keadaan orang-orang shalih, dan jugA gerakan dua bibirnya, berdzikir di depan khalayak.

Adapun riya dengan perbuatan seperti orang yang sholat memperlihatkan berdiri yang panjang, sujud yang panjang, ruku, kepala menunduk tidak menoleh ke sana-sini.

Adapun riya dengan membuat persahabatan atau berkunjungan, seperti menunjukkan mengunjungi Akim ulama sehingga dia dikatakan: “Sesungguhnya dia sudah pernah mengunjungi rumahnya ‘ulama”.

— Menerjemahkan bagian di Al-Bahrur Roiq fiz Zuhdi war Roqo-iq li Dr. Ahmad Farid