Adab Silang Pendapat (7)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

adab silang pendapat

KAEDAH KETIGA:

TERJATUHNYA SEORANG ULAMA’ YANG MUJTAHID DI DALAM KESALAHAN BUKANLAH SESUATU YANG MEMBOLEHKAN UNTUK MERENDAHKANNYA, MEMBUANG SEMUA PENDAPATNYA, MENG-GHIBAH-INYA ATAU MEMBOIKOTNYA

Adz-Dzahabi berkata: “Ibnu Khuzaimah memiliki kedudukan dan kemuliaan yang tinggi di dalam hati-hati manusia karena keilmuannya, agamanya, dan kuatnya mengikuti As-Sunnah. Beliau memiliki kitab “At-Tauhid” yang tersusun dalam satu jilid yang tebal. Dan beliau telah terjatuh di dalam men-ta’wil ‘hadits Shurah’1, maka beliau diberi udzur karena menta’wil sebagian sifat-sifat Allah.

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Adab Silang Pendapat (6)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

KAEDAH KEDUA:

BERBUAT ADIL (INSHAF)

Al-Jauhari berkata, “Anshafa (أَنْصَفَ) adalah berlaku adil”.1

Dalam “Al-Mu’jam Al-Washit” disebutkan: “Anshafa fulaanan maknanya adalah memperlakukannya dengan adil.2 Dalam “Tajul ‘Arus” disebutkan A’dzara (أَعْذَرَ) bermakna anshafa (أَنْصَفَ), contohnya: Ama tu’dziruni min hadza? (Tidakkah kamu memberi aku udzur dari masalah ini?) maknanya adalah Ama tunshifuni minhu (Tidakkah kamu berlaku adil kepadaku dalam masalah ini?)

Contoh lainnya: A’dzirni min hadza ! (Beri aku udzur dalam masalah ini!) maknanya adalah Anshifni minhu (Berlaku adillah kepadaku dalam masalah ini!), (demikian) sebagaimana yang dijelaskan Khalid bin Janbah.3

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Adab Silang Pendapat (5)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
PEMBAHASAN KETIGA: BEBERAPA KAEDAH DI DALAM MENGHADAPI MUKHOLIF

Di sini ada beberapa kaedah, semoga ia dapat menjadi obat dalam menghadapi perselisihan, atau paling tidak ia dapat me-minimalisir-nya dengan pertolongan Allah ta’ala.

KAEDAH PERTAMA: TUJUAN SYAR’I DALAM MENGHADAPI MUKHOLIF ADALAH MENGEMBALIKAN PIHAK YANG SALAH KEPADA KEBENARAN

Tujuan Syar’i dari menjelaskan kesalahan dan membantah mukholif adalah mengembalikan orang yang terjatuh ke dalam kesalahan kepada jalan yang benar.

Kalau ini tujuannya maka selayaknya bagi orang yang mengingkari dan membantah mukholif yang keliru untuk menempuh cara-cara yang benar untuk mewujudkan tujuan ini yaitu dengan cara yang baik, ucapan yang baik tanpa celaan dan cacian. Ketika jalan ini ditempuh niscaya akan menjadikan orang yang diajak lembut hatinya, mudah menerima, dan tidak menolak.

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Adab Silang Pendapat (4)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
4. TIDAK BISA KELUAR MELAKSANAKAN SHALAT JAMA’AH DAN SHALAT JUM’AT

Pada tahun 447 H terjadi fitnah antara Asya’irah1 dan Hanabilah2. Para kaum Hanabilah memiliki kekuatan yang besar; sehingga (sampai-sampai) kaum Asya’irah tidak ada yang bisa keluar melaksanakan Shalat Jama’ah dan Shalat Jum’at”.3

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Adab Silang Pendapat (3)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
PEMBAHASAN KE DUA: PENTINGNYA MEMAHAMI KAEDAH DI DALAM MENGHADAPI MUKHOLIF1

Sesungguhnya orang yang merenungkan realita yang terjadi di masa ini, berupa perselisihan dan pertikaian, -yang barangkali di antaranya ada yang sudah sampai pada tingkatan bersikap zhalim (fujur) dalam bersengketa dan tingkatan kebencian yang luar biasa-, tentu dia akan melihat bahwa ternyata sebab terjadinya hal tersebut tidak lain tidak adalah akibat lemahnya kemumpunan diri di dalam memahami masalah-masalah yang diperselisihkan, serta lemahnya diri di dalam memahami kaedah-kaedah dalam menyikapinya, yang diambil dari tuntunan Ulama’ Rabbani.

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Adab Silang Pendapat (2)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Diantara hikmah yang nampak dari terjadinya khilaf adalah agar seorang hamba yang mukallaf (Mukallaf artinya orang yang dikenai beban perintah Syari’at (ed).) semangat mencari kebenaran dan mengerahkan tenaga untuk menepati kebenaran dengan terus berdoa kepada Allah untuk ditampakkan baginya kebenaran dengan jelas di saat-saat terjadinya perselisihan, dalam bentuk mengagungkan Allah dan memuliakannya.

Kedua: Khilaf yang Allah melarangnya secara syar’i

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Adab Silang Pendapat (1)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

ADAB SILANG PENDAPAT

KAEDAH-KAEDAH MENGHADAPI PERSELISIHAN DIKALANGAN AHLUS-SUNNAH

Diterjemahkan dari Karya:

AL-USTADZ KHOLIFUL HADI

Pimpinan Pondok Pesantren Darul Atsar Banyutengah Gresik
Jawa Timur
Judul Asli:
Izalatul-Musykilat bi Ma’rifatil-Qawa’id ‘indal-Ikhtilafat

Penulis:
Kholiful Hadi

Judul Terjemahan:
Adab Silang Pendapat; Kaedah-kaedah Menghadapi Perselisihan di Kalangan Ahlus-Sunnah

Penerjemah: Abdurrohim
Editor: Ahmad
Desain Sampul: Tim Darul-Atsar
Lay out: Tim Darul Atsar

Cetakan ke: 1, Juni 2016 H./ Syawal 1437 H.

Penerbit:
Maktabah Darul Atsar
Jl. Pondok no. 01 Desa Banyutengah Kec. Panceng Kabupaten Gresik
Jawa Timur Indonesia
e-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Dilarang memperbanyak isi buku ini tanpa izin tulis dari penulis
Hak cipta dilindungi Undang-undang

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Jual Beli Kredit (Baiut Taqsith) Bagian 3

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Kita ketahui dari pembahasan sebelumnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam melarang adanya dua akad penjualan dalam satu akad penjualan. Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah Radhiallahu'anhu riwayat Al-Imam At-Tirmidzi nomor 1231 dan yang lainnya dengan sanad hasan. Lalu kita ketahui juga kelemahan riwayat lain dari hadis ini yakni dengan lafazh: (Barangsiapa menjual dengan dua akad penjualan (baca: Dua harga dalam satu akad penjualan) maka boleh baginya mengambil harga terendah dari keduanya atau kalau tidak maka terjatuh dalam riba), dimana Syaikhuna Muqbil Bin Hadi Al Wadi'i menghukuminya dalam Al-Ahaaditshul Mu’allah Zhaahiruhaa Ash-Shihhah (hal 242) sebagaimana riwayat yang Syadz (ganjil) sehingga tidak bisa digunakan sebagai dalil.

Kemudian sudah dilaporkan beberapa penafsiran hadits Abu Hurairah radhiallahu 'anhu dimana kita ketahui dari penjelasan Al-Imam Al-Khaththabi bahwasanya tidak diketahui adanya ulama yang memahami larangan dalam hadis itu berkaitan dengan masalah jual beli dua harga yang sedang kita bahas, yaitu penjual berkata: ‘Saya jual kain ini kepadamu seharga 100 ribu kalau kontan dan seharga 150 ribu kalau dengan penundaan pembayaran (hutang atau kredit)’. Lalu pihak pembeli berkata: ‘Saya beli’ (seraya menentukan cara pembayaran dan harga mana yang dia pilih). Bahkan para ulama membawa maksud hadits tersebut pada kondisi dimana pembeli hanya menyatakan ‘jadi membeli’ tapi tanpa menentukan cara pembayaran dan harga mana yang dia kehendaki.

Adapun kalau sudah ada penentuan maka pendapat yang rajih (lebih kuat) adalah boleh karena sama sekali tidak ada dalil yang melarangnya, sebagaimana tidak diketahui adanya Ulama terdahulu yang memasukkannya dalam larangan melakukan dua akad penjualan dalam satu akad penjualan. Berikut ini jawaban terhadap pembahasan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah (no. 2326) tentang larangan jual beli kredit atau hutang dengan harga lebih tinggi dibandingkan harga kontan.

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Pondok Pesantren Darul Atsar Al-Islamy

Jl. Pondok, Ds. Banyutengah, Kec. Panceng, Kab. Gresik, Jawa Timur
Telp./WhatsApp/SMS. +62-812-3388-4514