Adab Silang Pendapat (16)

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang

KAEDAH KEDUA BELAS:

MENYALAHKAN PENDAPAT MUKHOLIF BUKAN BERARTI HARUS DENGAN MENCELANYA, AKAN TETAPI DENGAN NASIHAT YANG PENUH ADAB

Ibnul Qayyim berkata:

“Oleh karena itu, para Imam (para Ulama’) dengan tegas membatalkan/menyalahkan hukum keputusan siapa saja yang memberi hukum keputusan yang menyelisihi kebanyakan permasalahan ini, dengan tanpa mencela orang yang mengatakannya”.1

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Adab Silang Pendapat (15)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

KAEDAH KESEBELAS:

TIDAK FANATIK KEPADA GURU

Ibnul Qayyim berkata:

“[...] Dan yang semisalnya adalah fanatik kepada Madzhab, Tarekat, dan Syaikh (guru), serta mendahulukan sebagiannya di atas yang lain dengan hawa nafsu dan fanatisme, serta dikarenakan dia berstatus sebagai pengikutnya, sehingga dia pun menyeru (manusia) kepadanya, mencintai dan memusuhi karenanya, dan menimbang/mengukur manusia dengannya. Semua ini termasuk dakwah-dakwah jahiliyah”.1

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Adab Silang Pendapat (14)

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang

KAEDAH KESEPULUH:

MEMBAWA PERNYATAAN MUKHOLIF KEPADA KEMUNGKINAN YANG TERBAIK, APABILA DIA DIKENAL TERMASUK DARI PEGIAT KEBAIKAN DAN AHLI SUNNAH

Ibnul Qayyim berkata,

“Satu kata yang diucapkan oleh dua orang, salah satu dari keduanya mengatakannya dengan maksud batil yang amat besar, sementara yang satunya lagi mengatakannya dengan maksud kebenaran yang murni, maka yang dijadikan ukuran penilaian adalah jalan beragama yang ditempuh orang yang mengucapkannya, riwayat hidupnya, Madzhab-nya, dan seruan dakwahnya”.1

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Adab Silang Pendapat (13)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

KAEDAH KESEMBILAN:

VONIS/KOMENTAR SESAMA TEMAN1 DAPAT DITERIMA KECUALI APABILA ADA UNSUR KEZHALIMAN DI DALAMNYA


Hendaknya diketahui bahwa vonis/komentar antar sesama teman tanpa dibarengi dengan hujjah termasuk perbuatan hasad (dengki).

Qatadah berkata:

“Tidaklah semakin bertambah nikmat pada suatu kaum melainkan semakin bertambah pula musuh mereka.”2

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Adab Silang Pendapat (12)

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang

KAEDAH KEDELAPAN:

TIDAK ADA PENGINGKARAN DALAM MASALAH IJTIHADIYYAH

Masalah yang patut diingkari adalah masalah yang menyelisihi nash Al-Qur’an, atau As-Sunnah, atau menyelisihi Ijma’ (konsensus/kesepakatan) yang shahih. Adapun selain itu, maka termasuk masalah ijtihadiyyah yang tidak boleh diingkari.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

“Barangsiapa yang mengamalkan masalah ijtihadiyah bersandar kepada pendapat sebagian Ulama’ tidaklah boleh diingkari, dan tidak boleh diboikot. Begitu juga orang yang mengamalkan salah satu dari dua pendapat, tidaklah boleh diingkari”.1

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Adab Silang Pendapat (11)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

KAEDAH KETUJUH:

MEMUSATKAN BANTAHAN KEPADA KESALAHAN, BUKAN KEPADA ORANGNYA

Dr. Bakr Abu Zaid berkata: “Bantahan itu di arahkan kepada ucapan yang keliru, bukan kepada orangnya”.1

Al-Imam Ibnul-Qayyim pernah berkata tentang Syaikhul Islam Al-Imam Abu Isma’il Al-Harawi (w. 481 H.) rahimahullah:

“Syaikhul Islam (Al-Harawi) adalah orang yang kami cintai, akan tetapi Al-Haq (kebenaran) lebih kami cintai daripada beliau. Dan dahulu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- berkata: ‘Amal perbuatan Al-Harawi itu jauh lebih baik dibandingkan ilmunya’. Dan Ibnu Taimiyah -rahimahullah- telah benar.

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Adab Silang Pendapat (10)

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang

KAEDAH KEENAM:

MENERIMA KEBENARAN DARI ORANG YANG DIBENCI DAN MENOLAK KEBATILAN DARI ORANG YANG DICINTAI

Ibnul Qayyim berkata,

“Siapa yang Allah beri dia petunjuk untuk menerima kebenaran dari mana saja dan dari siapa saja, walaupun dari orang yang dia benci dan musuhi, dan dia juga menolak kebatilan dari siapa saja, walaupun dari orang yang dia cintai, maka dia adalah orang yang diberi hidayah di dalam menghadapi masalah yang diperselisihkan, yakni dengan mendapatkan kebenaran”1.

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Salahkah Aku Meminta Ruqyah (1)

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang

حكم التداوي

اختلف العلماء في هذه المسألة ذهب ابن مسعود و أبو الدرداء و سعيد بن جبير و الحسن و الربيع بن خيثم و داود الظاهري و بعض المتصوفة إلى كراهية التداوي مطلقا، وأن الواجب أن يترك ذلك اعتصاما بالله وتوكلا عليه وثقة به انقطاعا إليه .

Hukum berobat

Para ulama telah berselisih pedapat di dalam masalah ini. Ibnu Mas'ud, Abud Darda', Sa'id bin Jubair, Al Hasan, Ar-Rabi' bin Khaitsam, Daud Az-Zhahiri dan sebagian orang sufi mereka berpendapat makruhnya berobat secara mutlaq dan yang wajib adalah meninggalkan berobat karena bersandar kepada Allah dan bertawakkal kepadaNya, percaya penuh kepadaNya, dan hanya bergantung kepadaNya.

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Adab Silang Pendapat (9)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

KAEDAH KELIMA:

MENJAGA HARGA DIRI (KEHORMATAN) MUKHOLIF MUSLIM

Ibnu Rajab berkata,

“Siapa yang diketahui bahwa bantahannya kepada para Ulama’ bertujuan nasehat karena Allah dan Rasul-Nya, maka wajib dia di-mu’amalah-i1 dengan pemuliaan dan penghormatan seperti halnya Imam-imam kaum Muslimin yang lainnya.

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Adab Silang Pendapat (8)

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang

KAEDAH KEEMPAT:

MEMBERIKAN UDZUR1 KEPADA MUKHOLIF KARENAKETIDAKTAHUANNYA, TA’WIL-NYA ATAU IJTIHAD-NYA

Ibnul Qayyim berkata:

“Orang yang memiliki ilmu tentang syariat dan realita, maka dia akan mengetahui dengan yakin; bahwa seorang yang mulia sekaligus memiliki peran besar di dalam Islam serta jejak yang baik, -yang mana juga dia ini memiliki kedudukan yang mulia di dalam Islam-, terkadang muncul darinya kekeliruan yang dia sebenarnya diberi udzur, bahkan diberi pahala karena ijtihad-nya. Maka tidak boleh dicari-cari kesalahannya dan tidak boleh dihancurkan kehormatannya, ke-imam-anya dan kemuliaannya di hati kaum Muslimin”.2

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Salahkah Aku Meminta Ruqyah (Muqodimah)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

المقدمة

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعود بالله من شرور أنفسنا وسيآت أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. أما بعد فهذه رسالة لطيفة تبين شيئا من أحكام الطب وهو حكم طلب الرقية بها. والدافع في كتابة هذه الرسالة هو ما انتشر بين الناس في تحريم طلب الرقية ولا سيما بعض المبلغين أفتوا بتحريمه دون أن يعطوا حقه ولا يعطوا كذلك الحل الناجح لمن أصاب الجن. وأرجوا من الله بهذه الرسالة أن ينفع كاتبها والمسلمين أنه الولي ذلك والقادر عليه. كتبه خليف الهادي

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Pondok Pesantren Darul Atsar Al-Islamy

Jl. Pondok, Ds. Banyutengah, Kec. Panceng, Kab. Gresik, Jawa Timur
Telp./WhatsApp/SMS. +62-812-3388-4514