Adab Silang Pendapat (5)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 
PEMBAHASAN KETIGA: BEBERAPA KAEDAH DI DALAM MENGHADAPI MUKHOLIF

Di sini ada beberapa kaedah, semoga ia dapat menjadi obat dalam menghadapi perselisihan, atau paling tidak ia dapat me-minimalisir-nya dengan pertolongan Allah ta’ala.

KAEDAH PERTAMA: TUJUAN SYAR’I DALAM MENGHADAPI MUKHOLIF ADALAH MENGEMBALIKAN PIHAK YANG SALAH KEPADA KEBENARAN

Tujuan Syar’i dari menjelaskan kesalahan dan membantah mukholif adalah mengembalikan orang yang terjatuh ke dalam kesalahan kepada jalan yang benar.

Kalau ini tujuannya maka selayaknya bagi orang yang mengingkari dan membantah mukholif yang keliru untuk menempuh cara-cara yang benar untuk mewujudkan tujuan ini yaitu dengan cara yang baik, ucapan yang baik tanpa celaan dan cacian. Ketika jalan ini ditempuh niscaya akan menjadikan orang yang diajak lembut hatinya, mudah menerima, dan tidak menolak.

Asy-Syaikh Bin Baz rahimahullah berkata: “Kewajiban seorang da’i dan orang-orang yang memberikan nasihat adalah memilih cara yang benar, ucapan-ucapan yang tidak mengandung kekasaran atau membuat orang lari dari kebenaran, cara-cara yang diharapkan dibaliknya segera kembalinya orang yang menyelisihi kebenaran untuk menerimanya, meridhoinya, mendahulukannya dan taubat dari kebatilannya, juga hendaknya tidak menempuh cara-cara yang membuat manusia lari dari kebenaran, menolaknya, dan tidak mau menerimanya”.1

Beliau juga berkata: “Seorang da’i itu tugasnya menjelaskan kebenaran beserta dalil-dalinya, berdebat dengan cara yang baik untuk menghilangkan syubhat dengan dalil-dalil syar’i, akan tetapi dengan ucapan yang baik, cara yang indah, lembut tidak dengan kekerasan dan kekasaran agar tidak membuat orang yang didakwahi lari dari kebenaran dan terus berada dalam kebatilannya”.2

Beliau juga berkata: “Zaman ini adalah zaman kelembutan, kesabaran, dan hikmah, bukan zaman kekerasan. Kebanyakan manusia dalam kebodohan, kelalaian mementingkan urusan dunia maka harus dengan kesabaran, kelembutan sehingga dakwah sampai kepadanya sehingga mereka dapat mengetahuinya. Kami mohon kepada Allah memberikan hidayahnya untuk kita semua ”.3

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata, “Tugas kita tidak lain kecuali berdakwah dengan cara terbaik. Ilmu adalah cahaya. Mereka berada dalam kesesatan seperti ini disebabkan kebodohan mereka tentang Islam. Oleh karena itu, tugas kita tidak lain kecuali berlemah-lembut kepada mereka. Anggap saja mereka itu adalah pasien kita yang kita berupaya mengobatinya semampu kita dengan penuh hikmah dan nasihat yang baik”. 4

-----
1Majmu’ Fatawa Ibni Baz (4/229)
2Majmu’ Fatawa Ibni Baz (4/229)
3Majmu’ Fatawa Ibni Baz (8/376)
4Tafrigh Silsilah Al-Huda dan An-Nur Asy-Syaikh Al-Albani terbitan ke 2 (2/784)

Penulis: Al-Ustadz Khaliful Hadi (Mudir Ponpes Darul Atsar, Gresik)

 

Tags: Adab, Perselisihan

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Pondok Pesantren Darul Atsar Al-Islamy

Jl. Pondok, Ds. Banyutengah, Kec. Panceng, Kab. Gresik, Jawa Timur
Telp./WhatsApp/SMS. +62-812-3388-4514