Categories
Adab dan Akhlak Aqidah Fiqih Pesantren

Permisalan Pohon Keimanan

Seringkali ketakwaan keimanan keislaman bahkan orang yang beriman kepada Allah di per misalkan dengan pohon. Contoh yang paling jelas adalah firman Allah ayatnya yang agung kalimat-kalimat yang tidak ada kedustaan sedikitpun di dalamnya nya Allah berfirman:

ضرب الله مثلا كلمة طيبة كشجرة طيبة أصلها ثابت وفرعها في السماء

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. (Q.S. Ibrohim:24)

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam pernah juga pada satu kesempatan bersama para sahabatnya beliau shallallahu alaihi wasallam bertanya melemparkan pertanyaan kepada mereka dengan permisalan pohon.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ فَحَدِّثُونِي مَا هِيَ فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي قَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ فَاسْتَحْيَيْتُ ثُمَّ قَالُوا حَدِّثْنَا مَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هِيَ النَّخْلَةُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya ada di antara pepohonan, satu pohon yang tidak gugur daunnya. Pohon ini seperti seorang muslim, maka sebutkanlah kepadaku apa pohon tersebut?” Lalu orang menerka-nerka pepohonan wadhi. Abdullah Berkata: “Lalu terbesit dalam diriku, pohon itu adalah pohon kurma, namun aku malu mengungkapkannya.” Kemudian mereka berkata: “Wahai Rasulullah beri tahukanlah kami pohon apa itu?” Lalu beliau menjawab: “ia adalah pohon kurma.”

Berikut ini adalah pembahasan Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Si’di rohimahullah dari kitab yang beliau tulis “Bahjatu Quluubil Abror wa Qurrotu Uyuunil Akhyaar”. Yang di dalamnya beliau menyebutkan permisalan keimanan dengan pohon, apa makanan dan minumnya, apa yang membuat dia tumbuh besar, apa yang membuat dia kebal dari hama.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: الصلوات الخمس والجمعة إلى الجمعة ورمضان إلى رمضان مكفرات لما بينهن ما اجتنبت الكبائر (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah -radhiallahu ‘Anhu- berkata Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda salat lima waktu dan salat Jum’at ke Jum’at selanjutnya dan puasa romadhon dan ramadhan selanjutnya, menggugurkan dosa-dosa yang terjadi di antara keduanya selama tidak melakukan dosa besar.

Syaikh As-Si’di rohimahullah memberikan penjelasan sangat indah… Simaklah…

Hadits ini menunjukkan kepada sangat besarnya keutamaan yang Allah miliki dan sangat pemurah nya Allah dengan memberikan kelebihan-kelebihan untuk ketiga ibadah yang disebutkan di hadits dan bahwasanya tiga ibadah yang disebutkan tersebut bagi mereka di sisi Allah ada kedudukan yang sangat tinggi dan juga buah yang dihasilkan dari amalan tersebut tidak mungkin bisa dihitung dan diperkirakan banyaknya.

Maka yang termasuk dari buah amalan tersebut adalah bahwasannya Allah menjadikan tiga ibadah tersebut yang disebutkan di hadits adalah sebagai (1) penyempurnaan bagi agama seorang hamba dan keislamannya dia. (2) Kemudian bahwasanya tiga amalan tersebut menjadi hal yang menumbuhkan keimanan dan (3) memberikan minum bagi pohon keimanan, karena sesungguhnya (4) Allah menumbuhkan pohon keimanan di hati hatinya orang beriman yang (5) besar pohon tersebut tergantung dengan kadar keimanan mereka. Dan Allah juga mentakdirkan dengan sifat Maha Lembutnya Allah, dan juga dari keutamaan –fadhl- yang Allah yang tidak bisa dihitung, Allah telah menetapkan / mentakdirkan kewajiban-kewajiban dan ibadah yang sunnah bagi hamba-Nya yang (6) dengan hamba itu melakukan kewajiban dan sunah tadi maka akan memberikan air, mengairi, memberikan irigasi untuk pohon keimanan di dalam hatinya dan (7) dengannya pohon itu menjadi semakin besar dan menjadi sehat (8) bisa menolak berbagai penyakit sehingga semakin menjadi sempurnalah pohon tersebut dan (9) di kemudian hari memberikan buah-buahan, panenan dari pohon keimanan tersebut setiap waktu, tentunya dengan izin yang menguasainya. dan Allah menjadikan dari melakukan kewajiban-kewajiban dan sunah sunah itu (10) akan mencegah atau meniadakan dari pohon-pohon itu penyakit apapun.

Dosa-dosa itu bahayanya sangatlah besar dan dosa itu dia bisa mengikis keimanan dan ini hal yang sudah diketahui.

Kewajiban-kewajiban yang tiga ini (yakni: (1) sholat lima waktu, (2) jumat, (3) ramadhan) jika seorang hamba menguranginya dengan menjauhi dosa-dosa yang besar maka Allah pasti akan ampuni dosa-dosa kecil hamba itu dan kesalahan-kesalahan yang pernah dia perbuat, dengan sebab melakukan tiga kewajiban tadi dan bahkan tiga amalan yang itu adalah salah satu dari perkara yang paling besar yang masuk ke dalam firman Allah ta’ala

إن الحسناتِ يذهبْن السيئاتِ (هود:١١٤)

Arti: Sesungguhnya perbuatan baik akan menghapus perbuatan jelek. (Q.S. Hud-114)

Hal yang semisal dengan itu sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan -dengan sifat Allah yang Maha Lembut- bahwasanya (seorang hamba) dia menjauhi dosa-dosa yang besar, maka itu menjadi sebab dari digugurkannya dosa-dosa yang kecil. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إن تجتنبواْ كبآئر ما تنهون عنه نكفر عنكم سيئاتكم وندخلكم مدخلًا كريمًا (النساء:٣١).

Adapun untuk dosa besar, maka tidak bisa tidak, pelakunya harus bertaubat agar diampuni. (Q.S. An-Nisaa:31)

Bisa diilmui dari hadis ini bahwasanya (1) semua nash yang didalamnya terdapat penjelasan akan amalan sholeh itumenghapuskan perbuatan-perbuatan jelek maka sesungguhnya yang dimaksudkan dari penghapusan amalan jelek itu cuma dosa kecil, karena ibadah-ibadah ini yang besar tadi jikalah dia tidak bisa menghapuskan dosa yang besar bagaimana pula dengan amalan sholeh lainnya yang kedudukannya di bawah tiga amalan di hadis itu.

Kemudian hadits ini secara terang jelas membagi dosa kepada dua pembagian yaitu (1) dosa-dosa besar dan (2) dosa-dosa kecil. Dan kita sudah tahu bahwa sangat banyak kalimat-kalimat dari ulama terkait apa perbedaan antara dosa kecil dengan dosa besar dan ucapan tersebut yang paling bagusnya adalah: bahwasanya dosa besar itu : (a) sesuatu yang berefek kepada hukuman di dunia atau (b) pelakunya diancam dengan hukuman di akhirat atau (c) pelaku dosa tersebut mendapat laknat atau perbuatan dosa tersebut berefek kepada murkanya Allah dan yang sejenisnya. Adapun dosa-dosa kecil adalah selain dari itu.

Atau bisa juga didefinisikan dosa-dosa besar adalah: dosa-dosa yang bentuk pengharamannya adalah pengharaman terhadap hal utama / hal inti (maqshud). Adapun dosa-dosa kecil adalah dosa yang diharamkan namun dengan bentuk pengharamannya itu terhadap perantara kepada dosa inti (washilah) yang sebelumnya. Dan wasilah itu seperti: (1) memandang kepada perempuan yang tidak boleh dilihat (2) atau bahkan ditambah dengan berduaan dengan perempuan asing yang bukan mahramnya. Adapun dosa besar itu contohnya (1) zina, ya perbuatan zina itu sendiri (bukan pendahuluan kepada sinarnya), atau seperti (2) riba fadhl ditambah riba nasi’ah dan dosa-dosa yang semisalnya.

Categories
Aqidah Siroh

Berita baik dari kitab langit terdahulu akan kedatangan Rasulullah

di kitab-kitab yang terdahulu sudah ada kabar gembira tentang akan didatangkannya nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Hal ini sebagaimana yang Allah beritakan bahwasanya di Taurat dan Injil tertulis demikian dan juga sebagaimana atau sudah dikabarkan oleh Nabi Isa Alaihissalam bahwasanya nabi SAW bersabda:

imam Bukhari meriwayatkan hadits yang shohih dari Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu Anhu bahwasanya Abdullah bin Amr tlmendapatkan sifat-sifat nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam di dalam Taurat. Hadits selengkapnya adalah bahwasanya Abdullah bin Amr bin ash berkata: beritahu saya mengenai sifat-sifat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di dalam taurat. Dijawab: “baik”, Demi Allah sesungguhnya Rasulullah sudah disifatkan di dalam Taurat dengan sebagian sifat-sifatnya yang disebutkan di Al-Qur’an ()

di dalam taurat yang ada pada hari ini yang orang Yahudi mengikrarkan akan keshahihannya, pada lembaran-lembaran awal disebutkan bahwasanya Allah ta’ala memperlihatkan kepada Ibrahim dan berkata kepada Ibrahim yang maknanya, berdirilah lalu berjalanlah di atas bumi sepanjang bumi dan selebar buminya , dan untuk anakmu itu semua demikianlah pengagungan yang akan didapatkannya.

Sudah jelas pengetahuan bahwasanya nabi Ibrahim tidaklah diberikan kekuasaan sepanjang timur dan baratnya bumi kecuali hanya nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam hal ini adalah sebagaimana riwayat yang datang di dalam shahih dari nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda: Sesungguhnya Allah telah melipat bumi untukku sehingga aku bisa melihat bagian timur bumi dan bagian baratnya. Dan kelak kekuasaan umatku akan mencapai semua penjuru yang telah diperlihatkan kepadaku.

Juga di dalam taurat tersebut juga bahwasanya Allah ta’ala berfirman kepada Ibrahim: “adapun Ishaq maka kamu dapatkan banyak keturunan darinya, adapun Ismail sesungguhnya saya telah memberikan barokah kepada dia, aku berikan banyak kepada dia dan aku muliakan dia dan aku jadikan dari keturunan-keturunannya sebanyak bintang di langit… sampai firman Allah… dan aku agungkan Ismail dengan keturunannya yaitu Muhammad. Ada yang mengatakan dengan Ahmad, dan ada yang mengatakan aku jadikan dia sangat besar sangat mulia.

Juga di dalam Taurat tersebut disebutkan bahwa Allah berjanji kepada Ibrahim bahwa Ismail tangannya akan menjadi sangat tinggi di atas semua umat dan semua umat ada di bawah tangannya dan juga tangannya akan ada di atas seluruh tempat tinggal saudara-saudaranya. Juga kita ketahui bahwasanya Ismail tidak pernah sekali pun masuk kedalam Syam (di mana Ishaq dan keturunannya hidup) dan juga tangannya tidak pernah menaungi saudara-saudaranya yang lain. Hanya saja ini adalah dia, bapak dari Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan juga tidak ada satu pun yang menguasai Syam dan Mesir dari bangsa Arab satu pun sebelumnya kecuali umat nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam karena sesungguhnya dibukanya kota Syam dan Mesir terjadi pada kepemimpinan Khalifah Abu Bakar as Shiddiq dan Khalifah Umar bin Khattab radiallahu anhum.

Dan di bagian yang keempat dari Taurat yang sekarang ada di tangannya orang Yahudi ada kalimat yang bermakna: “akan ada nabi yang ditegakkan untuk mereka berasal dari golongan saudara mereka sendiri dari saudaranya mereka sendiri yang seperti engkau sifatnya wahai Musa aku jadikan ucapanku di lisannya”.

Orang-orang Yahudi dan semua orang mengetahui bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala tidak pernah mengutus dari anak keturunan Ismail satupun nabi kecuali nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bahkan tidak ada sebelumnya dari keturunannya Israil (yaitu Nabi Ya’qub alaihi salam) satupun nabi yang menyerupai Musa kecuali nabi Isa alaihissalam sedangkan mereka orang Yahudi tidak pernah mengakui kenabian ‘Isa kemudian juga Nabi ‘Isa itu bukanlah dari saudaranya Musa karena nabi Isa dinasabkan kepada ibunya sholawatullahi alaihi. Maka dengan keterangan-keterangan ini sudah jelaslah bahwasanya apa yang tertulis di Taurat mereka itu adalah menjelaskan tentang nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

  • Sumber: Al Fushul fi Siroti Rosul shollallahu alaihi wasallam
  • Penulis: Abul Fida Ibnu Katsir rohimahullah
Categories
Aqidah Siroh

Bagaimana diciptakannya Adam ‘alaihi as-salam

Allah sudah memberitahu kita di Al-Qur’an yang Mulia tentang bagaimana Allah menciptakan Adam Alaihis salam. Ringkasan dari kandungan ayat-ayat tersebut adalah Allah menciptakan Adam dari tanah, lalu Allah ubah menjadi tanah yang basah, kemudian Allah ‘azza wajalla menciptakan semua bentuk Adam dengan kedua tangan-Nya subhanahu wa ta’ala. Allah berfirman:

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَي

Dan tidak diragukan benar-benar sudah datang banyak hadits untuk menerangkan cara Allah ‘azza wajalla menciptakan Adam ‘alaihis salam. Sebagian hadits tersebut ada yang shahih dan sebagiannya dha’if. Imam Ahmad meriwayatkan di Al-Musnad dari Abu Musa -rodhiyallahu ‘anhu, dari Sang Nabi -shollallahu alaihi wasallam- beliau bersabda : “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari segenggam tanah yang Allah ambil dari semua bagian bumi. Sehingga hadirlah anak-anak Adam sesuai kadar tanahnya. Jadilah ada yang berwarna putih, merah, hitam, dan di antara itu, ada yang jelek dan baiknya, yang pembawaannya gembira dan ada yang pembawaannya sedih dan yang di antaranya. (Diriwayatkan Abu Daud, At-Turmuzi, selain keduanya dan telah disahihkan oleh Suamiku Al-Albani -dinikahinya).

Imam Muslim meriwayatkan dari Anas rodhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda: ketika Allah sudah selesai membentuk Adam di jannah, Allah biarkan Adam. Lalu Iblis mengitari dan melihat bagaimana Adam ini. tatkala dia lihat bahwa Adam berongga langsung dia tahu bahwa Allah telah menciptakan makhluk yang tidak bisa menguasai hawa nafsunya. Dan Bukhari meriwayatkan dari Abu Bergairah bahwa Nabi bersabda: “Allah menciptakan Adam, tingginya 60 hasta.” Setelah selesai Allah menciptakan jasad Adam dengan bentuk tadi, menyempurnakannya , dan meniupkan ruh ke dalamnya. Itu semua sebagaimana Allah katakan: “فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ”

Setelah Allah ciptakan Adam, Allah ciptakan Hawa (حواء) dari bagian tubuh Adam. Sebagaimana firman Allah: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا“. Nabi menjelaskan perkara ini: Berikanlah wasiat kepada kaum wanita, sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk, sesungguhnya rusuk yang paling bengkok adalah paling atasnya, jika engkau luruskan maka patah, jika kamu biarkan akan tetap bengkok. Maka berwasiatlah kepada wanita. Hadits riwayat Bukhari. Ibnu Hajar berkata terkait ucapan “diciptakan dari tulang rusuk…”: ada yang berkata bahwa “ini isyarat bahwa Hawa diciptakan dari rusuk kiri Adam”. Ada lagi yang berkata: “dari rusuk yang paling pendek”.

Categories
Al Ushul Al Tsalatsah Aqidah Dakwah

Siapa yang mentaati Rasul dan mentauhidkan Allah tidak boleh dia memberikan ‘wala’ kepada siapa yang memusuhi Rasul-Nya meskipun dia orang terdekat yang paling dekat.

Ithaful Qori hal. 44

Penulis Al Ushul Ats Tsalatsah berkata :

Bahwa, siapa saja yang mentaati Rasulullah dan mentauhidkan Allah , maka tidak boleh dia memberikan wala kepada orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya meskipun orang itu adalah kerabat yang paling dekat.

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :

(لا تجد قوما يؤمنون بالله واليوم الأخر يوآدون من حآد الله ورسوله ولو كانوا ءابآءهم أو أبنآءهم أو إخونهم أو عشيرتهم. أولئك كتب في قلوبهم الإيمن وأيدهم بروح منه، ويدخلهم جنت تجرى من تحتها الأنهر خلدين فيها، رضي الله عنهم ورضوا عنه، أولئك حزب الله، ألآ إن حزب الله هم المفلحون) {المجادلة:٢٢}

PENJELASAN (Asy-Syaikh ‘Ubaid bin Abdillahn bin Sulaiman al-Jabiri Hafizhohullah)

Ini adalah salah satu kaidah agama terbesar karena kandungannya kaidah al wala’ wal baro’.

  • Al-wala’: semua bentuk cinta karena Allah dan saling menolong di dalamnya.
  • Al-baro’: adalah membenci karena Allah dan memusuhi karena benci tersebut.

Penulis berkata di karyanya yang lain:

Dasar agama agama dan kaidahnya adalah dua hal:

(1) Perintah beribadah semata-mata kepada Allah, menghasung itu, meletakkan wala di atas itu, dan menghadirkan juga karena itu.

(2) Perkara kedua, pelarangan dari melakukan syirik dalam mengibadahi Allah, menyikapi dengan keras karena kesyirikan, memusuhi , mengkafirkan siapa yang melakukan kesyirikan .

Ithaful Qori hal. 45

Perkataan penulis: Siapapun yang mentaati Allah dan mentauhidkan-Nya…

Penjelasan Suamiku ‘Ubaid –hafizhohullah:

Ibadah tidak dinamakan ibadah -dalam terminologi yang benar- sampai terkumpul kedua perkara berikut: (1) Mentaati perintah Rasul, dan (2) mentauhidkan Allah.

Perkataan Penulis : Tidak boleh untuk dia mempersembahkan wala kepada siapapun yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya.

Muwaalaah adalah masdar (kata benda) dari kata kerja waalaa , adapun waalaa (والى) terjemahannya adalah: 1. mendukung , mengokohkan , mengukuhkan , menyiagakan , memperjuangkan , memenangkan ; 2. melanjutkan , mengikuti , meneruskan (sumber: Aplikasi Kamus Arab Indonesia terbitan Ristek Muslim).

Secara istilah muwaalaah adalah: bentuk cinta, bentuk pertolongan karena Allah. Juga bermakna memberikan rasa mawaddah (kasih sayang, persahabatan, cinta kasih, perasaan selaras harmonis antara dua orang atau lebih muncul itu dari kontak sosial / masyarakat yang bersifat sentimental , emosional , penuh kasih , romantis , mengharukan , menyentuh , menyedihkan yang berketetapan), karena cinta karena Allah dan benci karena Allah adalah salah satu bagian dari kesempurnaan iman.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapapun yang mencintai karena Allah, dan membenci karena Allah dan memberikan sesuatu karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka telah sempurnakan iman-Nya” (Abu Dawud 4681 dan dishahihkan Al-Albani di Shohih Al-Jami’ 5965)

Ithaful Qori hal. 46
Ithaful Qori hal. 47
Ithaful Qori hal. 48
Ithaful Qori hal. 49
Categories
Adab dan Akhlak Aqidah Qolbu

Sebab-Sebab yang bisa membantu meluruskan niat

المجيب عبد العزيز بن عبد الله الحسين

Yang menjawab: Abdulaziz bin Abdillah Al Hasan

التاريخ 20/09/1426هـ

Tanggal: 20 Ramadhan 1426H.

السؤال

Pertanyaan;

أريد أن أعلم ما إذا كنت مخلصاً في نيتي أم لا، وإذا لم أكن مخلصاً فكيف أصحح نيتي؟.

Aku ingin mengetahui bagaimana Aku sudah ikhlas dalam niatku atau tidak, dan jika aku tidak ikhlas bagaimana Aku meluruskannya?

الجواب

Jawab:

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وبعد:
فنشكرك أيها الأخ المبارك على تواصلك معنا، ونسأل الله أن يرزقنا وإياك العلم النافع والعمل الصالح.


من علامة الخير أن يوفق المرء إلى تكميل جوانب النقص في نفسه، وأن يسعى في مدراج الكمال، وحرصك -أيها الأخ الكريم- على هذا الأمر نابع من شعورك بإجلال الله وحده، وإرادته بالعمل دون سواه.

Termasuk dari tanda kebaikan adalah seseorang diberikan taufik (pertolongan, pent) untuk menyempurnakan sisi kekurangan dirinya, dan dia berjalan di jalan-jalan kesempurnaan. Dan tamaknya engkau —wahai saudara yang mulia— dalam masalah ini sungguh keluar dari mata air kesadaran engkau untuk memuliakan Allah dan keinginan kesadaran tersebut untuk beramal tidak kepada selain-Nya

وموضوع النيات هو أساس قبول الأعمال أو ردها، وهو أساس الفوز أو الخسران، فهو طريق الجنة أو النار، ولذا كان السلف يولون هذا الأمر جل همهم، حتى قال سفيان الثوري -رحمه الله- (ما عالجت شيئاً أشد من نيتي فإنها تتقلب عليّ) ، وقال آخر: (تخليص النية من فسادها أشد على العاملين من طول الاجتهاد) .

Masalah niat ini adalah pondamen dari diterimanya amal atau ditolaknya, dan juga pondamen kesuksesan atau kerugian. Dan juga ia jalannya surga atau neraka. Dan karena keistimewaan niat, maka pendahulu kita senantiasa mengawalkan persoalan ini pada perhatian/cita-cita terbesar mereka. Sampai-sampai Sufyan Ats Tsauri -semoga Allah merahmatinya- berkata:
Tidaklah saya mengobati sesuatu yang lebih sulit sukar dari niat, dia sungguh senantiasa berbolak-balik“.

Dan yang lainnya berkata: “Membersihkan niat dari unsur rusaknya adalah hal paling sulit bagi orang yang senantiasa beramal dibandingkan dengan ia harus tekun berketerusan.

أيها الأخ المبارك: يعرف المرء من نفسه الإخلاص من عدمه بأمور، أبرزها:

Wahai saudaraku yang mulia, seseorang bisa mengetahui di dalam jiwanya ada / terdapat keikhlasan dengan beberapa perkara:

(1) المخلص لا ينسب ما هو فيه من فضل وخير ونعم إلى نفسه، بل يرجع الفضل إلى الله ولا تهمه مقاييس البشر: “إنما نطعمكم لوجه الله لا نريد منكم جزاءً ولا شكوراً” [الإنسان:9] .

  1. Orang yang punya keihklasan tidak menisbatkan kepada dirinya apa saja yang dia ada di dalamnya berupa keistimewaan, kebaikan, atau nikmat. Akan tetapi dia mengembalikan keutamaan/keistimewaan hanya kepada Allah dan dia tidak mempedulikan pendapat orang: “Hanyasaja kami memberi makan kalian hanya mengharap wajah Allah, kami tidak menginginkan dari kalian upah dan tidak juga ucapan terimakasih” (Al-Insan:9).

(2) إذا قام بالعمل على الوجه المناسب يستوي عنده المدح والذم من الناس، وذلك لأنه ينتظر ثواب الله ورضاه: “وما لأحد عنده من نعمة تجزى إلا ابتغاء وجه ربه الأعلى” [الليل:19-20] .

2. Jika dia melakukan amalan dengan cara yang benar, maka sama saja pujian atau celaan manusia. Hal itu karena dia mengharapkan pahala Allah dan keridhoan-Nya. “(19) padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya,( 20 )   tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi” Al-Lail 19-20.

(3) ستر العمل عن أعين الناس، خصوصاً في الجوانب التي ليس لهم فيها متعلق.

3. Menutupi amalannya dari penglihatan orang. Terkhusus pada sisi-sisi yang amal itu tidak berkaitan dengan orang lain.


(4) الشعور بالتقصير في حق الله مع القيام بالعمل على أكمل وجه.

4. Selalu menyadari dia lalai dalam memenuhi hak Allah dalam keadaan dia selalu menunaikan kewajiban beramal dengan cara yang paling sempurna.

أيها الأخ المبارك: أما كيفية تصحيح النية فيحصل بأمور، من أهمها:

Wahai saudaraku yang mulia, adapun cara meluruskan niat maka bisa digapai dengan beberapa perkara. Beberapa yang paling penting:


1- أن تستشعر أنه لا راحة للقلب ولا طمأنينة ولا حياة إلا بالإخلاص لله، فإن هذا الشعور يورث في القلب تجديد النية في كل حين. قال شيخ الإسلام ابن تيمية -رحمه الله-: وإذا لم يكن العبد مخلصاً لله استعبدته الكائنات، واستولت على قلبه الشياطين. أ. هـ بتصرف.

  1. Hendaknya dia merasa bahwa tidak ada kelegaan untuk hati, tiada ketenangan, dan tiada kehidupan kecuali HANYA dengan memurnikan amalan untuk Allah. Maka sesungguhnya, kesadaran ini akan mewariskan hati selalu memperbarui niat di setiap keadaannya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -semoga Allah merahmatinya- berkata: “Jika seorang hamba tidak memurnikan untuk Allah, maka ia akan diperbudak oleh makhluk. Dan setan-setan akan mengkudeta penguasaan hatinya“.

2- أن يسأل المرء نفسه عند قيامه بكل عمل: هل هو لله أم أراد به محمدة الناس وثناءهم عليه، فإن كان لله تقدم، وإن كان لغيره تأخر، ولا يقبل الله من العمل إلا ما كان خالصاً وأريد به وجهه.

2. Hendaknya bertanya ke dirinya setiap menunaikan amalan: “Apakah amalan ini hanya untuk Allah ataukah mengharapkan dengan amalan ini pujian dan suatu yang dipujikan manusia? Maka jika itu untuk Allah maka maju kerjakan! Tetapi jika untuk selain Allah, maka tunda! Dan Allah tidak akan menerima amalan kecuali itu murni untuk-Nya dan yang mengharapkan wajah Allah”.


3- شعورك أن الله مطلع على ما في قلبك، وما يمر في خاطرك يدفعك إلى تصحيح النية، وهذه من سمات صفوة الخلق، كما جاء في حديث جبريل عليه السلام: “الإحسان: أن تعبد الله كأنك تراه، فإن لم تكن تراه فإنه يراك”. أخرجه البخاري (50) ، ومسلم (9) .

Kesadaran engkau bahwa Allah mengawasi apa yang di hatimu, apa yang lewat di benakmu maka akan mendorong engkau untuk meluruskan niat. Ini adalah termasuk dari tanda akhlak yang terpuji. Sebagaimana datang (ttg ini) di Hadits Jibril ‘alaihi as-salam: “Al-Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak bisa melihat-Nya ketahuilah bahwa Ia melihatmu“. HR Bukhari (50), Muslim (9).

4- الدعاء: وقد جاء في الحديث الثابت أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: “أيها الناس اتقوا هذا الشرك، فإنه أخفى من دبيب النمل “فقيل له: وكيف نتقيه وهو أخفى من دبيب النمل يا رسول الله؟ قال: قولوا: “اللهم إنا نعوذ بك من أن نشرك بك شيئاً نعلمه، ونستغفرك لما لا نعلم” رواه أحمد (19606) وصححه الألباني.
وكان عمر -رضي الله عنه- يقول في دعائه: “اللهم اجعل عملي كله صالحاً، واجعله لوجهك خالصاً، ولا تجعل لأحدٍ فيه شيئاً”.

4. Berdoa. Sudah datang di hadits yang kuat bahwa Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai segenap manusia, berlindunglah dari syirik ini. Karena, sungguh, ia lebih tersembunyi dari langkah semut” Lalu ada yang bertanya: “Lalu bagaimana kami menjauhi ia padahal ia lebih tersembunyi dari langkah semut Ya Rasulullah?”. Nabi bersabda: “Ucapkanlah: ” اللهم إنا نعوذ بك من أن نشرك بك شيئاً نعلمه، ونستغفرك لما لا نعلم “. HR Ahmad (19606)

Dan Umar Radhiyallahu ‘anhu selalu mengucapkan: ”
اللهم اجعل عملي كله صالحاً، واجعله لوجهك خالصاً، ولا تجعل لأحدٍ فيه شيئا
Arti: “Ya Allah, jadikanlah semua amalanku -semuanya- solih, dan jadikan ia hanya mengharap wajah-Mu dengan murni, dan janganlah engkau jadikan di amalan tersebut untuk selain-Mu

وصلى الله على نبينا محمد وآله وسلم.

Categories
Aqidah

Hati-Hati Dari Syubhat Tukang Ramal dsj.

Ahlussunnah berkeyakinan bahwa hal ghaib adalah hak khusus milik Allah, tidak ada satupun makhluk yang tahu. Barangsiapa mengaku-aku tahu ilmu ghaib maka hukumnya kafir. Dari sisi inilah para penyihir, tukang ramal dengan media apapun seperti air, kartu tarot, pasir, maupun bintang (zodiak), dukun, dan lainnya hukum pelakunya adalah kafir dan orang yang bertanya kepada mereka maka tidak diterima sholatnya selama 40 hari, dan jika membenarkan jawaban mereka maka dihukumi kafir. Demikian juga tidak boleh satu orangpun mengklaim tahu kapan terjadi hari kiamat karena itu termasuk ilmu ghaib.

Banyak tersebar hal yang merusak bahkan dagangan yang sangat laris punya irisan sifat dengan sihir dan sudah seharusnya berjauh-jauh dari itu;

  1. Dukun meskipun berpeci, bersarung bahkan dipanggil Pak Ustaz atau orang pintar (hakikatnya adalah orang bodoh).
  2. Ramalan bintang (zodiak).
  3. Hipnotis.
  4. Sulap meskipun katanya kecepatan tangan.
Categories
Adab dan Akhlak Aqidah

Berkata Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu

Berkata Ibnu Mas’ud رضى الله عنه :

“Barangsiapa yang ingin mengambil contoh, hendaknya ia mencontoh orang yang sudah wafat, sesungguhnya orang yang masih hidup tidak terjaga fitnah keatasnya, mereka adalah para sahabat Muhammad صلى الله عليه وسلم، yang merupakan kelompok yang utama dari umat ini. Yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, dan paling sedikit tuntutannya. Allah سبحانه وتعالى memilih mereka menjadi sahabat Nabi-Nya dan menegakkan agama-Nya. Oleh sebab itu, kenalilah keutamaan mereka, ikutilah jejak mereka, dan berpegang teguhlah sekuat kemampuan kalian pada akhlak dan perilaku mereka. Sebab, mereka berada di atas petunjuk yang lurus”

📚 رواه ابن عبد البر في جامع بيان العلم، رقم ١٨١٠

Categories
Aqidah

Reading Introduction Section of Lum’atul I’tiqod

Tiga hari ini sudah masuk pelajaran baru yaitu pembahasan Kitab lumatul itiqod yang ditulis oleh Ibnu Qudamah al Maqdisi. Kalau tidak salah penulis yang sama adalah salah satu ulama terbesarnya Mazhab Hanbali. Beliau rohimahullah menuliskan empat kitab fiqih yang diperuntukkan mulai dari level pemula, atasnya pemula, menengah, dan tinggi. Semoga Allah menjadikan penulis seperti beliau dari sisi kesholehan, keilmuan, ketawadhuan, dan keahlian. Aamiin.

Kitab yang dipakai adalah yang diberikan penjelasan oleh Asy-Syaikh Ibnul Utsaimin salah satu ulama kontemporer yang wafat 18 tahun lalu siapa yang digelari mujtahid oleh sebagian ulama dan juga fuqoha-ul ‘ashr, dan gelar lainnya. Beliau sangat banyak rekaman suara dan video nya di internet. Rohimahumallah.

Lumatul itiqod, dikatakan oleh ustadz (Abu Qudamah Muhammad Syahid) adalah kitab akidah yang umum dalam artian mengkover semua bidang akidah, ada yang dari tauhid rububiyah, uluhiyah, asma’ wa shifat, di dalamnya juga ada tentang mentaati pemimpin, penduduk surga, mizan (timbangan di akhirat), qodho dan qodar, dll.

Nah, dari sekian banyak bab yang ditulis oleh Abu Qudamah Al-Maqdisi, pensyarah buku ini memulaikan bagian syarahnya dengan pendahuluan oleh beliau sendiri untuk memberikan arahan terkait kaidah-kaidah yang berlaku dalam rangka memudahkan mempelajari hal terkait asma’ wa shifat , hingga disebutkan ada empat kaidah. Di setiap poin kaidah terdapat beberapa poin cabang dari kaidah.

Kaidah Pertama

Terhadap Nash Al-Quran dan Sunnah yang terkait Asma dan Shifat Allah. (Bagaimana mensikapi ayat-ayat yang ada penyebutan nama dan sifat Allah.

Wajib membiarkan dalil-dalil dan penunjukkan-penunjukkan dari nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah di atas makna zhahirnya, tidak ditakwil. Hal ini adalah karena al-Quran diturunkan dengan bahasa arab, dan Rasulullah pun orang Arab. Dan juga mentakwil/mengubah penunjukkan dalil kepada selain makna zahir termasuk kategori “berkata tentang Allah tanpa Ilmu”.

Kaidah Kedua

Kaidah dalam memahami Asma Allah (semua nama-nama Allah)

  1. Semua nama Allah adalah indah dipuncak keindahan.
  2. Nama Allah tidak dibataskan dengan jumlah tertentu.
  3. Nama Allah tidak ditentukan/ditinjau oleh akal manusia, sesungguhnya hanya ditentukan dalil syara’ AlQuran dan As-Sunnah As-Shohihah
  4. Semua nama-nama Allah menunjukkan kepada dzat-Nya Allah, dan sifat-sifat yang terkandung dari nama tersebut.

Kaidah Ketiga

Kaidah dalam memahami Sifat Allah

  1. Sifat Allah semuanya maha Tinggi (‘ulya عليا), sifat-sifat sempurna dan penuh pujian, tidak ada kekurangan maupun cacat kecil dari segala arahnya.
  2. Sifat Allah dibagi dua:
    1. Sifat Tsubutiyyah, yaitu sifat-sifat yang Allah tetapkan ada di diriNya.
    2. Sifat Salbiyyah, yaitu sifat-sifat yang Allah nafikan keberadaannya dari diri-Nya.
  3. Sifat Tsubutiyyah terbagi dua:
    1. Dzaatiyyah
    2. Fi’liyyah
  4. Semua sifat-sifat tersebut diarahkan kepada sifat-sifat tersebut tiga pertanyaan:
    1. Apakah itu sifat haqiqiy? Mengapa?
    2. Apakah boleh mendeskripsikan bagaimana sifat tersebut? Mengapa?
    3. Apakah menyamakan dengan sifat makhluk? Mengapa?

Kaidah Keempat

Tentang hal-hal yang kita bantah dengannya para penolak asma wa shifat Allah. (Cara membantah orang-orang yang menyeleweng yang tidak sependapat dengan Aswaja)

Wallahu a’lam

Semoga Allah mudahkan kita semua mempelajari akidah yang lurus. Aamiin.