Adab Silang Pendapat (12)

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang
 

KAEDAH KEDELAPAN:

TIDAK ADA PENGINGKARAN DALAM MASALAH IJTIHADIYYAH

Masalah yang patut diingkari adalah masalah yang menyelisihi nash Al-Qur’an, atau As-Sunnah, atau menyelisihi Ijma’ (konsensus/kesepakatan) yang shahih. Adapun selain itu, maka termasuk masalah ijtihadiyyah yang tidak boleh diingkari.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

“Barangsiapa yang mengamalkan masalah ijtihadiyah bersandar kepada pendapat sebagian Ulama’ tidaklah boleh diingkari, dan tidak boleh diboikot. Begitu juga orang yang mengamalkan salah satu dari dua pendapat, tidaklah boleh diingkari”.1

Sufyan Ats-Tsauri berkata,

“Jika kamu melihat orang yang mengamalkan amalan yang memang ada perselisihan di dalamnya, sedangkan kamu memilih pendapat yang lainnya, maka janganlah kamu melarangnya.”2

Beliau juga berkata: “Perkara apa saja yang diperselisihkan oleh para Fuqaha’ (Ahli Fiqih), aku tidak melarang seorangpun dari saudara-saudaraku untuk mengambilnya”.3

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ditanya tentang: orang yang memegang urusan kaum Muslimin, yang berpendapat tidak boleh mengadakan ‘Syarikatul Abdan’4, apakah boleh dia melarang manusia (darinya)? Beliau menjawab:

“Tidak boleh dia melarang manusia dari hal yang seperti itu; (yakni) dari hal-hal yang diperbolehkan ber-ijtihad di dalamnya, sementara itu dia tidak memiliki nash yang melarang hal tersebut baik dari Al-Qur’an, ataupun dari As-Sunnah, ataupun dari Ijma’ (kesepakatan), ataupun dari apa saja yang semakna dengan itu. Terlebih lagi kebanyakan Ulama’ membolehkan hal tersebut. Lagipula hal ini adalah amalan kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia.

Begitu juga seorang Hakim5, tidak boleh dia membatalkan/menghapus hukum Hakim lainnya pada masalah-masalah yang semisal ini. Begitu juga, tidak boleh bagi seorang Ulama ‘ dan seorang Mufti6 untuk memaksa manusia agar mengikutinya dalam masalah-masalah yang semisal ini”.7

Ibnul    Qayyim    berkata    seputar    masalah    ijtihadiyyah:

“Perselisihan jenis ini tidak mengharuskan permusuhan, perpecahan, dan penghancuran kekuatan persatuan”.8

Ibnu Taimiyyah berkata,

“Tidak boleh seorangpun untuk mengharuskan manusia mengikutinya pada masalah-masalah yang semisal ini. Dia hanya dapat berbicara dalam masalah tersebut dengan hujjah yang ilmiah”.9

Beliau juga berkata:

“Tidak boleh bagi seorang Ulama’ dan Mufti untuk memaksa manusia mengikutinya dalam masalah-masalah yang semisal ini”.10

Az-Zarkasyi berkata:

“Tidak ragu lagi bahwa di dalam ilmu Al-Jarh Wat-Ta’dil11 ada dua macam bentuk ijtihad. Para Imam dalam ilmu periwayatan seringkali berselisih (dalam memvonis). Sebagian mereka ada yang memvonis seseorang itu sebagai ‘tsiqah’ (terpercaya) sampai level paling maksimal, namun sebagian mereka lainnya ada yang memvonis orang tersebut sebagai ‘dha’if’ (lemah) sampai level paling maksimal. Sementara keduanya tadi adalah dua orang Imam rujukan dalam ilmu Al-Jarh Wat-Ta’dil.

At-Tirmidzi berkata:

“Para Ulama’ berselisih di dalam memvonis seseorang itu ‘lemah’, sebagaimana mereka juga berselisih dalam bidang ilmu yang lain".

Maka tidak bisa seorang Imam menjadi hujjah atas Imam yang lain di dalam menerima riwayat seorang perawi12, sebagaimana tidak bisanya ucapan sebagian Imam menjadi hujjah atas Imam yang lainnya di dalam masalah-masalah ijtihadiyyah”. 13

Catatan Kaki

  1. Majmu’ Al-Fatawa (20/207)
  2. Al-Faqih wal-Mutafaqqih (2/69)
  3. Al-Faqih wal-Mutafaqqih (2/69)
  4. Perserikatan Badan, yaitu dengan berserikatnya dua orang di dalam mengerjakan pekerjaan dengan anggota badan mereka. Pembahasan tentang masalah ini ada di kitab-kitab Fiqih bab ‘Syarikah’ (ed).
  5. Bisa juga di sini bermakna para penguasa/waliyul amr (ed).
  6. Pemberi fatwa (ed).
  7. Majmu’ Al-Fatawa (33/143)
  8. Ash-Shawa’iq Al-Mursalah (2/517)
  9. Majmu’ Al-Fatawa (30/80)
  10. Majmu’ Al-Fatawa (30/79)
  11. Ilmu yang dibahas di dalamnya jarh (vonis tertolaknya) para perawi dan ta’dil (vonis diterimanya) para perawi serta pembahasan lafadz-lafadz vonis tersebut beserta level-levelnya (ed).
  12. Pembawa sebuah riwayat/kabar (ed).
  13. An-Nukat ‘Ala Muqaddimati Ibnis-Shalah (3/341-346)

Penulis: Al Ustadz Khaliful Hadi (Mudir Ponpes Darul Atsar, Gresik)

Tags: Perselisihan, Adab

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Pondok Pesantren Darul Atsar Al-Islamy

Jl. Pondok, Ds. Banyutengah, Kec. Panceng, Kab. Gresik, Jawa Timur
Telp./WhatsApp/SMS. +62-812-3388-4514