Adab Silang Pendapat (9)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

KAEDAH KELIMA:

MENJAGA HARGA DIRI (KEHORMATAN) MUKHOLIF MUSLIM

Ibnu Rajab berkata,

“Siapa yang diketahui bahwa bantahannya kepada para Ulama’ bertujuan nasehat karena Allah dan Rasul-Nya, maka wajib dia di-mu’amalah-i1 dengan pemuliaan dan penghormatan seperti halnya Imam-imam kaum Muslimin yang lainnya.

Adapun barang siapa yang diketahui bahwa bantahannya kepada para Ulama’ bertujuan menghinakan, mencela dan menampakkan aib mereka, maka dia berhak diberi hukuman agar dia dan orang-orang yang semisalnya merasa kapok (jera) dari perbuatan yang hina sekaligus haram ini”.2

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin berkata,

“Diantara manusia ada yang menjadikan perselisihan dalam masalah ijtihadiyyah3 sebagai sebab perpecahan. Sampai-sampai dia menyesatkan saudaranya disebabkan suatu perkara yang mungkin dia yang sebenarnya sesat di dalamnya. Ini adalah termasuk dari ujian yang tersebar di zaman ini, - bersamaan dengan apa yang ada di zaman ini berupa rasa optimis yang baik di era kebangkitan ini4, terutama dari kalangan para pemuda, yang walaupun hal ini barangkali malah dapat merusak kebangkitan itu sendiri. Kebangkitan ini pun bisa jadi malah berbalik menjadi tidur yang lelap dikarenakan perpecahan yang semisal ini.

Dan setiap orang dari mereka ini, apabila menyelisihi saudaranya dalam masalah ijtihadiyyah -yang tidak ada nash5 yang ‘pasti’6, dia malah langsung berpaling darinya, mencelanya dan membicarakannya. Ini adalah musibah yang disenangi oleh orang-orang yang memusuhi kebangkitan ini. Karena mereka ini mengatakan: ‘Kita mendapat kesegaran dari mereka’ ‘Allah telah membuat permusuhan di antara mereka’. Sehingga (sampai-sampai) sebagian orang membenci saudara mereka melebihi bencinya mereka kepada orang fasiq7, wal’iyadzu billah.

Dan ini, tidak diragukan lagi bahwa hal ini berbahaya. Dan hendaknya para penuntut ilmu mengetahui bahayanya hal ini bagi kita semua. Apakah telah datang wahyu dari Allah bahwa ucapanmu itulah yang paling benar? Kalau tidak datang kepadanya wahyu yang menyatakan bahwa pendapatnya-lah yang benar, terus dari mana dia tahu bahwa pendapatnya-lah yang paling benar? Mungkin saja pendapat saudaranya malah justru yang benar. Al-Quran dan As-Sunnah ada di hadapan kita. Kalau memang perkaranya adalah perkara ijtihadiyyah, maka hendaknya kita saling memberikan udzur kepada saudara kita pada perkara yang dia ber-ijtihad di dalamnya.”8

Catatan Kaki:

  1. Mua’amalah di sini: interaksi (ed).
  2. Al-Farqu bainan-Nasihati wat-Ta’yir halm. 25-26
  3. Perkara-perkara yang masih diperkenankan di dalamnya Ijtihad (ed).
  4. Beliau mengisyaratkan kepada kebangkitan ilmiah ilmu-ilmu agama, terutama dakwah Tauhid dan Sunnah di zaman ini. Wallahu a’lam. (ed).
  5. Teks wahyu
  6. Nash yang bersifat ‘pasti’ maksudnya: Ayat atau Hadits yang makna pendalilannya sudah tidak bisa lagi diotak-atik karena dia tidak memiliki multi-tafsir. Dan teksnya memang terang dan jelas dalam menyatakan perintah atau larangan dengan tegas. Wallahu a’lam. (ed).
  7. Pelaku dosa besar (ed).
  8. Asy-Syarhul-Mumti’ (5/135-138)

Penulis: Al-Ustadz Khaliful Hadi (Mudir Ponpes Darul Atsar, Gresik)

Tags: Adab, Perselisihan

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Pondok Pesantren Darul Atsar Al-Islamy

Jl. Pondok, Ds. Banyutengah, Kec. Panceng, Kab. Gresik, Jawa Timur
Telp./WhatsApp/SMS. +62-812-3388-4514