Karya Tulis Sivitas Akademi

Salahkah Aku Meminta Ruqyah (8)

مسألة : إذا طلب منك إنسان أن يرقيك فهل يفوتك كمال إذا لم تمنعه؟

قال الشيخ ابن عثيمين في شرحه على كتاب التوحيد (1/129) الجواب: لا يفوتك لأن النبي لم يمنع عائشة أن ترقيه وهو أكمل الخلق توكلا على الله وثقة به، ولأن الحديث لا يسترقون إنما كان في طلب هذه الأشياء، ولا يخفى الفرق بين أن تحصل هذه الأشياء بطلب وبين أن تحصل بغير طلب ا-هـ.

Apabila Kamu Diminta Untuk Diruqyah Apakah Luput Darimu Kesempurnaan Tersebut Apabila Kamu Tidak Menolaknya?

Asy-syaikh Ibnul Utsaimin di Al-Albani syarh kitab at-tauhid (1/129) berkata, " jawabannya tidak luput karena Nabi tidak melarang Aisyah meruqyah beliau padahal beliau adalah orang yang paling sempurna ketawakkalannya kepada Allah dan kepercayaannya kepada Allah dan karena hadits "mereka tidak minta ruqyah" ini bagi orang yang meminta dan jelas perbedaannya antara diperolehnya perkara ini dengan meminta dan dengan tidak meminta.

تمت الكتابة بحمد الله الذي بنعمته تتم الصالحات كتبه خليف الهادي بنجوتغا-فانجغ-غرسيك

Penulis: Al-Ustadz Khaliful Hadi (Mudir Ponpes Darul Atsar, Gresik)

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Salahkah Aku Meminta Ruqyah (7)

هل هذه المنزلة أرفع رتبة من غيره ؟

قال الحافظ في الفتح (11/462) : أن السبعين المذكورين أرفع رتبة من غيره مطلقا وليس كذلك : أن مزية السبعين بالدخول بغير حساب لا يستلزم إنهم أفضل من غيرهم، بل فيمن يحاسب في الجملة من يكون أفضل منهم، وفيمن يتأخر عن الدخول ممن يتحقق نجاته وعرف مقامه من الجنة، يشفع في غيره من أفضل منهم. اهـ

Apakah Kedudukan Ini Lebih Tinggi Dari Yang Lain Lainnya?

Ibnu Hajar di dalam Fathul Bari (11/422) berkata,

"bahwa tujuh puluh ribu orang tersebut lebih tinggi derajatnya dari yang lainnya secara mutlaq ini tidak mesti karena kelebihan masuk surga tanpa hisab tidak mengharuskan mereka lebih afdhol dari yang lainnya bahkan ada diantara orang yang dihisab lebih afdhol dari mereka dan juga dari orang yang belakangan masuk surga dari orang yang jelas selamatnya dan mengetahui tempatnya di surga yang memberikan syafaat kepada yang lain adalah orang yang lebih afdhol dari mereka.

Penulis: Al-Ustadz Khaliful Hadi (Mudir Ponpes Darul Atsar, Gresik)

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Salahkah Aku Meminta Ruqyah (6)

هل الرقي من العلاج أم لا ؟

من نظر إلى الأحاديث مثل حديث جابر قال كان لي خال يرقي من العقرب فنهى رسول الله عن الرقى قال فأتاه فقال رسول الله إنك نهيت عن الرقى أو عن أرقي من العقرب فقال من استطاع منكم أن ينفع أخاه فليفعل الحديث رواه مسلم 2199 وغير ذلك من الأدلة وأقوال أهل العلم المتقدم ذكره يرى أن الرقى من العلاج.

Apakah Ruqyah Termasuk Pengobatan Atau Tidak?

Siapa yang memperhatikan hadits-hadits di atas seperti hadits Jabir dia berkata,

"saya punya paman meruqyah karena sengatan kalajengking. Lalu Nabi melarang dari ruqyah lalu beliau datang menemui Rasulullah lalu berkata: ya Rasulullah sesungguhnya engkau melarang meruqyah dan aku meruqyah dari sengatan kalajengking? Lalu Rasulullah berkata, " siapa yang bisa memberikan manfaat kepada saudaranya maka lakukanlah. (HR. Muslim no. 2199) Dan dalil-dalil yang lainnya .

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Adab Berjalan ke Masjid (3)

ADAB ke-3

عدم التشبيك من وقت الخروج الى المسجد للصلاة

TIDAK MENGGABUNGKAN JARI JEMARI ( TASYBIK )  DISAAT KELUAR MENUJU MASJID UNTUK MENUNAIKAN SHOLAT

قال الإمام المباركفوري رحمه الله في التحفة (2/203) : ((والحديث فيه كراهة التشبيك من وقت الخروج إلى المسجد للصلاة)) .

            Imam Al Mubarokfuri menjelaskan didalam kitab Tuhfatul Ahwadzi ( 2/329 ) : “  Didalam hadits ini menunjukan makruhnya “ Tasybik “ disaat keluar menuju masjid untuk menunaikan sholat “.

إلا أن هناك مسألة في تشبيك النبي صلى الله عليه وسلم في قصة ذي اليدين بلفظ : ((ثم قام إلى خشبة معروضة في المسجد فاتكأ عليها ، كأنه غضبان ، وشبك بين اصابعه)) ، الحديث رواه البخاري (482) ومسلم من حديث أبي هريرة رضي الله عنه .

وحديث أبي موسى رضي الله عنه عند البخاري (481) ومسلم : {المؤمن للمؤمن كالبنيان ، وشبك بين أصابعه} .

وهذان الحديثان يدلان على جواز التشبيك في الصلاة وفي غير الصلاة .

            Akan tetapi disana ada suatu masalah berkaitan dengan tasybiknya Nabi  r dalam kisah “ zdul yadain “ dengan lafadz : “ kemudian Rasul r berdiri menuju  kayu yang disandarkan dimasjid kemudian beliau r bersandar padanya seakan - akan beliau r marah dan beliau r menggabungkan antara jari jemarinya”. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah  y, semisal itu juga hadits Abu Musa Al Asy’ari riwayat Imam Bukhori dan Imam Muslim : “ Seorang mu’min terhadap mu’min yang lainnya seperti satu bangunan dan beliau r menggabungkan antara jari jemarinya”. kedua hadits ini menunjukan seakan - akan bolehnya perbuatan “ taysbik “ pada sholat maupun selain sholat.

ويجاب : قال الإمام الشوكاني رحمه الله في النيل388/ 2: ((ويمكن الجمع بين الاحاديث بأن تشبيكه صلى الله عليه وسلم في حديث السهو كان لاشتباه الحال عليه في السهو الذي وقع منه ، ولذلك وقف كأنه غضبان . وتشبيكه في حديث أبي موسى رضي الله عنه وقع لقصد التشبيه لتعاضد المؤمنين بعضهم ببعض ، كما أن البنيان المشبك بعضه ببعض يشد بعضه بعضا . وأما حديث الباب فهو محمول على التشبيك للعبث وهو منهي عنه في الصلاة ومقدماتها ولواحقها من الجلوس في المسجد والمشي إليه))

PENGKOMPROMIAN TERHADAP HADITS – HADITS DIATAS[1] :

Imam As Syaukani menjelaskan dalam kitab Nailul Author : “ Bahwasanya tasybiknya Nabi r yang disebutkan dalam hadits “ sahwi “ itu karena keadaan yang masih tersamarkan atas beliau r tatkala lupa , oleh karena itulah Nabi r berdiri seakan - akan beliau r marah. Sedangkan tasybik Nabi r yang disebutkan dalam hadits Abu Musa y tujuan Nabi r untuk  menyerupakan ( orang – orang beriman ), karena orang – orang beriman itu saling menguatkan sebagiannya dengan sebagian yang lain. Sebagaimana halnya bangunan  bahwasanya sebagiannya mengokohkan dan menguatkan sebagian yang lain. Adapun hadits pada bab ini  dibawa ( maknanya ) untuk tasybik yang sifatnya sia – sia, maka tasybik semisal ini terlang didalam sholat, begitu juga larangan ini diikutkan (hukumnya) terhadap hal – hal sebelum sholat atau hal – hal yang mengikuti sholat baik berupa duduk dimasjid ataukah berjalan menuju masjid.

ثم قال رحمه الله : ((والأولى أن يقال : إن النهي عن التشبيك ورد بألفاظ خاصة بالأمة ، وفعله صلى الله عليه وسلم لا يعارض قوله الخاص بهم ، كما تقرر في الأصول)) .اهـ وانظر التحفة (2/203-204) .

Kemudian beliau berkata : “ Pengkompromian yang lebih bagus adalah bahwa larangan dari tasybik itu datang dengan lafadz yang khusus untuk ummat  dan perbuatan Nabi r itu khusus untuk Nabi r maka semisal ini tidaklah perbuatan Nabi r yang khusus untuk Nabi  tersebut ( yang melakukan tasybik ) bertentangan dengan perkataan beliau r yang khusus ( yang melarang tasybik ) untuk ummat ini, sebagai mana yang telah tetap dalam kaidah usul”.

والظاهر أن يحمل لحديث كعب بن عجرة رضي الله عنه على حالة خاصة ، وهي حين الخروج إلى المسجد للصلاة ، لأنه في صلاة ويلحق بما كان في صلاة كما أنه ينتظر الصلاة إلى الصلاة ، وحديث أبي هريرة رضي الله عنه وأبي موسى رضي الله عنه في غير هذه الحالة .

أو يحمل كما قال الإمام الشوكاني رحمه الله في الأول ، لا ما رجحه رحمه الله ، لأن الترجيح يؤخذ إذا كان لا يمكن الجمع ، كما تقدم مرارا معنا في الأصول .

            Dan yang nampak  bahwa hadits Ka’ab bin Ujroh y dibawa pada keadaan khusus yaitu disaat ingin keluar menuju masjid untuk menunaikan sholat, sebab keluarnya seseorang menuju masjid untuk menunaikan sholat hukumnya sebagaimana hukum sholat sehingga diikutkan hukumnya ( larangan tasybik ) tatkala keadaan sholat, serupa halnya tatkala dia menunggu sholat kesholat berikutnya. Adapun hadits Abu Hurairoh y dan Abu Musa y selain keadaan yang disebutkan diatas, atau hadits tersebut dibawa maknanya sebagaimana yang dikatakan oleh Imam As Syaukani pada makna yang pertama, bukan membawa maknanya pada apa – apa yang dikuatkan oleh Imam As Syaukani karena “At Tarjih” itu dipakai apabila memang tidak memungkinkan untuk dikompromikan. Sebagai mana telah berlalu pembahasannya bersama kita  pada kitab usul.

                                                                                               

****

 

[1] Yaitu hadits yang seakan akan membolehkan tasybik.

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault