Categories
Uncategorized

Hello world!

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!

Categories
Adab dan Akhlak Aqidah Fiqih Pesantren

Permisalan Pohon Keimanan

Seringkali ketakwaan keimanan keislaman bahkan orang yang beriman kepada Allah di per misalkan dengan pohon. Contoh yang paling jelas adalah firman Allah ayatnya yang agung kalimat-kalimat yang tidak ada kedustaan sedikitpun di dalamnya nya Allah berfirman:

ضرب الله مثلا كلمة طيبة كشجرة طيبة أصلها ثابت وفرعها في السماء

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. (Q.S. Ibrohim:24)

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam pernah juga pada satu kesempatan bersama para sahabatnya beliau shallallahu alaihi wasallam bertanya melemparkan pertanyaan kepada mereka dengan permisalan pohon.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ فَحَدِّثُونِي مَا هِيَ فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي قَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ فَاسْتَحْيَيْتُ ثُمَّ قَالُوا حَدِّثْنَا مَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هِيَ النَّخْلَةُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya ada di antara pepohonan, satu pohon yang tidak gugur daunnya. Pohon ini seperti seorang muslim, maka sebutkanlah kepadaku apa pohon tersebut?” Lalu orang menerka-nerka pepohonan wadhi. Abdullah Berkata: “Lalu terbesit dalam diriku, pohon itu adalah pohon kurma, namun aku malu mengungkapkannya.” Kemudian mereka berkata: “Wahai Rasulullah beri tahukanlah kami pohon apa itu?” Lalu beliau menjawab: “ia adalah pohon kurma.”

Berikut ini adalah pembahasan Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Si’di rohimahullah dari kitab yang beliau tulis “Bahjatu Quluubil Abror wa Qurrotu Uyuunil Akhyaar”. Yang di dalamnya beliau menyebutkan permisalan keimanan dengan pohon, apa makanan dan minumnya, apa yang membuat dia tumbuh besar, apa yang membuat dia kebal dari hama.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: الصلوات الخمس والجمعة إلى الجمعة ورمضان إلى رمضان مكفرات لما بينهن ما اجتنبت الكبائر (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah -radhiallahu ‘Anhu- berkata Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda salat lima waktu dan salat Jum’at ke Jum’at selanjutnya dan puasa romadhon dan ramadhan selanjutnya, menggugurkan dosa-dosa yang terjadi di antara keduanya selama tidak melakukan dosa besar.

Syaikh As-Si’di rohimahullah memberikan penjelasan sangat indah… Simaklah…

Hadits ini menunjukkan kepada sangat besarnya keutamaan yang Allah miliki dan sangat pemurah nya Allah dengan memberikan kelebihan-kelebihan untuk ketiga ibadah yang disebutkan di hadits dan bahwasanya tiga ibadah yang disebutkan tersebut bagi mereka di sisi Allah ada kedudukan yang sangat tinggi dan juga buah yang dihasilkan dari amalan tersebut tidak mungkin bisa dihitung dan diperkirakan banyaknya.

Maka yang termasuk dari buah amalan tersebut adalah bahwasannya Allah menjadikan tiga ibadah tersebut yang disebutkan di hadits adalah sebagai (1) penyempurnaan bagi agama seorang hamba dan keislamannya dia. (2) Kemudian bahwasanya tiga amalan tersebut menjadi hal yang menumbuhkan keimanan dan (3) memberikan minum bagi pohon keimanan, karena sesungguhnya (4) Allah menumbuhkan pohon keimanan di hati hatinya orang beriman yang (5) besar pohon tersebut tergantung dengan kadar keimanan mereka. Dan Allah juga mentakdirkan dengan sifat Maha Lembutnya Allah, dan juga dari keutamaan –fadhl- yang Allah yang tidak bisa dihitung, Allah telah menetapkan / mentakdirkan kewajiban-kewajiban dan ibadah yang sunnah bagi hamba-Nya yang (6) dengan hamba itu melakukan kewajiban dan sunah tadi maka akan memberikan air, mengairi, memberikan irigasi untuk pohon keimanan di dalam hatinya dan (7) dengannya pohon itu menjadi semakin besar dan menjadi sehat (8) bisa menolak berbagai penyakit sehingga semakin menjadi sempurnalah pohon tersebut dan (9) di kemudian hari memberikan buah-buahan, panenan dari pohon keimanan tersebut setiap waktu, tentunya dengan izin yang menguasainya. dan Allah menjadikan dari melakukan kewajiban-kewajiban dan sunah sunah itu (10) akan mencegah atau meniadakan dari pohon-pohon itu penyakit apapun.

Dosa-dosa itu bahayanya sangatlah besar dan dosa itu dia bisa mengikis keimanan dan ini hal yang sudah diketahui.

Kewajiban-kewajiban yang tiga ini (yakni: (1) sholat lima waktu, (2) jumat, (3) ramadhan) jika seorang hamba menguranginya dengan menjauhi dosa-dosa yang besar maka Allah pasti akan ampuni dosa-dosa kecil hamba itu dan kesalahan-kesalahan yang pernah dia perbuat, dengan sebab melakukan tiga kewajiban tadi dan bahkan tiga amalan yang itu adalah salah satu dari perkara yang paling besar yang masuk ke dalam firman Allah ta’ala

إن الحسناتِ يذهبْن السيئاتِ (هود:١١٤)

Arti: Sesungguhnya perbuatan baik akan menghapus perbuatan jelek. (Q.S. Hud-114)

Hal yang semisal dengan itu sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan -dengan sifat Allah yang Maha Lembut- bahwasanya (seorang hamba) dia menjauhi dosa-dosa yang besar, maka itu menjadi sebab dari digugurkannya dosa-dosa yang kecil. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إن تجتنبواْ كبآئر ما تنهون عنه نكفر عنكم سيئاتكم وندخلكم مدخلًا كريمًا (النساء:٣١).

Adapun untuk dosa besar, maka tidak bisa tidak, pelakunya harus bertaubat agar diampuni. (Q.S. An-Nisaa:31)

Bisa diilmui dari hadis ini bahwasanya (1) semua nash yang didalamnya terdapat penjelasan akan amalan sholeh itumenghapuskan perbuatan-perbuatan jelek maka sesungguhnya yang dimaksudkan dari penghapusan amalan jelek itu cuma dosa kecil, karena ibadah-ibadah ini yang besar tadi jikalah dia tidak bisa menghapuskan dosa yang besar bagaimana pula dengan amalan sholeh lainnya yang kedudukannya di bawah tiga amalan di hadis itu.

Kemudian hadits ini secara terang jelas membagi dosa kepada dua pembagian yaitu (1) dosa-dosa besar dan (2) dosa-dosa kecil. Dan kita sudah tahu bahwa sangat banyak kalimat-kalimat dari ulama terkait apa perbedaan antara dosa kecil dengan dosa besar dan ucapan tersebut yang paling bagusnya adalah: bahwasanya dosa besar itu : (a) sesuatu yang berefek kepada hukuman di dunia atau (b) pelakunya diancam dengan hukuman di akhirat atau (c) pelaku dosa tersebut mendapat laknat atau perbuatan dosa tersebut berefek kepada murkanya Allah dan yang sejenisnya. Adapun dosa-dosa kecil adalah selain dari itu.

Atau bisa juga didefinisikan dosa-dosa besar adalah: dosa-dosa yang bentuk pengharamannya adalah pengharaman terhadap hal utama / hal inti (maqshud). Adapun dosa-dosa kecil adalah dosa yang diharamkan namun dengan bentuk pengharamannya itu terhadap perantara kepada dosa inti (washilah) yang sebelumnya. Dan wasilah itu seperti: (1) memandang kepada perempuan yang tidak boleh dilihat (2) atau bahkan ditambah dengan berduaan dengan perempuan asing yang bukan mahramnya. Adapun dosa besar itu contohnya (1) zina, ya perbuatan zina itu sendiri (bukan pendahuluan kepada sinarnya), atau seperti (2) riba fadhl ditambah riba nasi’ah dan dosa-dosa yang semisalnya.

Categories
Al Fushul Fi Siroti Rosul Siroh

Mu’adzinnya Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wasallam

Nabi Muhammad memiliki empat muadzin. Bilal bin Robah, (2) ‘Amr bin Ummi Maktum, ada yang menyebutkan bahwa namanya ‘Abdullah. Keduanya tinggal di Madinah, bergantian dalam azan. Kemudian (3) Sa’ad Al-Qurozhi di Quba , dan (4) Abu Mahdzuroh di Mekah. Rodhiyallahu ‘anhum.

Categories
Siroh

Mimpi yang benar, wahyu pertama kepada Nabi shollallahu alaihi wasallam

Mimpi Yang benar adalah seperti wahyu yang pertama turun kepada Nabi. Apakah makna mimpi yang benar itu? Berapa lama itu terjadinya? Apakah perbedaan mimpinya Nabi dengan mimpi kita?

Mimpi yang benar. Adalah berasal dari riwayat hadits ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha, beliau memulai dengan kalimat: “Yang paling pertama diperlihatkan kepada Rosulullah adalah bunga tidur yang baik. Awalnya beliau tidak melihat mimpi kecuali seperti fajar subuh yang menyingsing”. Dan di riwayat lain dari ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha bunga tidur tadi disifatkan dengan “yang benar

Di iktibar tadi ‘Aisyah memerikan bahwa awalmula wahyu adl tamsil akan “bunga tidur yang Rosulullah lihat di tidurnya”. Itu datang seperti fajar yang menyingsing. Artinya: “datang dgn terang jelas (tidak samar)”. Tidak ada pertentangan sama sekali akan apa yang dilihat. Ini adalah fase kehidupan yang dilewati Beliau sebelum bertemu Jibril di Gua Hira. Lama fase ini ada banyak pendapat. Paling banyaknya condong kepada enam (6) bulan. Terkait ini tidak dalil/petunjuk langsung. Tetapi perhitungan yg dikonstruksi dari hadits lain.

‘Aisyah berkata: “Yang pertama diperlihatkan kepada Rosulullah”. Maksud kata ini adalah “kabar berita yang sifatnya memprediksi” yang langsung terkait dengan wahyu. (arab : الإرهاصات “المباشرة” للوحي). Karena ada mimpi prediksi kenyataan lain di fase kehidupan Nabi, yang memaklumkan bahwa hidup Nabi tidak seperti manusia lainnya. Kejadian demi kejadian hidup Nabi banyak yang ajaib di luar kebiasaan anak Adam. Dan “mimpi prediksi kenyataan” itu menampakkan bahwa itu pasti akan terjadi di masa depan sebagaimana yang Nabi lihat.

Termasuk dari dari mimpi yang benar ini (yang terlihat kejadian di masa depan) -sebagai contoh- peristiwa “pembelahan dada”. Terjadi ketika beliau masih kanak-kanak di penyusuan Halimah. Peristiwa lainnya adalah batu yang memberi salam kepada beliau. Rosulullah bersabda : “Betul-betul aku bisa menunjukkan sebuah batu di Mekah yang dulu mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diberi wahyu. Sungguh aku tahu dia saat ini”. Dan juga sabda Rosulullah ke Khadijah : “Aku melihat binar cahaya, dan dengar bunyi, dan sekarang saya takut jikalah terjadi kelainan jiwa.” Lalu Khadijah menanggapi: “Tidak akan Allah melakukan itu kepadamu…wahai Abu ‘Abdillah…” Lalu ia datangi Waroqoh bin Naufal, ia ceritakan semua, berkatalah Waroqoh : “Bila cerita itu benar, sesungguhnya itu adalah Namus selayaknya Namus yang ditemui Musa. Andaikan beliau diberi wahyu (diutus sebagai Nabi) dan saya masih hidup, pasti aku akan membela beliau sekuat tenaga daya upaya, dan aku akan tolong beliau dan aku akan mengimani beliau”.

Kejadian ini merupakan tanda bahwa lelaki ini akan menerima perkara ajaib asing di masa depan di luar kelaziman manusia. Tapi, yang diinginkan dr ucapan ‘Aisyah: “hal pertama yang dinampakkan ke Rasulullah dari wahyu…” ini mulai masuk kepada aktivitas bersentuhan dengan wahyu. Dan bahwa: adanya mimpi yang benar/baik langsung bersentuhan dengan awalan turunnya Jibril ‘alaihis salam kepada Beliau. Sehingga mimpi yang benar ini dimasukkan ke dalam wahyu.

Keterkaitan antara mimpi yang benar dengan wahyu. Di sana ada keterkaitan yang tersambung langsung. Keduanya mengkabarkan peristiwa di masa depan. Dan mengkabarkan hal gaib. Oleh karena itu mimpi yang benar dikategorikan wahyu. Bahkan Rosulullah mengiktibar mimpi yang benar sebagai bagian dari kenabian. Mimpi di sini maksudnya mimpi yang umum, bukan yang diperlihatkan kepada para nabi saja. Rosulullah bersabda: “Wahai manusia , tidak ada yang tersisa dari berita gembira kenabian kecuali mimpi yang benar yang orang muslim melihatnya atau orang islam diperlihatkan itu”. Dan bersabda juga: “Penglihatan mimpi yang baik, dari lelaki yang shalih, adalah satu dari empat puluh enam (46) bentuk wahyu (arti: نُبٌوَّةٌ nubuwwah = (1) berita perkara gaib -lihat Mu’jam Al-Ghoniy)

Lama durasi periode mimpi yang benar ini. Poin ini hal yang para ulama sebutkan dengan enam bulan. Beliau shollallahu alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya , mimpi yang benar ini salah satu kepingan dari 46 kepingan nubuwwah. Lama periode kenabian adalah 23 tahun. Maka 1/46 dari 23 tahun adalah 6 bulan. Sehingga yang nampak awal-awal adanya mimpi ini adalah pada bulan Rabi’ul Awwal sebelum Beliau –shollallahu alaihi wasallam- bertemu Jibril di bulan Ramadhan di tahun yang sama.

Namun ada pendapat lain sebagaimana disebutkan oleh Al-Ustadz Ahmad Sabiq hafizhohullah bahwa mimpi yang benar ini berlangsung kira-kira ketika Nabi memasuki umur 37 tahun sampai turun wahyu di gua Hira.

Beda antara mimpi kita dengan mimpi nabi. Akan tetapi harus diingat bahwa mimpi Rosulullah berbeda dari mimpi kita dalam dua aspek:

Aspek pertama, SEMUA mimpi Rosulullah adalah benar. Tidak ada unsur yang kita sebut dengan “mimpi sia-sia” ( أضغاث الأحلام ). ‘Abdullah bin ‘Abbas berkata: “Mimpinya nabi adalah wahyu”.

Aspek kedua, SEMUA mimpi Rosulullah “jelas maksud maknanya”, atau sepertimana dimaklumkan ‘Aisyah: “Bagaikan fajar yang menyingsing”. Tidak ada pertentangan mengenai tafsir hadits tersebut. Bisajadi disifatkan dengan peristiwa spesifik akan terjadi 100% sesuai yang dilihat. Dan bisa jadi Rosulullah menjelaskan maksud spesifik akan mimpi tersebut yang tidak bisa diselewengkan ke mana-mana. Lain halnya dengan mimpi kita (karena banyak keambiguannya) butuh kepada penjelasan lagi dari ahli takwil mimpi. Kadang tafsirnya mencocoki kenyataan (tapi tidak sampai 100% cocok). Dan seringnya jauh panggang dari api.

Mimpi yang benar ini adalah penyiapan untuk Beliau. Juga bagi orang di sekitar beliau. Terkhusus individu yang mencintai beliau. Dan rasul percayai mereka. Sampai sampai beliau tidak segan menceritakan mimpinya. Terlebih-lebih yang paling utama -tanpa keraguan- adalah Khadijah rodhiyallahu ‘anha. Juga beliau menceritakan mimpi tersebut kepada Abu Bakar ash Shiddiq, Zaid bin Haritsah, atau yang lainnya dari sahabat Beliau, rodhiyallahu ‘anhum.

Penulis: Prof Dr Roghib As Surjaani

Categories
Aqidah Siroh

Berita baik dari kitab langit terdahulu akan kedatangan Rasulullah

di kitab-kitab yang terdahulu sudah ada kabar gembira tentang akan didatangkannya nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Hal ini sebagaimana yang Allah beritakan bahwasanya di Taurat dan Injil tertulis demikian dan juga sebagaimana atau sudah dikabarkan oleh Nabi Isa Alaihissalam bahwasanya nabi SAW bersabda:

imam Bukhari meriwayatkan hadits yang shohih dari Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu Anhu bahwasanya Abdullah bin Amr tlmendapatkan sifat-sifat nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam di dalam Taurat. Hadits selengkapnya adalah bahwasanya Abdullah bin Amr bin ash berkata: beritahu saya mengenai sifat-sifat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di dalam taurat. Dijawab: “baik”, Demi Allah sesungguhnya Rasulullah sudah disifatkan di dalam Taurat dengan sebagian sifat-sifatnya yang disebutkan di Al-Qur’an ()

di dalam taurat yang ada pada hari ini yang orang Yahudi mengikrarkan akan keshahihannya, pada lembaran-lembaran awal disebutkan bahwasanya Allah ta’ala memperlihatkan kepada Ibrahim dan berkata kepada Ibrahim yang maknanya, berdirilah lalu berjalanlah di atas bumi sepanjang bumi dan selebar buminya , dan untuk anakmu itu semua demikianlah pengagungan yang akan didapatkannya.

Sudah jelas pengetahuan bahwasanya nabi Ibrahim tidaklah diberikan kekuasaan sepanjang timur dan baratnya bumi kecuali hanya nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam hal ini adalah sebagaimana riwayat yang datang di dalam shahih dari nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda: Sesungguhnya Allah telah melipat bumi untukku sehingga aku bisa melihat bagian timur bumi dan bagian baratnya. Dan kelak kekuasaan umatku akan mencapai semua penjuru yang telah diperlihatkan kepadaku.

Juga di dalam taurat tersebut juga bahwasanya Allah ta’ala berfirman kepada Ibrahim: “adapun Ishaq maka kamu dapatkan banyak keturunan darinya, adapun Ismail sesungguhnya saya telah memberikan barokah kepada dia, aku berikan banyak kepada dia dan aku muliakan dia dan aku jadikan dari keturunan-keturunannya sebanyak bintang di langit… sampai firman Allah… dan aku agungkan Ismail dengan keturunannya yaitu Muhammad. Ada yang mengatakan dengan Ahmad, dan ada yang mengatakan aku jadikan dia sangat besar sangat mulia.

Juga di dalam Taurat tersebut disebutkan bahwa Allah berjanji kepada Ibrahim bahwa Ismail tangannya akan menjadi sangat tinggi di atas semua umat dan semua umat ada di bawah tangannya dan juga tangannya akan ada di atas seluruh tempat tinggal saudara-saudaranya. Juga kita ketahui bahwasanya Ismail tidak pernah sekali pun masuk kedalam Syam (di mana Ishaq dan keturunannya hidup) dan juga tangannya tidak pernah menaungi saudara-saudaranya yang lain. Hanya saja ini adalah dia, bapak dari Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan juga tidak ada satu pun yang menguasai Syam dan Mesir dari bangsa Arab satu pun sebelumnya kecuali umat nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam karena sesungguhnya dibukanya kota Syam dan Mesir terjadi pada kepemimpinan Khalifah Abu Bakar as Shiddiq dan Khalifah Umar bin Khattab radiallahu anhum.

Dan di bagian yang keempat dari Taurat yang sekarang ada di tangannya orang Yahudi ada kalimat yang bermakna: “akan ada nabi yang ditegakkan untuk mereka berasal dari golongan saudara mereka sendiri dari saudaranya mereka sendiri yang seperti engkau sifatnya wahai Musa aku jadikan ucapanku di lisannya”.

Orang-orang Yahudi dan semua orang mengetahui bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala tidak pernah mengutus dari anak keturunan Ismail satupun nabi kecuali nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bahkan tidak ada sebelumnya dari keturunannya Israil (yaitu Nabi Ya’qub alaihi salam) satupun nabi yang menyerupai Musa kecuali nabi Isa alaihissalam sedangkan mereka orang Yahudi tidak pernah mengakui kenabian ‘Isa kemudian juga Nabi ‘Isa itu bukanlah dari saudaranya Musa karena nabi Isa dinasabkan kepada ibunya sholawatullahi alaihi. Maka dengan keterangan-keterangan ini sudah jelaslah bahwasanya apa yang tertulis di Taurat mereka itu adalah menjelaskan tentang nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

  • Sumber: Al Fushul fi Siroti Rosul shollallahu alaihi wasallam
  • Penulis: Abul Fida Ibnu Katsir rohimahullah
Categories
Al Fushul Fi Siroti Rosul Siroh

Anak-anak Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam

Anak-anaknya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam laki-laki maupun perempuan semuanya adalah dari Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha kecuali Ibrahim rodhiyallahu ‘anhu karena beliau anak dari Mariyah Al-Qibthiyyah radhiyallahu ‘anha.

Anak-anaknya Nabi mereka adalah Al-Qasim rodhiyallahu ‘anhu dan dengan Qosim ini Nabi Muhammad ber-kuniyah juga karena Qosim rodhiyallahu ‘anhu adalah anak yang paling besarnya. Kemudian lahir Zainab radhiyallahu ‘anha, kemudian Ruqoyyah

radhiyallahu ‘anha, kemudian Ummu Kultsum

radhiyallahu ‘anha,  kemudian Fatimah radhiyallahu ‘anha.

Kemudian setelah berada di periode sebagai nabi, lahir Abdullah rodhiyallahu ‘anhu dan dijuluki dengan aththoyyib atau atthohir karena beliau dilahirkan dalam Islam ada juga yang menjuluki dengan atau at-thohir ghoiru aththoyyib dan sebagian ulama menshahihkan julukan tersebut.

Kemudian lahir Ibrahim rodhiyallahu ‘anhu dari Mariyah Al-Qibthiyyah Rasulullah dikaruniakan Ibrahim ini di kota Madinah pada tahun ke-8 Hijriyah kemudian Ibrahim rodhiyallahu ‘anhu wafat di usia satu (1) tahun sepuluh (10) bulan. Karena hal inilah Rasulullah bersabda bahwasanya Ibrahim rodhiyallahu ‘anhu di surga memiliki bidadari yang menyusuinya.

Semua anak Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam meninggal mendahului Nabi Muhammad, kecuali Fatimah radhiyallahu ‘anha. Fatimah meninggal tidak lama setelah Nabi Muhammad. Ada yang mengatakan setelah enam (6) bulan ini pendapat yang paling terkenal, ada juga yang mengatakan setelah delapan (8) bulan, ada juga yang mengatakan setelah tujuh puluh (70) hari, ada juga yang mengatakan setelah 75 hari, ada juga yang mengatakan setelah tiga (3) bulan, ada juga yang mengatakan setelah seratus (100) hari, dan ada juga yang mengatakan selain itu semua.

Fatimah rodhiyallahu ‘anha dishalatkan /diimami oleh Ali bin Abi Thalib rodhiyallahu ‘anhu namun ada juga yang mengatakan oleh Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu, namun ini adalah pendapat yang asing janggal

Dan disebutkan hadits bahwasanya Fatimah radhiyallahu ‘anha memandikan dirinya sendiri sebelum datangnya kematian lalu beliau radhiallahu anha mewasiatkan kepada orang yang ada dekatnya agar beliau tidak usah dimandikan lagi setelah kematiannya dan ini pendapat yang sangat aneh sekali.

Karena telah diriwayatkan bahwasanya Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhu dan Al-‘Abbas rodhiyallahu ‘anhu dan Asma’ binti ‘Umais rodhiyallahu ‘anhu istri  Abu bakar as-Shiddiq dan Salma ummu Rafi’ rodhiyallahu ‘anhu mereka semua memandikan Fatimah rodhiyallahu ‘anha dan ini adalah riwayat yang shahih.

Categories
Dakwah

Kewajiban Ulama Muslimin Menghadapi Peristiwa Musibah Yang Mendiami Dunia Islam

  • Soal dan Jawab Samahatu Asy-Syaikh Al-‘Allamah ‘Abdulaziz bin ‘Abdillah bin Baz rohimahullah.

Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/842/%D9%88%D8%A7%D8%AC%D8%A8-%D8%A7%D9%84%D8%B9%D9%84%D9%85%D8%A7%D8%A1-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B3%D9%84%D9%85%D9%8A%D9%86-%D8%AA%D8%AC%D8%A7%D9%87-%D8%A7%D9%84%D9%86%D9%83%D8%A8%D8%A7%D8%AA-%D8%A7%D9%84%D8%AA%D9%8A-%D8%AD%D9%84%D8%AA-%D8%A8%D8%A7%D9%84%D8%B9%D8%A7%D9%84%D9%85-%D8%A7%D9%84%D8%A7%D8%B3%D9%84%D8%A7%D9%85%D9%8A

Soal: Apakah yang wajib atas ulama terkait bencana dan musibah yang ada di dunia islam?

Jawab: Hal yang tidak diragukan dalam hal musibah ini, bahwasanya maksiat-maksiat dan keadaan jauh dari ‘aqidah yang benar ucapan maupun perbuatan itu termasuk sebab terpenting yang bisa memunculkan/membuat musibah bencana dan krisis senantiasa eksis di dunia islam.

Allah yang agung kemuliaan-Nya berfirman: مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ [النساء:79]

Allah berfirman: وَمَا أَصَابَكُمْْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ [الشورى:30]

Allah yang Maha Agung, Maha Lembut kepada hamba-Nya, Maha Pengampun, Maha Menyayangi, mengirimkan kepada mereka ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran-Nya, mukjizat) dan juga peringatan. Mudah-mudahan mereka akan kembali kepada Allah dengan tujuan Allah menerima taubat mereka.

Jika hamba-Nya mendekat kepada Allah sejarak satu hasta maka Allah akan mendekat kepada hamba-Nya semarak satu tangan. Karena Ia-lah Sang Maha Tinggi, menyukai dari hamba-Nya perbuatan bertaubat dan Allah bergembira dengan taubat hamba-Nya. Dan Dia-lah yang Maha Agung, Maha Tinggi, Tidak Membutuhkan apapun dari hamba-Nya. Ketaatan hamba tidak memberikan keuntungan kepada-Nya, dan maksiatnya pendurhaka tidak akan merugikan-Nya. Akan tetapi Ialah satu-satunya yang Maha Welas Asih, Maha Menyayangi, Ia juga yang memberikan taufiq kepada mereka untuk bergerak taat dan meninggalkan maksiat.

Mudah-mudahan mereka ruju‘ kepada-Nya agar Allah memberi taubat atas mereka. Apabila seorang hamba mendekati Allah satu hasta maka Allah mendekat sepanjang tangan. Karena Allah mencintai taubat dari hamba-Nya dan senang karenanya.

Dan Allah Yang Maha Agung, Maha Kaya Tidak Butuh kepada makhluk, tidak akan memberikan manfaat kepada-Nya dari ketaatan makhluk dan kemaksiatan milyaran dari mereka pun tidak tidak membahayakan-Nya. Akan tetapi Dialah Allah yang memberikan kepada hamba-Nya Maha Lembut dan Maha Menyayangi dan Hanya Dialah yang memberikan taufiq kepada mereka untuk mengerjakan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan.

Krisis demi krisis, dan musibah demi musibah tidaklah dia terjadi kecuali peringatan untuk hamba-Nya agar mereka kembali kepada Allah, apa yang menimpa hamba Allah jadikan ujian untuk mereka. Allah berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ * أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ [البقرة:155-157]

Allah berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِيي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [الروم:41]

Allah berfirman :

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ [الأنبياء:35]

Allah berfirman :

وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [الأعراف:168]

Ayat-ayat yang bermakna ini sangat banyak.

Wajib atas pemimpin kaum muslimin dari ‘ulama dan pemimpin pemerintahan dan selain mereka untuk memberikan perhatian ke dalam semua kriaia-kriais yang awet atau musibah yang terjadi, mengingatkan manusia akan dosa mereka dan menerangkan semua yang terjadi diserahkannya. Seharusnyalah pemimpin pemerintahan adalah orang yang berilmu agama, dan para penguasa adalah teladan yang bagus dalam praktek amal saleh, dan mencari apa penyebab terjadinya kemurkaan Allah. Adapun obatnya adalah taubat dan istighfar dan membenarkan orientasi hidup. Adapun umat masyarakat sekadar mengikuti mereka.

Karena petunjuk dari ulama dan hikmah dari penguasa dan baik-benarnya mereka berdua adalah termasuk faktor terpenting yang memberikan pengaruh baik di jantung rakyat. Ingatlah hadits: ( كلكم راع وكل مسئول عن رعيته)

وإذا استمرأ المسلمون المعاصي ولم ينكرها من بيده الأمر والحل والعقد، يوشك أن يعم الله الأمة بغضب منه، وإذا وقع غضب الله وحلت نقمته، فإن ذلك يشمل المحسن والمسيء، عياذا بالله من ذلك، قال تعالى: وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً الآية [الأنفال:25]. وقال ﷺ: إنن الناس إذا رأوا المنكر فلم يغيروه أوشك الله أن يعمهم بعقابه رواه الإمام أحمد في مسنده عن أبي بكر الصديق. وقال الله سبحانه: إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ [الرعد:11].

Maka bila tak henti kaum muslimin berbuat maksiat dan tidak pernah mengingkarinya orang yang punya kekuatan menindak, dan begitu pula para penasihat orang-orang yang dituakan di kamis tersebut, maka sangat ditakutkan Allah akan luaskan kemarahan-Nya. Dan jikalau Kemarahan Allah sudah terjadi, maka itu luas terkena kepada orang yang berbuat kebaikan dan juga yang berbuat kerusakan. Na’udzubillahi min dzaalik. Allah berfirman :

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً الآية [الأنفال:25]

Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: (إنن الناس إذا رأوا المنكر فلم يغيروه أوشك الله أن يعمهم بعقابه) Sesungguhnya manusia, jika mereka melihat kemunkaran tapi tidak berbuat untuk mengubahnya maka sangat dikhawatirkan Allah akan memasukkan mereka ke dalam hukuman-Nya. (HR Ahmad dari Abu Bakar). Allah berfirman: ( إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ).

Dan atas ‘ulama ada kewajiban, ada tanggung jawab yang luar biasa besar di depan Allah untuk mengajarkan dan memberikan petunjuk kepada manusia. Menjelaskan yang benarnya dan salah-salah yang mendominasi. Dan menjelaskan sisi yang bermanfaat dari berbagai bahaya yang sangat banyak (namun tidak bisa difahami mereka).

Kami meminta kepada Allah, semoga Allah memberikan taufiq kepada kaum muslimin semuanya agar mereka mentaati pencipta mereka, pemberi rezeki mereka, pengatur kehidupan mereka, dan pemilik mereka semua, dan juga berpegang kuat teguh kepada petunjuk Nabi mereka -Muhammad Shollallahu ‘alaihi wasallam-, dan semoga Allah memberi petunjuk kepada pemimpin-pemimpin mereka, dan memberikan bashiroh kepada ulama agar bisa melihat jalan yang di atas petunjuk sehingga mereka bisa melangkah di atasnya dan kemudian mengarahkan umat ke sana. Dan semoga Allah memberikan hidayah kepada muslim yang sedang tersesat dan juga membuat baik keadaan mereka. Sesungguhnya Allah-lah yang memiliki itu semua dan Maha Mampu untuk merealisasikannya.

Penerjemah : Admin Blog bahasadhodh.wordpress.com

Categories
Maisyah Qowaid Fiqhiyyah

Kaidah Jika seorang sudah menunaikan tugasnya maka dia berhak atas upah yang dijanjikan .

  • Asal: Al-Qowa’id wal Ushul Al-Jami’ah
  • Penulis: Asy-Syaikh ‘Abdurrohman bin Nashir As-Si’diy rohimahullah.
  • Pemberi ta’liq : Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rohimahullah.

Ucapan Pemberi Ta’liq adalah sesuai matan penulis kitab namun ada perubahan kata dengan konteks yang sama.

Kaidah ini melingkupi (1) pekerjaan, dan (2) pertukaran barang. Maka seorang juragan berhak atas pekerjaannya pekerja. Dan yang mengambil pekerjaan kalau mengerjakan pekerjaan tersebut dan menyempurnakannya maka ia berhak mengambil upah yang sudah ditentukan, atau hadiah sayembara (ju’aalah جعالة) yang sudah ditentukan. Tapi kalau dia tidak konsekuen dengan kewajibannya maka tidak berhak dari hadiah sayembara sedikitpun.

Adapun kalau dalam akad sewa, jika dia (yang disewa) meninggalkan sisa pekerjaannya tanpa ada udzur maka juga tidak berhak mendapat apapun. Namun jika ada ‘udzur maka berhak dapat upah sewa sesuai kadar yang dia tuntaskan. Demikian pula jika rusak barang yang disewakan. Yakni: pemilik barang berhak mendapatkan uang sewa sesuai kadar penyewa mendapat manfaatnya.

Contoh: ada seorang menyewa mobil untuk mengantarkan dia ke Mekkah tapi kemudian mobil terbakar. Atau dia ingin menyewa rumah untuk ditempati selama satu tahun tapi kemudian rumahnya roboh. Kerusakan itu terjadi namun ada ‘udzur maka pemilik rumah dan mobil berhak mendapat uang sewa sesuai kadar penggunaannya.

Masuk ke dalam cabang kaidah ini, misalkan ada syarat untuk mendapatkan suatu wasiat atau wakaf atau lainnya adalah bagi siapa yang melakukan pekerjaan tertentu seperti mengimami solat atau adzan atau mengajar atau amalan apapun. Maka kapan ia mengerjakan itu maka ia berhak mendapat upah yang sudah ditentukan.

Dengan alasan itu, masalah gaji, seorang karyawan tidak berhak mendapat gaji full kecuali bila dia bekerja full. Lantas bila ia ada cacat/kurang dalam memenuhi pekerjaan maka dia berhak menerima selisih yang muncul karena tidak sempurna kerjanya dia.

Dan sangat disayangkan sekarang banyak karyawan tidak memenuhi apa yang harus dia penuhi entah perkara waktu, atau di perkara pekerjaannya. Dalam hal waktu seperti dia tidak datang kecuali sudah melewati jadwal yang tidak diizinkan. Atau dia pulang sebelum selesai waktu kerja.

Adapun cacat dalam pekerjaannya seperti dia duduk di kursinya namun dia tidak sungguh dan memberi perhatian ke pekerjaannya. Dia membaca koran, atau mengobrol di telepon dan tidak peduli pekerjaannya. Mereka ini tidak berhak gaji full dan tidak berhak dari gaji kecuali sesuai kadar dia menunaikan pekerjaannya. Maka di atas tindakan tadi, apa yang dia makan dan dia minum dari gaji yang tidak berhak dia dapat menjadi haram kelak akan diminta pertanggungjawaban.

Dan telah kondang di pemahaman sebagian orang bahwa harta negara adalah mubah. Mereka bilang: karena harta itu tidak ada pemilik jelasnya. Maka atas sangkaan itu diberi jawaban: Sesungguhnya harta negara itu adalah milik baitul mal yang mana seluruh orang berhak atas harta di dalamnya. Maka anda jika merugikan harta tersebut, maka engkau merugikan seluruh orang yang berhak atas harta baitul mal tersebut.

Penerjemah: admin bahasadhodh.wordpress.com

Categories
Aqidah Siroh

Bagaimana diciptakannya Adam ‘alaihi as-salam

Allah sudah memberitahu kita di Al-Qur’an yang Mulia tentang bagaimana Allah menciptakan Adam Alaihis salam. Ringkasan dari kandungan ayat-ayat tersebut adalah Allah menciptakan Adam dari tanah, lalu Allah ubah menjadi tanah yang basah, kemudian Allah ‘azza wajalla menciptakan semua bentuk Adam dengan kedua tangan-Nya subhanahu wa ta’ala. Allah berfirman:

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَي

Dan tidak diragukan benar-benar sudah datang banyak hadits untuk menerangkan cara Allah ‘azza wajalla menciptakan Adam ‘alaihis salam. Sebagian hadits tersebut ada yang shahih dan sebagiannya dha’if. Imam Ahmad meriwayatkan di Al-Musnad dari Abu Musa -rodhiyallahu ‘anhu, dari Sang Nabi -shollallahu alaihi wasallam- beliau bersabda : “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari segenggam tanah yang Allah ambil dari semua bagian bumi. Sehingga hadirlah anak-anak Adam sesuai kadar tanahnya. Jadilah ada yang berwarna putih, merah, hitam, dan di antara itu, ada yang jelek dan baiknya, yang pembawaannya gembira dan ada yang pembawaannya sedih dan yang di antaranya. (Diriwayatkan Abu Daud, At-Turmuzi, selain keduanya dan telah disahihkan oleh Suamiku Al-Albani -dinikahinya).

Imam Muslim meriwayatkan dari Anas rodhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda: ketika Allah sudah selesai membentuk Adam di jannah, Allah biarkan Adam. Lalu Iblis mengitari dan melihat bagaimana Adam ini. tatkala dia lihat bahwa Adam berongga langsung dia tahu bahwa Allah telah menciptakan makhluk yang tidak bisa menguasai hawa nafsunya. Dan Bukhari meriwayatkan dari Abu Bergairah bahwa Nabi bersabda: “Allah menciptakan Adam, tingginya 60 hasta.” Setelah selesai Allah menciptakan jasad Adam dengan bentuk tadi, menyempurnakannya , dan meniupkan ruh ke dalamnya. Itu semua sebagaimana Allah katakan: “فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ”

Setelah Allah ciptakan Adam, Allah ciptakan Hawa (حواء) dari bagian tubuh Adam. Sebagaimana firman Allah: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا“. Nabi menjelaskan perkara ini: Berikanlah wasiat kepada kaum wanita, sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk, sesungguhnya rusuk yang paling bengkok adalah paling atasnya, jika engkau luruskan maka patah, jika kamu biarkan akan tetap bengkok. Maka berwasiatlah kepada wanita. Hadits riwayat Bukhari. Ibnu Hajar berkata terkait ucapan “diciptakan dari tulang rusuk…”: ada yang berkata bahwa “ini isyarat bahwa Hawa diciptakan dari rusuk kiri Adam”. Ada lagi yang berkata: “dari rusuk yang paling pendek”.

Categories
Al Ushul Al Tsalatsah Aqidah Dakwah

Siapa yang mentaati Rasul dan mentauhidkan Allah tidak boleh dia memberikan ‘wala’ kepada siapa yang memusuhi Rasul-Nya meskipun dia orang terdekat yang paling dekat.

Ithaful Qori hal. 44

Penulis Al Ushul Ats Tsalatsah berkata :

Bahwa, siapa saja yang mentaati Rasulullah dan mentauhidkan Allah , maka tidak boleh dia memberikan wala kepada orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya meskipun orang itu adalah kerabat yang paling dekat.

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :

(لا تجد قوما يؤمنون بالله واليوم الأخر يوآدون من حآد الله ورسوله ولو كانوا ءابآءهم أو أبنآءهم أو إخونهم أو عشيرتهم. أولئك كتب في قلوبهم الإيمن وأيدهم بروح منه، ويدخلهم جنت تجرى من تحتها الأنهر خلدين فيها، رضي الله عنهم ورضوا عنه، أولئك حزب الله، ألآ إن حزب الله هم المفلحون) {المجادلة:٢٢}

PENJELASAN (Asy-Syaikh ‘Ubaid bin Abdillahn bin Sulaiman al-Jabiri Hafizhohullah)

Ini adalah salah satu kaidah agama terbesar karena kandungannya kaidah al wala’ wal baro’.

  • Al-wala’: semua bentuk cinta karena Allah dan saling menolong di dalamnya.
  • Al-baro’: adalah membenci karena Allah dan memusuhi karena benci tersebut.

Penulis berkata di karyanya yang lain:

Dasar agama agama dan kaidahnya adalah dua hal:

(1) Perintah beribadah semata-mata kepada Allah, menghasung itu, meletakkan wala di atas itu, dan menghadirkan juga karena itu.

(2) Perkara kedua, pelarangan dari melakukan syirik dalam mengibadahi Allah, menyikapi dengan keras karena kesyirikan, memusuhi , mengkafirkan siapa yang melakukan kesyirikan .

Ithaful Qori hal. 45

Perkataan penulis: Siapapun yang mentaati Allah dan mentauhidkan-Nya…

Penjelasan Suamiku ‘Ubaid –hafizhohullah:

Ibadah tidak dinamakan ibadah -dalam terminologi yang benar- sampai terkumpul kedua perkara berikut: (1) Mentaati perintah Rasul, dan (2) mentauhidkan Allah.

Perkataan Penulis : Tidak boleh untuk dia mempersembahkan wala kepada siapapun yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya.

Muwaalaah adalah masdar (kata benda) dari kata kerja waalaa , adapun waalaa (والى) terjemahannya adalah: 1. mendukung , mengokohkan , mengukuhkan , menyiagakan , memperjuangkan , memenangkan ; 2. melanjutkan , mengikuti , meneruskan (sumber: Aplikasi Kamus Arab Indonesia terbitan Ristek Muslim).

Secara istilah muwaalaah adalah: bentuk cinta, bentuk pertolongan karena Allah. Juga bermakna memberikan rasa mawaddah (kasih sayang, persahabatan, cinta kasih, perasaan selaras harmonis antara dua orang atau lebih muncul itu dari kontak sosial / masyarakat yang bersifat sentimental , emosional , penuh kasih , romantis , mengharukan , menyentuh , menyedihkan yang berketetapan), karena cinta karena Allah dan benci karena Allah adalah salah satu bagian dari kesempurnaan iman.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapapun yang mencintai karena Allah, dan membenci karena Allah dan memberikan sesuatu karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka telah sempurnakan iman-Nya” (Abu Dawud 4681 dan dishahihkan Al-Albani di Shohih Al-Jami’ 5965)

Ithaful Qori hal. 46
Ithaful Qori hal. 47
Ithaful Qori hal. 48
Ithaful Qori hal. 49