Categories
Maisyah

Aqiqah Rp 1 Juta / ekor

Dapatkan beragam kemudahan dari Aqiqah Jakarta:
– Anda bisa memilih kambing sendiri.
– Anda bisa menyembelih kambing sendiri.
– Anda bisa mendapat dokumentasi penyembelihan.
– Anda bisa mendapat sertifikat aqiqah.
– Anda mendapatkan aqiqah dengan harga sangat terjangkau namun dengan kualitas rasa yang istimewa.
– Bisa COD.
– Dan masih banyak lagi kemudahan yang bisa Anda ambil sampai potongan harga.

Aqiqah Jakarta selalu bisa dihubungi di 0858-11999953, di jam kerja ya… Barokallahufikum.

Categories
Maisyah

Jubah Saudi Zipper (Persiapan Ramadhan 2019)

Jubah Saudi Zipper Persiapan Ramadhan

Model: Jubah Saudi
Fitur: Krah Shanghai, Resleting dada (zipper), Lengan Panjang
Bahan: Katun CVC Rethobe

Warna: Super hitam, Marun, Abu Muda, Abu Tua, Moka.
.
Ukuran: S, M, L, XL.

Keuntungan Anda:
– Anda mendapatkan harga yang ekonomis karena kami memiliki relasi-relasi ke penjual besar kain dan membuat dalam partai besar sehingga bisa menekan biaya.
– Anda tidak perlu khawatir kegerahan, bahan gamis ini pertama adalah dingin, dan juga menyerap keringat karena bahan katun.
– Anda insya Allah mendapatkan kualitas yang baik sekali, karena jahitan diperhatikan detail dengan fokus ke kancing sampai ujung kain.

Pedoman Ukuran Maksimal:
– XL maksimal tinggi badan 175 cm ujung kain tepat di mata kaki.

Diameter Size Jubah AL AMWA: 
Size: s
Tinggi: 129r
Lbar Bahu: 38
Lingkaran perut: 156

Size: M
Tinggi: 133
Lbar Bahu: 40
Lingkaran perut: 162

Size: L
Tinggi: 137
Lbar Bahu: 42
Lingkaran perut: 166

Size: XL
Tinggi: 140
Lbar Bahu: 44
Lingkaran perut: 170

Harga sangat ekonomis hanya Rp 225.000 saja.

Yuk mudah sekali untuk mendapatkan ini, sekedar hubungi WA admin di 085811999953.

Categories
Maisyah

Umroh Ramadhan Murah Sesuai Sunnah 2019

UMROH I’TIKAF RAMADHAN 2019 Bersama TIFA TOUR
(PESAWAT GARUDA DIRECT NON TRANSIT)

US$ 1990

PROGRAM 17 HARI

  • Berangkat 21 Mei (16 Ramadhan)
  • Kembali 6 Juni (2 Syawal)

Mengapa Umroh Ramadhan Bersama Tifa Tour? Karena Tifa Tour:

  • Travel UMROH RESMI
  • Izin PPIU 651 th 2016
  • ASITA
  • SIPATUH
  • Sudah DEPO ke GARUDA
  • Sudah ada PNR (Jadwal Penerbangan)

Dan juga karena:

  • Anggota AMPHURI
  • ID CARD SIPATUH
  • Bimbingan sesuai Sunnah Nabi
  • Bis AC BERTASREH
  • Hotel Berizin (TASREH)
  • Guide Berpengalaman

Harga Sudah Termasuk:

  • City Tour Madinah
  • City Tour Makkah
  • Madinah 1 kamar 4 orang
  • Mekkah 1 kamar max 8 orang
  • Madinah Hotel: “Odst / Syurfah (150m dari Haram)
  • Mekah Hotel: Tsarawat Al Rauwdhah atau setaraf (ditempuh sekitar 5 menit ke Haram dengan transportasi 24 jam ke Masjidil Haram

HARGA belum termasuk:

  • Tiket domestik
  • Biaya perlengkapan 1 jt
  • Over bagasi
  • Biaya laundri
  • Kursi roda bagi yang uzur
  • Konsumsi (sahur & makan malam)

Booking Minimal 3 jt.

Hubungi:
Denny Abu Muhammad (0858 11999953)

Ayo Bapak, Ibu manfaatkan kesempatan yang Allah berikan ini 🙂
Categories
bahasa arab Nahwu

Ba’du (بعد) dan Qoblu (قبل)

Alhamdulillah segala pujian hanya milik Allah. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarganya, para istri-istrinya, dan para sahabatnya tidak terkecuali dan para pengikutnya yang mengikuti beliau dengan baik hingga hari kiamat.

Teringat dengan suatu peristiwa di mesjid Fatahillah (Jl. Ni’in, Tanah Baru, Depok) mungkin sekitar tahun 2010 setelah selesai kajian maghrib atau setelah sholat isya admin bertanya kepada Bang Zaid Gultom salah satu imam di mesjid tersebut akan mengapa di satu ayat di baca min ba’di (مِنْ بَعْدِ), dan terkadang min ba’du (مِنْ بَعْدُ).

Poinnya adalah pada kondisi didahului huruf من, ba’da dan qoblu menjadi berharokat kasroh, sedangkan dikesempatan lain dia berharokat dhommah, seperti berikut:

  • وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ
  • هَٰذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِن قَبْلُ
  • الَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِن بَعْدِ مِيثَاقِهِ
  • فِي بِضْعِ سِنِينَ ۗ لِلَّهِ الْأَمْرُ مِن قَبْلُ وَمِن بَعْدُ ۚ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ

Saat itu beliau merespon hanya dengan ucapan “itu penjelasannya cukup panjang” dan sejak itu tidak didapat penjelasan mengapanya hingga Allah karuniakan rahmatNya yang sangat besar salah satu ilmu dari ilmu-ilmuNya dan itu diturunkan kepada admin di ponpes Darul Atsar tahun 2018 melalui perantaraan (Al-Ustaz) Abdurrahman Imam asal Balikpapan, salah satu santri yang masya Allah sangat cerdas, hafalannya sangat kuat dan melaju sangat kencang melampaui rekan-rekan seangkatannya -hafizhohullah ta’ala- pada saat belajar Qotrun Nada dengannya .

Jadi pembahasan ini disebutkan di awal kitab pada bab Mabni pada fashl Mabni ‘alad Dhommi. Bab ini punya saudara-saudari dari kata-kata bermakna arah seperti (قدام, أمام, خلف). Terdapat empat kondisi pada ba’du dan qoblu:

  1. Kondisi pertama ba’du dan qoblu nya berposisi sebagai mudhof secara lafazh, maka mereka berdua dii’rob nashab sebagai zhorof atau jika masuk huruf min (مِنْ) maka menjadi khofd. Contoh: جئتك قبلَ زيدٍ وبعدَه keduanya dinashob sebagai zhorf. Dan contoh lain yang didahului منْ contoh: من قبلِه ومن بعدِه keduanya di-khofd dengan مِنْ. Contoh: كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ , فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَ اللَّهِ وَآيَاتِهِ يُؤْمِنُونَ , أَلَمْ يَأْتِهِمْ نَبَأُ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ, مِن بَعْدِ مَا أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ الْأُولَىٰ.
  2. Kondisi kedua, mudhof ilaih-nya dihapus, akan tetapi diniatkan lafazh-nya tetap ada. Sehingga keduanya dii’rob sebagaimana sudah dipaparkan di kondisi pertama (dinashob sebagai zhorof, atau dikhofd dengan مِنْ). Akan tetapi tidak ditanwin, karena dia masih diniatkan dalam keadaan idhofah. Contoh bait syair: ومِنْ قبلِ نَادَى كلُّ مولَى قرابةٍ — فما عطفتْ مولًى عليهِ العواطفُ (Syair ini tidak diketahui siapa yang mengucapkannya, akan tetapi dibawakan sebagai syahid di Audhohul Masalik (2/211) dan Syarh At-Tashrih (2/50), dan Syarh Al-Asymuni (2/269), dan Al-Maqoshid An-Nahwiyyah (3/434), dan lainnya.
  3. Kondisi ketiga. Mereka berdua terputus dari idhofah (secara lafazh dan makna), dan juga tidak diniatkan sebagai mudhof ilaih. Maka dii’robkan sebagai dipaparkan di kondisi pertama, hanya saja pada kondisi ini mereka berdua diberikan tanwin. Karena sudah menjadi isim yang taam seperti isim nakiroh lainnya. Maka kalimat-kalimatnya seperti berikut: (جئتك قبلًا وبعدًا, ومن قبلٍ ومن بعدٍ). Syahidnya adalah sya’ir: فساغَ لِيَ الشرابُ وكنتُ قبلًا — أكاد أغصُّ بالماءِ الفراتِ
  4. Mudhof ilaih-nya dihapus, dan masih diniatkan maknanya tanpa lafazhnya, maka mereka berdua pada saat tersebut di-mabni di atas dhomm. Seperti qiro’ah sab’ah ( لِلَّهِ الْأَمْرُ مِن قَبْلُ وَمِن بَعْدُ).

Categories
Adab dan Akhlak

Pentingnya Adab (copas)

Pentingnya Adab

Suatu ketika Imam Yahya bin al-Qaththan, setelah melaksanakan shalat ashar, bersandar di bawah menara masjid beliau. Di sekitar beliau ada Ali bin al-Madini, asy-Syadzakuni, Amru bin Ali, Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Main serta ulama lainnya yang ingin berguru kepada beliau. Mereka berdiri hingga menjelang shalat magrib.

Saat itu Imam Yahya bin al-Qaththan tidak meminta mereka untuk duduk. Karena itu mereka pun enggan untuk duduk dalam rangka menghormati guru (Al-Jami’ al-Akhlaq ar-Rawi wa Adab as-Sami’, hlm. 78).

Demikianlah cara ulama terdahulu menghormati guru mereka. Mereka tetap memilih berdiri meski dalam waktu yang cukup lama, sebelum sang guru mempersilakan mereka duduk.

Di lain waktu, Imam al-Fara’—seorang ulama Kufah yang paling pandai dalam ilmu nahwu dan sastra—diminta oleh Khalifah Makmun untuk mengajarkan ilmu nahwu untuk kedua putranya. Ketika beliau selesai mengajar dan beranjak untuk pergi, kedua anak Khalifah itu berebut untuk membawakan sandal Imam al-Fara’ sebagai bentuk penghormatan mereka kepada sang guru. Mengetahui hal itu, Imam al-Fara’ akhirnya meminta kepada kedua anak itu masing-masing membawa satu sandal hingga keduanya sama-sama menyerahkan sandal kepada beliau (Wafayat al-A’yan, 2/228).

Tidak hanya murid terhadap guru, adab juga acapkali ditunjukkan oleh ulama kepada ulama lainnya. Di antaranya Imam Syafii. Sebagaimana diketahui, Imam Syafii berpendapat tentang keharusan membaca doa qunut dalam shalat subuh. Namun, Imam Syafii—seorang ulama besar sekaligus imam mujtahid—pernah beberapa kali melaksanakan shalat subuh di dekat makam Imam Abu Hanifah. Saat itu ia memilih tidak melaksanakan qunut subuh dalam rangka menjaga adab terhadap Imam Abu Hanifah yang berpendapat bahwa qunut subuh tidak disyariatkan (Ad-Dahlawi, Al-Inshaf fi Bayan Asbab al-Ikhtilaf, hlm. 110).

Demikianlah, betapa para ulama besar di zaman terdahulu amat hormat kepada ulama lainnya, meski berbeda pendapat. Bahkan terhadap ulama yang sudah wafat pun adab itu tetap dijaga.

Adab yang sama ditunjukkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Selama ini beliau berpendapat mengenai keharusan membaca basmalah (saat membaca surat al-Fatihah) secara sirr (pelan dan hanya diri sendiri yang mendengar) dalam salat. Namun, di wilayah tertentu beliau berpendapat, “Dibaca jahr (dengan suara jelas yang bisa didengar oleh orang lain) basmalah jika berada di Madinah.”

Ibnu Taimiyah menyimpulkan bahwa Imam Ahmad kadang-kadang meninggalkan beberapa perkara sunnah demi alasan persatuan dan menghindari perpecahan. Alasannya, menyatukan hati umat lebih agung dalam agama dibandingkan dengan beberapa perkara sunnah (Risalah al-Ulfah bayna al-Muslimin, hlm. 47 dan 48)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Qadhi Abu Utsman al-Baghdadi, meskipun termasuk ulama besar dan hakim mazhab al-Maliki, sering mengunjungi Imam ath-Thahawi yang bermazhab Hanafi untuk menyimak karya-karya beliau (Al-Maqalat al-Kautsari, hlm. 348).

Adab juga ditunjukkan oleh para ulama terhadap ilmu. Suatu saat, Imam al-Hulwani—ulama pengikut mazhab Hanafi yang menjadi imam besar di Bukhara—pernah menyampai-kan, “Sesungguhnya aku memperoleh ilmu ini dengan memuliakannya dan aku tidak mengam-bil catatan ilmu kecuali dalam keadaan suci.”

Hal ini diikuti oleh murid beliau yang juga seorang ulama besar, yakni Imam Syamsuddin as-Sirakhsi. Suatu saat beliau mengulang wudhu pada malam hari hingga 17 kali karena sakit perut. Hal itu beliau lakukan agar bisa menelaah ilmu dalam keadaan suci (Mukhatsar al-Fawaid al-Makkiyah, hlm. 30).

Adab dan penghargaan para ulama terhadap ilmu juga ditunjukkan oleh Al-Hafizh Muhammad bin Abdissalam al-Bilkandi, salah seorang guru Imam al-Bukhari. Suatu saat beliau menghadiri majelis imla‘ hadits. Saat Syaikh di majelis tersebut mendiktekan hadits, tiba-tiba pena al-Bikandi patah. Khawatir kehilangan kesempatan untuk mencatat, beliau akhirnya mencari cara agar segera memperoleh pena. Tak lama kemudian beliau berteriak, “Saya mau beli pena dengan harga satu dinar!” Seketika, banyak pena disodorkan kepada beliau (Umdah al-Qari, 1/165).

Kini, satu dinar emas, kalau dikurskan ke rupiah kurang lebih senilai Rp 2 juta. Demikianlah Imam al-Bikandi. Ia rela kehilangan uang sebesar itu hanya agar beliau tetap berkesempatan mencatat hadis. Itu ia lakukan tentu karena penghormatan dan penghargaannya yang luar biasa terhadap ilmu.

Adab juga ditunjukkan oleh penguasa terhadap ulama. Imam ar-Rafii suatu saat mengunjungi Sultan Khawarzmi Syah setelah tiba dari medan pertempuran. Ulama tarjih mazhab Syafii tersebut menyampaikan, “Saya telah mendengar bahwa Anda memerangi orang-orang kafir dengan tangan Anda sendiri. Saya ke sini untuk mencium tangan Anda itu.” Namun, Khawarizmi Syah menjawab, “Saya justru yang yang ingin mencium tangan Anda.” Akhirnya, Khawarizmi mencium tangan Imam ar-Rafii (Thabaqat asy-Syafi’iyah al-Kubra, VIII/284).

Karena begitu berharganya akhlak atau adab para ulama, ada sebuah kisah menarik terkait seorang ulama besar bernama Ibn al-Mubarak. Saat itu ia bertetangga dengan seorang Yahudi. Si Yahudi berencana menjual rumahnya. Datanglah seseorang yang menawar rumahnya, “Engkau menjual dengan harga berapa?” Si Yahudi menjawab, “Dua ribu.” Si penanya berkata, “Harga rumahmu ini paling mahal seribu.” Si Yahudi menjawab, “Memang benar, tetapi yang seribu lagi untuk ‘harga’ tetanggaku, Ibnu Mubarak.” (Al-Makarim wa al-Mafakhir, hlm. 23)

Demikianlah, memiliki tetangga baik, berakhlak dan beradab seperti Ibnu Mubarak merupakan sebuah ‘harta’ yang amat mahal bagi si Yahudi. Karena itu, ia menilai tidak hanya rumahnya yang berharga, tetangganya yang baik juga memiliki harga tersendiri.

****

Mengapa begitu mulia akhlak atau adab para ulama dan para salafush-shalih dulu? Kata-kata Imam Ibn Qasim, salah satu murid senior Imam Malik, barangkali bisa menjelaskan hal ini saat ia berkata, “Aku telah mengabdi kepada Imam Malik bin Anas selama 20 tahun. Selama itu 18 tahun aku mempelajari adab (akhlak) dari beliau, sedangkan sisanya 2 tahun untuk belajar ilmu.” (Tanbih al-Mughtarrin, hlm. 12).

Bagaimana dengan kita?

* Di-co-pas dari tulisan Arief B. Iskandar (2/2/2019)

Categories
Mustholah Hadits

Hadits Maudhu’ (Palsu)

– الخبر الموضوع : هو المختلق المصنوع، وهو الذي نسيه الكذابون المفترون إلى رسول الله الله وسلم، وهو أشر أنواع الرواية، ومن علم أن حديثا من الأحاديث موضوع فلا يحل له أن يربيه منسوبا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، إلا مقرونا ببيان وضعه.

Khobar yang maudhu’ adalah khobar yang direkayasa, yang dikreasikan. Dia adalah yang orang pendusta, pereka-reka, pemalsu menisbatkannya kepada Rosulullah shollallahu alaihi wa sallam. Ini adalah jenis riwayat yang paling buruk. Dan bagi siapa saja yang sudah tahu bahwa ia adalah hadits palsu maka tidak halal dia meriwayatkan dengan menisbatkannya kepada Rosulullah kecuali dia iringi dengan penjelasan akan ke-PALSU-an hadits tersebut.

وهذا الحظر عام في جميع المعاني، سواء الأحكام، والقصص، والترغيب والترهيب وغيرها. لحديث سمرة بن جندب والمغيرة بن شعبة قالا : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من حدث عني بحديث يرى أنه كذب، فهو أحد الكاذبين» رواه مسلم في صحيحه، ورواه أحمد وابن ماجه عن سمرة، وقوله: (يرى) فيه روايتان بضم الياء وبفتحها، أي بالبناء للمجهول وبالبناء للمعلوم.

Dan ini adalah larangan yang umum di semua makna, apakah hadits tentang hukum, kisah, targhib (pent. menyemangati orang dengan menyebutkan hal-hal yang membuat gembira, semangat, tergugah sukacita ingin menggapai itu), tarhib (pent. menyemangati orang dengan menyebutkan hal-hal yang membuat membuat ngeri, menakutkan, tidak ingin tertimpa itu), dan selainnya. Berdasarkan hadits Samuroh bin Jundub dan Mughiroh bin Syu’bah –rodhiyallahu ‘anhuma- keduanya berkata, telah berkata Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam: siapa pun yang berkata menisbatkan kepada Saya suatu hadits yang dia pandang dusta, maka dia termasuk salah satu pendusta (Hadits riwayat Muslim). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah dari Samuroh. Ucapan (يرى) ada dua riwayat, dengan dhommah (يُرى) atau dengan fathah (يَرى), atau dengan bina majhul dan bina ma’lum.

وقوله (الكاذبين) فيه روايتان أيضًا. بكسر الباء وبفتحها، اي بلفظ الجمع وبلفظ المثنى، والمعنى على الروايتين في اللفظين صحيح، فسواء أعلم الشخص أن الحديث الذي يرويه مكذوب، بأن كان من أهل العلم بهذه الصناعة الشريفة، أم لم يعلم أن كان من غيرا أهلها، وأخبره العالم الثقة بها : فإنه يحرم عليه أن يحدّث بحديث مفترى على رسول الله صلى الله عليه وسلم، وأما مع بيان حاله فلا بأس ؛ لأن البيان يزيل من ذهن السامع أو القارئ ما يخشى من اعتقاده نسبته إلى الرسول عليه الصلاة والسلام.

Dan ucapan (الكاذبين) di sini ada dua riwayat juga. Dengan kasroh huruf ba (الكاذبِين) dan dengan fathah (الكاذبَين), makna dua riwayat tersebut dengan kedua lafazh sama-sama benar. Sehingga artinya, sama saja apakah orang itu tahu bahwa hadits yang diriwayatkannya adalah dusta karena dia ahlul ‘ilmu di bidang yang mulia ini, atau dia tidak tahu karena dia bukan ahli ilmunya, lalu seorang yang mengetahui memberi tahu keadaan hadits tersebut, maka haram atasnya untuk menyampaikan hadits yang direka-reka atas Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun, jika bersama penerangan keadaan haditsnya maka tidak apa-apa. Karena penerangan akan menghilangkan dari benak pendengar atau pembaca sesuatu yang ditakutkan dari bentuk dia meyakini penyandaran hadits tersebut kepada Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.

ويعرف وضع الحديث بأمور كثيرة ، يعرفها النقاد من أئمة هذا العلم:
منها : إقرار واضعه بذلك، كما روى البخاري في التاريخ الأوسط عن عمر ين صبح بن عمران التميمي أنه قال: أنا وضعت خطبة النبي صلى الله عليه وسلم، وكما أقر ميسرة بن عبد ربه الفارسي أنه وضع أحاديث في فضائل القرآن، وأنه وضع في فضل علي سبعين حديثا. وكما أقرَ أبو عصمة نوح بن أبي مريم، الملقب بنوح الجامع أنه وضع على ابن عباس أحاديث في فضائل القرآن سورة سورة. ومنها : ما ينزل منزلة إقراره كأن يحدث عن شيخ بحديث لا يعرف إلا عنده ثم يسال عن  مولده فيذكر تاريخًا معينًا ثم، يبتين من مقارنة تاريخ ولادة الراوي بتاريخ وفاة الشيخ المروي عنه أن الراوي ولد بعد وفاة شيخه، أو أن الشيخ تُوفي والراوي طفل لا يدرك الرواية، أو غير ذلك، كما ادّعى مأمون بين أحمد الهروي أنه سمع من هشام بن عمار فسأله الحافظ ابن حبان: متى دخلت الشام؟ قال سنة خمسين ومائتين، فقال له: فإن هشامًا التي تروي عنه مات سنة 245 فقال: هذا هشاء بن عمار آخر! ا

Dan diketahui adanya perekayasaan hadits dengan beberapa perkara, yang diketahui oleh ahli pemeriksa hadits dari para imam bidang ilmu ini. Salah satu dari perkara tersebut:

  1. Pengakuan perekayasanya. Seperti yang diriwayatkan Bukhari di “Tarikh Al-Ausath” dari Umar bin Sobah bin ‘Imron at-Tamimi bahwa dia berkata: Saya merekayasa khotbah nabi shollallahu ‘alaihi wasallam. Dan juga sebagaimana pengakuan Maisaroh bin Abdirohhibi al-Farisi bahwasanya dia merekayasa keutamaan Ali bin Abi Thalib 70 hadits. Dan sebagaimana pula yang diakui oleh Abu ‘Ishmah Nuh bin Abi Maryam, yang digelari dengan نوح الجامع (Nuh, dia yang mengumpulkan semua sifat kecuali sifat jujur) bahwasanya ia merekayasa atas Ibnu ‘Abbas hadits-hadits “Fadhilah Al-Qur’an” dan bahwasanya dia merekayasa “Keutamaan Al-Qur’an” satu surat demi satu surat.
  2. Dan juga, perkara yang “sekedudukan dengan pengakuan”. Semisal dia menyampaikan hadits yang tidak pernah diketahui kecuali cuma dari dia. Kemudian dia ditanyakan tanggal lahirnya lalu dia jawab, kemudian terang dari perbandingan waktu lahir dia dengan waktu wafat syaikhnya atau selainnya. Contohnya seperti yang dibuat Makmun bin Ahmad al-Harowi, bahwasanya dia mendengar dari Hisyam bin ‘Ammar, kemudian dia ditanyakan Al-Hafizh ibnu Hibban: “Kapan kamu masuk Syam?”. Dia menjawab: “Tahun 250”. Ibnu Hibban langsung menyusul dengan ucapan: “Sesungguhnya Hisyam yang kamu (sebut) meriwayatkan darinya sudah meninggal pada tahun 245”. Kemudian Makmun ngeles (cari alasan karena terpergok ketahuan rekayasanya): “Ini Hisyam bin ‘Ammar yang lain!!!”.

وقد يعزف الوضع أيضًا بقرائن في الراوي، أو المروي، وفيهما معا. فمن أمثلة ذلك ما أسنده الحاكم عن سيف بن عمر التميمي قال: «كنتُ عند سعد بن طريف، فجاء ابنه من الكتاب يبكي، فقال: مالك؟ قال : ضربني المعلم، قال: لأخزينهم اليوم، حدثني عكرمة عن ابن اعباس مرفوعًا: ((معلمو صبيائكم شراركم، أقلهم رحمة لليتيم، وأغلظهم على المسكين!!)) وسعد بن طريف قال فيه ابن معين: ((لا يحل لأحد أن يروي عنه)) وقال ابن حبان: ((كان يصنع الحديث)) وراوي القصة عنه سيف بن عمر، قال فيه الحاكم: ((اتهم بالزندقة، وهو في الرواية ساقط)). وقيل لمأمون بن المحرري «ألا ترى إلى الشافعي ومن تبعه بخرسان؟! فقال حدثنا أحمد بن عبد الله ـكذا في لسان الميزان (5/7-8) وفي التدريب صا ١٠ أحمد بن عبد البر- حدثنا عبد الله معدان الأزدي عن انس.، مرفوعا: ((يكون في أمتي رجل يُقال له محمد بن إدريس اضر على أمتي من إبليس، ويكون في أمتي رجل يقال له أبو حنيفة، هو سبراج أمتي)).

Dan terkadang dapat diketahui dari qorinah yang melekat pada rowi ataupun yang diriwayatkan, atau keduanya sekaligus. Contohnya adalah apa yang diriwayatkan Al-Hakim dari Saif bin ‘Umar At-Tamimi, dia berkata: Saya pernah didekat Sa’ad bin Thorif, sekonyong-konyong tiba anaknya sambil menangis, Ia langsung bertanya: “Apa yang terjadi padamu?”. Anaknya menjawab: “Pak Guru memukulku”. Lalu dia berkata: “Sungguh pasti aku akan mempermalukan mereka pada hari ini!”. Telah memberikan tahdits kpd Kami Ikrimah, dari Ibnu Abbas, ia memarfu’kannya: ((Guru-guru anak kalian adalah orang paling rusaknya dari kalian, mereka paling sedikit kasih sayangnya, dan paling kejam kepada orang miskin)). Dan terkait Sa’ad bin Thorif ini, Ibnu Ma’in mencercanya: ((Tidak halal bagi seorangpun untuk meriwayatkan dari dia)). Dan Ibnu Hibban juga berkata: ((Dia terus-menerus merekayasa hadits)). Sedangkan orang yang meriwayatkan darinya, yakni Saif bin ‘Umar, Al-Hakim juga mencelanya: ((Dia dicurigai zindiq, perihal periwayatan dia orang yang jatuh)).

Dan juga diucapkan kepada Makmun bin Ahmad Al-Harrowi: ((Tidakkah engkau mau melihat kepada Asy-Syafi’iy dan orang-orang yang mengikuti Ia di Khurosan?)). Tiba-tiba dia berkata: Telah menyampaikan hadits kepadaku Ahmad bin ‘Abdillah (seperti ini di Lisanul Mizan (5/7-8) adapun di At-Tadrib hal. 10 Ahmad bin ‘Abdilbarr), telah menyampaikan hadits kepadaku Abdullah bin Mi’dan Al-Azdiy, dari Anas, beliau merofa’-kannya: ((Akan datang di tengah-tengah umatku seorang pria yang dipanggil Muhammad bin Idris dia lebih merusak daripada Iblis. Dan akan ada di tengah-tengah umatku pria yang dipanggil Abu Hanifah dan dia lampu penerang untuk umatku)).

وكما فعل محمد بن عكاشة الكراماني الكذاب. قال الحاكم : ((بلغني أنه كان ممن يضع الحديث حسبة، فقيل : إن قومًا يرفعون أيديهم في الركوع وعند الرفع منه؟ فقال: حدثنا المسيب بن واضح، حدثنا عبد الله بن المبارك، عن يونس بن يزيد عن الزهري، عن سالم بن عبد الله بن عمر عن أبيه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ((من رفع يديه في الركوع فلا صلاة له !)) فهذا مع كونه كذبا من أنجس الكذب. فإن الرواية عن الزهري بهذا السند بالغة مبلغ القطع بإثبات الرفع عند الركوع وعند الاعتدال. وهي في الموطأ وسائر كتب الحديث. اهـ. لسان الميزان (5-288-289)

Seperti yang dilakukan Muhammad bin ‘Ukkasyah Al-Karomani Al-Kadzib. Imam Al-Hakim berkata “Saya mendapat berita bahwa dia termasuk dari orang yang memalsukan hadits. Diceritakan: Ada kaum yang mengangkat tangannya saat ruku’ ketika bangkit dari ruku’? Lantas dia berkata: Al-Musayyib bin Wadhih berkata: Abdullah ibnul Mubarok berkata kepada kami: dari Yunus bin Yazid: dari Az-Zuhri: dari Salim bin ‘Abdillah bin Umar: dari Bapaknya berkata: Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Siapa yang mengangkat tangannya saat ruku’ maka tidak sah shalatnya!”. Dan riwayat ini, bersamaan dengan dia hadits palsu, dia adalah paling najisnya. Sesungguhnya riwayat dari Zuhri dengan sanad ini, 

Dan terkadang

ومن القرائن في المروي: أن يكون ركيدًا لا يعقل أن يصدر عن النبي صلى الله عليه وَسلم، فقد وضعت أحاديث طويلة، يشهد
لوضعها ركاكة لفظها ومعانيها
قال الحافظ بن حميرا المدار في الركة على ركة المعنى، فحيثما وجدت دلت على الوضعوإن لم ينضم إليها ركة اللفظ؛ لأن هذا
الدين محاسن، الركة ترجع إلى الرداءة، أما ركاكة اللفظ لفقط فلا تدل على ذلك، لاحتمال أن يكون رواء بالمعنى فغير الفاظه بغير
كله
قصيح، نعم بأنهلفظ النبي صلى الله عليه وسلم فكاذ
قال الربيع بن خثيم : ! إن للحديد
ديث ضوءًا كضوء النهار، تبعرة ظلمة كظلمة الليل، تنكره
قال الجوزي: الحديث المتكر يقشعر له جلد الطالب المعلم : مته تليه في الغالبية ، قال البلقيتي: اوشاهد هذا ان إنسانًا
لو شخدم أنسانا متين، وعرف ما يجب وما يكره، قاده أنسان أنه يكره شينًا يعلم ذلك انه يحبه، فبمجرد سماحه يبادر إلى تكذيبه) ،
وقال الحافظ ابن حجر: لومما يدخلن في قرينة حال المروري ما نقل عن الخليج عن أبي بكر بن الطيب : ان من جملة دلائل الوضع أن
يكون مخالفًا للعقل، بحيث لا يقل التأويل. ويلتحق به ما يدفعه الحس والمشاهدة يكون منافيًا لدلالة الكتابد. بالقطنية، أو الشئة.
المتواترة أو الإجماع القطعي، أما المعارضة مع . إمكان الجمع فلا، ومنها ما يصرح بتكنيب رواة جمع المتواتر، أو يكوذ شيرًا من امر
جيم توفر الدواعي على نقله بمقر الجمع، ثم لا يتنقله منهم إلا واحد. ومنها الإفراط بالوعيد الشديد على الأمر الصغير ،
أو الوعد العظيم على الفعل الحقير، وهذا كثير في حديث القصاص، والأخير راجع إلى الركة.
قال السيوطي : “ومن القرائن كون الراوي رافضيًا والحديث في فضائل أهل البيت ) ،
ومن المخالف للعقل ما الجوزي من طريق عبد الرحمن بن زيد بنا عن أبيه. مرفوعًا : ان سفية توح
بالبيت سبقا ، وسلت من المقام ركعتين! فهذا من سخانار
ات عبد الرحمن بن زيد بن أسلم . تدل ثيت عنه من طريق أخرى نقلها في
التهذيب ( 179) عن الساجي، عن الربيع، عن الشافعي قال: قتيل لعبد الرحمن بن زيد: حدثك أبو عن جدك أن رسول الله صلى
الله عليه وسلم قال: إن سفينة توح طافت بالبيت وعلت خلف المقام ركعتين! قال : وقد عرف عبد الرحمن يمثل
الغرائب، حتى قال الشافعي قيما نقل في التهذي : ذكر رجل لمالك، حليفا منقطئا، فقال: اذهب إلى عبد الرحمن بن زيد بحديثك
ايه عن نو؟
وروى ابن الجوزي أيضًا من طريق أحمد بن شجاع الثلج -بالثاء الثلة والجيم- عن : والباء الموحدة- بن
لبنان -بفتح الحاه المهملة
ملال ب: حاد سلمة عن أبي المهزم، عن أبي هريرة مرفوقا إن الله خلق الفرس فأجراها. فرقت. منها؟! قال
السيوطي في التدر ولا مسلم، والمتهم به ميد بن شجاع* كان نائقًا في ديته، وفيه ابو المهزم، ثال شعبة: رايته لو اعطي
درها وضع خمسين حديثا !)،
والأسباب التي دعت الكذابين الودًاعين إلى الافتراء ووضع الحديث كثيرة:
فمنهم: الزناد ، الذين أرادوا أن يُفسدرا على الناء دينهم : لما وقر في نفوسهم من الحقد على الإسلام وا
بمظهر المسلمين، وهم المنافقون حقا.
ورا
هذه
الية
أهله، يظهرون بين

– Tahqiq Syaikh Ahmad Syakir di Fasal Maudhu’ Al Mukhtalaq Al Mashnu’

Categories
Ushul fi Tafsir

Penulisan dan Pengumpulan Al-Qur’an -Ushul fit Tafsir 10

Penulisan Al-Qur’an dan pengumpulannya ada tiga tahapan:

  1. Tahapan yang pertama di masa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Dan pada saat itu Bersandar kepada hafalan lebih banyak daripada Bersandar kepada penulisan, hal itu disebabkan sangat kuatnya memori dan cepat menghafal dan sedikitnya orang-orang yang bisa menulis dan sedikitnya media untuk menulis. Oleh karena itu Al-Qur’an tidak dikumpulkan di satu mushaf, akan tetapi bahkan siapa saja yang mendengar satu ayat maka langsung dihafalkan atau dia tulis ayat tersebut di media apa saja yang mudah baginya media tersebut bisa berupa pelepah kurma atau tambalan kulit yang sudah disamak atau tanah liat yang dibakar atau potongan-potongan tulang bahunya hewan dan penghafal Al-Qur’an benar-benar banyak sekali.
    Di dalam Shahih Al-Bukhari pada kitab Al Jihad riwayat Hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu Anhu bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam mengirimkan 70 orang yang mereka dipanggil dengan (قُرّاء) para penghafal Al-Qur’an. Di tengah-tengah perjalanan orang-orang dari Bani Salim yakni kampung Ri’l dan kampung Dzakwan menghadang mereka di lokasi sumur Ma’unah kemudian mereka semua membunuh para utusan nabi. Di kalangan para sahabat selain mereka yang dibunuh tersebut masih banyak para penghafal Al-Qur’an seperti khalifah yang empat, Abdullah Bin Mas’ud, Salim Maula abu Hudzaifah, Ubay Bin Ka’ab dan Mu’adz Bin Jabal dan Zaid bin Tsabit dan Abi Darda radhiyallahu anhum.
  2. Di tahapan yang kedua di masa kepemimpinan Abu Bakar radhiallahu Anhu pada tahun ke-12 Hijriyah. Sebab dari penulisan dan pengumpulan Al-Qur’an adalah karena terbunuhnya pada Perang Yamamah sejumlah yang banyak dari penghafal Al-Qur’an. Di antara mereka yang terbunuh adalah Salim Maula abu hudzaifah, Ia adalah salah seorang yang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam memerintahkan manusia untuk mengambil Al-Qur’an darinya.

    Maka kemudian Abu Bakar radhiallahu anhum memberikan perintah untuk mengumpulkan Al-Qur’an dengan tujuan agar Al-Qur’an tidak hilang. Disebutkan di Shahih Al-Bukhari pada kitab tafsir bahwasanya Umar Bin Khattab memberikan masukan kepada Abu Bakar radhiallahu anhuma untuk mengumpulkan Al-Qur’an setelah selesainya Perang Yamamah.

    Kemudian saat itu Abu Bakar tawaqquf tidak mengambil keputusan karena enggan. Kemudian senantiasalah Umar terus mengulang-ulang permintaannya hingga Allah lapangkan hatinya. Kemudian Abu Bakar mengutus orang kepada Zaid Bin Tsabit sehingga Zaid datang kepada Abu Bakar saat itu ia bersama dengan umar Bin Khattab, kemudian Abu Bakar As Siddiq berkata kepada Zaid Bin Tsabit: “Sesungguhnya engkau adalah lelaki yang masih muda yang memiliki akal, kami tidak mencurigai engkau sedikitpun, dan juga engkau dahulunya senantiasa menulis Wahyu untuk Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Oleh karena itu cari-carilah Al-Qur’an dan kumpulkanlah Al-Qur’an”.

    Kemudian Zaid Bin Tsabit berkata maka aku pun mencari-cari Al-Qur’an aku kumpulkan dia dari pelepah korma, dari tanah liat yang dibakar, dan dari dada-dada manusia. kemudian lembaran-lembaran Alquran tersebut disimpan oleh Abu Bakar As Siddiq sampai waktu Allah mewafatkan beliau radhiallahu Anhu. Kemudian dilanjutkan oleh disimpan oleh Umar sepanjang hidupnya, kemudian disimpan oleh Hafsah bin Umar radhiallahu anhuma sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam hadis yang panjang.

    Dan benar-benar orang-orang Islam menyepakati Abu Bakar dalam keputusannya untuk mengumpulkan Alquran dan kaum muslimin menilai pengumpulan al-quran adalah dari amalan kebaikannya Abu Bakar sampai-sampai Ali bin Abi Tholib radhiyallahu Anhu berkata manusia yang paling besar pahalanya dalam perkara mushaf Alquran adalah Abu Bakar semoga Allah Allah merahmati Abu Bakar beliau orang pertama mengumpulkan kitabullah.

  3. Tahapan ketiga ini di di masa Amirul Mukminin Utsman bin Affan radhiallahu Anhu pada tahun 25 Hijriyah dan sebab pengumpulan di zaman Utsman bin Affan adalah berbeda-beda nya manusia perihal membaca Al-Qur’an sesuai dengan berbeda-beda nya lembaran Al-Qur’an yang ada di tahun-tahun sahabat radhiallahu anhum sehingga dikhawatirkan muncul fitnah Maka langsung Utsman bin Affan memerintahkan untuk lembaran-lembaran Al-Qur’an yang ada dikumpulkan di satu mushaf dengan alasan dengan tujuan agar manusia tidak berselisih lagi yang menyebabkan bisa mereka silang sengketa perkara Al-Qur’an yang kemudian menyebabkan perpecahan.

    Di dalam Shahih Bukhari Sebutkan hadis bahwasanya Hudzaifah bin al Yaman mendatangi Utsman bin Affan setelah dari perang pembukaan Armenia dan Azerbaijan, dan sungguh pada saat itu sudah mengalir perbedaan di antara kaum muslimin terkait bacaan Al-Qur’an maka Hudzaifah bin al-Yaman berkata: “Wahai Amirul Mukminin susullah kaum muslimin sebelum mereka semua pecah-pecah di dalam Al-Qur’an sebagaimana orang Yahudi dan Nasrani berpecah belah”. Maka Utsman bin Affan mengirimkan utusan kepada Hafshoh agar mengirimkan kepada Utsman mushaf, agar Usman menyalin kemudian beliau akan mengembalikan lagi kepada Hafsah. Kemudian Usman bin Affan memerintahkan Zaid Bin Tsabit bin Abdullah bin Zubair dan Said Bin Abdurrahman Abdul Haris bin Hisyam rodhiyallahuanhum kemudian mereka semua menyalin mushaf kepada beberapa mushaf.

    Zaid Bin Tsabit berasal dari golongan Anshor dan tiga sahabatnya yang lain adalah orang Quraisy. Berkatalah Usman kepada tiga orang yang berasal dari Quraisy: “Jika berselisih pendapat kalian dan Zaid bin Tsabit terkait sesuatu dalam Al-Qur’an maka Tulislah Al-Qur’an itu dengan lisannya Quraisy karena sesungguhnya Al-Qur’an turun dengan lisannya”. Lalu mereka berempat melakukan tugasnya sampai pekerjaan itu selesai. Usman mengembalikan lembaran-lembaran mushaf kepada Hafshoh, lalu Utsman bin Affan mengutus ke semua penjuru dengan mengirimkan mushaf yang sudah disalin dan Utsman bin Affan memberikan perintah agar Al-Qur’an yang selain yang baru dikirimkan itu untuk dibakar.

    Maka sungguh Usman melakukan itu radhiallahu Anhu setelah beliau bermusyawarah para sahabat radhiallahu anhum, sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Daud dari Ali radhiallahu Anhu, bahwasanya beliau berkata: “Demi Allah tidaklah Apa yang dilakukan dari perkara penyatuan mushaf kecuali atas persetujuan kami semua”.

    Dan beliau juga berkata: “Aku berpendapat agar kami mengumpulkan pada manusia diatas satu mushaf saja yang demikian itu sehingga tidak terjadi perbedaan dan perselisihan” dan kami katakan sungguh benar-benar bagus pandangan itu.”

    Dan berkata Mushab bin Sa’ad sebagaimana yang dikeluarkan oleh ibnu Abi Daud pada kitab Al-Mashahif: “Aku menyaksikan manusia-manusia sangat banyak, melimpah-limpah, sewaktu Utsman membakar mushaf-mushaf sehingga hal tersebut membuat manusia timbul rasa kagum bergembira”. Atau beliau mengucapkan: Tidak ada satupun dari mereka yang mengingkari. Kebijakan ini adalah terhitung kebaikan Amirul Mukminin Utsman rodhiyallahu anhu yang kaum muslimin bersepakat di atasnya. Dan juga ini jadi penyempurna dari kebijakan pengumpulannya Abu Bakar ash Shiddiq.

    Perbedaan antara pengumpulannya Usman dan pengumpulan Abu Bakar radhiallahu anhuma adalah tujuan dari pengumpulan Al-Qur’an pada zaman Abu Bakar adalah untuk mengikat Al-Qur’an semuanya ada satu mushaf sehingga tidak hilang satupun bukan untuk menggiring manusia pada penyatuan dalam satu mushaf hal itu disebabkan di zaman Abu Bakar belum muncul tanda-tanda adanya perselisihan dalam baca Al-Qur’an.

    Adapun tujuan pada masanya Utsman bin Affan radhiallahu anhu untuk mengikat Al-Qur’an semuanya pada satu mushaf dan membawa manusia untuk bersepakat di atas mushaf tersebut disebabkan adanya sinyalemen yang dikhawatirkan dari berbeda-bedanya cara membaca.

    Sungguh nampak keberhasilan dari penyatuan ini dari sisi terhasilkan maslahat yang besar untuk semua kaum muslimin berupa bersatunya umat sepakat dalam satu kalimat dan tercapainya terciptanya persahabatan, tercegahnya mafsadat yang sangat besar berupa perpecahan umat Islam dan berbeda bedanya kalimat dan tersebar-sebarnya kebencian dan permusuhan.

    Dan sungguhan keadaan tersebut tetap ada hingga sekarang mereka bersepakat diatas satu mushaf di antara kaum muslimin mutawatir di antara mereka orang-orang kecil dan besar menerima kesepakatan tersebut dan tangan-tangan para perusak tidak bisa mengganggu kesepakatan tersebut dan juga hawa-hawa nafsu orang-orang rusak tidak bisa menghapus kesepakatan tersebut maka hanya milik Allah-lah segala Pujian, robb-nya langit dan bumi dan semua semesta alam.

– Ushul fit Tafsir li Syaikh Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin.