Perselisihan - Pondok Pesantren Darul Atsar Gresik

Adab Silang Pendapat (10)

KAEDAH KEENAM:

MENERIMA KEBENARAN DARI ORANG YANG DIBENCI DAN MENOLAK KEBATILAN DARI ORANG YANG DICINTAI

Ibnul Qayyim berkata,

“Siapa yang Allah beri dia petunjuk untuk menerima kebenaran dari mana saja dan dari siapa saja, walaupun dari orang yang dia benci dan musuhi, dan dia juga menolak kebatilan dari siapa saja, walaupun dari orang yang dia cintai, maka dia adalah orang yang diberi hidayah di dalam menghadapi masalah yang diperselisihkan, yakni dengan mendapatkan kebenaran”1.

Adab Silang Pendapat (11)

KAEDAH KETUJUH:

MEMUSATKAN BANTAHAN KEPADA KESALAHAN, BUKAN KEPADA ORANGNYA

Dr. Bakr Abu Zaid berkata: “Bantahan itu di arahkan kepada ucapan yang keliru, bukan kepada orangnya”.1

Al-Imam Ibnul-Qayyim pernah berkata tentang Syaikhul Islam Al-Imam Abu Isma’il Al-Harawi (w. 481 H.) rahimahullah:

“Syaikhul Islam (Al-Harawi) adalah orang yang kami cintai, akan tetapi Al-Haq (kebenaran) lebih kami cintai daripada beliau. Dan dahulu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- berkata: ‘Amal perbuatan Al-Harawi itu jauh lebih baik dibandingkan ilmunya’. Dan Ibnu Taimiyah -rahimahullah- telah benar.

Adab Silang Pendapat (12)

KAEDAH KEDELAPAN:

TIDAK ADA PENGINGKARAN DALAM MASALAH IJTIHADIYYAH

Masalah yang patut diingkari adalah masalah yang menyelisihi nash Al-Qur’an, atau As-Sunnah, atau menyelisihi Ijma’ (konsensus/kesepakatan) yang shahih. Adapun selain itu, maka termasuk masalah ijtihadiyyah yang tidak boleh diingkari.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

“Barangsiapa yang mengamalkan masalah ijtihadiyah bersandar kepada pendapat sebagian Ulama’ tidaklah boleh diingkari, dan tidak boleh diboikot. Begitu juga orang yang mengamalkan salah satu dari dua pendapat, tidaklah boleh diingkari”.1

Adab Silang Pendapat (13)

KAEDAH KESEMBILAN:

VONIS/KOMENTAR SESAMA TEMAN1 DAPAT DITERIMA KECUALI APABILA ADA UNSUR KEZHALIMAN DI DALAMNYA


Hendaknya diketahui bahwa vonis/komentar antar sesama teman tanpa dibarengi dengan hujjah termasuk perbuatan hasad (dengki).

Qatadah berkata:

“Tidaklah semakin bertambah nikmat pada suatu kaum melainkan semakin bertambah pula musuh mereka.”2

Adab Silang Pendapat (14)

KAEDAH KESEPULUH:

MEMBAWA PERNYATAAN MUKHOLIF KEPADA KEMUNGKINAN YANG TERBAIK, APABILA DIA DIKENAL TERMASUK DARI PEGIAT KEBAIKAN DAN AHLI SUNNAH

Ibnul Qayyim berkata,

“Satu kata yang diucapkan oleh dua orang, salah satu dari keduanya mengatakannya dengan maksud batil yang amat besar, sementara yang satunya lagi mengatakannya dengan maksud kebenaran yang murni, maka yang dijadikan ukuran penilaian adalah jalan beragama yang ditempuh orang yang mengucapkannya, riwayat hidupnya, Madzhab-nya, dan seruan dakwahnya”.1

Adab Silang Pendapat (15)

KAEDAH KESEBELAS:

TIDAK FANATIK KEPADA GURU

Ibnul Qayyim berkata:

“[...] Dan yang semisalnya adalah fanatik kepada Madzhab, Tarekat, dan Syaikh (guru), serta mendahulukan sebagiannya di atas yang lain dengan hawa nafsu dan fanatisme, serta dikarenakan dia berstatus sebagai pengikutnya, sehingga dia pun menyeru (manusia) kepadanya, mencintai dan memusuhi karenanya, dan menimbang/mengukur manusia dengannya. Semua ini termasuk dakwah-dakwah jahiliyah”.1

Adab Silang Pendapat (16)

KAEDAH KEDUA BELAS:

MENYALAHKAN PENDAPAT MUKHOLIF BUKAN BERARTI HARUS DENGAN MENCELANYA, AKAN TETAPI DENGAN NASIHAT YANG PENUH ADAB

Ibnul Qayyim berkata:

“Oleh karena itu, para Imam (para Ulama’) dengan tegas membatalkan/menyalahkan hukum keputusan siapa saja yang memberi hukum keputusan yang menyelisihi kebanyakan permasalahan ini, dengan tanpa mencela orang yang mengatakannya”.1

Adab Silang Pendapat (4)

4. TIDAK BISA KELUAR MELAKSANAKAN SHALAT JAMA’AH DAN SHALAT JUM’AT

Pada tahun 447 H terjadi fitnah antara Asya’irah1 dan Hanabilah2. Para kaum Hanabilah memiliki kekuatan yang besar; sehingga (sampai-sampai) kaum Asya’irah tidak ada yang bisa keluar melaksanakan Shalat Jama’ah dan Shalat Jum’at”.3

Adab Silang Pendapat (5)

PEMBAHASAN KETIGA: BEBERAPA KAEDAH DI DALAM MENGHADAPI MUKHOLIF

Di sini ada beberapa kaedah, semoga ia dapat menjadi obat dalam menghadapi perselisihan, atau paling tidak ia dapat me-minimalisir-nya dengan pertolongan Allah ta’ala.

KAEDAH PERTAMA: TUJUAN SYAR’I DALAM MENGHADAPI MUKHOLIF ADALAH MENGEMBALIKAN PIHAK YANG SALAH KEPADA KEBENARAN

Tujuan Syar’i dari menjelaskan kesalahan dan membantah mukholif adalah mengembalikan orang yang terjatuh ke dalam kesalahan kepada jalan yang benar.

Kalau ini tujuannya maka selayaknya bagi orang yang mengingkari dan membantah mukholif yang keliru untuk menempuh cara-cara yang benar untuk mewujudkan tujuan ini yaitu dengan cara yang baik, ucapan yang baik tanpa celaan dan cacian. Ketika jalan ini ditempuh niscaya akan menjadikan orang yang diajak lembut hatinya, mudah menerima, dan tidak menolak.

Adab Silang Pendapat (6)

KAEDAH KEDUA:

BERBUAT ADIL (INSHAF)

Al-Jauhari berkata, “Anshafa (أَنْصَفَ) adalah berlaku adil”.1

Dalam “Al-Mu’jam Al-Washit” disebutkan: “Anshafa fulaanan maknanya adalah memperlakukannya dengan adil.2 Dalam “Tajul ‘Arus” disebutkan A’dzara (أَعْذَرَ) bermakna anshafa (أَنْصَفَ), contohnya: Ama tu’dziruni min hadza? (Tidakkah kamu memberi aku udzur dari masalah ini?) maknanya adalah Ama tunshifuni minhu (Tidakkah kamu berlaku adil kepadaku dalam masalah ini?)

Contoh lainnya: A’dzirni min hadza ! (Beri aku udzur dalam masalah ini!) maknanya adalah Anshifni minhu (Berlaku adillah kepadaku dalam masalah ini!), (demikian) sebagaimana yang dijelaskan Khalid bin Janbah.3

Adab Silang Pendapat (7)

adab silang pendapat

KAEDAH KETIGA:

TERJATUHNYA SEORANG ULAMA’ YANG MUJTAHID DI DALAM KESALAHAN BUKANLAH SESUATU YANG MEMBOLEHKAN UNTUK MERENDAHKANNYA, MEMBUANG SEMUA PENDAPATNYA, MENG-GHIBAH-INYA ATAU MEMBOIKOTNYA

Adz-Dzahabi berkata: “Ibnu Khuzaimah memiliki kedudukan dan kemuliaan yang tinggi di dalam hati-hati manusia karena keilmuannya, agamanya, dan kuatnya mengikuti As-Sunnah. Beliau memiliki kitab “At-Tauhid” yang tersusun dalam satu jilid yang tebal. Dan beliau telah terjatuh di dalam men-ta’wil ‘hadits Shurah’1, maka beliau diberi udzur karena menta’wil sebagian sifat-sifat Allah.

Adab Silang Pendapat (8)

KAEDAH KEEMPAT:

MEMBERIKAN UDZUR1 KEPADA MUKHOLIF KARENAKETIDAKTAHUANNYA, TA’WIL-NYA ATAU IJTIHAD-NYA

Ibnul Qayyim berkata:

“Orang yang memiliki ilmu tentang syariat dan realita, maka dia akan mengetahui dengan yakin; bahwa seorang yang mulia sekaligus memiliki peran besar di dalam Islam serta jejak yang baik, -yang mana juga dia ini memiliki kedudukan yang mulia di dalam Islam-, terkadang muncul darinya kekeliruan yang dia sebenarnya diberi udzur, bahkan diberi pahala karena ijtihad-nya. Maka tidak boleh dicari-cari kesalahannya dan tidak boleh dihancurkan kehormatannya, ke-imam-anya dan kemuliaannya di hati kaum Muslimin”.2

Adab Silang Pendapat (9)

KAEDAH KELIMA:

MENJAGA HARGA DIRI (KEHORMATAN) MUKHOLIF MUSLIM

Ibnu Rajab berkata,

“Siapa yang diketahui bahwa bantahannya kepada para Ulama’ bertujuan nasehat karena Allah dan Rasul-Nya, maka wajib dia di-mu’amalah-i1 dengan pemuliaan dan penghormatan seperti halnya Imam-imam kaum Muslimin yang lainnya.