Categories
Adab dan Akhlak Aqidah Fiqih Pesantren

Permisalan Pohon Keimanan

Seringkali ketakwaan keimanan keislaman bahkan orang yang beriman kepada Allah di per misalkan dengan pohon. Contoh yang paling jelas adalah firman Allah ayatnya yang agung kalimat-kalimat yang tidak ada kedustaan sedikitpun di dalamnya nya Allah berfirman:

ضرب الله مثلا كلمة طيبة كشجرة طيبة أصلها ثابت وفرعها في السماء

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. (Q.S. Ibrohim:24)

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam pernah juga pada satu kesempatan bersama para sahabatnya beliau shallallahu alaihi wasallam bertanya melemparkan pertanyaan kepada mereka dengan permisalan pohon.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ فَحَدِّثُونِي مَا هِيَ فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي قَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ فَاسْتَحْيَيْتُ ثُمَّ قَالُوا حَدِّثْنَا مَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هِيَ النَّخْلَةُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya ada di antara pepohonan, satu pohon yang tidak gugur daunnya. Pohon ini seperti seorang muslim, maka sebutkanlah kepadaku apa pohon tersebut?” Lalu orang menerka-nerka pepohonan wadhi. Abdullah Berkata: “Lalu terbesit dalam diriku, pohon itu adalah pohon kurma, namun aku malu mengungkapkannya.” Kemudian mereka berkata: “Wahai Rasulullah beri tahukanlah kami pohon apa itu?” Lalu beliau menjawab: “ia adalah pohon kurma.”

Berikut ini adalah pembahasan Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Si’di rohimahullah dari kitab yang beliau tulis “Bahjatu Quluubil Abror wa Qurrotu Uyuunil Akhyaar”. Yang di dalamnya beliau menyebutkan permisalan keimanan dengan pohon, apa makanan dan minumnya, apa yang membuat dia tumbuh besar, apa yang membuat dia kebal dari hama.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: الصلوات الخمس والجمعة إلى الجمعة ورمضان إلى رمضان مكفرات لما بينهن ما اجتنبت الكبائر (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah -radhiallahu ‘Anhu- berkata Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda salat lima waktu dan salat Jum’at ke Jum’at selanjutnya dan puasa romadhon dan ramadhan selanjutnya, menggugurkan dosa-dosa yang terjadi di antara keduanya selama tidak melakukan dosa besar.

Syaikh As-Si’di rohimahullah memberikan penjelasan sangat indah… Simaklah…

Hadits ini menunjukkan kepada sangat besarnya keutamaan yang Allah miliki dan sangat pemurah nya Allah dengan memberikan kelebihan-kelebihan untuk ketiga ibadah yang disebutkan di hadits dan bahwasanya tiga ibadah yang disebutkan tersebut bagi mereka di sisi Allah ada kedudukan yang sangat tinggi dan juga buah yang dihasilkan dari amalan tersebut tidak mungkin bisa dihitung dan diperkirakan banyaknya.

Maka yang termasuk dari buah amalan tersebut adalah bahwasannya Allah menjadikan tiga ibadah tersebut yang disebutkan di hadits adalah sebagai (1) penyempurnaan bagi agama seorang hamba dan keislamannya dia. (2) Kemudian bahwasanya tiga amalan tersebut menjadi hal yang menumbuhkan keimanan dan (3) memberikan minum bagi pohon keimanan, karena sesungguhnya (4) Allah menumbuhkan pohon keimanan di hati hatinya orang beriman yang (5) besar pohon tersebut tergantung dengan kadar keimanan mereka. Dan Allah juga mentakdirkan dengan sifat Maha Lembutnya Allah, dan juga dari keutamaan –fadhl- yang Allah yang tidak bisa dihitung, Allah telah menetapkan / mentakdirkan kewajiban-kewajiban dan ibadah yang sunnah bagi hamba-Nya yang (6) dengan hamba itu melakukan kewajiban dan sunah tadi maka akan memberikan air, mengairi, memberikan irigasi untuk pohon keimanan di dalam hatinya dan (7) dengannya pohon itu menjadi semakin besar dan menjadi sehat (8) bisa menolak berbagai penyakit sehingga semakin menjadi sempurnalah pohon tersebut dan (9) di kemudian hari memberikan buah-buahan, panenan dari pohon keimanan tersebut setiap waktu, tentunya dengan izin yang menguasainya. dan Allah menjadikan dari melakukan kewajiban-kewajiban dan sunah sunah itu (10) akan mencegah atau meniadakan dari pohon-pohon itu penyakit apapun.

Dosa-dosa itu bahayanya sangatlah besar dan dosa itu dia bisa mengikis keimanan dan ini hal yang sudah diketahui.

Kewajiban-kewajiban yang tiga ini (yakni: (1) sholat lima waktu, (2) jumat, (3) ramadhan) jika seorang hamba menguranginya dengan menjauhi dosa-dosa yang besar maka Allah pasti akan ampuni dosa-dosa kecil hamba itu dan kesalahan-kesalahan yang pernah dia perbuat, dengan sebab melakukan tiga kewajiban tadi dan bahkan tiga amalan yang itu adalah salah satu dari perkara yang paling besar yang masuk ke dalam firman Allah ta’ala

إن الحسناتِ يذهبْن السيئاتِ (هود:١١٤)

Arti: Sesungguhnya perbuatan baik akan menghapus perbuatan jelek. (Q.S. Hud-114)

Hal yang semisal dengan itu sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan -dengan sifat Allah yang Maha Lembut- bahwasanya (seorang hamba) dia menjauhi dosa-dosa yang besar, maka itu menjadi sebab dari digugurkannya dosa-dosa yang kecil. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إن تجتنبواْ كبآئر ما تنهون عنه نكفر عنكم سيئاتكم وندخلكم مدخلًا كريمًا (النساء:٣١).

Adapun untuk dosa besar, maka tidak bisa tidak, pelakunya harus bertaubat agar diampuni. (Q.S. An-Nisaa:31)

Bisa diilmui dari hadis ini bahwasanya (1) semua nash yang didalamnya terdapat penjelasan akan amalan sholeh itumenghapuskan perbuatan-perbuatan jelek maka sesungguhnya yang dimaksudkan dari penghapusan amalan jelek itu cuma dosa kecil, karena ibadah-ibadah ini yang besar tadi jikalah dia tidak bisa menghapuskan dosa yang besar bagaimana pula dengan amalan sholeh lainnya yang kedudukannya di bawah tiga amalan di hadis itu.

Kemudian hadits ini secara terang jelas membagi dosa kepada dua pembagian yaitu (1) dosa-dosa besar dan (2) dosa-dosa kecil. Dan kita sudah tahu bahwa sangat banyak kalimat-kalimat dari ulama terkait apa perbedaan antara dosa kecil dengan dosa besar dan ucapan tersebut yang paling bagusnya adalah: bahwasanya dosa besar itu : (a) sesuatu yang berefek kepada hukuman di dunia atau (b) pelakunya diancam dengan hukuman di akhirat atau (c) pelaku dosa tersebut mendapat laknat atau perbuatan dosa tersebut berefek kepada murkanya Allah dan yang sejenisnya. Adapun dosa-dosa kecil adalah selain dari itu.

Atau bisa juga didefinisikan dosa-dosa besar adalah: dosa-dosa yang bentuk pengharamannya adalah pengharaman terhadap hal utama / hal inti (maqshud). Adapun dosa-dosa kecil adalah dosa yang diharamkan namun dengan bentuk pengharamannya itu terhadap perantara kepada dosa inti (washilah) yang sebelumnya. Dan wasilah itu seperti: (1) memandang kepada perempuan yang tidak boleh dilihat (2) atau bahkan ditambah dengan berduaan dengan perempuan asing yang bukan mahramnya. Adapun dosa besar itu contohnya (1) zina, ya perbuatan zina itu sendiri (bukan pendahuluan kepada sinarnya), atau seperti (2) riba fadhl ditambah riba nasi’ah dan dosa-dosa yang semisalnya.

Categories
Maisyah Qowaid Fiqhiyyah

Kaidah Jika seorang sudah menunaikan tugasnya maka dia berhak atas upah yang dijanjikan .

  • Asal: Al-Qowa’id wal Ushul Al-Jami’ah
  • Penulis: Asy-Syaikh ‘Abdurrohman bin Nashir As-Si’diy rohimahullah.
  • Pemberi ta’liq : Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rohimahullah.

Ucapan Pemberi Ta’liq adalah sesuai matan penulis kitab namun ada perubahan kata dengan konteks yang sama.

Kaidah ini melingkupi (1) pekerjaan, dan (2) pertukaran barang. Maka seorang juragan berhak atas pekerjaannya pekerja. Dan yang mengambil pekerjaan kalau mengerjakan pekerjaan tersebut dan menyempurnakannya maka ia berhak mengambil upah yang sudah ditentukan, atau hadiah sayembara (ju’aalah جعالة) yang sudah ditentukan. Tapi kalau dia tidak konsekuen dengan kewajibannya maka tidak berhak dari hadiah sayembara sedikitpun.

Adapun kalau dalam akad sewa, jika dia (yang disewa) meninggalkan sisa pekerjaannya tanpa ada udzur maka juga tidak berhak mendapat apapun. Namun jika ada ‘udzur maka berhak dapat upah sewa sesuai kadar yang dia tuntaskan. Demikian pula jika rusak barang yang disewakan. Yakni: pemilik barang berhak mendapatkan uang sewa sesuai kadar penyewa mendapat manfaatnya.

Contoh: ada seorang menyewa mobil untuk mengantarkan dia ke Mekkah tapi kemudian mobil terbakar. Atau dia ingin menyewa rumah untuk ditempati selama satu tahun tapi kemudian rumahnya roboh. Kerusakan itu terjadi namun ada ‘udzur maka pemilik rumah dan mobil berhak mendapat uang sewa sesuai kadar penggunaannya.

Masuk ke dalam cabang kaidah ini, misalkan ada syarat untuk mendapatkan suatu wasiat atau wakaf atau lainnya adalah bagi siapa yang melakukan pekerjaan tertentu seperti mengimami solat atau adzan atau mengajar atau amalan apapun. Maka kapan ia mengerjakan itu maka ia berhak mendapat upah yang sudah ditentukan.

Dengan alasan itu, masalah gaji, seorang karyawan tidak berhak mendapat gaji full kecuali bila dia bekerja full. Lantas bila ia ada cacat/kurang dalam memenuhi pekerjaan maka dia berhak menerima selisih yang muncul karena tidak sempurna kerjanya dia.

Dan sangat disayangkan sekarang banyak karyawan tidak memenuhi apa yang harus dia penuhi entah perkara waktu, atau di perkara pekerjaannya. Dalam hal waktu seperti dia tidak datang kecuali sudah melewati jadwal yang tidak diizinkan. Atau dia pulang sebelum selesai waktu kerja.

Adapun cacat dalam pekerjaannya seperti dia duduk di kursinya namun dia tidak sungguh dan memberi perhatian ke pekerjaannya. Dia membaca koran, atau mengobrol di telepon dan tidak peduli pekerjaannya. Mereka ini tidak berhak gaji full dan tidak berhak dari gaji kecuali sesuai kadar dia menunaikan pekerjaannya. Maka di atas tindakan tadi, apa yang dia makan dan dia minum dari gaji yang tidak berhak dia dapat menjadi haram kelak akan diminta pertanggungjawaban.

Dan telah kondang di pemahaman sebagian orang bahwa harta negara adalah mubah. Mereka bilang: karena harta itu tidak ada pemilik jelasnya. Maka atas sangkaan itu diberi jawaban: Sesungguhnya harta negara itu adalah milik baitul mal yang mana seluruh orang berhak atas harta di dalamnya. Maka anda jika merugikan harta tersebut, maka engkau merugikan seluruh orang yang berhak atas harta baitul mal tersebut.

Penerjemah: admin bahasadhodh.wordpress.com

Categories
Sholat Jum'at

Bulan Rajab

Allah berfirman: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya” (QS. At-Taubah[9]: 36)

Diriwayatkan dari Abu Bakrah pada hadits yang Muttafaq ‘Alaih, bahwasanya Nabi –shollallahu ‘alaihi wasallam— bersabda: Sesungguhnya zaman itu terus berputar sama seperti saat Allah menciptakan langit dan bumi, setahun ada dua belas bulan, dan empat di antaranya adalah bulan-bulan haram, dan tiga di antaranya adalah bulan-bulan yang berurutan yaitu; Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab. Sedangkan bulan Rajab adalah bulan Mudhar, yaitu bulan ketujuh, yang terletak antara Jumadil Akhir dan Sya’ban.

Orang Arab Jahiliyyah khususnya dari Kabilah Mudhor yang terkenal sangat bengis dan kejam mereka sangat mengagungkan bulan rajab dan mencabut bagian runcingnya tombak karena merek berjauh-jauh dari keinginan berperang di bulan-bulan haram. Bahkan jika ada seorang laki bertemu sekelompok orang yang salah satunya membunuh bapaknya niscaya laki tersebut tidak meringkus orang tersebut, dan mereka menamakan bulan rajab dengan bulan haram.

Bulan haram yang empat itu adalah warisan dari syariat Nabi Ibrahim yang sangat dihormati oleh bangsa Arab Jahiliyyah. Kemudian keharaman bulan tersebut diteruskan oleh Islam karena itu termasuk empat bulan haram, akan tetapi ini bukan bermakna empat tersebut punya kekhususan dari yang lainnya.
Kata haram secara bahasa adalah yang dilarang. Ibu itu haram karena larangan menikahinya. Khamr haram karena terlarang meminumnya, mengambilnya, dan menjual belikannya. Masjidil haram karena larangan memburu hewannya dan menumpahkan darah di sana.

Qotadah dan Atho’ berkata: “Dahulu perang adalah dosa besar jika dilakukan pada bulan haram kemudian dihapus dan dihalalkan perang berdasarkan firman Allah: “perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”

IBADAH HANYA SAH JIKA BERDALILKAN AL-QUR’AN DAN SUNNAH SHAHIHAH

Ibadah adalah semua yang Allah dan Rasul-Nya cintai berupa amalan dan ucapan yang nampak maupun yang tersembunyi. Dan hukum asal ibadah adalah terlarang hingga ada dalil yang sahih tegak atasnya. Adapun Adat, maka kebalikan dari ibadah bahwa hukum asal adat dan muamalah adalah boleh hingga ada dalil yang melarang. Jadi, hendaknya kita bisa membedakan antara ibadah yang hukum asalnya haram sampai ada dalil yang menetapkannya, dengan muamalah yang hukum asalnya boleh.

Allah berfirman di surat Syuro ayat ke-21: “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih”.

Rasulullah bersabda dalam hadits dari Ummil Mukminin ‘Aisyah binti Abi Bakar ash-Shiddiq –radhiyallahu ‘anhuma— yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim: “Siapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami ini yang tidak ada perintahnya maka perkara itu tertolak”.

PENISBATAN KEUTAMAAN KEPADA BULAN RAJAB

Oleh karena Bulan Rajab adalah bulan haram memiliki kemuliaan salah satunya adalah amalan kebaikan akan Allah lipatgandakan pahalanya demikian dengan amalan buruk akan Allah lipatgandakan dosanya. Maka hendaknya kita bergembira melakukan ketaatan kepada Allah –dengan hal-hal yang benar Allah dan Rasul-Nya syariatkan— karena berharap Allah berikan pahala lebih besar, dan kita jauhi perbuatan buruk karena khawatir dicatatkan dosa yang berlipat ganda. Hanya saja perlu disadari bahwa kita tidak mengkhususkan bulan Rajab saja, bahkan setiap waktu kita sebagai hamba Allah harus selalu giat melakukan ketaatan dan menjauh dari kemaksiatan.

Bulan Rajab adalah satu dari dua belas bulan yang ada dan dinisbatkan kepadanya banyak keutamaan akan tetapi semuanya tidak dibangun dari dalil yang sah. Memang ada haditsnya akan tetapi semuanya tidak sah, ada yang palsu, ada yang lemah, dan ada yang tidak punya asal-usul.

Ada beberapa perkara yang harus kita perhatikan: Pertama, tidak ada keutamaan tentang suatu amalan yang khusus di bulan Rajab. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani Asy-Syafi’i Rahimahullah dalam kitab beliau Tabyin al-‘Ajab bima Warad fi Fadhl Rajab. Setelah mentakhrij hadits-hadits tentang keutamaan-keutamaan amal dibulan Rajab, beliau menyebutkan bahwa tidak ada satupun hadits yang shahih, yang ada adalah hadits yang dhaif bahkan palsu. Seperti keutamaan berpuasa tanggal 1, tanggal 2 dan yang lainnya.
Di dalam bulan ini ada banyak hadits yang diriwayatkan golongan pemalsu hadits, di antara mereka Makmun bin Ahmad. Disebutkan bahwasanya dia membuat seratus ribu hadits semuanya palsu. Tidak ada yang shahih, apakah tentang sholat di awal rajab dan tidak di tengah Rajab dan tidak juga di akhir rajab. Begitu juga dengan puasa awal, tengah dan akhir rajab, maupun jumlah hari puasanya.

Demikian juga hadits tentang mata air dan sungai yang dipalsukan bahwa Rasulullah berkata: “Sesungguhnya di surga adalah sungai dinamai dengan Rajab”. Perawinya bernama Musa At-Thowil yang Ibnu Hibban berkata: “Dia meriwayatkan dari Anas bin Malik hadits-hadits yang tidak halal menuliskannya”.

Begitu juga dengan hadits Syahr bin Hausyab dia menyebutkan sanad palsunya sampai ke Abu Hurairah berkata: “Siapa yang puasa tanggal 27 rajab Allah akan tuliskan pahala puasa 60 bulan. Itu adalah hari pertama Jibril turun kepada Nabi Muhammad”.

Berkata Imam Ahmad bin Hanbal semoga Allah merahmatinya: “Dibenci mengkhususkan bulan Rajab dengan berpuasa” –maksudnya seperti orang menyebutkan “Puasa Rajab”.

Al Muktamin bin Ahmad As-Saji Al-Hafiz berkata: “Dahulu Imam Abdullah Al Anshori –Guru penduduk Khurasan— tidak berpuasa Rajab bahkan melarangnya, dia berkata: “Tidak ada satupun yang shahih dari Rasulullah atas keutamaan Rajab juga tentang puasanya. Para sahabat juga mengingkari hal tersebut, salah satunya Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhum”.

Di dalam buku “Dzikrul Hawadits wal Bida’” Abu Bakar Muhammad bin Al Walid bin Muhammad al Fahriy disebutkan alasan dibencinya Puasa Rajab dengan salah satu dari tiga alasan:

  1. Pertama, jika orang islam mengkhususkannya dengan puasa setiap tahun orang awam dan yang tidak punya pengetahuan menyangka bahwa itu wajib seperti puasa ramadhan, atau
  2. kedua, (menyangkan bahwa itu) sunnah yang ditetapkan Nabi, atau
  3. ketiga, di sana ada keutamaan, seperti sholat di sepertiga malam, atau puasa ‘Asyura. Padahal, seandainya ada keutamaan, mesti Nabi sudah mewanti-wantinya atau melakukannya meski cuma sekali.

Oleh karena itu dibenci puasa Rajab bahkan sampai merutinkan, waspada agar tidak melekat di benak awam bahwa Puasa rajab itu wajib atau sunnah.

Wallahu a’lam bis showab.

Penulis: Magang di Pesantren untuk Buletin Jum’at Mesjid Nurul Hidayah
Sumber-sumber: Maktabah Syamilah (Magang di Pesantren lupa merekap judul-judulnya).

Categories
Fiqih Resensi Kitab

​RESENSI KITAB AL MUHADZDZAB

A. MUQODIMAH

Kitab Al-Muhazzab karya Imam Abu Ishaq Asy-Syirazi adalah salah satu kitab terpenting dalam mazhab Syafi’i.

Kitab ini merupakan rujukan utama dalam mazhab Syafi’i sampai kurun ke 6 hijriah.

Al-Muhazzab banyak menjadi bahan kajian ilmiah bagi para ulama, sehingga muncul berbagai karya ilmiah yang didasarkan darinya baik berupa Syarah, Hasyiah, Ta’liqot, Tahqiqat, dan penjelasan terhadap kalimat yg samar, takhrij hadits dan atsar didalamnya  amalan ilmiah lainnya. Diantaranya adalah Kitab Fawaid ‘ala Al-Muhazzab karangan murid beliau Imam Abu Ali Al-Fariqi,  dan tentu saja yang paling termasyhur kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab karangan Imam Nawawi merupakan referensi terbesar Fiqh Syafi’i secara khusus dan referensi Fiqh islam secara umum.

Kitab Al-Muhazzab ini ditulis pertama kali pada tahun 455 H dan selesai pada hari ahad di akhir bulan Rajab tahun 469, dimana di era yang sama Imam Haramaini menulis kitab monumentalnya Nihayatul-Mathlab. Di Era itu, dua kitab ini (Al-Muhazzab dan Nihayatul Mathlab) adalah rujukan paling unggul dan utama dalam Fiqh Syafi’i.

Dalam kitab-kitab Fiqh Mazhab Syafi’i era setelahnya, nama beliau sangat sering disebut. Imam Nawawi sendiri bahkan meletakkan sebuah istilah yang merujuk kepada beliau. Jika ditemukan dalam kitab-kitab Fiqh karangan Imam Nawawi kalimat “Asy-Syaikh” maka yang dimaksud adalah beliau, Syekh Abu Ishaq Asy-Syirazi.

B. BIOGRAFI IMAM ASY SYIROZI

Nasab

Ibrahim bin Ali bin Yusuf bin Abdullah, yang dikenal dengan Abu Ishaq al-Syirazi,
Perjalanan pendidikan : 

Ia dilahirkan pada tahun 393 H di desa Firz Abaz, sebuah kota dekat Syiraz, Persia. Ketika dewasa ia pindah ke Syiraz.

Di Syiraz Abu Ishaq al-Syirazi belajar fikih pada Abu Abdillah al-Baidawi dan Ibnu Ramin. Kemudian ke Bashrah untuk belajar fiqh pada al-Jazari. Tahun 415 H pindah ke Baghdad dan berguru ilmu ushul fiqh pada Abu Hatim al-Qazwaini dan al-Zajjaj. Selanjutnya ilmu hadits diterimanya dari Abu Bakar al-Barqani, Abi Ali bin Syazan dan Aba Tayyib al-Tabari, bahkan menjadi asistennya.

Sementara murid-muridnya antara lain Abu Abdullah bin Muhammad bin Abu Nasr al-Humaidi, Abu Bakar bin al-Hadinah, Abu al-Hasan bin Abd al-Salam, Abu al-Qasim al-Samarqandi.

Abu Ishaq al-Syirazi adalah seorang yang bersahaja bahkan sangat fakir sampai untuk melaksanakan hajipun ia tidak mampu. Makanannya juga sangat sederhana. Nama Abu Ishaq al-Syirazi popular dimana-mana sebagai cendekiawan yang tangguh, bahasanya bagus, ahli berdebat, berdiskusi dan pembela mazhab Syafi’i. Ia pernah menjadi dosen pada Universitas Nizhamiyah di Baghdad, sebuah Perguruan Tinggi Islam yang didirikan oleh seorang wazir (Menteri) kerajaan Saljuk.

Ia menempati kedudukan tersendiri di hati Khalifah al-Muqtadi bi Amrillah, sampai-sampai ketika ia meninggal, Madrasah Nizhamiyah, sebuah perguruan tinggi yang dibangunnya dimana Asy -Syirazi juga mengajar, harus ditutup, sebagai penghormatan dan rasa duka cita yang mendalam atas kematiannya.

Ia menulis sejumlah buku yang banyak dipakai dan menjadi referensi utama generasi pengikut mazhab Syafi’i sesudahnya. Antara lain: alTanbih dan alMuhazzab. Kedua kitab tersebut merupakan kitab fikih yang sangat popular dalam mazhab Syafi’i.

Abu Ishaq al-Syirazi meninggal di rumah Abu al-Muzaffar bin Rais al Ruasa, malam ahad jumada al-Akhir 476 H. Jenazahnya dishalati oleh Khalifah al-Muqtadi bin Amrillah, setelah lebih dulu dimandikan oleh Abu al-Wafa bin Aqil al-Hambali kemudian dikubur di pemakaman Bab al-Harbi Baghdad.

C. RANGKUMAN ISI KITAB

Pembahasan kitab ini seperti kitab – kitab fiqh pada umumnya, ringkasnya sebagai berikut:

➡️ Ubudiyah : Thoharoh, Sholat, Jenazah, Zakat, Puasa, I’tikaf, Haji.

➡️ Muamalat : Buyu’, Gadai, Shuluh, Hiwalah, Dhoman, Syirkah, Wakalah, Wadli’ah, ‘Ariyah, Ghoshob, Syuf’ah, Qirodl, Musaqoh, Ijaroh, Perlombaan, Ihyaul Mawat, Luqhathah, Laqith, Wakaf, Hibah, Wasiat, Perbudakan, Mukatab, Ummul Walad, Faroidl, Nikah, Mahar, Khulu’, Tholaq, Ila’, Dzihar, Li’an, Sumpah, Iddah, Penyusuan, Nafkah.

➡️ Jinayat : Diyat, Pemberontak, Peperangan, Hudud, Qodlo’, Persaksian, Iqrar.

Referensi :

  • http://www.referensimakalah.com/2013/06/biografi-abu-ishaq-al-syirazi.html?m=1
  • https://htmaalmunawwir.wordpress.com/muhadzab-dan-imam-asy-syairozi/

➡️ Deskripsi ringkas kitab :

  • AL MUHADZZAB FI FIQHIL IMAM SYAFI’I
  • Penulis : Al Imam Abu Ishaq Ibrohim Asy Syirozi
  • Penerbit : Dar Alamiyyah
  • Volume : 3 Jilid
  • Berat : 2,3kg
  • Harga Normal : Rp. 360.000
  • Kontak Penjual: +62-831-10770955 (diskon, dll)

Sumber resensi: Anton Lc.

Categories
Fiqih Ushul Fiqih

RESENSI KITAB Al Fiqhul Manhajiy ‘ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i

  1. Sumber: Anton Abu Abdillah Lc.
Link Buku A. MUQODDIMAH Segala puji bagi Allah Robb semesta alam yang menyebutkan di dalam Al-qur’an yang sangat jelas nyata, yang artinya : (Mengapa sebagian dari setiap golongan diantara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka..) at-Taubah :122 Dan sholawat serta salam kepada baginda Muhammad ﷺ yang amanah yang pemimpin umat Islam, menyebutkan dalam haditsnya, yang artinya : Barangsiapa yang Alloh inginkan baginya kebaikan maka Alloh akan faqihkan dia dalam urusan agama. HR. Bukhori dan Muslim. Serta sholawat kepada keluarganya yang bersih dan para sahabatnya yang menyebarkan agama ini dengan hujjah dan dalil yg sangat terang dan jelas. Kemudian penulis melanjutkan, maka sesungguhnya sebaik-baik perkara yang menyibukkan manusia yaitu mengetahui halal dan haram dari sebuah hukum, dn mengetahui perbuatan yang benar dan salah, dan ilmu fiqh yang mengambil peran untuk menjelaskan hal tersebut. Dan digambarkan dalam kata pengantar ini bagaimana kegigihan para ulama terdahulu dalam menjelaskan suatu hal dalam ilmu fiqih dengan berbagai pembahasan dan metode yang diambil, semoga Alloh meridhoi mereka dalam hal tersebut dan mencatatkan sebagai amal jariyah dan ilmu yang bermanfaat yang tak habis pahalanya sampai hari kiamat. Sehingga demikian kita dapati dalam penulisan fiqh menjelaskan masalah yang penting beserta dalil dalil dari Al-Qur’an dan As-sunnah, yang disertai keterangan- keterangan tentang hikmah pensyariatannya, dan bahasa yang mudah dipahami serta diberikan contoh dalam permasalan yang ada. Walau demikian kami menyadari bahwa dalam menyampaikan hal demikian belumlah setara dengan para fuqoha terdahulu, namun kami merasa bahwa kami pun berkewajiban untuk hal ini. Maka kami memohon pertolongan Alloh untuk dapat menunaikan tanggungjawab ini dengan daya kemampuan yang kami miliki, dan semoga mereka yang lebih bisa dapat memlengkapi dan memperbaiki yang tidak tepat dan yang salah, walau dengan maksimal daya upaya kami tidaklah luas. Dan dari sini kami mengedepankan yang pertama dalam pembahasan ini yaitu bersuci dan sholat yang wajib diketahui bagi setiap muslim. Kami menamakan buku ini AlFiqhu alManhaji berdasarkan Madzhab AlImam AsySyafii. Dan kami berharap kepada para saudara yang menginginkan kebaikan agar memberikan petunjuk jika ada kekeliruan dan bukan untuk menjatuhkan serta mencari kesalahan kami semata. Yaa Alloh, tuluskanlah niat dan amalan kami, berilah taufiq kepada kami dengan sesuatu yang engkau sukai dan ridhoi, dan berilah manfaat umat islam dengan perantara amalan kami ini dan tunjukilah kami kejalan yang lurus yang engkau ridhoi. Kemudian setelah muqoddimah penulis memberikan : Link Buku PENGENALAN ILMU FIQH, SUMBER DAN SEBAGIAN ISTILAHNYA
  1. Pengertian Fiqh.
  2. Kaitan antara fiqh dan aqidah islamiyyah.
  3. Fiqh Islam mencakup semua keperluan manusia :
  • Hukum Ibadah
  • Hukum Keluarga
  • Hukum Muamalat
  • Hukum pemerintahan
  • dan seterusnya
Sumber hukum fiqh:
      • Al-qur’an
      • Assunnah,
      • Ijma’ dan
      • Qiyas
      Pengertian istilah ilmu fiqh:
          • Fardhu
          • Wajib
          • Fardhu ‘Ain
          • Fardhu kifayah
          • Rukun
          • Syarat
          • Mandub
          • Mubah
          • Harom
          • Makruh
          • Al-Adha’
          • Qodho
          • I’adah
          Adapun Isi Kitab seperti pada buku fiqh umumnya yang ber bab perbidang pembahasan yang di mulai dengan bab thoharoh, sholat, dan seterusnya. Link Buku B. SEKILAS BIOGRAFI PARA PENULIS Seharusnya bagi kita para penuntut ilmu untuk mengetahui mengenali pengarang kitab, dan admin mendapati dari beberapa sumber buku media cetak rekaman ceramah maupun artikel, beberapa diantarany akan kami sebutkan secara ringkas terkait biografi para penulis,, 1. Syaikh Dr. Musthofa al- Khin Nama beliau Musthofa bin Sa’id bin mahmud al khin Asy-Syafi almidani addimasqi, Antara guru beliau
          • Syaikh abdul ghoni addaqqar
          • Syaikh muhammad amin suwaid
          Karya beliau diantara nya :
          • Kitab nuzhatul muttaqin
          • Al-Aqidah islamiyyah
          Syaikh Dr. mustafa juga pernah mengajar di berbagai university antaranya university dimasyqi, Imam Muhammad bin su’ud, universitas ulum al islamiyyah dll Dan ulama seangkatan beliau diantaranya yaitu syaikh Muhammad said al-Buti, dll 2. Syaikh Dr. Musthofa al-Bugho Nama beliau Musthofa al bugho lahir di damaskus, syria Karya beliau diantaranya
          • Alwafi syarh arbain
          • Al itqon (tahqiq)
          • Shahih Bukhori (Tahqiq)
          • Al-Fiqh manhaji dll
          1. Syaikh Dr. Ali asysyurbaji Beliau ulama yang masyhur di kota syam yang tokoh ulama merupan guru beliau diantaranya :
          • Muhammad hasamn habannakah
          • Syaikh Musthofa al-khin
          • Syaikh said ramadhan al-buti
          Karya beliau diantaranya :
          • Tafsir al bashoir
          • Fiqh manhaji dll
          Dan banyak ulama yang memuji beliau karena kesungguhan dalam menuntut ilmu, dan beliau jg mengajar Universitas Dimasqi, university ulum al islamiyyah dll, C. BEBERAPA KEISTIMEWAAN KITAB
          • Penjelasan yang Ringkas Jelas
          • kitab ini menggabungkan pernyataan fiqh dengan dalil dalil naqli dan aqli
          • segi metodologi kitab ini sama pada setiap bab dan kitab
          • Hadist yang dicantumkanpun diberikan nomor hadits dan bab bagi hadits tertentu dan turut disertakan takhrijnya
          • disebutkan pula sejarah disyariatkan dalam suatu perkara seperti sholat puasa zakat dll
          • dan pada muqoddimah yang kami sebutkan diatas bahwa pengarang mengenalkan fiqh dan lainnya
          • dan kitab ini juga masyhur dikalangan madzhab imam syafi’i di syam maupun d indonesia
          D. METODOLOGI DALAM PENULISAN KITAB -Penulisan detail disebutkan kepada maksud dan makna bukan hany secara harfiyah
          • Footnote yang jelas dengan penjelasan yang lugas bahkan detail.
          E. RANGKUMAN ISI Seperti kitab fiqh umumnya kitab ini menjelaskan per bab tiap bidang ilmu yang dimulai dari bersuci Shoalt Puasa, dan seterusnya,
          • Jilid I : Hukum Bersuci, Sholat, Azan, & Iqamah, Zakat Fitrah, Qurban, Jenazah, Zakat, Puasa, Haji & Umroh, Bersumpah, Nazar, perburuan, Penyembelihan, Aqiqah, makanan & minuman, pakaian & perhiasan, dan kaffarooh. ‌
          • Jilid II : Bab Nikah dan yang berkaitan dengan nikah, Poligami, Rukun, muth’ah, Nusyuz, Fasakh, Talaq, Iddah, Nafaqoh, Penjagaan anak, penyusuan, Keturunan, Anak angkat, Wakaf, Wasiat, pemegang amanah,dan Ilmu Faroidh.
          • Jilid III : Jual beli, Khiar, al-Iqolah, Salam, Kontrak Jual beli, riba, Sarf, al-qordh, hutang, hiwalah, pinjaman, syarikat, kifalah, ghodob, jinayat, qisos, diyad, hudud, zina, minum arak, mencuri, murtad, jihad, hiburan, penghakiman, dakwaan, bukti, sumpah pengakuan, pemimpin dan Daftar isi.
          Perlu diketahui bahwa dalam tiap penjelasan disebutkan pembahasannya serta definisi secara harfiah maupun istilah dan maksud serta contoh jelasnya dan sumbernya, sehingga kitab ini baik bagi kita untuk menjado salahsatu referensi dalam bidang ilmu fiqh yang kita miliki. F. Penerbit Kitab Fiqh manhaji ala madzhab al imam Asy-Syafi’i merupakan cetakan pertama 1437 Hijriyah/ 2016 Masehi. Penerbit Darul Musthofa Damaskus merupakan salah satu penerbit dengan kualitas terbaik yang ada, yang sudah sesuai dengan standar isinya (Nuskhah, tahqiq, takhrij). Sampul hard cover dengan tampilan elegan tinta emas menjadikan kitab dengan terbitan darul musthofa ini terkesan mewah dan nyaman mantap bagi yang memegangnya. Adapun kertas seperti lainnya tebal dan berwarna putih dilengkapi dengan tinta hitam, cocok bagi yang biasa membaca di pencahayaan sedikit gelap karena perpaduan hitam dan putih, dan dengan kelebihan kertas setelah daftar isinya sehingga bisa menukis sedokit catatan pada kitab bagi yang suka coret coret au menulis catatan pada kitab tersebut. Tebal kitab seperti pada umumnya, tidak terlalu trbal maupun tipis dan di mudahkan sehingga menjadi 3jilid, yang pada Jilid I tebal 320 Halaman Jilid II tebal 644 Halaman Jilid III tebal 1.090 halaman. G. PENUTUP Demikianlah dengan segala keterbatasan dan daya upaya untuk melatih belajar menulis dan memahami serta menambah ilmu para pembaca yang budiman, dan dengan sedikit uraian yang sangat singkat dari admin dar alamiyyah jakarta, tentang Kitab Fiqh Manhaji ‘Ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i. Sekiranya kritik dan saran yang bersifat membangun maupun koreksi dari para pembaca kami harapkan guna kebaikan kedepannya maupun saling membantu dalam hal Kebaikan kebenaran serta kesabaran. Dan Alhamdulillah semoga Alloh memberikan taufiq kepada kita semua dan menjadikan ilmu yang bermanfaat serta diberkahi bagi kita semua.. Judul Kitab : Al Fiqhu Al Manhaji ‘ala Madzhabil Imam Asy Syafi’i Penulis: Prof. Dr. Musthafa Al Bugha Prof. Dr. Musthafa Al Khan dan Prof. Ali Asysyurbajiy Penerbit: Darul Musthafa Damaskus Tebal : 3 Jilid Kertas: Putih Berat: 2.4 Kg Harga Rp 600.000! Dapatkan diskon eksklusif hubungi 083110770955, Link Buku
          Categories
          Fiqih Terjemah

          Terjemah Al-Fiqh Al-Muyasar (Mazhab Hambali) -001

          Awalan pertama semoga menjadi amal yang ikhlas untuk mengharapkan wajah Allah. Allahumma aamiin .

          Categories
          Qowaid Fiqhiyyah Ushul Fiqih

          Apa Sih Perbedaan Kaidah Ushul Fiqih dengan Kaidah Fiqih

          Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

          Para ulama berselisih akan penjelasan dari definisi قَاعِدَة. Di dalam buku yang bernama Al Qawa’id al-Fiqhiyyah Al-Khamsah Al-Kubro (القواعد الفقهية الخمسة الكبرى) disebutkan di dalamnya beberapa definisi yang disebutkan oleh ulama. Beberapa di antaranya yaitu:

          Definisi 1.
          حكم كلي ينطبق على جميع جزئياته لتعرف أحكامها منه
          Hukum yang bersifat menyeluruh yang masuk kepada semua bagiannya dalam rangka mengetahui hukum-hukum bagiannya tersebut.

          Definisi 2.

          قضية كلية منطبقة على جميع جزئياتها
          Isu-isu atau urusan-urusan yang bersifat menyeluruh yang hukum itu masuk kepada semua bagian-bagiannya.

          Definisi 3.
          الأمر الكلي منطبقة على الجزئيات لتعرف أحكامها منها
          Perkara yang bersifat menyeluruh yang dia masuk ke dalam semua bagian-bagiannya dalam rangka mengetahui hukum-hukum bagian tersebut.

          Definisi 4.
          الأمر الكلي الذي ينطبق على جزئيات كثيرة يفهم أحكامها منها
          Perkara yang bersifat menyeluruh yang masuk kepada hukum menyeluruh itu bagian-bagian yang banyak yang dengannya bisa dipahami hukum-hukum bagian yang banyak tersebut.

          Definisi 5.

          حكم أكثري لا كلي، ينطبق على أكثر جزئياته لتعرف أحكامها منه
          Hukum yang bersifat kebanyakan (tidak menyeluruh) yang dia masuk kepada kebanyakan dari bagian-bagiannya dalam rangka mengetahui hukum-hukum bagiannya tadi.

          Kemudian apakah perbedaan kaidah Ushul Fiqih dengan Kaidah Fiqhiyah?

          Sebelum membandingkan antara Kaidah Fiqih dan Ushul Fiqih, hendaknya kita lihat dulu apa definisi ilmu usul Fiqih.

          Disebutkan oleh Ibnu Al-Utsaimin bahwasanya definisi Ushul Fiqih adalah:
          معرفهة الأحكام الشرعية العملية بأدلتها التفصيلية
          Yang artinya: “mengenal atau mengetahui hukum-hukum Syariah amaliyah (bukan I’tiqodiyyah) dengan dalil-dalil secara terperinci”.

          Yang dimaksudkan hukum syar’i adalah seperti hukum wajib, haram sunnah, mubah dan makruh.

          Beberapa Perbedaannya adalah:

          Pertama, Kaidah Ushul itu sifatnya kulliyah komprehensif masuk ke seluruh sisi dan spektrumnya. Adapun Kaidah Fiqih maka sifat-sifat kaidah tersebut kategorinya aghlabiyah atau mayoritas. Artinya Kaidah Fiqih kadangkala tidak bisa diterapkan di kasus-kasus tertentu.

          Kedua, bahwasanya kaidah fiqih itu berkaitan dengan perbuatan orang yang mukallaf. Adapun Ushul Fiqih ada pembahasan dalil-dalil dan hukum-hukumnya.

          Ketiga, Kaidah Fiqih itu dia bisa langsung diambil manfaat darinya. Berbeda dengan kaidah ushuliyah. Misalkan perintah berfaedah wajib namun sebelum diambil faedah dari kaidah ushul tersebut seseorang harus membawakan dulu dalil-dalilnya bagaimana interaksi antara dalil-dalilnya dan barulah dihasilkan kesimpulan.

          Mungkin ini adalah sebagian kecil saja, adapun di luar sana insya Allah ada banyak penjelasan yang lebih memuaskan, to the point, dan tidak menyisakan keraguan. Ambillah ilmu langsung kepada guru yang kuat di bidang keilmuan tersebut.

          Wallahu a’lam. Mohon koreksinya jika Ada kesalahan.

          Rujukan:

          • Al Qowaid Al Fiqhiyyah Al Khomsah Al Kubro – Ismail bin Al Hasan bin Muhammad ‘Irwan.
          • Al Ushul Min ‘Ilmil Ushul – Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin
          • mp3 Dzulqarnain M Sanusi – Penjelasannya Manzumah Al Qowaid Al Fiqhiyyah As-Si’di.
          Categories
          Fiqih

          Bagaimana cara Bersuci Kalau Ada Luka

          بسم الله

          Di dalam Bab Fiqih mazhab Syafi’iyah disebutkan di Matan Abi Syuja’:

          وَ صَاحِبُ الجَبائر يَمسَح عَلَيهَا وَ يَتيَمَم وَ يصَلي وَلَا إعَادَة عَلَيْه إنْ كَانَ وَضَعَهَا عَلَى طٌهْرٍ

          Maksudnya aljabair disini adalah sesuatu yang digunakan untuk menutupi luka, biasanya dulu Untuk Patah tulang seseorang menggunakan kayu untuk meluruskan bagian yang patahnya, kalau sekarang secara umum penggunaan kata aljabair itu bisa untuk plester, perban dan yang semisalnya.

          Jadi, Mazhab Syafi’iyah berpendapat untuk bagian wudhu yang ditutupi oleh perban maka orang yang luka tersebut maka dia disyariatkan tayammum kemudian lukanya dibasuh saja.

          Di dalam permasalahan anggota wudhu yang terluka dan diperban terbagi kepada empat pendapat. mazhab jumhur adalah: Si sakit itu melakukan wudhu kemudian untuk yang tempat lukanya tidak dibuka perbannya namun hanya diusap saja.

          Kemudian yang kedua pendapat seperti yang dipegang Mazhab Syafi’i ini, yakni si orang yang sakit itu tayamum dan ditempat lukanya diusap saja.
          Sedangkan yang ketiga pendapatnya Ibnu Hazm, bahwasanya tidak ada contohnya dari Rasul penggabungan wudhu dengan tayamum, jadi kalau tidak bisa wudhu dan tidak bisa tayamum maka kalau mau sholat ya sholat saja, langsung sholat tanpa wudhu atau tayamum karena memiliki ‘udzur, dan pendapat ini berpijak kepada alasan ketiadaan dalil yg menjelaskan cara bersuci bagi orang yang ada luka di anggota wudhu.

          Kemudian pendapat yang keempat adalah, si sakit hanya bertayamum saja. Pendapat yang keempat inilah yang paling sesuai dengan kaidah.

          Coba sedikit kita cermati, misal bagi yang berpendapat bertayamum kemudian mengusap bagian yang luka, muncul pertanyaan tayamum itu kan hanya mengusap wajah dan tangan, kenapa anggota badan yang luka itu diusap lagi sedangkan tayamum saja (mengusap wajah dan tangan) sudah cukup untuk sahnya thoharoh dia.

          Pendapat yang keempat yaitu yang menyatakan hanya bertayamum saja ini yang diterima sesuai dengan ayat Al-Qur’an:

          وإن كنتم مرضى أو على سفر … وفلم تجدوا مآءً فتيمموا صعيدًا طيبًا فامسحوا بوُجوهكم وأيديكم إن الله كان عفوًا غفورًا

          Sakit, patah tangan atau yang diperban, pun termasuk sakit yang dikategorikan mendapat ‘udzur untuk tidak berwudhu.

          Sebagaimana telah diketahui ada tiga keadaan yang membolehkan tayamum, yang pertama sakit, kedua karena tidak ada air, dan yang ketiga ada air tapi sedikit.

          Pendapat keempat ini sesuai dengan pemahamannya sahabat Rasulullah Ibnu Abbas.

          أنه قال: إذا أجنب الرجل و به جراحة فخاف على نفسه إن اغتسل. قال: يتيمم بصعيدٍ.

          Jika seseorang junub dan dia punya luka di anggota badannya, dan dia takut, khawatir atas kesehatan dirinya, kalau dia mandi, maka Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Dia tayamum dengan debu”

          Dan pendapat ini jugalah yang difatwakan oleh Ibnu Taimiyah dan Syaikh ‘Utsaimin.

          Kemudian perkataan di Matan Abi Syuja’:

          وَلَا إعَادَة عَلَيْه إنْ كَانَ وَضَعَهَا عَلَى طٌهْرٍ”

          serta tidak perlu mengulanginya Jika dia memakainya dalam keadaan suci”.

          Di sini Syafi’iyah mengqiyaskan kondisi memakai perban dengan memakai dua sepatu. Namun, ‘Illah yang digunakan untuk jadi poros qiyas ini tidak terlalu pas. Orang memakai sepatu itu adalah keinginan dia kapanpun dia ingin Lepas sepatu dan juga bisa memakai sepatu akan tetapi kalau luka pakai perban itu bukanlah kehendak dia.

          ===

          Materi dari kajian bersama Syaikh Khaliful Hadi hafizhohullah. Jika ada kekeliruan dalam artikel bisa memberi tahu melalui denny0809@gmail.com

          Categories
          Fiqih

          Hikmah Haji sd Diwajibkannya Haji dan Umroh (Mulakhos al Fiqhiy) – Kajian Ustadz Khaliful Hadi.

          Hikmah punya kewajiban haji dari sholat dan puasa adalah karena sholat adalah tiang agama karena doa salat di jalan satu hari yang satu malam sebanyak lima kali dikarenakan zakat itu beriringan dengan salat pada banyak tempat dalam penyebutannya kemudian puasa dikarenakan berulang-ulang nya dia setiap tahun.

          Diwajibkannya Haji di dalam Islam adalah pada tahun 9 dari Hijriyah sebagaimana ini adalah pendapat kebanyakan ulama. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam tidak pernah berhaji kecuali Haji Satu Kali Saja yaitu Haji Wada kejadiannya pada tahun 10 Hijriyah. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga melakukan umroh sebanyak empat kali.

          Rasulullah melakukan umroh sebanyak enpat kali ini menjadi dalil bantahan terhadap orang yang tidak mau umroh dulu sebelum haji berdalilkan
          وأتموا الحج والعمرة لله
          Karena huruf wawu disini bukanlah tunjukkan urutan atau tertib melainkan مطلق الجمع. Bantahannya,pertama bahwa Anda sholat wajib sebelumnya pun ada sholat sunnah Qobliyah, yang kedua, itu Kalo ente menganggap umrah adalah sunnah, adapun yang benar umrah itu hukumnya adalah wajib.

          Dan yang dimaksudkan dari ibadah haji dan umroh adalah beribadah kepada Allah di suatu bidang tanah yang sudah Allah perintahkan untuk mengibadahi Allah di situ.

          Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda
          إنما جعل رمي الجمار و السعي بين الصفا و المروة لإقامة ذكر الله
          Melempar jumroh dan Sai di antara Shafa dan Marwa hanyalah untuk menegakkan mengingat Allah

          Dan Haji adalah wajib berdasarkan kesepakatan kaum muslimin dan termasuk satu rukun dari rukun-rukun Islam dan dia adalah kewajiban satu kali dalam hidup nya bagi orang yang mampu, dan menjadi fardhu kifayah atas semua kaum muslimin pada setiap tahunnya (jadi di dalam satu tahun, minimal harus ada satu orang yang melakukan haji, kalau tidak maka semua kaum muslimin akan berdosa) .

          Disebutkan fardhu kifayah karena ada hadits Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu yang marfu’ sampai ke Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
          يا أيها الناس قد فرض الله عليكم الحج فحجوا. فقال رجل, أ كل عام يا رسول الله؟ فسكت حتى قالها ثلاثا. فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم, لو قلت نعم لوجبت. و لماستطعتم.

          Kemudian umroh, maka dia adalah hukumnya wajib berdasarkan pendapat banyakan dari ulama berdasarkan dalil ucapan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ketika ditanya,
          هل على النساء من جهاد؟ قال: نعم عليهن جهاد لا قتال فيه: الحج و العمرة.
          Apakah ada jihad untuk perempuan, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam menjawab: “Iya bagi mereka diwajibkan jihad akan tetapi (jihad yang) tidak ada peperangan di dalamnya, yakni Al Hajj Wal Umroh”.

          Pertama di sini ada lafaz alaihinna, ‘ala (على) adalah lafaz yang bermakna wajib di dalam usul Fiqih, kemudian (yang menunjukkan wajib lainnya adalah) pada penggandengan al-hajj dan umroh atau istilahnya dalalatu iqtiron, jika haji adalah wajib maka dengan disebutkan umroh bersama dengan Haji, maka menunjukkan umrah juga wajib. Dan kemudian di sini disebutkan kewajibannya untuk perempuan, ini konteks untuk perempuan-perempuan saja diwajibkan maka tentunya “من باب الأولى” untuk laki-laki.

          و قال صلى الله عليه وسلم للذي سأله فقال إن أبي شيخ كبير لا يستطيع الحج و العمرة و لا الظعن. فقال حج عن أبيك واعتمر

          Kemudian ada yang berkata, sesungguhnya Ayahku seorang yang sudah sangat tua dia tidak mampu untuk haji dan umroh dan juga tidak bisa berpergian. Maka rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, hajikanlah untuk Bapakmu dan umrohkanlah juga.

          Dari hadits ini ada sisi pendalilan kewajibannya, yang pertama adalah kalimat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, perintahkanlah haji dan umrohkanlah. Perintah untuk Haji dan perintah untuk umroh maka ini adalah dalil yang kuat tentang wajibnya umroh.

          Kemudian ada dalil yang ketiga Hadits Ibnu Umar di dalam hadits Jibril tentang pertanyaan perkara keislaman yang mana Di dalamnya disebutkan haji dan umroh

          Categories
          Fiqih Sholat Jum'at

          Sholat Jumat (Fiqih Muyasar)

          Sholat jumat hukumnya fardu Ain untuk laki-laki dalilnya adalah Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala يا أيها الذين أمنوا إذا نودي للصلاة من يوم الجمعة فاسعوا إلى ذكر الله وذروا البيع Dan hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam لينتهين أقوام عن ودعهم الجمعات أو ليختمن الله على قلوبهم ثم ليكونن من الغافلين Imam nawawi rahimahullah berkata di dalam hadits ini adalah petunjuk bahwasanya sholat Jumat itu fardhu ain Dan hadis yang lainnya di dalamnya ada الجمعة حق واجب على كل مسلم… Kepada siapa diwajibkan sholat jumat Sholat Jumat diwajibkan atas setiap kaum muslimin laki-laki yang merdeka sudah mencapai usia baligh dan dia berakal dan memiliki kemampuan untuk mendatangi salat Jumat dan dia dalam keadaan mukim. Maka tidaklah diwajibkan salat Jumat itu untuk: budak, wanita, anak kecil, orang gila, orang sakit, orang yang musafir. Dalilnya adalah الجمعة حق واجب على كل مسلم في جماعة إلا أربعة عبد مملوك أو امرأة أو صبي أو مريض. حديث أخرجه أبو داود برقم 1054 وصححه الألباني في الإرواء. Tapi ada yang tidak wajib untuk salat Jumat namun jika dia datang sholat pun tidak apa-apa, tidak divonis bid’ah Adapun musafir maka tidak wajib untuk dia salat Jumat karena Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tidak melakukan sholat Jumat di dalam Safar safarnya beliau, sungguh Rasulullah pernah bertepatan hari Jumat itu dengan hari arafah di waktu hajinya beliau dan bersama dengan hal tersebut Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melakukan salat dzuhur dan menjamaknya dengan Ashar. Akan tetapi seorang musafir yang dia singgah menetap di suatu Negeri maka dia itu ikut sholat Jumat bersama dengan kaum muslimin. Dan kalau seorang hamba sahaya atau perempuan atau anak kecil atau orang yang sakit atau yang musafir menghadiri salat Jumat maka salat Jumatnya tetap sah dan salat Jumat tersebut sudah mencukupkan mereka semua dari melakukan salat dzuhur.