Categories
Adab dan Akhlak

Jangan Mengganggu Kaum Muslimin

Agama islam sempurna dari segala sisi. Allah ta’ala berfirman: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (Al-Maidah:3)

Allah dan Rasul-Nya sebagai pembuat syariat tidak meninggalkan sedikitpun kecuali sudah diberikan tuntunannya. Abu Dzar Al Ghifari menyebutkan: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kami (wafat), dan tidaklah seekor burung yang terbang membalik-balikkan kedua sayapnya di udara melainkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan ilmunya kepada kami.”

Berkata Abu Dzar Radhiyallahu anhu, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Tidaklah tertinggal sesuatu pun yang mendekatkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka melainkan telah dijelaskan semuanya kepada kalian.” (HR Thabrani & Ibnu Hibban, dishahihkan Al-Albani)

Termasuk dari bukti sempurnanya petunjuk agama adalah hadits Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam:
“Tidak boleh berbuat madharat dan hal yang menimbulkan madharat”. (HR. Ibnu Majah, Ahmad, Malik).

Sehingga tidak halal muslim membahayakan saudaranya yang muslim dengan ucapankah, perbuatankah, atau dia jadi sebab suatu bahaya entah dia mendapat manfaat atau tidak. Hal ini wajib untuk semua muslim berlaku umum pada semua keadaan, terlebih pihak yang punya hak secara khusus seperti saudara, tetangga, sahabat, dan seterusnya.

Maka haram mengganggu tetangga, meskipun dia mengganggu tetangga dari tanah atau rumah yang dia miliki, seperti menggeber motor kencang, menyetel radio atau televisi dengan suara kencang, dan lainnya. Demikian dilarang menutup jalan dengan jendela yang mepet ke jalanan, atau meletakkan penghalang jalan atau meletakkan kayu, batu, membuat lubang di jalanan, di pasar kecuali jika ada manfaat umum.

Abu Dawud mengeluarkan hadits yang shahih “Barangsiapa menimpakan madharat (keburukan) kepada orang lain maka Allah akan menimpakan madharat kepadanya” (Hadits nomor 3635 dari sahabat Malik bin Qois, dihasankan Al-Albani.

Riwayat Yang Datang Mengandung Lafaz “Mencegah Gangguan”

  • [Abu Sa’id AL Khudriy radliallahu ‘anhuma] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian duduk duduk di pinggir jalan”. Mereka bertanya: “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama“. Beliau bersabda: “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut“. Mereka bertanya: “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab: “Menundukkan pandangan, menyingkirkan halangan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahiy munkar” (Hadits Muttafaq ‘Alaih, Abu Dawud, Ahmad. Ini Redaksi Bukhari).
  • Pada riwayat Muslim dengan redaksi: para sahabat menjawab; ‘Apakah hak jalanan itu? ‘ Sabda beliau: ‘menjaga pandangan, menyingkirkan sesuatu yang berbahaya, menjawab salam (orang yang lewat), mengerjakan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar
  • Pada riwayat abu Dawud ada tambahan: dari [Ibnu Hujair Al Adawi] ia berkata, “Aku mendengar [Umar Ibnul Khaththab], dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kisah tersebut. Beliau bersabda: “Memberi pertolongan orang yang teraniaya dan memberi petunjuk orang yang tersesat.”

Dari satu contoh hadits yang mulia di atas penulis bisa menangkap

  1. Betapa besar perhatian Rasulullah agar terpenuhi hak pejalan kaki.
  2. Betapa Rasulullah bersungguh-sungguh agar umatnya tidak merugikan orang lain di mana pun bahkan di jalan.
  3. Lembutnya rasulullah menjawab pertanyaan sahabat dan juga dengan jawaban yang rinci detail.
  4. Menunjukkan bahwa islam syariat yang sempurna, hak pejalan kaki pun diperhatikan oleh syariat.
  5. Menunjukkan semangat sahabat untuk mendapatkan petunjuk.
  6. Menunjukkan besarnya hak pejalan kaki.
  7. Menunjukkan bahwa harus menjaga pandangan terlebih kepada orang yang sedang di luar rumah, mungkin angin kencang bertiup, atau baju yang basah karena terkena hujan, dan kewaspadaan musafir yang menurun karena letih sehingga orang yang duduk-duduk di jalan harus lebih sungguh-sungguh menahan pandangan dan tidak memanfaatkan kealpaan musafir.

Mengutip (https://ibnumajjah.com/2015/12/04/hak-hak-jalan/ penulis belum periksa ke sumber asli) beberapa poin adab-adab atau hak-hak jalan dari Ibnu Hajar:

  • Berkata yang baik. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Thalhah Radhiyallahu ‘anhu.
  • Memberi petunjuk jalan kepada musafir dan menjawab orang yang bersin jika dia bertahmid sebagaimana terkandung dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu.
  • Menolong orang yang kesusahan dan menunjukkan jalan bagi orang yang tersesat, sebagaimana tertuang dalam hadits Umar Radhiyallahu ‘anhu dalam riwayat Abu Dawud , demikian juga dalam Mursal Yahya bin Ya’mur dan dalam riwayat al Bazzar.
  • Menolong orang yang terzhalimi dan menebarkan salam, seperti dijelaskan dalam hadits al Barra’ Radhiyallahu ‘anhu dalam riwayat Ahmad dan At Tirmidzi.
  • Membantu orang yang membawa beban berat, sebagaimana tertuang dalam hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma dalam riwayat al Bazzar.
  • Banyak berdzikir kepada Allah, sebagaimana teriwayatkan dalam hadits Sahl bin Hanif Radhiyallahu ‘anhu dalam riwayat ath Thabarani.
  • Membimbing orang yang bingung, seperti yang terpaparkan dalam hadits Wahsyi bin Harb Radhiyallahu ‘anhu dalam riwayat Ath Thabarani.

Wallahu a’lam.

Penulis Magang Di Pesantren untuk Buletin Jum’at DKM Nurul Hidayah, Perumahan Reni Jaya, Depok.

Referensi: Syarah ibn Utsaimin ‘ala Al Qowaid wal Ushul Al Jamiah lis Si’di.

Categories
Sholat Jum'at

Bulan Rajab

Allah berfirman: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya” (QS. At-Taubah[9]: 36)

Diriwayatkan dari Abu Bakrah pada hadits yang Muttafaq ‘Alaih, bahwasanya Nabi –shollallahu ‘alaihi wasallam— bersabda: Sesungguhnya zaman itu terus berputar sama seperti saat Allah menciptakan langit dan bumi, setahun ada dua belas bulan, dan empat di antaranya adalah bulan-bulan haram, dan tiga di antaranya adalah bulan-bulan yang berurutan yaitu; Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab. Sedangkan bulan Rajab adalah bulan Mudhar, yaitu bulan ketujuh, yang terletak antara Jumadil Akhir dan Sya’ban.

Orang Arab Jahiliyyah khususnya dari Kabilah Mudhor yang terkenal sangat bengis dan kejam mereka sangat mengagungkan bulan rajab dan mencabut bagian runcingnya tombak karena merek berjauh-jauh dari keinginan berperang di bulan-bulan haram. Bahkan jika ada seorang laki bertemu sekelompok orang yang salah satunya membunuh bapaknya niscaya laki tersebut tidak meringkus orang tersebut, dan mereka menamakan bulan rajab dengan bulan haram.

Bulan haram yang empat itu adalah warisan dari syariat Nabi Ibrahim yang sangat dihormati oleh bangsa Arab Jahiliyyah. Kemudian keharaman bulan tersebut diteruskan oleh Islam karena itu termasuk empat bulan haram, akan tetapi ini bukan bermakna empat tersebut punya kekhususan dari yang lainnya.
Kata haram secara bahasa adalah yang dilarang. Ibu itu haram karena larangan menikahinya. Khamr haram karena terlarang meminumnya, mengambilnya, dan menjual belikannya. Masjidil haram karena larangan memburu hewannya dan menumpahkan darah di sana.

Qotadah dan Atho’ berkata: “Dahulu perang adalah dosa besar jika dilakukan pada bulan haram kemudian dihapus dan dihalalkan perang berdasarkan firman Allah: “perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”

IBADAH HANYA SAH JIKA BERDALILKAN AL-QUR’AN DAN SUNNAH SHAHIHAH

Ibadah adalah semua yang Allah dan Rasul-Nya cintai berupa amalan dan ucapan yang nampak maupun yang tersembunyi. Dan hukum asal ibadah adalah terlarang hingga ada dalil yang sahih tegak atasnya. Adapun Adat, maka kebalikan dari ibadah bahwa hukum asal adat dan muamalah adalah boleh hingga ada dalil yang melarang. Jadi, hendaknya kita bisa membedakan antara ibadah yang hukum asalnya haram sampai ada dalil yang menetapkannya, dengan muamalah yang hukum asalnya boleh.

Allah berfirman di surat Syuro ayat ke-21: “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih”.

Rasulullah bersabda dalam hadits dari Ummil Mukminin ‘Aisyah binti Abi Bakar ash-Shiddiq –radhiyallahu ‘anhuma— yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim: “Siapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami ini yang tidak ada perintahnya maka perkara itu tertolak”.

PENISBATAN KEUTAMAAN KEPADA BULAN RAJAB

Oleh karena Bulan Rajab adalah bulan haram memiliki kemuliaan salah satunya adalah amalan kebaikan akan Allah lipatgandakan pahalanya demikian dengan amalan buruk akan Allah lipatgandakan dosanya. Maka hendaknya kita bergembira melakukan ketaatan kepada Allah –dengan hal-hal yang benar Allah dan Rasul-Nya syariatkan— karena berharap Allah berikan pahala lebih besar, dan kita jauhi perbuatan buruk karena khawatir dicatatkan dosa yang berlipat ganda. Hanya saja perlu disadari bahwa kita tidak mengkhususkan bulan Rajab saja, bahkan setiap waktu kita sebagai hamba Allah harus selalu giat melakukan ketaatan dan menjauh dari kemaksiatan.

Bulan Rajab adalah satu dari dua belas bulan yang ada dan dinisbatkan kepadanya banyak keutamaan akan tetapi semuanya tidak dibangun dari dalil yang sah. Memang ada haditsnya akan tetapi semuanya tidak sah, ada yang palsu, ada yang lemah, dan ada yang tidak punya asal-usul.

Ada beberapa perkara yang harus kita perhatikan: Pertama, tidak ada keutamaan tentang suatu amalan yang khusus di bulan Rajab. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani Asy-Syafi’i Rahimahullah dalam kitab beliau Tabyin al-‘Ajab bima Warad fi Fadhl Rajab. Setelah mentakhrij hadits-hadits tentang keutamaan-keutamaan amal dibulan Rajab, beliau menyebutkan bahwa tidak ada satupun hadits yang shahih, yang ada adalah hadits yang dhaif bahkan palsu. Seperti keutamaan berpuasa tanggal 1, tanggal 2 dan yang lainnya.
Di dalam bulan ini ada banyak hadits yang diriwayatkan golongan pemalsu hadits, di antara mereka Makmun bin Ahmad. Disebutkan bahwasanya dia membuat seratus ribu hadits semuanya palsu. Tidak ada yang shahih, apakah tentang sholat di awal rajab dan tidak di tengah Rajab dan tidak juga di akhir rajab. Begitu juga dengan puasa awal, tengah dan akhir rajab, maupun jumlah hari puasanya.

Demikian juga hadits tentang mata air dan sungai yang dipalsukan bahwa Rasulullah berkata: “Sesungguhnya di surga adalah sungai dinamai dengan Rajab”. Perawinya bernama Musa At-Thowil yang Ibnu Hibban berkata: “Dia meriwayatkan dari Anas bin Malik hadits-hadits yang tidak halal menuliskannya”.

Begitu juga dengan hadits Syahr bin Hausyab dia menyebutkan sanad palsunya sampai ke Abu Hurairah berkata: “Siapa yang puasa tanggal 27 rajab Allah akan tuliskan pahala puasa 60 bulan. Itu adalah hari pertama Jibril turun kepada Nabi Muhammad”.

Berkata Imam Ahmad bin Hanbal semoga Allah merahmatinya: “Dibenci mengkhususkan bulan Rajab dengan berpuasa” –maksudnya seperti orang menyebutkan “Puasa Rajab”.

Al Muktamin bin Ahmad As-Saji Al-Hafiz berkata: “Dahulu Imam Abdullah Al Anshori –Guru penduduk Khurasan— tidak berpuasa Rajab bahkan melarangnya, dia berkata: “Tidak ada satupun yang shahih dari Rasulullah atas keutamaan Rajab juga tentang puasanya. Para sahabat juga mengingkari hal tersebut, salah satunya Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhum”.

Di dalam buku “Dzikrul Hawadits wal Bida’” Abu Bakar Muhammad bin Al Walid bin Muhammad al Fahriy disebutkan alasan dibencinya Puasa Rajab dengan salah satu dari tiga alasan:

  1. Pertama, jika orang islam mengkhususkannya dengan puasa setiap tahun orang awam dan yang tidak punya pengetahuan menyangka bahwa itu wajib seperti puasa ramadhan, atau
  2. kedua, (menyangkan bahwa itu) sunnah yang ditetapkan Nabi, atau
  3. ketiga, di sana ada keutamaan, seperti sholat di sepertiga malam, atau puasa ‘Asyura. Padahal, seandainya ada keutamaan, mesti Nabi sudah mewanti-wantinya atau melakukannya meski cuma sekali.

Oleh karena itu dibenci puasa Rajab bahkan sampai merutinkan, waspada agar tidak melekat di benak awam bahwa Puasa rajab itu wajib atau sunnah.

Wallahu a’lam bis showab.

Penulis: Magang di Pesantren untuk Buletin Jum’at Mesjid Nurul Hidayah
Sumber-sumber: Maktabah Syamilah (Magang di Pesantren lupa merekap judul-judulnya).

Categories
Adab dan Akhlak Aqidah Qolbu

Sebab-Sebab yang bisa membantu meluruskan niat

المجيب عبد العزيز بن عبد الله الحسين

Yang menjawab: Abdulaziz bin Abdillah Al Hasan

التاريخ 20/09/1426هـ

Tanggal: 20 Ramadhan 1426H.

السؤال

Pertanyaan;

أريد أن أعلم ما إذا كنت مخلصاً في نيتي أم لا، وإذا لم أكن مخلصاً فكيف أصحح نيتي؟.

Aku ingin mengetahui bagaimana Aku sudah ikhlas dalam niatku atau tidak, dan jika aku tidak ikhlas bagaimana Aku meluruskannya?

الجواب

Jawab:

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وبعد:
فنشكرك أيها الأخ المبارك على تواصلك معنا، ونسأل الله أن يرزقنا وإياك العلم النافع والعمل الصالح.


من علامة الخير أن يوفق المرء إلى تكميل جوانب النقص في نفسه، وأن يسعى في مدراج الكمال، وحرصك -أيها الأخ الكريم- على هذا الأمر نابع من شعورك بإجلال الله وحده، وإرادته بالعمل دون سواه.

Termasuk dari tanda kebaikan adalah seseorang diberikan taufik (pertolongan, pent) untuk menyempurnakan sisi kekurangan dirinya, dan dia berjalan di jalan-jalan kesempurnaan. Dan tamaknya engkau —wahai saudara yang mulia— dalam masalah ini sungguh keluar dari mata air kesadaran engkau untuk memuliakan Allah dan keinginan kesadaran tersebut untuk beramal tidak kepada selain-Nya

وموضوع النيات هو أساس قبول الأعمال أو ردها، وهو أساس الفوز أو الخسران، فهو طريق الجنة أو النار، ولذا كان السلف يولون هذا الأمر جل همهم، حتى قال سفيان الثوري -رحمه الله- (ما عالجت شيئاً أشد من نيتي فإنها تتقلب عليّ) ، وقال آخر: (تخليص النية من فسادها أشد على العاملين من طول الاجتهاد) .

Masalah niat ini adalah pondamen dari diterimanya amal atau ditolaknya, dan juga pondamen kesuksesan atau kerugian. Dan juga ia jalannya surga atau neraka. Dan karena keistimewaan niat, maka pendahulu kita senantiasa mengawalkan persoalan ini pada perhatian/cita-cita terbesar mereka. Sampai-sampai Sufyan Ats Tsauri -semoga Allah merahmatinya- berkata:
Tidaklah saya mengobati sesuatu yang lebih sulit sukar dari niat, dia sungguh senantiasa berbolak-balik“.

Dan yang lainnya berkata: “Membersihkan niat dari unsur rusaknya adalah hal paling sulit bagi orang yang senantiasa beramal dibandingkan dengan ia harus tekun berketerusan.

أيها الأخ المبارك: يعرف المرء من نفسه الإخلاص من عدمه بأمور، أبرزها:

Wahai saudaraku yang mulia, seseorang bisa mengetahui di dalam jiwanya ada / terdapat keikhlasan dengan beberapa perkara:

(1) المخلص لا ينسب ما هو فيه من فضل وخير ونعم إلى نفسه، بل يرجع الفضل إلى الله ولا تهمه مقاييس البشر: “إنما نطعمكم لوجه الله لا نريد منكم جزاءً ولا شكوراً” [الإنسان:9] .

  1. Orang yang punya keihklasan tidak menisbatkan kepada dirinya apa saja yang dia ada di dalamnya berupa keistimewaan, kebaikan, atau nikmat. Akan tetapi dia mengembalikan keutamaan/keistimewaan hanya kepada Allah dan dia tidak mempedulikan pendapat orang: “Hanyasaja kami memberi makan kalian hanya mengharap wajah Allah, kami tidak menginginkan dari kalian upah dan tidak juga ucapan terimakasih” (Al-Insan:9).

(2) إذا قام بالعمل على الوجه المناسب يستوي عنده المدح والذم من الناس، وذلك لأنه ينتظر ثواب الله ورضاه: “وما لأحد عنده من نعمة تجزى إلا ابتغاء وجه ربه الأعلى” [الليل:19-20] .

2. Jika dia melakukan amalan dengan cara yang benar, maka sama saja pujian atau celaan manusia. Hal itu karena dia mengharapkan pahala Allah dan keridhoan-Nya. “(19) padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya,( 20 )   tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi” Al-Lail 19-20.

(3) ستر العمل عن أعين الناس، خصوصاً في الجوانب التي ليس لهم فيها متعلق.

3. Menutupi amalannya dari penglihatan orang. Terkhusus pada sisi-sisi yang amal itu tidak berkaitan dengan orang lain.


(4) الشعور بالتقصير في حق الله مع القيام بالعمل على أكمل وجه.

4. Selalu menyadari dia lalai dalam memenuhi hak Allah dalam keadaan dia selalu menunaikan kewajiban beramal dengan cara yang paling sempurna.

أيها الأخ المبارك: أما كيفية تصحيح النية فيحصل بأمور، من أهمها:

Wahai saudaraku yang mulia, adapun cara meluruskan niat maka bisa digapai dengan beberapa perkara. Beberapa yang paling penting:


1- أن تستشعر أنه لا راحة للقلب ولا طمأنينة ولا حياة إلا بالإخلاص لله، فإن هذا الشعور يورث في القلب تجديد النية في كل حين. قال شيخ الإسلام ابن تيمية -رحمه الله-: وإذا لم يكن العبد مخلصاً لله استعبدته الكائنات، واستولت على قلبه الشياطين. أ. هـ بتصرف.

  1. Hendaknya dia merasa bahwa tidak ada kelegaan untuk hati, tiada ketenangan, dan tiada kehidupan kecuali HANYA dengan memurnikan amalan untuk Allah. Maka sesungguhnya, kesadaran ini akan mewariskan hati selalu memperbarui niat di setiap keadaannya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -semoga Allah merahmatinya- berkata: “Jika seorang hamba tidak memurnikan untuk Allah, maka ia akan diperbudak oleh makhluk. Dan setan-setan akan mengkudeta penguasaan hatinya“.

2- أن يسأل المرء نفسه عند قيامه بكل عمل: هل هو لله أم أراد به محمدة الناس وثناءهم عليه، فإن كان لله تقدم، وإن كان لغيره تأخر، ولا يقبل الله من العمل إلا ما كان خالصاً وأريد به وجهه.

2. Hendaknya bertanya ke dirinya setiap menunaikan amalan: “Apakah amalan ini hanya untuk Allah ataukah mengharapkan dengan amalan ini pujian dan suatu yang dipujikan manusia? Maka jika itu untuk Allah maka maju kerjakan! Tetapi jika untuk selain Allah, maka tunda! Dan Allah tidak akan menerima amalan kecuali itu murni untuk-Nya dan yang mengharapkan wajah Allah”.


3- شعورك أن الله مطلع على ما في قلبك، وما يمر في خاطرك يدفعك إلى تصحيح النية، وهذه من سمات صفوة الخلق، كما جاء في حديث جبريل عليه السلام: “الإحسان: أن تعبد الله كأنك تراه، فإن لم تكن تراه فإنه يراك”. أخرجه البخاري (50) ، ومسلم (9) .

Kesadaran engkau bahwa Allah mengawasi apa yang di hatimu, apa yang lewat di benakmu maka akan mendorong engkau untuk meluruskan niat. Ini adalah termasuk dari tanda akhlak yang terpuji. Sebagaimana datang (ttg ini) di Hadits Jibril ‘alaihi as-salam: “Al-Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak bisa melihat-Nya ketahuilah bahwa Ia melihatmu“. HR Bukhari (50), Muslim (9).

4- الدعاء: وقد جاء في الحديث الثابت أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: “أيها الناس اتقوا هذا الشرك، فإنه أخفى من دبيب النمل “فقيل له: وكيف نتقيه وهو أخفى من دبيب النمل يا رسول الله؟ قال: قولوا: “اللهم إنا نعوذ بك من أن نشرك بك شيئاً نعلمه، ونستغفرك لما لا نعلم” رواه أحمد (19606) وصححه الألباني.
وكان عمر -رضي الله عنه- يقول في دعائه: “اللهم اجعل عملي كله صالحاً، واجعله لوجهك خالصاً، ولا تجعل لأحدٍ فيه شيئاً”.

4. Berdoa. Sudah datang di hadits yang kuat bahwa Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai segenap manusia, berlindunglah dari syirik ini. Karena, sungguh, ia lebih tersembunyi dari langkah semut” Lalu ada yang bertanya: “Lalu bagaimana kami menjauhi ia padahal ia lebih tersembunyi dari langkah semut Ya Rasulullah?”. Nabi bersabda: “Ucapkanlah: ” اللهم إنا نعوذ بك من أن نشرك بك شيئاً نعلمه، ونستغفرك لما لا نعلم “. HR Ahmad (19606)

Dan Umar Radhiyallahu ‘anhu selalu mengucapkan: ”
اللهم اجعل عملي كله صالحاً، واجعله لوجهك خالصاً، ولا تجعل لأحدٍ فيه شيئا
Arti: “Ya Allah, jadikanlah semua amalanku -semuanya- solih, dan jadikan ia hanya mengharap wajah-Mu dengan murni, dan janganlah engkau jadikan di amalan tersebut untuk selain-Mu

وصلى الله على نبينا محمد وآله وسلم.

Categories
Orang tua

Persiapan Agar Sukses di Bulan Ramadhan

  1. Hal paling utama sebagai bekal adalah belajar ilmu agama agar mengkuatkan ketakwaan kita kepada Allah. Baik, takwa yang seperti apa karena sejak kecil sudah berulang-ulang kita mendengar itu. Tabi’in yang mulia bernama Tholq bin Habib -rahimahullah- mendefinisikan ketakwaan dengan: “Anda melakukan keta’atan kepada Allah dengan cahaya Ilmu dari Allah dengan mengharapkan pahala Allah. Dan Anda meninggalkan durhaka kepada Allah di atas cahaya ilmu-Nya dikarenakan takut siksaan Allah”. Pondasi dari ketakwaan adalah ilmu yang berasal dari wahyu yakni Al-Qur’an dan Hadits yang maqbul. Kita tidak boleh mengikuti Nasrani yang mereka beribadah tapi tidak didasari dalil, karena mereka membuat-buat ibadah meski tidak disebutkan di kitab sucinya. Dan kita juga tidak boleh seperti Yahudi yang mana mereka enggan mengamalkan tuntunan agamanya meski mereka tahu, contohnya mereka tidak mau mengamalkan syariat rajam padahal tertulis di Taurat mereka.
  2. Hal nomor dua yang perlu kita persiapkan adalah, membiasakan sholat malam sebagaimana bulan ramadhan akan diisi dengan amalan tersebut. Dengan pembiasaan sholat malam mudah-mudahan menjadi sebab semangatnya kita menjalaninya di bulan tersebut.
  3. Membiasakan menjaga lisan. Karena menjaga lisan dari kata-kata yang buruk, kotor, tercela, keji adalah suatu yang dituntut untuk ditinggalkan terutama di bulan Ramadhan. Terdapat hadits shahih dari Nabi yang berbunyi: “Siapapun yang tidak meninggalkan ucapan yang sia-sia maka sesungguhnya Allah sama sekali tidak butuh kepada dia meninggalkan makan dan minumnya” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah).
  4. Mengajarkan atau mengajak anggota keluarga di rumah untuk bersiap menyambut rangkaian ibadah bulan Ramadhan. Tujuannya agar ada keharmonisan suasana, kekompakan satu keluarga dalam mengejar pahala ramadhan. Dengan adanya kesadaran bersama maka ibadah menjadi lebih mudah, tercipta berlomba-lomba dalam kebaikan, dan juga tentu saja kepala keluarga sudah seharusnya menghasung anggota keluarganya untuk taat kepada Allah kapanpun dan dimanapun
  5. Membenarkan kondisi hati kita. Ingat-ingat bahwa beribadah itu tujuannya hanya untuk Allah. Tidak boleh riya’ mengotorinya. Dan nomor dua ibadah harus sesuai petunjuk Nabi Muhammad. Jangan jadi seperti Nasrani yang beribadah semau pendetanya. Ingatlah bahwa: Ikhlas untuk Allah yang Maha Tinggi dan kesesuaian dengan petunjuk Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasaalam adalah dua tiang untuk tegaknya semua amalan shalih.

Penulis: Magang di Pesantren untuk DKM Nurul Hidayah, Komplek Reni Jaya Depok.

Categories
Aqidah

Hati-Hati Dari Syubhat Tukang Ramal dsj.

Ahlussunnah berkeyakinan bahwa hal ghaib adalah hak khusus milik Allah, tidak ada satupun makhluk yang tahu. Barangsiapa mengaku-aku tahu ilmu ghaib maka hukumnya kafir. Dari sisi inilah para penyihir, tukang ramal dengan media apapun seperti air, kartu tarot, pasir, maupun bintang (zodiak), dukun, dan lainnya hukum pelakunya adalah kafir dan orang yang bertanya kepada mereka maka tidak diterima sholatnya selama 40 hari, dan jika membenarkan jawaban mereka maka dihukumi kafir. Demikian juga tidak boleh satu orangpun mengklaim tahu kapan terjadi hari kiamat karena itu termasuk ilmu ghaib.

Banyak tersebar hal yang merusak bahkan dagangan yang sangat laris punya irisan sifat dengan sihir dan sudah seharusnya berjauh-jauh dari itu;

  1. Dukun meskipun berpeci, bersarung bahkan dipanggil Pak Ustaz atau orang pintar (hakikatnya adalah orang bodoh).
  2. Ramalan bintang (zodiak).
  3. Hipnotis.
  4. Sulap meskipun katanya kecepatan tangan.
Categories
Orang tua

Persiapan Sebelum Ramadhan

Setiap orang tentu harus bersiap agar mampu meraih hasil maksimal pada segala hal. Apalagi yang diincar adalah pembebasan dari neraka di bulan ramadhan, diterima amal sholihnya dan dihapus segala dosanya, maka pasti persiapan untuk ini harus lebih optimal bahkan paling optimal yang ia bisa lakukan.

Ambil pelajaran dari sirah Nabi Muhammad. Sebagai persiapan menuju Ramadhan, Rasulullah memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Saya sama sekali belum pernah melihat rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dalam satu bulan sebanyak puasa yang beliau lakukan di bulan Sya’ban, di dalamnya beliau berpuasa sebulan penuh.” Dalam riwayat lain, “Beliau berpuasa di bulan Sya’ban, kecuali sedikit hari.” (HR. Muslim 1156).

Demikian juga dengan orang setelah Nabi Muhammad yang mengikuti sungguh-sungguh jalan beliau. Dengan sebab mereka tahu apa yang tersedia di bulan ramadhan berupa hikmah dan manfaat untuk akhirat, dilipatkan balasan kebaikan, hingga dibukanya pintu surga dan pembebasan dari neraka berikut cerita-cerita ajaib sebagian dari mereka.

Dikisahkan bahwa Mu’alla bin Al-Fadhl, salah satu ulama tabiu’ tabiin berkata, “Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan.

Jika benar kisah di atas maka memang sungguh kita tidak pernah meragukan ketakwaan para sahabat yang berada di level tertinggi umat para Nabi dan Rasul. Mereka adalah suatu umat yang paling jujur dalam beragama paling bersegera dalam kebaikan dan paling mencari kebaikan untuk akhiratnya. Ibnu Abi Mulaikah –ulama tabi’in rahimahullah— berkata, “Aku bertemu dengan 30 Sahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , mereka semua takut kalau-kalau ada nifak dalam dirinya”.

Sejujurnya kita seharusnya introspeksi seraya mengakui bahwa diri kita banyak kekurangan, aib, dan cacat. Akibat aib-aib tersebut –dan yang paling besarnya adalah kebodohan— kita malah menilai diri kita sudah bagus, baik, berhak masuk surga tidak khawatir adanya kemunafikan menimpa kita. Sehingga bagaimana tahun demi tahun, bahkan puluhan tahun berlalu namun kita belum pernah satu kalipun menyiapkan diri menyambut ramadhan seperti salaful umah (umat islam yang terdahulu). Kemudian dengan lugunya kita merasa bahwa amal ibadah ramadhan kita sangat optimal menyamai amalan para sahabat.

Sungguh itu –amalan yang optimal—tidak akan terjadi selamanya kalau kita tidak mempersiapkan diri. Sebagaimana tidak mungkin seorang menang dalam kompetisi olahraga jika dia tidak melakukan persiapan yang layak. Padahal olahaga itu cuma pekerjaan badan, sedangkan bulan ramadhan di dalamnya adalah amalan badan dan yang lebih besar lagi adalah amalan hati.

Pembaca Buletin Jum’at yang semoga Allah rahmati, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Hari ini adalah hari untuk bekerja dan tiada balasan. Dan esok adalah hari balasan tidak ada bekerja.”

Maka dalam konteks tersebut kita buat pendekatan pemahaman bahwasanya bulan ramadhan seperti periode kerja yang kerjanya ringan akan tetapi bayaran yang dijanjikan berlipat ganda. Bahkan apabila seseorang beramal ibadah bertepatan dengan lailatul qodar maka yang disebutkan di dalam hadits bahwa amal di waktu tersebut lebih baik daripada 1000 bulan.

Akan tetapi untuk bisa menjalani itu semua dengan sebaik-baiknya kita harus mempersiapkan sebelumnya. Bagaimanakah dan apakah persiapan yang harus dijalani? Mari baca tulisan di halaman belakang. Semoga Allah memberikan keberkahan kepada kita semua.

Penulis: Magang di Pesantren untuk Buletin Jum’at DKM Nurul Hidayah, Komplek Reni Jaya Depok.

Categories
Orang tua

Ramadhan Sebentar Lagi

Alhamdulillah robbil ‘alamin wa bihi nasta’in wa sholallahu ‘ala Muhammad. Kira-kira dua bulan dari sekarang yakni perkiraan tanggal 5 Mei dengan izin Allah kita semua akan masuk bulan suci Ramadhan, salah satu bulan haram dalam Islam. Allah -yang Maha Tinggi- berfirman:

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (At-Taubah:36).

Di dalam bulan Ramadhan Allah wajibkan salah satu rukun Islam yaitu puasa satu bulan. Allah -yang Maha Suci- berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (Al-Baqarah: 183).

Bulan Ramadhan adalah Bulan Rahmat dan Bulan Ampunan dan juga Bulan Ibadah. Dari sisi kita melakukan untuk Robb kita banyak ketaatan dan menjauhi larangan-Nya. Dan juga bukan sekedar menahan lapar dan minum, tetapi juga dari semua yang telah Allah haramkan dan menahan jiwa dari yang membuat Allah murka.

HUKUM PUASA RAMADHAN

Berdasarkan Al-Quran, Hadits, dan juga Ijma’ Ulama puasa ramadhan hukumnya adalah WAJIB untuk semua muslim yang sudah baligh, berakal, tidak memiliki uzur, dan punya kekuatan untuk berpuasa. Bahkan puasa ramadhan adalah rukun islam keempat, dengan bentuk menahan dari makan dan minum sejak munculnya fajr shodiq (awal waktu sholat subuh) sampai saat matahari terbenam (awal waktu sholat maghrib).

KEUTAMAAN PUASA RAMADHAN

Di dalamnya ada banyak keutamaan apakah untuk jiwa manusia, kesehatan, atau pendidikan:

  • Dibukanya pintu-pintu surga, dan bersamaa dengan itu ditutup pintu neraka, dan para setan dibelenggu.
  • Puasa di bulan ramadhan akan menggugurkan dosa jika meninggalkan dosa besar.
  • Pahala berumrah di bulan ramadhan dilipatgandakan. Karena telah datang riwayat dari Nabi bahwa itu sama dengan pahala haji.
  • Allah memilih Ramadhan sebagai waktu diturunkannya Al-Qur’an.
  • Terdapat Lailatul Qodar yang Al-Qur’an sebutkan ia lebih utama dari seribu bulan.
  • Bulan penuh kebaikan, bulannya Al-Qur’an menghafal maupun mempelajarinya.
  • Pahala amalan sholih dilipatgandakan. Sedekah paling bagus adalah sedekah yang dikeluarkan di bulan ini.
  • Allah berikan karunia kepada hamba-Nya dengan rahmat, pengampunan, dan pembebasan dari neraka. Lebih khusus lagi pada malam Lailatul Qodar.
  • Bulan kesabaran. Kaum muslimin mencegah dirinya dari syahwat dan untuk mereka balasan yang besar.
  • Doa orang yang berpuasa tidak ditolak.

Amal-amal yang disunnahkan

  • Banyak-banyak berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
  • Menyambung tali silaturahmi.
  • Melakukan umroh.
  • Menyegerakan buka puasa ketika terbenam matahari.
  • Berdo’a di saat berpuasa maupun ketika berbuka puasa.
  • Memperbanyak ibadah dan khususnya sholat.
  • Sholat malam yang mana adalah ibadah teragung yang kaum muslim mendekatkan diri kepada Allah. Dan salah satu bentuknya adalah Sholat tarawih.

SHOLAT TARAWIH

Sholat tarawih adalah sholat sunnah yang dikerjakan di bulan ramadhan yang mulia. Waktunya dimulai sejak lepas sholat isya sampai beberapa saat sebelum terbit fajar. Dan sholat tarawih ini hukumnya adalah sunnah muakkadah. Ini berdasarkan hadits dari Rasulullah yang diriwatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: Tidak pernah Nabi, di bulan ramadhan maupun selainnya, sholat malam lebih dari 11 rokaat. Beliau sholat 4 rokaat, jangan tanya keelokan dan panjangnya, kemudian sholat 4 rokaat, jangan tanya keelokan dan panjangnya, kemudian beliau sholat 3 roka’at. Lalu ‘Aisyah berkata: Saya berkata: Apakah engkau tidur sebelum berwitir? Beliau menjawab: “Wahai ‘Aisyah kedua mataku tidur namun tidak dengan hatiku”.

Adapun untuk jumlat roka’atnya, sholat tarawih bisa dikerjakan di rumah secara berjama’ah atau di mesjid, atau sendirian. Akan tetapi tidak tsabit berapa jumlah roka’atnya. Karena Rasulullah pernah sholat 11 roka’at dan tidak mengapa lebih dari itu atau kurang dari itu. Sehingga hal ini tidak seharusnya menjadi sebab perdebatan bahkan berbantah-bantahan di antara kaum muslimin.

Penulis: Magang di Pesantren untuk Buletin Jum’at Mesjid Nurul Hidayah Komplek Reni Jaya Depok.