Adab Silang Pendapat (16)

Adab Silang Pendapat

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang
 

KAEDAH KEDUA BELAS:

MENYALAHKAN PENDAPAT MUKHOLIF BUKAN BERARTI HARUS DENGAN MENCELANYA, AKAN TETAPI DENGAN NASIHAT YANG PENUH ADAB

Ibnul Qayyim berkata:

“Oleh karena itu, para Imam (para Ulama’) dengan tegas membatalkan/menyalahkan hukum keputusan siapa saja yang memberi hukum keputusan yang menyelisihi kebanyakan permasalahan ini, dengan tanpa mencela orang yang mengatakannya”.1

Ibnu Rajab berkata:

“Dahulu Ulama’ Salaf, apabila ingin menasehati seseorang, mereka menasehatinya dengan sembunyi-sembunyi. Sampai-sampai ada yang berkata, ‘Barangsiapa yang menasehati saudaranya dengan empat mata, maka itu adalah nasehat. Dan barangsiapa yang menasehatinya dihadapan khalayak manusia, maka itu sebenarnya adalah pengumbaran aib (celaan)2.

Al-Fudhail berkata:

"Seorang mu’min itu menutupi aib dan menasihati. Namun seorang fajir3 itu mengumbar aib dan mencaci.4

'Abdul Aziz bin Abu Rawad berkata:

"Dahulu orang-orang sebelum kalian, apabila melihat ‘sesuatu’ dari saudaranya, dia memerintahnya dengan lemah lembut, sehingga dia pun diberi pahala dalam perintahnya dan larangannya”.5

Catatan Kaki

  1. I’lamul Muwaqqi’in (3/224)
  2. Yakni, bukan lagi menjadi nasehat (ed).
  3. Pendosa besar (ed).
  4. Ta’yir berarti mencaci perbuatannya atau sifat-sifatnya, lihat “Mu’jamul-Lughah Al-‘Arabiyah Al-Mu’ashirah” (2/1582) (ed).
  5. Jami’ul-Ulum wal-Hikam (1/225), lihat juga Al-Farqu Baina An-Nasihati wat-Ta’yir hal. 10

 Penulis: Al Ustadz Khaliful Hadi (Mudir Ponpes Darul Atsar, Gresik)

Tags: Perselisihan, Adab

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Pondok Pesantren Darul Atsar Al-Islamy

Jl. Pondok, Ds. Banyutengah, Kec. Panceng, Kab. Gresik, Jawa Timur
Telp./WhatsApp/SMS. +62-812-3388-4514