Categories
bahasa arab Nahwu Shorof Ushul Fiqih

Untuk Apa Belajar Bahasa Arab?

Puji syukur ke hadirat Allah semata.

Ilmu agama ini dipelajari secara bertahap. Artinya ada urutan belajarnya. Dari yang paling ringkas dulu, dari yang paling umum dulu. Dari yang ditulis ulama kontemporer dulu. Lalu naik sedikit demi sedikit hingga bisa melihat menyelami samudera tak bertepi tak berdasar tak pernah keruh yang bernama ilmu agama.

Rahasia lainnya yang menarik adalah pada awalnya mungkin ilmu-ilmu tersebut terkesan berdiri sendiri-sendiri. Bahasa arab sendiri. Al-Qur’an sendiri. Hadits sendiri. Fiqih sendiri. Ushul Fiqih sendiri. Kaidah Fiqih sendiri. Sejarah sendiri. Mustolah sendiri. Namun semakin menapak jenjang demi jenjang yang lebih tinggi mulailah kita akan menyadari dan menemukan dan menikmati bidang-bidang ilmu tersebut mulai saling kait mengkait.

Atau bahkan satu bidang ilmu merupakan pembahasan yang lebih dalam dari bidang ilmu yang lainnya. Seperti ilmu bahasa arab dengan ushul fiqih. Kata guru saya, bahasa arab adalah permisalan kulit, sedangkan ushul fiqih adalah dagingnya. Ushul fiqih bisa dinikmati jika kita sudah bisa membedah bahasa arab.

Sebagai contoh, mayoritas pelajar bahasa akan melewati kalimat ini: الكلام هو اللفظ المركب المفيد بالوضع yakni baris awal dari Matan Ajurumiyyah. Masing-masing kata bahasa arab di atas memiliki penjelasan yang rinci di kitab-kitab yang lebih tingginya yang mana memberikan faidah besar dan bermanfaat. Jika kita buka buku ushul fiqih, maka terkait اللفظ itu saja sangat banyak penjelasannya yang mana akan menyingkap apa manfaat-manfaat dari belajar apa makna kata “lafaz”.

Di bawah term lafazh terlahir banyak istilah menakjubkan yang dipelajari di ushul fiqih, misalnya lafazh umum, lafazh khusus, lafazh mutlaq, dan lain sebagainya dari pembongkaran makna-makna dan arah-arah yang diinginkan dari lafazh.

Contoh lainnya dari term كلام , ushul fiqih mempelajari rincian luar biasa mulai kalam terbagi kepada khobariyyah dan insyaiyyah, haqiqoh dan majaz, dan lain sebagainya.

Bisa kita masuk ke al (ال) yang di kitab bahasa disebutkan rincian mulai dari istighroqiyyah dan ‘ahdiyyah. Dan bahwa di ushul fiqh kita akan menemui bahwa al memiliki makna umum.

Atau kita diajarkan kata yang nakiroh, dan kita pikir ya ini sekedar tahu saja ada nakiroh dan ada ma’rifah. Namun pembahasan ushul fiqh kita akan menyaksikan dari nakiroh itu bisa diambil makna umum, mutlaq, dan lain sebagainya dari makna-makna tersembunyi dan abstrak.

Atau kita diajarkan definisi inna wa akhowatiha, zhonna wa akhowatiha, dan lain sebagainya. Yang ternyata terkandung makna bahwa kalimat tersebut adalah sebagai alasan (‘illah) atau bahwa pembicaranya mengatakan dengan bentuk ragu atau yakin. Dan lain sebagainya dari setiap poin pembahasan di ilmu bahasa, maka ada pembahasan dahsyat-nya di ilmu ushul fiqh.

Mungkin ada di antara kawan yang merasa sudah bosan belajar bahasa arab nahwu shorof. Padahal belum lagi menyentuh balaghah. Ketahuilah kawan, ilmu bahasa arab yang sedang kita pelajari ini akan menemui belahan jiwanya pada sosok bernama Ushul Fiqih, bidang ilmu yang dirintis oleh Al Imam Syafi’i rohimahullah. Sekali anda melihat gambaran umum ilmu ini, mendengar bisikan lembutnya, merenungi narasi dan argumennya niscaya anda tidak lagi ingin lepas dari belajar lebih dalam bahasa arab sambil menapaki bidang ini.

Teruslah berjalan wahai diri dan kawan memasuki dataran dan gunungnya, hingga Allah sampaikan kita untuk menyelam ke samudera ilmunya yang tak terbayangkan.

Kawan, ilmu agama sungguh-sungguh benar-benar wallahi demi Allah luar biasa. Kedalamannya tidak bisa dicapai sonar. Ketinggiannya tidak bisa dicapai teropong. Luas spektrumnya tidak bisa diilustrasikan dengan warna yang ada. Kecanggihan saling keterkaitannya tidak bisa ditiru oleh ahli bangunan mana pun. Dan… rasa manisnya tidak bisa digantikan dengan madu termanis. Ya.. ilmu agama itu memiliki rasa, dan rasanya sungguh manis.

Al Mizzi -penulis Tahdzibul Kamal dan mertua dari Ibnu Katsir- rohimahumallah mengkreasi dua bait syair yang sangat indah sebagai berikut:

Maa hawal Ilma jamian ahadun — laa walau maarosahu alfa sanah
Innamal ilmu kabahirin zahirin — fattakhidz min kulli syaiin ahsanah

Terjemahnya:
Tidaklah mungkin satu orang pun menaklukkan ilmu semuanya — tidak mungkin, bahkan meski dia menggelutinya selama seribu tahun
Karena sesungguhnya ilmu itu bagaikan samudera yang sangat agung — oleh karena itu ambillah dari segala sesuatu yang paling indahnya

Categories
Nahwu Pesantren Shorof

Belajar Baca Kitab Terlebih Dahulu

Disebutkan di dalam kaidah fiqih bahwa jika berbenturan dua maslahat dalam satu keadaan maka didahulukan sesuatu yang manfaatnya lebih besar dari kedua tersebut.

Maka berbicara kaidah ini, Kita hubungkan dengan satu kasus yakni belajar bahasa Arab dengan penekanan belajar dengan tujuan bisa membaca kitab atau belajar bahasa Arab dengan penekanan bisa berbicara aktif. Manakah yang didahulukan? Dengan ketentuan atau dengan keadaan tidak bisa menjamak kedua-duanya. Karena jika bisa dijamak maka sepatutnya mengambil kedua-duanya sekaligus. Namun menjamak atau mengumpulkan diantara dua manfaat ini di satu waktu tentu ada plus minusnya masing-masing disesuaikan dengan masing-masing orang.

Pembahasan Hal ini tentu bukan memutlakkan satu lebih unggul dari yang lainnya. Tidak. Karena dalam belajar tentu ada hal-hal yang mempengaruhi mungkin saja di orang pertama pada seseorang terbuka kesempatan bagi dia bentuk dalam waktu yang pendek akan belajar ke timur tengah sehingga mesti belajar bahasa Arab secara luas, tidak sekedar membaca kitab namun juga mengasah kemampuan berbicara komunikasi dan aspek-aspek komunikasi lainnya.

Dan ada kalanya seseorang belajar bahasa atau menyadari urgensi belajar agama ketika usianya sudah tidak muda lagi yang mana pada keadaan tersebut dia sudah terpecah-terbagi waktunya dan konsentrasinya. Misalnya dibagi untuk kerja, untuk mengurus keluarga dan kegiatan yang lainnya sehingga tentulah untuk belajar ini dia menggunakan waktunya yang tersisa tadi. Padahal  waktu adalah sesuatu yang paling baik, paling besar, paling berharga bagi manusia.

Lalu hal apa yang harus didahulukan untuk dikerjakan oleh manusiadi? Tentu saja lakukan yang memiliki sifat paling mendesak dan juga manfaat paling besar, yakni mengamalkan syari’at-syariat yang sudah ditentukan di dalam Islam.

Kemudian dikarenakan mengamalkan amal-amalan dalam Islam tersebut tidak bisa dilakukan kecuali dengan ilmu Maka haruslah belajar ilmu. Kemudian dikarenakan belajar ilmu itu tidak bisa didapat kecuali dengan membaca kitab, maka tentulah harus belajar membaca kitab, which is berkonsekuensi kepada harus belajar bahasa arab. Hingga saat ini 99% buku-buku untuk belajar agama semuanya masih dalam bahasa Arab, sehingga tidak mau harus mempelajari bahasa Arab khususnya untuk membaca kitab.

Thoyyib ini murni opini saya. Jika ada pendapat yang berbeda silakan sampaikan di kolom komentar 😊.