Adab Silang Pendapat (7)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

adab silang pendapat

KAEDAH KETIGA:

TERJATUHNYA SEORANG ULAMA’ YANG MUJTAHID DI DALAM KESALAHAN BUKANLAH SESUATU YANG MEMBOLEHKAN UNTUK MERENDAHKANNYA, MEMBUANG SEMUA PENDAPATNYA, MENG-GHIBAH-INYA ATAU MEMBOIKOTNYA

Adz-Dzahabi berkata: “Ibnu Khuzaimah memiliki kedudukan dan kemuliaan yang tinggi di dalam hati-hati manusia karena keilmuannya, agamanya, dan kuatnya mengikuti As-Sunnah. Beliau memiliki kitab “At-Tauhid” yang tersusun dalam satu jilid yang tebal. Dan beliau telah terjatuh di dalam men-ta’wil ‘hadits Shurah’1, maka beliau diberi udzur karena menta’wil sebagian sifat-sifat Allah.

“Artinya: Allah menciptakan Adam dengan bentuk rupa-Nya.” Ada dua pendapat Ulama’ dalam memahami makna lafadz ‘shuratih’: 1) Pendapat Ahlus-Sunnah, bahwa Allah menciptakan Adam dengan bentuk rupa Allah. Dan pendapat ini pun masih terbagi menjadi dua pendapat lagi:

  • Bahwa Allah menciptakan Adam dengan bentuk rupa yang Allah inginkan.
  • Bahwa Allah menciptakan Adam dengan bentuk rupa Allah, namun dengan tetap berkeyakinan bahwa bentuk rupa Adam tidaklah menyamai bentuk rupa Allah.

Adapun salaf mereka tidak berani men-ta’wil, mereka hanya mengimaninya dan menahan diri dari men-ta’wil dan menyerahkan ilmu tentang hal tersebut kepada Allah dan Rasulnya.

Seandainya setiap orang yang salah di dalam ijtihad-nya bersamaan dengan itu dia adalah orang yang benar keimanannya dan benar-benar mengikuti al-haq (kebenaran), lantas kita buang dia, dan kita vonis dia sebagai mubtadi’ (Ahli Bid’ah), niscaya akan sedikit dari para Imam (Ulama’) yang selamat dari sikap kita. Semoga Allah merahmati mereka semua dengan karunia-Nya dan kemuliaan-Nya”.2

#####
2) Pendapat Ibnu Khuzaimah, bahwa Allah menciptakan Adam dengan bentuk rupa Adam, bukan dengan bentuk rupa Allah. Dan pada pendapat inilah, beliau divonis salah berijtihad.

Lihat “At-Tauhid” karya Ibnu Khuzaimah (1/93) dan “Durus Al-Haram Al-Madani” dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin (4/22) (Pent.) (ed).
#####

Beliau menukil kalam Qawwamus-Sunnah Al-Ashbahany (w. 535 H.), (beliau berkata): “Ibnu Khuzaimah keliru di dalam men-ta’wil ‘hadits Shurah’, dan beliau tidaklah dicela dikarenakan hal tersebut, bahkan hanya hal ini saja yang tidak diambil dari beliau”.3

Beliau juga berkata, “Seandainya kita setiap kali mendapatkan kesalahan seorang Imam di dalam ijtihad-nya dalam beberapa masalah -yang mana kesalahan tersebut adalah kesalahan yang beliau diampuni-, kemudian kita datang mehukuminya sebagai mubtadi’ (Ahli Bid’ah) dan memboikotnya, maka tidak ada yang selamat dari kita, tidak Ibnu Nashr, tidak juga Ibnu Mandah, dan tidak juga orang yang lebih besar dari mereka berdua.

Allahlah yang memberi hamba-Nya petunjuk kepada kebenaran, dan Dialah yang Maha Menyayangi. Kita berlindung kepada Allah dari hawa nafsu dan kekasaran dalam bertutur kata”.4

Abdullah bin Zubair Al-Humaidi berkata, “Adalah Ahmad bin Hanbal tinggal bersama kami di Makkah. Beliau berkata kepadaku pada suatu hari, ‘Di sini ada seorang laki-laki dari suku Quraisy yang memiliki banyak ilmu’. Aku bertanya, ‘Siapa dia?’. ‘Dia adalah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i’, jawab Ahmad.

Dan dahulu memang Ahmad pernah bermajelis dengan Syafi’i di Iraq. Kemudian ternyata Ahmad masih terus bersamaku hingga kemudian beliau menarikku menuju Syafi’i berada. Maka (di sana) terjadilah (diskusi) dalam beberapa masalah. Lalu, ketika kami beranjak pergi, Ahmad berkata kepadaku, ‘Bagaimana menurutmu?’. Aku pun mulai mencari-cari kesalahan Syafi’i, -dan sebenarnya perbuatanku ini timbul hanya karena dia seorang dari suku Quraisy –yakni karena rasa hasad (dengki). Maka berkatalah Ahmad kepadaku, ‘Lantas kamu tidak suka kalau ada seseorang dari suku Quraisy punya ilmu pengetahuan semisal ini? Dari seratus masalah yang ada, mungkin dia salah lima atau sepuluh kali, tinggalkan saja yang salah lalu ambillah yang benar!’5

Yunus As-Shadafi berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih berakal dari Asy-Syafi’i. Suatu hari aku mendebatinya dalam suatu permasalahan. Kemudian kami berpisah. Kemudian suatu saat kami berjumpa kembali, lantas beliau memegang tanganku lalu berkata, ‘Wahai Abu Musa tidak bisakah kita tetap menjadi saudara walaupun kita tidak bisa sepakat dalam satu masalah?’”.6

1 Hadits ini dikeluarkan Al-Bukhari di dalam “Shahih”-nya di awal kitab Isti’dzan dan Muslim no. 2841 yaitu hadits: (هتروص ىلع مدآ الله قلخ)
2 Siyar A’lamin-Nubala’ (14/373-376)
3 Siyar A’lamin-Nubala’ (20/88)
4 Siyar A’lamin-Nubala’ (14/33-40)
5 Adab Asy-Syafi’i wa Manaqibuhu hal. 44
6 Siyar A’lamin-Nubala’ (10/16)

Penulis: Al-Ustadz Khaliful Hadi (Mudir Ponpes Darul Atsar, Gresik)

Tags: Adab, Khilaf, Mujtahid, Perselisihan

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Pondok Pesantren Darul Atsar Al-Islamy

Jl. Pondok, Ds. Banyutengah, Kec. Panceng, Kab. Gresik, Jawa Timur
Telp./WhatsApp/SMS. +62-812-3388-4514