Categories
Adab dan Akhlak Aqidah Fiqih Pesantren

Permisalan Pohon Keimanan

Seringkali ketakwaan keimanan keislaman bahkan orang yang beriman kepada Allah di per misalkan dengan pohon. Contoh yang paling jelas adalah firman Allah ayatnya yang agung kalimat-kalimat yang tidak ada kedustaan sedikitpun di dalamnya nya Allah berfirman:

ضرب الله مثلا كلمة طيبة كشجرة طيبة أصلها ثابت وفرعها في السماء

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. (Q.S. Ibrohim:24)

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam pernah juga pada satu kesempatan bersama para sahabatnya beliau shallallahu alaihi wasallam bertanya melemparkan pertanyaan kepada mereka dengan permisalan pohon.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ فَحَدِّثُونِي مَا هِيَ فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي قَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ فَاسْتَحْيَيْتُ ثُمَّ قَالُوا حَدِّثْنَا مَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هِيَ النَّخْلَةُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya ada di antara pepohonan, satu pohon yang tidak gugur daunnya. Pohon ini seperti seorang muslim, maka sebutkanlah kepadaku apa pohon tersebut?” Lalu orang menerka-nerka pepohonan wadhi. Abdullah Berkata: “Lalu terbesit dalam diriku, pohon itu adalah pohon kurma, namun aku malu mengungkapkannya.” Kemudian mereka berkata: “Wahai Rasulullah beri tahukanlah kami pohon apa itu?” Lalu beliau menjawab: “ia adalah pohon kurma.”

Berikut ini adalah pembahasan Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Si’di rohimahullah dari kitab yang beliau tulis “Bahjatu Quluubil Abror wa Qurrotu Uyuunil Akhyaar”. Yang di dalamnya beliau menyebutkan permisalan keimanan dengan pohon, apa makanan dan minumnya, apa yang membuat dia tumbuh besar, apa yang membuat dia kebal dari hama.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: الصلوات الخمس والجمعة إلى الجمعة ورمضان إلى رمضان مكفرات لما بينهن ما اجتنبت الكبائر (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah -radhiallahu ‘Anhu- berkata Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda salat lima waktu dan salat Jum’at ke Jum’at selanjutnya dan puasa romadhon dan ramadhan selanjutnya, menggugurkan dosa-dosa yang terjadi di antara keduanya selama tidak melakukan dosa besar.

Syaikh As-Si’di rohimahullah memberikan penjelasan sangat indah… Simaklah…

Hadits ini menunjukkan kepada sangat besarnya keutamaan yang Allah miliki dan sangat pemurah nya Allah dengan memberikan kelebihan-kelebihan untuk ketiga ibadah yang disebutkan di hadits dan bahwasanya tiga ibadah yang disebutkan tersebut bagi mereka di sisi Allah ada kedudukan yang sangat tinggi dan juga buah yang dihasilkan dari amalan tersebut tidak mungkin bisa dihitung dan diperkirakan banyaknya.

Maka yang termasuk dari buah amalan tersebut adalah bahwasannya Allah menjadikan tiga ibadah tersebut yang disebutkan di hadits adalah sebagai (1) penyempurnaan bagi agama seorang hamba dan keislamannya dia. (2) Kemudian bahwasanya tiga amalan tersebut menjadi hal yang menumbuhkan keimanan dan (3) memberikan minum bagi pohon keimanan, karena sesungguhnya (4) Allah menumbuhkan pohon keimanan di hati hatinya orang beriman yang (5) besar pohon tersebut tergantung dengan kadar keimanan mereka. Dan Allah juga mentakdirkan dengan sifat Maha Lembutnya Allah, dan juga dari keutamaan –fadhl- yang Allah yang tidak bisa dihitung, Allah telah menetapkan / mentakdirkan kewajiban-kewajiban dan ibadah yang sunnah bagi hamba-Nya yang (6) dengan hamba itu melakukan kewajiban dan sunah tadi maka akan memberikan air, mengairi, memberikan irigasi untuk pohon keimanan di dalam hatinya dan (7) dengannya pohon itu menjadi semakin besar dan menjadi sehat (8) bisa menolak berbagai penyakit sehingga semakin menjadi sempurnalah pohon tersebut dan (9) di kemudian hari memberikan buah-buahan, panenan dari pohon keimanan tersebut setiap waktu, tentunya dengan izin yang menguasainya. dan Allah menjadikan dari melakukan kewajiban-kewajiban dan sunah sunah itu (10) akan mencegah atau meniadakan dari pohon-pohon itu penyakit apapun.

Dosa-dosa itu bahayanya sangatlah besar dan dosa itu dia bisa mengikis keimanan dan ini hal yang sudah diketahui.

Kewajiban-kewajiban yang tiga ini (yakni: (1) sholat lima waktu, (2) jumat, (3) ramadhan) jika seorang hamba menguranginya dengan menjauhi dosa-dosa yang besar maka Allah pasti akan ampuni dosa-dosa kecil hamba itu dan kesalahan-kesalahan yang pernah dia perbuat, dengan sebab melakukan tiga kewajiban tadi dan bahkan tiga amalan yang itu adalah salah satu dari perkara yang paling besar yang masuk ke dalam firman Allah ta’ala

إن الحسناتِ يذهبْن السيئاتِ (هود:١١٤)

Arti: Sesungguhnya perbuatan baik akan menghapus perbuatan jelek. (Q.S. Hud-114)

Hal yang semisal dengan itu sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan -dengan sifat Allah yang Maha Lembut- bahwasanya (seorang hamba) dia menjauhi dosa-dosa yang besar, maka itu menjadi sebab dari digugurkannya dosa-dosa yang kecil. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إن تجتنبواْ كبآئر ما تنهون عنه نكفر عنكم سيئاتكم وندخلكم مدخلًا كريمًا (النساء:٣١).

Adapun untuk dosa besar, maka tidak bisa tidak, pelakunya harus bertaubat agar diampuni. (Q.S. An-Nisaa:31)

Bisa diilmui dari hadis ini bahwasanya (1) semua nash yang didalamnya terdapat penjelasan akan amalan sholeh itumenghapuskan perbuatan-perbuatan jelek maka sesungguhnya yang dimaksudkan dari penghapusan amalan jelek itu cuma dosa kecil, karena ibadah-ibadah ini yang besar tadi jikalah dia tidak bisa menghapuskan dosa yang besar bagaimana pula dengan amalan sholeh lainnya yang kedudukannya di bawah tiga amalan di hadis itu.

Kemudian hadits ini secara terang jelas membagi dosa kepada dua pembagian yaitu (1) dosa-dosa besar dan (2) dosa-dosa kecil. Dan kita sudah tahu bahwa sangat banyak kalimat-kalimat dari ulama terkait apa perbedaan antara dosa kecil dengan dosa besar dan ucapan tersebut yang paling bagusnya adalah: bahwasanya dosa besar itu : (a) sesuatu yang berefek kepada hukuman di dunia atau (b) pelakunya diancam dengan hukuman di akhirat atau (c) pelaku dosa tersebut mendapat laknat atau perbuatan dosa tersebut berefek kepada murkanya Allah dan yang sejenisnya. Adapun dosa-dosa kecil adalah selain dari itu.

Atau bisa juga didefinisikan dosa-dosa besar adalah: dosa-dosa yang bentuk pengharamannya adalah pengharaman terhadap hal utama / hal inti (maqshud). Adapun dosa-dosa kecil adalah dosa yang diharamkan namun dengan bentuk pengharamannya itu terhadap perantara kepada dosa inti (washilah) yang sebelumnya. Dan wasilah itu seperti: (1) memandang kepada perempuan yang tidak boleh dilihat (2) atau bahkan ditambah dengan berduaan dengan perempuan asing yang bukan mahramnya. Adapun dosa besar itu contohnya (1) zina, ya perbuatan zina itu sendiri (bukan pendahuluan kepada sinarnya), atau seperti (2) riba fadhl ditambah riba nasi’ah dan dosa-dosa yang semisalnya.

Categories
Adab dan Akhlak Dakwah Orang tua Pesantren

Adab Da’i

Pada kitab Ithaful Qori li Syarhi Tsalatsatil Ushul, asy Syaikh ‘Ubaid bin ‘Abdillah bin Sulaiman al-Jabiri mengajarkan beberapa adab untuk orang yang mengajak kepada agama Allah:
(1) Keinginan yang kuat (Hirsh) agar manusia mendapat petunjuk ke jalan yang lurus.
(2) Lembut, pergaulan yang elok (Rifq), karena rifq tidaklah dia mensifati sesuatu pasti menjadi indah, dan jika hilang maka menjadi memalukan, menjatuhkan kehormatan orang tersebut.
(3) (Hikmah) Bijaksana di atas ilmu, menempatkan suatu sesuai tempatnya, sesuai dengan maqoshid asy-syari’ah.
(4) Al-Mau’izhoh Hasanah : Nasihat yang baik. Mengingatkan kepada akhlak yang baik, amalan soleh, ketakwaan. Apakah dengan mengingatkan nikmat-nikmat pahala-pahala surga, atau dengan ketakutan azab siksa neraka.
(5) Berdebat, mendebat kesalahan pihak lain dengan metode paling elok. Karena ada syubhat maka ambil cara yang paling dekat kepada tercapainya kebenaran dengan hal yg paling kuat dan menancap di sanubarinya.
(6) Al-Fiqh. Yakni keilmuan dia tentang apa pun yg perintah dan dilarang Allah dan Rasul-Nya.
(7) Menjelaskan Al-Haq untuk kebaikan manusia. Dan mendorong manusia untuk mengambil al-haq -di atas dalil-dalil.
(8) Tidak membawa jiwanya ke dalam penyesalan disebabkan orang tidak menyambut petunjuk Allah. Ini juga hal yang dilarang Allah kepada Nabi-Nya.
(9) Sedia menentang syubhat pengikut kebatilan dan pengikut hawa nafsu, membantahnya dengan uslub yg kuat, dan memperingatkan manusia agar berjauh-jauh dari mereka. Demikianlah yang Nabi shollallahu alaihi wasallam praktekkan.

Penerjemah : Wallahu a’lam jika ada kekeliruan tolong beritahu 🙏

Categories
Adab dan Akhlak Pesantren

Guruku menasihatiku

Untuk mengawali belajar dengan niat yang benar.

Untuk mengambil ilmu dengan penuh adab. Adab di hadapan guru dan begitupula adab di hadapan ilmu.

Untuk mengambil ilmu secara bertahap. Beliau memperingatkan agar tidak menyelisihi ini. Agar selamat dari kebodohan. Siapa yang ambil atas tanpa didahului dasar maka tidak akan paham yang tinggi. Dan tidak pula dapat yang rendahnya.

Arahan demi arahan ku terima, jazahumullah khairo, ku rasa kalian benar benar menginginkan kebaikan untuk ku. Beliau meluruskan cara belajar sisi yang lain :

  1. Awali dengan menghafal Al-Qur’an dan Sunnah jalani tanpa ada habisnya hingga maut menjemput.
  2. Ikutkan selanjutnya dengan menghafal mutun yg asasi di masing-masing bidang ilmu.
  3. Isi pengetahuan bidang ilmu yg ingin dikuasai secara rinci dan bidang2x lainnya Secara global jangan ditinggal.

Kemarin beliau menasihatkan bahwa Allah memilih hambaNya yang mana untuk mengemban dakwah agama ini. Kita tidak tahu siapa. Namun tidak mesti orang yang cerdas jenius, bisa saja pada orang yang mungkin lambat dalam belajarnya namun ternyata ia bertakwa, bersih hatinya, sungguh-sungguh , jujur ?

Categories
Adab dan Akhlak Pesantren

Ilmu ada bertingkat-tingkat, jalur, dan urutan

Belajar ilmu agama adalah hal yang mulia sekali. Biasanya yang masuk ke dalam medan ini orang-orang yang menginginkan memperbaiki dirinya kemudian memperbaiki orang lain setelahnya. Ilmu ini adalah yang disifatkan sebagai warisan para nabi. Karena nabi tidak mewariskan uang. Dengan ilmu agama Allah angkat sebagian kaum dari lainnya. Dengan ilmu agama ini yang bersesuaian dengan petunjuk nabawiyyah lah Allah diibabadahi. Dari awal sampai ujungnya tidak ada aib di dalamnya. Dari awal sampai ujungnya mengandung keberkahan. Dari awal sampai ujungnya tidak bisa ditandingi oleh ilmu manapun.

Dengan sifat-sifat ilmu agama yang mewah tadi menjadi magnet yang luar biasa menarik bagi hamba-hamba Allah yang ingin mengambilnya. Mereka tahu bagaimana kedudukan pemilik ilmu tersebut dari kalangan sahabat Nabi, tabi’in, tabiut tabi’in yang mulia di dunia dan janji mulia di akhirat.

Akan tetapi mungkin penting untuk diulang-ulang nasihat ini, terutama lagi di zaman kita hidup atau sebagian lahir di zaman banyak hal instan, jalan pintas, akselerasi dan sebagainya. Mungkin tidak disadari nilai instan itu sudah masuk menjadi kebiasaan dan cara pandang biasa. Ditambah menjadi bias keberadaan tukang khutbah yang terkenal di media, jalan pintas. Seakan hal yang instan itu normal, standar, tidak ada yang aneh menyimpang.

Ibnu ‘Abdil Barr An-Namri Al-Qurthubi rohimahullah berkata:

طلب العلم درجات ومناقل ورتب، لا ينبغي تعديها، ومن تعدها جملة؛ فقد تعدى سبيل السلف -رحمهم الله- ومن تعدى سبيلهم عامدًا؛ ضل، ومن تعداه مُجتهدًا؛ زل

Menuntut ilmu itu bertingkat-tingkat, jalur, dan urutannya. Tidak sepantasnya keluar dari batasan itu. Siapa yang keluar dari batas seluruhnya maka dia keluar dari jalan salaf rohimahumullah, dan siapa yang melanggar keluar dari jalan itu sengaja, dia sesat, dan siapa yang keluar dari jalan itu berangkat dari ijtihadnya, dia pasti tergelincir.
Gambar ini hanyalah ilustrasi untuk memvisualkan apa itu مَنَاقِلٌ / jalur, bahkan ilmu bukanlah seperti barang yang dimasukkan ke dalam kardus.

Oleh karena itu jika kita renungkan wasiat dari Imam Ibnu Abdil Barr tersebut, tidak boleh seorang menuntut ilmu dengan semaunya karena tidak akan pernah mencapai tujuannya, bahkan dia tersesat atau tergelincir di tengah jalan tersebut. Siapa yang tidak kenal Ibnu Abdil Barr? Ia adalah imam besar, penulis kitab At-Tamhid dan Al-Istidzkar dua kitab fenomenal fantastis yang mengumpulkan ilmu yang kolosal, sangat banyak, ia mengumpulkan sanad-sanad sehingga tersambung riwayat Muwatho’ yang sanadnya dipaparkan tidak lengkap oleh Imam Malik, dan lainnya dari keagungan ulama robbani ini.

Kami mengetengahkan tentang ini bukan didasari hasil memata-matai orang lain. Akan tetapi ini berangkat dari suatu yang memang menimpa kami berupa ingin cepat melahap kitab-kitab yang lebih dan lebih. Ingin cepat-cepat menyelami lautan ilmu, ingin mengetahui rahasia-rahasia ilmu syari, kenikmatan yang ulama-ulama kita rasakan. Akan tetapi ternyata hal ini bukanlah jalan yang benar. Bahkan cara pandang yang berbahaya. Merugikan diri sendiri dan penyesalan di belakang hari. Jazahumullah khairo kepada para guru, kyai, dan masyayikh yang menasihati dan mengarahkan kami.

Bahkan jika kita pikirkan secara sederhana, tidak seharusnya kita berpikir untuk mengambil jalan pintas dalam ilmu syar’i. Bukan semata-mata untuk beradab di hadapan ilmu dan pemiliknya dan juga pemegangnya, meskipun itu semua hal yang sangat penting yang mempengaruhi berkah tidaknya ilmu yang kita pelajari. Akan tetapi ilmu ini adalah untuk diamalkan, untuk kemaslahatan diri kita sendiri. Secepat apapun, sebanyak apapun jalan pintas yang seorang tempuh selain pasti membuat dia salah jalan, itu juga pasti tidak akan pernah membuat dia mencapai ujungnya ilmu, karena ilmu ini lautan tak bertepi yang dalamnya tidak terdeteksi.

Categories
Adab dan Akhlak

Jangan Mengganggu Kaum Muslimin

Agama islam sempurna dari segala sisi. Allah ta’ala berfirman: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (Al-Maidah:3)

Allah dan Rasul-Nya sebagai pembuat syariat tidak meninggalkan sedikitpun kecuali sudah diberikan tuntunannya. Abu Dzar Al Ghifari menyebutkan: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kami (wafat), dan tidaklah seekor burung yang terbang membalik-balikkan kedua sayapnya di udara melainkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan ilmunya kepada kami.”

Berkata Abu Dzar Radhiyallahu anhu, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Tidaklah tertinggal sesuatu pun yang mendekatkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka melainkan telah dijelaskan semuanya kepada kalian.” (HR Thabrani & Ibnu Hibban, dishahihkan Al-Albani)

Termasuk dari bukti sempurnanya petunjuk agama adalah hadits Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam:
“Tidak boleh berbuat madharat dan hal yang menimbulkan madharat”. (HR. Ibnu Majah, Ahmad, Malik).

Sehingga tidak halal muslim membahayakan saudaranya yang muslim dengan ucapankah, perbuatankah, atau dia jadi sebab suatu bahaya entah dia mendapat manfaat atau tidak. Hal ini wajib untuk semua muslim berlaku umum pada semua keadaan, terlebih pihak yang punya hak secara khusus seperti saudara, tetangga, sahabat, dan seterusnya.

Maka haram mengganggu tetangga, meskipun dia mengganggu tetangga dari tanah atau rumah yang dia miliki, seperti menggeber motor kencang, menyetel radio atau televisi dengan suara kencang, dan lainnya. Demikian dilarang menutup jalan dengan jendela yang mepet ke jalanan, atau meletakkan penghalang jalan atau meletakkan kayu, batu, membuat lubang di jalanan, di pasar kecuali jika ada manfaat umum.

Abu Dawud mengeluarkan hadits yang shahih “Barangsiapa menimpakan madharat (keburukan) kepada orang lain maka Allah akan menimpakan madharat kepadanya” (Hadits nomor 3635 dari sahabat Malik bin Qois, dihasankan Al-Albani.

Riwayat Yang Datang Mengandung Lafaz “Mencegah Gangguan”

  • [Abu Sa’id AL Khudriy radliallahu ‘anhuma] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian duduk duduk di pinggir jalan”. Mereka bertanya: “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama“. Beliau bersabda: “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut“. Mereka bertanya: “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab: “Menundukkan pandangan, menyingkirkan halangan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahiy munkar” (Hadits Muttafaq ‘Alaih, Abu Dawud, Ahmad. Ini Redaksi Bukhari).
  • Pada riwayat Muslim dengan redaksi: para sahabat menjawab; ‘Apakah hak jalanan itu? ‘ Sabda beliau: ‘menjaga pandangan, menyingkirkan sesuatu yang berbahaya, menjawab salam (orang yang lewat), mengerjakan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar
  • Pada riwayat abu Dawud ada tambahan: dari [Ibnu Hujair Al Adawi] ia berkata, “Aku mendengar [Umar Ibnul Khaththab], dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kisah tersebut. Beliau bersabda: “Memberi pertolongan orang yang teraniaya dan memberi petunjuk orang yang tersesat.”

Dari satu contoh hadits yang mulia di atas penulis bisa menangkap

  1. Betapa besar perhatian Rasulullah agar terpenuhi hak pejalan kaki.
  2. Betapa Rasulullah bersungguh-sungguh agar umatnya tidak merugikan orang lain di mana pun bahkan di jalan.
  3. Lembutnya rasulullah menjawab pertanyaan sahabat dan juga dengan jawaban yang rinci detail.
  4. Menunjukkan bahwa islam syariat yang sempurna, hak pejalan kaki pun diperhatikan oleh syariat.
  5. Menunjukkan semangat sahabat untuk mendapatkan petunjuk.
  6. Menunjukkan besarnya hak pejalan kaki.
  7. Menunjukkan bahwa harus menjaga pandangan terlebih kepada orang yang sedang di luar rumah, mungkin angin kencang bertiup, atau baju yang basah karena terkena hujan, dan kewaspadaan musafir yang menurun karena letih sehingga orang yang duduk-duduk di jalan harus lebih sungguh-sungguh menahan pandangan dan tidak memanfaatkan kealpaan musafir.

Mengutip (https://ibnumajjah.com/2015/12/04/hak-hak-jalan/ penulis belum periksa ke sumber asli) beberapa poin adab-adab atau hak-hak jalan dari Ibnu Hajar:

  • Berkata yang baik. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Thalhah Radhiyallahu ‘anhu.
  • Memberi petunjuk jalan kepada musafir dan menjawab orang yang bersin jika dia bertahmid sebagaimana terkandung dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu.
  • Menolong orang yang kesusahan dan menunjukkan jalan bagi orang yang tersesat, sebagaimana tertuang dalam hadits Umar Radhiyallahu ‘anhu dalam riwayat Abu Dawud , demikian juga dalam Mursal Yahya bin Ya’mur dan dalam riwayat al Bazzar.
  • Menolong orang yang terzhalimi dan menebarkan salam, seperti dijelaskan dalam hadits al Barra’ Radhiyallahu ‘anhu dalam riwayat Ahmad dan At Tirmidzi.
  • Membantu orang yang membawa beban berat, sebagaimana tertuang dalam hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma dalam riwayat al Bazzar.
  • Banyak berdzikir kepada Allah, sebagaimana teriwayatkan dalam hadits Sahl bin Hanif Radhiyallahu ‘anhu dalam riwayat ath Thabarani.
  • Membimbing orang yang bingung, seperti yang terpaparkan dalam hadits Wahsyi bin Harb Radhiyallahu ‘anhu dalam riwayat Ath Thabarani.

Wallahu a’lam.

Penulis Magang Di Pesantren untuk Buletin Jum’at DKM Nurul Hidayah, Perumahan Reni Jaya, Depok.

Referensi: Syarah ibn Utsaimin ‘ala Al Qowaid wal Ushul Al Jamiah lis Si’di.

Categories
Adab dan Akhlak Aqidah Qolbu

Sebab-Sebab yang bisa membantu meluruskan niat

المجيب عبد العزيز بن عبد الله الحسين

Yang menjawab: Abdulaziz bin Abdillah Al Hasan

التاريخ 20/09/1426هـ

Tanggal: 20 Ramadhan 1426H.

السؤال

Pertanyaan;

أريد أن أعلم ما إذا كنت مخلصاً في نيتي أم لا، وإذا لم أكن مخلصاً فكيف أصحح نيتي؟.

Aku ingin mengetahui bagaimana Aku sudah ikhlas dalam niatku atau tidak, dan jika aku tidak ikhlas bagaimana Aku meluruskannya?

الجواب

Jawab:

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وبعد:
فنشكرك أيها الأخ المبارك على تواصلك معنا، ونسأل الله أن يرزقنا وإياك العلم النافع والعمل الصالح.


من علامة الخير أن يوفق المرء إلى تكميل جوانب النقص في نفسه، وأن يسعى في مدراج الكمال، وحرصك -أيها الأخ الكريم- على هذا الأمر نابع من شعورك بإجلال الله وحده، وإرادته بالعمل دون سواه.

Termasuk dari tanda kebaikan adalah seseorang diberikan taufik (pertolongan, pent) untuk menyempurnakan sisi kekurangan dirinya, dan dia berjalan di jalan-jalan kesempurnaan. Dan tamaknya engkau —wahai saudara yang mulia— dalam masalah ini sungguh keluar dari mata air kesadaran engkau untuk memuliakan Allah dan keinginan kesadaran tersebut untuk beramal tidak kepada selain-Nya

وموضوع النيات هو أساس قبول الأعمال أو ردها، وهو أساس الفوز أو الخسران، فهو طريق الجنة أو النار، ولذا كان السلف يولون هذا الأمر جل همهم، حتى قال سفيان الثوري -رحمه الله- (ما عالجت شيئاً أشد من نيتي فإنها تتقلب عليّ) ، وقال آخر: (تخليص النية من فسادها أشد على العاملين من طول الاجتهاد) .

Masalah niat ini adalah pondamen dari diterimanya amal atau ditolaknya, dan juga pondamen kesuksesan atau kerugian. Dan juga ia jalannya surga atau neraka. Dan karena keistimewaan niat, maka pendahulu kita senantiasa mengawalkan persoalan ini pada perhatian/cita-cita terbesar mereka. Sampai-sampai Sufyan Ats Tsauri -semoga Allah merahmatinya- berkata:
Tidaklah saya mengobati sesuatu yang lebih sulit sukar dari niat, dia sungguh senantiasa berbolak-balik“.

Dan yang lainnya berkata: “Membersihkan niat dari unsur rusaknya adalah hal paling sulit bagi orang yang senantiasa beramal dibandingkan dengan ia harus tekun berketerusan.

أيها الأخ المبارك: يعرف المرء من نفسه الإخلاص من عدمه بأمور، أبرزها:

Wahai saudaraku yang mulia, seseorang bisa mengetahui di dalam jiwanya ada / terdapat keikhlasan dengan beberapa perkara:

(1) المخلص لا ينسب ما هو فيه من فضل وخير ونعم إلى نفسه، بل يرجع الفضل إلى الله ولا تهمه مقاييس البشر: “إنما نطعمكم لوجه الله لا نريد منكم جزاءً ولا شكوراً” [الإنسان:9] .

  1. Orang yang punya keihklasan tidak menisbatkan kepada dirinya apa saja yang dia ada di dalamnya berupa keistimewaan, kebaikan, atau nikmat. Akan tetapi dia mengembalikan keutamaan/keistimewaan hanya kepada Allah dan dia tidak mempedulikan pendapat orang: “Hanyasaja kami memberi makan kalian hanya mengharap wajah Allah, kami tidak menginginkan dari kalian upah dan tidak juga ucapan terimakasih” (Al-Insan:9).

(2) إذا قام بالعمل على الوجه المناسب يستوي عنده المدح والذم من الناس، وذلك لأنه ينتظر ثواب الله ورضاه: “وما لأحد عنده من نعمة تجزى إلا ابتغاء وجه ربه الأعلى” [الليل:19-20] .

2. Jika dia melakukan amalan dengan cara yang benar, maka sama saja pujian atau celaan manusia. Hal itu karena dia mengharapkan pahala Allah dan keridhoan-Nya. “(19) padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya,( 20 )   tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi” Al-Lail 19-20.

(3) ستر العمل عن أعين الناس، خصوصاً في الجوانب التي ليس لهم فيها متعلق.

3. Menutupi amalannya dari penglihatan orang. Terkhusus pada sisi-sisi yang amal itu tidak berkaitan dengan orang lain.


(4) الشعور بالتقصير في حق الله مع القيام بالعمل على أكمل وجه.

4. Selalu menyadari dia lalai dalam memenuhi hak Allah dalam keadaan dia selalu menunaikan kewajiban beramal dengan cara yang paling sempurna.

أيها الأخ المبارك: أما كيفية تصحيح النية فيحصل بأمور، من أهمها:

Wahai saudaraku yang mulia, adapun cara meluruskan niat maka bisa digapai dengan beberapa perkara. Beberapa yang paling penting:


1- أن تستشعر أنه لا راحة للقلب ولا طمأنينة ولا حياة إلا بالإخلاص لله، فإن هذا الشعور يورث في القلب تجديد النية في كل حين. قال شيخ الإسلام ابن تيمية -رحمه الله-: وإذا لم يكن العبد مخلصاً لله استعبدته الكائنات، واستولت على قلبه الشياطين. أ. هـ بتصرف.

  1. Hendaknya dia merasa bahwa tidak ada kelegaan untuk hati, tiada ketenangan, dan tiada kehidupan kecuali HANYA dengan memurnikan amalan untuk Allah. Maka sesungguhnya, kesadaran ini akan mewariskan hati selalu memperbarui niat di setiap keadaannya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -semoga Allah merahmatinya- berkata: “Jika seorang hamba tidak memurnikan untuk Allah, maka ia akan diperbudak oleh makhluk. Dan setan-setan akan mengkudeta penguasaan hatinya“.

2- أن يسأل المرء نفسه عند قيامه بكل عمل: هل هو لله أم أراد به محمدة الناس وثناءهم عليه، فإن كان لله تقدم، وإن كان لغيره تأخر، ولا يقبل الله من العمل إلا ما كان خالصاً وأريد به وجهه.

2. Hendaknya bertanya ke dirinya setiap menunaikan amalan: “Apakah amalan ini hanya untuk Allah ataukah mengharapkan dengan amalan ini pujian dan suatu yang dipujikan manusia? Maka jika itu untuk Allah maka maju kerjakan! Tetapi jika untuk selain Allah, maka tunda! Dan Allah tidak akan menerima amalan kecuali itu murni untuk-Nya dan yang mengharapkan wajah Allah”.


3- شعورك أن الله مطلع على ما في قلبك، وما يمر في خاطرك يدفعك إلى تصحيح النية، وهذه من سمات صفوة الخلق، كما جاء في حديث جبريل عليه السلام: “الإحسان: أن تعبد الله كأنك تراه، فإن لم تكن تراه فإنه يراك”. أخرجه البخاري (50) ، ومسلم (9) .

Kesadaran engkau bahwa Allah mengawasi apa yang di hatimu, apa yang lewat di benakmu maka akan mendorong engkau untuk meluruskan niat. Ini adalah termasuk dari tanda akhlak yang terpuji. Sebagaimana datang (ttg ini) di Hadits Jibril ‘alaihi as-salam: “Al-Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak bisa melihat-Nya ketahuilah bahwa Ia melihatmu“. HR Bukhari (50), Muslim (9).

4- الدعاء: وقد جاء في الحديث الثابت أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: “أيها الناس اتقوا هذا الشرك، فإنه أخفى من دبيب النمل “فقيل له: وكيف نتقيه وهو أخفى من دبيب النمل يا رسول الله؟ قال: قولوا: “اللهم إنا نعوذ بك من أن نشرك بك شيئاً نعلمه، ونستغفرك لما لا نعلم” رواه أحمد (19606) وصححه الألباني.
وكان عمر -رضي الله عنه- يقول في دعائه: “اللهم اجعل عملي كله صالحاً، واجعله لوجهك خالصاً، ولا تجعل لأحدٍ فيه شيئاً”.

4. Berdoa. Sudah datang di hadits yang kuat bahwa Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai segenap manusia, berlindunglah dari syirik ini. Karena, sungguh, ia lebih tersembunyi dari langkah semut” Lalu ada yang bertanya: “Lalu bagaimana kami menjauhi ia padahal ia lebih tersembunyi dari langkah semut Ya Rasulullah?”. Nabi bersabda: “Ucapkanlah: ” اللهم إنا نعوذ بك من أن نشرك بك شيئاً نعلمه، ونستغفرك لما لا نعلم “. HR Ahmad (19606)

Dan Umar Radhiyallahu ‘anhu selalu mengucapkan: ”
اللهم اجعل عملي كله صالحاً، واجعله لوجهك خالصاً، ولا تجعل لأحدٍ فيه شيئا
Arti: “Ya Allah, jadikanlah semua amalanku -semuanya- solih, dan jadikan ia hanya mengharap wajah-Mu dengan murni, dan janganlah engkau jadikan di amalan tersebut untuk selain-Mu

وصلى الله على نبينا محمد وآله وسلم.

Categories
Adab dan Akhlak

Pentingnya Adab (copas)

Pentingnya Adab

Suatu ketika Imam Yahya bin al-Qaththan, setelah melaksanakan shalat ashar, bersandar di bawah menara masjid beliau. Di sekitar beliau ada Ali bin al-Madini, asy-Syadzakuni, Amru bin Ali, Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Main serta ulama lainnya yang ingin berguru kepada beliau. Mereka berdiri hingga menjelang shalat magrib.

Saat itu Imam Yahya bin al-Qaththan tidak meminta mereka untuk duduk. Karena itu mereka pun enggan untuk duduk dalam rangka menghormati guru (Al-Jami’ al-Akhlaq ar-Rawi wa Adab as-Sami’, hlm. 78).

Demikianlah cara ulama terdahulu menghormati guru mereka. Mereka tetap memilih berdiri meski dalam waktu yang cukup lama, sebelum sang guru mempersilakan mereka duduk.

Di lain waktu, Imam al-Fara’—seorang ulama Kufah yang paling pandai dalam ilmu nahwu dan sastra—diminta oleh Khalifah Makmun untuk mengajarkan ilmu nahwu untuk kedua putranya. Ketika beliau selesai mengajar dan beranjak untuk pergi, kedua anak Khalifah itu berebut untuk membawakan sandal Imam al-Fara’ sebagai bentuk penghormatan mereka kepada sang guru. Mengetahui hal itu, Imam al-Fara’ akhirnya meminta kepada kedua anak itu masing-masing membawa satu sandal hingga keduanya sama-sama menyerahkan sandal kepada beliau (Wafayat al-A’yan, 2/228).

Tidak hanya murid terhadap guru, adab juga acapkali ditunjukkan oleh ulama kepada ulama lainnya. Di antaranya Imam Syafii. Sebagaimana diketahui, Imam Syafii berpendapat tentang keharusan membaca doa qunut dalam shalat subuh. Namun, Imam Syafii—seorang ulama besar sekaligus imam mujtahid—pernah beberapa kali melaksanakan shalat subuh di dekat makam Imam Abu Hanifah. Saat itu ia memilih tidak melaksanakan qunut subuh dalam rangka menjaga adab terhadap Imam Abu Hanifah yang berpendapat bahwa qunut subuh tidak disyariatkan (Ad-Dahlawi, Al-Inshaf fi Bayan Asbab al-Ikhtilaf, hlm. 110).

Demikianlah, betapa para ulama besar di zaman terdahulu amat hormat kepada ulama lainnya, meski berbeda pendapat. Bahkan terhadap ulama yang sudah wafat pun adab itu tetap dijaga.

Adab yang sama ditunjukkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Selama ini beliau berpendapat mengenai keharusan membaca basmalah (saat membaca surat al-Fatihah) secara sirr (pelan dan hanya diri sendiri yang mendengar) dalam salat. Namun, di wilayah tertentu beliau berpendapat, “Dibaca jahr (dengan suara jelas yang bisa didengar oleh orang lain) basmalah jika berada di Madinah.”

Ibnu Taimiyah menyimpulkan bahwa Imam Ahmad kadang-kadang meninggalkan beberapa perkara sunnah demi alasan persatuan dan menghindari perpecahan. Alasannya, menyatukan hati umat lebih agung dalam agama dibandingkan dengan beberapa perkara sunnah (Risalah al-Ulfah bayna al-Muslimin, hlm. 47 dan 48)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Qadhi Abu Utsman al-Baghdadi, meskipun termasuk ulama besar dan hakim mazhab al-Maliki, sering mengunjungi Imam ath-Thahawi yang bermazhab Hanafi untuk menyimak karya-karya beliau (Al-Maqalat al-Kautsari, hlm. 348).

Adab juga ditunjukkan oleh para ulama terhadap ilmu. Suatu saat, Imam al-Hulwani—ulama pengikut mazhab Hanafi yang menjadi imam besar di Bukhara—pernah menyampai-kan, “Sesungguhnya aku memperoleh ilmu ini dengan memuliakannya dan aku tidak mengam-bil catatan ilmu kecuali dalam keadaan suci.”

Hal ini diikuti oleh murid beliau yang juga seorang ulama besar, yakni Imam Syamsuddin as-Sirakhsi. Suatu saat beliau mengulang wudhu pada malam hari hingga 17 kali karena sakit perut. Hal itu beliau lakukan agar bisa menelaah ilmu dalam keadaan suci (Mukhatsar al-Fawaid al-Makkiyah, hlm. 30).

Adab dan penghargaan para ulama terhadap ilmu juga ditunjukkan oleh Al-Hafizh Muhammad bin Abdissalam al-Bilkandi, salah seorang guru Imam al-Bukhari. Suatu saat beliau menghadiri majelis imla‘ hadits. Saat Syaikh di majelis tersebut mendiktekan hadits, tiba-tiba pena al-Bikandi patah. Khawatir kehilangan kesempatan untuk mencatat, beliau akhirnya mencari cara agar segera memperoleh pena. Tak lama kemudian beliau berteriak, “Saya mau beli pena dengan harga satu dinar!” Seketika, banyak pena disodorkan kepada beliau (Umdah al-Qari, 1/165).

Kini, satu dinar emas, kalau dikurskan ke rupiah kurang lebih senilai Rp 2 juta. Demikianlah Imam al-Bikandi. Ia rela kehilangan uang sebesar itu hanya agar beliau tetap berkesempatan mencatat hadis. Itu ia lakukan tentu karena penghormatan dan penghargaannya yang luar biasa terhadap ilmu.

Adab juga ditunjukkan oleh penguasa terhadap ulama. Imam ar-Rafii suatu saat mengunjungi Sultan Khawarzmi Syah setelah tiba dari medan pertempuran. Ulama tarjih mazhab Syafii tersebut menyampaikan, “Saya telah mendengar bahwa Anda memerangi orang-orang kafir dengan tangan Anda sendiri. Saya ke sini untuk mencium tangan Anda itu.” Namun, Khawarizmi Syah menjawab, “Saya justru yang yang ingin mencium tangan Anda.” Akhirnya, Khawarizmi mencium tangan Imam ar-Rafii (Thabaqat asy-Syafi’iyah al-Kubra, VIII/284).

Karena begitu berharganya akhlak atau adab para ulama, ada sebuah kisah menarik terkait seorang ulama besar bernama Ibn al-Mubarak. Saat itu ia bertetangga dengan seorang Yahudi. Si Yahudi berencana menjual rumahnya. Datanglah seseorang yang menawar rumahnya, “Engkau menjual dengan harga berapa?” Si Yahudi menjawab, “Dua ribu.” Si penanya berkata, “Harga rumahmu ini paling mahal seribu.” Si Yahudi menjawab, “Memang benar, tetapi yang seribu lagi untuk ‘harga’ tetanggaku, Ibnu Mubarak.” (Al-Makarim wa al-Mafakhir, hlm. 23)

Demikianlah, memiliki tetangga baik, berakhlak dan beradab seperti Ibnu Mubarak merupakan sebuah ‘harta’ yang amat mahal bagi si Yahudi. Karena itu, ia menilai tidak hanya rumahnya yang berharga, tetangganya yang baik juga memiliki harga tersendiri.

****

Mengapa begitu mulia akhlak atau adab para ulama dan para salafush-shalih dulu? Kata-kata Imam Ibn Qasim, salah satu murid senior Imam Malik, barangkali bisa menjelaskan hal ini saat ia berkata, “Aku telah mengabdi kepada Imam Malik bin Anas selama 20 tahun. Selama itu 18 tahun aku mempelajari adab (akhlak) dari beliau, sedangkan sisanya 2 tahun untuk belajar ilmu.” (Tanbih al-Mughtarrin, hlm. 12).

Bagaimana dengan kita?

* Di-co-pas dari tulisan Arief B. Iskandar (2/2/2019)

Categories
Adab dan Akhlak Bahrur Roiq

Obat Riya dan Cara Menyembuhkan Hati Darinya

Kita mengetahui bahwa riya adalah penghancur amalan sholeh. Dan sebab kebinasaan bagi pemimpin, pembesar, pejabat tinggi, dan pemegang tampuk pimpinan. Riya juga termasuk dari dosa-dosa besar yang mem-BINASA-kan. Dan yang seperti ini pensifatannya maka sangat layak untuk kita bergegas menggiring kesungguhan dalam rangka mengenyahkannya. Untuk menghilangkannya ada beberapa cara yang baik:

  • Memotong pokok, pangkal, asal dan akarnya, yaitu kecintaan menikmati pujian manusia, menyelamatkan diri dari pedihnya dicela manusia (seperti orang minder berprasangka kalau saya tidak kelihatan melakukan ibadah nanti akan distigma sebagai orang rusak, dst), dan tamak rakus pada apa-apa yang ada di tangan manusia. Karena tiga hal itulah yang menggerakan pelaku riya kepada riya-nya. Sehingga pengobatannya adalah hendaknya dia tahu bahaya, kerugian, dan kesengsaraan dari riya dan hal-hal yang luput terkait perbaikan hatinya dan apa-apa yang dia diharamkan pada saat itu berupa taufik dan terluputkannya perkara-perkara akhirat mulai dari kedudukan di sisi Allah ta’ala, dan hukuman yang harus ia hadapi, dan kebencian yang teramat sangat, dan kerendahan kehinaan yang sangat nampak. Bilamana, Kapan saja seorang hamba memikirkan dampak kehinaan tersebut dan dia bandingkan dengan apa yang mungkin dia capai dari upaya dia memperhamba dirinya ke orang laindan menghias-hiasi ibadah untuk orang lain dan ditukar dengan banyak hal yang tidak bisa dia raih di akhirat, dan gugurnya ganjaran amal baik, niscaya mudah untuknya memutus keinginan dari riya. Sebagaimana permisalan orang yang mengetahui bahwa madu sangat nikmat, akan tetapi ketika dia sadar adanya racun dicampurkan ke madu tersebut niscaya ia akan meninggalkan madu tersebut.
  • Cara kedua, menolak dan melawan riya ketika sedang ibadah. Perkara ini juga suatu keharusan untuk mempelajarinya. Karena siapa yang mencurahkan segala kemampuan dirinya dengan menebang tempat ditumbuhkannya riya, dan memutus kerakusan dan memandang rendah pujiannya manusia dan tercelanya itu maka sungguh setan tidak meninggalkan dia di tengah-tengah ibadahnya, bahkan akan terus memunculkan dalam pikirannya lintasan-lintasan riya, kemudian setelah terlintas di benaknya akan perhatian makhluk, maka orang ini akan berusaha mencegah pikiran dan hembusan setan tadi dengan berkata: “Memangnya ada urusan apa Kamu dengan makhluk lain? Entah mereka tahu ataupun tidak, akan tetapi pasti Allah Maha Mengetahui keadaan Kamu. Apa manfaatnya orang lain tahu?” Dan jika semakin bangkit keinginan dalam dada untuk merasakan pujian manusia, maka ingatlah apa yang tertancap kuat di hatinya dari arah penyakit-penyakitnya riya dan bagaimana riya akan menyeret kepada kemurkaan Allah dan kerugian dahsyat di akhirat.

Terjemah Al-Bahrur Roiq fiz Fuhdi war Roqoiq li Dr. Ahmad Farid.

Categories
Adab dan Akhlak Bahrur Roiq

Penjelasan Riya Yang Samar (Riya Khofiy)

Riya itu bisa dibagi dua, (1) Jaliy  – jelas/terang-terangan dan (2) Khofiy -tersembunyi. Adapun riya jaliy adalah riya yang dimunculkan di atas suatu amalan dan orang tersebut beribadah betul-betul karena riya saja. Kalaulah ia mengharapkan pahala akan tetapi ia (di atas niat) menampakkan ibadah tersebut (ke orang lain).

Adapun riya khofi, ia melakukan ibadah tanpa niat riya, bahkan dia menyembunyikan amalan tsb, dia harapkan wajah Allah dengannya, seperti orang yang biasa sholat tahajud setiap malam meskipun ada rasa berat. Tapi jika ada tamu bermalam di rumahnya, tiba-tiba dia menjadi giat dan terasa ringan sholat tahajudnya.

Dan juga termasuk dari riya khofiy seperti seorang hamba yang menyembunyikan amalan ketaatannya, akan tetapi bersamaan dengan itu jika dia lihat orang lain tiba-tiba dia ingin agar mereka menghampirinya dengan wajah berseri-seri dan penuh pemuliaan, dan agar mereka memuji dia, dan agar mereka tangkas memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, agar mereka memberikan keringanan kepadanya dalam transaksi jual beli, dan agar mereka meluaskan tempat untuknya maka apabila tempatnya sempit beratlah hati menerima keadaan tersebut.

Dan senantiasa orang-orang yang memurnikan ibadahnya kepada Allah mereka dalam keadaan takut dari riya yang khofiy ini, berusaha keras menyembunyikan ketaatan mereka, lebih kuat usaha ini dibanding orang-orang menyembunyikan perbuatan jelek nan keji.

Itu semua dilakukan dengan dasar mengharap agar amal sholih mereka benar-benar murni, sehingga Allah akan memberikan ganjaran balasan kepada mereka di hari kiamat disebabkan keikhlasan mereka. Disebabkan mereka tahu bahwasanya tidaklah diterima pada hari kiamat kecuali amalan yang ikhlas murni tidak bercampur kesyirikan apapun, dan mereka mengetahui akan sangat butuhnya dan fakirnya mereka nanti di hari kiamat.

*Al-Bahrur Roiq fiz Zuhdi war Roqoiq li Dr. Ahmad Farid.

Categories
Adab dan Akhlak Bahrur Roiq Qolbu

Beberapa Tujuan Manusia Melakukan Riya

Orang yang melakukan riya pasti memiliki tujuan, dan mayoritasnya terbataskan untuk menggapai suatu keadaan tertentu, atau kedudukan, atau tujuan lain yang semuanya memiliki derajat tingkatan berbeda.

Hal paling besar bahayanya dari tujuan mereka riya adalah untuk melanggengkan maksiat, seperti orang yang riya dengan ibadahnya demi dilihat sebagai orang yang bertakwa dan waro’, atau agar diidentifikasi sebagai orang yang amanah sehingga diberikan tanggungjawab tertentu, atau diberikan bagian dari harta. Maka golongan ini adalah yang paling besar kemurkaannya di sisi Allah. Karena mereka menjadikan ketaatan ke robbnya sebagai anak tangga untuk menggapai kemaksiatan mereka.

Yang kedua, tujuan mereka untuk meraih perbendaharaan dunia berupa harta, atau nikah, seperti orang yang memamerkan ilmu dan ibadah agar seseorang senang untuk menikahinya atau memberikan harta ke Ia. Hal ini adalah riya yang dilarang. Karena dia meminta perbendaharaan dunia dengan jalan ketaatan kepada Allah. Namun ini masih lebih ringan dari golongan yang pertama.

Yang ketiga, dia tidak memaksudkan perbendaharaan dunia, mendapatkan harta atau pernikahan, akan tetapi dia memamerkan ibadahnya dengan alasan takut orang meremehkan dia atau tidak dimasukkan ke golongan orang sangat khusus dan sangat zuhud sehingga cuma dinilai sebagai orang umum / kebanyakan.

  • Terjemah Al-Bahrur Roiq fiz Zuhdi war Roqoid li Dr. Ahmad Farid.