Adab Silang Pendapat (1)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

ADAB SILANG PENDAPAT

KAEDAH-KAEDAH MENGHADAPI PERSELISIHAN DIKALANGAN AHLUS-SUNNAH

Diterjemahkan dari Karya:

AL-USTADZ KHOLIFUL HADI

Pimpinan Pondok Pesantren Darul Atsar Banyutengah Gresik
Jawa Timur
Judul Asli:
Izalatul-Musykilat bi Ma’rifatil-Qawa’id ‘indal-Ikhtilafat

Penulis:
Kholiful Hadi

Judul Terjemahan:
Adab Silang Pendapat; Kaedah-kaedah Menghadapi Perselisihan di Kalangan Ahlus-Sunnah

Penerjemah: Abdurrohim
Editor: Ahmad
Desain Sampul: Tim Darul-Atsar
Lay out: Tim Darul Atsar

Cetakan ke: 1, Juni 2016 H./ Syawal 1437 H.

Penerbit:
Maktabah Darul Atsar
Jl. Pondok no. 01 Desa Banyutengah Kec. Panceng Kabupaten Gresik
Jawa Timur Indonesia
e-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Dilarang memperbanyak isi buku ini tanpa izin tulis dari penulis
Hak cipta dilindungi Undang-undang

 

PEMBAHASAN PERTAMA:

PENGERTIAN KHILAF DAN HAL-HAL YANG BERKAITAN DENGANNYA

Khilaf dan ikhtilaf artinya adalah pertentangan, berlawanan dan tidak adanya kesamaan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata (Majmu’ Al-Fatawa (13/19)): “Lafazh Ikhtilaf di dalam Al-Qur’an bermakna: saling berlawanan dan saling bertentangan”.1
Adapun secara istilah, khilaf adalah apabila setiap orang berpendapat dengan pendapat yang berbeda dari pendapat
orang lain.

Hukum Khilaf
Untuk memberikan hukum tentang khilaf kita harus menimbang dua perkara:
Pertama: Bahwa khilaf adalah perkara yang harus terjadi sesuai dengan kehendak Allah, Allah berfirman:
“Dan mereka selalu berselisih kecuali orang-orang yang Allah rahmati, dan oleh karena itulah Allah menciptakan mereka”. (QS.
Hud : 118-119)

Ibnu Taimiyyah menjelaskan ayat tersebut beliau berkata (Majmu’ Al-Fatawa (8/188)):
“Salaf berkata: ‘Allah menciptakan sekelompok untuk berselisih dan menciptakan sekelompok yang lain untuk mendapat rahmat’”.

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin setelah membawakan ayat tersebut berkata (Fatawa Nur ‘Alad-Darb (2/8)): “Seandainya tidak ada perselisihan ini niscaya penciptaan Surga dan Neraka menjadi sia-sia, karena Neraka butuh adanya yang masuk ke dalamnya, dan Surga butuh ada yang masuk ke dalamnya. Maka perselisihan pun haruslah terjadi.”

Rasulullah bersabda (HR. Abu Daud (4/201) no. 4607 dari ‘Irbadh bin Sariyah di-shahih-kan Al-Albani.):

“Siapa yang hidup setelahku dia akan melihat perselisihan yang amat banyak. Maka wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafa’ Al Mahdiyyin Ar Rasyidin, berpegang teguhlah dengannya, dan gigitlah Sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham”.

Syaikhul Islam berkata (Iqtidha’ Shirathol Mustaqim hal. 35): “Makna hadits ini diperoleh dari Nabi tidak hanya dari satu jalur periwayatan. (Maknanya) mengisyaratkan bahwasanya perpecahan dan perselisihan itu pasti terjadi dalam Ummat ini”.

Ibnul Qayyim berkata tentang ikhtilaf (Ash-Shawa’iq Al-Mursalah (2/519)): “Sesungguhnya (perselisihan) itu pasti terjadi dalam perkembangan hidup manusia”.

Kesimpulan: sungguh Allah telah mentakdirkan perselisihan kepada kita sebagaimana Allah telah mentakdirkan maksiat kepada kita. Dan perbuatan Allah mentakdirkan maksiat kepada kita itu, tidaklah membenarkan sikap kita untuk mewujudkan maksiat tersebut. (Ia juga) tidak memperkenankan kita untuk boleh bermaksiat dalam kondisi bagaimana pun.

Begitu juga perselisihan, kita tidak boleh sengaja menuju kepadanya dengan alasan ‘itu adalah taqdir Allah’, sekalipun perselisihan itu memang pasti akan terjadi pada kita.

Syaikhul Islam menjelaskan alasan pengabaran Nabi akan terjadinya perpecahan pada umatnya (Iqtidha’ush-Shirathal Mustaqim hal. 35): “Beliau memperingatkan Umatnya dari perselisihan agar tidak terjatuh ke dalamnya orang yang Allah kehendaki keselamatan baginya”.

Maka kita harus membedakan antara kehendak Allah alqadariyyah akan terjadinya perselisihan dengan kehendak Allah asy-syar’iyyah akan itu1. Karena sesungguhnya kehendak Allah alqadariyah akan adanya perselisihan tidak mengharuskan kehendak Allah asy-syar’iyyah atasnya. Dan tidak ragu lagi, bahwa Allah tidaklah mentaqdirkan sesuatu kecuali terdapat hikmah dibaliknya, baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui.

1. Iradah (keinginan) Allah menurut penjelasan para Ulama’ ada dua:
1) Iradah Kauniyyah, adalah keinginan Allah yang berkaitan dengan penciptaan dan taqdir. Seringkali iradah ini diartikan sebagai kehendak atas terjadinya sesuatu. Allah menginginkan secara penciptaan dan taqdir, berarti Allah menghendakinya.
2) Iradah Syar’iyyah, adalah keinginan Allah yang berkaitan dengan pensyari’atan. Allah menginginkan secara pensyari’atan, berarti Allah menginginkan hamba-Nya melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu, yang berlanjut setelahnya pada kecintaan atau kebencian Allah padanya.

Contoh mudahnya: kekufuran Abu Jahal itu Allah kehendaki secara kauniyah, tapi tidak Allah kehendaki secara syar’iyyah. Artinya: kufur itu terjadi tapi Allah tidak menyukainya.

Contoh lainnya: kekufuran Abu Bakar Sahabat Rasulullah itu tidak Allah kehendaki secara kauniyah maupun syar’iyyah. Artinya: kufur itu tidak terjadi dan Allah tidak menyukainya.

(Diambil dari berbagai referensi, di antaranya Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam, dan Syarah Aqidah Thahawiyah karya Syaikh Shalih AlusySyaikh, adapun contoh yang kami berikan berasal dari Al-Ustadz Ramzy, Mustafid Markaz Syarqain, kota Shan’a Yaman) (ed).

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Pondok Pesantren Darul Atsar Al-Islamy

Jl. Pondok, Ds. Banyutengah, Kec. Panceng, Kab. Gresik, Jawa Timur
Telp./WhatsApp/SMS. +62-812-3388-4514