Categories
Orang tua Pesantren

Pondok Pesantren Lembaga Pendidikan Terbaik (blm selesai)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman di Al Quran surat az-zariyat ayat 56

وما خلقت الجن والانس الا ليعبدون

Yang artinya Tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka mengiba dahi saya Sehun Islam Ibnu Taimiyah mendefinisikan ibadah dengan penamaan untuk semua yang Allah cintai dan Ridho ucapan maupun perbuatan nampak maupun tersembunyi ayat diatas dengan susunan diawali penafian dan disusul dengan penetapan sehingga makna penekanan sangat tinggi sehingga harus lah anak keturunan Adam menjadikan ibadah kepada Allah sebagai prioritas utama dalam hidupnya kemudian sebagaimana ibadah adalah tujuan diciptakan manusia maka kita haruslah mengetahui apa dan bagaimana hakikat ibadah Hal apa yang Allah cintai dan ridhoi Bagaimana kapan di mana dan pertanyaan lainnya Syekh Abdurrahman Bin nashir as-sa’di menjelaskan dua hadits dan hadits Aisyah tentang amalan yang ditolak dua hadis ini masuk ke seluruh sendi agama Islam aqidah maupun fiqihnya yang nampaknya maupun tersembunyinya hadits tentang niat adalah timbangan amalan-amalan yang tersembunyi dan hadits Aisyah timbangan amalan yang nampak di keduanya terkandung ikhlas kepada yang diibadahi dan ikut kepada rasul yang keduanya adalah syarat maka siapa yang memenuhi itu maka itulah yang amalnya diterima demi merealisasikan itu semua jalannya adalah mempelajari ilmu nya Allah berfirman

فاعلم انه لا اله الا الله واستغفر لذنبك

Yang artinya maka ketahuilah bahwa tidak ada rok yang haq untuk disembah kecuali Allah dan Mintalah ampunan untuk semua dosamu di ayat tersebut Allah Azza wa Jalla memulai dengan kalimat perintah yang maknanya perintah untuk mempelajari Syekh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah berkata yang artinya ketahuilah Semoga Allah merahmati kamu bahwasanya wajib kepada semua muslim dan muslimah mempelajari tiga perkara ini dan mengamalkannya Kenapakah datang banyak perintah untuk belajar di al-quran hadis dan Ucapan salam hingga zaman ini hal itu adalah karena semua manusia dari lahir dalam keadaan bodoh Allah Azza wa Jalla berfirman

والله اخرجكم من بطون امهاتكم لا تعلمون شيئا وجعل لكم السمع والابصار والافئده لعلكم تشكرون

Halo mengeluarkan kalian semua dari perut ibumu ibumu dalam keadaan kalian tidak tahu apa-apa dan Allah ciptakan untuk kalian pendengaran penglihatan dan akal Agar kalian bersyukur Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam diperintahkan belajar ayat pertama yang turun

اقرا باسم ربك الذي خلق

Bacalah hal ini menunjukkan semua manusia mendapat ilmu dengan jalan belajar tidak ada pengecualian

Para pembaca yang Semoga Allah rahmati semuanya Setiap anak memiliki hak untuk diajarkan ilmu agama dan itu menjadi kewajiban atas orang tuanya Ibnul qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa Allah akan bertanya kepada orang tua untuk perihal hak hak anaknya sebelum Asia nak ditanya atas hak orang tuanya sebagaimana Bapak Ibu memiliki hak atas anaknya begitu juga anak memiliki hak atas orang tuanya Allah berfirman

Yang artinya Wahai orang-orang yang beriman Lindungilah diri kamu dan keluarga kamu dari api neraka Ali Bin Abi Thalib radhiallahu Anhu mentafsirkan ajari mereka ilmu agama ajarkan adab kepada mereka Ibnul qayyim rahimahullah berkata maka Kapan orang tua lalai dari mendidik anaknya apa yang bermanfaat untuk si anak mengabaikan tanpa ada perhatian berarti orang tua sudah berbuat jelek pada anak dengan kejelekan yang puncaknya kebanyakan anak itu datang kejelekannya dari sisi Bapak karena kelalaian mendidik di agama kewajiban dan sunnahnya orang tua menyia-nyiakan anak di usia kecil sampai-sampai anak itu tidak bisa memberi manfaat untuk dirinya sendiri dan tidak juga kau orang tuanya di umur dewasa hingga sang anak berkata Wahai Ayahku engkau tidak memberi aku ketika kecil maka aku tidak memberi hak mu ketika dewasa kau tidak peduli padaku di saat kecil sekarang saya tidak peduli padamu saat engkau sudah renta.

Pembaca yang Allah rahmati belajar ilmu agama adalah jalan nya orang Mulia Allah mengabadikan kisah Nabi Musa menuntut ilmu kepada Qadir Allah Azza wa Jalla berfirman

Syekh Muhammad bin Shalih Al utsaimin menjelaskan bahwa Musa Alaihissalam lebih utama dari Khidir akan tetapi beliau tetap belajar melembutkan dihadapan gurunya orang lainnya karena Qodir akan memberikan ilmu atau mengusahakan mengambil ilmu yang ia tidak tahu.

Jika kita sudah mengetahui kuota main belajar ilmu agama maka Kapan dan di manakah yang dimulai maka jawabannya dibagi dua secara hakikat belajar sejatinya anak mulai belajar sejak Ia memiliki pendengaran yakni sejak di dalam kandungan ibunya Adapun dari sisi persiapan maka lebih awal lagi yakni sejak Sang Bapak memilih calon ibu buat si anak oleh karena itulah Rasulullah memerintahkan untuk melihat kebaikan agama sebagai faktor utama dalam memilih atau menikahi wanita.

Seorang anak awal mula belajar adalah di rumah kepada bapaknya Ibunya dan lainnya dari anggota keluarga menghafal al-quran di kenalkan iman Islam kisah dari Alquran dan hadis demikian teladan generasi terdahulu hingga sekarang Imam Syafi’i kecil di didik ibunya hingga Alquran ketika berumur 7 tahun setelah baik ilmu dan hafalan al-qur’an kalau udah mulai belajar menulis dan belajar mencari ilmu di luar rumah kapan mulai belajar di luar rumah ini diperselisihkan umur minimalnya meriwayatkan bahwa Ahmad bin Rabah radhiallahu Anhu mulai memahami pengajaran Nabi waktu itu beliau 5 tahun.

Sekolah umum atau pesantren?

Berbicara mengenai pendidikan di luar rumah maka dalam konteks Indonesia secara umum terdapat dua model Madrasah pertama sekolah umum yang pengajarannya mengacu kepada kurikulum dari pemerintah kedua pesantren yang mengembangkan sendiri program belajarnya satu dengan yang lainnya berbeda ada kurang dan teknis pengajaran akan tetapi semua Pesantren sama pada lima hal yang menjadi ciri khasnya.

Kekhasan pesantren yang pertama adalah kumparan dan Kyai Ia adalah sosok yang biasanya selain pendiri pesantren yang memberi pengajaran agama pada masyarakat hampir semua Pesantren awalnya adalah majelis pelajaran agama rutin dilakukan di tengah masyarakat dan kemudian berkembang dari bawah ini kecil disebabkan kebutuhan yang benar seorang Kyai adalah pusat yang menata itu semua.

Kekhasan kedua adalah keberadaan masjid karena ini adalah tempat utama di mana salat jama’ah majelis pengajaran diselenggarakan bahkan di masjid pula murid tinggal ketika Pesantren malu memiliki asrama.

Kekerasan ketiga adalah adanya pondok atau asrama untuk menginap tempat tinggal santri yang datang dari tempat yang jauh atau dekat namun memilih hidup di asrama di asrama lah para pelajar belajar kemandirian bersosialisasi dan belajar mengulang hafalan dan pelajaran.

Kekhasan 4 pelajaran menggunakan kitab klasik berbahasa Arab dan yang kelima adalah santri yang 24jam hidupnya padat dengan kegiatan belajar dan mengamalkan ilmu sejak bangun subuh hingga tidur Isya.

Belajar di masjid adalah sesuai hadis yang diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi Abu Isa

(belum selesai)

Categories
Adab dan Akhlak Pesantren

Ilmu ada bertingkat-tingkat, jalur, dan urutan

Belajar ilmu agama adalah hal yang mulia sekali. Biasanya yang masuk ke dalam medan ini orang-orang yang menginginkan memperbaiki dirinya kemudian memperbaiki orang lain setelahnya. Ilmu ini adalah yang disifatkan sebagai warisan para nabi. Karena nabi tidak mewariskan uang. Dengan ilmu agama Allah angkat sebagian kaum dari lainnya. Dengan ilmu agama ini yang bersesuaian dengan petunjuk nabawiyyah lah Allah diibabadahi. Dari awal sampai ujungnya tidak ada aib di dalamnya. Dari awal sampai ujungnya mengandung keberkahan. Dari awal sampai ujungnya tidak bisa ditandingi oleh ilmu manapun.

Dengan sifat-sifat ilmu agama yang mewah tadi menjadi magnet yang luar biasa menarik bagi hamba-hamba Allah yang ingin mengambilnya. Mereka tahu bagaimana kedudukan pemilik ilmu tersebut dari kalangan sahabat Nabi, tabi’in, tabiut tabi’in yang mulia di dunia dan janji mulia di akhirat.

Akan tetapi mungkin penting untuk diulang-ulang nasihat ini, terutama lagi di zaman kita hidup atau sebagian lahir di zaman banyak hal instan, jalan pintas, akselerasi dan sebagainya. Mungkin tidak disadari nilai instan itu sudah masuk menjadi kebiasaan dan cara pandang biasa. Ditambah menjadi bias keberadaan tukang khutbah yang terkenal di media, jalan pintas. Seakan hal yang instan itu normal, standar, tidak ada yang aneh menyimpang.

Ibnu ‘Abdil Barr An-Namri Al-Qurthubi rohimahullah berkata:

طلب العلم درجات ومناقل ورتب، لا ينبغي تعديها، ومن تعدها جملة؛ فقد تعدى سبيل السلف -رحمهم الله- ومن تعدى سبيلهم عامدًا؛ ضل، ومن تعداه مُجتهدًا؛ زل

Menuntut ilmu itu bertingkat-tingkat, jalur, dan urutannya. Tidak sepantasnya keluar dari batasan itu. Siapa yang keluar dari batas seluruhnya maka dia keluar dari jalan salaf rohimahumullah, dan siapa yang melanggar keluar dari jalan itu sengaja, dia sesat, dan siapa yang keluar dari jalan itu berangkat dari ijtihadnya, dia pasti tergelincir.
Gambar ini hanyalah ilustrasi untuk memvisualkan apa itu مَنَاقِلٌ / jalur, bahkan ilmu bukanlah seperti barang yang dimasukkan ke dalam kardus.

Oleh karena itu jika kita renungkan wasiat dari Imam Ibnu Abdil Barr tersebut, tidak boleh seorang menuntut ilmu dengan semaunya karena tidak akan pernah mencapai tujuannya, bahkan dia tersesat atau tergelincir di tengah jalan tersebut. Siapa yang tidak kenal Ibnu Abdil Barr? Ia adalah imam besar, penulis kitab At-Tamhid dan Al-Istidzkar dua kitab fenomenal fantastis yang mengumpulkan ilmu yang kolosal, sangat banyak, ia mengumpulkan sanad-sanad sehingga tersambung riwayat Muwatho’ yang sanadnya dipaparkan tidak lengkap oleh Imam Malik, dan lainnya dari keagungan ulama robbani ini.

Kami mengetengahkan tentang ini bukan didasari hasil memata-matai orang lain. Akan tetapi ini berangkat dari suatu yang memang menimpa kami berupa ingin cepat melahap kitab-kitab yang lebih dan lebih. Ingin cepat-cepat menyelami lautan ilmu, ingin mengetahui rahasia-rahasia ilmu syari, kenikmatan yang ulama-ulama kita rasakan. Akan tetapi ternyata hal ini bukanlah jalan yang benar. Bahkan cara pandang yang berbahaya. Merugikan diri sendiri dan penyesalan di belakang hari. Jazahumullah khairo kepada para guru, kyai, dan masyayikh yang menasihati dan mengarahkan kami.

Bahkan jika kita pikirkan secara sederhana, tidak seharusnya kita berpikir untuk mengambil jalan pintas dalam ilmu syar’i. Bukan semata-mata untuk beradab di hadapan ilmu dan pemiliknya dan juga pemegangnya, meskipun itu semua hal yang sangat penting yang mempengaruhi berkah tidaknya ilmu yang kita pelajari. Akan tetapi ilmu ini adalah untuk diamalkan, untuk kemaslahatan diri kita sendiri. Secepat apapun, sebanyak apapun jalan pintas yang seorang tempuh selain pasti membuat dia salah jalan, itu juga pasti tidak akan pernah membuat dia mencapai ujungnya ilmu, karena ilmu ini lautan tak bertepi yang dalamnya tidak terdeteksi.

Categories
Nuzulul Qur'an Ushul fi Tafsir

Hikmah dari Turunnya Al-Qur’an secara berangsur -Ushul Fit Tafsir 008

Berangkat dari terbaginya Al-Qur’an menjadi Makkiy dan Madaniy, telah menjadi jelas bahwa Al-Qur’an turun kepada Nabi secara berangsur. Dan karena turunnya dengan cara demikian, ada hikmah-hikmah yang banyak. Di antaranya:

  1. Mengkuatkan, mengokohkan hati nabi shollallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini diambil dari firman Allah:
    وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْاٰنُ جُمْلَةً وَّاحِدَةً ۛ كَذٰلِكَ ۛ لِنُثَبِّتَ بِهٖ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنٰهُ تَرْتِيْلًا – ٣٢
    Dan orang-orang kafir berkata, “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” (Yakni: demikianlah kami turunkan Al-Qur’an secara berangur) Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan dan benar). (Al-Furqon [25]:32).
    وَلَا يَأْتُوْنَكَ بِمَثَلٍ اِلَّا جِئْنٰكَ بِالْحَقِّ وَاَحْسَنَ تَفْسِيْرًا ۗ – ٣٣
    Dan mereka (orang-orang kafir itu) tidak datang kepadamu (membawa) sesuatu yang aneh, (dengan tujuan menghalangi manusia dari jalan Allah) melainkan Kami datangkan kepadamu yang benar dan penjelasan yang paling baik. (Al-Furqon [25]:33).
  2. Untuk mempermudah umat dalam menghafal Al-Qur’an, memahaminya, dan mengamalkan di atas petunjuknya. Di mana Nabi membacakan kepada sahabat sedikit demi sedikit. Hal ini berdasarkan ayat:
    وَقُرْاٰنًا فَرَقْنٰهُ لِتَقْرَاَهٗ عَلَى النَّاسِ عَلٰى مُكْثٍ وَّنَزَّلْنٰهُ تَنْزِيْلًا – ١٠٦
    Dan Al-Qur’an (Kami turunkan) berangsur-angsur agar engkau (Muhammad) membacakannya kepada manusia perlahan-lahan dan Kami menurunkannya secara bertahap. (Al-Isro [17]:106).
  3. Menggiatkan keinginan jiwa untuk menerima ayat-ayat yang turun dari Al-Qur’an dan mempraktekkannya. Disebabkan para sahabat merindukan, sangat rindu dan menimbulkan kerinduan akan turunnya ayat. Terlebih lagi di saat semakin kuat-besar kebutuhan akan diturunkannya ayat Al-Qur’an sebagaimana sangat butuhnya mereka kepada ayat misalnya terkait peristiwa ifk dan li’an.
  4. Bertahapnya proses pensyari’atan hingga sampai tahap final sempurna. Sebagaimana pada ayat pengharaman khamr yang mana di zaman itu manusia hidup dengannya dan terbiasa dengannya, dan tentu saja hal yang sangat berat bagi para sahabat untuk dihadapkan dengan larangan total secara tiba-tiba.
    Maka turun di keadaannya ini, yang pertama adalah ayat:
    ۞ يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِۗ قُلْ فِيْهِمَآ اِثْمٌ كَبِيْرٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِۖ وَاِثْمُهُمَآ اَكْبَرُ مِنْ نَّفْعِهِمَاۗ
    Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya.” (Al Baqoroh [2]:219).
    Dan di ayat ini ada persiapan bagi jiwa-jiwa untuk menerima pengharaman khamr karena sesungguhnya logika akal menuntut untuk tidak melakukan suatu yang dosanya lebih besar dari pahalanya.

    Kemudian turun ayat yang kedua:
    اَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَقْرَبُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْتُمْ سُكَارٰى حَتّٰى تَعْلَمُوْا مَا تَقُوْلُوْنَ وَلَا جُنُبًا ٤٣
    Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati salat ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan, dan jangan pula (kamu hampiri masjid ketika kamu) dalam keadaan junub (An-Nisa [4]:43).

    Maka di ayat ini ada bentuk latihan pembiasaan untuk meninggalkan khamr di sebagian waktu, yakni waktu sholat. (Faidah dari Al-Ustadz Ahmad Sabiq, Lc Mudir di Ponpes Al-Furqon Sedayu, hafizhohullah: mempertimbangan durasi mabuk dan waktu pulih kesadaran, maka bisa diketahui secara umum hanya bisa minum khamr selepas sholat Isya dan selepas sholat subuh).

    Kemudian turun ayat ketiga:
    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ – ٩٠
    Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung. (Al-Maidah [5]:90)

    اِنَّمَا يُرِيْدُ الشَّيْطٰنُ اَنْ يُّوْقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاۤءَ فِى الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَعَنِ الصَّلٰوةِ فَهَلْ اَنْتُمْ مُّنْتَهُوْنَ – ٩١
    Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan salat, maka tidakkah kamu mau berhenti? (Al-Maidah [5]:91).

    وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاحْذَرُوْا ۚفَاِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوْٓا اَنَّمَا عَلٰى رَسُوْلِنَا الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ – ٩٢
    Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul serta berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat) dengan jelas. (Al-Maidah [5]:92).

    Maka adalah dengan ayat terakhir ini sudah dilarang dari minum khamr secara total di seluruh waktu. Dan ini (pent: pelarangan total) setelah hati-hati sudah siap, kemudian sudah diberikan latihan melalui pelarangan minum di sebagian waktu.

Terjemah Ushul Fit Tafsir lis Syaikh ‘Utsaimin rohimahullah