Adab Silang Pendapat (11)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

KAEDAH KETUJUH:

MEMUSATKAN BANTAHAN KEPADA KESALAHAN, BUKAN KEPADA ORANGNYA

Dr. Bakr Abu Zaid berkata: “Bantahan itu di arahkan kepada ucapan yang keliru, bukan kepada orangnya”.1

Al-Imam Ibnul-Qayyim pernah berkata tentang Syaikhul Islam Al-Imam Abu Isma’il Al-Harawi (w. 481 H.) rahimahullah:

“Syaikhul Islam (Al-Harawi) adalah orang yang kami cintai, akan tetapi Al-Haq (kebenaran) lebih kami cintai daripada beliau. Dan dahulu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- berkata: ‘Amal perbuatan Al-Harawi itu jauh lebih baik dibandingkan ilmunya’. Dan Ibnu Taimiyah -rahimahullah- telah benar.

Kisah perjalanan hidup Al-Harawi dalam Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, serta berjihad melawan Ahli Bid’ah tidaklah mungkin terungguli2. Beliau juga memiliki kedudukan yang masyhur dalam membela Allah dan Rasul-Nya. Namun Allah enggan untuk memakaikan pakaian ke-ma’shum-an kepada selain Ash-Shadiqul-Masduq3 yang tidaklah dia berbicara dari hawa nafsunya -shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan sungguh beliau (Al-Harawi) telah salah dalam pembahasan bab ini, baik secara lafadz maupun secara makna.

Adapun secara lafadz: beliau menamai perbuatan Allah ,-yang mana perbuatan-Nya itu benar, tepat, hikmah dan rahmat-, dan beliau menamai hukum-Nya, -yang mana hukum-Nya itu adil dan kebaikan, serta beliau namai perintah-Nya, -yang mana perintah-Nya itu agama-Nya dan syari’at-Nya-, (beliau namai ketiganya tadi itu) dengan ‘talbis’ (penyamaran)4.

Aku berlindung pada Allah, kemudian aku berlindung kepada Allah dari penamaan ini, lalu aku berlindung kepada Allah dari sikap merasa rela atas penamaan ini, dan sikap mengakuinya, juga sikap membelanya, juga sikap memperjuangkannya. Dan kami bersaksi demi Allah; bahwasanya ini sendiri adalah ‘talbis’ atas Syaikhul Islam (Al-Harawi).

‘Talbis’ ini terjadi atas beliau, dan kami tidak mengatakan: ‘talbis’ ini terjadi dari beliau. Beliau adalah orang yang jujur, hanya saja tersamarkanlah perkara ini atas beliau. Dan barangkali orang yang fanatik terhadap beliau akan mengatakan: ‘Kalian ini tidak memahami perkataan Al-Harawi’. Maka kami akan menjelaskan maksud Al-Harawi dari sudut pandang beliau –in sya Allah-, kemudian kami bubuhkan atas penjelasan tersebut dengan (menyebutkan) apa-apa saja yang benar dan salah dari maksud beliau ini.”5

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

“Sesungguhnya bantahan yang hanya berisi celaan dan cacian, semua orang bisa melakukannya. Padahal seseorang, apabila ia hendak mendebati kaum Musyrik dan Ahli Kitab; pasti dia akan membawakan hujjah yang akan menjelaskan kebenaran yang ada padanya dan kebatilan yang ada pada mereka”.6

Catatan Kaki

  1. Ar-Radd ‘alal-Mukholif min Ushulil Islam hal. 60-61
  2. Demikianlah makna ‘laa yusyaqqu lahu ghubar’ dalam ‘Mu’jamul-Lughah al-‘Arabiyah Al-Mu’ashirah’ 2/1222
  3. Yang jujur lagi terpercaya, yakni Rasulullah (ed).
  4. Yakni dengan menampakkan apa yang bukan sesungguhnya. Lihat “Takmilah Al-Ma’ajim Al-‘Arabiyah” 9/198, serta “Tajul-‘Arus” 39/108 (ed).
  5. Madarijus-Salikin (3/366)
  6. Majmu’ Al-Fatawa (4/186)

Penulis: Al-Ustadz Khaliful Hadi (Mudir Ponpes Darul Atsar, Gresik)

Tags: Adab, Perselisihan

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Pondok Pesantren Darul Atsar Al-Islamy

Jl. Pondok, Ds. Banyutengah, Kec. Panceng, Kab. Gresik, Jawa Timur
Telp./WhatsApp/SMS. +62-812-3388-4514