Categories
Tak Berkategori

Metode Nabi Dalam Mendidik Anak

Di dalam karya tulis Muhammad Ali Nashir beliau menyebutkan metode pendidikan Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam adalah,

1. Terkait dengan keramahan Nabi kepada anak, rasa sayang, dan supelnya nabi kepada mereka.

2. Terkait pendidikan di jalan seperti adab menyebarkan salam, memotong rambut anak, menemani anak kecil ke mesjid.

3. Terkait pengajaran keimanan, sholat, dan mengajarkan Al-Qur’an.

Categories
Adab dan Akhlak Orang tua

Rangkuman 4-5 Kajian Terkait Pendidikan Anak

KH M Anwar Manshur – Lirboyo – Nasihat Untuk Santri Bermasyarakat

  1. Satu dengan yang lainnya saling membangun.
  2. Jangan sampai merasa menjadi orang yang baik sendiri.
  3. Orang yang tawadhu akan diangkat derajatnya, orang yang merasa tinggi maka akan allah rendahkan.
  4. Mumpung kita di pondok, maka sempurnakan yang kurang.
  5. Harus bisa berusaha menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat.
  6. Di masyarakat pasti kalian akan ditunjuk, mereka melihat kamu orang yang mampu.
  7. Bisa mengerjakan apa yang diminta ke kita.
  8. Mumpung di pondok, paling enak di pondok. Mau makan , makan, mau ngaji, ngaji.
  9. Segaal ada sebabnya. Kalau sebab diambil maka musabbabnya akan dapat.
  10. Di masyarakat udu ila sabili robbika bilhikmah wal mau’izhoh hasanah. Maka di pesantren belajar, musyawarah baik2 kalau ada masalah.
  11. Belajar tabayyun, Tanya dulu yang bersangkutan bagaimana yang terjadi sebenarnya. Kalau suuzon gak boleh, itu permainan dendam.
  12. Masyarakat kita butuh ketenangan, kita harus rukun. Maka kita di pondok ini latihan.
  13. Kamu di pondok ini latihan. Yang jadi pengurus latihan menyelesaikan tugas dengan baik. Jadi di pesantren ini tidak hanya ngaji saja.

Categories
Adab dan Akhlak Pesantren

Keistimewaan Belajar di Pesantren

fb113193a654999396a904ad85dd9668_920_420Pertama-tama definisi pesantren yang saya maksudkan adalah suatu lembaga pendidikan yang menjadikan mesjid sebagai poros pendidikannya, di mana tempat yang paling dominan adalah mesjid. Itu adalah tempat yang pertama ada untuk belajar dan juga tempat istirahat santri, dan juga tempat makan pada awalnya.

Kemudian juga yang dimaksudkan adalah lembaga yang kyai-sentris atau sudah fokus ke manajemen akan tetapi memiliki citra sangat lekat dengan figur kyai pendiri atau penerusnya.

H.M. Sulthon Masyhud dan Moh. Khusnurdilo, dalam buku Manajemen Pondok Pesantren, mengatakan bahwa di pesantren “Pendidikan agama dilakukan seutuhnya dalam segala aspek kehidupan, sehingga para kyai tidak hanya mencerdaskan para santrinya tetapi juga mendidik moral dan spiritual”.

Pernyataan di atas tidak berlebihan banyak sekali faktor yang memungkinkan pendidikan agama dilakukan seutuhnya.

  • Santri dan guru tinggal di satu lingkungan yang sama. Jika kita katakan di kelas hanya mengajarkan nilai akademis. Maka diluar kelas guru yang sama menjalankan peran pendidikannya.
  • Pelajaran bisa kapan saja dilakukan atau dijadwalkan. Sejak subuh hingga setela isya. Bahkan di pesantren kami kyainya sering membuka pelajaran di waktu sahur seperti jam 3 pagi jika beliau harus pergi pada siang harinya. Sehingga dengan pelajaran yang dijadwalkan hampir seharian, interaksi pengajaran dan pendidikan berjalan lebih lengkap, dan santri lebih lengkap juga peluang bertanya, mengimplementasikan ilmu yang diterima di kelas dengan praktik langsung dengan pengamatan gurunya juga di waktu-waktunya. Misalnya langsung praktek sholat subuh, zuhur, sampai isya. Praktik azan dan iqomah, praktek wudhu, praktek menjaga kebersihan, kedisiplinan, praktek sosialisasi dengan teman, bertoleransi, menjaga emosi, membalas gangguan atau bersabar, dsb.
  • Pelajaran agama yang diajarkan sangat banyak aspek dan mendetail. Pertama kalinya belajar bahasa arab, sambil ada pelajaran aqidah dan fiqih, kemudian setelah bagus bahasa arabnya menanjak ke pelajaran ushul fiqh, mustholah hadits, kaidah fiqh, ilmu tafsir Al-Qur’an dengan berbagai kitab rujukan sesuai tingkatannya.
  • Dengan tinggal di asrama, santri yang aktif sangat bisa untuk menggali pelajaran ke teman seumurannya sekelasnya atau belajar ke kakak kelasnya. Mungkin pelajaran yang belum difahami atau pelajaran di atasnya yang belum diajarkan di kelas namun ia ingin pelajari karena sudah bisa memahami. Atau langsung bertanya saja ke guru, di mesjid atau datang ke rumahnya.

Belajar di pesantren tidak hanya mengajar luarnya saja.  Tapi luar dalam, lahir batin. tidak hanya luarnya saja. Cara pandang kyai terhadap “anak nakal” adalah: “Mereka masuk ke sini karena nakal. Kalau dikeluarkan maka lebih nakal lagi”. Perlakuan kyai kepada mereka adalah mendoakan mereka agar bisa menjadi baik. Seperti ketika berdoa, maka ditambahkan khusushon kepada fulan…fulan…fulan.

  • Tidak berarti di luar pesantren tidak ada yang seperti ini. Akan tetapi ruh ini lebih kental di pesantren dengan peran kyainya. Karena Ia selalu punya jadwal mengajar entah di mesjid pelajaran untuk semua santri atau khusus di dalam kelas sesuai tingkatan muridnya, yang pada kesempatan tersebut kyai tidak hanya mengajarkan akan tetapi juga melihat bagaimana perkembangan si murid, atau masalah apa yang sedang terjadi, atau memberikan pertanyaan-pertanyaan ke murid yang ada. Jika bisa menjawab maka Alhamdulillah, jika tidak bisa maka akan keluar komentar berupa nasihat atau do’a (allahu yahdik) misalnya.

Di pesantren dilakukan pendidikan (tarbiyah). Bukan sekedar pengajaran (ta’lim). Sedangkan yang bisa mengubah perilaku hanyalah tarbiyah. Kalau ta’lim hanya memberikan informasi. Kalau hanya sekedar ta’lim maka komputer kita lebih pintar lagi (ditanya apa saja bisa menjawab).

Inilah sedikit yang ada bisa saya tuliskan. Jika ada tambahan insya Allah akan diisi ke sini. Barokallahufik.

Rev 2: 25/1/2019

Categories
Adab dan Akhlak Orang tua

Fenomena Orang Tua Kalah Dari Anaknya

Awal kali masuk sebagai pengurus sekolah tingkat dasar di salah satu sekolah dihadapkan dengan fakta yang menurut saya mengenaskan yaitu sekolah terkesan tidak berkutik di bawah keinginan santri atau sebaliknya di bawah keengganan santri. Sederhananya, pesantren bagaikan tidak banyak memiliki energi untuk menegakkan harkat martabatnya di depan santri yg bermasalah.

Beberapa bentuknya adalah:

  1. Santri seorang diri melakukan pelanggaran secara terang-terangan dan sekolah tidak (atau lambat sekali)  mengambil tindakan apa-apa.
  2. Santri bekerja sama dengan temannya melakukan pelanggaran secara terang-terangan dan sekolah tidak (atau lambat sekali) melakukan tindakan apa-apa.

Kini posisi saya ada di rumah saudara-saudara Saya (saat ini liburan idul Fitri kita sekeluarga pulang kampung 🙂 ) saya melihat fenomena yang mirip dgn paragraf di atas, yaitu sebagian orang tua seperti lemah di depan tanggung jawab mendidik anaknya. Entah apakah lemah intelektual, lemah harkat martabat, atau lainnya.

Bentuknya seperti:

  1. Orang tua memberikan anaknya fasilitas yang itu berpotensi besar merusak anaknya sendiri.
  2. Orang tua mengabaikan pendidikan agama secara detail kepada anaknya.
  3. Orang tua tidak mengkoreksi kesalahan yang dilakukan anaknya karena anak tidak tahu.
  4. Orang tua tidak mengkoreksi kesalahan yang dilakukan anaknya padahal anaknya sudah tahu itu salah.
  5. Orang tua tidak memerintahkan anaknya untuk melakukan ketaatan kepada Allah padahal anaknya perlu diajarkan hal tersebut.

Pertanyaan pertama, mengapa itu bisa terjadi? Menurut saya jawaban umum yang pertama adalah sang orang tua atau sekolah belum punya arah yang jelas, tujuan yang kuat, visi yang mengarahkan mau dikemanakan anak-anak (didik) nya. Kedua, mungkinkah sekolah dan orang tua tsb belum memahami apa hakikat dan peran keberadaan mereka.

Misalnya sekolah, maka patut ditanamkan bahwa sekolah itu bukan sekedar mengajar menanamkan ilmu ke dalam otak saja. Tapi ada unsur mendidik Budi pekerti dsj. Adapun orangtua maka si lelaki dan perempuan yg dalam ikatan suami istri peran mereka bukan sekedar “bikin anak” thok tetapi bercabang banyak kewajiban secara langsung ataupun tidak langsung karena hak si anak.

Dalam Islam hak anak setidaknya tiga, dipilihkan ibu yang baik, diberikan nama yang baik, diberikan pendidikan agama.

(insya Allah dilanjutkan)