Adab Silang Pendapat (6)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

KAEDAH KEDUA:

BERBUAT ADIL (INSHAF)

Al-Jauhari berkata, “Anshafa (أَنْصَفَ) adalah berlaku adil”.1

Dalam “Al-Mu’jam Al-Washit” disebutkan: “Anshafa fulaanan maknanya adalah memperlakukannya dengan adil.2 Dalam “Tajul ‘Arus” disebutkan A’dzara (أَعْذَرَ) bermakna anshafa (أَنْصَفَ), contohnya: Ama tu’dziruni min hadza? (Tidakkah kamu memberi aku udzur dari masalah ini?) maknanya adalah Ama tunshifuni minhu (Tidakkah kamu berlaku adil kepadaku dalam masalah ini?)

Contoh lainnya: A’dzirni min hadza ! (Beri aku udzur dalam masalah ini!) maknanya adalah Anshifni minhu (Berlaku adillah kepadaku dalam masalah ini!), (demikian) sebagaimana yang dijelaskan Khalid bin Janbah.3

Ibnul Qayyim berkata: “Allah mencintai Inshaf. Bahkan ia merupakan perhiasan yang paling utama bagi seseorang, terlebih lagi bagi orang yang memposisikan dirinya sebagai (Ulama’) penengah di antara berbagai pendapat dan Madzhab. Allah berfirman tentang Rasulnya:

وَ أُمِرْتُ لِأَعْدِلَ بَيْنَكُمْ

Dan aku diperintah untuk berbuat adil di antara kalian” (QS. Asy-Syura :15).

Maka sebagai pewaris Rasul, tugas mereka hendaknya berbuat adil di dalam menyikapi kelompok-kelompok yang ada, dan tidak condong kepada kerabatnya, juga kepada orang-orang semadzhab dengannya, kelompoknya, juga panutannya, bahkan hanya kebenaranlah yang dia cari. Dia berjalan di atas kebenaran sekaligus berpegang dengan keadilan dan inshaf”.4

Termasuk dari sikap Inshaf adalah mengetahui bahwa banyaknya kebaikan seorang Ulama’ itu dapat mencegah celaan terhadapnya

Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Kalau mayoritas yang ada pada seseorang adalah ketaatan maka dia adalah ‘adl5. Adapun kalau mayoritasnya adalah maksiat maka dia adalah majruh67

Ibnu Hibban berkata: “Seseorang yang ‘adl8, apabila mayoritas yang tampak darinya adalah tanda-tanda jarh9, maka dia berhak ditinggalkan riwayatnya10, sebagaimana bila mayoritas yang tampak darinya adalah tanda-tanda ta’dil11, maka dia berhak mendapatkan status ‘adalah12”. 13

Ibnul Qayyim berkata: “Termasuk di antara kaedah Syari’at dan hikmah adalah bahwa orang yang banyak kebaikannya dan dia memiliki pengaruh yang besar di dalam Islam; diberikan kepadanya kesabaran yang lebih yang tidak diberikan kepada selainnya, dan dia dimaafkan dengan maaf yang tidak sama dengan selainnya. (Demikian) karena maksiat itu adalah kotoran /najis, sedangkan air apabila mencapai dua qullah14 dia tidak terpengaruh dengan najis, berbeda dengan air yang sedikit maka dia akan terpengaruh dengan najis yang sedikit.

Perkara ini sudah tidak asing lagi di (kalangan umum) manusia, sekaligus ia sudah melekat di dalam fitrah mereka; bahwa orang yang memiliki banyak kebaikan, sungguh dia dimaafkan atas satu atau dua kejelekan (yang ia perbuat), dan yang semisal itu.

Ibnu Rajab berkata: “Orang yang bersikap inshaf adalah orang yang bisa memaafkan sedikit kesalahan yang ada pada seseorang yang memiliki kebenaran yang banyak”.15

Adz-Dzahabi berkata: “Sesungguhnya Imam-imam yang besar apabila banyak kebenarannya, dan diketahui selalu memilih kebenaran, serta memiliki ilmu yang luas, nampak kecerdasannya, keshalihannya, wara’16-nya dan ittiba’17-nya, maka dimaafkan kesalahannya, dan tidak kita vonis dia telah sesat, tidak pula kita membuangnya, serta tidaklah kita melupakan kebaikan-kebaikannya. (Namun juga) kita tidak pula mengikuti ke-bid’ah-an serta kesalahannya, sekaligus kita pun mengharapkan dia bertaubat dari kesalahannya”.18

Guru kami Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’i rahimahullah berkata, “Seorang Ulama’ apabila berbuat salah sedangkan dia memiliki banyak keutamaan, maka kesalahan-kesalahannya akan hilang tenggelam di dalam keutaman-keutamaannya. Dan tidak ada seorang Ulama’ pun melainkan dia pasti memiliki kesalahan”.19

Beliau juga berkata: “Tidak ada seorang pun kecuali dia memiliki kesalahan dan kebenaran, memiliki ilmu (tentang sesuatu) dan terkadang tidak memiliki ilmu (tentangnya). Jika kebenaran seseorang itu lebih banyak dari kesalahannya, maka dia tetap dapat diambil faedah darinya”.20

1 Ash-Shihah Tajul-Lughah wa Shihahul-‘Arabiyyah (4/1433)
2 Mu’jamul Washit (2/773)
3 Tajul ‘Arus min Jawahiril Qamus (12/543)
4 I’lamul-Muwaqqi’in (3/497)
5 ‘Adl di dalam ilmu ‘Mushthalah Hadits’ adalah orang yang diterima periwayatannya dikarenakan keselamatan agama dan wibawanya (ed).
6 Majruh di dalam ilmu Mushthalah Hadits adalah orang yang ditolak riwayatnya dikarenakan berbagai sebab, di antaranya karena adanya jarh/luka secara maknawi pada dirinya, semisal pelaku maksiat, pendusta, dsb (ed).
7 Sebagaimana dalam Al-Kifayah hal. 138
8 Telah berlalu definisinya
9 Luka secara maknawi yang menjadikan periwayatannya cacat (ed).
10 Dijelaskan luka/cacat tersebut, sehingga periwayatannya tidak bisa diterima (ed).
11 Ta’dil adalah rekomendasi Ulama’ Al-Jar wat-Ta’dil kepada seorang perawi, yang mana rekomendasi itu dapat menyebabkan diterimanya riwayat Hadits yang dibawanya (ed).
12 Status bahwa orang tersebut adalah ‘adl, lihat kembali definis ‘adl di halaman sebelumnya (ed).
13 Al-Majruhin (1/76-77)
14 Satu qullah menurut kesepakatan para Ulama’ adalah 250 rithl. Yang mana kalau menggunakan ukuran kontemporer kurang lebih volume air dalam suatu bidang yang ukurannya 60 cm X 60 cm X 60 cm.
15 Qawaid Ibnu Rajab hal. 3
16 Wara’ adalah sikap menjauhkan diri dari maksiat (ed).
17 Ittiba’ adalah mengikuti Sunnah Rasulullah (ed).
18 Siyar A’lamin-Nubala (5/271)
19 Kata pengantar dari “Bulughul-Muna” hal. 8-10
20 Ijabatus-Sa’il hal.381

Penulis: Al-Ustadz Khaliful Hadi (Mudir Ponpes Darul Atsar Al-Islami, Gresik)

Tags: Perselisihan, Adab

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Pondok Pesantren Darul Atsar Al-Islamy

Jl. Pondok, Ds. Banyutengah, Kec. Panceng, Kab. Gresik, Jawa Timur
Telp./WhatsApp/SMS. +62-812-3388-4514