Categories
Nahwu

Cuplikan indahnya Kalimat Syaikh Utsaimin dlm satu bagian Syarah al Ajurumiyyahnya

Ini adalah ketika pembahasan Fail وَ هٌوَ عَلَى قِسْمَيْن. Hal 234 di Syarah Ajurrumiyyah, cet Maktabah Ar Rusyd, Alih2x beliau langsung masuk ke penjelasan, ternyata beliau mulai dengan mendoakan shahibu al ajurrumiyyah,

“Jazaahullah khairon, sungguh beliau memberikan banyak contoh-contoh. Hal tersebut disebabkan buku ajurrumiyyah adalah untuk pemula. Dan seorang pemula itu, manakala Kamu memberikan banyak contoh dalam sebuah pembahasan maka kamu sedang mengokohkan ilmu di dadanya”

Maka saya juga mengatakan, Jazahullah Khairan (Asy Syaikh al ‘Utsaimin), karena dengan sebab kalimat engkau bagi Saya menjadi tersingkaplah salah satu metode dan pedoman dalam memberikan pengajaran kepada siswa pemula.

Categories
Tak Berkategori

Tulisan Ustazah Tahsin Al Quran Bersanad dari Riyadh

When you love any person you will give him all your secrets,,,when you love Quran he will give you all his secrets so you will loved him more he will give you more of his secrets until you found the tasteful and blisssnd let’s you forget all of the bliss on this worlds
💖🌸💖🌸💖🌸💖🌸
‎اللهم اجعل القرآن العظيم ربيع قلبي ونور صدري
“O Allah! Make the glorious Qur’an the spring of my heart and the light of my chest”.

Categories
Mustholah Hadits

Karya Tulis Yang Paling Masyhur dalam Ilmu Mustholah

  1. المُحَدِّثُ الفَاصِلُ بَينَ الرَاوِي والوَاعِي
    Ditulis oleh Al-Qadhi Abu Muhammad Al-Hasan Bin Abdurrahman bin Khallad Ar-Ramahurmuzi. Beliau wafat pada tahun 360 Hijriyah. akan tetapi dia belum membuat bukunya sempurna dari segala sisi pembahasan-pembahasan Mustholah. Akan tetapi demikianlah keadaannya pada orang-orang yang memulai awal kali penulisan buku yang sifatnya rintisan / merintis pada semua bidang ilmu secara umumnya (pada bidang ilmu yang baru).
  2. مَعْرِفَةُ عُلُوْمِ الحَدِيْثِ
    Buku ini ditulis oleh Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah Al-Hakim An-Naisaburi yang wafat pada tahun 405 Hijriyah. Akan tetapi beliau belum melakukan tahdzib dalam pembahasannya dan juga belum melakukan pengurutan pengurutan dengan pengurutan bab-bab ilmu Mustholah Hadits yang sesuai.
  3. المُسْتَخْرَجُ عَلَى مَعْرِفَةِ عُلُوْمِ الحَدِيْثِ
    Buku ini ditulis oleh Abu Nu’aim Ahmad bin Abdillah Al-Asfahani, beliau wafat pada tahun 430 Hijriyah. Beliau melakukan istidrok atau bentuk kritikan terhadap Al-Hakim atas apa yang luput dari Al-Hakim itu pada bukunya Ma’rifatu Ulum Al-Hadits, berupa kaidah-kaidah dalam bidang ilmu ini. Akan tetapi Beliau (Abu Nu’aim) juga meninggalkan/ luput dalam beberapa hal. Yang memungkinkan bagi para pengkritik buku setelahnya untuk mengkritiknya.

Categories
Nahwu

La Nafiyah Lil Jinsi – Al Qowaid Al Asasiyyah

القواعد الأساسية للغة العربية

باب لا النافية للجنس
La Nafiyah Lil Jinsi menunjukkan pada ternafikannya pengkabaran dari seluruh partikel-partikel jenis yang disebutkan setelahnya, dengan bentuk penafiyan tanshish, contoh dalam bahasa Indonesia bentuk pernyataan: “tidak ada satupun laki-laki di dalam rumah itu”, berarti tidak ada si Ujang, atau Ikhsan, atau Bapak atau Om dan yang lainnya, tidak ada pengecualian satupun laki-laki di dalam rumah itu.

Tanshish (تنصيص) maksudnya adalah tidak menyisakan sedikitpun kemungkinan ada partikel dari jenis itu yang terkecualikan.

Contohnya Ucapan “Laa ilaaha illa Allaah (لا إله إلا الله)”, artinya adalah Tidak ada satupun yang berhak disembah, kecuali Allah.

La Nafiyah terkadang masuk kepada fi’il madhi, pada posisi ini huruf La (لا) wajib diulang. Contoh
فلا صدّق ولا صلْى
Dan jika fi’il mudhori maka tidak wajib diulang, contohnya ucapan لا يسافر .

Terkadang di lain waktu dia masuk kepada Isim. Jika isimnya mufrod (menunjukkan bilangan satu) maka dia aktif amalannya amalan Laisa, secara lahiriah / nampaknya dia menafikan seluruh jenisnya tapi masih bisa di bikin kemungkinan dia cuma menafikan satu saja, tdk seluruh jenis.

Berbeda kalau isim yang mutsanna atau jamak maka keduanya jenis Isim tersebut ada dua perkara dimana La Nafiyah beramalan Laisa atau La Nafiyah beramalan Inna.

akan tetapi la nafiyah Disini tidak pernah beramalan me-rofa’kan Isim setelahnya, karena kalau di rofa’ maka orang bisa ambigu menjadikan Isim yang dalam keadaan rofa’Rafa‘ itu sebagai mubtada atau dalam posisi permulaan kalimat –ibtida’.

Dan juga tidak menjadikan Isim setelahnya sebagai Jar agar orang-orang tidak jadi ambigu bahwasanya dia di-jar-kan oleh huruf Min (مِنْ).

La Nafiyah ini berikan penjelasannya bahwa dia ber-amal-an menasobkan Isim setelahnya. Karena kemiripannya dia dengan Inna dalam menta’kid. Kalau La Nafiyah ini dia mentakid /memastikan, menekankan bentuk penafian (tidak terjadi), adapun Inna menta’kid /memastikan menekankan bentuk sesuatu terjadi.

Perlu dipahami bahwa La ini memberikan faedah menafikan secara keseluruhan atau alasan tanshish hanyalah jika isim-nya La Nafiyah dalam bentuk mufrod.

Amalannya La Nafiyah akan seperti amalan Inna bisa terlaksana dengan syarat-syarat berikut ini:
Satu, haruslah bentuk penafsirannya adalah nashsh (نصّ) atau Tansis (تنصيص), bukan ihtimalan (احتمالا)), ada kemungkinan pengecualian.

Yang kedua, yang dinafikannya itu adalah jenis seluruhnya tidak ada yang tersisa satu partikel pun dari partikel-partikel jenis tersebut.

Yang ketiga, isim dan khobar setelah la bentuknya nakiroh.

Yang keempat, di sebelahnya bersambung langsung dengannya. Buat khobarnya diakhirkan wajib.

Yang kelima, tidak dimasuki huruf Jar.

Contoh kalimat yang memenuhi semua syarat di atas adalah
لا حلية اثمن و من مكارم الاخلاق

Pembahasan tentang Isim

Istilah Terbagi 3
(1) Mufrod -مفرد- ,

(2) mudhof -مضاف- ,

(3) syabihan bil mudhof -مشبه بالمضاف-.

Jika Isim La berbentuk mufrod maka dia mabni di atas tanda nasob-nya. Contoh لا سيفَ أقطعُ من الحقِّ , لا حقوقَ إلا بالعدل, لا ضدين مجتمعان , لا مسلمين في الجاهلية, لا لذاتَِ باقية .

Jika isimnya berbentuk mudhof atau musyabbah bil mudhof, maka wajib dia mansub. Contoh لا شاهدَ زور محبوبٌ , لا واثقًا بالله ضائعْ, لا طالعًا جبلًا حاضر.

(Bersambung…)

Categories
Nahwu

Komparasi Antar Buku Pelajaran Bahasa Arab (1)

Assalamualaikum…
Berikut ini kita akan coba mengupas Apa perbedaan, apa aja tambahan tambahan dari buku dasar Matan Al-AJurrumiyah dengan buku-buku yang setelahnya, yaitu buku yang menjelaskan Matan Al-AJurrumiyah.

Sebagaimana diketahui oleh kalangan pelajar Bahasa Arab, bahwa buku yang mendasar yang banyak digunakan dan banyak juga disyarah oleh penulis penulis setelahnya adalah Matan Al-Ajurrumiyah. Dan kita sudah banyak mendengar dari guru guru yang membimbing muridnya, bahwa metode yang bagus dalam belajar adalah hendaknya si pelajar memulai dari buku-buku yang paling ringkas. Berlanjut setelah lulus selesai buku yang ringkas itu ia meneruskan kepada buku yang lebih lengkap lagi dan lebih lengkap lagi.

Kalau di pesantren sini (Darul Atsar Al-Islamy, Gresik) tahapannya pertama belajar Matan Al-Ajurrumiyah kemudian dilanjutkan dengan At-Tuhfah Al-Wushobiyyah, kemudian dilanjutkan lagi buku Mutammimah Al-Ajurrumiyah kemudian dilanjutkan lagi jika siswa ingin mendalami Bahasa Arab mempelajari buku Qotrunnada, dan setelah Qotrunnada selesai kalau dia mau melanjutkan lagi mendalami bahasa Arab dia mempelajari Alfiyah Ibnu Malik.

Nah, di sini kita juga pengen mengetahui secara lebih rinci apa saja tambahan-tambahan yang didapatkan oleh pelajar yang belajar dari paling dasar itu misalnya dari Matan Al-ajurumiyah.

Jadi kita lebih enak lagi, tahu kenapa tahapan-tahapan Itu dilewati, dan mungkin juga mengetahui bab-bab apa yang diawalkan, mana yang ditengahkan dan seterusnya. .

Salah satu dari faedah yang didapatkan jika belajar secara bertahap adalah yang pertama, mengurangi resiko pelajar merasa bosan, putus asa dikarenakan karena langsung dapat pelajaran yang detail dan mendalam. Dan juga karena materi diulang-ulangi maka ilmu pengetahuan / bab-bab yang sudah didapat sebelumnya menjadi lebih kuat lagi dengan tambahan-tambahan yang diberikan selanjutnya.

Tentu sebagaimana karakter ilmu bahasa adalah suatu hal yang sangat luas, apalagi Bahasa Arab dia adalah ilmu bahasa yang sangat luas. Dari perbendaharaan katanya saja Bahasa Arab sangat banyak sekali dibandingkan bahasa yang lain. Melalui penelitian didapatkan bahwa Bahasa Arab adalah bahasa nomor satu yang paling banyak kosakatanya berkisar mencapai 12.000.000 suku kata. Bandingkan dengan bahasa Inggris yang dia merupakan bahasa nomor dua terbanyak kosakatanya cuma 600.000 kata.

12.000.000 Kata di Bahasa Arab

Kalau belajar bahasa Arab secara serampangan tidak dari ilmu yang ringkas niscaya para pelajar akan merasakan kesulitan dalam menguasai kedalaman ilmu bahasa Arab, keindahannya, kepadatan bahasanya, dan luas maksud-maksudnya.

Nah disini -Alhamdulillah- kita punya beberapa buku yang bisa dikategorikan secara rinci dan bisa ketahuan apa aja materi yang dimasukkan dan apa yang tidak ada yaitu, (1) Matan Al-Ajurumiyah, (2) Tuhfatul Wushobiyah, (3) Hulal Adz-Dzahabiyyah, (4) Mutammimah Jurumiyah (متممة الآجرومية في علم العربية), (5) Al-Qowa’idul Asasiyyah Lilughotil Arobiyah (القواعد الأساسية للغة العرابية).

Mudah-mudahan Allah memudahkan rencana kita ini dan menjadikan ini amalan yang diterima di sisi-Nya hingga hari kiamat, aamiin. Hanya Allah yang memberikan Taufik, kemudahan kepada semua hamba-hamba-Nya. Bismillah.

Categories
Tak Berkategori

Alhamdulillah katsiro

🍃 اكثروا من قول :

Perbanyaklah mengucapkan

🌱 الحمد لله كثيراً 🌿

Alhamdulillaah Katsiiroo

❍ عن أبي سعيد الخدري – رضي الله عنه – قال : قال رسول الله ﷺ :

“ إذا قال العبد : الحمد لله كثيراً
قال الله تعالى : اكتبوا لعبدي رحمتي كثيراً ”

Dari Abu Sa’id Al Khudri -rodhiyallahu ‘anhu- berkata: telah bersabda Rosulullah -shollallahu ‘alaihi wa sallam-:

Jika seorang hamba berkata: “Alhamdulillaahi katsiiroo”, maka Allah -ta’aalaa- berfirman: “Tulislah untuk hamba-Ku “Rahmat-Ku Amat Sangat Banyak”.”

اُنْظُرْ : السِّلْسِلَة الصَحِيْحَة (١٣٣٥/٧)، صَحِيْح التَرْغِيْب (١١٥/٢)

Categories
Fiqih

Bagaimana cara Bersuci Kalau Ada Luka

بسم الله

Di dalam Bab Fiqih mazhab Syafi’iyah disebutkan di Matan Abi Syuja’:

وَ صَاحِبُ الجَبائر يَمسَح عَلَيهَا وَ يَتيَمَم وَ يصَلي وَلَا إعَادَة عَلَيْه إنْ كَانَ وَضَعَهَا عَلَى طٌهْرٍ

Maksudnya aljabair disini adalah sesuatu yang digunakan untuk menutupi luka, biasanya dulu Untuk Patah tulang seseorang menggunakan kayu untuk meluruskan bagian yang patahnya, kalau sekarang secara umum penggunaan kata aljabair itu bisa untuk plester, perban dan yang semisalnya.

Jadi, Mazhab Syafi’iyah berpendapat untuk bagian wudhu yang ditutupi oleh perban maka orang yang luka tersebut maka dia disyariatkan tayammum kemudian lukanya dibasuh saja.

Di dalam permasalahan anggota wudhu yang terluka dan diperban terbagi kepada empat pendapat. mazhab jumhur adalah: Si sakit itu melakukan wudhu kemudian untuk yang tempat lukanya tidak dibuka perbannya namun hanya diusap saja.

Kemudian yang kedua pendapat seperti yang dipegang Mazhab Syafi’i ini, yakni si orang yang sakit itu tayamum dan ditempat lukanya diusap saja.
Sedangkan yang ketiga pendapatnya Ibnu Hazm, bahwasanya tidak ada contohnya dari Rasul penggabungan wudhu dengan tayamum, jadi kalau tidak bisa wudhu dan tidak bisa tayamum maka kalau mau sholat ya sholat saja, langsung sholat tanpa wudhu atau tayamum karena memiliki ‘udzur, dan pendapat ini berpijak kepada alasan ketiadaan dalil yg menjelaskan cara bersuci bagi orang yang ada luka di anggota wudhu.

Kemudian pendapat yang keempat adalah, si sakit hanya bertayamum saja. Pendapat yang keempat inilah yang paling sesuai dengan kaidah.

Coba sedikit kita cermati, misal bagi yang berpendapat bertayamum kemudian mengusap bagian yang luka, muncul pertanyaan tayamum itu kan hanya mengusap wajah dan tangan, kenapa anggota badan yang luka itu diusap lagi sedangkan tayamum saja (mengusap wajah dan tangan) sudah cukup untuk sahnya thoharoh dia.

Pendapat yang keempat yaitu yang menyatakan hanya bertayamum saja ini yang diterima sesuai dengan ayat Al-Qur’an:

وإن كنتم مرضى أو على سفر … وفلم تجدوا مآءً فتيمموا صعيدًا طيبًا فامسحوا بوُجوهكم وأيديكم إن الله كان عفوًا غفورًا

Sakit, patah tangan atau yang diperban, pun termasuk sakit yang dikategorikan mendapat ‘udzur untuk tidak berwudhu.

Sebagaimana telah diketahui ada tiga keadaan yang membolehkan tayamum, yang pertama sakit, kedua karena tidak ada air, dan yang ketiga ada air tapi sedikit.

Pendapat keempat ini sesuai dengan pemahamannya sahabat Rasulullah Ibnu Abbas.

أنه قال: إذا أجنب الرجل و به جراحة فخاف على نفسه إن اغتسل. قال: يتيمم بصعيدٍ.

Jika seseorang junub dan dia punya luka di anggota badannya, dan dia takut, khawatir atas kesehatan dirinya, kalau dia mandi, maka Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Dia tayamum dengan debu”

Dan pendapat ini jugalah yang difatwakan oleh Ibnu Taimiyah dan Syaikh ‘Utsaimin.

Kemudian perkataan di Matan Abi Syuja’:

وَلَا إعَادَة عَلَيْه إنْ كَانَ وَضَعَهَا عَلَى طٌهْرٍ”

serta tidak perlu mengulanginya Jika dia memakainya dalam keadaan suci”.

Di sini Syafi’iyah mengqiyaskan kondisi memakai perban dengan memakai dua sepatu. Namun, ‘Illah yang digunakan untuk jadi poros qiyas ini tidak terlalu pas. Orang memakai sepatu itu adalah keinginan dia kapanpun dia ingin Lepas sepatu dan juga bisa memakai sepatu akan tetapi kalau luka pakai perban itu bukanlah kehendak dia.

===

Materi dari kajian bersama Syaikh Khaliful Hadi hafizhohullah. Jika ada kekeliruan dalam artikel bisa memberi tahu melalui denny0809@gmail.com

Categories
Fiqih

Hikmah Haji sd Diwajibkannya Haji dan Umroh (Mulakhos al Fiqhiy) – Kajian Ustadz Khaliful Hadi.

Hikmah punya kewajiban haji dari sholat dan puasa adalah karena sholat adalah tiang agama karena doa salat di jalan satu hari yang satu malam sebanyak lima kali dikarenakan zakat itu beriringan dengan salat pada banyak tempat dalam penyebutannya kemudian puasa dikarenakan berulang-ulang nya dia setiap tahun.

Diwajibkannya Haji di dalam Islam adalah pada tahun 9 dari Hijriyah sebagaimana ini adalah pendapat kebanyakan ulama. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam tidak pernah berhaji kecuali Haji Satu Kali Saja yaitu Haji Wada kejadiannya pada tahun 10 Hijriyah. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga melakukan umroh sebanyak empat kali.

Rasulullah melakukan umroh sebanyak enpat kali ini menjadi dalil bantahan terhadap orang yang tidak mau umroh dulu sebelum haji berdalilkan
وأتموا الحج والعمرة لله
Karena huruf wawu disini bukanlah tunjukkan urutan atau tertib melainkan مطلق الجمع. Bantahannya,pertama bahwa Anda sholat wajib sebelumnya pun ada sholat sunnah Qobliyah, yang kedua, itu Kalo ente menganggap umrah adalah sunnah, adapun yang benar umrah itu hukumnya adalah wajib.

Dan yang dimaksudkan dari ibadah haji dan umroh adalah beribadah kepada Allah di suatu bidang tanah yang sudah Allah perintahkan untuk mengibadahi Allah di situ.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda
إنما جعل رمي الجمار و السعي بين الصفا و المروة لإقامة ذكر الله
Melempar jumroh dan Sai di antara Shafa dan Marwa hanyalah untuk menegakkan mengingat Allah

Dan Haji adalah wajib berdasarkan kesepakatan kaum muslimin dan termasuk satu rukun dari rukun-rukun Islam dan dia adalah kewajiban satu kali dalam hidup nya bagi orang yang mampu, dan menjadi fardhu kifayah atas semua kaum muslimin pada setiap tahunnya (jadi di dalam satu tahun, minimal harus ada satu orang yang melakukan haji, kalau tidak maka semua kaum muslimin akan berdosa) .

Disebutkan fardhu kifayah karena ada hadits Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu yang marfu’ sampai ke Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
يا أيها الناس قد فرض الله عليكم الحج فحجوا. فقال رجل, أ كل عام يا رسول الله؟ فسكت حتى قالها ثلاثا. فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم, لو قلت نعم لوجبت. و لماستطعتم.

Kemudian umroh, maka dia adalah hukumnya wajib berdasarkan pendapat banyakan dari ulama berdasarkan dalil ucapan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ketika ditanya,
هل على النساء من جهاد؟ قال: نعم عليهن جهاد لا قتال فيه: الحج و العمرة.
Apakah ada jihad untuk perempuan, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam menjawab: “Iya bagi mereka diwajibkan jihad akan tetapi (jihad yang) tidak ada peperangan di dalamnya, yakni Al Hajj Wal Umroh”.

Pertama di sini ada lafaz alaihinna, ‘ala (على) adalah lafaz yang bermakna wajib di dalam usul Fiqih, kemudian (yang menunjukkan wajib lainnya adalah) pada penggandengan al-hajj dan umroh atau istilahnya dalalatu iqtiron, jika haji adalah wajib maka dengan disebutkan umroh bersama dengan Haji, maka menunjukkan umrah juga wajib. Dan kemudian di sini disebutkan kewajibannya untuk perempuan, ini konteks untuk perempuan-perempuan saja diwajibkan maka tentunya “من باب الأولى” untuk laki-laki.

و قال صلى الله عليه وسلم للذي سأله فقال إن أبي شيخ كبير لا يستطيع الحج و العمرة و لا الظعن. فقال حج عن أبيك واعتمر

Kemudian ada yang berkata, sesungguhnya Ayahku seorang yang sudah sangat tua dia tidak mampu untuk haji dan umroh dan juga tidak bisa berpergian. Maka rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, hajikanlah untuk Bapakmu dan umrohkanlah juga.

Dari hadits ini ada sisi pendalilan kewajibannya, yang pertama adalah kalimat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, perintahkanlah haji dan umrohkanlah. Perintah untuk Haji dan perintah untuk umroh maka ini adalah dalil yang kuat tentang wajibnya umroh.

Kemudian ada dalil yang ketiga Hadits Ibnu Umar di dalam hadits Jibril tentang pertanyaan perkara keislaman yang mana Di dalamnya disebutkan haji dan umroh

Categories
Tak Berkategori

Ibu

Benar kata pujangga;

Ibu adalah sekolah, apabila engkau mempersiapkannya Engkau telah mempersiapkan sebuah bangsa yang bernasab mulia.

Ibu adalah taman, apabila engkau selalu menyiraminya. Taman itu akan memunculkan tunas begitu indahnya

Ibu adalah guru para guru nan utama Prestasi mereka menyebar ke berbagai penjuru

– Biografi 35 shahabiyah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Categories
Tak Berkategori

يا لها من رحلة

يا لها من رحلة :-

تبدأ من ظهر الأب ..
الى بطن الأم ..
ومن بطن الأم ..
إلى ظهر الأرض ..
ومن ظهر الأرض ..
إلى بطن الأرض ..
ومن بطن الأرض ..
إلى يوم العرض ..

وفي كل محطة ترى العجب..!

وفي النهاية تحط الرحال ..
إما إلى الجنة وإما إلى النار ..

شيئان يحزنان :
رجل لم يدخل المسجد إلا في جنازته
و إمرأة لم تستر نفسها إلا في كفنها .
كم هي مؤلمه إلى متى الغفلة ؟ !!!
حقيقة مرة :
يحضرون للدوام في وقته
ويحضرون للمطار قبل موعده
ويحضرون للمستشفى قبل الموعد ايضا
ثم ينامون عن الصلاة ، ويقولون
مشكلتنا نومنا ثقيل !
﴿بل تؤثرون الحياة الدنيا﴾
درس لي ولك ولمن بعدنا