Salahkah Aku Meminta Ruqyah (3)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

حكم أخذ الأجرة على الرقية

اختلف العلماء في حكم أخذ الأجرة على الرقية، وسبب الخلاف في المسألة اختلافهم في حكم الاستئجار على الطاعات والقرب كتعليم القرآن والإمامة والأذان، فمن أجاز ذلك أجاز أخذ الأجرة على الرقية، ومن لم يجز فيمنع أخذها.

Hukum Mengambil Upah Ruqyah

Ulama berselisih dalam hukum mengambil upah hasil ruqyah karena mereka berselisih dalam hukum mengambil upah dalam ketaatan kepada Allah seperti mengajarkan Al-Qur'an, imam shalat dan adzan. Maka siapa yang membolehkan hal tersebut dia membolehkan mengambil upah ruqyah dan siapa yang tidak membolehkan hal itu dia tidak membolehkan mengambil upah ruqyah.

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Adab Berjalan Ke Masjid (Muqoddimah)

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang

PENDAHULUAN

                Segala puji hanya milik Allah U, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, serta meminta ampunan-Nya, dan kami berlindung kepada Allah -subhanahu wa ta'ala- dari kejelekan diri–diri kami dan kejelekan amalan- amalan kami. Barang siapa yang Allah -subhanahu wa ta'ala- beri petunjuk maka tidak ada yang bisa menyesatkannya, dan barang siapa yang Allah  -subhanahu wa ta'ala- sesatkan maka tidak ada yang bisa memberi petunjuk kepadanya, aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar untuk di ibadahi kecuali Allah -subhanahu wa ta'ala- semata,  tidak ada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad -shollallahu 'alaihi wa sallam- adalah hamba dan Rasul-Nya -shollallahu 'alaihi wa sallam-. Sholawat serta salam semoga tercurahkan kepada keluarga serta sahabat–sahabat beliau -radhiyallahu 'anhum- dan orang–orang yang mengikuti beliau -shollallahu 'alaihi wa sallam- dengan baik sampai hari kiamat.

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Salahkah Aku Meminta Ruqyah (2)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

حكم الرقية

جاء الأحاديث في هذه المسألة ظاهرها مختلفة، بعضها نهى عن الرقية ، وبعضها أجازها بل أمر بها.

Hukum ruqyah

Sebelum masuk ke dalam khilaf dalam hukumnya, perlu diketahui bahwa ruqyah tergolong pengobatan. Terdapat hadits-hadits di dalam masalah ini yang dzahirnya bertentangan sebagiannya melarang dan sebagian lagi membolehkan bahkan memerintahkannya.

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Adab Silang Pendapat (16)

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang

KAEDAH KEDUA BELAS:

MENYALAHKAN PENDAPAT MUKHOLIF BUKAN BERARTI HARUS DENGAN MENCELANYA, AKAN TETAPI DENGAN NASIHAT YANG PENUH ADAB

Ibnul Qayyim berkata:

“Oleh karena itu, para Imam (para Ulama’) dengan tegas membatalkan/menyalahkan hukum keputusan siapa saja yang memberi hukum keputusan yang menyelisihi kebanyakan permasalahan ini, dengan tanpa mencela orang yang mengatakannya”.1

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Adab Silang Pendapat (15)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

KAEDAH KESEBELAS:

TIDAK FANATIK KEPADA GURU

Ibnul Qayyim berkata:

“[...] Dan yang semisalnya adalah fanatik kepada Madzhab, Tarekat, dan Syaikh (guru), serta mendahulukan sebagiannya di atas yang lain dengan hawa nafsu dan fanatisme, serta dikarenakan dia berstatus sebagai pengikutnya, sehingga dia pun menyeru (manusia) kepadanya, mencintai dan memusuhi karenanya, dan menimbang/mengukur manusia dengannya. Semua ini termasuk dakwah-dakwah jahiliyah”.1

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Adab Silang Pendapat (14)

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang

KAEDAH KESEPULUH:

MEMBAWA PERNYATAAN MUKHOLIF KEPADA KEMUNGKINAN YANG TERBAIK, APABILA DIA DIKENAL TERMASUK DARI PEGIAT KEBAIKAN DAN AHLI SUNNAH

Ibnul Qayyim berkata,

“Satu kata yang diucapkan oleh dua orang, salah satu dari keduanya mengatakannya dengan maksud batil yang amat besar, sementara yang satunya lagi mengatakannya dengan maksud kebenaran yang murni, maka yang dijadikan ukuran penilaian adalah jalan beragama yang ditempuh orang yang mengucapkannya, riwayat hidupnya, Madzhab-nya, dan seruan dakwahnya”.1

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Adab Silang Pendapat (13)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

KAEDAH KESEMBILAN:

VONIS/KOMENTAR SESAMA TEMAN1 DAPAT DITERIMA KECUALI APABILA ADA UNSUR KEZHALIMAN DI DALAMNYA


Hendaknya diketahui bahwa vonis/komentar antar sesama teman tanpa dibarengi dengan hujjah termasuk perbuatan hasad (dengki).

Qatadah berkata:

“Tidaklah semakin bertambah nikmat pada suatu kaum melainkan semakin bertambah pula musuh mereka.”2

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Adab Silang Pendapat (12)

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang

KAEDAH KEDELAPAN:

TIDAK ADA PENGINGKARAN DALAM MASALAH IJTIHADIYYAH

Masalah yang patut diingkari adalah masalah yang menyelisihi nash Al-Qur’an, atau As-Sunnah, atau menyelisihi Ijma’ (konsensus/kesepakatan) yang shahih. Adapun selain itu, maka termasuk masalah ijtihadiyyah yang tidak boleh diingkari.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

“Barangsiapa yang mengamalkan masalah ijtihadiyah bersandar kepada pendapat sebagian Ulama’ tidaklah boleh diingkari, dan tidak boleh diboikot. Begitu juga orang yang mengamalkan salah satu dari dua pendapat, tidaklah boleh diingkari”.1

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Adab Silang Pendapat (11)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

KAEDAH KETUJUH:

MEMUSATKAN BANTAHAN KEPADA KESALAHAN, BUKAN KEPADA ORANGNYA

Dr. Bakr Abu Zaid berkata: “Bantahan itu di arahkan kepada ucapan yang keliru, bukan kepada orangnya”.1

Al-Imam Ibnul-Qayyim pernah berkata tentang Syaikhul Islam Al-Imam Abu Isma’il Al-Harawi (w. 481 H.) rahimahullah:

“Syaikhul Islam (Al-Harawi) adalah orang yang kami cintai, akan tetapi Al-Haq (kebenaran) lebih kami cintai daripada beliau. Dan dahulu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- berkata: ‘Amal perbuatan Al-Harawi itu jauh lebih baik dibandingkan ilmunya’. Dan Ibnu Taimiyah -rahimahullah- telah benar.

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Adab Silang Pendapat (10)

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang

KAEDAH KEENAM:

MENERIMA KEBENARAN DARI ORANG YANG DIBENCI DAN MENOLAK KEBATILAN DARI ORANG YANG DICINTAI

Ibnul Qayyim berkata,

“Siapa yang Allah beri dia petunjuk untuk menerima kebenaran dari mana saja dan dari siapa saja, walaupun dari orang yang dia benci dan musuhi, dan dia juga menolak kebatilan dari siapa saja, walaupun dari orang yang dia cintai, maka dia adalah orang yang diberi hidayah di dalam menghadapi masalah yang diperselisihkan, yakni dengan mendapatkan kebenaran”1.

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Salahkah Aku Meminta Ruqyah (1)

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang

حكم التداوي

اختلف العلماء في هذه المسألة ذهب ابن مسعود و أبو الدرداء و سعيد بن جبير و الحسن و الربيع بن خيثم و داود الظاهري و بعض المتصوفة إلى كراهية التداوي مطلقا، وأن الواجب أن يترك ذلك اعتصاما بالله وتوكلا عليه وثقة به انقطاعا إليه .

Hukum berobat

Para ulama telah berselisih pedapat di dalam masalah ini. Ibnu Mas'ud, Abud Darda', Sa'id bin Jubair, Al Hasan, Ar-Rabi' bin Khaitsam, Daud Az-Zhahiri dan sebagian orang sufi mereka berpendapat makruhnya berobat secara mutlaq dan yang wajib adalah meninggalkan berobat karena bersandar kepada Allah dan bertawakkal kepadaNya, percaya penuh kepadaNya, dan hanya bergantung kepadaNya.

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Adab Silang Pendapat (9)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

KAEDAH KELIMA:

MENJAGA HARGA DIRI (KEHORMATAN) MUKHOLIF MUSLIM

Ibnu Rajab berkata,

“Siapa yang diketahui bahwa bantahannya kepada para Ulama’ bertujuan nasehat karena Allah dan Rasul-Nya, maka wajib dia di-mu’amalah-i1 dengan pemuliaan dan penghormatan seperti halnya Imam-imam kaum Muslimin yang lainnya.

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Adab Silang Pendapat (8)

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang

KAEDAH KEEMPAT:

MEMBERIKAN UDZUR1 KEPADA MUKHOLIF KARENAKETIDAKTAHUANNYA, TA’WIL-NYA ATAU IJTIHAD-NYA

Ibnul Qayyim berkata:

“Orang yang memiliki ilmu tentang syariat dan realita, maka dia akan mengetahui dengan yakin; bahwa seorang yang mulia sekaligus memiliki peran besar di dalam Islam serta jejak yang baik, -yang mana juga dia ini memiliki kedudukan yang mulia di dalam Islam-, terkadang muncul darinya kekeliruan yang dia sebenarnya diberi udzur, bahkan diberi pahala karena ijtihad-nya. Maka tidak boleh dicari-cari kesalahannya dan tidak boleh dihancurkan kehormatannya, ke-imam-anya dan kemuliaannya di hati kaum Muslimin”.2

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Salahkah Aku Meminta Ruqyah (Muqodimah)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

المقدمة

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعود بالله من شرور أنفسنا وسيآت أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. أما بعد فهذه رسالة لطيفة تبين شيئا من أحكام الطب وهو حكم طلب الرقية بها. والدافع في كتابة هذه الرسالة هو ما انتشر بين الناس في تحريم طلب الرقية ولا سيما بعض المبلغين أفتوا بتحريمه دون أن يعطوا حقه ولا يعطوا كذلك الحل الناجح لمن أصاب الجن. وأرجوا من الله بهذه الرسالة أن ينفع كاتبها والمسلمين أنه الولي ذلك والقادر عليه. كتبه خليف الهادي

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Adab Silang Pendapat (7)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

adab silang pendapat

KAEDAH KETIGA:

TERJATUHNYA SEORANG ULAMA’ YANG MUJTAHID DI DALAM KESALAHAN BUKANLAH SESUATU YANG MEMBOLEHKAN UNTUK MERENDAHKANNYA, MEMBUANG SEMUA PENDAPATNYA, MENG-GHIBAH-INYA ATAU MEMBOIKOTNYA

Adz-Dzahabi berkata: “Ibnu Khuzaimah memiliki kedudukan dan kemuliaan yang tinggi di dalam hati-hati manusia karena keilmuannya, agamanya, dan kuatnya mengikuti As-Sunnah. Beliau memiliki kitab “At-Tauhid” yang tersusun dalam satu jilid yang tebal. Dan beliau telah terjatuh di dalam men-ta’wil ‘hadits Shurah’1, maka beliau diberi udzur karena menta’wil sebagian sifat-sifat Allah.

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Adab Silang Pendapat (6)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

KAEDAH KEDUA:

BERBUAT ADIL (INSHAF)

Al-Jauhari berkata, “Anshafa (أَنْصَفَ) adalah berlaku adil”.1

Dalam “Al-Mu’jam Al-Washit” disebutkan: “Anshafa fulaanan maknanya adalah memperlakukannya dengan adil.2 Dalam “Tajul ‘Arus” disebutkan A’dzara (أَعْذَرَ) bermakna anshafa (أَنْصَفَ), contohnya: Ama tu’dziruni min hadza? (Tidakkah kamu memberi aku udzur dari masalah ini?) maknanya adalah Ama tunshifuni minhu (Tidakkah kamu berlaku adil kepadaku dalam masalah ini?)

Contoh lainnya: A’dzirni min hadza ! (Beri aku udzur dalam masalah ini!) maknanya adalah Anshifni minhu (Berlaku adillah kepadaku dalam masalah ini!), (demikian) sebagaimana yang dijelaskan Khalid bin Janbah.3

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Adab Silang Pendapat (5)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
PEMBAHASAN KETIGA: BEBERAPA KAEDAH DI DALAM MENGHADAPI MUKHOLIF

Di sini ada beberapa kaedah, semoga ia dapat menjadi obat dalam menghadapi perselisihan, atau paling tidak ia dapat me-minimalisir-nya dengan pertolongan Allah ta’ala.

KAEDAH PERTAMA: TUJUAN SYAR’I DALAM MENGHADAPI MUKHOLIF ADALAH MENGEMBALIKAN PIHAK YANG SALAH KEPADA KEBENARAN

Tujuan Syar’i dari menjelaskan kesalahan dan membantah mukholif adalah mengembalikan orang yang terjatuh ke dalam kesalahan kepada jalan yang benar.

Kalau ini tujuannya maka selayaknya bagi orang yang mengingkari dan membantah mukholif yang keliru untuk menempuh cara-cara yang benar untuk mewujudkan tujuan ini yaitu dengan cara yang baik, ucapan yang baik tanpa celaan dan cacian. Ketika jalan ini ditempuh niscaya akan menjadikan orang yang diajak lembut hatinya, mudah menerima, dan tidak menolak.

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Adab Silang Pendapat (4)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
4. TIDAK BISA KELUAR MELAKSANAKAN SHALAT JAMA’AH DAN SHALAT JUM’AT

Pada tahun 447 H terjadi fitnah antara Asya’irah1 dan Hanabilah2. Para kaum Hanabilah memiliki kekuatan yang besar; sehingga (sampai-sampai) kaum Asya’irah tidak ada yang bisa keluar melaksanakan Shalat Jama’ah dan Shalat Jum’at”.3

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Adab Silang Pendapat (3)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
PEMBAHASAN KE DUA: PENTINGNYA MEMAHAMI KAEDAH DI DALAM MENGHADAPI MUKHOLIF1

Sesungguhnya orang yang merenungkan realita yang terjadi di masa ini, berupa perselisihan dan pertikaian, -yang barangkali di antaranya ada yang sudah sampai pada tingkatan bersikap zhalim (fujur) dalam bersengketa dan tingkatan kebencian yang luar biasa-, tentu dia akan melihat bahwa ternyata sebab terjadinya hal tersebut tidak lain tidak adalah akibat lemahnya kemumpunan diri di dalam memahami masalah-masalah yang diperselisihkan, serta lemahnya diri di dalam memahami kaedah-kaedah dalam menyikapinya, yang diambil dari tuntunan Ulama’ Rabbani.

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Adab Silang Pendapat (2)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Diantara hikmah yang nampak dari terjadinya khilaf adalah agar seorang hamba yang mukallaf (Mukallaf artinya orang yang dikenai beban perintah Syari’at (ed).) semangat mencari kebenaran dan mengerahkan tenaga untuk menepati kebenaran dengan terus berdoa kepada Allah untuk ditampakkan baginya kebenaran dengan jelas di saat-saat terjadinya perselisihan, dalam bentuk mengagungkan Allah dan memuliakannya.

Kedua: Khilaf yang Allah melarangnya secara syar’i

Continue Reading

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault
  • 1
  • 2

Pondok Pesantren Darul Atsar Al-Islamy

Jl. Pondok, Ds. Banyutengah, Kec. Panceng, Kab. Gresik, Jawa Timur
Telp./WhatsApp/SMS. +62-812-3388-4514
Gamis, Jubah, dan Pakaian Muslim dan Aqiqah