Categories
Adab dan Akhlak Bahrur Roiq

Obat Riya dan Cara Menyembuhkan Hati Darinya

Kita mengetahui bahwa riya adalah penghancur amalan sholeh. Dan sebab kebinasaan bagi pemimpin, pembesar, pejabat tinggi, dan pemegang tampuk pimpinan. Riya juga termasuk dari dosa-dosa besar yang mem-BINASA-kan. Dan yang seperti ini pensifatannya maka sangat layak untuk kita bergegas menggiring kesungguhan dalam rangka mengenyahkannya. Untuk menghilangkannya ada beberapa cara yang baik:

  • Memotong pokok, pangkal, asal dan akarnya, yaitu kecintaan menikmati pujian manusia, menyelamatkan diri dari pedihnya dicela manusia (seperti orang minder berprasangka kalau saya tidak kelihatan melakukan ibadah nanti akan distigma sebagai orang rusak, dst), dan tamak rakus pada apa-apa yang ada di tangan manusia. Karena tiga hal itulah yang menggerakan pelaku riya kepada riya-nya. Sehingga pengobatannya adalah hendaknya dia tahu bahaya, kerugian, dan kesengsaraan dari riya dan hal-hal yang luput terkait perbaikan hatinya dan apa-apa yang dia diharamkan pada saat itu berupa taufik dan terluputkannya perkara-perkara akhirat mulai dari kedudukan di sisi Allah ta’ala, dan hukuman yang harus ia hadapi, dan kebencian yang teramat sangat, dan kerendahan kehinaan yang sangat nampak. Bilamana, Kapan saja seorang hamba memikirkan dampak kehinaan tersebut dan dia bandingkan dengan apa yang mungkin dia capai dari upaya dia memperhamba dirinya ke orang laindan menghias-hiasi ibadah untuk orang lain dan ditukar dengan banyak hal yang tidak bisa dia raih di akhirat, dan gugurnya ganjaran amal baik, niscaya mudah untuknya memutus keinginan dari riya. Sebagaimana permisalan orang yang mengetahui bahwa madu sangat nikmat, akan tetapi ketika dia sadar adanya racun dicampurkan ke madu tersebut niscaya ia akan meninggalkan madu tersebut.
  • Cara kedua, menolak dan melawan riya ketika sedang ibadah. Perkara ini juga suatu keharusan untuk mempelajarinya. Karena siapa yang mencurahkan segala kemampuan dirinya dengan menebang tempat ditumbuhkannya riya, dan memutus kerakusan dan memandang rendah pujiannya manusia dan tercelanya itu maka sungguh setan tidak meninggalkan dia di tengah-tengah ibadahnya, bahkan akan terus memunculkan dalam pikirannya lintasan-lintasan riya, kemudian setelah terlintas di benaknya akan perhatian makhluk, maka orang ini akan berusaha mencegah pikiran dan hembusan setan tadi dengan berkata: “Memangnya ada urusan apa Kamu dengan makhluk lain? Entah mereka tahu ataupun tidak, akan tetapi pasti Allah Maha Mengetahui keadaan Kamu. Apa manfaatnya orang lain tahu?” Dan jika semakin bangkit keinginan dalam dada untuk merasakan pujian manusia, maka ingatlah apa yang tertancap kuat di hatinya dari arah penyakit-penyakitnya riya dan bagaimana riya akan menyeret kepada kemurkaan Allah dan kerugian dahsyat di akhirat.

Terjemah Al-Bahrur Roiq fiz Fuhdi war Roqoiq li Dr. Ahmad Farid.

Categories
Adab dan Akhlak Bahrur Roiq

Penjelasan Riya Yang Samar (Riya Khofiy)

Riya itu bisa dibagi dua, (1) Jaliy  – jelas/terang-terangan dan (2) Khofiy -tersembunyi. Adapun riya jaliy adalah riya yang dimunculkan di atas suatu amalan dan orang tersebut beribadah betul-betul karena riya saja. Kalaulah ia mengharapkan pahala akan tetapi ia (di atas niat) menampakkan ibadah tersebut (ke orang lain).

Adapun riya khofi, ia melakukan ibadah tanpa niat riya, bahkan dia menyembunyikan amalan tsb, dia harapkan wajah Allah dengannya, seperti orang yang biasa sholat tahajud setiap malam meskipun ada rasa berat. Tapi jika ada tamu bermalam di rumahnya, tiba-tiba dia menjadi giat dan terasa ringan sholat tahajudnya.

Dan juga termasuk dari riya khofiy seperti seorang hamba yang menyembunyikan amalan ketaatannya, akan tetapi bersamaan dengan itu jika dia lihat orang lain tiba-tiba dia ingin agar mereka menghampirinya dengan wajah berseri-seri dan penuh pemuliaan, dan agar mereka memuji dia, dan agar mereka tangkas memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, agar mereka memberikan keringanan kepadanya dalam transaksi jual beli, dan agar mereka meluaskan tempat untuknya maka apabila tempatnya sempit beratlah hati menerima keadaan tersebut.

Dan senantiasa orang-orang yang memurnikan ibadahnya kepada Allah mereka dalam keadaan takut dari riya yang khofiy ini, berusaha keras menyembunyikan ketaatan mereka, lebih kuat usaha ini dibanding orang-orang menyembunyikan perbuatan jelek nan keji.

Itu semua dilakukan dengan dasar mengharap agar amal sholih mereka benar-benar murni, sehingga Allah akan memberikan ganjaran balasan kepada mereka di hari kiamat disebabkan keikhlasan mereka. Disebabkan mereka tahu bahwasanya tidaklah diterima pada hari kiamat kecuali amalan yang ikhlas murni tidak bercampur kesyirikan apapun, dan mereka mengetahui akan sangat butuhnya dan fakirnya mereka nanti di hari kiamat.

*Al-Bahrur Roiq fiz Zuhdi war Roqoiq li Dr. Ahmad Farid.

Categories
Adab dan Akhlak Bahrur Roiq Qolbu

Beberapa Tujuan Manusia Melakukan Riya

Orang yang melakukan riya pasti memiliki tujuan, dan mayoritasnya terbataskan untuk menggapai suatu keadaan tertentu, atau kedudukan, atau tujuan lain yang semuanya memiliki derajat tingkatan berbeda.

Hal paling besar bahayanya dari tujuan mereka riya adalah untuk melanggengkan maksiat, seperti orang yang riya dengan ibadahnya demi dilihat sebagai orang yang bertakwa dan waro’, atau agar diidentifikasi sebagai orang yang amanah sehingga diberikan tanggungjawab tertentu, atau diberikan bagian dari harta. Maka golongan ini adalah yang paling besar kemurkaannya di sisi Allah. Karena mereka menjadikan ketaatan ke robbnya sebagai anak tangga untuk menggapai kemaksiatan mereka.

Yang kedua, tujuan mereka untuk meraih perbendaharaan dunia berupa harta, atau nikah, seperti orang yang memamerkan ilmu dan ibadah agar seseorang senang untuk menikahinya atau memberikan harta ke Ia. Hal ini adalah riya yang dilarang. Karena dia meminta perbendaharaan dunia dengan jalan ketaatan kepada Allah. Namun ini masih lebih ringan dari golongan yang pertama.

Yang ketiga, dia tidak memaksudkan perbendaharaan dunia, mendapatkan harta atau pernikahan, akan tetapi dia memamerkan ibadahnya dengan alasan takut orang meremehkan dia atau tidak dimasukkan ke golongan orang sangat khusus dan sangat zuhud sehingga cuma dinilai sebagai orang umum / kebanyakan.

  • Terjemah Al-Bahrur Roiq fiz Zuhdi war Roqoid li Dr. Ahmad Farid.
Categories
Adab dan Akhlak Bahrur Roiq Qolbu

Penyakit Riya

Dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits semua menunjukkan pengharaman riya dan pelakunya.

Allah berfirman: فويل للمصلين. الذين هم فس صلاتهم ساهون. الين هم يرآءون.
Dan Allah berfirman:فمن كان يرجوا لقاء ربه فليعمل عملا صالحا ولا يشرك بعبادة ربه أحدا.
Dan pada hadits qudsi Allah berfirman: أنا أغنى الشركاء عن الشرك من عمل عملا أشرك فيه معي غيري تركته وشركه.
Nabi bersabda: إن أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر. قالوا: وما الشرك الأصغر يا رسول الله؟ قال: الرياء, يقول الله عز وجل يوم القيامة إذا جازى العبد بأعمالهم: اذهبوا إلى الذين كنتم تراءون في الدنيا فانظروا هل تجدون عندهم الجزاء.

Abu Umamah Al Bahili melihat seorang laki-laki di masjid menangis di sujudnya. Lalu beliau berkata: “Dirimu, Dirimu, seandainya engkau melakukan ini dirumahmu..”

Secara bahasa kata riya (الرياء) berasal dari kata (الرؤية) penglihatan, dan asalnya adalah bermakna mengharapkan kedudukan di hati manusia dengan cara memperlihatkan sifat yang baik. Ada banyak hal yang bisa di-riya-kan yang itu semua disimpulkan pada lima hal yang manusia memperbagusnya: badan, pakaian, ujaran, perbuatan, keinginan untuk diikuti.

Adapun riya dengan badan seperti menunjukkan kurusnya tubuh, cairan lambung karena beratnya hari-hari dia dan dalamnya kesedihan di atas urusan agama dan sangat takutnya dengan akhirat.

Adapun riya dengan menunjukkan keadaannya dan bekas-bekas pakaian seperti rambut yang kumal, kepala yang tertunduk ketika berjalan, perangai ug dikesankan tenang, menyisakan bekas sujud di wajahnya, dia riya dengan itu semua.

Adapun riya dengan ucapan adalah dia menampakkan memberi nasihat, mengingatkan orang dari kesalahan, ujaran penuh hikmah, menampakkan jejak-jejak banyaknya dia memperhatikan keadaan orang-orang shalih, dan jugA gerakan dua bibirnya, berdzikir di depan khalayak.

Adapun riya dengan perbuatan seperti orang yang sholat memperlihatkan berdiri yang panjang, sujud yang panjang, ruku, kepala menunduk tidak menoleh ke sana-sini.

Adapun riya dengan membuat persahabatan atau berkunjungan, seperti menunjukkan mengunjungi Akim ulama sehingga dia dikatakan: “Sesungguhnya dia sudah pernah mengunjungi rumahnya ‘ulama”.

— Menerjemahkan bagian di Al-Bahrur Roiq fiz Zuhdi war Roqo-iq li Dr. Ahmad Farid

Categories
Resensi Kitab

​RESENSI KITAB BAHRUL MUHITH FI USHUL FIQH ZARKASYI

A. MUQODDIMAH
Ushul fiqih adalah ilmu hukum dalam Islam yang mempelajari kaidah-kaidah, teori-teori dan sumber-sumber secara terperinci dalam rangka menghasilkan hukum Islam yang diambil dari sumber-sumber tersebut. 

Mekanisme pengambilan hukum dalam Islam harus berdasarkan sumber-sumber hukum yang telah dipaparkan ulama. Sumber-sumber hukum islam terbagi menjadi 2:

Sumber Hukum Primer  yaitu: Al-Qur’an, kitab suci agama Islam dan Sunnah, tindakan, ucapan dan ketetapan Nabi Muhammad shalllahu ‘alaihi wasallam

Sumber Hukum Sekunder yaitu: (Ijma, kesepakatan para ulama) dan Qiyas (analogi hukum dengan hukum lain yang telah ada ketetapannya)

Kementrian wakaf dan urusan keislaman memberikan kemudahan untuk menyebarkan kitab ini dalam bidang ilmu ushul fiqh, yang diberi nama “Bahrul Muhith”, Imam Zarkasyi telah memberikan  banyak istifadah berbagai masalah terutama dalam ilmu ini. Sehingga kementrian ini sangat mengharapkan banyak ilmu ini menjadi pelajaran dan pembahasan dalam bidang pendidikan.

Banyak para ulama yang membahas dan mensyarahkan dalam bidang ushul fiqh, dengan tujuan untuk mempermudah dalam mengaplikasikan dalam kehidupan. Kitab ini telah banyak dikoreksi dan diteliti oleh ahli ilmu di bidangnya. Di antara yang meneliti kitab ushul fiqh Imam Zarkasy cetakan kali ini  salah satunya oleh Syaikh Abdul Qadir Abdullah Al ‘Ani dan di Muraja’ah oleh Doktor Umar Sulaiman Al Asyqory.

B. BIOGRAFI IMAM AZ ZARKASYI

Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Bahadur bin Abdullah Badruddin az-Zarkasyi. Sebagian para penulis biografi (ashhab at-tarajum) mengatakan bahwa nama aslinya Muhammad bin Abdullah bin Bahadur. Beliau lahir dan wafat di Mesir dan mengikuti madzhab Muhammad bin Idris as-Syafi‟i. beliau lebih dikenal dengan julukan Zarkasyi. Beliau merupakan keturunan Turki. Nama Zarkasyi sendiri diambil dari kata Zarkasy yang berarti  bordir atau hiasan, sebab beliau belajar membuat hiasan sejak kecil. Selain nama Zarkasyi, beliau dikenal juga dengan julukan al-Minhaji karena telah menghafal kitab Minhâj ath- Thâlibîn karya Imam Yahya bin Syarafuddin an- Nawawi.

Beliau adalah seorang Imam, memiliki ilmu yang luas, seorang penulis yang piawai, dan pembahas yang handal. 

Beliau dilahirkan pada tahun 745 H di Mesir, beliau adalah seorang yang dilahirkan dalam keluarga yang tidak terlalu terkenal di tengah-tengah masyarakatnya, bukan pula dari keluarga yang memiliki ilmu ataupun kedudukan. Akan tetapi beliau hanyalah dari sebuah keluarga muslim yang sederhana dan bahkan disebutkan bahwa ayah beliau adalah seorang budak. Walaupun demikian beliau bahkan memiliki semangat yang kuat untuk menuntut ilmu dengan taufik Allah Ta’ala. 

Dan diantara guru-guru beliau yang terkenal dan memberikan pengaruh dalam manhaj beliau dalam berilmu adalah : 

  • Jamaluddin Al-Asnawi (wafat tahun 772 H) 
  • Al-Adzra’i
  • Dan Burhanuddin bin Jama’ah (wafat tahun 790 H) 
  • Dan beliau pun mengambil faidah dari manhaj atau cara Az-Zaila’I dalam sebagian penulisan buku-bukunya.

Dan beliau rahimahullah adalah seorang yang faqih, muhaddits, ahli tafsir, ahli ushul yang terkemuka. Yang mana beliau sangat fokus terhadap ilmu dan tidak menyibukkan diri dengan hal-hal lain. Imam az-Zarkasyi rahimahullah memiliki kerabat yang mencukupi seluruh urusan dunianya. 

Usaha dalam Menuntut Ilmu

Tidak diragukan lagi bahwa apabila Allah Ta’ala menghendaki kebaikan pada diri seorang hamba maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju kebaikan tersebut, dan memberikan kepadanya keinginan yang tinggi untuk meraih apa yang dimaksud. Dan Imam Az-Zarkasyi adalah salah seorang hamba yang diberikan kemudahan dan keinginan yang sangat kuat untuk menuntut ilmu, Allah jadikan hatinya cinta kepada ilmu, kesabaran untuk mendapatkannya sehingga ia bergegas menuju sumber-sumber ilmu, mulazamah (senantiasa menyertai) para masyaikh, hidupnya selalu bersanding dengan kitab dan memperbanyak sumber-sumber pengetahuan. Sehingga dengan kesabaran dan kesungguhannya setelah taufiq Allah Ta’ala terkumpul dalam ingatannya berbagai macam ilmu dan iapun beri’timad kepada kekuatan ingatannya setelah taufiq Allah. 

Perjalanan Beliau dalam Menuntut Ilmu

Beliau hanya melakukan dua perjalanan sebagaimana yang disebutkan dalam berbagai sumber, Al-Mushili berkata dalam Kasyfu Adz-Dzunun, “Bisa jadi diantara penyebab tidak meluasnya perjalanan ilmiyah beliau rahimahullah –Allahu a’lam- bahwa Mesir dan Syam pada saat itu adalah negeri Islam yang banyak dikenal keilmuannya dan banyak ulamanya, atau karena beliau lebih mengutamakan untuk mengambil ilmu kepada para ulama Mesir dan Syam. Lalu memulai belajar menulis dan menyibukkan diri dengan membuat karya tulis. Dua perjalanan beliau adalah : 

  1. Perjalanan beliau rahimahullah yang pertama adalah dari Mesir ke Dimasq (Damaskus), beliau belajar Ilmu Hadits kepada Al-‘Imad Ibnu Katsir. 
  2. Dan perjalanan kedua dari Damaskus ke Halab yang mengambil ilmu dari Al-Adzra’i.

Guru-Guru Beliau :

Imam Az-Zarkasyi rahimahullah mengambil faidah dari para ulama Mesir dan Syam yang terkenal dan beliau senantiasa menyertai (mulazamah) sebagian masyaikhnya, diantara mereka adalah : 

  • Yusuf bin Ahmad (wafat tahun 761 H) 
  • Mughlathaa’iy bin Falih Al-Hanafi (wafat tahun 762 H) 
  • Ismail bin Katsir (wafat tahun 774 H) 
  • Ahmad bin Muhammad bin Jam’ah (wafat tahun 774 H) 
  • Ahmad bin Hamdan Al-Adzra’I (wafat tahun 783 H) 
  • Sirajuddin Al-Balqiniy (wafat tahun 805 H)

Murid-Murid Beliau

Diantara para penuntut ilmu yang mengambil ilmu dari beliau rahimahullah adalah : 

  • Muhammad bin Abdud Da’im bin Musa Al-Barmawi (wafat tahun 831 H) 
  • Umar bin Hujjiy As-Sa’di (wafat tahun 835 H) 
  • Hasan bin Ahmad bin Harami bin Makkiy (wafat tahun 833 H). Dan masih banyak lagi murid-murid beliau rahimahullah.

Karya Ilmiah Beliau

Imam Az-Zarkasyi rahimahullah meninggalkan sejumlah besar karya-karya ilmiyahnya dalam hal fiqih, ushul fiqh, ulumul hadits, ulumul qur’an dan tafsir, dan tidaklah kitab-kitab karya tulis beliau rahimahullah tersebut tercetak kecuali hanya sedikit saja, diantaranya : 

  • Luqathatu Al-‘Ijlan wa Ballatu Adh-Dham’aan 
  • Al-Burhan fi Ulumil Qur’an 
  • Al-Ijabah Li Iradi ma Istadrakathu ‘Aisyatu ‘Ala Ash-Shahabah. Dan lain sebagainya…

KaryaKarya beliau Secara Umum

  • Tiga kitab tentang Al-Qur’an dan ulumnya, diantaranya : Al-Burahan wa Ulumuhu, satu kitab Tafsir sampai surat Maryam. 
  • 11 kitab tentang Hadits dan Ulumnya, diantaranya: Tash-hihu Al-Umdah, Syarhu Al-Jami’ Ash-Shahih, An-Nukat ‘Ala Ibni Ash-Shalah. 
  • 17 kitab tentang Fikih, diantaranya: Khadimu Ar-Rafi’I, Ar-Rudhah (dalam 20 atau14 jilid), Syarhu At-Tanbih lisy-Syairazi. 
  • 7 kitab tentang Ushul Fiqh, diantaranya : Al-Bahrul Muhith (kitab terpenting dalam ushul fiqh), Tasynif As-Sami’ bi Jam’il Jawami’, Ta’liq wa Syarh lil Gharib ‘Ala Kitab Abi Al-Hasan As-Subki. 
  • 4 kitab tentang bahasa dan Adab, diantaranya : At-Tadzkirah An-Nahwiyah, I’rab Liba’dhi Al-Ahadits An-Nabawiyah wal Abyat Asy-Syi’riyah allati Istasyhada biha Ulamau Al-Lughah, Rabi’u Al-Ghazlaan, dan kitab tentang Adab (sastra). 

Wafat Beliau

Beliau wafat di Mesir pada tanggal 3 bulan Rajab tahun 794 H.

C. METODE PENULISAN
Kitab Bahrul Muhith ini memakai metode yang biasa dipakai oleh para ulama ushul madzhab Syafi’i yakni Metode Mutakallimin (Thariqah Mutakallimin). Metode ini merupakan metode mayoritas ulama (jumhur). Metode ini memiliki beberapa keunikan sebagai berikut: 

  1. Pertama, menaruh perhatian serius kepada penyeleksian masalah dan penetapan kaidah berdasarkan prinsip-prinsip logika. 
  2. Kedua, kecenderungan yang kuat kepada argumentasi rasional. 
  3. Ketiga, berpanjang-lebar dalam memaparkan diskusi dan perdebatan. 
  4. Keempat, mensterilkan pembahasan masalah ushul dari masalah-masalah cabang (fiqih).

D. RANGKUMAN ISI

Kitab Bahrul Muhith ini merupakan salah satu kitab ushul fiqh berdasarkan madzhab Syafi’i. kitab ini disebutkan dalam kitabnya secara menyeluruh dalam pengumpulan ucapan-ucapan para ahli ushul terdahulu dan terkini dalam satu kodifikasi hukum, sehingga terlihat sangat luas dari pendapat para ahli ilmu dalam setiap masalahnya. Di dalamnya juga disebutkan pandangan setiap madzhab dan penelitiannya terhadap masalah tertentu serta perbandingan setiap pendapatnya masing-masing. Di sebutkan juga dalil-dalil dan kritikannya, sebab-sebab khilaf, kemudian setelah itu meralat, menyalahkan, dan merajihkan suatu masalah tertentu. 

Seperti dalam kitab ushul Fiqh lainnya, beliau menyebutkan berbagai istilah dan kaidah dalam ushul disertai pengertiannya dengan jelas berikut dihadirkan contoh-contohnya dalam setiap permasalahan, kemudian disebutkan pendapat dari berbagai ulama dan memberikan pendapat utama.

Kitab ini terdiri dari 6 jilid:

  1. Jilid pertama terdiri dari 495 halaman, yang dimulai dengan mukaddimah, biografi penulis, pengertian ushul fiqh, dan istilah-istilahnya dalam ushul fiqh.
  2. Jilid kedua terdiri dari 463 halaman membahas tentang Bahasa dan Isytiqaq secara terperinci
  3. Jilid ketiga terdiri dari 515 halaman membahas tentang ‘Am (umum) dan Khas (Khuhus) dan berbagai contoh permasalahan, dan istilah-istilah: Muthlaq, Muqayyad, Zhahir dan Mu’wil, pembahsan Mujmal, Bayan dan Mubayyan, 
  4. Jilid keempat terdiri dari 560 halaman membahas Istilah Mafhum beserta perinciannya, kitab Naskh, Pembahasan Sunnah dan Kitab Ijma’
  5. Jilid kelima terdiri dari 376 halaman pembahasan tentang Qiyas beserta rukun-rukunnya.
  6. Jilid keenam terdiri dari 704 halaman membahas tentang Istidlal, istiqra,pembahasan tentang Ijtihad, taqlid dan pembahasan dalam pemfatwaan.

E. PENERBIT

Kitab Bahrul Muhith ini edisi cetakan kedua tahun 1413 H /1992 M Hak cipta dari  Kementrian Wakaf dan Urusan Islam Kuwait dan Darus Shafwah telah diberi izin untuk mencetak ulang kitab tersebut. Cetakan Darush Shafwah merupakan salah satu maktabah dan penerbit yang sudah memenuhi standar kualitas isinya (nuskhah, takhrij, dan tahqiq) demi menyebarkan ilmu dan pemahaman Islam dari kitab para ulama untuk semua penuntut ilmu

PENUTUP

Dengan demikian kami menguraikan resensi Kitab Bahrul Muhith Fi Ushul Fiqh Li Az-Zarkasyi ini. Dengan segala kekurangan dan keterbatasan penulis dalam review kitab ini, maka penulis sangat menerima kritik dan saran yang membangun untuk kebaikan ilmu dalam kebenaran.

Semoga Allah ta’ala memberikan taufiq kepada kita semua dan menjadikan ilmu yang bermanfaat serta diberkahi bagi kita semua. Walhamdulillah.

REFERENSI 

  • http://wikipedia.com/
  • http://alsofwa.or.id/

(Peresensi: Irsyad Maulana)

DESKRIPSI KITAB

  • AL BAHRUL MUHÎTH FÎ USHÛLIL FIQH
  • ✍ Penulis : AZ-ZARKASYI BADRUDDÎN BIN MUHAMMAD ASY-SYÂFI’I 
  • 🏢 Penerbit : DARUS SHOFWAH
  • 🗒 Tebal : 6 jilid Hardcover 
  • 📦 Berat : 6,4 kg
  • 💰 Harga : Rp. 900.000 
  • 📲 0831-1077-0955