Categories
Tak Berkategori

Terbolak-Balik

Sungguh saat ini orang orang kebanyakan terbolak balik dalam hal pengidentifikasian terhadap salah dan benar, penilaian terhadap mulia tidak mulia, penilaian dalam penting dan tidak penting, penilaian orang alim dan bukan Alim.

Sungguh sekarang (atau mungkin sebenarnya telah berproses sejak zaman dulu akan tetapi semakin ke belakang semakin besar semakin lebar celahnya) orang-orang berilmu di saat saat ini seakan tidak diperdulikan , tidak di jadikan tempat mengambil nasehat, dikerdilkan, dijelekkan, diabaikan.

Sungguh perhatian khalayak umum justru kepada orang yang jelek, entah apakah itu seorang tukang dusta, produsen hal-hal yang membuat lalai, dan sebagainya sangat banyak jika harus disebutkan satu demi satu.

Sungguh kita menjadi saksi mata kebenaran sabda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, ketika beliau diriwayatkan bersabda

ُلاَ يأْتي زَمَانٌ إلاّ والذِيْ بَعْدَهُ شَرّ مِنْه

Atau hadits lain tentang tokoh yang akan hidup penuh dengan kenyamanan di akhir zaman yaitu Luka’ bin Luka’ (لكع بن لكع).

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكُونَ أَسْعَدَ النَّاسِ بِالدُّنْيَا لُكَعُ بْنُ لُكَعٍ “

“Hari kiamat tidak terjadi hingga manusia yang paling bahagia di dunia ialah Luka’ bin Luka‘.” Hadits Riwayat Tirmidzi dengan sanad dishahihkan Syaikh Al-Albani.

Luka’ bin Luka’ adalah ibarat untuk seorang yang bodoh, hina, dan tercela.

Mispersepsi Ahli Khutbah Disamakan Dengan Ahli Ilmu

Hal pertama yang teringat adalah ucapan Abdullah bin Mas’ud:

قال الصحابي الجليل عبدُ الله بْنُ مَسْعُودٍ في زمن الصحابة -رضي الله تعالى عنهم-: “إِنَّكُمْ فِي زَمَانٍ؛ كَثِيرٌ فُقَهَاؤُهُ -أي علماؤه- قَلِيلٌ خُطَبَاؤُهُ، قَلِيلٌ سُؤَّالُهُ، كَثِيرٌ مُعْطُوهُ، الْعَمَلُ فِيهِ قَائِدٌ لِلْهَوَى، وَسَيَأْتِي مِنْ بَعْدِكُمْ زَمَانٌ؛ قَلِيلٌ فُقَهَاؤُهُ، كَثِيرٌ خُطَبَاؤُهُ، كَثِيرٌ سُؤَّالُهُ، قَلِيلٌ مُعْطُوهُ، الْهَوَى فِيهِ قَائِدٌ لِلْعَمَلِ، اعْلَمُوا أَنَّ حُسْنَ الْهَدْيِ، فِي آخِرِ الزَّمَانِ، خَيْرٌ مِنْ بَعْضِ الْعَمَلِ” [الأدب المفرد، ص: 275، رقم: 789]

Berkata Sahabat Nabi yang sangat mulia kedudukannya, ‘Abdullah bin Mas’ud dizaman sahabat -semoga Allah meridhoi mereka- Sesungguhnya kalian sekarang berada di suatu zaman yang sangat banyak ahli fiqihnya -yakni ahli ilmunya- dan sangat sedikit tukang ceramahnya, sedikit yang meminta-minta dan banyak yang suka memberi. Amal di zaman ini menjadi penuntun hawa nafsu. Dan akan datang setelah kalian suatu zaman yang sedikit ahli fiqihya, dan sangat banyak tukang ceramahnya, sangat banyak peminta-mintanya dan sangat sedikit yang senang memberi. Hawa nafsu pada zaman itu menjadi penuntun dalam beramal. Ketahuilah! Bagusnya petunjuk (ilmu) di akhir zaman lebih baik dari sebagian beramal.

Tolong perhatikan lekat-lekat faidah yang sangat jelas bahwa tukang ceramah berbeda dari ahli ilmu.

Berapa banyak saat ini tukang ceramah berjubah, tukang ceramah bersorban, orator berpeci, sering turun ke jalan-jalan memimpin demonstrasi yang dia hanya ketua organisasi masyarakat, atau malah ketua perusahaan yang dielu-elukan, dipanggil oleh masyarakat awam dengan gelar Al-Ustadz, Al-Habib, bahkan disematkan label “ulama” yang mana sangat jauh profil mereka dari ulama.

Sedih hati ini karena kebodohan yang jelas sekali. Ingin jadinya teriak di depan mereka yang tertipu para tukang ceramah itu: “Sadarlah saudara, ulama tidaklah seperti dia!”.

Pergilah ke pondok-pondok pesantren yang banyak terletak di desa-desa jauh dari kota, untuk melihat sosok ulama yang tersisa. Kesibukan mereka beribadah kepada Allah. Kesibukan mereka berkutat meneliti di depan kitab-kitab yang bertumpuk menggunung menutupi wajah mereka. Kesibukan mereka mengajarkan manusia ilmu agama. Kesibukan mereka memberikan ketenangan kepada masyarakat. Kesibukan mereka menjawab pertanyaan yang bertanya. Kesibukan mereka beristinbat dari dalil-dalil agama. dan kesibukan ilmiyah lainnya. Ini baru sosok ulama.

 

Categories
Tak Berkategori

Islam Agama Ilmu, Sob.

Tetiba ketika sedang membuka-buka catatan pelajaran Kaidah Fiqih, pikiran Saya terbang ke sebuah ungkapan yang cukup masyhur di kalangan umum. Kira-kira seperti ini:

Urusan kesehatan saja tidak boleh selain dokter untuk membahasnya, urusan mesin tidak boleh tanya kepada yang tidak ahli mesin, tetapi mengapa pas ngomongin agama, tiba-tiba semua orang menjadi ahlinya?!

Categories
Nahwu Pesantren Shorof

Belajar Baca Kitab Terlebih Dahulu

Disebutkan di dalam kaidah fiqih bahwa jika berbenturan dua maslahat dalam satu keadaan maka didahulukan sesuatu yang manfaatnya lebih besar dari kedua tersebut.

Maka berbicara kaidah ini, Kita hubungkan dengan satu kasus yakni belajar bahasa Arab dengan penekanan belajar dengan tujuan bisa membaca kitab atau belajar bahasa Arab dengan penekanan bisa berbicara aktif. Manakah yang didahulukan? Dengan ketentuan atau dengan keadaan tidak bisa menjamak kedua-duanya. Karena jika bisa dijamak maka sepatutnya mengambil kedua-duanya sekaligus. Namun menjamak atau mengumpulkan diantara dua manfaat ini di satu waktu tentu ada plus minusnya masing-masing disesuaikan dengan masing-masing orang.

Pembahasan Hal ini tentu bukan memutlakkan satu lebih unggul dari yang lainnya. Tidak. Karena dalam belajar tentu ada hal-hal yang mempengaruhi mungkin saja di orang pertama pada seseorang terbuka kesempatan bagi dia bentuk dalam waktu yang pendek akan belajar ke timur tengah sehingga mesti belajar bahasa Arab secara luas, tidak sekedar membaca kitab namun juga mengasah kemampuan berbicara komunikasi dan aspek-aspek komunikasi lainnya.

Dan ada kalanya seseorang belajar bahasa atau menyadari urgensi belajar agama ketika usianya sudah tidak muda lagi yang mana pada keadaan tersebut dia sudah terpecah-terbagi waktunya dan konsentrasinya. Misalnya dibagi untuk kerja, untuk mengurus keluarga dan kegiatan yang lainnya sehingga tentulah untuk belajar ini dia menggunakan waktunya yang tersisa tadi. Padahal  waktu adalah sesuatu yang paling baik, paling besar, paling berharga bagi manusia.

Lalu hal apa yang harus didahulukan untuk dikerjakan oleh manusiadi? Tentu saja lakukan yang memiliki sifat paling mendesak dan juga manfaat paling besar, yakni mengamalkan syari’at-syariat yang sudah ditentukan di dalam Islam.

Kemudian dikarenakan mengamalkan amal-amalan dalam Islam tersebut tidak bisa dilakukan kecuali dengan ilmu Maka haruslah belajar ilmu. Kemudian dikarenakan belajar ilmu itu tidak bisa didapat kecuali dengan membaca kitab, maka tentulah harus belajar membaca kitab, which is berkonsekuensi kepada harus belajar bahasa arab. Hingga saat ini 99% buku-buku untuk belajar agama semuanya masih dalam bahasa Arab, sehingga tidak mau harus mempelajari bahasa Arab khususnya untuk membaca kitab.

Thoyyib ini murni opini saya. Jika ada pendapat yang berbeda silakan sampaikan di kolom komentar 😊.

Categories
Tak Berkategori

Hadiah Dari Pesantren

Jika Anda bertanya kepada saya sampai saat ini hal apa yang paling besar, paling bagus yang didapatkan dari belajar di pesantren ini maka jawaban saya hal paling besar yang Saya dapatkan dari Pesantren melalui cara Kyai dan jajaran ustadz-ustadznya adalah kesadaran bahwasanya saya ini masih bodoh.

Tidak tahu persis apakah ini memang suatu program apa yang dirancang oleh Kyai atau hanya merupakan efek samping saja. Namun dari segala dinamika yang saya jalani di pesantren dari manisnya, pahitnya, senangnya, susahnya, khususnya dari pelajaran yang dibawakan oleh Kyai dimana beliau sering memberikan pertanyaan secara acak kepada santri-santri dan termasuk yang sering mendapat pertanyaan itu adalah saya namun entah mengapa pertanyaan dari Kyai itu sangat tajam sangat rinci. Meskipun sekilas pertanyaannya mudah akan tetapi jika ditelaah jawaban yang diharapkan adalah sesuatu yang membutuhkan kedalaman berpikir banyak membaca dan memahami persoalan tersebut.

Kemudian yang kedua yang sampai saat ini menjadi anugerah terbesar adalah pemahaman bahwasanya tujuan dari belajar adalah untuk mengamalkan kandungan dari ilmu tersebut. Saya tidak berani mengklaim bahwa Saya memiliki kadar yang besar dari pemahaman ini, namun sudah tertanam di dalam pikiran  saja sudah Alhamdulillah. Dan kemudian menjadi pendorong untuk merealisasikan bahwasanya amalan sholeh adalah buah dari ilmu yang kita pelajari adalah sesuatu keniscayaan tidak bisa di abaikan dan merupakan anugerah yang luar biasa, Alhamdulillah.

Sebanyak apapun seseorang menampung ilmu jikalau dia tidak amalkan bisa tidak bermanfaat. Sebagaimana di dalam salah satu hadis yang berbunyi: 

و القرآن حجة لك أو عليك

Kemudian disebutkan di dalam Al Ushul Ats-tsalatsah ucapan Imam Al Bukhari padansalah satu bab Kitab Shohihnya:

 العلم قبل القول والعمل.

Kemudian yang menunjukkan makna ini juga adalah

 والعصر إن الإنسان لفي خسر إلا الذين آمنوا و عملوا الصالحات وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر

Di dalam Surat Al Ashr ini telah menyebutkan bahwa semua manusia adalah rugi keadaannya rugi hanya empat golongan yaitu yang beriman ,orang beriman maksudnya ditafsirkan adalah orang yang mempelajari ilmu agama kemudian setelah dia mempelajari ilmu agama, poin kedua adalah mengamalkan, melakukan amalan yang sholeh.

Oleh karena itu semoga Allah memberikan Kyai dan jajaran ustadz yang mengajar di pondok pesantren waktu luang, kesehatan, dan segala hal lainnya yang membuat mereka bisa terus mengajarkan dan mendidik kami semua.

Semoga kami para santri bisa merealisasikan kesyukuran secara sebenar-benarnya kepada Allah subhanahu wata’ala.