Adab Silang Pendapat (14)

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang
 

KAEDAH KESEPULUH:

MEMBAWA PERNYATAAN MUKHOLIF KEPADA KEMUNGKINAN YANG TERBAIK, APABILA DIA DIKENAL TERMASUK DARI PEGIAT KEBAIKAN DAN AHLI SUNNAH

Ibnul Qayyim berkata,

“Satu kata yang diucapkan oleh dua orang, salah satu dari keduanya mengatakannya dengan maksud batil yang amat besar, sementara yang satunya lagi mengatakannya dengan maksud kebenaran yang murni, maka yang dijadikan ukuran penilaian adalah jalan beragama yang ditempuh orang yang mengucapkannya, riwayat hidupnya, Madzhab-nya, dan seruan dakwahnya”.1

 

Adz-Dzahaby pada biografi Ibnu Hibban setelah menyebutkan pengingkaran manusia kepada Ibnu Hibban, yaitu ucapan beliau: “Kenabian itu adalah ilmu dan amal”, beliau berkata: “Bagaimana bisa mereka memvonis Ibnu Hibban sebagai Zindiq, lalu beliau diboikot dan dilaporkan kepada Khalifah kemudian diputuskan untuk dihukum mati.”

Selanjutnya Adz- Dzahabi berkata:

“Ini cerita yang aneh. Ibnu Hibban termasuk Imam besar, dan kita tidak mengatakan beliau ini ma’shum (terjaga) dari kesalahan. Akan tetapi kalimat yang beliau ucapkan ini juga bisa saja diucapkan seorang muslim, dan bisa juga diucapkan oleh seorang Filosof zindiq.

Memang seorang muslim tidak boleh mengucapkannya, akan tetapi hendaknya dia diberi udzur; (yakni) dengan kita katakan: si muslim ini tidak ingin membatasi mubtada’ dengan khabar2. Dan ucapan yang serupa dengan ini adalah sabda Nabi, “al-Hajju ‘Arafah (Artinya: Haji adalah wuquf di ‘Arafah)”3. Dan memang sudah kita ketahui, bahwa haji tidak cukup dengan wuquf di ‘Arafah saja, akan tetapi (haji barulah sah) dengan dibarengi kewajiban-kewajiban dan rukun-rukun lainnya. (Nah), disini Nabi hanya ingin menyebutkan satu hal yang penting dari haji.

Begitu juga orang (muslim) ini, dia ingin menyebutkan hal yang penting dalam ‘Kenabian’; karena memang termasuk dari kesempurnaan sifat ‘Kenabian’ adalah sempurnanya ilmu dan amal. Maka tidaklah seseorang terpilih menjadi Nabi melainkan ia pasti memiliki dua hal ini. Namun tidak setiap orang yang menonjol dalam dua hal ini adalah Nabi. Karena ‘Kenabian’ adalah pemberian dari Allah ta’ala. Tidak ada kekuatan bagi seorang hamba untuk berupaya mendapatkannya. Bahkan dengan ‘Kenabian’ itu, lahirlah ilmu ladunni dan amal shalih.

Adapun seorang Filosof, dia mengatakan: ‘Kenabian itu adalah sesuatu yang dapat diupayakan dan dihasilkan dengan ilmu dan amal’. Maka ini adalah kekufuran. Dan Abu Hatim Ibnu Hibban sama sekali tidak menginginkan makna ini, dan mustahil dia menginginkannya.”4

Abu Qilabah Al-Jarmi berkata:

“Apabila sampai kepadamu kabar tentang saudaramu yang tidak kamu sukai, maka carilah udzur untuknya semampumu. Kalau kamu tidak mendapatkannya, maka katakanlah: ‘Barangkali saudaraku ini memiliki udzur yang tidak aku ketahui.”5

Al-Imam Ibnu Baz rahimahullah berkata:

“Seorang mukmin selayaknya membawa perkataan saudaranya yang muslim kepada kemungkinan yang terbaik. Sebagian Salaf berkata: “Jangan kamu prasangkai suatu kata yang keluar dari saudaramu dengan prasangka jelek, sementara saat itu kamu bisa membawanya kepada prasangka baik”.6

Catatan Kaki

  1. Madarijus-Salikin (3/521)
  2. Penjelasan tentang mubtada’ dan khabar, serta bentuk pembatasan antara keduanya dapat pembaca rujuk ke dalam buku-buku Nahwu. Namun ringkasnya: Ibnu Hibban di sini tidak bermaksud mengurung definisi ‘Kenabian’ hanya pada ilmu dan amal (ed).
  3. HR. Ahmad (4/309,310,335), Abu Daud (1949), an-Nasa’i (5/264) dan Ibnu Majah (3015) dari hadits Abdurrahman bin Ya’mur Ad-Dayiliy. Para pen-tahqiq kitab “Siyar A’lamin-Nubala’” berkata: ‘Hadits ini dishahihkan Ibnu Hibban (1009) dan Al-Hakim (1/464, 2/278) dan disepakati Adz-Dzahabi. Dan memang Hadits ini shahih sebagaimana yang mereka katakan.
  4. Siyar A’lamin-Nubala’ (16/96-97)
  5. Hilyatul-Auliya’ (2/285)
  6. Majmu’ Fatawa Ibnu Baz (7/313)

Penulis: Al Ustadz Khaliful Hadi (Mudir Ponpes Darul Atsar, Gresik)

Tags: Adab, Perselisihan

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Pondok Pesantren Darul Atsar Al-Islamy

Jl. Pondok, Ds. Banyutengah, Kec. Panceng, Kab. Gresik, Jawa Timur
Telp./WhatsApp/SMS. +62-812-3388-4514