Adab Silang Pendapat (2)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Diantara hikmah yang nampak dari terjadinya khilaf adalah agar seorang hamba yang mukallaf (Mukallaf artinya orang yang dikenai beban perintah Syari’at (ed).) semangat mencari kebenaran dan mengerahkan tenaga untuk menepati kebenaran dengan terus berdoa kepada Allah untuk ditampakkan baginya kebenaran dengan jelas di saat-saat terjadinya perselisihan, dalam bentuk mengagungkan Allah dan memuliakannya.

Kedua: Khilaf yang Allah melarangnya secara syar’i

Khilaf dalam agama Allah tercela. Telah datang teks-teks wahyu dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang mencela perpecahan dan perselisihan dan memerintahkan untuk bersatu. Allah berfirman:

“Janganlah kalian berselisih yang akibatnya kalian akan menjadi lemah dan hilang kekuatan kalian” (QS. Al-Anfal : 46).

“Berpeganglah dengan tali Allah kalian semua dan jangan berpecah” (QS. Ali Imran : 103).

Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya Allah meridhai untuk kalian tiga perkara dan membenci tiga perkara. Allah ridha untuk kalian –di antaranya-:

...apabila kalian bersatu berpegang dengan tali Allah dan kalian tidak berpecah belah” (HR. Ahmad no. 8718 dari hadits Abu Hurairah, para pen-tahqiq “Musnad Ahmad” berkata: ‘Shahih’ sesuai syarat Muslim.). 

Ibnu Mas’ud berkata -sebagaimana dalam kisah beliau bersama Utsman di Mina (HR. Abu Daud Kitab "Manasik" bab "Shalat di Mina" no. 1960 . Kisah tersebut di-shahih-kan Ibnu Hajar dalam kitab “Al-Mathalib Al-‘Aliyah” (5/79)):

“Perselisihan itu jelek”

Terjadinya perselisihan di tengah-tengah Salafus-Shalih dalam permasalahan syar’i adalah suatu kejadian yang datang secara kebetulan, bukan sesuatu yang disengaja.

Syaikhul Islam berkata: “Para Sahabat –dalam perkara-perkara yang mereka berselisih di dalamnya-, mereka sepakat bahwa setiap pihak hendak bersikap toleran terhadap pihak lain dalam beramal sesuai dengan ijtihad-nya masing-masing. Seperti dalam masalah-masalah peribadatan, pernikahan, warisan, pemberian, politik dan lain sebagainya” (Majmu’ Al-Fatawa (19/122)). 

Ibnu Hazm berkata: “Kalau ada yang bertanya: sesungguhnya para Sahabat telah berselisih padahal mereka adalah orang-orang mulia apakah mereka juga mendapat celaan ini?

Maka kita jawab: “Hanya Allah yang memberi taufiq. Mereka tidak mendapat celaan sedikitpun karena masing-masing dari mereka benar-benar ingin berada di jalan Allah dan di atas kebenaran. Orang yang keliru dari mereka mendapat satu pahala karena niatnya yang bagus untuk mendapatkan kebaikan. Dan kesalahan mereka telah dihapus karena mereka tidak sengaja dan tidak sembarangan di dalam mencarinya. Orang yang benar akan mendapatkan dua pahala.

Begitulah seterusnya, (hal ini terus berlaku pada) setiap muslim sampai hari kiamat, pada perkara-perkara agama yang masih samar (belum jelas) bagi mereka, juga pada perkara-perkara yang belum sampai kepada mereka.

Celaan tersebut hanyalah diarahkan kepada orang yang meninggalkan berpegang dengan tali Allah, -yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah-, setelah sampai kepadanya nash (wahyu) dan telah ditegakkan hujjah (bukti) kepadanya. (Yang mana) kemudian dia (malah) berpegang dengan pendapat seseorang dikarenakan

taklid dan memang dia sengaja menyelisihi (nash), serta juga karena dia menyeru kepada fanatik buta, dalam keadaan dia menginginkan perpecahan, dengan cara dia mencocok-cocokkan Al-Qur’an dan As-Sunnah kepada pendapatnya, kalau cocok dia ambil, kalau tidak cocok maka dia berpegang dengan ke-jahiliyah-annya dan meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. (Maka) mereka inilah orang-orang yang jatuh pada perselisihan yang tercela” (Al-Ihkam fi Ushulil-Ahkam (5/67-68)).

Ibnul Qayyim berkata: “Terjadinya perselisihan diantara manusia adalah perkara yang harus terjadi, (demikialah, hal ini timbul) dikarenakan perbedaan tingkat pemahaman, keinginan, serta kapasitas akal pikiran mereka.

Adapun (perselisihan) yang tercela adalah (perselisihan yang di dalamnya terdapat) kesewenangan (sikap aniaya) dan sikap memusuhi dari satu pihak ke pihak lainnya.

Sedangkan, apabila ternyata perselisihan tersebut tidak mengantarkan kepada perpecahan dan pengelompokan (tahazzub), serta masing-masing pihak (berselisih dalam keadaan) memiliki niat untuk taat kepada Allah dan Rasulnya, maka perselisihan tersebut tidaklah membahayakan, karena memang perselisihan itu adalah sesuatu yang harus terjadi dalam perkembangan hidup manusia.

 Adapun apabila dasar mereka satu, tujuan mereka satu dan cara yang mereka tempuh juga satu, tentulah nyaris tidak bakal terjadi perselisihan. Kalaupun toh harus terjadi, maka (perselisihan tersebut) tidaklah membahayakan. Seperti halnya perselisihan yang telah terjadi diantara para Sahabat. Dikarenakan dasar mereka sama, yaitu: Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta tujuan mereka sama, yaitu: taat kepada Allah dan Rasulnya, dan cara yang mereka tempuh sama, yaitu: melihat dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta mendahulukan dalil di atas semua ucapan, pendapat, qiyas, perasaan dan politik” ( Ash-Shawaiq Al-Mursalah (2/519)). 

Qiyas adalah analogi berupa mengikatkan perkara cabang kepada perkara pokok di dalam hukumnya dikarenakan kesamaan ‘illah (sebab pensyari’atan hukum) yang ada pada keduanya. Lebih lanjutnya sebaiknya pembaca merujuknya pada kitab-kitab Ushul Fiqih (ed).

Asy-Syathiby berkata: “Sesungguhnya Allah Maha Bijaksana dengan hikmah-Nya; yang mana perkara-perkara cabang (furu’) dari agama ini (dibuat) dapat menerima berbagai pandangan dan menjadi ruang bagi berbagai perkiraan/dugaan. Dan telah terbukti dalam pandangan orang yang memiliki ketajaman pikiran, bahwa biasanya teori-teori buatan pikiran manusia itu tidak mungkin bersepaham.

Maka hal-hal yang masih bersifat prakira/dugaan itu adalah pangkal dari kemungkinan terjadinya perselisihan. Akan tetapi, (hal) ini hanyalah pada masalah-masalah cabang, bukan pada masalah-masalah prinsip, hanyalah pada masalah-masalah parsial, bukan pada masalah-masalah yang bersifat menyeluruh, oleh karena itu perselisihan semacam ini tidaklah membahayakan” (Al-I’tisham (2/674)). 

Kesimpulan: Perselisihan yang terjadi pada masalah-masalah pokok/prinsip agama (ushul) adalah tercela, terancam dan mengantarkan kepada kebinasaan, karena salah satu pihak (dari nya) tervonis ‘pasti benar’, sementara pihak lainnya tervonis ‘pasti salah’.

Perselisihan yang boleh terjadi adalah perselisihan pada masalah-masalah cabang agama (furu’), karena hal tersebut menurut sebagian Ulama’ tidaklah tercela, kecuali apabila terdapat di dalamnya tindak kesewenang-wenangan atau perpecahan. Semisal inilah, Ibnu Rajab menuturkannya.

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Pondok Pesantren Darul Atsar Al-Islamy

Jl. Pondok, Ds. Banyutengah, Kec. Panceng, Kab. Gresik, Jawa Timur
Telp./WhatsApp/SMS. +62-812-3388-4514