Categories
bahasa arab Nahwu

Ba’du (بعد) dan Qoblu (قبل)

Alhamdulillah segala pujian hanya milik Allah. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarganya, para istri-istrinya, dan para sahabatnya tidak terkecuali dan para pengikutnya yang mengikuti beliau dengan baik hingga hari kiamat.

Teringat dengan suatu peristiwa di mesjid Fatahillah (Jl. Ni’in, Tanah Baru, Depok) mungkin sekitar tahun 2010 setelah selesai kajian maghrib atau setelah sholat isya admin bertanya kepada Bang Zaid Gultom salah satu imam di mesjid tersebut akan mengapa di satu ayat di baca min ba’di (مِنْ بَعْدِ), dan terkadang min ba’du (مِنْ بَعْدُ).

Poinnya adalah pada kondisi didahului huruf من, ba’da dan qoblu menjadi berharokat kasroh, sedangkan dikesempatan lain dia berharokat dhommah, seperti berikut:

  • وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ
  • هَٰذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِن قَبْلُ
  • الَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِن بَعْدِ مِيثَاقِهِ
  • فِي بِضْعِ سِنِينَ ۗ لِلَّهِ الْأَمْرُ مِن قَبْلُ وَمِن بَعْدُ ۚ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ

Saat itu beliau merespon hanya dengan ucapan “itu penjelasannya cukup panjang” dan sejak itu tidak didapat penjelasan mengapanya hingga Allah karuniakan rahmatNya yang sangat besar salah satu ilmu dari ilmu-ilmuNya dan itu diturunkan kepada admin di ponpes Darul Atsar tahun 2018 melalui perantaraan (Al-Ustaz) Abdurrahman Imam asal Balikpapan, salah satu santri yang masya Allah sangat cerdas, hafalannya sangat kuat dan melaju sangat kencang melampaui rekan-rekan seangkatannya -hafizhohullah ta’ala- pada saat belajar Qotrun Nada dengannya .

Jadi pembahasan ini disebutkan di awal kitab pada bab Mabni pada fashl Mabni ‘alad Dhommi. Bab ini punya saudara-saudari dari kata-kata bermakna arah seperti (قدام, أمام, خلف). Terdapat empat kondisi pada ba’du dan qoblu:

  1. Kondisi pertama ba’du dan qoblu nya berposisi sebagai mudhof secara lafazh, maka mereka berdua dii’rob nashab sebagai zhorof atau jika masuk huruf min (مِنْ) maka menjadi khofd. Contoh: جئتك قبلَ زيدٍ وبعدَه keduanya dinashob sebagai zhorf. Dan contoh lain yang didahului منْ contoh: من قبلِه ومن بعدِه keduanya di-khofd dengan مِنْ. Contoh: كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ , فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَ اللَّهِ وَآيَاتِهِ يُؤْمِنُونَ , أَلَمْ يَأْتِهِمْ نَبَأُ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ, مِن بَعْدِ مَا أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ الْأُولَىٰ.
  2. Kondisi kedua, mudhof ilaih-nya dihapus, akan tetapi diniatkan lafazh-nya tetap ada. Sehingga keduanya dii’rob sebagaimana sudah dipaparkan di kondisi pertama (dinashob sebagai zhorof, atau dikhofd dengan مِنْ). Akan tetapi tidak ditanwin, karena dia masih diniatkan dalam keadaan idhofah. Contoh bait syair: ومِنْ قبلِ نَادَى كلُّ مولَى قرابةٍ — فما عطفتْ مولًى عليهِ العواطفُ (Syair ini tidak diketahui siapa yang mengucapkannya, akan tetapi dibawakan sebagai syahid di Audhohul Masalik (2/211) dan Syarh At-Tashrih (2/50), dan Syarh Al-Asymuni (2/269), dan Al-Maqoshid An-Nahwiyyah (3/434), dan lainnya.
  3. Kondisi ketiga. Mereka berdua terputus dari idhofah (secara lafazh dan makna), dan juga tidak diniatkan sebagai mudhof ilaih. Maka dii’robkan sebagai dipaparkan di kondisi pertama, hanya saja pada kondisi ini mereka berdua diberikan tanwin. Karena sudah menjadi isim yang taam seperti isim nakiroh lainnya. Maka kalimat-kalimatnya seperti berikut: (جئتك قبلًا وبعدًا, ومن قبلٍ ومن بعدٍ). Syahidnya adalah sya’ir: فساغَ لِيَ الشرابُ وكنتُ قبلًا — أكاد أغصُّ بالماءِ الفراتِ
  4. Mudhof ilaih-nya dihapus, dan masih diniatkan maknanya tanpa lafazhnya, maka mereka berdua pada saat tersebut di-mabni di atas dhomm. Seperti qiro’ah sab’ah ( لِلَّهِ الْأَمْرُ مِن قَبْلُ وَمِن بَعْدُ).

Categories
bahasa arab

Konversi Huruf Hijaiyah ke Angka

Pembaca buku berbahasa Arab mungkin pernah melihat penomoran mengurut diawali أ kemudian ب kemudian ج dan seterusnya, lalu anda dirayapi perasaan bertanya kok setelah أ bukan ب lalu ت lalu ث lalu ج dan seterusnya sebagaimana kita belajar huruf Hijaiyah..

Alhamdulillah, Syaikh Utsaimin yang semoga Allah merahmatinya membawakan sekilas penerangan akan ini di bagian akhir penjelasan Syarah Nazhom Waroqot. Berikut orang Arab merangkumnya dalam satu bait:

أَبْجَدْ هَوَّز حُطِّيْ كَلَمَنْ     سَعْفَصْ فَرَشَتْ ثَخَذْ ضَغْظ

Inilah huruf-huruf abjad. Huruf pertamanya bernilai satu. Yang kedua bernilai dua. Hingga angka sepuluh. Setelah itu bernilai dua puluh hingga seratus. Setelah itu bernilai dua ratus hingga seribu.

Dengan demikian..

  • أ 1
  • ب 2
  • ج 3
  • د 4
  • هـ 5
  • و 6
  • ز 7
  • ح 8
  • ط 9
  • ي 10
  • ك 20
  • ل 30
  • م 40
  • ن 50
  • س 60
  • ع 70
  • ف 80
  • ص 90
  • ق 100
  • ر 200
  • ش 300
  • ت 400
  • ث 500
  • خ 600
  • ذ 700
  • ض 800
  • ظ 900
  • غ 1000

Dengan rumus di atas bagaimana kita merangkai angka lain. Caranya..

  • 204 = د + ر
  • 840 = ض + م dan seterusnya.

Semoga Allah merahmati Syaikh Utsaimin, semoga Allah jadikan penulis bisa mengikuti beliau dalam mengikuti jalan salafus sholeh aamiin. Aamiin. 

Allahumma sholli ‘ala muhammad

Categories
Nahwu Pesantren

Penjelasan tentang Mubtada’ (berbagai sumber)

Syarah Al-Ajurumiyyah Syaikh Utsaimin

Mubtada’ adalah isim marfu yang kosong dari ‘amil-amil lafzhiyyah. Dan terbagi kepada dua zhahir (nampak) dan mudhmar.

Tanda yang zhahir adalah bagaimana definisi yang di atas (Isim marfu‘ yang kosong dari AmilAmil lafzhiyyah). Adapun yang mudhmar (berupa dhomir) ada 12 (أنا، نحن، أنتَ، أنتِ، أنتما، أنتم، انتنّ، هو، هي، هما، هم، هن).

Tuhfatul Wushobiyyah

Secara Bahasa: ما يبدأ به الكلام (Sesuatu yang memulai Kalam).

Secara istilah: Isim marfu’ yang kosong dari amil-amil lafzhiyyah.

Beberapa Mahfum Mukholafah dari definisi di atas:

  • Isim: berarti fi’il dan huruf tidak bisa menjadi mubtada’.
  • Kosong dari amil-amil lafzhiyyah: berarti fa’il dan yang bisa menggantikan fa’il tidak bisa menjadi mubtada’ (Alasannya adalah karena fa’il dan na-ibul fa’il memiliki amil yang lafzhiyyah yakni fi’il).

Contoh: العلم نافعٌ, والصلح خيرٌ.

Mubtadayang mudhmar

  1. أنا untuk mutakallim wahdah mudzakar maupun muannats. Contoh: أنا قائم
  2. نحن untuk mutakallim al-muazzhom nahfsahu atau Ma’arif ghoirihi. Contoh: نحن قائمون.
  3. أنتَ untuk mukhotob mufrod mudzakkar.
  4. أنتِ untuk mukhotob mufrod muannats.
  5. أنتما untuk mukhothobain mudzakar atau muannats.
  6. أنتُمْ untuk jama’ mudzakar mukhotobin.
  7. أنتُنَّ untuk jama’ muannats mukhotobat.
  8. هو untuk mufrod ghoib mudzakkar.
  9. هي untuk mufrodah ghoibah muannats.
  10. هما untuk mutsanna ghoib mudzakkar dan muannats. (Yang menjadi mubtada’ adalah huruf هـ)
  11. هُمْ untuk jama’ muannats mudzakar ghoib (Yang menjadi mubtada’ adalah huruf هـ).

Mubtada’ di semua contoh di atas adalah dhomir munfashil fi mahalli rof-‘in ‘alal ibtida’.

AlHulal AdzDzahabiyyah

Definisi:
عبارات عما اجتمع فيه ثلاثه امور الاول ان يكون اسم فخرج عن ذلك الفعل و الحرف و الثاني ان يكون مرفوعا فخرج بذلك المنصوب والمجرور بحرف الجر الاصلي الثالث ان يكون عاريا عن العوامل اللفظية و معنى هذا ان يكون خاليا عن العوامل اللفظية مثل الفعل ومثل (كان) واخواتها فان الاسم الواقع بعد الفعل يكون فاعلا او نائبا عن الفاعل على ماسبق، و الاسم الواقع بعد (كان) او احدى اخواتها يسمى اسم كان ولا يسمى مبتدأ.

Mubtada adalah suatu ungkapan tentang sesuatu yang terkumpul di dalamnya tiga hal. Yang pertama, dia adalah isim sehingga keluar darinya fi’il dan huruf. Yang kedua, dia keadaannya marfu‘ sehingga keluar darinya yang manshub dan majrur disebabkan huruf Jar yang asli. Yang ketiga, keadaan dia terbebas dari ‘amil lafzhi. Maknanya terbebas dari Amil lafdzi adalah seperti fiil , Kana (كان) wa akhwatuha, karena Isim yang terletak setelah fi’il di adalah Fa’il atau penggantinya, dan Isim yang terletak setelah kana atau salah satu saudaranya dinamakan Isim Kana dan tidak di namakan mubtada’.

  • Amil-amil lafzhiyyah ada banyak contohnya Kana wa akhwatuha, inna wa akhwatuha, zhonna waktu dari selain dari mereka.
  • Yang dimaksudkan dengan ‘amil adalah yang bisa memberikan pengaruh terhadap mubtada’ secara LAFAZ dan MAHALL nya.
Faidah Bagus!
  • Amil lafzhiyah lebih kuat dari Amil maknawiyah (lihat Syudzur adz-Dzahab, al-Kawakib)
  • أنتنَّ dirincikan: (أنْ) dhomir munfashil, (التَاء) huruf khithob (madzhab jumhur) lihat penjelasan Mughnil Labib milik Ibnu Hisyam (1/27), Syarhul Asymuni, Hasyiyah Ash-Shobbaan, dan Hasyiyah Al-Kafrowi (hal.90).

Mutammimah Al-Ajurumiyyah Tahqiq Malik bin Salim

Mubtada’ yang zhahir ada dua bagian

  1. Mubtada’ yang setelahnya Khobar (مبتدأ له خبر). Contoh: اللّه ربُّنا, محمدٌ رسول الله.
  2. Mubtada‘ yang setelahnya isim marfu’ yang menempati posisi Khobar (مبتدأ له مرفوع سدّ مسدّ الخبر) (Tahqiq: maksudnya Isim marfu’ adalah Fail atau naibul fail; maksud Sadda masaddal Khobar adalah dengan adanya dia menjadi tidak butuh menyebutkan Khobar). Dia adalah isim fa’il dan isim maf’ul jika didahului pe-nafyi atau peng-istifham (اسم الفاعل واسم المفعول إذا تقدم عليهما نفيٌ أو استفهام). Contoh:
  •  أقائمٌ زيدٌ؟ (Zaid: فاعل سد مسد الخبر).
  • , وما قائمٌ الزيدان
  • , هل مضروب العمران؟
  •  , ما مضروب العمران (Al-‘Umaroni: نائب الفاعل سد مسد الخبر).

Beberapa Hal Yang Membolehkan Mubtada’ Dalam Bentuk Isim Nakiroh.

  • Tahqiq: Karena Isim nakiroh itu majhul, dan hukum untuk Isim nakiroh adalah tidak memiliki faidah, secara umum.
  • Tahqiq: “hal yang membolehkan” artinya sebab yang membolehkan memulai kalimat dengan dia, dan sebab tersebut adalah: “memberikan faidah“.

Hukum asalnya mubtada’ adalah isim ma’rifah (Antonim nakiroh). Akan tetapi pada keadaan ini maka Mubtada’ boleh nakiroh.

  • Ada pe-nafyi atau peng-istifham mendahului mubtada’. Contoh: هَلْ رَجلٌ جالسٌ, dan أَ ءِلٰهٌ مع اللّه
  • Mubtada’-nya disifatkan. Contoh: ولعبدٌ مؤمنٌ خير
  • Mubtada’-nya dalam bentuk idhofah. Contoh: خمسُ صلواتٍ كتبهنّ اللّه.
  • Keadaan Khobar-nya muqoddam dan bentuknya zhorof atau jarmajrur. Contoh: عندك رجلٌ dan ولدينا مزيدٌ dan و علَىٰٓ أبصٰرهم غشٰوةٌ.

Terkadang mubtada’ berbentuk mashdar muawwal (susunan dari أنْ+فعل). Contoh: وأنْ تصومواْ خيرٌ لكم

Al-Qowa’id Al-Asaasiyyah

  • Mubtada’ harus ma’rifah karena untuk sesuatu yang diberikan hukum diatasnya maka harus diketahui agar hukum itu memberikan faedah dan juga dikarenakan bentuk pengkhabaran untuk sesuatu yang majhul adalah tidak memiliki faedah, pendengar akan tidak nyambung, dan tidak merasa bulat. Maka jika nakiroh itu bisa memberikan faedah maka boleh memulai kalam dengan nakiroh tadi. Yaitu jika nakiroh itu menunjukkan kepada sesuatu yang umum atau menunjukkan kepada sesuatu yang khusus.
  • Jika dia mengkhususkan maka nilainya dekat dengan ma’rifah. Contoh: Pensifatan secara lafzhi (contoh: عدوٌ عاقلٌ خيرٌ من صديقٍ جاهلٍ), Pensifatan secara taqdiri (contoh: ويلٌ أهون من ويلين maknanya ويلٌ واحدٌ أهون من ويلينِ), Idhofah secara lafzhi (contoh: حلية الأدب خير حليةٍ), idhofah ma’nawiyah (contoh: كلُّ يموت maknanya ٍكل واحد), tashghir (contoh: كتيِّبٌ هذَّبَ أخلاقيّ).
  • Jika dia meng-umum-kan maka dia mencakup semua elemen-elemen jenis sehingga menyerupai dengan -ألْ الجنسية-. Yaitu: Jika dia Isim syarat (contoh: من سلّ سيف البغيِ قتل به), Isim istifham (contoh: من فعل هذا؟), jika terletak setelah pe-nafyi atau peng-istifham, jika terletak setelah rubba (ربّ- (contoh: ربَّ عذرٍ أقبح من ذنبٍ), jika terletak setelah -كم الخبرية- (contoh: كم نصيحةٍ بذلناها), jika terletak setelah -فاء الجزاء- (contoh: إنْ ذهب عيرٌ فعيرٌ في الرباط).

Mubtada Wajib Diletakkan di Depan Khobar Pada Empat Tempat

  1. Mubtada sesuatu yang harus diletakkan di depan, seperti isim istifham dan isim syarat, maa ta’ajjub (ما التعجبية), kam al-khobariyyah (كم الخبرية), dhomir sya’n yang bersama lam ibtida (ضمير الشأن المقرون بلام الإبتداء), maushul yang khobar-nya diawali huruf fa, contoh: الذي ينجح أول التلاميذ فله جائزةٌ
  2. Jika mubtada’ memang terbatas hanya pada khobar-nya, contoh: إنما الحديد صلبٌ.
  3. Jika khobar-nya berbentuk jumlah filiyyah dengan fail-nya dhomir mustatir yg kembali ke mubtada’, contoh: الحق يعلو.
  4. Jika mubtada’dan khobar dua-duanya ma’rifah, contoh: كتابي رفيقي atau dua-duanya nakiroh yg setara takhsis dan ta’rif-nya, contoh: أكثر منك سنًّا أكثر منك تجربةً.

Khobar Wajib Diletakkan di Depan Mubtada’ Pada Empat Tempat

  1. Jika khobar termasuk lafazh-lafazh yang memiliki hak untuk diletakkan di depan. Contoh: أين كتابك؟, متى الإمتحان؟, كيف الخلاص؟.
  2. Jika khobar terbataskan dengan mubtada’ tersebut. Contoh: ما عادل إلا ربيِّ.
  3. Jika khobar adalah zhorof atau jarmajrur dan mubtada’-nya nakiroh tidak punya musawwigh. Contoh: عندك أدبٌ, للقادم دهشةٌ.
  4. Jika pada mubtada’ ada dhomir yang terkait ke khobar-nya, contoh: للعامل جزاء عمله.

Mubtada’ Wajib Dihapus Pada Lima Tempat

  1. Jika khobarnya adalah َبِئْس dan َنِعْم.
  2. Jika khobarnya adalah naat yang terputus dari matbu‘-nya. Misal dalam konteks rahm (رحم) contoh: رحمه اللّه عمرُ العادلُ maknanya رحمه الله عمرُ هو العادلُ. Atau dalam konteks celaan (ذمّ) contoh: ُأعوذ بالله من الشيطانِ الرجيم maksudnya: ُأعوذ بالله من الشيطانِ هو الرجيم. Atau contoh: تصدق على الفقيرِ المسكينُ maksudnya تصدق على الفقيرِ هو المسكينُ.
  3. Jika khobarnya mashdar marfu’ naa-iban manaabal fi’l. Contoh: صَبْرٌ جميلٌ yang artinya صَبْري صبرٌ جميلٌ.
  4. Jika jawab qosam adalah sadda masadda al-mubtada’. Contoh: فيْ ذِمتيْ لأفعلنَّ, dengan makna: فِيْ ذمتيْ يَمِيْنٌ.
  5. Setelah kata -لَا سِيّمَا- jika mustatsna bihi-nya marfu‘. Contoh: أكرم الزعماء لا سيّما سعدٌ , maksudnya: أكرم الزعماء لا سيّما هو سعدٌ.

Tempat Yang Khobar Wajib Dihapus

  1. Jika mubtada’ shorih dalam konteks sumpah. Contoh: أيمن الله لأنصفنّ المظلوم, maksudnya: أيمن الله يميني لأنصفنّ المظلوم.
  2. Mubtada datang setelah laulaa (لولا). Contoh: لولا الجندُ ما حافظت أمة على استقلالها, atau لولا النيلُ لكانت مصر فقرًا maksudnya: لولا النيل موجودٌ لكانت مصر فقرا.
  3. Jika mubtada’ ter-‘athof-kan ke Isim dengan huruf waw yang bermakna mushohabah. Contoh: كل إنسان وعملُه, maksudnya: كل إنسان وعملُه مقترنان.
  4. Jika mubtada’ adalah mashdar yang ter-idhofah-kan ke mamul-nya, atau jika mubtada’ adalah Isim tafdhil yang ter-idhofah-kan ke mashdar shorih atau ke mashdar muawwal yang diikuti dengan -حال سدت مسد الخبر- dan hal tersebut tidak bisa menjadi Khobar. Contoh: عهدي بك نبيها atau أكثرُ سفرٍ سليمٍ ماشيًا maksudnya: أكثرُ سفرٍ سليمٍ إذا كان ماشيا.
Categories
bahasa arab Nahwu Shorof Ushul Fiqih

Untuk Apa Belajar Bahasa Arab?

Puji syukur ke hadirat Allah semata.

Ilmu agama ini dipelajari secara bertahap. Artinya ada urutan belajarnya. Dari yang paling ringkas dulu, dari yang paling umum dulu. Dari yang ditulis ulama kontemporer dulu. Lalu naik sedikit demi sedikit hingga bisa melihat menyelami samudera tak bertepi tak berdasar tak pernah keruh yang bernama ilmu agama.

Rahasia lainnya yang menarik adalah pada awalnya mungkin ilmu-ilmu tersebut terkesan berdiri sendiri-sendiri. Bahasa arab sendiri. Al-Qur’an sendiri. Hadits sendiri. Fiqih sendiri. Ushul Fiqih sendiri. Kaidah Fiqih sendiri. Sejarah sendiri. Mustolah sendiri. Namun semakin menapak jenjang demi jenjang yang lebih tinggi mulailah kita akan menyadari dan menemukan dan menikmati bidang-bidang ilmu tersebut mulai saling kait mengkait.

Atau bahkan satu bidang ilmu merupakan pembahasan yang lebih dalam dari bidang ilmu yang lainnya. Seperti ilmu bahasa arab dengan ushul fiqih. Kata guru saya, bahasa arab adalah permisalan kulit, sedangkan ushul fiqih adalah dagingnya. Ushul fiqih bisa dinikmati jika kita sudah bisa membedah bahasa arab.

Sebagai contoh, mayoritas pelajar bahasa akan melewati kalimat ini: الكلام هو اللفظ المركب المفيد بالوضع yakni baris awal dari Matan Ajurumiyyah. Masing-masing kata bahasa arab di atas memiliki penjelasan yang rinci di kitab-kitab yang lebih tingginya yang mana memberikan faidah besar dan bermanfaat. Jika kita buka buku ushul fiqih, maka terkait اللفظ itu saja sangat banyak penjelasannya yang mana akan menyingkap apa manfaat-manfaat dari belajar apa makna kata “lafaz”.

Di bawah term lafazh terlahir banyak istilah menakjubkan yang dipelajari di ushul fiqih, misalnya lafazh umum, lafazh khusus, lafazh mutlaq, dan lain sebagainya dari pembongkaran makna-makna dan arah-arah yang diinginkan dari lafazh.

Contoh lainnya dari term كلام , ushul fiqih mempelajari rincian luar biasa mulai kalam terbagi kepada khobariyyah dan insyaiyyah, haqiqoh dan majaz, dan lain sebagainya.

Bisa kita masuk ke al (ال) yang di kitab bahasa disebutkan rincian mulai dari istighroqiyyah dan ‘ahdiyyah. Dan bahwa di ushul fiqh kita akan menemui bahwa al memiliki makna umum.

Atau kita diajarkan kata yang nakiroh, dan kita pikir ya ini sekedar tahu saja ada nakiroh dan ada ma’rifah. Namun pembahasan ushul fiqh kita akan menyaksikan dari nakiroh itu bisa diambil makna umum, mutlaq, dan lain sebagainya dari makna-makna tersembunyi dan abstrak.

Atau kita diajarkan definisi inna wa akhowatiha, zhonna wa akhowatiha, dan lain sebagainya. Yang ternyata terkandung makna bahwa kalimat tersebut adalah sebagai alasan (‘illah) atau bahwa pembicaranya mengatakan dengan bentuk ragu atau yakin. Dan lain sebagainya dari setiap poin pembahasan di ilmu bahasa, maka ada pembahasan dahsyat-nya di ilmu ushul fiqh.

Mungkin ada di antara kawan yang merasa sudah bosan belajar bahasa arab nahwu shorof. Padahal belum lagi menyentuh balaghah. Ketahuilah kawan, ilmu bahasa arab yang sedang kita pelajari ini akan menemui belahan jiwanya pada sosok bernama Ushul Fiqih, bidang ilmu yang dirintis oleh Al Imam Syafi’i rohimahullah. Sekali anda melihat gambaran umum ilmu ini, mendengar bisikan lembutnya, merenungi narasi dan argumennya niscaya anda tidak lagi ingin lepas dari belajar lebih dalam bahasa arab sambil menapaki bidang ini.

Teruslah berjalan wahai diri dan kawan memasuki dataran dan gunungnya, hingga Allah sampaikan kita untuk menyelam ke samudera ilmunya yang tak terbayangkan.

Kawan, ilmu agama sungguh-sungguh benar-benar wallahi demi Allah luar biasa. Kedalamannya tidak bisa dicapai sonar. Ketinggiannya tidak bisa dicapai teropong. Luas spektrumnya tidak bisa diilustrasikan dengan warna yang ada. Kecanggihan saling keterkaitannya tidak bisa ditiru oleh ahli bangunan mana pun. Dan… rasa manisnya tidak bisa digantikan dengan madu termanis. Ya.. ilmu agama itu memiliki rasa, dan rasanya sungguh manis.

Al Mizzi -penulis Tahdzibul Kamal dan mertua dari Ibnu Katsir- rohimahumallah mengkreasi dua bait syair yang sangat indah sebagai berikut:

Maa hawal Ilma jamian ahadun — laa walau maarosahu alfa sanah
Innamal ilmu kabahirin zahirin — fattakhidz min kulli syaiin ahsanah

Terjemahnya:
Tidaklah mungkin satu orang pun menaklukkan ilmu semuanya — tidak mungkin, bahkan meski dia menggelutinya selama seribu tahun
Karena sesungguhnya ilmu itu bagaikan samudera yang sangat agung — oleh karena itu ambillah dari segala sesuatu yang paling indahnya

Categories
Nahwu Pesantren Tak Berkategori

Biar Semangat Belajar Nahwu

Masing-masing orang beda-beda pendekatan motivasi untuk belajarnya. Setiap tingkatan mesti perlu motivasi lagi. Begitu terus yang dengan sebab itu dia terus menaiki tangga ilmu.

Motivasi ini bisa dibagi dua, yang pertama motivasi dari luar dirinya, yang kedua motivasi dari dalam dirinya. Atau yang ketiga, motivasi ada dari dalam dan sekaligus juga selalu mendapat motivasi dari luar dirinya. Nah, tulisan ini cuma ngomongin motivasi yang nomor dua. Dan juga tulisan ini gak membahas apa itu motivasi, nggak, karena di bidang kesehatan dan psikologi itu sudah banyak penjabarannya. Rinci. Eeh, kok ilmu kesehatan sih? Oh tentu, karena asalnya psikologi itu kan masuk di dalam bidang kesehatan, cuma sekarang-sekarang saja dipisah jadi bidang ilmu tersendiri mungkin karena pembahasannya semakin luas. 🌞

Belajar nahwu itu secara zhahir fungsinya adalah agar kita bisa  membaca Arab gundul dengan benar apa harokat huruf paling ujungnya, kapan dia dibaca dhomah, fathah, atau kasroh atau sukun. Sejauh pengetahuan saya, masalah pengharokatan huruf akhir ini gak bisa digantikan oleh pelajaran lainnya.

Kemudian dari belajar ilmu nahwu kita dikasih tahu satu kata dalam kalimat itu punya jabatan sebagai apa. Subjek kah? Objek kah? Predikat kah? Atau lainnya. 

Poin penting sbb versi saya:

  1. Mampu membaca kitab berbahasa arab. Belajar nahwu dan shorof itu cara untuk mampu membaca kitab berbahasa Arab.
  2. Untuk memahami Al-Qur’an dan hadits nabi. Mahir bahasa Arab adalah salah satu syarat untuk bisa memahami Al-Qur’an dan Hadits Nabi.
  3. Mempertajam akal.Nahwu bisa menata logika dan ketelitian pembelajar.
  4. Meringkas belajar satu per satu arti kata. Shorof memudahkan memahami puluhan variasi kata yang belum pernah ditemukan sebelumnya oleh pembelajar.
  5. Motivasi lainnya bersifat ukhrowi maupun duniawi.
Categories
Nahwu Pesantren Shorof

Belajar Baca Kitab Terlebih Dahulu

Disebutkan di dalam kaidah fiqih bahwa jika berbenturan dua maslahat dalam satu keadaan maka didahulukan sesuatu yang manfaatnya lebih besar dari kedua tersebut.

Maka berbicara kaidah ini, Kita hubungkan dengan satu kasus yakni belajar bahasa Arab dengan penekanan belajar dengan tujuan bisa membaca kitab atau belajar bahasa Arab dengan penekanan bisa berbicara aktif. Manakah yang didahulukan? Dengan ketentuan atau dengan keadaan tidak bisa menjamak kedua-duanya. Karena jika bisa dijamak maka sepatutnya mengambil kedua-duanya sekaligus. Namun menjamak atau mengumpulkan diantara dua manfaat ini di satu waktu tentu ada plus minusnya masing-masing disesuaikan dengan masing-masing orang.

Pembahasan Hal ini tentu bukan memutlakkan satu lebih unggul dari yang lainnya. Tidak. Karena dalam belajar tentu ada hal-hal yang mempengaruhi mungkin saja di orang pertama pada seseorang terbuka kesempatan bagi dia bentuk dalam waktu yang pendek akan belajar ke timur tengah sehingga mesti belajar bahasa Arab secara luas, tidak sekedar membaca kitab namun juga mengasah kemampuan berbicara komunikasi dan aspek-aspek komunikasi lainnya.

Dan ada kalanya seseorang belajar bahasa atau menyadari urgensi belajar agama ketika usianya sudah tidak muda lagi yang mana pada keadaan tersebut dia sudah terpecah-terbagi waktunya dan konsentrasinya. Misalnya dibagi untuk kerja, untuk mengurus keluarga dan kegiatan yang lainnya sehingga tentulah untuk belajar ini dia menggunakan waktunya yang tersisa tadi. Padahal  waktu adalah sesuatu yang paling baik, paling besar, paling berharga bagi manusia.

Lalu hal apa yang harus didahulukan untuk dikerjakan oleh manusiadi? Tentu saja lakukan yang memiliki sifat paling mendesak dan juga manfaat paling besar, yakni mengamalkan syari’at-syariat yang sudah ditentukan di dalam Islam.

Kemudian dikarenakan mengamalkan amal-amalan dalam Islam tersebut tidak bisa dilakukan kecuali dengan ilmu Maka haruslah belajar ilmu. Kemudian dikarenakan belajar ilmu itu tidak bisa didapat kecuali dengan membaca kitab, maka tentulah harus belajar membaca kitab, which is berkonsekuensi kepada harus belajar bahasa arab. Hingga saat ini 99% buku-buku untuk belajar agama semuanya masih dalam bahasa Arab, sehingga tidak mau harus mempelajari bahasa Arab khususnya untuk membaca kitab.

Thoyyib ini murni opini saya. Jika ada pendapat yang berbeda silakan sampaikan di kolom komentar 😊.

Categories
bahasa arab Nahwu

Kawan, Pelajarilah Bahasa Arab

Insya Allah kawan adalah orang yang senang sekali belajar agama, suka beli buku-buku agama berbahasa indonesia kapan hari libur kerja jalan ikut pengajian di sana dan di situ.

Kalau hobi kawan seperti ini saran saya pelajarilah bahasa arab wahai kawan… Di sana banyak sekali buku-buku indah yang ditulis oleh ulama kita… Bahkan buku itu ada yang ditulis oleh muridnya Sahabat Nabi, bayangkan kawan ditulis 1400 tahun yang lalu. Masya Allah. Tetapi mayoritas mungkin kalau tidak bisa saya taksir 99% judul buku keilmuan islam masih tersimpan rapih di dalam bahasa arab.

Kawan, ada beberapa hal menurut saya mengapa buku-buku itu belum ada menterjemahkan. Pertama, para penterjemah sangatlah sedikit. Dan dari yang sedikit itu pun yang ahli lebih sedikit lagi. Karena semakin tinggi level ilmu di suatu kitab, tentu perlu penterjemah yang bagus juga ilmunya untuk menterjemahkan.

Kedua, para penterjemah itu tentu mereka tidak mau habis-habiskan waktu untuk menterjemah buku. Lebih enak membaca kitab.  Waktu sangat berharga kawan. Lagipula jikapun sudah mereka terjemahkan, tidak tahu pula siapa yang akan membaca terjemahannya. Apakah kawan mau membaca buku terjemahan yang tebal sedangkan kawan pasti juga masih banyak buku yang belum dibaca di rak buku kawan.

Ketiga, menterjemahkan bahasa arab ke bahasa indonesia bukan hal yang mudah. Karena bahawa arab sangat tinggi nilai sastranya. Sebagai gambaran, di dalam satu kata arab, bisa tersimpan di dalamnya banyak dimensi, ada dimensi subjek, dimensi waktu, dimensi takaran pekerjaannya, dimensi majaz atau hakikat, dimensi makna yang tersembunyi di dalam makna lainnya, dimensi subjek atau objek yang disembunyikan, dan lain-lainnya.

Kadang, bisa jadi, tidak tega mereka mengalih bahasakan karya tulis ulama ke bahasa indonesia atau bahasa lain karena nilai sastranya akan langsung berkurang drastis.

Sepertinya ada banyak faktor lainnya yang tidak bisa saya sebutkan. Mari kawan pelajari bahasa arab untuk bisa membaca kitab. Tidak perlu dulu sibuk belajar untuk berkomunikasi nanti ada waktunya insya Allah. Sekarang kebutuhan kita lebih urgent agar bisa membaca kitab ulama, menelaah fiqih ibadah dari A sampai Z, muamalah sehari-hari, apa hak Allah yang harus seorang hamba penuhi, dan lain-lainnya lagi.

Ayo kawan belajar bahasa arab.. Tabarokallah.

Categories
Nahwu

Judul-Judul Bab Al-Qowa’id Al-Asaasiyyah Li-lughotil ‘Arobiyyah

Beberapa hari kemarin kita sudah menuliskan judul-judul bab Mutammimah Al-Aajurruumiyyah. Dan Alhamdulillah pada malam ini Allah memberikan banyak kemudahan sehingga kita bisa menuliskan judul-judul bab kitab Al-Qowa’id Al-Asaasiyyah lilughotil ‘Arobiyyah.

Dan Masya Allah, jika pada Mutammimah saja ada 71 pokok pembahasan (secara melihat ke daftar isi), kalau Asasiyyah ini dia bikin 251 pokok pembahasan alias jauh lebih terperinci. Masya Allah. Ini belum semua ilmu nahwu dibahas lho ya.. Ternyata pembahasannya sudah sedemikian banyak. Ohiya, Ilmu Bahasa Arab itu sendiri ada 12 cabang, adapun Nahwu dia itu cuma salah satu cabangnya saja. Maasyaa Allaah.

Categories
Nahwu

Judul-Judul Bab Mutammimah Al-Aajurruumiyyah

  1. باب الكلام وما يتألف منه
  2. باب الإعراب و البناء
  3. باب معرفة علامه الإعراب
  4. علامات الرفع
  5. علامات النصب
  6. علامات الخفض
  7. علامات جزم
  8. المعربات بالحركات
  9. المعربات بالحروف
  10. إعراب المثنى وما ألحق به
  11. إعراب جمع المذكر السالم وما ألحق به
  12. إعراب الأسماء الستة
  13. إعراب الأم ثلة الخمسة
  14. الإعراب التقديريّ
  15. الاسم الذي لا ينصرف
  16. باب النكرة والمعرفة
  17. الضمير و المضمر
  18. العلم
  19. اسم الإشارة
  20. اسم الموصول
  21. المعرف بالأداة
  22. المضاف إلى واحد من المعارف
  23. باب المرفوعات من الأسماء
  24. باب الفاعل
  25. باب المفعول الذي لم يسم فاعله
  26. باب المبتدإ والخبر
  27. باب العوامل الداخلة على المبتدإ والخبر
  28. كان وأخواتها
  29. الحروف المشبهة ب(ليس)
  30. ما المشبهه ب(ليس)
  31. لا المشبهة ب(ليس)
  32. إنْ المشبهة ب(ليس)
  33. لات- المشبهة ب(ليس)
  34. أفعال المقاربة
  35. إنّ و أخواتها
  36. (لا) التي لنفي الجنس
  37. ظن وأخواتها
  38. باب المنصوبات من الأسماء
  39. باب المفعول به
  40. منها باب الإشتغال
  41. و منها المنادى
  42. باب المفعول المطلق
  43. باب المفعول فيه
  44. باب المفعول من أجله
  45. باب المفعول معه
  46. باب الحال
  47. باب التميبز
  48. باب المستثنى
  49. باب المحفوضات من الأسماء
  50. المخفوض بالحرف
  51. المخفوض بالإضافة
  52. باب إعراب الأفعال
  53. نواصب المضارع
  54. جوازم المضارع
  55. التوابع
  56. باب النعت
  57. باب العطف
  58. باب التوكيد
  59. باب البدل
  60. باب الأسماء العاملة عمل الفعل
  61. الأول: المصدر
  62. الثاني: اسم الفاعل
  63. الثالث: أمثلة المبالغة
  64. الرابع: اسم مفعول
  65. الخامس: الصفة المشبهة باسم الفاعل
  66. السادس: اسم التفضيل
  67. السابع: اسم الفعل
  68. باب التنازع في العمل
  69. باب التعجب
  70. باب العدد
  71. باب وقف

Sepertinya lebih enak dilihat kalau sudah jadi tabel perbandingan antar bab antar buku. Semoga Allah memberikan kemudahan. Aamiin.

Categories
Nahwu

Cuplikan indahnya Kalimat Syaikh Utsaimin dlm satu bagian Syarah al Ajurumiyyahnya

Ini adalah ketika pembahasan Fail وَ هٌوَ عَلَى قِسْمَيْن. Hal 234 di Syarah Ajurrumiyyah, cet Maktabah Ar Rusyd, Alih2x beliau langsung masuk ke penjelasan, ternyata beliau mulai dengan mendoakan shahibu al ajurrumiyyah,

“Jazaahullah khairon, sungguh beliau memberikan banyak contoh-contoh. Hal tersebut disebabkan buku ajurrumiyyah adalah untuk pemula. Dan seorang pemula itu, manakala Kamu memberikan banyak contoh dalam sebuah pembahasan maka kamu sedang mengokohkan ilmu di dadanya”

Maka saya juga mengatakan, Jazahullah Khairan (Asy Syaikh al ‘Utsaimin), karena dengan sebab kalimat engkau bagi Saya menjadi tersingkaplah salah satu metode dan pedoman dalam memberikan pengajaran kepada siswa pemula.