Categories
Adab dan Akhlak Aqidah

Berkata Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu

Berkata Ibnu Mas’ud رضى الله عنه :

“Barangsiapa yang ingin mengambil contoh, hendaknya ia mencontoh orang yang sudah wafat, sesungguhnya orang yang masih hidup tidak terjaga fitnah keatasnya, mereka adalah para sahabat Muhammad صلى الله عليه وسلم، yang merupakan kelompok yang utama dari umat ini. Yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, dan paling sedikit tuntutannya. Allah سبحانه وتعالى memilih mereka menjadi sahabat Nabi-Nya dan menegakkan agama-Nya. Oleh sebab itu, kenalilah keutamaan mereka, ikutilah jejak mereka, dan berpegang teguhlah sekuat kemampuan kalian pada akhlak dan perilaku mereka. Sebab, mereka berada di atas petunjuk yang lurus”

📚 رواه ابن عبد البر في جامع بيان العلم، رقم ١٨١٠

Categories
bahasa arab Nahwu Shorof Ushul Fiqih

Untuk Apa Belajar Bahasa Arab?

Puji syukur ke hadirat Allah semata.

Ilmu agama ini dipelajari secara bertahap. Artinya ada urutan belajarnya. Dari yang paling ringkas dulu, dari yang paling umum dulu. Dari yang ditulis ulama kontemporer dulu. Lalu naik sedikit demi sedikit hingga bisa melihat menyelami samudera tak bertepi tak berdasar tak pernah keruh yang bernama ilmu agama.

Rahasia lainnya yang menarik adalah pada awalnya mungkin ilmu-ilmu tersebut terkesan berdiri sendiri-sendiri. Bahasa arab sendiri. Al-Qur’an sendiri. Hadits sendiri. Fiqih sendiri. Ushul Fiqih sendiri. Kaidah Fiqih sendiri. Sejarah sendiri. Mustolah sendiri. Namun semakin menapak jenjang demi jenjang yang lebih tinggi mulailah kita akan menyadari dan menemukan dan menikmati bidang-bidang ilmu tersebut mulai saling kait mengkait.

Atau bahkan satu bidang ilmu merupakan pembahasan yang lebih dalam dari bidang ilmu yang lainnya. Seperti ilmu bahasa arab dengan ushul fiqih. Kata guru saya, bahasa arab adalah permisalan kulit, sedangkan ushul fiqih adalah dagingnya. Ushul fiqih bisa dinikmati jika kita sudah bisa membedah bahasa arab.

Sebagai contoh, mayoritas pelajar bahasa akan melewati kalimat ini: الكلام هو اللفظ المركب المفيد بالوضع yakni baris awal dari Matan Ajurumiyyah. Masing-masing kata bahasa arab di atas memiliki penjelasan yang rinci di kitab-kitab yang lebih tingginya yang mana memberikan faidah besar dan bermanfaat. Jika kita buka buku ushul fiqih, maka terkait اللفظ itu saja sangat banyak penjelasannya yang mana akan menyingkap apa manfaat-manfaat dari belajar apa makna kata “lafaz”.

Di bawah term lafazh terlahir banyak istilah menakjubkan yang dipelajari di ushul fiqih, misalnya lafazh umum, lafazh khusus, lafazh mutlaq, dan lain sebagainya dari pembongkaran makna-makna dan arah-arah yang diinginkan dari lafazh.

Contoh lainnya dari term كلام , ushul fiqih mempelajari rincian luar biasa mulai kalam terbagi kepada khobariyyah dan insyaiyyah, haqiqoh dan majaz, dan lain sebagainya.

Bisa kita masuk ke al (ال) yang di kitab bahasa disebutkan rincian mulai dari istighroqiyyah dan ‘ahdiyyah. Dan bahwa di ushul fiqh kita akan menemui bahwa al memiliki makna umum.

Atau kita diajarkan kata yang nakiroh, dan kita pikir ya ini sekedar tahu saja ada nakiroh dan ada ma’rifah. Namun pembahasan ushul fiqh kita akan menyaksikan dari nakiroh itu bisa diambil makna umum, mutlaq, dan lain sebagainya dari makna-makna tersembunyi dan abstrak.

Atau kita diajarkan definisi inna wa akhowatiha, zhonna wa akhowatiha, dan lain sebagainya. Yang ternyata terkandung makna bahwa kalimat tersebut adalah sebagai alasan (‘illah) atau bahwa pembicaranya mengatakan dengan bentuk ragu atau yakin. Dan lain sebagainya dari setiap poin pembahasan di ilmu bahasa, maka ada pembahasan dahsyat-nya di ilmu ushul fiqh.

Mungkin ada di antara kawan yang merasa sudah bosan belajar bahasa arab nahwu shorof. Padahal belum lagi menyentuh balaghah. Ketahuilah kawan, ilmu bahasa arab yang sedang kita pelajari ini akan menemui belahan jiwanya pada sosok bernama Ushul Fiqih, bidang ilmu yang dirintis oleh Al Imam Syafi’i rohimahullah. Sekali anda melihat gambaran umum ilmu ini, mendengar bisikan lembutnya, merenungi narasi dan argumennya niscaya anda tidak lagi ingin lepas dari belajar lebih dalam bahasa arab sambil menapaki bidang ini.

Teruslah berjalan wahai diri dan kawan memasuki dataran dan gunungnya, hingga Allah sampaikan kita untuk menyelam ke samudera ilmunya yang tak terbayangkan.

Kawan, ilmu agama sungguh-sungguh benar-benar wallahi demi Allah luar biasa. Kedalamannya tidak bisa dicapai sonar. Ketinggiannya tidak bisa dicapai teropong. Luas spektrumnya tidak bisa diilustrasikan dengan warna yang ada. Kecanggihan saling keterkaitannya tidak bisa ditiru oleh ahli bangunan mana pun. Dan… rasa manisnya tidak bisa digantikan dengan madu termanis. Ya.. ilmu agama itu memiliki rasa, dan rasanya sungguh manis.

Al Mizzi -penulis Tahdzibul Kamal dan mertua dari Ibnu Katsir- rohimahumallah mengkreasi dua bait syair yang sangat indah sebagai berikut:

Maa hawal Ilma jamian ahadun — laa walau maarosahu alfa sanah
Innamal ilmu kabahirin zahirin — fattakhidz min kulli syaiin ahsanah

Terjemahnya:
Tidaklah mungkin satu orang pun menaklukkan ilmu semuanya — tidak mungkin, bahkan meski dia menggelutinya selama seribu tahun
Karena sesungguhnya ilmu itu bagaikan samudera yang sangat agung — oleh karena itu ambillah dari segala sesuatu yang paling indahnya