Adab Silang Pendapat (4)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 
4. TIDAK BISA KELUAR MELAKSANAKAN SHALAT JAMA’AH DAN SHALAT JUM’AT

Pada tahun 447 H terjadi fitnah antara Asya’irah1 dan Hanabilah2. Para kaum Hanabilah memiliki kekuatan yang besar; sehingga (sampai-sampai) kaum Asya’irah tidak ada yang bisa keluar melaksanakan Shalat Jama’ah dan Shalat Jum’at”.3

5. MEMBAKAR MASJID-MASJID

Pada tahun 495 H disebutkan dalam biografi Nizhamuddin Mas’ud bin ‘Ali, “…Beliau memiliki kisah hidup yang baik, beliau bermadzhab Syafi’i, beliau memiliki Madrasah besar di Khawarizm dan Masjid yang besar. Beliau juga membangun sebuah Masjid yang besar di daerah Marwa untuk orang-orang Madzhab Syafi’ie, yang (mana hal ini) membuat orang-orang Madzhab Hanbali beserta Syaikh mereka –yang digelari dengan Syaikhul Islam-hasad (dengki), sehingga ada yang mengatakan bahwa: ‘Mereka (orang-orang Hanbali) membakar Masjid tersebut’. Hal ini (pembakaran ini) terjadi karena kurangnya pendalaman agama dan kurangnya akal mereka. Lalu Sultan Khawarizm Syah mendenda mereka dengan dendanya seorang menteri apabila membayar denda atas bangunan yang dibangunnya”.4

6. “SEMOGA ALLAH TIDAK MERAHMATINYA”

Pada tahun 450 H disebutkan dalam “Tarikh (Sejarah) Damaskus”, Ibnu Asakir berkata, “Aku mendengar Abu Ghalib bin Abu Ali Al-Hanbali berkata, ‘ketika Al-Qadhi Abu Ya’la bin Al-Fara’ meninggal aku pergi bersama Ayahku ke rumah Abu Ya’la, -yang mana Abu Ya’la di akhir masa hidupnya tinggal di daerah Babul Maratib- lalu kami bertemu Abu Muhammad At-Tamimi Al-Hanbali Al-Faqih. Kemudian Ayahku berkata kepadanya ‘Al-Qadhi Abu Ya’la telah meninggal,’ lalu At-Tamimi berkata, ‘Laa rahimahullah, Semoga Allah tidak merahmatinya; karena orang-orang Hanbali telah melakukan kesalahan yang tidak terhapuskan sampai Hari Kiamat’. Maka ayahku pun memboikotnya sampai masa dia meninggal”.5

Kemudian perhatikan kisah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bersama seorang yang memusuhinya!

Ibnul Qayyim berkata: “Aku tidak pernah melihat seorangpun yang yang lebih terkumpul padanya sifat-sifat ini daripada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -semoga Allah mensucikan ruhnya-. Salah seorang murid seniornya berkata, ‘Aku ingin bersikap kepada teman-temanku seperti sikap beliau kepada orang-orang yang memusuhinya. Dan aku tidak pernah melihat beliau mendoakan kejelekan kepada salah seorang dari mereka sama sekali, bahkan beliau mendoakan kebaikan untuk mereka.

Pada suatu hari aku datang membawa berita gembira untuknya berupa kabar kematian orang yang paling memusuhinya, namun beliau malah mencercaku dan mengingkari perbuatanku, lalu beliau ucapkan istirja’ (Innaa lillah wa inna ilaihi raji’un).

Kemudian beliau pun segera menuju ke rumah keluarga mayyit untuk ber-ta’ziah menghibur mereka seraya berkata, ‘Sungguh aku adalah penggantinya untuk kalian. Tidaklah kalian memiliki suatu perkara yang membutuhkan bantuan melainkan aku akan membantu kalian pada perkara itu’ atau ucapan yang semisal ini. Merekapun bergembira mendengarnya dan mendoakan kebaikan untuk beliau dan kagum dengan sikap beliau ini. Semoga Allah merahmati beliau dan meridhoinya”. 6

-----
1 Telah berlalu definisinya
2 Telah berlalu definisinya
3 Al-Bidayah wan Nihayah (12/66)
4 Al-Bidayah wan Nihayah (13/23)
5 Tarikh Dimasyq (52/356)
6 Madarijus Salikin (2/328-329)

Penulis: Al-Ustadz Khaliful Hadi (Mudir Ponpes Darul Atsar, Gresik)

Tags: Adab, Perselisihan

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Pondok Pesantren Darul Atsar Al-Islamy

Jl. Pondok, Ds. Banyutengah, Kec. Panceng, Kab. Gresik, Jawa Timur
Telp./WhatsApp/SMS. +62-812-3388-4514