Categories
Terjemah

Hukum Thaharah, Air, Jenis-Jenis Air, Air Liur Manusia dan Hewan

Terjemah Kitabut Thoharoh Fiqih Muyassar -002

Hukum Thaharah dan air dan masalah-masalah di dalamnya.

A. Pengertian dari thoharoh dan penjelasan akan kepentingannya.

Pentingnya thoharoh dan pembagian pembagiannya. Thoharoh dia adalah kuncinya salat dan syarat yang paling ditekankan dari salat. Dan sebuah syarat pasti datangnya lebih dahulu daripada yang dipersyaratkannya.

Thaharah ada dua pembagian. Yang pertama thoharoh maknawiyah yaitu dia adalah thoharotul Qolbi (kesucian hati) dari kotoran kesyirikan dan kemaksiatan dan apa-apa. Thoharoh ini lebih penting daripada sekedar thoharotul badan (kesucian badan). Dan tidaklah mungkin bisa merealisasikan kesucian Badan Kebersihan badan bersamaan dengan adanya najis kesyirikan sebagaimana Allah berfirman : انما المشركون نجس.

Yang kedua adalah kesucian secara fisik (الطهارة الحسية). Akan datang perincian ucapan-ucapan di dalam pembagian ini di baris yang berikut nya.

Sejarah istilah thoharoh artinya adalah mengangkat hadats dan lenyapnya alkhabats. yang diinginkan dari terangkatnya hadats adalah: menghilangkan sifat yang menghalangi salat dengan mempergunakan air ke semua badan jika hadatsnya besar. Adapun jika hadatsnya kecil maka cukup dengan menyapukan air itu ke bagian bagian wudhu disertai dengan adanya niat. Jika tidak ditemukan air atau seorang lemah untuk terpapar air maka dia menggunakan benda-benda yang bisa menggantikan air yakni atturob (التراب) di atas sifat yang diperintahkan bersama sifat itu secara syar’i. Dan akan datang penyebutan sifat tersebut Insya Allah pada bab tayamum.

Adapun yang diinginkan dengan maksud lenyapnya khobats adalah hilangnya zat najis tersebut dari badan dan pakaian dan tempat.

Maka thoharoh hissiyah ada dua bentuk: suci dari hadats dan dikhususkan yang ada di badan dan suci dari khobats yang juga ada di badan pakaian dan tempat.

Hadats ada dua bentuk: hadats kecil dan dia adalah apa-apa yang wajib berwudhu dengan adanya dia dan hadats besar dan dia adalah bapa yang wajib dengannya mandi.

Sedangkan al-khobats di atasnya ada tiga bentuk: khobats yang wajib untuk dicuci/diguyur, khobats yang wajib untuk di percikkan air, dan khobats yang wajib untuk diusap saja.

Permasalahan yang kedua: Jenis air yang bisa menghasilkan thoharoh (status suci).

Thoharoh memerlukan kepada sesuatu yang dia bersuci dengannya. Najis dihilangkan dengan keberadaannya dan ada diangkat dengannya yakni air. Dan air yang thoharoh itu bisa berhasilkan adalah air yang suci (الماء الطهور) yaitu: air yang secara zatnya suci bersih yang bisa membuat suci bersih benda lainnya. Dan air itu adalah yang masih diatas bentuk asal dari penciptaannya. Maksudnya masih di atas sifat air yang Allah menciptakan dia di atas sifat tersebut Apakah air itu yang turun dari langit seperti hujan embun salju atau lelehan dari es. Maupun air yang mengalir di bumi seperti air sungai, mata air, air sumur, air laut.

Berdasarkan firman Allah: و ينزل عليكم من السماء ماء ليطهركم به. Dan firman Allah: وأنزلنا من السماء ماء طهورا. Dan berdasarkan hadits Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam: اللهم اغفر لي من خطاياي بالماء والثلج والبرد. Dan sabda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam mengenai air laut: هو الطهور ماؤه الحل ميتته. 

Dan tidak terhasilkan thoharoh dengan menggunakan cairan selain air. Contohnya cuka bensin sari buah dan jus sirup, dan zat lain yang semisalnya. Berdasarkan firman Allah ta’ala: فلن تجدوا ماء فتيمموا صعيدا طيبا. Seandainya thoharoh itu bisa tercapai dengan menggunakan bentuk cairan apapun selain air niscaya hasil proses olahan yang menggunakan air akan disebutkan. Dan tidak akan berpindah mode bersuci dengan debu.

Permasalahan ketiga: air jika ada najis mencampurinya.

Air itu jika ada benda najis yang mencampurinya dan kemudian mengubah salah satu dari sifat yang tiga (3) yaitu bau rasa dan warna, maka air itu bersifat najis dengan kesepakatan para ulama dan tidak diperbolehkan menggunakan air najis tersebut, dan Dengan demikian tidak akan mengangkat hadats dan tidak akan menghilangkan khobats, Apakah itu banyak atau sedikit. 

Adapun jika benda najis mencampuri air akan tetapi salah satu dari ketiga sifat tidak berubah maka jika airnya Banyak maka tidak bersifat najis dan dengan demikian thoharoh bisa tercapai didapatkan dengan menggunakan air tadi. Akan tetapi jika air itu sedikit maka sifatnya berubah jadi najis dengan demikian thoharah tidak bisa tercapai dengan menggunakan air tersebut.

Batasan dari banyak nya air adalah jika mencapai dua (2) qullah atau lebih. Sehingga ukuran dinamakan sedikit jika dibawa dari dua qullah.

Dalil untuk hal tersebut adalah Hadits dari Abu Sa’id al-Khudri -radhiallahu Anhu- Dia berkata Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: اذا بلغ الماء قلتين لم يحمل الخبث. 

Permasalahan yang ke-4: air itu jika ada benda yang suci mencampurinya.

Air itu jika ada zat yang suci bersih mencampurinya seperti daunan, sabun, odol, atau sidr dan Selain itu semua daripada jenis benda benda yang sifatnya bersih dan suci dan dia mencampurinya tidak sampai mendominasi air, maka pendapat yang benar bahwasanya air tersebut sifatnya suci bisa berthaharah dengan air itu, membersihkan hadats dan najis. Hal tersebut dikarenakan Allah berfirman:

 وإن كنتم مرضى أو على سفر أو جَآء أحد منكم من الغائط أو لٰمستم النساء فلم تجدوا ماء فتيمموا صعيدا طيبا فامسحوا بوجوهكم وأيديكم. 

Dengan demikian kata الماء di ayat tadi adalah nakiroh dalam konteks pe-nafi-an sehingga berfaedah umum semua jenis air. Tidak ada perbedaan di antara air yang murni dan yang telah tercampur.

Dan berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam kepada para wanita yang mengerjakan prosesi mandi jenazah untuk anaknya Nabi:

اغسلنها ثلاثا أوخمسا أو أكثر من ذلك إن رأيتنّا بماء أو سدر واجعلن في الأخرة كافورا أو شيئا من كافور. 

Permasalahan yang kelima: hukum air yang bekas dipakai  untuk bersuci (air mustamal).

Air mustamal dalam hal bab thoharoh itu adalah seperti air yang terpisah dari anggota anggota badan yang harus diwudhukan, hukumnya dia suci dan bisa mencucikan lainnya berdasarkan pendapat yang benar. Dia bisa mengangkat hadats dan menghilangkan najis dengan syarat selama di ayat tersebut tidak berubah dari dia salah satu dari tiga (3) sifat yaitu bau, rasa, dan warna.

Dan dalil yang menunjukkan kesuciannya adalah: أن النبي صلى الله عليه و سلم كان إذا توضأ كادوا يقتتلون على وضوئه.

Dan juga dikarenakan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Salam menyiramkan kepada Jabir dari air wudhunya jika Jabir sakit. Seandainya air bekas wudhu itu najis niscaya perbuatan Nabi tadi tidak boleh. Dan juga karena Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat-sahabatnya dan istri-istrinya dahulu mereka selalu berwudhu dari cangkir dan bejana dan mandi dari air di mangkuk besar. Dan tempat-tempat penampungan air yang seperti itu pastilah tidak mungkin terbebas dari percikkan bekas air wudhu. Dan berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam ke Abu Hurairah waktu itu dia keadaannya junub:

 إن المؤمن لا ينجس.

Oleh karena itu jika keadaannya seperti itu maka sesungguhnya air itu tidak hilang sifat sucinya semata-mata karena pengusapan air ke anggota wudhu.

Permasalahan ke 6: air liurnya manusia dan hewan ternak

Air liur adalah sesuatu yang tersisa di bejana setelah susu orang atau hewan meminum darinya. Manusia sifatnya adalah suci begitu juga air liurnya suci sama saja dia itu apakah muslim atau kafir dan demikian juga statusnya suci bagi orang yang junub dan yang haid. 

Dan sudah tsabit bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda (المؤمن لا ينجس). dan hadits lainnya dari Aisyah -radhiallahu ‘anha- bahwasanya Beliau pernah meminum dari gelas dalam keadaan dia haid kemudian Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam mengambil gelas tersebut lalu meletakkan mulutnya pada tempat mulut Aisyah minum. 

Adapun hewan-hewan yang tidak dimakan dagingnya seperti hewan buas dan keledai dan selain mereka maka yang benar adalah pendapat bahwa air liurnya suci tidak memberikan pengaruh kepada air dan lebih khusus lagi apalagi jika airnya itu sangat banyak.

Adapun jika airnya sedikit dan berubah dengan sebab hewan-hewan itu minum ke air tersebut maka status air tersebut menjadi najis.

Dalil yang menopang pendapat tersebut adalah hadits yang sudah berlalu yang di dalamnya ada perkataan, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ditanya tentang air dan apa saja yang bisa menggantikan air dari hewan-hewan dan juga binatang buas lalu Nabi Muhammad bersabda: 

إذا بلغ الماء قلتين لم يحمل الخبث

Jika air itu mencapai dua qullah maka khobats apapun tidak mempengaruhinya.

Dan sabda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam terkait kucing yang sudah minum dari gelas atau bejana:

إنها ليست بنجس إنما هي من الطوافين عليكم والطوافات

Sesungguhnya dia bukanlah najis hanya saja dia itu hewan yang selalu di sekitar mengelilingi kalian.

Dan juga disebabkan kucing itu jika kita harus bebas dari dia maka itu adalah masyaqqah secara keumumannya. Jika kita berpendapat akan kenajisan air liur kucing dan wajibnya mencuci apapun yang terkena air liur maka niscaya dalam melakukan hal tersebut ada sisi berat/masyaqqah. Sedangkan masyaqqoh itu dihilangkan dari umat ini.

Adapun tentang anjing maka dari Abu Hurairah radhiallahu Anhu bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

طهور إناء أحدكم إذا ولغ فيه الكلب أن يغسله سبع مرات أولاهن بالتراب

Status sucinya bejana salah satu dari kalian jika ada anjing menjilat ke dalamnya adalah dengan kamu mencuci bejana tersebut sebanyak tujuh (7) Kali yang pertama kalinya dengan menggunakan tanah.

Adapun babi maka kenajisannya, ke-khobats-annya, dan kotorannya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala sudah berfirman:

فإنه رِجس (Maka dia benar-benar kotor)

3 replies on “Hukum Thaharah, Air, Jenis-Jenis Air, Air Liur Manusia dan Hewan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *