Salahkah Aku Meminta Ruqyah (1)

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang
 

حكم التداوي

اختلف العلماء في هذه المسألة ذهب ابن مسعود و أبو الدرداء و سعيد بن جبير و الحسن و الربيع بن خيثم و داود الظاهري و بعض المتصوفة إلى كراهية التداوي مطلقا، وأن الواجب أن يترك ذلك اعتصاما بالله وتوكلا عليه وثقة به انقطاعا إليه .

Hukum berobat

Para ulama telah berselisih pedapat di dalam masalah ini. Ibnu Mas'ud, Abud Darda', Sa'id bin Jubair, Al Hasan, Ar-Rabi' bin Khaitsam, Daud Az-Zhahiri dan sebagian orang sufi mereka berpendapat makruhnya berobat secara mutlaq dan yang wajib adalah meninggalkan berobat karena bersandar kepada Allah dan bertawakkal kepadaNya, percaya penuh kepadaNya, dan hanya bergantung kepadaNya.

واستدلوا: 1. أن الأجل قد قدر الله فلا نستطيع أن نغير ما قدر الله. 2. أن التداوي نقص في التوكل كما جاء مرفوعا:{{ في سبعين ألفا يدخلون الجنة بغير حساب وهم لا يتطيرون ولا يسترقون ولا يكتوون وعلى ربهم يتوكلون}}. 3. وجاء حديث {{" من اكتوى واسترقى فقد برأ من التوكل"}} وهو حديث صحيح صححه الألباني في الصحيحة رقم 224 .

Mereka berdalil dengan : 1. Bahwa ajal sudah Allah takdirkan maka tidak ada yang mampu merubah apa yang Allah takdirkan. 2. Bahwa berobat adalah bisa mengurangi tawakkal sebagaimana dalam hadits secara marfu’ tentang 70 ribu orang masuk ke dalam surga tanpa hisab dan mereka adalah orang yang tidak bertathoyyur, tidak minta ruqyah, tidak minta di kay dan mereka bertawakkal hanya kepada Rabb mereka. 3. Sebuah hadits "siapa yang minta kay dan minta ruqyah maka sungguh dia telah berlepas dari tawakkal" hadits ini shahih dishahihkan Al-Albani di dalam Ash-Shahihah nomor 224.

وذهب جماهير العلماء إلى جواز التداوي. واستدلوا : 1. حديث أسامة بن زيد عند أحمد رقم 18454 وأبو داود رقم 3855 وابن ماجه رقم 3436 وغيرهم مرفوعا{{ قالت الأعراب : يا رسول الله ألا نتداوى ؟ قال: نعم عباد الله تداووا فإن الله لم يضع داء إلا وضع له شفاء إلا داء واحدا قالوا : يا رسول الله وما هو ؟ قال : الهرم }}.

Sedangkan Jumhur Ulama berpendapat dengan bolehnya berobat dengannya. Mereka berdalil dengan : 1. Hadits Usamah bin Zaid riwayat ahmad nomor 18454, abu daud nomor 3855, ibnu majah no.3436 dan yang lainnya secara marfu’, orang-orang badui berkata, "wahai Rasulullah bolehkah kami berobat ?’ Lalu nabi menjawab, ‘ya boleh, wahai hamba allah berobatlah kalian karena sesungguhnya allah tidaklah memberi suatu penyakit kecuali allah menyiapkan obatnya kecuali satu penyakit ‘. Mereka bertanya, ‘wahai rasulullah apa itu?’ Nabi menjawab, ‘kematian’.”

2. يقول الله {{وينزل من القرآن ما هو شفاء و رحمة للمؤمنين}} " الإسراء : 82. قال القرطبي كما في جامع الأحكام الفقهية (3/350){{ :فيه دليل على جواز التعالج بشرب الدواء وغير ذلك خلافا لمن كره ذلك من جلة العلماء.}}ا-ه

2.Firman Allah ta'ala, "dan kami turunkan dari alqur'an (sesuatu) yang manjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman " {al isra':82}. Berkata al Qurthubi sebagaimana didalam kitab jami' al ahkam al fiqiyah (3/350)," dalil atas bolehnya berobat dengan meminum obat dan yang semisalnya, menyelisihi orang yang mengatakan makruhnya hal tersebut dari para ulama".

3. وقد فعله رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو أول المتوكلين. جاء عنه {{ أنه احتجم وأعطى الحجام أجره }} ". رواه البخاري رقم 5691 ومسلم رقم 1577 قال النووي رحمه الله :الحديث فيه دليل على إباحة التداوي وإباحة الأجرة على المعالجة بالتطبب.ا-ه شرح مسلم (10/220) 3.

3. Dan sungguh beliau juga melakukan hal tersebut (berobat), padahal beliau adalah orang yang paling bertawakal. Diriwayatkan bahwasanya pernah berbekam dan memberikan upah pada orang yang membekamnya. HR. Bukhari no.5691 dan Muslim no 1577. An-Nawawi – berkata "dalam hadits ini terdapat dalil bolehnya berobat dan memberi upah pengobatan" syarah muslim (10/220).4.

جاء عن عائشة {{ أن رسول الله كان إذا اشتكى يقرأ على نفسه بالمعوذات وينفث، قالت: فلما اشتد وجعه كنت أقرأ عليه وأمسح عليه بيمينه رجاء بركتها "}}. رواه البخاري رقم 4728 و مسلم رقم 2192. قال شيخ الإسلام: الرقية أعظم الأدوية ... والرقية كذلك من العلاج.ا-هــ من مجموع الفتاوى (4/264). 4.

Hadits Aisyah bahwa Rasulullah apabila merasa sakit beliau membaca almu'awwidzat untuk dirinya dan meniupkannya. Aisyah berkata, ketika bertambah parah sakitnya maka aku yang membacanya dan kuusapkan dengan tangan kanannya mengharap berkahnya. HR. Al-Bukhari no. 4728 dan Muslim no. 2192. Ibnu Taimiyah berkata, "Ruqyah adalah obat yang paling agung...dan ruqyah termasuk bagian dari pengobatan. Majmu’ Al-Fatawa (264/4).

والراجح هو القول الثاني. والجواب على أدلة القول الأول فيما يلي: 1. أما الدليل الأول فأجيب: قال النووي رحمه الله في شرح مسلم (14/171) :أن التداوي هو أيضا من قدر الله، وهذا كالأمر بالدعاء وبقتال الكفار وبالتحصن مع أن الأجل لا يتغير، وبالمقادير لا تتغير ولا تتقدم عن أوقاتها ولابد من وقوع المقدرات. ا-هـ

Yang kuat adalah pendapat kedua. Adapun bantahan untuk pendapat yang pertama adalah: 1) Adapun dalil yang pertama maka kami jawab dengan penjelasan An-Nawawi rahimahullah di dalam syarah Muslim (14/180), bahwa berobat juga taqdir Allah, ini sama seperti perintah berdoa dan memerangi orang kafir dan berlindung dari musuh padahal ajal tidak dapat berubah dari waktunya dan harus terjadinya sesuatu yang sudah ditaqdirkan.

والجواب عن الدليل الثاني : فيقال : أن أخذ الأسباب لا ينافي التوكل كما فعله رسول الله من الاحتجام وطلب الرزق والتحصن من العدو في الحرب. 2)

Adapun bantahan untuk dalil yang kedua adalah bahwa mengambil sebab tidaklah menafikan tawakkal sebagaimana yang dilakukan Rasulullah yaitu berbekam, mencari nafkah dan bertameng dari musuh di medan perang.

ولهذا يقول الشوكاني فى النيل (4/84): وكل هذه الأحاديث تفيد إثبات الأسباب، وأن ذلك لا ينافي التوكل على الله لمن اعتقد أنها بإذن الله وبتقديره، وأنها لا تنجع بذواتها بل بما قدره الله فيها.ا-ه انظر الفتح (10/154)

Oleh karena itu Asy-Syaukani berkata, "Hadits-hadits ini semuanya menunjukkan penetapan sebab, dan bahwasanya mengambil sebab tidak menafikan tawakkal kepada Allah bagi orang yang meyakini bahwa itu sesuai dengan izin Allah dan taqdirNya, serta dzatnya sebab itu sendiri tidak berpengaruh akan tetapi sesuai dengan apa yang Allah taqdirkan. Lihat Fathul Bari (10/154).

بل قالوا : يحصل التوكل بأن يثق بوعد الله ويوقن بأن قضاءه واقع، ولا يترك اتباع السنة في ابتغاء الرزق مما لابد له منه من مطعم ومشرب وتحرز من عدو باعداد السلاح وإغلاق الباب ونحو ذلك، فلا يطمئن إلى الأسباب بقلبه، بل يعتقد أنها لا تجلب بذاتها نفعا ولا تدفع ضرا ،بل السبب بالمسبب فعل الله والكل بمشيئته ، فإذا وقع من المرء ركون إلى السبب قدح في توكله. ا-هـ من الفتح (11/663).

Bahkan jumhur berkata, "terhasilkan tawakkal dengan yakin akan janji Allah dan yakin bahwa ketentuan Allah pasti terjadi dan tidak meninggalkan untuk mengikuti sunnah di dalam mencari rizki yang pokok seperti makanan, minuman dan menghindar dari musuh dengan menyiapkan senjata, menutup pintu dan sebagainya. Bersamaan dengan itu dia tidak bersandar kepada sebab dengan hatinya bahkan meyakini bahwa sebab tidak mendatangkan manfaat dengan sendirinya dan juga tidak dapat menolak bahaya akan tetapi sebab dan musabbab adalah perbuatan Allah dan semuanya sesuai dengan kehendak Allah. Apabila ada seseorang yang bersandar kepada sebab maka itu menunjukkan kurang ketawakkalannya. (Fathul Bari (11/663).

وأما حديث{{ السبعين ألفا يدخلون الجنة بغير حساب}} فهذه صفات الأولياء والخواص المعرضين عن الأسباب. كما سيأتي بيانه أكثر في حكم طلب الرقية إن شاء الله

Adapun hadits Tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab maka ini adalah sifat wali-wali Allah dan orang-orang pilihan yang berpaling dari sebab. Sebagaimana akan datang penjelasannya lebih banyak in syaa Allah di dalam hukum meminta ruqyah.

وأما حديث{{ " من اكتوى واسترقى فقد برأ من التوكل "}} أي فقد برأ من كمال التوكل، كما قال الإمام السندي في حاشيته كما سيأتي نقله ان شاء الله.

Adapun hadits "siapa yang minta di kay dan minta ruqyah maka lepas dari tawakkal" maksudnya adalah lepas dari kesempurnaan tawakkal sebagaimana yang dijelaskan al Imam As-Sindi dalam hasyiahnya sebagaimana akan datang penjelasannya lebih lanjut in syaa Allah.

قال ابن عبد البر في التمهيد (15/351) : والذي أقول به: أنه قد كان من خيار هذه الأمة وسلفها وعلماءها قوم يصبرون على الأمراض حتى يكشفها، ومعهم الأطباء فلم يعابوا بترك المعالجة، ولو كانت المعالجة سنة الواجبات لكان الذم قد لحق من ترك الاسترقاء والتداوي، وهذا لا نعلم أحدا قاله. وإنما التداوي إباحة على ما قدمنا لميل النفوس وسكونها. ا-هـ

Ibnu Abdil Bar berkata di dalam At-Tamhid (15/351), “yang aku pegang adalah bahwasanya terkadang ada diantara orang-orang yang terbaik dari ummat ini dan pendahulunya serta ulamanya ada orang yang bisa bersabar terhadap penyakit sampai sembuh padahal di sana ada dokter-dokter. Akan tetapi mereka tidak mencela orang yang tidak mau berobat. Seandainya berobat itu adalah syariat yang wajib maka orang yang tidak minta ruqyah atau tidak mau berobat pantas untuk dicela. Hal ini kami tidak mengetahui orang yang mengatakannya. Akan tetapi berobat itu hanyalah mubah berdasarkan apa yang telah kami jelaskan karena condongnya jiwa kepada pendapat tersebut.

والخلاصة : أن التداوي هو أمر المباح. ولكن لمن يصبر على ذلك وتلذذ بالبلاء وتوكل على الله في ترك الأسباب فهو أفضل، وذلك لحديث ابن عباس عند البخاري رقم 5652 ومسلم رقم 6571{{ أن رسول الله أتته امراة سوداء فقالت : أني أصرع وإني أتكشف فادع الله لي قال : إن شئت صبرت ولك الجنة وإن شئت دعوت الله أن يعافيك قالت : أصبر.}}

Kesimpulannya bahwa berobat adalah hal yang boleh akan tetapi bagi orang yang bersabar atas hal tersebut dan menikmatinya dan bertawakkal kepada Allah di dalam meninggalkan sebab maka itu lebih afdhol berdasarkan hadits Ibnu Abbas riwayat Al-Bukhari dan Muslim no. 6571 bahwa Rasulullah didatangi seorang wanita berkulit hitam dia berkata, "aku terkena penyakit ayan dan auratku tersingkap (bila kambuh) maka berdoalah kepada Allah untukku!’. Nabi berkata, ‘jika kamu mau bersabar maka kamu masuk surga dan jika kamu mau aku berdoa agar Allah menyembhkanmu’, wanita itu berkata, "aku bersabar saja".

قال الشوكاني في الدراري (2/592) : بأن التفويض أفضل مع الاقتدار على الصبر، وأما مع عدم الصبر على المرض وصدور الحرج وضيق الصدر من المرض فالتداوي أفضل. ا-هـ

Asy-Syaukani berkata di dalam ad-darari (2/592), "bahwa tafwidh (menyerahkan perkara kepada Allah) itu afdhol kalau bisa bersabar dan kalau tidak bisa bersabar atas penyakit, kesulitan dan sesaknya dada karena sakit maka berobat afdhol".

قالت اللجنة الدائمة (24/397-398) : يجوز للمرء العلاج بالأدوية المباحة، وذلك لا ينافي التوكل لأنه من تعاطى الأسباب التي قد ينفع الله بها، وأما من استسلم للقضاء ورضي به وتلذذ بالبلاء وتوكل على المولى تاركا الأسباب المشروعة كطلب الرقية والكي فهو أفضل. ا-هـ

Berkata Al-Lajnah Ad-Daimah (24/297-298), "boleh bagi seseorang untuk berobat dengan obat-obat yang mubah dan hal itu tidak menafikan tawakkal karena termasuk mengambil sebab yang Allah berikan manfaat dengan berobat tersebut. Adapun orang yang pasrah kepada takdir dan ridho dengannya dan menikmati ujiannya dan bertawakkal kepada Allah dalam keadaan meninggalkan sebab yang disyariatkan seperti ruqyah dan kay maka itu afdhol.

Penulis: Al-Ustadz Khaliful Hadi (Mudir Ponpes Darul Atsar, Gresik)

Tags: Ruqyah

Cetak E-mail

0
0
0
s2sdefault

Pondok Pesantren Darul Atsar Al-Islamy

Jl. Pondok, Ds. Banyutengah, Kec. Panceng, Kab. Gresik, Jawa Timur
Telp./WhatsApp/SMS. +62-812-3388-4514