Adab Silang Pendapat (13)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

KAEDAH KESEMBILAN:

VONIS/KOMENTAR SESAMA TEMAN1 DAPAT DITERIMA KECUALI APABILA ADA UNSUR KEZHALIMAN DI DALAMNYA


Hendaknya diketahui bahwa vonis/komentar antar sesama teman tanpa dibarengi dengan hujjah termasuk perbuatan hasad (dengki).

Qatadah berkata:

“Tidaklah semakin bertambah nikmat pada suatu kaum melainkan semakin bertambah pula musuh mereka.”2

Al-Imam Ahmad berkata:

“Ketahuilah -semoga Allah merahmati kalian- bahwasanya seorang Ulama’, apabila Allah berikan padanya sebagian dari ilmu, namun Allah cegah pemberian sebagian dari ilmu tersebut atas teman-temannya yang masih selevel dengannya, tentulah mereka akan hasad (dengki) kepadanya dan menuduhnya dengan sesuatu yang tidak ada padanya. Ini adalah sifat yang paling jelek yang menimpa para Ulama’”.3

Ibnu Rajab berkata:

“Dan masih saja (hingga saat ini), keutamaan-keutamaan itu apabila ia tampak, ia akan selalu dihasadi.”4

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

“Kalau dia itu seorang Ulama’ atau Syaikh, (maka bentuk rasa cinta popularitas dan tahtanya adalah)5 dia akan mencintai siapa saja yang memuliakannya dengan tanpa mencintai siapa saja yang memuliakan saingannya. Bahkan sekalipun kedua-duanya6 tadi ini sama-sama membaca kitab yang sama, -seperti Al-Qur’an, atau kedua-duanya sama-sama beribadah dengan ibadah yang sama, yang mana keduanya hampir ternilai sama di dalamnya, -seperti Shalat lima waktu.

Seorang Syaikh ini mencintai siapa saja yang memuliakannya -dalam bentuk menerima pendapatnya dan meneladaninya- lebih dari siapa saja selainnya. Bahkan barangkali dia membenci saingannya dan para pengikutnya dengan hasad (dengki) dan kesewenang-wenangan.”7

Adz-Dzahabi berkata:

“Komentar/vonis antar sesama teman yang masih selevel satu dengan lainnya, tidaklah dianggap, apalagi ketika tampak bagimu di sana ada unsur permusuhan, atau pembelaan suatu Madzhab atau ia dikarenakan rasa hasad. Dan tidak ada yang selamat darinya kecuali orang yang Allah jaga. Dan aku tidak mengetahui ada suatu zaman yang mana orang-orang di zaman itu selamat dari hal ini, kecuali para Nabi dan para shiddiq. Kalau aku mau, aku mampu menuliskan sebagian dari peristiwa-peristiwa ini dalam berbuku-buku tebalnya. Ya Allah, jangan engkau letakkan di hati-hati kami kedengkian kepada orang-orang yang beriman.”8

Adz-Dzahaby ketika menjelaskan biografi Ibnu Abi Dzi’b berkata:

“Ahmad bin Hanbal berkata, ‘Sampai berita kepada Ibnu Abi Dzi’b bahwasanya Malik tidak menerima hadits, “Penjual dan pembeli itu memiliki hak khiyar9”. Maka kemudian Ibnu Abi Dzi’b berkata, ‘Malik diminta untuk bertaubat, kalau dia tidak mau bertaubat maka hukumannya adalah dipenggal lehernya’".

(Kemudian Adz-Dzahaby mengomentari):

‘Bagaimanapun juga, komentar/vonis antar sesama teman selevel kebanyakannya tidaklah diterima. Maka tidaklah berkurang kemuliaan Malik dengan pernyataan Ibnu Abi Dzi’b ini. Dan para Ulama’ pun tidak memvonis Ibnu Abi Dzi’b sebagai orang yang ‘lemah’ lantaran pernyataan beliau ini. Bahkan keduanya adalah Ulama’ Madinah di zamannya. Semoga Allah meridhai keduanya.”10 Hal ini juga terjadi antara:

  • Qatadah dan Ibnu Abi Katsir11
  • Makhul dan Roja’ bin Haiwah12
  • Ibnu Mandah dan Abu Nu’aim Al-Ashbahany 13
  • Said bin Musayyab dan Ikrimah14.

Catatan Kaki:

  1. Dikenal dengan istilah ‘Kalamul-Aqran’, yakni, saling komentar satu sama lain antara dua orang yang selevel/setingkat dalam keilmuan, atau usia, atau generasi (thabaqah). Wallahu a’lam (ed).
  2. Diriwayatkan Imam Ahmad di “Ilal” riwayat no. 116 (1/174)
  3. Siyar A’lamin-Nubala (10/58)
  4. Latha’iful-Ma’aarif hal. 57
  5. Makna yang ada di dalam kurung ini kami tuliskan berdasarkan perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sebelumnya yang berbicara tentang tingkatan-tingkatan manusia dalam mencintai kedudukan, pangkat, dan kepemimpinan. Lihat “Majmu’ Al-Fatawa” (14/324) (pent.) (ed).
  6. Yakni, dari dua orang yang baru saja disebutkan: 1) yang memuliakannya, 2) yang memuliakan saingannya (ed).
  7. Majmu’ Al-Fatawa (14/325)
  8. Mizanul-I’tidal (1/111)
  9. Hak keduanya untuk memilih antara melangsungkan pembelian atau membatalkannya. Penjelasan lebih lengkapnya, pembaca dapat merujuk pada bab ‘Jual-Beli’ di kitab-kitab Fiqih (ed).
  10. Siyar A’lamin-Nubala’ (7/142-143)
  11. Siyar A’lamin-Nubala’ (5/275)
  12. Siyar A’lamin-Nubala’ (4/558)
  13. Mizanul-I’tidal (3/479)
  14. Mizanul-I’tidal (3/81), dan sebenarnya masih banyak lagi peristiwa ini terjadi, hanya saja penulis di sini mencantumkan sebagiannya saja dalam rangka memberikan contoh saja (ed).

Penulis: Al Ustadz Khaliful Hadi (Mudir Ponpes Darul Atsar Al Islami, Gresik)

Tags: Perselisihan, Adab

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Pondok Pesantren Darul Atsar Al-Islamy

Jl. Pondok, Ds. Banyutengah, Kec. Panceng, Kab. Gresik, Jawa Timur
Telp./WhatsApp/SMS. +62-812-3388-4514