Categories
Aqidah Siroh

Berita baik dari kitab langit terdahulu akan kedatangan Rasulullah

di kitab-kitab yang terdahulu sudah ada kabar gembira tentang akan didatangkannya nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Hal ini sebagaimana yang Allah beritakan bahwasanya di Taurat dan Injil tertulis demikian dan juga sebagaimana atau sudah dikabarkan oleh Nabi Isa Alaihissalam bahwasanya nabi SAW bersabda:

imam Bukhari meriwayatkan hadits yang shohih dari Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu Anhu bahwasanya Abdullah bin Amr tlmendapatkan sifat-sifat nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam di dalam Taurat. Hadits selengkapnya adalah bahwasanya Abdullah bin Amr bin ash berkata: beritahu saya mengenai sifat-sifat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di dalam taurat. Dijawab: “baik”, Demi Allah sesungguhnya Rasulullah sudah disifatkan di dalam Taurat dengan sebagian sifat-sifatnya yang disebutkan di Al-Qur’an ()

di dalam taurat yang ada pada hari ini yang orang Yahudi mengikrarkan akan keshahihannya, pada lembaran-lembaran awal disebutkan bahwasanya Allah ta’ala memperlihatkan kepada Ibrahim dan berkata kepada Ibrahim yang maknanya, berdirilah lalu berjalanlah di atas bumi sepanjang bumi dan selebar buminya , dan untuk anakmu itu semua demikianlah pengagungan yang akan didapatkannya.

Sudah jelas pengetahuan bahwasanya nabi Ibrahim tidaklah diberikan kekuasaan sepanjang timur dan baratnya bumi kecuali hanya nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam hal ini adalah sebagaimana riwayat yang datang di dalam shahih dari nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda: Sesungguhnya Allah telah melipat bumi untukku sehingga aku bisa melihat bagian timur bumi dan bagian baratnya. Dan kelak kekuasaan umatku akan mencapai semua penjuru yang telah diperlihatkan kepadaku.

Juga di dalam taurat tersebut juga bahwasanya Allah ta’ala berfirman kepada Ibrahim: “adapun Ishaq maka kamu dapatkan banyak keturunan darinya, adapun Ismail sesungguhnya saya telah memberikan barokah kepada dia, aku berikan banyak kepada dia dan aku muliakan dia dan aku jadikan dari keturunan-keturunannya sebanyak bintang di langit… sampai firman Allah… dan aku agungkan Ismail dengan keturunannya yaitu Muhammad. Ada yang mengatakan dengan Ahmad, dan ada yang mengatakan aku jadikan dia sangat besar sangat mulia.

Juga di dalam Taurat tersebut disebutkan bahwa Allah berjanji kepada Ibrahim bahwa Ismail tangannya akan menjadi sangat tinggi di atas semua umat dan semua umat ada di bawah tangannya dan juga tangannya akan ada di atas seluruh tempat tinggal saudara-saudaranya. Juga kita ketahui bahwasanya Ismail tidak pernah sekali pun masuk kedalam Syam (di mana Ishaq dan keturunannya hidup) dan juga tangannya tidak pernah menaungi saudara-saudaranya yang lain. Hanya saja ini adalah dia, bapak dari Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan juga tidak ada satu pun yang menguasai Syam dan Mesir dari bangsa Arab satu pun sebelumnya kecuali umat nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam karena sesungguhnya dibukanya kota Syam dan Mesir terjadi pada kepemimpinan Khalifah Abu Bakar as Shiddiq dan Khalifah Umar bin Khattab radiallahu anhum.

Dan di bagian yang keempat dari Taurat yang sekarang ada di tangannya orang Yahudi ada kalimat yang bermakna: “akan ada nabi yang ditegakkan untuk mereka berasal dari golongan saudara mereka sendiri dari saudaranya mereka sendiri yang seperti engkau sifatnya wahai Musa aku jadikan ucapanku di lisannya”.

Orang-orang Yahudi dan semua orang mengetahui bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala tidak pernah mengutus dari anak keturunan Ismail satupun nabi kecuali nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bahkan tidak ada sebelumnya dari keturunannya Israil (yaitu Nabi Ya’qub alaihi salam) satupun nabi yang menyerupai Musa kecuali nabi Isa alaihissalam sedangkan mereka orang Yahudi tidak pernah mengakui kenabian ‘Isa kemudian juga Nabi ‘Isa itu bukanlah dari saudaranya Musa karena nabi Isa dinasabkan kepada ibunya sholawatullahi alaihi. Maka dengan keterangan-keterangan ini sudah jelaslah bahwasanya apa yang tertulis di Taurat mereka itu adalah menjelaskan tentang nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

  • Sumber: Al Fushul fi Siroti Rosul shollallahu alaihi wasallam
  • Penulis: Abul Fida Ibnu Katsir rohimahullah
Categories
Al Fushul Fi Siroti Rosul Siroh

Anak-anak Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam

Anak-anaknya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam laki-laki maupun perempuan semuanya adalah dari Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha kecuali Ibrahim rodhiyallahu ‘anhu karena beliau anak dari Mariyah Al-Qibthiyyah radhiyallahu ‘anha.

Anak-anaknya Nabi mereka adalah Al-Qasim rodhiyallahu ‘anhu dan dengan Qosim ini Nabi Muhammad ber-kuniyah juga karena Qosim rodhiyallahu ‘anhu adalah anak yang paling besarnya. Kemudian lahir Zainab radhiyallahu ‘anha, kemudian Ruqoyyah

radhiyallahu ‘anha, kemudian Ummu Kultsum

radhiyallahu ‘anha,  kemudian Fatimah radhiyallahu ‘anha.

Kemudian setelah berada di periode sebagai nabi, lahir Abdullah rodhiyallahu ‘anhu dan dijuluki dengan aththoyyib atau atthohir karena beliau dilahirkan dalam Islam ada juga yang menjuluki dengan atau at-thohir ghoiru aththoyyib dan sebagian ulama menshahihkan julukan tersebut.

Kemudian lahir Ibrahim rodhiyallahu ‘anhu dari Mariyah Al-Qibthiyyah Rasulullah dikaruniakan Ibrahim ini di kota Madinah pada tahun ke-8 Hijriyah kemudian Ibrahim rodhiyallahu ‘anhu wafat di usia satu (1) tahun sepuluh (10) bulan. Karena hal inilah Rasulullah bersabda bahwasanya Ibrahim rodhiyallahu ‘anhu di surga memiliki bidadari yang menyusuinya.

Semua anak Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam meninggal mendahului Nabi Muhammad, kecuali Fatimah radhiyallahu ‘anha. Fatimah meninggal tidak lama setelah Nabi Muhammad. Ada yang mengatakan setelah enam (6) bulan ini pendapat yang paling terkenal, ada juga yang mengatakan setelah delapan (8) bulan, ada juga yang mengatakan setelah tujuh puluh (70) hari, ada juga yang mengatakan setelah 75 hari, ada juga yang mengatakan setelah tiga (3) bulan, ada juga yang mengatakan setelah seratus (100) hari, dan ada juga yang mengatakan selain itu semua.

Fatimah rodhiyallahu ‘anha dishalatkan /diimami oleh Ali bin Abi Thalib rodhiyallahu ‘anhu namun ada juga yang mengatakan oleh Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu, namun ini adalah pendapat yang asing janggal

Dan disebutkan hadits bahwasanya Fatimah radhiyallahu ‘anha memandikan dirinya sendiri sebelum datangnya kematian lalu beliau radhiallahu anha mewasiatkan kepada orang yang ada dekatnya agar beliau tidak usah dimandikan lagi setelah kematiannya dan ini pendapat yang sangat aneh sekali.

Karena telah diriwayatkan bahwasanya Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhu dan Al-‘Abbas rodhiyallahu ‘anhu dan Asma’ binti ‘Umais rodhiyallahu ‘anhu istri  Abu bakar as-Shiddiq dan Salma ummu Rafi’ rodhiyallahu ‘anhu mereka semua memandikan Fatimah rodhiyallahu ‘anha dan ini adalah riwayat yang shahih.

Categories
Dakwah

Kewajiban Ulama Muslimin Menghadapi Peristiwa Musibah Yang Mendiami Dunia Islam

  • Soal dan Jawab Samahatu Asy-Syaikh Al-‘Allamah ‘Abdulaziz bin ‘Abdillah bin Baz rohimahullah.

Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/842/%D9%88%D8%A7%D8%AC%D8%A8-%D8%A7%D9%84%D8%B9%D9%84%D9%85%D8%A7%D8%A1-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B3%D9%84%D9%85%D9%8A%D9%86-%D8%AA%D8%AC%D8%A7%D9%87-%D8%A7%D9%84%D9%86%D9%83%D8%A8%D8%A7%D8%AA-%D8%A7%D9%84%D8%AA%D9%8A-%D8%AD%D9%84%D8%AA-%D8%A8%D8%A7%D9%84%D8%B9%D8%A7%D9%84%D9%85-%D8%A7%D9%84%D8%A7%D8%B3%D9%84%D8%A7%D9%85%D9%8A

Soal: Apakah yang wajib atas ulama terkait bencana dan musibah yang ada di dunia islam?

Jawab: Hal yang tidak diragukan dalam hal musibah ini, bahwasanya maksiat-maksiat dan keadaan jauh dari ‘aqidah yang benar ucapan maupun perbuatan itu termasuk sebab terpenting yang bisa memunculkan/membuat musibah bencana dan krisis senantiasa eksis di dunia islam.

Allah yang agung kemuliaan-Nya berfirman: مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ [النساء:79]

Allah berfirman: وَمَا أَصَابَكُمْْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ [الشورى:30]

Allah yang Maha Agung, Maha Lembut kepada hamba-Nya, Maha Pengampun, Maha Menyayangi, mengirimkan kepada mereka ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran-Nya, mukjizat) dan juga peringatan. Mudah-mudahan mereka akan kembali kepada Allah dengan tujuan Allah menerima taubat mereka.

Jika hamba-Nya mendekat kepada Allah sejarak satu hasta maka Allah akan mendekat kepada hamba-Nya semarak satu tangan. Karena Ia-lah Sang Maha Tinggi, menyukai dari hamba-Nya perbuatan bertaubat dan Allah bergembira dengan taubat hamba-Nya. Dan Dia-lah yang Maha Agung, Maha Tinggi, Tidak Membutuhkan apapun dari hamba-Nya. Ketaatan hamba tidak memberikan keuntungan kepada-Nya, dan maksiatnya pendurhaka tidak akan merugikan-Nya. Akan tetapi Ialah satu-satunya yang Maha Welas Asih, Maha Menyayangi, Ia juga yang memberikan taufiq kepada mereka untuk bergerak taat dan meninggalkan maksiat.

Mudah-mudahan mereka ruju‘ kepada-Nya agar Allah memberi taubat atas mereka. Apabila seorang hamba mendekati Allah satu hasta maka Allah mendekat sepanjang tangan. Karena Allah mencintai taubat dari hamba-Nya dan senang karenanya.

Dan Allah Yang Maha Agung, Maha Kaya Tidak Butuh kepada makhluk, tidak akan memberikan manfaat kepada-Nya dari ketaatan makhluk dan kemaksiatan milyaran dari mereka pun tidak tidak membahayakan-Nya. Akan tetapi Dialah Allah yang memberikan kepada hamba-Nya Maha Lembut dan Maha Menyayangi dan Hanya Dialah yang memberikan taufiq kepada mereka untuk mengerjakan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan.

Krisis demi krisis, dan musibah demi musibah tidaklah dia terjadi kecuali peringatan untuk hamba-Nya agar mereka kembali kepada Allah, apa yang menimpa hamba Allah jadikan ujian untuk mereka. Allah berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ * أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ [البقرة:155-157]

Allah berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِيي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [الروم:41]

Allah berfirman :

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ [الأنبياء:35]

Allah berfirman :

وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [الأعراف:168]

Ayat-ayat yang bermakna ini sangat banyak.

Wajib atas pemimpin kaum muslimin dari ‘ulama dan pemimpin pemerintahan dan selain mereka untuk memberikan perhatian ke dalam semua kriaia-kriais yang awet atau musibah yang terjadi, mengingatkan manusia akan dosa mereka dan menerangkan semua yang terjadi diserahkannya. Seharusnyalah pemimpin pemerintahan adalah orang yang berilmu agama, dan para penguasa adalah teladan yang bagus dalam praktek amal saleh, dan mencari apa penyebab terjadinya kemurkaan Allah. Adapun obatnya adalah taubat dan istighfar dan membenarkan orientasi hidup. Adapun umat masyarakat sekadar mengikuti mereka.

Karena petunjuk dari ulama dan hikmah dari penguasa dan baik-benarnya mereka berdua adalah termasuk faktor terpenting yang memberikan pengaruh baik di jantung rakyat. Ingatlah hadits: ( كلكم راع وكل مسئول عن رعيته)

وإذا استمرأ المسلمون المعاصي ولم ينكرها من بيده الأمر والحل والعقد، يوشك أن يعم الله الأمة بغضب منه، وإذا وقع غضب الله وحلت نقمته، فإن ذلك يشمل المحسن والمسيء، عياذا بالله من ذلك، قال تعالى: وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً الآية [الأنفال:25]. وقال ﷺ: إنن الناس إذا رأوا المنكر فلم يغيروه أوشك الله أن يعمهم بعقابه رواه الإمام أحمد في مسنده عن أبي بكر الصديق. وقال الله سبحانه: إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ [الرعد:11].

Maka bila tak henti kaum muslimin berbuat maksiat dan tidak pernah mengingkarinya orang yang punya kekuatan menindak, dan begitu pula para penasihat orang-orang yang dituakan di kamis tersebut, maka sangat ditakutkan Allah akan luaskan kemarahan-Nya. Dan jikalau Kemarahan Allah sudah terjadi, maka itu luas terkena kepada orang yang berbuat kebaikan dan juga yang berbuat kerusakan. Na’udzubillahi min dzaalik. Allah berfirman :

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً الآية [الأنفال:25]

Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: (إنن الناس إذا رأوا المنكر فلم يغيروه أوشك الله أن يعمهم بعقابه) Sesungguhnya manusia, jika mereka melihat kemunkaran tapi tidak berbuat untuk mengubahnya maka sangat dikhawatirkan Allah akan memasukkan mereka ke dalam hukuman-Nya. (HR Ahmad dari Abu Bakar). Allah berfirman: ( إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ).

Dan atas ‘ulama ada kewajiban, ada tanggung jawab yang luar biasa besar di depan Allah untuk mengajarkan dan memberikan petunjuk kepada manusia. Menjelaskan yang benarnya dan salah-salah yang mendominasi. Dan menjelaskan sisi yang bermanfaat dari berbagai bahaya yang sangat banyak (namun tidak bisa difahami mereka).

Kami meminta kepada Allah, semoga Allah memberikan taufiq kepada kaum muslimin semuanya agar mereka mentaati pencipta mereka, pemberi rezeki mereka, pengatur kehidupan mereka, dan pemilik mereka semua, dan juga berpegang kuat teguh kepada petunjuk Nabi mereka -Muhammad Shollallahu ‘alaihi wasallam-, dan semoga Allah memberi petunjuk kepada pemimpin-pemimpin mereka, dan memberikan bashiroh kepada ulama agar bisa melihat jalan yang di atas petunjuk sehingga mereka bisa melangkah di atasnya dan kemudian mengarahkan umat ke sana. Dan semoga Allah memberikan hidayah kepada muslim yang sedang tersesat dan juga membuat baik keadaan mereka. Sesungguhnya Allah-lah yang memiliki itu semua dan Maha Mampu untuk merealisasikannya.

Penerjemah : Admin Blog bahasadhodh.wordpress.com

Categories
Maisyah Qowaid Fiqhiyyah

Kaidah Jika seorang sudah menunaikan tugasnya maka dia berhak atas upah yang dijanjikan .

  • Asal: Al-Qowa’id wal Ushul Al-Jami’ah
  • Penulis: Asy-Syaikh ‘Abdurrohman bin Nashir As-Si’diy rohimahullah.
  • Pemberi ta’liq : Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rohimahullah.

Ucapan Pemberi Ta’liq adalah sesuai matan penulis kitab namun ada perubahan kata dengan konteks yang sama.

Kaidah ini melingkupi (1) pekerjaan, dan (2) pertukaran barang. Maka seorang juragan berhak atas pekerjaannya pekerja. Dan yang mengambil pekerjaan kalau mengerjakan pekerjaan tersebut dan menyempurnakannya maka ia berhak mengambil upah yang sudah ditentukan, atau hadiah sayembara (ju’aalah جعالة) yang sudah ditentukan. Tapi kalau dia tidak konsekuen dengan kewajibannya maka tidak berhak dari hadiah sayembara sedikitpun.

Adapun kalau dalam akad sewa, jika dia (yang disewa) meninggalkan sisa pekerjaannya tanpa ada udzur maka juga tidak berhak mendapat apapun. Namun jika ada ‘udzur maka berhak dapat upah sewa sesuai kadar yang dia tuntaskan. Demikian pula jika rusak barang yang disewakan. Yakni: pemilik barang berhak mendapatkan uang sewa sesuai kadar penyewa mendapat manfaatnya.

Contoh: ada seorang menyewa mobil untuk mengantarkan dia ke Mekkah tapi kemudian mobil terbakar. Atau dia ingin menyewa rumah untuk ditempati selama satu tahun tapi kemudian rumahnya roboh. Kerusakan itu terjadi namun ada ‘udzur maka pemilik rumah dan mobil berhak mendapat uang sewa sesuai kadar penggunaannya.

Masuk ke dalam cabang kaidah ini, misalkan ada syarat untuk mendapatkan suatu wasiat atau wakaf atau lainnya adalah bagi siapa yang melakukan pekerjaan tertentu seperti mengimami solat atau adzan atau mengajar atau amalan apapun. Maka kapan ia mengerjakan itu maka ia berhak mendapat upah yang sudah ditentukan.

Dengan alasan itu, masalah gaji, seorang karyawan tidak berhak mendapat gaji full kecuali bila dia bekerja full. Lantas bila ia ada cacat/kurang dalam memenuhi pekerjaan maka dia berhak menerima selisih yang muncul karena tidak sempurna kerjanya dia.

Dan sangat disayangkan sekarang banyak karyawan tidak memenuhi apa yang harus dia penuhi entah perkara waktu, atau di perkara pekerjaannya. Dalam hal waktu seperti dia tidak datang kecuali sudah melewati jadwal yang tidak diizinkan. Atau dia pulang sebelum selesai waktu kerja.

Adapun cacat dalam pekerjaannya seperti dia duduk di kursinya namun dia tidak sungguh dan memberi perhatian ke pekerjaannya. Dia membaca koran, atau mengobrol di telepon dan tidak peduli pekerjaannya. Mereka ini tidak berhak gaji full dan tidak berhak dari gaji kecuali sesuai kadar dia menunaikan pekerjaannya. Maka di atas tindakan tadi, apa yang dia makan dan dia minum dari gaji yang tidak berhak dia dapat menjadi haram kelak akan diminta pertanggungjawaban.

Dan telah kondang di pemahaman sebagian orang bahwa harta negara adalah mubah. Mereka bilang: karena harta itu tidak ada pemilik jelasnya. Maka atas sangkaan itu diberi jawaban: Sesungguhnya harta negara itu adalah milik baitul mal yang mana seluruh orang berhak atas harta di dalamnya. Maka anda jika merugikan harta tersebut, maka engkau merugikan seluruh orang yang berhak atas harta baitul mal tersebut.

Penerjemah: admin bahasadhodh.wordpress.com

Categories
Aqidah Siroh

Bagaimana diciptakannya Adam ‘alaihi as-salam

Allah sudah memberitahu kita di Al-Qur’an yang Mulia tentang bagaimana Allah menciptakan Adam Alaihis salam. Ringkasan dari kandungan ayat-ayat tersebut adalah Allah menciptakan Adam dari tanah, lalu Allah ubah menjadi tanah yang basah, kemudian Allah ‘azza wajalla menciptakan semua bentuk Adam dengan kedua tangan-Nya subhanahu wa ta’ala. Allah berfirman:

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَي

Dan tidak diragukan benar-benar sudah datang banyak hadits untuk menerangkan cara Allah ‘azza wajalla menciptakan Adam ‘alaihis salam. Sebagian hadits tersebut ada yang shahih dan sebagiannya dha’if. Imam Ahmad meriwayatkan di Al-Musnad dari Abu Musa -rodhiyallahu ‘anhu, dari Sang Nabi -shollallahu alaihi wasallam- beliau bersabda : “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari segenggam tanah yang Allah ambil dari semua bagian bumi. Sehingga hadirlah anak-anak Adam sesuai kadar tanahnya. Jadilah ada yang berwarna putih, merah, hitam, dan di antara itu, ada yang jelek dan baiknya, yang pembawaannya gembira dan ada yang pembawaannya sedih dan yang di antaranya. (Diriwayatkan Abu Daud, At-Turmuzi, selain keduanya dan telah disahihkan oleh Suamiku Al-Albani -dinikahinya).

Imam Muslim meriwayatkan dari Anas rodhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda: ketika Allah sudah selesai membentuk Adam di jannah, Allah biarkan Adam. Lalu Iblis mengitari dan melihat bagaimana Adam ini. tatkala dia lihat bahwa Adam berongga langsung dia tahu bahwa Allah telah menciptakan makhluk yang tidak bisa menguasai hawa nafsunya. Dan Bukhari meriwayatkan dari Abu Bergairah bahwa Nabi bersabda: “Allah menciptakan Adam, tingginya 60 hasta.” Setelah selesai Allah menciptakan jasad Adam dengan bentuk tadi, menyempurnakannya , dan meniupkan ruh ke dalamnya. Itu semua sebagaimana Allah katakan: “فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ”

Setelah Allah ciptakan Adam, Allah ciptakan Hawa (حواء) dari bagian tubuh Adam. Sebagaimana firman Allah: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا“. Nabi menjelaskan perkara ini: Berikanlah wasiat kepada kaum wanita, sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk, sesungguhnya rusuk yang paling bengkok adalah paling atasnya, jika engkau luruskan maka patah, jika kamu biarkan akan tetap bengkok. Maka berwasiatlah kepada wanita. Hadits riwayat Bukhari. Ibnu Hajar berkata terkait ucapan “diciptakan dari tulang rusuk…”: ada yang berkata bahwa “ini isyarat bahwa Hawa diciptakan dari rusuk kiri Adam”. Ada lagi yang berkata: “dari rusuk yang paling pendek”.

Categories
Al Ushul Al Tsalatsah Aqidah Dakwah

Siapa yang mentaati Rasul dan mentauhidkan Allah tidak boleh dia memberikan ‘wala’ kepada siapa yang memusuhi Rasul-Nya meskipun dia orang terdekat yang paling dekat.

Ithaful Qori hal. 44

Penulis Al Ushul Ats Tsalatsah berkata :

Bahwa, siapa saja yang mentaati Rasulullah dan mentauhidkan Allah , maka tidak boleh dia memberikan wala kepada orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya meskipun orang itu adalah kerabat yang paling dekat.

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :

(لا تجد قوما يؤمنون بالله واليوم الأخر يوآدون من حآد الله ورسوله ولو كانوا ءابآءهم أو أبنآءهم أو إخونهم أو عشيرتهم. أولئك كتب في قلوبهم الإيمن وأيدهم بروح منه، ويدخلهم جنت تجرى من تحتها الأنهر خلدين فيها، رضي الله عنهم ورضوا عنه، أولئك حزب الله، ألآ إن حزب الله هم المفلحون) {المجادلة:٢٢}

PENJELASAN (Asy-Syaikh ‘Ubaid bin Abdillahn bin Sulaiman al-Jabiri Hafizhohullah)

Ini adalah salah satu kaidah agama terbesar karena kandungannya kaidah al wala’ wal baro’.

  • Al-wala’: semua bentuk cinta karena Allah dan saling menolong di dalamnya.
  • Al-baro’: adalah membenci karena Allah dan memusuhi karena benci tersebut.

Penulis berkata di karyanya yang lain:

Dasar agama agama dan kaidahnya adalah dua hal:

(1) Perintah beribadah semata-mata kepada Allah, menghasung itu, meletakkan wala di atas itu, dan menghadirkan juga karena itu.

(2) Perkara kedua, pelarangan dari melakukan syirik dalam mengibadahi Allah, menyikapi dengan keras karena kesyirikan, memusuhi , mengkafirkan siapa yang melakukan kesyirikan .

Ithaful Qori hal. 45

Perkataan penulis: Siapapun yang mentaati Allah dan mentauhidkan-Nya…

Penjelasan Suamiku ‘Ubaid –hafizhohullah:

Ibadah tidak dinamakan ibadah -dalam terminologi yang benar- sampai terkumpul kedua perkara berikut: (1) Mentaati perintah Rasul, dan (2) mentauhidkan Allah.

Perkataan Penulis : Tidak boleh untuk dia mempersembahkan wala kepada siapapun yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya.

Muwaalaah adalah masdar (kata benda) dari kata kerja waalaa , adapun waalaa (والى) terjemahannya adalah: 1. mendukung , mengokohkan , mengukuhkan , menyiagakan , memperjuangkan , memenangkan ; 2. melanjutkan , mengikuti , meneruskan (sumber: Aplikasi Kamus Arab Indonesia terbitan Ristek Muslim).

Secara istilah muwaalaah adalah: bentuk cinta, bentuk pertolongan karena Allah. Juga bermakna memberikan rasa mawaddah (kasih sayang, persahabatan, cinta kasih, perasaan selaras harmonis antara dua orang atau lebih muncul itu dari kontak sosial / masyarakat yang bersifat sentimental , emosional , penuh kasih , romantis , mengharukan , menyentuh , menyedihkan yang berketetapan), karena cinta karena Allah dan benci karena Allah adalah salah satu bagian dari kesempurnaan iman.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapapun yang mencintai karena Allah, dan membenci karena Allah dan memberikan sesuatu karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka telah sempurnakan iman-Nya” (Abu Dawud 4681 dan dishahihkan Al-Albani di Shohih Al-Jami’ 5965)

Ithaful Qori hal. 46
Ithaful Qori hal. 47
Ithaful Qori hal. 48
Ithaful Qori hal. 49
Categories
Bahrur Roiq Dakwah Orang tua

Tugas Rasul


(1) Yang paling utama, nomor satu adalah bahwa beliau adalah sebagai saksi. Apakah saksi yang memberikan bantuan ; meringankan ; pertolongan berpihak kepadanya disebabkan seorang hamba ketika di dunia selalu beramal soleh mengamalkan sunnah-sunnah beliau dan syariat Allah yang beliau diutus untuk itu, atau saksi yang memberatkan; menuntut dia; tidak memberikan jalan keluar dengan sebab dia meninggalkan ketaatan dan tidak melakukan ketaatan.
(2) Ia seorang yang banyak memberikan berita yang menggembirakan berupa pahala, surga dan nikmat-nikmatnya bagi siapa pun yang mentaati beliau . Dan ia orang yang banyak menyampaikan peringatan akan kepedihan siksa derita bagi siapa saja yang tidak mentaati beliau.
(3) Menghukumi di antara manusia. Menjadi pemutus perkara di antara orang yang berselisih.
(4) Mengajarkan manusia syariat-syariat Allah ‘azza wa jalla.

Sumber: Ithaful Qori Syarah Ats-Tsalatu Al-Ushul li Asy-Syaikh ‘Ubaid bin ‘Abdillah bin Sulaiman al-Jabiri hafizhohullah.

Ditulis:

Categories
Adab dan Akhlak Dakwah Orang tua Pesantren

Adab Da’i

Pada kitab Ithaful Qori li Syarhi Tsalatsatil Ushul, asy Syaikh ‘Ubaid bin ‘Abdillah bin Sulaiman al-Jabiri mengajarkan beberapa adab untuk orang yang mengajak kepada agama Allah:
(1) Keinginan yang kuat (Hirsh) agar manusia mendapat petunjuk ke jalan yang lurus.
(2) Lembut, pergaulan yang elok (Rifq), karena rifq tidaklah dia mensifati sesuatu pasti menjadi indah, dan jika hilang maka menjadi memalukan, menjatuhkan kehormatan orang tersebut.
(3) (Hikmah) Bijaksana di atas ilmu, menempatkan suatu sesuai tempatnya, sesuai dengan maqoshid asy-syari’ah.
(4) Al-Mau’izhoh Hasanah : Nasihat yang baik. Mengingatkan kepada akhlak yang baik, amalan soleh, ketakwaan. Apakah dengan mengingatkan nikmat-nikmat pahala-pahala surga, atau dengan ketakutan azab siksa neraka.
(5) Berdebat, mendebat kesalahan pihak lain dengan metode paling elok. Karena ada syubhat maka ambil cara yang paling dekat kepada tercapainya kebenaran dengan hal yg paling kuat dan menancap di sanubarinya.
(6) Al-Fiqh. Yakni keilmuan dia tentang apa pun yg perintah dan dilarang Allah dan Rasul-Nya.
(7) Menjelaskan Al-Haq untuk kebaikan manusia. Dan mendorong manusia untuk mengambil al-haq -di atas dalil-dalil.
(8) Tidak membawa jiwanya ke dalam penyesalan disebabkan orang tidak menyambut petunjuk Allah. Ini juga hal yang dilarang Allah kepada Nabi-Nya.
(9) Sedia menentang syubhat pengikut kebatilan dan pengikut hawa nafsu, membantahnya dengan uslub yg kuat, dan memperingatkan manusia agar berjauh-jauh dari mereka. Demikianlah yang Nabi shollallahu alaihi wasallam praktekkan.

Penerjemah : Wallahu a’lam jika ada kekeliruan tolong beritahu 🙏

Categories
Adab dan Akhlak Pesantren

Guruku menasihatiku

Untuk mengawali belajar dengan niat yang benar.

Untuk mengambil ilmu dengan penuh adab. Adab di hadapan guru dan begitupula adab di hadapan ilmu.

Untuk mengambil ilmu secara bertahap. Beliau memperingatkan agar tidak menyelisihi ini. Agar selamat dari kebodohan. Siapa yang ambil atas tanpa didahului dasar maka tidak akan paham yang tinggi. Dan tidak pula dapat yang rendahnya.

Arahan demi arahan ku terima, jazahumullah khairo, ku rasa kalian benar benar menginginkan kebaikan untuk ku. Beliau meluruskan cara belajar sisi yang lain :

  1. Awali dengan menghafal Al-Qur’an dan Sunnah jalani tanpa ada habisnya hingga maut menjemput.
  2. Ikutkan selanjutnya dengan menghafal mutun yg asasi di masing-masing bidang ilmu.
  3. Isi pengetahuan bidang ilmu yg ingin dikuasai secara rinci dan bidang2x lainnya Secara global jangan ditinggal.

Kemarin beliau menasihatkan bahwa Allah memilih hambaNya yang mana untuk mengemban dakwah agama ini. Kita tidak tahu siapa. Namun tidak mesti orang yang cerdas jenius, bisa saja pada orang yang mungkin lambat dalam belajarnya namun ternyata ia bertakwa, bersih hatinya, sungguh-sungguh , jujur ?