Categories
Ushul fi Tafsir

Urutan Kalimat, Ayat dan Surat -Ushul Fit Tafsir 09

Pengurutan Al-Qur’an mencakup pembacaannya sambung menyambung sesuai apa yang tertulis di mushaf-mushaf dan terjaga di hafalan di dalam dada.

Ada tiga bentuk:

  1. Urutan katakata dari sisi keadaannya setiap kata itu sudah di tempatnya masing-masing di dalam ayat. Dan ini sudah tsabit dengan dalil nash dan ijma’. Tidak diketahui ada satupun yang menyelisihi akan harusnya urutan tersebut sebagaimana tidak ada yang menyelisihi keharaman menyelisihi ini. Sehingga tidak boleh seseorang membaca seperti ini: الله الحمد رب العالمين sebagai ganti dari ayat الحمد للَّهِ رب العٰلمين.
  2. Urutan ayatayat dari sisi keadaan semua ayat sudah ada tempatnya tertentu dalam surat dan hal ini hukumnya sudah pasti tidak ada kemungkinan lain berdasarkan dalil nash dan ijma dan hal ini hukumnya adalah wajib, haram hukumnya menyelisihi ketetapan ini. Sehingga tidak boleh seseorang membaca dengan urutan: مالك يوم الدين الرحمن الرحيم sebagai ganti dari urutan ayat: الرحمن الرحيم مالك يوم الدين. Di dalam Shahih Bukhari (Kitab Tafsir no 4530) ada kisah tentang Abdullah bin Zubair berkata kepada Utsman bin Affan radiallahu anhuma terkait firman Allah taala: “والذين يتوفون منكم ويذرون أزواجا وصية لأزواجهم متٰعا إلى الحول غير اخراج (Al-Baqoroh 240)” Abdullah bin Zubair berkata: “sesungguhnya ayat yang lain sudah menasakh ayat ini” yakni ayat “والذين يتوفون منكم ويذرون أزواجا يتربصن بأنفسهن أربعةبعه أشهر وعشرا (Al-Baqoroh 234)” (dan ayat ini diletakkan sebelumnya dalam urutan nomor ayat). Abdullah bin Zubair berkata: “maka mengapa kamu tulisnya seperti itu?” Maka Utsman menjawab: “wahai anak saudaraku tidak satupun aku mengubah-memindahkan apa pun ayat Al-Qur’an dari tempatnya.” Dan juga Al Imam Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’i dan At-Tirmidzi meriwayatkan hadits Utsman radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sering turun kepadanya surat-surat yang panjang banyak jumlah ayatnya dan keadaan beliau jika turun kepada-nya Wahyu maka beliau shalallahu alaihi wassalam memanggil sebagian orang penulis Al-Qur’an dan beliau berkata: “ضعوا هذه الآيات التي في السورة التي يذكر فيها كذا و كذا” yakni: Letakkan ayat-ayat ini di surat yang disebutkan di dalamnya demikian dan demikian”.
  3. Urutan suratsurat dari sisi keadaan semua surat sudah di tempatnya masing-masing di dalam mushaf. Dan pengurutan surat ini hukumnya tsabit berdasarkan ijtihad, sehingga hukumnya tidak wajib. Dan di Shohih Muslim dari Hudzaifah ibnul Yamaan radhiallahu ‘Anhu bahwasanya beliau melakukan sholat bersama Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam pada suatu malam lalu Nabi membaca surat Al-Baqarah kemudian An-Nisa kemudian Ali Imron. Dan Imam Al-Bukhari meriwayatkan dengan sanad muallaq dari Al-Ahnaf bahwasanya beliau membaca pada rakaat pertama dengan surat Al-Kahfi dan rakaat kedua dengan surat Yusuf atau Yunus. Dan disebutkan bahwasanya beliau yakni Al-Ahnaf melakukan salat subuh bersama Umar bin Khattab dengan kedua surat tersebut.

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Boleh membaca surat ini sebelum surat ini sebagaimana boleh juga dalam penulisan di mushaf. Oleh karena inilah ada beraneka macam bentuk penulisan-penulisan pada mushaf-mushafnya sahabat radhiallahu ‘anhum. Akan tetapi ketika mereka semua bersepakat di atas mushaf yang satu pada zaman Utsman radhiyallahu ‘anhu maka menjadi lah urutan yang kita lihat sekarang di Al-Qur’an adalah bagian dari sunnahnya Khulafa ar-Rasyidin. Dan sungguh al-Hadits sudah menunjukkan bahwasanya bagi khulafa ar-Rasyidin mereka memiliki sunnah yang wajib untuk diikuti oleh kaum muslimin.”

    Definisi:

    • Nash: adalah dalil yang tegas, tidak ada kemungkinan selainnya, tidak ada peluang/kemungkinan/probabilitas untuk diambil pemahaman selainnya.
    • Ijma’: adalah ketetapan para ahli ilmu, bisa jadi di kalangan sahabat atau ulama setelahnya. Konsekuensi dari ijma’ atau penukilan adanya ijma’ maka orang setelahnya TIDAK BOLEH membawakan hal yang berbeda dari apa yang di-ijma’-kan.
    • Ayat يَتَرَبَّصْنَ adalah jumlah khobariyyah dengan makna insyaiyyah.
    • Arti وَصِيَّةً hendaknya dia memberi wasiat.
    • Ibnu Taimiyyah adalah ulama sunnah yang lahir tahun 661 Hijriyah di Harraan bapaknya seorang Mufti dan kakeknya adalah Al-Imam Al-Allamah Majduddin Abul Barokat Abdussalam bin Abdillah dijuluki syaikhul Islam juga sebagaimana beliau. Beliau seorang yang menegakkan Sunnah, melawan kebidahan filsafat, ilmu Kalam, mantiq Yunani, tasawuf, penyembah kuburan, pejuang pemimpin perang bertahan dari serangan Tatar, seorang Zuhud, dermawan, dan pujian-pujian yang sangat tinggi dari ulama dimasanya dan setelahnya. Beliau adalah guru dari Ibnu Katsir, Adz-Dzahabi, Ibnul Qayyim, ibnu Abdil Hadi, dan banyak lainnya. Rohimahumullah.

    Terjemah Ushul fiqh Tafsir libni ‘Utsaimin

    Categories
    Resensi Kitab

    Resensi Kitab: Al Minhaj Syarah Shahih Muslim Ibnl Hajjaj

    ✍ Penulis : Muhyiddin yahya bin syaraf An Nawawi
    Al Minhaj Syarah Shahih Muslim adalah kitab syarah hadits yang sangat masyhur (populer) di kalangan umat Islam. Salah satu dari karya Imam An-Nawawi ini merupakan syarah dari kitab Shahih Muslim karya Imam Muslim. Penulis mensyarah kitab ini karena melihat besarnya faidah dan manfaat bagi umat Islam. Kitab Shahih Muslim merupakan referensi induk kitab-kitab hadits dengan tingkat kwalitas sanad dibawah kitab Shahih Al-Bukhari.

    Biografi Penulis

    Beliau adalah Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain An-Nawawi Ad-Dimasyqiy, Abu Zakaria. Beliau dilahirkan pada bulan Muharram tahun 631 H di Nawa, sebuah kampung di daerah Dimasyq (Damaskus) yang sekarang merupakan ibukota Suriah. Beliau mulai belajar dan menghafal Al-Quran sebelum menginjak usia baligh.

    Ketika usianya sudah mencapai 19 tahun orangtua beliau mengajak pergi ke Dimasyqi untuk menuntut ilmu.  Ia tinggal di madrasah Ar-rawahiyyah di dekat Al-Jami’ Al-Umawiy

    Diantara Syaikh Beliau:

    Abu Ishaq A-Muradiy, Abul Faraj Ibnu Qudamah Al-Maqdisiy, Ishaq bin Ahmad Al-Maghribiy dan Ibnul Firkah
    Dan diantara murid beliau: Ibnul ‘Aththar Asy-Syafi’iy, Abul Hajjaj Al-Mizziy, Ibnun Naqib Asy-Syafi’iy, Abul ‘Abbas Al-Isybiliy dan Ibnu ‘Abdil Hadi.

    Imam Nawawi meninggalkan banyak sekali karya ilmiah yang terkenal, diantaranya:

    1. Dalam bidang hadits: Arba’in, Riyadhush Shalihin, Al-Minhaj (Syarah Shahih Muslim), At-Taqrib wat Taysir fi Ma’rifat Sunan Al-Basyirin Nadzir.
    2. Dalam bidang fiqih: Minhajuth Thalibin, Raudhatuth Thalibin, Al-Majmu’.
    3. Dalam bidang bahasa: Tahdzibul Asma’ wal Lughat.
    4. Dalam bidang akhlak: At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur’an, Bustanul Arifin, Al-Adzkar.

    Imam Nawawi meninggal pada 24 Rajab 676 H –rahimahullah wa ghafara lahu-.

    Pujian para ulama kepadanya
    Ibnul Aththar berkata,

    “Guru kami An Nawawi disamping selalu bermujahadah, wara’, muraqabah, dan sangat zuhud terhadap dunia, beliau adalah seorang yang hafidz terhadap hadits, bidang – bidangnya, rijalnya, dan ma’rifat shahih dan dha’ifnya, beliau juga seorang imam dalam madzhab fiqh.”

    Dalam Buku ini terdapat pembahasan diantaranya

    • Kitabul Iman, Mencakup : Bab iman, islam, dan ihsan. Bab penjelasan sholat lima waktu termasuk dari rukun islam.  Dll
    • Kitab Thoharoh, Mencakup : Bab keutaman wudhu, Bab wajibnya bersuci ketika hendak sholat, Bab tentang bersiwak, Dll
    • Kitab Jum’at, Mencakup : Bab mandi wajib ketika hendak sholat jum’at bagi laki-laki yang sudah baligh, Bab memakai parfum dan bersiwak ketika hendak sholat jum’at, Bab keutamaan hari jum’at, Dll
    • Kitab Sholat Istisqo,  Mencakup : Bab mengangkat kedua tangan dalam berdoa ketika sholat istisqo, Bab doa sholat istisqo, Dll

    Dan masih banyak lagi pembahasan ilmu agama yang sangat kita butuhkan untuk memperdalam ilmu agama kita.

    Buku ini sangat cocok untuk panduan kita belajar tentang hadis dari Rasulullah yang berkaitan tentang kehidupan kita, hal-hal yang banyak kita hadapi dalam kehidupan kita sehari-hari.

    Semoga bermanfaat yang sedikit ini.

    Sumber: Admin Toko Kitab hubungi 083110770955.

    Categories
    bahasa arab

    Konversi Huruf Hijaiyah ke Angka

    Pembaca buku berbahasa Arab mungkin pernah melihat penomoran mengurut diawali أ kemudian ب kemudian ج dan seterusnya, lalu anda dirayapi perasaan bertanya kok setelah أ bukan ب lalu ت lalu ث lalu ج dan seterusnya sebagaimana kita belajar huruf Hijaiyah..

    Alhamdulillah, Syaikh Utsaimin yang semoga Allah merahmatinya membawakan sekilas penerangan akan ini di bagian akhir penjelasan Syarah Nazhom Waroqot. Berikut orang Arab merangkumnya dalam satu bait:

    أَبْجَدْ هَوَّز حُطِّيْ كَلَمَنْ     سَعْفَصْ فَرَشَتْ ثَخَذْ ضَغْظ

    Inilah huruf-huruf abjad. Huruf pertamanya bernilai satu. Yang kedua bernilai dua. Hingga angka sepuluh. Setelah itu bernilai dua puluh hingga seratus. Setelah itu bernilai dua ratus hingga seribu.

    Dengan demikian..

    • أ 1
    • ب 2
    • ج 3
    • د 4
    • هـ 5
    • و 6
    • ز 7
    • ح 8
    • ط 9
    • ي 10
    • ك 20
    • ل 30
    • م 40
    • ن 50
    • س 60
    • ع 70
    • ف 80
    • ص 90
    • ق 100
    • ر 200
    • ش 300
    • ت 400
    • ث 500
    • خ 600
    • ذ 700
    • ض 800
    • ظ 900
    • غ 1000

    Dengan rumus di atas bagaimana kita merangkai angka lain. Caranya..

    • 204 = د + ر
    • 840 = ض + م dan seterusnya.

    Semoga Allah merahmati Syaikh Utsaimin, semoga Allah jadikan penulis bisa mengikuti beliau dalam mengikuti jalan salafus sholeh aamiin. Aamiin. 

    Allahumma sholli ‘ala muhammad

    Categories
    Adab dan Akhlak Qolbu

    Tempat Masuk Setan ke Dalam Hati

    Ketahuilah bahwasanya permisalan untuk hati adalah seperti sebuah benteng kemudian setan adalah musuh yang ingin masuk ke Benteng tersebut lalu menguasainya dan memilikinya dan tidak ada yang bisa untuk menjaga benteng dari musuh tersebut kecuali dengan penjagaan di pintu-pintu benteng dan jalur jalur masuk ke Benteng dan celah celah sempitnya.

    Dan tidak akan bisa menjaga pintu Pintunya seorang yang tidak tahu dimana pintu Pintunya Oleh karena itu menjaga dan memperhatikan hati dari was-was nya setan hukumnya adalah wajib dan tidak akan bisa berhasil kan membendung setan kecuali dengan mengetahui arah dia masuk sehingga mengetahui tempat tempat masuknya dia hukumnya juga wajib.

    Tempat masuk dan pintu pintu masuknya setan sebanyak sifat-sifat seorang hamba itu sangat banyak sekali akan tetapi kami akan maksudkan kepada pintu Pintunya yang paling besarnya saja yang senantiasa berjalan di perjalanan yang tidak ada hentinya yang jalan itu tidak akan menjadi sempit dengan banyaknya pasukan pasukan setan.

    Yang pertama adalah marah dan syahwat karena marah itu adalah penguncinya akal budi Andhika tentara akal itu melemah maka tentara setan akan mengajar dan kapan saja seorang manusia marah langsung setan itu mempermainkan akalnya sebagaimana anak kecil bermain bola.

    Kemudian pintu yang besar lainnya adalah hasad dan dengki maka kapan saja seorang hamba mengalami kedengkian tamak niscaya ketamakan itu akan membuat dia jadi buta dan tuli Adapun cahaya basiroh dialah yang akan mendeteksi pintu pintu masuknya setan sehingga jika sifat hasad sudah menutupi cahaya bashiroh maka dia tidak lagi bisa melihat dan saat itu setan akan mendapatkan kesempatan

    Kemudian yang termasuk pintu terbesar adalah kenyang dan terus makan meskipun makanannya itu halal dan terjaga dari kekotoran karena sesungguhnya merasa kenyang itu akan membuat syahwat menjadi kuat sedangkan syahwat itu adalah senjatanya setan.

    Dan termasuk pintu besar Selatan adalah ketergesa-gesaan dan meninggalkan kroscek di apapun keadaannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda di dalam hadis yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi dihasankan oleh Syaikh Al Albani bahwa tergesa-gesa adalah dari setan dan hati-hati dari Allah ta’ala.

    Kemudian juga dari pintu terbesar untuk setan masuk adalah pelit dan takut kemiskinan karena sesungguhnya pelit dan takut miskin membuat orang tidak mau berinfaq bersodakoh dan selalu mengarahkan dirinya untuk menumpuk dan menimbun harta dan siksaan yang pedih pedih.

    Sumber: Al-Bahr Ar-Roo-iq

    Categories
    Terjemah Ushul fi Tafsir

    Hikmah Diturunkannya Al-Qur’an Secara Berangsur-angsur -Ushul Fit Tafsir 08

    Dari adanya pembagian Al-Qur’an kepada Makki dan Madani maka jelas difahami bahwasanya Al-Qur’an turun kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam secara sedikit demi sedikit berangsur-angsur. Dan dari turunnya Al-Qur’an di atas cara itu ada hikmah yang sangat banyak diantaranya:

    1. Mengkokohkan hati Nabi shallallahu alaihi wasallam. Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala: “وقال الذين كفروا لولا نزل عليه القرءان جملة واحدة كذلك لنثبت به فؤادك ورتلناه ترتيلا ولا يأتونك بمثل إلا جئْنٰك بالحق وأحسن تفسيرا”  Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.
    2. Untuk memudahkan orang-orang menghafal Al-Qur’an, memahaminya dan mengamalkan kandungannya. Hal ini karena Nabi membacakan kepada mereka sebagian demi sebagian berdasarkan firman Allah subhanahu wa Ta’ala: وقرءانا فرقناه لتقرأه على الناس على مكث ونزلناه تنزيلا Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.
    3. Menggiatkan, menggerakan semangat-semangat kaum muslimin untuk menerima hukum dan syariat Yang turun di dalam dari Al-Qur’an dan untuk melaksanakan dan merealisasikannya karena para kaum muslimin, para sahabat Nabi tumbuh rasa rindunya ingin mendengar, menunggu-nunggu diturunkannya ayat Al-Qur’an terlebih lagi di saat kebutuhan akan ayat Al-Qur’an semakin genting. Misal dari  keadaan ini adalah ketika para sahabat menunggu diturunkannya ayat pada peristiwa fitnah orang-orang munafik kepada Aisyah istri Nabi (ifk) dan juga pada peristiwa Lian.
    4. Suatu bentuk bertahapnya pada suatu persyariatan hingga sampai kepada tingkatan sempurna. Contohnya pada pengharaman khamr yang saat itu para manusia terbiasa dan khamr masoh menjadi bagian kehidupan sehari-harinya sehingga menjadi sebuah perkara yang sulit atas mereka jika berikan suatu pelarangan khamr dengan bentuk pelarangan secara total secara langsung. Oleh karena itu Allah menurunkan beberapa ayat hingga sempurna pelarangan khomr. Di keadaan pertama kalinya, firman Allah ta’ala: يسئلونك عن الخمر والميسر قل فيهما إثم كبير ومنٰفع للناس وإثمهما أكبر من نفعهما Maka pada ayat ini adalah persiapan jiwa-jiwa untuk menerima pengharaman khamr dari sisi  sesungguhnya akal manusia mengarahkan tidak membiasakan sesuatu yang dosanya itu lebih banyak daripada manfaatnya. Kemudian ayat yang kedua turun, firman Allah ta’ala: يأيها الذين ءامنوا لا تقربوا الصلوة وأنتم سكرى حتى تعلموا ما تقولون ولا جنبا Maka pada ayat ini ada bentuk ujian kepada para sahabat untuk meninggalkan khomr pada sebagian waktu yakni di waktu-waktu sholat. Kemudian turun ayat yang ketiga, yakni firman Allah ta’ala: يأيها الذين ءامنوا إنما الخمر والميسر والأنصاب والأزلٰم رجس من عمل الشيطٰن فاجتنبوه لعلكم تفلحون إنما يريد الشيطان أن يوقع بينكم العدٰوة والبغضاء في الخمر والميسر ويصدكم علن ذكر الله وعن الصلاوة فهل أنتم منتهون وادأطيعوا الله واطيعوا الرسول واحذروا فإن توليتم فاعلموا أنما على رسولنا البلاغ المبين
    Maka di dalam ayat ini kandungannya adalah larangan dari minum khamr secara total tanpa pengecualian. Dan ayat pelarangan secara total ini diturunkan setelah jiwa-jiwa manusia sudah siap menerimanya, kemudian telah diberikan ujian dengan pelarangan dari khomr pada sebagian waktu. Terjemah Ushul fi Tafsir Libni ‘Utsaimin rohimahullah
    Categories
    Resensi Kitab Terjemah

    Resensi Pengantar Studi Ilmu Hadits

    Judul terjemahan: Pengantar Studi Ilmu Hadits

    • Judul asli: Mabahits fii ‘Ulumil Hadits
    • Penulis: Syekh Manna Al-Qaththan
    • Penerjemah: Mifdhol Abdurrahman
    • Penyunting: Muhammad Ihsan
    • Penerbit: Pustaka Al-Kautsar
    • Halaman: 205 halaman
    • Kontak: 083110770955

    Ni dia salah satu buku terjemahan yang best seller di bidang ilmu hadis, ditulis oleh seorang pakar asli di bidangnya dan kualitas terjemahannya baguuuus banget.

    Penulis aslinya orang Mesir, nama lengkapnya adalah Manna Kholil Al- Qaththan lahir di desa Syansur daerah Manufiyah Mesir pada bulan Oktober tahun 1925 M. Beliau berasal dari keluarga kelas menengah yang relijius. Seperti umumnya anak-anak di Mesir, beliau di waktu kecilnya menghafal Qur’an di kuttab, lalu melanjutkan ke madrasah diniyyah di kampungnya, lalu lanjut lagi ke Ma’had Diniy Azhariy di kota Shibin Al-Kum, kemudian lanjut ke Universitas Al-Azhar di fakultas Ushuluddin, kemudian lanjut lagi untuk belajar ilmu keguruan sampe dapet ijazah ‘alimiyyah. Diantara guru-guru beliau yang utama adalah bapaknya sendiri Syekh Abdurrozzaq Afifi, Syekh Hasan Al-Banna, Syekh Muhammad Al-Bahi, Syekh Abdul Mutaal Saifun Nashr, Syekh Ali Syalabi, Syekh Muhammad Zaidan, dan Syekh Muhammad Yusuf Musa. Beliau juga terjun ke medan tempur Palestina tahun 1948 bersama pasukan Al-Ikhwan Al-Muslimin (ya beliau juga tokoh penting Al-Ikhwan). Kemudian beliau diminta Raja Abdul Aziz Aalu Suud untuk mengajar di Kerajaan Saudi Arabia. Beliau menempati posisi-posisi penting disana, yakni menjadi pendiri ma’had diniy di Ahsa, kemudian Qoshim, juga menjadi pejabat teras di Departemen Pendidikan disana, juga menjadi mustasyar khos di Kementerian Dalam Negeri KSA, juga mengajar di Universitas Imam Muhammad bin Suud Riyadh (dan jadi muassis, musyrif dan mudir pasca sarjana disana), juga jadi mudir Ma’had Aliy lil Qodlo di Riyadh, banyak sekali qodli dan ulama yang lahir dari didikan beliau. Beliau juga menjadi anggota Robithoh Alam Islami dan beberapa organisasi keulamaan lain. Beliau wafat pada tanggal 19 Juli 1999 di Riyadh, disholatkan di Masjid Ar-Rojihi daerah Ar-Robwah dan dimakamkan di daerah An-Nasim di Riyadh.

    Buku ini adalah buku daras di perguruan tinggi, jadi tartibnya seperti umumnya buku daras perguruan tinggi modern, yaitu gaya bahasa yang simpel, ada tiap contoh per bahasan, tiap tema penting dibahas secara sapu jagad dan menyertakan saran-saran kitab untuk telaahan lebih lanjut.

    Dibawah ini daftar isi bukunya:

    Pengertian Hadits Nabawi

    • ·        Perhatian Terhadap Hadits
    • ·        Definisi Hadits
    • ·        Bentuk-Bentuk Periwayatan
    • ·        Perbedaan Antara Hadits Qudsi Dengan Al-Qur’an
    • ·        Perbedaan Antara Hadits Qudsi Dengan Hadits Nabawi

    As-Sunnah dan Kedudukannya dalam Syariat Islam

    • ·        Kedudukan As-Sunnah Sebagai Hujjah Dalam Syari’at Islam
    • ·        Kedudukan As-Sunnah Dalam Dalil-Dalil Syari’at
    • ·        Syubhat-Syubhat dan Bantahannya

    Penulisan Pembukuan Hadits Nabi

    • ·        Penulisan Hadits
    • ·        Pembukuan Hadits
    • ·        Metode Pembukuan Hadits dan Karya Terpopuler Di Bidang Itu

    Ilmu Hadits: Pertumbuhan, Perkembangan dan Pengenalan Akan Keduanya

    • ·        Pertama: Dorongan Agama
    • ·        Kedua: Dorongan Sejarah
    • ·        Ketiga: Kritik Terhadap Riwayat

    Ilmu Rijalul Hadits

    • ·        Kitab-Kitab Tentang Nama-Nama Sahabat Secara Khusus
    • ·        Penyusunan Berdasarkan Thabaqat (Generasi)

    Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta’dil

    • ·        Pensyariatan Al-Jarh Wa At-Ta’dil
    • ·        Perkembangan Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta’dil
    • ·        Perbedaan dan Tingkatan Para Perawi
    • ·        Orang-Orang Yang Paling Masyhur Berbicara Mengenai Perawi
    • ·        Tingkatan-Tingkatan Al-Jarh Wa At-Ta’dil

    Ilmu Gharib Al-Hadits

    • ·        Buku-Buku Yang Terkenal Dalam Bidang Ini

    Ilmu ‘Ilal Hadits

    • ·        Buku Terkenal Dalam ‘Ilal Hadits
    • ·        Tempat-Tempat dimana Ilal Banyak Terdapat dan Contohnya

    Ilmu Mukhtalaf dan Musykil Hadits

    • ·        Munculnya Ilmu Mukhtalaf dan Musykil Hadits
    • ·        Buku-Buku Yang Terkenal Dalam Ilmu Mukhtalaf dan Musykil Hadits
    • ·        Contoh dari Ilmu Ini, Dari Kitab Ta’wil Mukhtalaf Al-Hadits karya Ibnu Qutaibah

    Ilmu Musthalah Hadits

    • ·        Pembagian Hadits Dilihat Dari Segi Sampainya Kepada kita
    • ·        Hadits Mutawatir
    • ·        Hadits Ahad
    • ·        Hadits Shahih
    • ·        Hadits Hasan
    • ·        Pembagian Khabar Yang Maqbul (Diterima) Yang Dapat Diamalkan dan Yang Tidak Dapat Diamalkan
    • ·        Apa Yang Harus Dilakukan Untuk Mendudukkan Dua Hadits Maqbul dan Mukhtalaf itu?
    • ·        Hadits Nasikh dan Mansukh
    • ·        Hadits Dhaif
    • ·        Mu’allaq
    • ·        Mursal
    • ·        Mu’dhal
    • ·        Munqathi
    • ·        Mudallas
    • ·        Mursal Khafi
    • ·        Hadits yang Mardud
    • ·        Maudhu
    • ·        Matruk
    • ·        Munkar
    • ·        Ma’ruf
    • ·        Mu’allal
    • ·        Mukhalafah Li Ats-Tsiqat
    • ·        Mudraj
    • ·        Maqlub
    • ·        Al-Mazid Fi Muttashil Al-Asanid
    • ·        Mudhtharib
    • ·        Mushahhaf
    • ·        Hadits Ayadz dan Mahfuzh
    • ·        Jahalah Ar-Rawi
    • ·        Bid’ah
    • ·        Su’ul Hifzh
    • ·        Pembagian Hadits Menurut Sandarannya
    • ·        Marfu
    • ·        Mauquf
    • ·        Maqthu
    • ·        Ziyadah Ats-Tsiqah
    • ·        Al-Mutabi dan As-Syahid serta Al-I’tibar

    Jalan Menerima Hadits dan Bentuk Penyampaiannya

    • Perbedaan Antara Kalimat Mitsluhu dan Nahwuhu

    Ilmu Takhrij dan Studi Sanad

    • ·        Metode Takhrij
    • ·        Studi Sanad Hadits

    Sanad dan Hal-Hal Seputarnya

    • ·        Sanad ‘Aliy dan Nazil
    • ·        Hadits Mursal
    • ·        Riwayat Yang Tua Dari Yang Lebih Muda
    • ·        Riwayat Ayah Dari Anaknya
    • ·        Riwayat Anak Dari Bapaknya
    • ·        Mudabbaj Riwayat Teman Dekat (Al-Aqran)
    • ·        Sabiq dan Lahiq
    • ·        Mengenal Para Perawi
    • Muttafaq dan Muftaraq
    • Mu’talaf dan Mukhtalaf
    • Mutasyabih

    Versi terjemah ini banyak dipake sebgai buku wajib di institusi pendidikan Islam di negara kita, mungkin sekolah anda salah satu satunya.

    Buku ini sangat sesuai bagi anda yang mau memulai studi di bidang hadis.

    Wassalam.

    Sumber: Abu Abdullah Al Depoki al-mulaqqob bin Abi Tajir.

    Categories
    Terjemah Ushul fi Tafsir

    Makki dan Madani -Ushul Fit Tafsir 07

    Al-Qur’an turun kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam secara terpisah-pisah dalam kurun 23 tahun. Rasulullah kebanyakan menghabiskan waktunya di Mekkah. Allah subhanahu wa taala berfirman: “وقرانا فرقناه لتقراه على الناس على مكث ونزلناه تنزيلا (الإسراء ١٠٦)ض”. Oleh karena inilah para ulama –rohimahumullah- membuat pembagian Al-Qur’an menjadi dua: Makki dan Madani.

    • Makki adalah ayat-ayat yang turun kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam sebelum Nabi Muhammad melakukan hijrah ke Madinah.
    • Madani adalah ayat-ayat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam setelah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah.

    Dan dengan dasar pembagian tersebut maka firman Allah ta’ala “اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا (المائدة ٣)ض” masuk kategori ayat Madani meskipun dia diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam pada haji Wada’ di ‘Arafah.

    Di dalam shahih Bukhari dari Umar radhiallahu Anhu bahwasanya beliau berkata: “Benar-benar kami tahu apa hari tersebut dan di mana tempat yang diturunkannya ayat itu kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Sesungguhnya ayat itu turun di waktu Nabi Muhammad sedang berdiri di Arafah pada hari Jumat”.

    Pembagian Makki dan Madani ini bisa dibedakan dari sisi uslub dan isinya. Adapun dari sisi uslub maka:

    1. Cara kebanyakan ayat-ayat makki itu uslubnya sangat kuat, sangat tegas arah pembicaraannya hal itu karena mayoritas pihak yang diajak bicara adalah orang-orang yang mengingkari kerasulan Nabi dan orang-orang yang sombong. Tidaklah cocok untuk mereka kecuali ayat-ayat yang tegas dan kuat. Bacalah 2 surat berikut Al-Muddatssir dan Al-Qomar. Adapun ayat Madani maka mayoritas dari uslub cara penyampaiannya adalah lembut sekali dan ringan gaya bahasanya. hal ini dikarenakan mayoritas dari pihak-pihak yang diajak bicara diarahkan adalah orang-orang yang menerima kebenaran nan merendahkan diri dihadapan kebenaran. Bacalah surat Al-Maidah.
    2. Kemudian mayoritas dari ayat-ayat makki adalah ayat-ayat yang pendek dan sisi hujjahnya sangat kuat, hal itu dikarenakan mayoritas orang yang diajak bicara adalah orang-orang yang ingkar, sempit dadanya sehingga mereka pun diajak berbicara dengan cara yang keadaan mereka membutuhkannya bacalah surat At-Thur. Adapun Madani maka mayoritas di dalamnya adalah ayat-ayat yang panjang, disebutkan hukum-hukum agama secara pelan-pelan tanpa harus menyebutkan kuatnya argumentasi. Hal ini dikarenakan keadaan mereka mengarahkan untuk diberikan hal tersebut bacalah ayat-ayat tentang hutang pada surat Al-Baqarah.

    Adapun dari sisi tema atau topik pembicaraannya maka:

    1. Mayoritas dari ayat-ayat makki isinya adalah penetapan nilai-nilai tauhid dan aqidah yang lurus yang selamat lebih khusus lagi yang terkait dengan tauhid uluhiyah dan percaya kepada hari kebangkitan hal ini dikarenakan mayoritas dari orang yang diturunkan ayat tersebut adalah mengingkarinya. Adapun ayat-ayat madani secara umum di dalamnya berisi rincian-rincian ibadah dan muamalah karena orang-orang yang diajak berbicara mereka sudah kokoh tertanam di jiwa jiwa mereka tauhid dan aqidah yang benar sehingga mereka keadaannya butuh kepada perincian ibadah dan muamalah.
    2. Banyaknya penyebutan jihad dan hukum-hukumnya dan orang munafikin dan keadaan-keadaan orang munafik pada ayat Madani karena konsekuensi dari keadaannya periode Madani. Itu adalah karena di masa itu telah disyariatkan jihad dan nampaknya kemunafikan berbeda dari masa Makki.

    Terjemah Ushul fi Tafsir Libni ‘Utsaimin rohimahullah

    Categories
    Terjemah Ushul fi Tafsir

    Umumnya Lafaz dan Sebab Yang Khusus -Ushul Fit Tafsir 06

    Jika turun ayat Al-Qur’an dengan sebab yang khusus dan lafaz ayat tersebut adalah umum maka hukum dari ayat tersebut mencakup dengan sebabnya dan juga mencakup semua yang bisa dipahami dari lafaznya. Karena Al-Qur’an itu diturunkan sebagai sumber syariat secara umum untuk semua umat. Dan yang menjadi ibrah (yang dianggap) adalah keumuman lafaznya bukan khususnya sebab.

    Contoh dari lafaz umum dan sebab yang khusus adalah ayat tentang Li’an (Pent: Li’an adalah menuduh istri berzina, dia melihatnya, tetapi tidak memiliki saksi sebanyak empat orang), firman Allah subhanahu wa Ta’ala: “والذين يرمون أزواجهم ولم يكن لهم شهداء إلا أنفسهم (النور ٦)ض” sampai “إن كان من الصادقين (النور ٦-٩)ض”. Di dalam shahih Bukhari dari hadits Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma bahwasanya Hilal bin Umayyah menuduh isterinya berbuat serong (selingkuh) dengan Syarik bin Sahma’ di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apakah kamu punya bukti atau punggungmu dipukul?”(Pent: Maksudnya punggung kamu dicambuk). Maka dia berkata: “Demi Yang mengutusmu dengan Al-Haq sesungguhnya saya berkata jujur. Allah akan mewahyukan kepadamu yang menyelamatkan punggungku dari hukuman cambuk. Maka Jibril turun menyampaikan wahyu Allah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Dan merekalah yang menuduh para istrinya…. (An Nuur; 6-9). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membacanya hingga sampai bagian Jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar.

    Ayat ini diturunkan dengan sebab Hilal bin Umayyah mengadukan perbuatan serong dari istrinya akan tetapi hukum dari ayat ini juga mencakup kepada hilal dan selain hilal dengan dalil hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dari hadits Sahl bin Sa’ad radhiallahu anhu bahwa ‘Uwaimir Al-‘Ajlani datang kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam lalu berkata: “Wahai Rasulullah ada seorang laki-laki dia mendapati bersama istrinya seorang laki-laki apakah dia boleh membunuh laki-laki tersebut atau apa yang dia lakukan?” kemudian Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam menjawab: “Sesungguhnya Allah subhanahu wa Ta’ala sudah menurunkan Al-Qur’an tentang perkara kamu dan istri kamu ini”. Kemudian Nabi Muhammad shallallahu alaihi sallam memerintahkan mereka berdua melakukan saling laknat sebagaimana yang Allah sudah tentukan di kitabnya, kemudian mereka berdua pun saling melaknat sebagaimana di hadits yang muttafaqalaih.

    Mekap di peristiwa datangnya ‘Uwaimir itu Rasulullah memberikan hukum kepadanya dengan ayat yang sama yang diturunkan kepada hilal bin Umayyah. Menunjukkan bahwa hukum dari ayat tersebut adalah umum untuk semua kaum muslimin.

    Terjemah Ushul fi Tafsir Libni ‘Utsaimin rohimahullah

    Categories
    Terjemah Ushul fi Tafsir

    Faidah Mengetahui Asbabun Nuzul -Ushul Fit Tafsir 05

    Mengetahui sebab-sebab diturunkannya ayat Al-Qur’an itu penting sekali karena itu memberikan kita faidah-faidah yang sangat banyak. Diantaranya:

    1. Menerangkan bahwa Al-Qur’an turun dari sisi Allah ta’ala. Argumen ini dengan dasar bahwa (A) Nabi shollallahualaihi wa sallam ditanya tentang sesuatu kemudian beliau terkadang diam tidak memberikan jawaban hingga turun untuk perkara tersebut Wahyu. (B) Atau ada kesamaran pada suatu perkara yang terjadi sehingga Wahyu turun menghilangkan kesamaran tersebut. Contoh yang pertama firman Allah ta’ala: ويسئلونك عن الروح قل الروح من أمر ربي وما أوتيتم من العلم إلا قليلًا (الإسراء ٨٥) ض. Dan di dalam shahih Bukhari dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu bahwasanya ada satu orang laki-laki Yahudi berkata: “Wahai Abul Qosim apa itu ruh?” Kemudian Nabi diam. Pada lafazh lain: “lalu Nabi menahan”. Karena belum datang ayat apapun terkait itu. “Kemudian saya tahu bahwa beliau sedang diturunkan wahyu, lalu saya berdiri di tempatku. Maka tatkala telah turun Wahyu, nabi bersabda: يسئلونك عن الروح قل الروح من أمر ربي (الإسراء ٨٥)”ض. Contoh kedua, firman Allah: يقولون لئن رجعنا إلى المدينة ليخرجنّ الأعز منها الأذل (المنافقون ٨)ب. Dan di shohih Bukhori dari Zaid bin Arqam radhiallahu Anhu beliau mendengar Abdullah bin Ubay dedengkotnya kaum munafik berkata bahwa Abdullah bin Ubay memaksudkan dialah orang yang mulia sedangkan Rasul dan sahabatnya orang rendahan maka Zaid pun memberitakan hal tersebut kepada pamannya kemudian pamannya memberitahukan nabi kabar dari ubay tersebut lalu Nabi memanggil Zaid untuk memberitahu Zaid tentang apa yang beliau dapatkan dari pamannya. Kemudian Nabi mengutus orang kepada Abdullah bin Ubay dan para temannya untuk mengkonfirmasi berita ucapan tersebut (Pent: Hal ini menunjukkan disyariatkannya mencari kebenaran berita dan mengecek kebenarannya) akan tetapi orang-orang munafik berani bersumpah bahwa mereka tidak pernah mengucapkannya maka Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam membenarkan mereka dikarenakan mereka bersumpah atas nama Allah. Lalu Allah subhanahu wa Ta’Ala menurunkan wahyu yang membenarkan Zaid. Dengan turunnya ayat tersebut menjadi teranglah kenyataan yang ada di sisi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
    2. Menunjukkan perhatiannya Allah subhanahu wa Ta’ala kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam bentuk pembelaan Allah kepada nabi. Contoh atas hal ini adalah firman Allah ta’ala: وقال الذين كفروا لولا نزل عليه القرءان جملة واحدة كذلك لنثبت به فؤادك ورتلناه ترتبلا. Dan demikian juga ayat-ayat ‘ifk (kejadian orang munafik menuduh Aisyah berzina). Sesungguhnya tersebut adalah pembelaan kepada istri-istri Nabi dan membersihkan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dari segala lemparan kotoran yang pemfitnah itu hantamkan kepada Nabi.
    3. Penjelasan penjagaanya Allah kepada hamba-hambanya dari sisi melepaskan mereka dari kesulitan kesulitan, melenyapkan gundah gulana mereka. contohnya adalah ayat tayamum, diceritakan di hadits di Shahih Bukhori bahwasanya saat itu Aisyah radhiyallahu anha kehilangan  kalungnya dalamaan beliau sedang bersama nabi shallallahu alaihi wasallam di salah satu safarnya beliau. Atas kehilangan kalung tersebut Nabi Muhammad langsung mengupayakan pencarian kalung dan para sahabat Nabi ikut mencari hingga waktu subuh tidak berhasil menemukan kalung dan mereka belum sempat mencari air untuk berwudhu sholat subuh. Kemudian mereka semua pun mengadukan hal tersebut (perbuatannya Aisyah) kepada Abu Bakar (Pent: Dari ini menunjukkan bolehnya mengadukan seorang perempuan bersuami kepada selain suaminya, seperti ke bapaknya. Dan juga dalil bolehnya seorang bapak mencela anaknya yang sudah bersuami). Lalu turunlah ayat Al-Qur’an terkait tayamum. Lalu berkatalah Usaid bin Hudhoir radhiyallahuanhu: “ini bukanlah pertama kali barokahnya engkau wahai keluarga Abu Bakar”. 
    4. Memberikan pemahaman ayat dari arah yang benar. Contoh hal ini adalah firman Allah ta’ala: إن الصفا والمروة من شعائر الله فمن حج البيت أو اعتمر فلا جناح عليه أن يطوف بهما (البقرة ١٥٨)ض. Maksud ayat ini adalah Sai di antara dua bukit tersebut. Karena zahir dari firman Allah (فلا جناح عليه) puncak dari kegiatan haji adalah Sa’i di antara Shofa dan Marwah yang hukumnya adalah mubah. Disebutkan di shahih Bukhari dari ‘Ashim bin Sulaiman beliau berkata: Saya bertanya kepada Anas bin Malik radhiallahu Anhu tentang perkara Shafa dan Marwah lalu beliau berkata: “Dahulu kami memandang Sai di antara Shafa dan Marwah adalah salah satu kegiatan jahiliyah. Kemudian tatkala datang Islam kami menahan diri tidak melakukan sa’i. Oleh karena hal tersebut Allah subhanahu wa Ta’ala menurunkan firmannya (إن الصفا والمروة من شعائر الله sampai ujung ayat أن يطوف بهما) sehingga dengan turunnya ayat ini diketahui bahwa penegasian/penafian الجناح (salah, dosa) bukan untuk menjelaskan hukum asal dari sa’i (Pent: Dari Zahir ayat terpajang bahwa sa’i hukumnya hanya mubah. Maka dengan mengetahui perbuatan Nabi maka kita akan tahu bahwa sa’i adalah salah satu dari rukun haji). Akan tetapi itu untuk menafikan keengganan mereka dari melakukan sa’i, karena para sahabat menilai sa’i adalah perkara jahiliyah. Adapun hukum asal sa’i maka sudah terang dari firman Allah (من شعائر الله) yakni disyariatkan (mungkin sebagai rukun atau kewajiban atau Sunnah. Dan yang benar dia adalah rukun haji).

    Terjemah Ushul fi Tafsir Libni ‘Utsaimin rohimahullah

    Categories
    Nuzulul Qur'an Terjemah Ushul fi Tafsir

    Turunnya Al-Qur’an secara Ibtida’iy dan Sababiy -Ushul Fit Tafsir 04

    Terkait turunnya Al-Qur’an terkelompokkan menjadi dua kelompok yang pertama, Ibtidaiy, yaitu ayat-ayat yang tidak diawali dengan sebab apapun yang menjadi alasan untuk turunnya ayat tersebut. Bentuk ini adalah mayoritas dari ayat-ayat Al-Qur’an diantaranya adalah Firman Allah:
    ومنهم من عٰهد اللهَ لئِن ءَاتَـٰنا من فضله لنصّدّقنّ ولنكوننّ من الصٰلحين. (Pent: Ayat tentang nazar muqoyyad. Ada huruf qosam dan muqsam bihi yang dihapus, yakni asalnya: واللهِ لَنَصَدَّقَنَّ, dan di ayat ini ada tiga pen-taukid: (1) Lam taukid, (2) nun taukid, (3) lafazh qosam)

    Ayat-ayat tersebut sesungguhnya dia turun secara ibtidaiy dalam menjelaskan menerangkan keadaan sebagian kaum munafikin. Adapun alasan yang masyhur (tentang asbabun nuzul ayat di atas) yang menyebutkan bahwa turunnya terkait kisah Tsa’labah bin Hathib dalam kisah yang panjang, banyak orang-orang yang menafsirkan dengan menyebutkan hal ini, para pemberi nasihat menyebar-nyebarkannya juga, sesungguhnya kisah tersebut adalah DHOIF tidak ada sisi benarnya sama sekali.

    Jenis yang keduasababiy yaitu ayat-ayat yang turunnya dia didahului oleh sebab menuntut ayat itu turun. di antara sebab-sebab itu adalah:

    1. Pertanyaan yang Allah berikan jawabannya. Contoh: يسئلونك عن الأهلة قل هي مواقيت للناس والحج. (Pent: ketika ada pertanyaan ini Rosulullah tidak memberi jawaban. Dan Allah menurunkan ayat ini sebagai jawaban atas pertanyaan)
    2. Atau peristiwa yang terjadi yang memerlukan kepada penjelasan dan peringatan. Contoh: ولئن سألتهم ليقولن إنما كنا نخوض ونلعب.
      Dua ayat ini turun kepada seorang laki laki dari golongan munafik yang dia berkata pada Perang Tabuk di suatu majelis: “Kami tidak pernah melihat yang seperti  penghafal AlQuran kami yang lebih besar perutnya dan lebih dusta lidahnya dan paling pengecut waktu bertemu musuh” yang dia maksudkan adalah Rasulullah dan sahabat-sahabatnya. Maka langsung hal itu disampaikan kepada Rosulullah dan turunlah Al-Quran. Lalu langsung lelaki tadi datang meminta maaf kepada Nabi. Langsung Nabi menjawabnya: “أبالله وءايته ورسوله كنتم تستهزءون”
    3. Perbuatan yang muncul dan butuh untuk mengetahui hukumnya, contoh:
      قَد سَمعَ الله قَولَ الَتى تُجَادلُكَ في زَوجهَا وتَشتَكى إلَى الله والله يَسمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إنَّ الله سَميعٌ بَصير