Categories
bahasa arab Nahwu

Kawan, Pelajarilah Bahasa Arab

Insya Allah kawan adalah orang yang senang sekali belajar agama, suka beli buku-buku agama berbahasa indonesia kapan hari libur kerja jalan ikut pengajian di sana dan di situ.

Kalau hobi kawan seperti ini saran saya pelajarilah bahasa arab wahai kawan… Di sana banyak sekali buku-buku indah yang ditulis oleh ulama kita… Bahkan buku itu ada yang ditulis oleh muridnya Sahabat Nabi, bayangkan kawan ditulis 1400 tahun yang lalu. Masya Allah. Tetapi mayoritas mungkin kalau tidak bisa saya taksir 99% judul buku keilmuan islam masih tersimpan rapih di dalam bahasa arab.

Kawan, ada beberapa hal menurut saya mengapa buku-buku itu belum ada menterjemahkan. Pertama, para penterjemah sangatlah sedikit. Dan dari yang sedikit itu pun yang ahli lebih sedikit lagi. Karena semakin tinggi level ilmu di suatu kitab, tentu perlu penterjemah yang bagus juga ilmunya untuk menterjemahkan.

Kedua, para penterjemah itu tentu mereka tidak mau habis-habiskan waktu untuk menterjemah buku. Lebih enak membaca kitab.  Waktu sangat berharga kawan. Lagipula jikapun sudah mereka terjemahkan, tidak tahu pula siapa yang akan membaca terjemahannya. Apakah kawan mau membaca buku terjemahan yang tebal sedangkan kawan pasti juga masih banyak buku yang belum dibaca di rak buku kawan.

Ketiga, menterjemahkan bahasa arab ke bahasa indonesia bukan hal yang mudah. Karena bahawa arab sangat tinggi nilai sastranya. Sebagai gambaran, di dalam satu kata arab, bisa tersimpan di dalamnya banyak dimensi, ada dimensi subjek, dimensi waktu, dimensi takaran pekerjaannya, dimensi majaz atau hakikat, dimensi makna yang tersembunyi di dalam makna lainnya, dimensi subjek atau objek yang disembunyikan, dan lain-lainnya.

Kadang, bisa jadi, tidak tega mereka mengalih bahasakan karya tulis ulama ke bahasa indonesia atau bahasa lain karena nilai sastranya akan langsung berkurang drastis.

Sepertinya ada banyak faktor lainnya yang tidak bisa saya sebutkan. Mari kawan pelajari bahasa arab untuk bisa membaca kitab. Tidak perlu dulu sibuk belajar untuk berkomunikasi nanti ada waktunya insya Allah. Sekarang kebutuhan kita lebih urgent agar bisa membaca kitab ulama, menelaah fiqih ibadah dari A sampai Z, muamalah sehari-hari, apa hak Allah yang harus seorang hamba penuhi, dan lain-lainnya lagi.

Ayo kawan belajar bahasa arab.. Tabarokallah.

Categories
Pesantren

Pilih Pesantren Modern atau Tradisional – (2 Faktor Biaya)

Pesantren modern umumnya punya positioning di benak masyarakat sebagai sekolah yang mengajarkan ilmu agama ilmu dunia secara “proporsional” dengan maksud di sekolah ini santri tidak ketinggalan dari pelajaran seperti bahasa inggris, matematika, penjurusan IPA, laboratorium IPA, Laboratorium Komputer, penjurusan IPS, dan pelajaran agama jg padat Fiqih Akhlak Hadits Hafalan AlQuran, praktek menjadi imam sholat, menjadi khotib sholat jumat dsb.

Akan tetapi tentu luasnya cakupan pelajaran dan fasilitas tersebut memerlukan biaya yang besar sehingga umumnya biaya sekolah juga mahal. Biaya sekolah bulanan dan ditambah (Biaya Gedung, Uang Pangkal) biaya lain-lain di awal masuk yang juga mahal.

Contoh di link ini disebutkan uang pangkal PonPes Darunnajah mencapai 17juta dan masih banyak item biaya, dan juga biaya SPP lebih 1juta perbulan.

Lain lagi Ponpes Al Irsyad Tengaran uang pangkal mencapai 16juta. Tidak berbeda jauh dengan Darunnajah yang berlokasi di Jakarta dengan Al-Irsyad yang berada di perkampungan Boyolali. Padahal UMR Boyolali termasuk yang paling murah di Jawa Tengah.

Namun dengan biaya tersebut santri (diharapkan) mendapatkan fasilitas yang lengkap dibandingkan sekolah yang mengutip biaya lebih murah. Konsekuensi dari biaya yang besar ini (walaupun tidak berlaku “mesti”) adalah santri adalah berasal dari golongan menengah ke atas. Mungkin pengecualian dengan adanya subsidi silang, beasiswa dan sebagainya tetapi sedikit saja.

Di lain sisi pesantren tradisional mengutip biaya tidak tinggi bahkan meskipun pesantren tersebut sangat terkenal dan memiliki santri sampai belasan ribu.

Misalnya salah satu pesantren terkenal di Kediri, paling mahalnya perbulan hanya Rp 26.000 ditambah uang pondok sekitar Rp 30.000 berarti total hanya 56.000

Adapun di pesantren Ahlus Sunnah Salafi Darul Atsar di Panceng Gresik, biaya SPP hanya Rp 100.000, dengan uang makan Rp 450.000 per bulan dengan uang pangkal cuma 1 juta dan bisa dicicil sampai 5 bulan.

Konsekuensi dari biaya murah adalah banyak orang-orang yang secara ekonominya lemah bisa menimba ilmu di sana. Dengan mengetahui faktor ini orang tua santri atau calon santri bisa memperkirakan suasana apa yang akan didapatkan oleh anaknya jika belajar di sekolah ini plus dan minusnya.

Perlu disadari bahwa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar pada dasarnya dikategorikan menjadi dua bagian, yaitu faktor intern dan faktor ekstern:

  1. Faktor intern adalah faktor yang bersumber dari dalam individu. Faktor-faktor yang bersifat intern yang dapat menjadi penyebab kesulitan belajar misalnya: cacat fisik alat indera, sakit atau gangguan kesehatan lainnya. Sedangkan psikis misalnya: motivasi, konsentrasi, minat, bakat serta kecenderungan lingkungan belajar dan lain-lain.
  2. Faktor ekstern adalah faktor yang bersumber dari luar diri individu, seperti pengaruh sarana, dan prasarana pembelajaran, kebijakan penilaian, lingkungan sosial siswa di sekolah, kurikulum di sekolah dan lain-lain.

Berikut tabel perbandingan sederhana yang mungkin berlaku.

Ciri Pondok Modern Pondok Tradisional
Asal santri Berasal dari keluarga ekonomi menengah ke atas Berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah
Petugas kebersihan Ada karyawan kebersihan Bersihkan semua sendiri
Kamar santri Satu kamar sedikit orang (mungkin 4 orang) Satu kamar 20 orang
Fasilitas Mungkin dengan AC, Kamar mandi di dalam. Tanpa AC, kamar mandi di luar kamar
Makanan Variatif, 4 sehat 5 sempurna Lauk variatif sederhana porsi nasi besar

Dari sisi ini terhasilkan plus dan minus di masing-masingnya. Dengan SPP yang besar maka pesantren modern bisa menggaji banyak guru sehingga rasio guru dengan santi nilainya kecil dan santri lebih terpantau, terayomi, terperhatikan, teratur ritme belajar dan pencapaian prestasi secara maksimal.

Mungkin berbeda nasibnya dengan sekolah tradisional secara zhohir mungkin ustadz lebih banyak mengampu murid. Satu ustadz bisa saja mengajarkan berbagai macam pelajaran dan rasio dengan santri lebih besar daripada sekolah modern.

Dari konsekuensi biaya ini dan pengadaan fasilitas sekolah menurut saya santri harus memiliki kedewasaan, kemandirian, dan itikad kuat untuk menimba ilmu. Karena di sana -mungkin- tidak mesti mendapatkan pengawasan secara ta’yin satu per satu, tidak ada petugas konseling yang mengontrol motivasi belajar dan memberikan konseling. Berdasarkan pengamatan penulis, memang diperlukan kedewasaan, inisiatif dan motivasi yang kuat dari diri sendiri, dan menepis gangguan yang dihadapi dalam belajar itu pahit dan getir bermasyarakat di lingkungan pesantren ini agar bisa berprestasi.

Kamar mandi yang sedikit maka menuntut santri bangun lebih dini agar bisa mandi tanpa mengantri panjang. Keterbatasan alat tulis memaksa santri untuk cepat menghafal misalnya. Terbaginya jam pelajaran ustadz di kelas yang banyak akan menuntut santri aktif bertanya lagi kepada ustadz tersebut di waktu lain.

Akhirul kalam, pembandingan dari sisi biaya ini bukan artinya menjelekkan yang satu dan membaguskan yang satunya lagi. Kita perlu ingat selalu bahwa tujuan belajar ilmu dien adalah untuk mengamalkannya secara ikhlas lillah dan mutaba’atur rosulillah. Apapun pesantrennya pilihlah yang aqidahnya lurus sesuai Al-Quran dan Sunnah.

Categories
Aqidah

Reading Introduction Section of Lum’atul I’tiqod

Tiga hari ini sudah masuk pelajaran baru yaitu pembahasan Kitab lumatul itiqod yang ditulis oleh Ibnu Qudamah al Maqdisi. Kalau tidak salah penulis yang sama adalah salah satu ulama terbesarnya Mazhab Hanbali. Beliau rohimahullah menuliskan empat kitab fiqih yang diperuntukkan mulai dari level pemula, atasnya pemula, menengah, dan tinggi. Semoga Allah menjadikan penulis seperti beliau dari sisi kesholehan, keilmuan, ketawadhuan, dan keahlian. Aamiin.

Kitab yang dipakai adalah yang diberikan penjelasan oleh Asy-Syaikh Ibnul Utsaimin salah satu ulama kontemporer yang wafat 18 tahun lalu siapa yang digelari mujtahid oleh sebagian ulama dan juga fuqoha-ul ‘ashr, dan gelar lainnya. Beliau sangat banyak rekaman suara dan video nya di internet. Rohimahumallah.

Lumatul itiqod, dikatakan oleh ustadz (Abu Qudamah Muhammad Syahid) adalah kitab akidah yang umum dalam artian mengkover semua bidang akidah, ada yang dari tauhid rububiyah, uluhiyah, asma’ wa shifat, di dalamnya juga ada tentang mentaati pemimpin, penduduk surga, mizan (timbangan di akhirat), qodho dan qodar, dll.

Nah, dari sekian banyak bab yang ditulis oleh Abu Qudamah Al-Maqdisi, pensyarah buku ini memulaikan bagian syarahnya dengan pendahuluan oleh beliau sendiri untuk memberikan arahan terkait kaidah-kaidah yang berlaku dalam rangka memudahkan mempelajari hal terkait asma’ wa shifat , hingga disebutkan ada empat kaidah. Di setiap poin kaidah terdapat beberapa poin cabang dari kaidah.

Kaidah Pertama

Terhadap Nash Al-Quran dan Sunnah yang terkait Asma dan Shifat Allah. (Bagaimana mensikapi ayat-ayat yang ada penyebutan nama dan sifat Allah.

Wajib membiarkan dalil-dalil dan penunjukkan-penunjukkan dari nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah di atas makna zhahirnya, tidak ditakwil. Hal ini adalah karena al-Quran diturunkan dengan bahasa arab, dan Rasulullah pun orang Arab. Dan juga mentakwil/mengubah penunjukkan dalil kepada selain makna zahir termasuk kategori “berkata tentang Allah tanpa Ilmu”.

Kaidah Kedua

Kaidah dalam memahami Asma Allah (semua nama-nama Allah)

  1. Semua nama Allah adalah indah dipuncak keindahan.
  2. Nama Allah tidak dibataskan dengan jumlah tertentu.
  3. Nama Allah tidak ditentukan/ditinjau oleh akal manusia, sesungguhnya hanya ditentukan dalil syara’ AlQuran dan As-Sunnah As-Shohihah
  4. Semua nama-nama Allah menunjukkan kepada dzat-Nya Allah, dan sifat-sifat yang terkandung dari nama tersebut.

Kaidah Ketiga

Kaidah dalam memahami Sifat Allah

  1. Sifat Allah semuanya maha Tinggi (‘ulya عليا), sifat-sifat sempurna dan penuh pujian, tidak ada kekurangan maupun cacat kecil dari segala arahnya.
  2. Sifat Allah dibagi dua:
    1. Sifat Tsubutiyyah, yaitu sifat-sifat yang Allah tetapkan ada di diriNya.
    2. Sifat Salbiyyah, yaitu sifat-sifat yang Allah nafikan keberadaannya dari diri-Nya.
  3. Sifat Tsubutiyyah terbagi dua:
    1. Dzaatiyyah
    2. Fi’liyyah
  4. Semua sifat-sifat tersebut diarahkan kepada sifat-sifat tersebut tiga pertanyaan:
    1. Apakah itu sifat haqiqiy? Mengapa?
    2. Apakah boleh mendeskripsikan bagaimana sifat tersebut? Mengapa?
    3. Apakah menyamakan dengan sifat makhluk? Mengapa?

Kaidah Keempat

Tentang hal-hal yang kita bantah dengannya para penolak asma wa shifat Allah. (Cara membantah orang-orang yang menyeleweng yang tidak sependapat dengan Aswaja)

Wallahu a’lam

Semoga Allah mudahkan kita semua mempelajari akidah yang lurus. Aamiin.

Categories
Pesantren

Pilih Pesantren modern atau tradisional? (1)

Banyak sekali kaum muslimin yang ingin mempelajari agama islam karena bermacam-macam kebutuhan yang paling mendasarnya adalah agar bisa melakukan ibadah dengan benar yang diwajibkan untuk diri masing-masing muslim tanpa kecuali dan dipraktekkan terus-menerus atau ada kemungkinan untuk dia kerjakan selama umurnya seperti mentauhidkan Allah, sholat, puasa, zakat, hutang piutang, menikah, birrul walidain, muamalah, bahkan jihad fi sabilillah jika terpenuhi semua syaratnya (dan tidak ada penghalangnya).

Kemudian belajar di tempat belajar islam, sebutlah namanya pesantren tentu saja banyak lagi motivasi lainnya yang bersifat penting di dalamnya seperti belajar bahasa arab dengan bermacam tujuannya. Yang paling utama tentulah agar bisa membuka cakrawala ilmu-ilmu wajib tadi, karena kalau tidak bisa dikatakan 100% ilmu agama adalah ditulis dalam bahasa arab dan buku terjemahan sangat kurang bisa mengakomodir kedetailan, kedalaman, keluasan, kerapatan makna yang dibawakan dalil-dalil Al-Quran, As-Sunnah ash shohihah, dan kalam-kalam ulama islam dari zaman shahabat hingga sekarang. Mungkin lebih dari satu juta jilid karya tulis jika mampu dihitung oleh kita.

Di lain sisi, belajar di ma’had  juga ditempelkan motivasi lainnya yaitu belajar bahasa arab yang juga banyak diminati oleh anak muda berupa peluang bekerja di Negara timur tengah, menjadi penterjemah kitab, atau sekedar bisa membaca Koran, majalah, cerpen, novel berbahasa arab.