Categories
Uncategorized

Hello world!

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!

Categories
Adab dan Akhlak Aqidah Fiqih Pesantren

Permisalan Pohon Keimanan

Seringkali ketakwaan keimanan keislaman bahkan orang yang beriman kepada Allah di per misalkan dengan pohon. Contoh yang paling jelas adalah firman Allah ayatnya yang agung kalimat-kalimat yang tidak ada kedustaan sedikitpun di dalamnya nya Allah berfirman:

ضرب الله مثلا كلمة طيبة كشجرة طيبة أصلها ثابت وفرعها في السماء

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. (Q.S. Ibrohim:24)

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam pernah juga pada satu kesempatan bersama para sahabatnya beliau shallallahu alaihi wasallam bertanya melemparkan pertanyaan kepada mereka dengan permisalan pohon.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ فَحَدِّثُونِي مَا هِيَ فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي قَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ فَاسْتَحْيَيْتُ ثُمَّ قَالُوا حَدِّثْنَا مَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هِيَ النَّخْلَةُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya ada di antara pepohonan, satu pohon yang tidak gugur daunnya. Pohon ini seperti seorang muslim, maka sebutkanlah kepadaku apa pohon tersebut?” Lalu orang menerka-nerka pepohonan wadhi. Abdullah Berkata: “Lalu terbesit dalam diriku, pohon itu adalah pohon kurma, namun aku malu mengungkapkannya.” Kemudian mereka berkata: “Wahai Rasulullah beri tahukanlah kami pohon apa itu?” Lalu beliau menjawab: “ia adalah pohon kurma.”

Berikut ini adalah pembahasan Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Si’di rohimahullah dari kitab yang beliau tulis “Bahjatu Quluubil Abror wa Qurrotu Uyuunil Akhyaar”. Yang di dalamnya beliau menyebutkan permisalan keimanan dengan pohon, apa makanan dan minumnya, apa yang membuat dia tumbuh besar, apa yang membuat dia kebal dari hama.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: الصلوات الخمس والجمعة إلى الجمعة ورمضان إلى رمضان مكفرات لما بينهن ما اجتنبت الكبائر (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah -radhiallahu ‘Anhu- berkata Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda salat lima waktu dan salat Jum’at ke Jum’at selanjutnya dan puasa romadhon dan ramadhan selanjutnya, menggugurkan dosa-dosa yang terjadi di antara keduanya selama tidak melakukan dosa besar.

Syaikh As-Si’di rohimahullah memberikan penjelasan sangat indah… Simaklah…

Hadits ini menunjukkan kepada sangat besarnya keutamaan yang Allah miliki dan sangat pemurah nya Allah dengan memberikan kelebihan-kelebihan untuk ketiga ibadah yang disebutkan di hadits dan bahwasanya tiga ibadah yang disebutkan tersebut bagi mereka di sisi Allah ada kedudukan yang sangat tinggi dan juga buah yang dihasilkan dari amalan tersebut tidak mungkin bisa dihitung dan diperkirakan banyaknya.

Maka yang termasuk dari buah amalan tersebut adalah bahwasannya Allah menjadikan tiga ibadah tersebut yang disebutkan di hadits adalah sebagai (1) penyempurnaan bagi agama seorang hamba dan keislamannya dia. (2) Kemudian bahwasanya tiga amalan tersebut menjadi hal yang menumbuhkan keimanan dan (3) memberikan minum bagi pohon keimanan, karena sesungguhnya (4) Allah menumbuhkan pohon keimanan di hati hatinya orang beriman yang (5) besar pohon tersebut tergantung dengan kadar keimanan mereka. Dan Allah juga mentakdirkan dengan sifat Maha Lembutnya Allah, dan juga dari keutamaan –fadhl- yang Allah yang tidak bisa dihitung, Allah telah menetapkan / mentakdirkan kewajiban-kewajiban dan ibadah yang sunnah bagi hamba-Nya yang (6) dengan hamba itu melakukan kewajiban dan sunah tadi maka akan memberikan air, mengairi, memberikan irigasi untuk pohon keimanan di dalam hatinya dan (7) dengannya pohon itu menjadi semakin besar dan menjadi sehat (8) bisa menolak berbagai penyakit sehingga semakin menjadi sempurnalah pohon tersebut dan (9) di kemudian hari memberikan buah-buahan, panenan dari pohon keimanan tersebut setiap waktu, tentunya dengan izin yang menguasainya. dan Allah menjadikan dari melakukan kewajiban-kewajiban dan sunah sunah itu (10) akan mencegah atau meniadakan dari pohon-pohon itu penyakit apapun.

Dosa-dosa itu bahayanya sangatlah besar dan dosa itu dia bisa mengikis keimanan dan ini hal yang sudah diketahui.

Kewajiban-kewajiban yang tiga ini (yakni: (1) sholat lima waktu, (2) jumat, (3) ramadhan) jika seorang hamba menguranginya dengan menjauhi dosa-dosa yang besar maka Allah pasti akan ampuni dosa-dosa kecil hamba itu dan kesalahan-kesalahan yang pernah dia perbuat, dengan sebab melakukan tiga kewajiban tadi dan bahkan tiga amalan yang itu adalah salah satu dari perkara yang paling besar yang masuk ke dalam firman Allah ta’ala

إن الحسناتِ يذهبْن السيئاتِ (هود:١١٤)

Arti: Sesungguhnya perbuatan baik akan menghapus perbuatan jelek. (Q.S. Hud-114)

Hal yang semisal dengan itu sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan -dengan sifat Allah yang Maha Lembut- bahwasanya (seorang hamba) dia menjauhi dosa-dosa yang besar, maka itu menjadi sebab dari digugurkannya dosa-dosa yang kecil. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إن تجتنبواْ كبآئر ما تنهون عنه نكفر عنكم سيئاتكم وندخلكم مدخلًا كريمًا (النساء:٣١).

Adapun untuk dosa besar, maka tidak bisa tidak, pelakunya harus bertaubat agar diampuni. (Q.S. An-Nisaa:31)

Bisa diilmui dari hadis ini bahwasanya (1) semua nash yang didalamnya terdapat penjelasan akan amalan sholeh itumenghapuskan perbuatan-perbuatan jelek maka sesungguhnya yang dimaksudkan dari penghapusan amalan jelek itu cuma dosa kecil, karena ibadah-ibadah ini yang besar tadi jikalah dia tidak bisa menghapuskan dosa yang besar bagaimana pula dengan amalan sholeh lainnya yang kedudukannya di bawah tiga amalan di hadis itu.

Kemudian hadits ini secara terang jelas membagi dosa kepada dua pembagian yaitu (1) dosa-dosa besar dan (2) dosa-dosa kecil. Dan kita sudah tahu bahwa sangat banyak kalimat-kalimat dari ulama terkait apa perbedaan antara dosa kecil dengan dosa besar dan ucapan tersebut yang paling bagusnya adalah: bahwasanya dosa besar itu : (a) sesuatu yang berefek kepada hukuman di dunia atau (b) pelakunya diancam dengan hukuman di akhirat atau (c) pelaku dosa tersebut mendapat laknat atau perbuatan dosa tersebut berefek kepada murkanya Allah dan yang sejenisnya. Adapun dosa-dosa kecil adalah selain dari itu.

Atau bisa juga didefinisikan dosa-dosa besar adalah: dosa-dosa yang bentuk pengharamannya adalah pengharaman terhadap hal utama / hal inti (maqshud). Adapun dosa-dosa kecil adalah dosa yang diharamkan namun dengan bentuk pengharamannya itu terhadap perantara kepada dosa inti (washilah) yang sebelumnya. Dan wasilah itu seperti: (1) memandang kepada perempuan yang tidak boleh dilihat (2) atau bahkan ditambah dengan berduaan dengan perempuan asing yang bukan mahramnya. Adapun dosa besar itu contohnya (1) zina, ya perbuatan zina itu sendiri (bukan pendahuluan kepada sinarnya), atau seperti (2) riba fadhl ditambah riba nasi’ah dan dosa-dosa yang semisalnya.

Categories
Al Fushul Fi Siroti Rosul Siroh

Mu’adzinnya Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wasallam

Nabi Muhammad memiliki empat muadzin. Bilal bin Robah, (2) ‘Amr bin Ummi Maktum, ada yang menyebutkan bahwa namanya ‘Abdullah. Keduanya tinggal di Madinah, bergantian dalam azan. Kemudian (3) Sa’ad Al-Qurozhi di Quba , dan (4) Abu Mahdzuroh di Mekah. Rodhiyallahu ‘anhum.

Categories
Siroh

Mimpi yang benar, wahyu pertama kepada Nabi shollallahu alaihi wasallam

Mimpi Yang benar adalah seperti wahyu yang pertama turun kepada Nabi. Apakah makna mimpi yang benar itu? Berapa lama itu terjadinya? Apakah perbedaan mimpinya Nabi dengan mimpi kita?

Mimpi yang benar. Adalah berasal dari riwayat hadits ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha, beliau memulai dengan kalimat: “Yang paling pertama diperlihatkan kepada Rosulullah adalah bunga tidur yang baik. Awalnya beliau tidak melihat mimpi kecuali seperti fajar subuh yang menyingsing”. Dan di riwayat lain dari ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha bunga tidur tadi disifatkan dengan “yang benar

Di iktibar tadi ‘Aisyah memerikan bahwa awalmula wahyu adl tamsil akan “bunga tidur yang Rosulullah lihat di tidurnya”. Itu datang seperti fajar yang menyingsing. Artinya: “datang dgn terang jelas (tidak samar)”. Tidak ada pertentangan sama sekali akan apa yang dilihat. Ini adalah fase kehidupan yang dilewati Beliau sebelum bertemu Jibril di Gua Hira. Lama fase ini ada banyak pendapat. Paling banyaknya condong kepada enam (6) bulan. Terkait ini tidak dalil/petunjuk langsung. Tetapi perhitungan yg dikonstruksi dari hadits lain.

‘Aisyah berkata: “Yang pertama diperlihatkan kepada Rosulullah”. Maksud kata ini adalah “kabar berita yang sifatnya memprediksi” yang langsung terkait dengan wahyu. (arab : الإرهاصات “المباشرة” للوحي). Karena ada mimpi prediksi kenyataan lain di fase kehidupan Nabi, yang memaklumkan bahwa hidup Nabi tidak seperti manusia lainnya. Kejadian demi kejadian hidup Nabi banyak yang ajaib di luar kebiasaan anak Adam. Dan “mimpi prediksi kenyataan” itu menampakkan bahwa itu pasti akan terjadi di masa depan sebagaimana yang Nabi lihat.

Termasuk dari dari mimpi yang benar ini (yang terlihat kejadian di masa depan) -sebagai contoh- peristiwa “pembelahan dada”. Terjadi ketika beliau masih kanak-kanak di penyusuan Halimah. Peristiwa lainnya adalah batu yang memberi salam kepada beliau. Rosulullah bersabda : “Betul-betul aku bisa menunjukkan sebuah batu di Mekah yang dulu mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diberi wahyu. Sungguh aku tahu dia saat ini”. Dan juga sabda Rosulullah ke Khadijah : “Aku melihat binar cahaya, dan dengar bunyi, dan sekarang saya takut jikalah terjadi kelainan jiwa.” Lalu Khadijah menanggapi: “Tidak akan Allah melakukan itu kepadamu…wahai Abu ‘Abdillah…” Lalu ia datangi Waroqoh bin Naufal, ia ceritakan semua, berkatalah Waroqoh : “Bila cerita itu benar, sesungguhnya itu adalah Namus selayaknya Namus yang ditemui Musa. Andaikan beliau diberi wahyu (diutus sebagai Nabi) dan saya masih hidup, pasti aku akan membela beliau sekuat tenaga daya upaya, dan aku akan tolong beliau dan aku akan mengimani beliau”.

Kejadian ini merupakan tanda bahwa lelaki ini akan menerima perkara ajaib asing di masa depan di luar kelaziman manusia. Tapi, yang diinginkan dr ucapan ‘Aisyah: “hal pertama yang dinampakkan ke Rasulullah dari wahyu…” ini mulai masuk kepada aktivitas bersentuhan dengan wahyu. Dan bahwa: adanya mimpi yang benar/baik langsung bersentuhan dengan awalan turunnya Jibril ‘alaihis salam kepada Beliau. Sehingga mimpi yang benar ini dimasukkan ke dalam wahyu.

Keterkaitan antara mimpi yang benar dengan wahyu. Di sana ada keterkaitan yang tersambung langsung. Keduanya mengkabarkan peristiwa di masa depan. Dan mengkabarkan hal gaib. Oleh karena itu mimpi yang benar dikategorikan wahyu. Bahkan Rosulullah mengiktibar mimpi yang benar sebagai bagian dari kenabian. Mimpi di sini maksudnya mimpi yang umum, bukan yang diperlihatkan kepada para nabi saja. Rosulullah bersabda: “Wahai manusia , tidak ada yang tersisa dari berita gembira kenabian kecuali mimpi yang benar yang orang muslim melihatnya atau orang islam diperlihatkan itu”. Dan bersabda juga: “Penglihatan mimpi yang baik, dari lelaki yang shalih, adalah satu dari empat puluh enam (46) bentuk wahyu (arti: نُبٌوَّةٌ nubuwwah = (1) berita perkara gaib -lihat Mu’jam Al-Ghoniy)

Lama durasi periode mimpi yang benar ini. Poin ini hal yang para ulama sebutkan dengan enam bulan. Beliau shollallahu alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya , mimpi yang benar ini salah satu kepingan dari 46 kepingan nubuwwah. Lama periode kenabian adalah 23 tahun. Maka 1/46 dari 23 tahun adalah 6 bulan. Sehingga yang nampak awal-awal adanya mimpi ini adalah pada bulan Rabi’ul Awwal sebelum Beliau –shollallahu alaihi wasallam- bertemu Jibril di bulan Ramadhan di tahun yang sama.

Namun ada pendapat lain sebagaimana disebutkan oleh Al-Ustadz Ahmad Sabiq hafizhohullah bahwa mimpi yang benar ini berlangsung kira-kira ketika Nabi memasuki umur 37 tahun sampai turun wahyu di gua Hira.

Beda antara mimpi kita dengan mimpi nabi. Akan tetapi harus diingat bahwa mimpi Rosulullah berbeda dari mimpi kita dalam dua aspek:

Aspek pertama, SEMUA mimpi Rosulullah adalah benar. Tidak ada unsur yang kita sebut dengan “mimpi sia-sia” ( أضغاث الأحلام ). ‘Abdullah bin ‘Abbas berkata: “Mimpinya nabi adalah wahyu”.

Aspek kedua, SEMUA mimpi Rosulullah “jelas maksud maknanya”, atau sepertimana dimaklumkan ‘Aisyah: “Bagaikan fajar yang menyingsing”. Tidak ada pertentangan mengenai tafsir hadits tersebut. Bisajadi disifatkan dengan peristiwa spesifik akan terjadi 100% sesuai yang dilihat. Dan bisa jadi Rosulullah menjelaskan maksud spesifik akan mimpi tersebut yang tidak bisa diselewengkan ke mana-mana. Lain halnya dengan mimpi kita (karena banyak keambiguannya) butuh kepada penjelasan lagi dari ahli takwil mimpi. Kadang tafsirnya mencocoki kenyataan (tapi tidak sampai 100% cocok). Dan seringnya jauh panggang dari api.

Mimpi yang benar ini adalah penyiapan untuk Beliau. Juga bagi orang di sekitar beliau. Terkhusus individu yang mencintai beliau. Dan rasul percayai mereka. Sampai sampai beliau tidak segan menceritakan mimpinya. Terlebih-lebih yang paling utama -tanpa keraguan- adalah Khadijah rodhiyallahu ‘anha. Juga beliau menceritakan mimpi tersebut kepada Abu Bakar ash Shiddiq, Zaid bin Haritsah, atau yang lainnya dari sahabat Beliau, rodhiyallahu ‘anhum.

Penulis: Prof Dr Roghib As Surjaani