Categories
Maisyah Qowaid Fiqhiyyah

Kaidah Jika seorang sudah menunaikan tugasnya maka dia berhak atas upah yang dijanjikan .

  • Asal: Al-Qowa’id wal Ushul Al-Jami’ah
  • Penulis: Asy-Syaikh ‘Abdurrohman bin Nashir As-Si’diy rohimahullah.
  • Pemberi ta’liq : Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rohimahullah.

Ucapan Pemberi Ta’liq adalah sesuai matan penulis kitab namun ada perubahan kata dengan konteks yang sama.

Kaidah ini melingkupi (1) pekerjaan, dan (2) pertukaran barang. Maka seorang juragan berhak atas pekerjaannya pekerja. Dan yang mengambil pekerjaan kalau mengerjakan pekerjaan tersebut dan menyempurnakannya maka ia berhak mengambil upah yang sudah ditentukan, atau hadiah sayembara (ju’aalah جعالة) yang sudah ditentukan. Tapi kalau dia tidak konsekuen dengan kewajibannya maka tidak berhak dari hadiah sayembara sedikitpun.

Adapun kalau dalam akad sewa, jika dia (yang disewa) meninggalkan sisa pekerjaannya tanpa ada udzur maka juga tidak berhak mendapat apapun. Namun jika ada ‘udzur maka berhak dapat upah sewa sesuai kadar yang dia tuntaskan. Demikian pula jika rusak barang yang disewakan. Yakni: pemilik barang berhak mendapatkan uang sewa sesuai kadar penyewa mendapat manfaatnya.

Contoh: ada seorang menyewa mobil untuk mengantarkan dia ke Mekkah tapi kemudian mobil terbakar. Atau dia ingin menyewa rumah untuk ditempati selama satu tahun tapi kemudian rumahnya roboh. Kerusakan itu terjadi namun ada ‘udzur maka pemilik rumah dan mobil berhak mendapat uang sewa sesuai kadar penggunaannya.

Masuk ke dalam cabang kaidah ini, misalkan ada syarat untuk mendapatkan suatu wasiat atau wakaf atau lainnya adalah bagi siapa yang melakukan pekerjaan tertentu seperti mengimami solat atau adzan atau mengajar atau amalan apapun. Maka kapan ia mengerjakan itu maka ia berhak mendapat upah yang sudah ditentukan.

Dengan alasan itu, masalah gaji, seorang karyawan tidak berhak mendapat gaji full kecuali bila dia bekerja full. Lantas bila ia ada cacat/kurang dalam memenuhi pekerjaan maka dia berhak menerima selisih yang muncul karena tidak sempurna kerjanya dia.

Dan sangat disayangkan sekarang banyak karyawan tidak memenuhi apa yang harus dia penuhi entah perkara waktu, atau di perkara pekerjaannya. Dalam hal waktu seperti dia tidak datang kecuali sudah melewati jadwal yang tidak diizinkan. Atau dia pulang sebelum selesai waktu kerja.

Adapun cacat dalam pekerjaannya seperti dia duduk di kursinya namun dia tidak sungguh dan memberi perhatian ke pekerjaannya. Dia membaca koran, atau mengobrol di telepon dan tidak peduli pekerjaannya. Mereka ini tidak berhak gaji full dan tidak berhak dari gaji kecuali sesuai kadar dia menunaikan pekerjaannya. Maka di atas tindakan tadi, apa yang dia makan dan dia minum dari gaji yang tidak berhak dia dapat menjadi haram kelak akan diminta pertanggungjawaban.

Dan telah kondang di pemahaman sebagian orang bahwa harta negara adalah mubah. Mereka bilang: karena harta itu tidak ada pemilik jelasnya. Maka atas sangkaan itu diberi jawaban: Sesungguhnya harta negara itu adalah milik baitul mal yang mana seluruh orang berhak atas harta di dalamnya. Maka anda jika merugikan harta tersebut, maka engkau merugikan seluruh orang yang berhak atas harta baitul mal tersebut.

Penerjemah: admin bahasadhodh.wordpress.com

Categories
Qowaid Fiqhiyyah Ushul Fiqih

Apa Sih Perbedaan Kaidah Ushul Fiqih dengan Kaidah Fiqih

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

Para ulama berselisih akan penjelasan dari definisi قَاعِدَة. Di dalam buku yang bernama Al Qawa’id al-Fiqhiyyah Al-Khamsah Al-Kubro (القواعد الفقهية الخمسة الكبرى) disebutkan di dalamnya beberapa definisi yang disebutkan oleh ulama. Beberapa di antaranya yaitu:

Definisi 1.
حكم كلي ينطبق على جميع جزئياته لتعرف أحكامها منه
Hukum yang bersifat menyeluruh yang masuk kepada semua bagiannya dalam rangka mengetahui hukum-hukum bagiannya tersebut.

Definisi 2.

قضية كلية منطبقة على جميع جزئياتها
Isu-isu atau urusan-urusan yang bersifat menyeluruh yang hukum itu masuk kepada semua bagian-bagiannya.

Definisi 3.
الأمر الكلي منطبقة على الجزئيات لتعرف أحكامها منها
Perkara yang bersifat menyeluruh yang dia masuk ke dalam semua bagian-bagiannya dalam rangka mengetahui hukum-hukum bagian tersebut.

Definisi 4.
الأمر الكلي الذي ينطبق على جزئيات كثيرة يفهم أحكامها منها
Perkara yang bersifat menyeluruh yang masuk kepada hukum menyeluruh itu bagian-bagian yang banyak yang dengannya bisa dipahami hukum-hukum bagian yang banyak tersebut.

Definisi 5.

حكم أكثري لا كلي، ينطبق على أكثر جزئياته لتعرف أحكامها منه
Hukum yang bersifat kebanyakan (tidak menyeluruh) yang dia masuk kepada kebanyakan dari bagian-bagiannya dalam rangka mengetahui hukum-hukum bagiannya tadi.

Kemudian apakah perbedaan kaidah Ushul Fiqih dengan Kaidah Fiqhiyah?

Sebelum membandingkan antara Kaidah Fiqih dan Ushul Fiqih, hendaknya kita lihat dulu apa definisi ilmu usul Fiqih.

Disebutkan oleh Ibnu Al-Utsaimin bahwasanya definisi Ushul Fiqih adalah:
معرفهة الأحكام الشرعية العملية بأدلتها التفصيلية
Yang artinya: “mengenal atau mengetahui hukum-hukum Syariah amaliyah (bukan I’tiqodiyyah) dengan dalil-dalil secara terperinci”.

Yang dimaksudkan hukum syar’i adalah seperti hukum wajib, haram sunnah, mubah dan makruh.

Beberapa Perbedaannya adalah:

Pertama, Kaidah Ushul itu sifatnya kulliyah komprehensif masuk ke seluruh sisi dan spektrumnya. Adapun Kaidah Fiqih maka sifat-sifat kaidah tersebut kategorinya aghlabiyah atau mayoritas. Artinya Kaidah Fiqih kadangkala tidak bisa diterapkan di kasus-kasus tertentu.

Kedua, bahwasanya kaidah fiqih itu berkaitan dengan perbuatan orang yang mukallaf. Adapun Ushul Fiqih ada pembahasan dalil-dalil dan hukum-hukumnya.

Ketiga, Kaidah Fiqih itu dia bisa langsung diambil manfaat darinya. Berbeda dengan kaidah ushuliyah. Misalkan perintah berfaedah wajib namun sebelum diambil faedah dari kaidah ushul tersebut seseorang harus membawakan dulu dalil-dalilnya bagaimana interaksi antara dalil-dalilnya dan barulah dihasilkan kesimpulan.

Mungkin ini adalah sebagian kecil saja, adapun di luar sana insya Allah ada banyak penjelasan yang lebih memuaskan, to the point, dan tidak menyisakan keraguan. Ambillah ilmu langsung kepada guru yang kuat di bidang keilmuan tersebut.

Wallahu a’lam. Mohon koreksinya jika Ada kesalahan.

Rujukan:

  • Al Qowaid Al Fiqhiyyah Al Khomsah Al Kubro – Ismail bin Al Hasan bin Muhammad ‘Irwan.
  • Al Ushul Min ‘Ilmil Ushul – Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin
  • mp3 Dzulqarnain M Sanusi – Penjelasannya Manzumah Al Qowaid Al Fiqhiyyah As-Si’di.